Atraksi Peupok Leumo atau Adu Sapi di Aceh

BANDA ACEH - Lapangan sepakbola Gampong (Desa) Limpok, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar, yang terletak di bantaran Sungai Lamnyong, dipenuhi warga yang menyaksikan peupok leumo. Dituntun pawang masing-masing, dua sapi berbobot besar siap diadu.

“Huuuaaa..” teriak juri melalui pengeras suara, tanda aksi dimulai.

Dua sapi itu langsung saling menanduk dan mendorong lawan. Sorak sorai penonton membahana menyemangati sapi andalan mereka.

Peupok leumo atau adu sapi merupakan atraksi budaya di Aceh Besar dan Banda Aceh yang sempat menuai kontroversi karena berpotensi menjadi ajang judi. Perhelatan ini sudah ada sejak dulu. Bukan hanya sebatas hiburan, atraksi itu juga dipercaya dapat merangsang sapi-sapi tumbuh lebih sehat.

“Dengan diadu, otot-otot lembu ikut bergerak. Dagingnya akan semakin padat, ini sangat menguntungkan bagi peternak,” tutur Abdul Manaf (45), warga Cot Yang, Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar, merangkap panitia peupok leumo.

Peupok leumo punya aturan tersendiri. Setiap perhelatan, maksimal melibatkan 12 ekor sapi dengan kategori sehat, berbobot besar, dan terurus. Sapi-sapi itu dibawa oleh pemiliknya atas undangan panitia.

Selain memberi makanan padat gizi, pemilik sapi adu juga membubuhi ternaknya dengan nama-nama dalam bahasa Aceh yang memiliki kesan garang dan unik, seperti Raja Rimba, Bruang Tapa, Raja Joget, dan Sidom Itam.

Durasi pertarungan dibatasi 10 menit. Bila dalam kurun itu kedua kontestan masih bertahan, laga diputuskan seri. Kalau ada satu di antaranya lari atau menyerah, maka sapi yang bertahan dinobatkan sebagai pemenang. Tak ada penilaian secara angka.

“10 menit adalah waktu yang cocok, kalau lebih dari itu kami khawatir lembu akan kelelahan bisa menyebabkan kematian,” terang Manaf.

Sapi harus menyeruduk kepala lawan, tak diizinkan menyerang lewat samping. “Ini bisa menyebabkan lawan luka. Kalau ketentuan ini dilanggar, kontestan bisa dikeluarkan,” sebut Manaf.

Dalam bertarung, sapi dikontrol pemilik masing-masing atau diwakilkan oleh pawang. Juri dan panitia ikut mengawasi dan mengingatkan waktu dengan pengeras suara.

Tak ada penarikan undian untuk menentukan siapa lawan siapa. Di lapangan, panitia dan pemilik sapi bernegosiasi untuk menentukan lawannya. Intinya, lawan yang dipilih harus spadan, baik dari segi ukuran maupun bobot.

Sapi pemenang dalam atraksi membawa berkah tersendiri bagi pemiliknya, karena harga jualnya bisa naik hingga satu kali lipat dari harga sebelumnya.

Perhelatan peupok leumo selalu menyedot perhatian. Di tengah gencarnya hiburan ala modern, event tradisional itu tetap mendapat tempat di masyarakat. “Kami suka nontonnya, apalagi di daerah kami tidak ada seperti ini,” ujar Putra, seorang mahasiswa asal Kabupaten Aceh Utara.

Meski sudah dilakukan turun temurun, namun asal usul peupok leumo belum jelas.[okezone.com]

Artikel Terkait