Blang Kulam, Surga Kecil di Pedalaman Aceh Utara


Lima pemuda bergegas berdiri ketika melihat kendaraan penulis memasuki areal tempat wisata Blang Kulam, di Desa Panton Rayek Satu, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara. Sejurus kemudian, satu di antara mereka menghampiri dan memberikan aba-aba supaya kendaraan diparkirkan.
Lima pemuda tersebut ternyata bertugas untuk mengamankan tempat wisata itu. Setiap pengunjung dikenakan biaya parkir sebesar Rp5 ribu dan membeli tiket masuk Rp3 ribu. Tempat ini terlihat sepi, hanya terlihat lima pemuda lagi istirahat dan seorang kakek yang sedang menjajakan air mineral dan makanan ringan untuk pengunjung.
Selasa, 22 Februari 2012, lewat Simpang Kandang, Lhokseumawe, penulis ditemani seorang teman memacu kendaraan menuju tempat wisata Blang Kulam. Sebenarnya banyak jalur untuk menuju ke sana. Bisa melalui Cunda, Lhokseumawe, Kandang, Lhokseumawe, atau lewat Muara Satu Kota Lhokseumawe. Bisa juga lewat Krueng Geukuh, Aceh Utara.
Tidak terdengar riuh manusia di tempat wisata dengan air terjunnya yang indah itu. Hanya gemuruh air terjun dan kicauan burung liar memecah sunyi.
Blang Kolam berada lebih kurang 21 km dari Lhokseumawe. Tempat ini memang hanya ramai dikunjungi warga saat libur, seperti Sabtu dan Minggu.
Penulis turun ke bawah melalui ratusan anak tangga. Bagi yang sudah berumur 70 tahun ke atas jangan coba-coba untuk turun ke bawah, karena dikhawatirkan tidak akan sanggub lagi naik ke atas, karena disini tidak disediakan jasa gendong.
Semak belukar tumbuh di sisi kiri-kanan tangga. Dulu menurut cerita dari orang-orang, di semak belukar di sisi tangga ini terdapat puluhan monyet. Tapi sekarang monyet tersebut hijrah entah kemana.
Di bawah, ada pemandangan berupa air terjun setinggi 75 meter. Sekelilingnya diselimuti hutan nanteduh.
Namun, sampah plastik aneka jenis bertebaran di dekat air terjun. Membuat pemandangan serba tak nyaman. Selain air terjun, di bawah juga terdapat kolam dengan berair bening. Cocok untuk berenang.
Setelah puas mengambil foto, penulis bersama teman bergegas naik ke atas. Baru beberapa anak tangga, berpapasan dengan sepasang muda-mudi yang sedang turun ke bawah. Yang ceweknya menggenakan seragam sekolah, sementara yang cowok mengenakan pakaian biasa. Jangan dulu berpikir negatif, siapa tahu mereka juga ingin menikmati air terjun yang indah itu. Tapi menurut pengakuan petugas wisata di sini, mereka sering menangkap pasangan yang berduaan di semak belukar ini.
Bagi mereka yang tertangkap, petugas langsung mengambil tindakan dengan cara memandikannya, dan membuat perjanjian tidak akan mengulangi lagi hal serupa.
Sewaktu mau turun tadi, penulis sempat ngobrol dengan kakek penjual air mineral tadi. Namun penulis belum sempat menanyakan namanya, karena tidak sabar ingin melihat pemandangan di bawah.
Kakek itu bernama Muhammad Yusuf, kelahiran 1942. Ia mengaku asli warga setempat.
“Bangunan ini dibuat sekitar tiga tahun yang lalu, oleh Bupati Aceh Utara, Ilyas A Hamid,” ujar Yusuf.
Di lokasi wisata itu terdapat sejumlah bangunan, yaitu musalla, WC, taman binatang, dan tempat istirahat. Selain bangunan dalam taman itu juga terdapat kebun binatang yang luasnya sekitar setengah hektar.
Tapi sayang, semua bangunan itu (kecuali tempat istirahat) tidak berfungsi. Sedangkan kebun binatang ditumbuhi rumput liar, karena sampai sekarang belum ada binatang, kecuali beberapa burung kecil yang liar dan singgah di pohon dalam taman itu.
“Di dalam itu juga ada kandang kuda. Tapi sekarang tidak ada lagi sudah dibakar, sementara beberapa besi pagar taman juga diambil oleh orang tak dikenal,” ujar Yusuf.
Ia begitu semangat bercerita, dengan gaya bicaranya yang sopan. Yusuf mengaku telah berjualan di tempat wisata itu sejak 1988.
“Di sini dulunya juga terdapat rumah khas Aceh untuk istirahat, itupun dibakar pada tahun 1990,” ujarnya. Yusuf tidak mau menyalahkan kelompok apapun dalam hal bakar membakar sejumlah fasilitas yang ada di taman itu.
Ternyata Yusuf ternyata juga mengetahui siapa yang pertama menginjakkan kakinya di Blang Kulam itu. “Yang pertama kali berkunjung ke tempat wisata ini adalah orang Cina, dan Amerika yaitu pada tahun 1978.”
“Setelah Aceh damai banyak orang berkunjung ke sini. Dan pernah juga datang santri untuk melarang warga agar tidak mengunjungi tempat wisata ini, tapi diselesaikan oleh warga di sini dengan damai,” ujarnya.
Di akhir perbincangan kami, Yusuf mengatakan ia berharap pemerintah mau serius mengelola tempat wisata itu supaya menjadi “surga kecil” bagi masyarakat.




Sumber | atjehpost.com | Photo | Aweaceh.blogspot.com

Artikel Terkait