Fotografi

Tags

KABUPATEN

SABANG::
::ACEH TENGGARA
BANDA ACEH::
::ACEH SINGKIL
ACEH BESAR::
::SUBUSSALAM
PIDIE::
::ACEH SELATAN
PIDIE JAYA::
::ACEH BARAT DAYA
BIREUEN::
::ACEH BARAT
LHOKSEUMAWE::
::SIMEULUE
ACEH UTARA::
::ACEH JAYA
ACEH TIMUR::
::BENER MERIAH
LANGSA::
::ACEH TENGAH
ACEH TAMIANG::
::GAYO LUES
NAGAN RAYA::
::


PROFIL ACEH PASCA CONFLIK DAN TSUNAMIACEH: SEJARAH MENUJU PERDAMAIAN DAN PEMBANGUNAN KEMBALI

Aceh merupakan salah satu kawasan di Asia, terkenal dengan konflik yang berkepanjangan. Sejak 1976, Pemerintah Indonesia menghadapi permasalahan internal yang dilakukan oleh Gerakan Aceh Merdeka. Ketidakadilan dan penyalahgunaan HAM menjadi sumber utama terjadinya konflik dan berakhir dengan perdamaian.Dengan jumlah penduduk sekitar 4.2 juta jiwa (2008), Aceh adalah wilayah teritorial Indonesia. Hampir semua masyarakat Aceh beragama Islam dan hidup di sektor pertanian (60%), walaupun Aceh kaya dengan sumber minyak dan gas.Berbagai upaya damai belum memberi hasil yang maksimal. Dua upaya damai yang pernah dibangun: "Jeda Kemanusiaan” atau “Humanitarian Pause" tahun 2000, hanya menghentikan konflik sementara, dan “Penghentian Permusuhan” atau "Cessation of Hostilities Agreement" (COHA) pada December 2002, tetapi berakhir dengan pelaksanaan Darurat Militer oleh Pemerintah Indonesian pada May 2003.

Namun, bencana besar gempa dan Tsunami tanggal 26 Desember 2004 yang telah mengambil korban ratusan ribuan nyawa dan menciptakan kehancuran harta dan benda telah menciptakan sebuah perubahan besar bagi masyarakat Aceh, sekaligus menimbulkan simpati dunia serta membuka jalan perdamaian untuk mengakhiri konflik di Aceh pada tanggal 15 Agustus 2005. Jalan perdamaian yang dimediasi oleh the Crisis Management Initiative (CMI), Mantan Presiden Finlandia Bapak Martti Ahtisaari telah berhasil mengakhiri konflik di Aceh dengan menggunakan formula: “tidak ada yang disetujui sampai segala sesuatu disetujui”. MoU Perdamaian tersebut ditandatangani di Helsinki, Firlandia yang akhirnya menghasilkan UU. No. 11/2006 tentang Pemerintahan Aceh.
MEMORANDUM OF UNDERSTANDING (MOU): BETWEEN THE GOVERNMENT OF THE REPUBLIC OF INDONESIA (GOI) AND FREE ACEH MOVEMENT (GAM)
Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menegaskan komitmen mereka untuk penyelesaian konflik Aceh secara damai, menyeluruh, berkelanjutan dan bermatabat bagi semua pihak. Para pihak yang bertekat untuk menciptakan kondisi, sehingga Pemerintahan Rakyat Aceh dapat diwujudkan melalui suatu proses yang demokratis dan adil dalam Negara kesatuan dan konstitusi Republik Indonesia. Para pihak sangat yakin bahwa dengan penyelesaian damai atas konflik tersebut yang akan memungkinkan pembangunan kembali Aceh pasca Tsunami tanggal 26 Desember 2004 dapat mencapai kemajuan dan keberhasilan. Para pihak yang terlibat dalam konflik bertekad untuk membangun rasa saling percaya.
Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) setuju dengan isu berikut ini: “Penyelenggaraan Pemerintahan Aceh, Hak Azazi Manusia, Amnesti dan Reintegrasi ke dalam Masyarakat, Pengaturan Keamanan, Pembentukan Misi Monitoring Aceh dan Penyelesaian Perselisihan”. Nota Kesepahaman ini ditandatangani di Helsinki, Finlandian pada hari Senin tanggal 15 Agustus 2005 oleh Bapak Hamid Awaluddin, Menteri Hukum dan HAM, atas nama Pemerintah Republik Indonesia (R.I.) dan Bapak Malik Mahmud, Pemimpin, atas nama dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).Nota Perjanjian Perdamaian tersebut disaksikan oleh Bapak Martti Ahtisaari, Mantan Presiden Finlandia, Ketua Dewan Direktur Crisis Management Initiatives sebagai Fasilitator Proses Negosiasi.

GEOGRAFI
Aceh terletak di kawasan paling ujung bagian utara Pulau Sumatera, sekaligus merupakan kawasan paling barat gugusan kepulauan Indonesia yang berjumlah 17,000 pulau itu. Secara geografis, Aceh terletak di antara 2 derajat – 6 derajat Lintang Utara dan 95 derajat – 98 derajat Bujur Timur dengan luas wilayah 57.365,57 Km2. Tinggi rata-rata 125 m di atas permukaan laut. Batas di sebelah barat adalah Samudera Indonesia dan disebalah utara dan timur adalah Selat Malaka. Sedangkan, di sebelah utara mengikuti Sungai Simpang Kiri di sebelah timur dan Sungai Tamiang di sebelah barat bagian selatan. Aceh memiliki 73 sungai, 3 danau dan 119 pulau. Salah satu pulau tersebut adalah “Pulau Weh” yang terletak di bagian ujung paling barat. Pulau ini sering juga disebut Pulau Weh yang merupakan ibukota Kota Sabang yang terkenal dengan keindahan alamnya. Pulau-pulau lainnya yang berdekatan dengan Pulau Weh, seperti Pulau Rubiah, Pulau Rondo, Pulau Seulako,  Pulau Breuh dan Pulau Nasi. Terdapat juga pulau-pulau besar lainnya, seperti Pulau Simeulue, Tuanku Pulau, Babi Pulau dan Pulau Banyak. Arah bujur dari badan daratan Aceh, membujur dari utara ke selatan tepatnya dari arah barat laut ke tenggara. Daratan ini yang merupakan bagian paling utara (barat laut) dari Pulau Sumatera yang dibelah oleh pegunungan Bukit Barisan yang merupakan ujung paling utara dari badan besar pegunungan Bukit Barisan, yang membujur sepanjang Pulau Sumatera. Sebelah barat pegunungan ini merupakan daerah yang sempit dengan hutan lebat, bukit yang curam dan beberapa bagian merupakan daerah dengan tebing yang curam.Sedangkan, di bagian timur Bukit Barisan terdiri dari hamparan dataran yang luas dengan sawah-sawah irigasi dan semakin mendekati pantai Selat Malaka, maka akan ditemui hutan bakau (telah dilakukan kegiatan penanaman kembali hutan bakau setelah Tsunami).Di tengah-tengah provinsi ini berjajar Pengunungan Bukit Barisan melalui dataran tinggi Tangse, Gayo dan Alas. Puncak yang paling tinggi adalah Leuser (3.466m) Ucop Molu (3.187 m), Abong-Abong (3.015 m), Peut Sago (2.786 m) Geuredong (2.295 m) dan Burni Telo (865 m).Pengunungan Aceh Raya dengan terdapat puncak Seulawah Agam (1,762 m) dan Seulawah Inong  (865 M). Daerah ini juga terdapat beberapa danau: Danau Laut Tawar di Aceh Tengah, Danau Aneuk Laot di Pulau Weh dan Laut Banko di Aceh Selatan. Sungai yang bermuara ke Selat Malaka adalah Krueng Aceh, Krueng Peusangan, Krueng Peuruelak, Krueng Tamiang, sedangkan sungai yang bermuara  ke Samudera Hindia adalah Krueng Teunom, Krueng Meurueubo, Krueng Simpang Kanan dan Simpang Kiri.Sungai yang besar adalah Alas dan Tripa yang sangat populer untuk kegiatan wisata petualangan air, seperti rafting, perahu air, dll.
I K L I M
Aceh memiliki iklim tropis, sehingga memungkinkan terjadinya hujan di sepanjang tahun. Walaupun, kemungkinan terjadi hujan di Aceh di sepanjang tahun, tetapi pergantian musim masih dapat terjadi. Musim kemarau biasanya terjadi sejak Bulan Juli sampai Bulan September yang didahului oleh musim kering dari sejak akhir Maret. Sedangkan, musim hujan biasanya terjadi pada Bulan Desember sampai Maret. Keadaan suhu udara Aceh umumnya panas dengan temperatur antara 25 – 30 derajat C bahkan dapat mencapai 32 derajat C di musim kemarau. Sementara di daratan tinggi umumnya berkisar antara 19 – 20 derajat C.Secara keseluruhan Aceh memiliki kelembaban yang tinggi, khususnya di wilayah pesisir barat yang sangat lembab dan basah, sehingga wilayah pantai barat hampir selalu terjadi hujan di sepanjang tahun. Beberapa daerah memiliki jumlah curah hujan hingga 4000 ml per tahun. Sebaliknya, wilayah timur memiliki jumlah curah hujan tidak pernah kurang dari 2000 ml per tahun.
Musim kemarau terjadi pada Bulan Maret hingga akhir Juli. Pada Bulan Mai hingga September, angin utara yang berhembus sedang sering merubah menjadi topan dan menyebabkan gelombang laut naik di sepanjang pesisir pantai barat Aceh.
FLORA & FAUNA
Aceh memiliki hutan tropis yan luas, sehingga kaya dengan keanekaragaman flora dan fauna. Hutan yang selalu hijau rimbun sepanjang waktu menjamin kehidupan bagi makhluk hidup. Aceh memiliki potensi aneka jenis fauna yang relatif besar. Tercatat bahwa ada 512 jenis binatang menyusui, 313 burung, 76 reptil dan 18 amphibi.Beberapa jenis satwa yang dianggap menarik dan tergolong langka juga dapat dijumpai di daerah ini, seperti Badak  Sumatera (dhidernoseros sumatrensis), Harimau Sumatera (pan the rarigris Sumatroe), mawas atau orang utan, Kambing hutan Sumatera (nomor heaedus Sumatrensisa), gajah (elephants mazimus), dan berbagai jenis burung, seperti Rangkonngnya, kuaw, Sang raja udang. Selain, itu terdapat beberapa satwa mamalia lainnya, seperti monyet, orang utang seperti gibbon yang tidak berekor (helobates sindactilus) dan monyet berekor panjang. Juga terdapat  aneka jenis kupu-kupu dengan aneka warna.Sementara, juga terdapat flora dengan keanekaragamannya yang sudah dinyatakan sebagai spesies langka, seperti Raflessia, Sang Lesf, daun Sang tumbuh berkelompok dalam hutan wisata. Tumbuhan jenis ini masuk dalam kelas “family palmae” dan berdaun sangat segar. Luas hutan Aceh berkisar 4,130,000 Ha atau meliputi 74.56 % dari luas daratan. Sekitar 849,954 ha diperuntukkan sebagai hutan lindung (20.58 %) dan 1,561,996 ha diperuntukan sebagai hutan suaka alam (37.82 %). Taman Nasional Gunung Leuser adalah taman nasional yang terluas di Asia Tenggara dengan luas 80,000 ha yang membentang 100 km dari Aceh sampai Gunung Sibayak di Provinsi Sumatera Utara. Taman alam unggulan lainnya untuk tujuan konservasi flora and fauna adalah Taman Laut Nasional Pulau Weh di Pulau Weh. Taman ini sangat terkenal dan terdiri dari beranekaragam biota laut, seperti terumbu karang dan ikan hias.Keberadaan hutan Aceh dan taman-taman nasional tersebut terus dipelihara kelangsungan hidupnya dan menjadi kebanggaan bagi masyarakat Aceh.
AGAMA DAN PENDUDUK
Penduduk yang mendiami wilayah Aceh adalah keturunan dari berbagai suku bangsa dan etnis dengan berbagai tipe, seperti Arab, Cina, Eropa dan India. Sedangkan penduduk asli suku Aceh diperkirakan keturunan Melayu Tua yang berasal dari Champa, Koching China dan Kamboja. Akibat kedatangan Malayu Muda dengan tingkat kebudayaan yang sudah tinggi pada waktu itu telah menyebabkan penduduk asli menyingkir dan pindah ke pedalaman. Orang-orang ini sekarang dikenal sebagai orang gayo Aceh Tengah dan alas di Aceh Tenggara.Dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan, orang Aceh telah lama melakukan kontak internasional dengan dunia luar, khususnya dengan Kerajaan Cina yang telah berlangsung lama. Beberapa hadiah dari Kerajaan Cina melalui kegiatan kerjasama perdagangan masih dapat ditemui di Aceh sekarang.Penduduk Aceh asli seluruhnya menganut agama Islam. Pemeluk agama lain, seperti Protestan, khatolik, Budha, Hindu dan lain-lain hanya masyarakat pendatang dari daerah lain atau orang Cina turunan dan orang asing. Secara keseluruhan jumlah penganut agama lain tidak lebih dari 4 % dari jumlah penduduk di Aceh.Aceh terkenal dengan sebutan  “Daerah Istimewa”. Daerah Istimewa ini tertuang melalui Keputusan Perdana Menteri RI No. 1/MISSi/1959 tentang Pemberian Keistimewaan kepada Provinsi Aceh dalam bidang Agama, Pendidikan dan Adat.Sebagai pemeluk agama Islam, masyarakat Aceh menjalankan syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan Adat istiadat masyarakat Aceh banyak bersumber dari ajaran Islam, sehingga Aceh dikenal dengan julukan “Serambi  Mekkah“.Pemberian nama ini berkaitan dengan masuknya Agama Islam pertama sekali ke Indonesia dari Mekah melalui Aceh.Kerajaan Islam pertama di nusantara terdapat di Aceh dan umat Islam dari daerah-daerah lain yang ingin menunaikan ibadah haji ke Mekkah dilakukan melalui Aceh. Aceh pernah menjadi tempat persinggahan (transit) pada saat pergi dan kembali dalam kegiatan menunaikan Ibadah Haji.Dalam berkomunikasi sehari-hari masyarakat Aceh biasanya menggunakan Bahasa Aceh dan Indonesia. Selain Bahasa Aceh dan Indonesia, ada beberapa dialek yang berbeda dalam penggunaan bahasa. Di  wilayah barat dan selatan berlaku dialek, seperti “Minang”, sedangkan di Kuala Simpang berlaku dialek “Melayu”. Di Aceh Tengah masyarakat berbahasa Gayo, sementara di Aceh Tenggara masyarakat berkomunikasi dengan menggunakan dialek “Alas”. Di beberapa tempat lain ditemui berbagai bahasa dengan dialek setempat.Kota Banda Aceh merupakan salah satu daerah dengan penduduk terpadat di Aceh. Kepadatan rata-rata 3.010 jiwa/Km2, sedangkan daerah yang tergolong jarang penduduknya adalah Kabupaten Aceh Barat dengan 32 jiwa/Km2 dan Kabupaten Aceh Tengah yang hanya 19 jiwa/Km2.
Suku-suku bangsa Aceh
Di Aceh terdapat beberapa berbagai macam suku bangsa:
Suku bangsa Aceh: Suku bangsa yang menempati seluruh wilayah pesisis hingga daerah yang lebih dalam dan merupakan suku bangsa yang paling besar di AcehSuku bangsa Gayo: Suku bangsa yang menempati daerah pedalaman, seperti Aceh Tengah, Bener Meuriah dan Gayo Lues.Suku bangsa Aneuk Jamee: Suku bangsa yang menempati daerah pesisir dari Aceh Jaya sampai Aceh Selatan yang berbatasan dengan Provinsi Sumatera Utara.
Suku bangsa Singkil: Suku bangsa yang menempati daerah Aceh bagian selatan dan tenggara.Suku bangsa Kluet: Suku bangsa yang menempati daerah Aceh bagian selatan bagian tengah.Suku bangsa Alas: Suku bangsa yang menempati daerah Alas, Aceh Tenggara bagian selatan.Suku bangsa Pulau: Suku bangsa yang menempati daerah Simeulue.Suku bangsa Tamiang: Suku bangsa yang menempati daerah Aceh Timur bagian selatan.Jumlah penduduk Aceh sebelum bencana Tsunami 4.271 juta jiwa (data dari KPU, 2004). Sekarang jumlah penduduk Aceh hanya 4.031,589 juta orang (data tanggal 15 September 2005). Jumlah penduduk Aceh sekarang meningkat dua percent dari jumlah penduduk Indonesia.
SEJARAH
Berdasarkan sejarah nenek moyang orang Aceh berasal dari Vietnam Selatan, Koching China dan Kambodia. Kemudian, terjadi kedatangan masyarakat Melayu Muda dengan membawa budaya baru. Akhirnya masyarakat Aceh bertolak dan tinggal di gunung dan menjadi dua kelompok masyarakat: Gayo dan Alas.Aceh terletak pada posisi strategis di barat laut ujung pulau Sumatera antara Timur dan Barat. Aceh pernah menjadi daerah transit  kegiatan perdagangan rempah-rampah dari Maluku Camphor, Barus dan Lada. Aceh juga menjadi pintu masuk Agama Islam dari pedagang Arab, Persia, Turki dan India. Walaupun masyarakat pulau Jawa sudah mengenal Islam, Aceh merupakan daerah pertama sekali masuknya Islam ke Indonesia. Pada akhir abad ke 13, kerajaan Islam tumbuh dan berkembang di daerah Pasai, bukan hanya menjadi pusat perdagangan, tetapi juga menjadi pusat pendidikan Agama Islam.
Bangsa Portugis pertama sekali datang tahun 1509 ke Kerajaan Pasai dan Kerajaan Pedir (Pidie). Kemudian mereka menaklukkan Malaka. Pada masa itu tercatat masa kejayaan Aceh, Johor dan Portugis yang menguasai sektor perdagangan di Selat Malaka.
Meskipun akhirnya Aceh menang bertarung. Mereka tidak pernah ingin menguasai sepenuhnya Selat Malaka. Orang Aceh sering dihalangi oleh berbagai pertikaian internal dengan sebaris peraturan yang tidak bertahan lama. Tahun 1607 sampai dengan 1636 Sultan Iskandarmuda menjadikan Aceh sebagai daerah kekuatan militer utama yang kuat dan perairan laut dikontrol oleh perahu yang membawa 600-800 orang. Kekuatan di darat mempunyai pasukan berkuda, kelompok pasukan gajah, artileri besar dan wajib militer. Tahun 1612 Sultan Iskandarmuda mengusai Deli dan Aru dan Tahun 1613 Sultan Iskandarmuda dikalahkan oleh Johor dan akhirnya Johor merdeka dari pasukan Aceh.
Tahun berikutnya Sultan Iskandarmuda mengalahkan Portugis dan lari ke Bintan. Sultan Iskandarmuda menguasai Pahang dan Kedah di Malaysia, merebut Ibukota Johor lagi dan menguasai Nias pada Tahun 1624/24. Tahun 1629 Sultan Iskandarmuda mengirim sebuah ekspedisi yang didukung oleh ratusan armada kapal untuk melawan Malaka. Namun, mengalami kegagalan dan kehancuran. Menurut laporan Portugis sekitar 19.000 orang hilang. Masa Sultan Iskandarmuda dianggap masa kejayaan Aceh (the Golden Age of Aceh). Setelah masa  Pemerintahan Sultan Iskandarmuda, kejayaan Aceh semakin menurun dan akhirnya banyak yang jatuh dan Kerajaan Johor menang. Portugis diusir  dari Malaka oleh Sultan Iskandarmuda Johor dan VOC Belanda. Aceh mengalami kondisi politik internal, dimana hak-hak kerajaan menjadi terbatas dan berkurang.
Masa Sultan Iskandarmuda Aceh menjadi daerah penting bagi Indonesia dalam literatur Melayu, khususnya literratur Islam. Empat tokoh penting dan terkenal masa itu adalah Hamzah Panzuri, Syamsuddin Pase (1630), Abdurrauf Singkil (1617-90) dan India Nuruddin Arraniny (1658). Setelah kekuatan Aceh menurun, literatur orang Aceh hilang perannya. Antara tahun 1641 dan tahun 1699 masa Pemerintahan Kerajaan Islam berada di bawah kekuasaan empat Ratu Aceh. Dari tahun 1699 sampai dengan 1838 terbagi 11 kerajaan kecil yang dipimpin oleh aristokrat yaitu 3 Arab, 2 Melayu 7 Bugis. Istana hanya mengontrol kota. Luar area dikontrol oleh kaum aristokrat yang agamawan sebagai pembatasan terhadap kekuasaan raja.Tanggal 21 Juni 1599 Kapal Belanda di bawah komando Cornelis de Houteman dan saudaranya Frederik mendarat di Aceh. Kapal Belanda tersebut mengalami penyerangan karena provokasi Portugis dan Cornelis de Houteman terbunuh dan saudaranya dipenjara. Tahun 1602 Gerard de Roy tiba dari Netherlands sebagai seorang wakil dari Pengeran Belanda Maurits yang tujuannya untuk membangun hubungan yang lebih baik antara dua kerajaan dan diterima dengan baik. Aceh mengirim 2 wakil ke Belanda. Di awal Juni tahun 1602 saudagar Inggris dikirim oleh Ratu Elizabeth untuk merealisasikan hubungan kerjasama dengan Sultan Aceh. Sebuah kontrak kerjasama kontral ditandatangani.Tahun 1820 merupakan kebangkitan Aceh di sektor perdagangan dan politik yang kuat. Pada masa itu, Aceh juga menjadi pemasok lada lebih dari separuh lada dunia. Pada tahun 1838 pemimpin baru Aceh muncul, seperti Tuanku Ibrahim yang mulai memulihkan kekuatan Sultan. Beliau mewakili beberapa sultan sampai beliau meninggal tahun 1857. Beliau digelar dengan nama “Sultan Ali Alauddin Mansyursyah”. Tahun 1854 beliau memperluas  pemerintahannya sampai ke Langkat, Deli dan Serdang. Selama pemerintahannya Belanda menyingkir  ke utara dan bentrok dengan Belanda tidak dapat dielakkan. Belanda takut Aceh menjadi lebih kuat atau akan mengganggu kekuatan Eropa.Inggris dan Belanda telah menandatangani  perjanjian bahwa tidak akan mengintervensi, tapi Belanda berkembang terus pada kekuatan yang lainnya. Napoleon Bonaparte telah menerima utusan Aceh dan Turki telah menerima permintaan perlindungan dari Aceh. Inggris lebih senang terhadap Belanda untuk menguasai Aceh dari pada Perancis atau Amerika. Dengan perjuangan yang gigih, Belanda dan Inggris masuk dalam sejarah kolonial terbesar.Belanda mempunyai peluang emas di Afrika dan Inggris mengizinkan pengiriman kontrak kerja Indonesia ke Suriname dan memberikan kebebasan Belanda di Sumatera dan menyamakan hak dagang Siak Utara. Berarti perang Inggris di Afrika dan Belanda di Aceh. Tahun 1873 Belanda mengadakan pertemuan di Singapura, di mana Aceh dan Amerika mendiskusikan perjanjian. Sebagai alasan untuk intervensi, pada bulan Maret mereka membom Kutaraja (sekarang Banda Aceh) dan mendaratkan 3000 orang pasukan. Belanda salah mengira terhadap Aceh, Aceh bertahan dan menjatuhkan lawan, mereka kehilangan 80 orang termasuk jenderalnya. Kemudian Belanda mulai melakukan blokade. Aceh merekrut tentara yang diperkirakan sekitar 10.000 hingga 100.000 orang. Ini merupakan kekuatan terbaik untuk menghadapi perluasan kolonial. Sultan Aceh Mahmudsyah meminta perlindungan Inggris, Amerika, Turki dan Perancis. Namun, Inggris dan Amerika menolak. Turki menjadi lemah dan Perancis tidak merespon.Akhir tahun 1873 Belanda menyerang dengan kekuatan lebih besar di Indonesia. Sekitar 10.000 prajurit jatuh dan banyak korban nyawa akibat kolera. Banda Aceh jatuh  Belanda menguasainya. Awal tahun 1874 Kemenangan lebih cepat dari perkiraan.  Aceh tidak pernah menyerah dan Belanda semakin mengepung Banda Aceh dan akhirnya perang terjadi. Pihak Belanda berhasil membombardil dan membakar kampung, tapi pasukan Aceh hanya mundur dan lari ke gunung tanpa menyerah. Tahun 1881 Belanda mengumumkan perang telah usai, ini dilihat dari kenyataan dan pengamatan Belanda hingga Belanda menarik pasukannya untuk meninggalkan Aceh. Aceh mulai bergerilya dipimpin oleh pemimpin agama dan bertahan menjadi perang suci melawan kafir.Pemimpin yang paling terkenal adalah Teungku Chik Di Tiro (1836-91). Satu hal yang menentukan, yaitu ketika seorang misionaris Dr. Christian Snouck Hurgronje menjadi penasehat Belanda. Gubernur Belanda yang baru di Aceh Van Heutsz membuat kebijakan baru untuk menghancurkan pemimpin agama, setiap ada korban ia mencoba untuk mendinginkan pemimpin tradisional atau pemimpin sekular.  Tahun 1903 Sultan Tuanku Daud Syah akhirnya menyerah, tetapi masih melawan Belanda dan memimpin suatu serangan di Banda Aceh tahun 1907 dan mengalami kekalahan, akhirnya dia diasingkan. Pemimpin militer juga menyerah tahun 1907 dan dia menjadi official dibawah Belanda.  Beberapa pemimpin agama terbunuh tahun 1910/12, Bagi orang Aceh perang tak pernah berakhir, selama kedudukan Jepang banyak pemimpin sekuler di penjara atau dibunuh.  Setelah perang dunia ke-II ketika Belanda mencoba untuk menaklukkan kembali  Indonesia. Aceh dihindari secara hati-hati kecuali Sabang. Pemimpin Agama melihat Jepang datang mengira satu kesempatan untuk mengusir  Belanda. Tapi sangat mengecewakan, ternyata perlawanan terus berlanjut dengan serangan gerillya. Dengan segera, setelah perang, Aceh menyerang Jepang yang telah dievakuasi oleh sekutu.  Perang sipil antara pemimpin agama pro republik dan pemimpin sekular pecah.Pemimpin agama menang dan Aceh menjadi daerah yang paling stabil di Indonesia dan kerajaan dihentikan. Tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia memproklamirkan Kemerdekaannya. Aceh mendukung perjuangan melawan Belanda dengan menyediakan pesawat udara yang dibeli melalui sumbangan emas dari rakyat Aceh.  Pesawat ini menjadi cikal bakal sejarah lahirnya penerbangan komersil “Garuda Indonesia Airlines” dan sekarang menjadi monumen di Taman Mini Jakarta dan replikanya di Banda Aceh.Tahun 1949 Aceh menjadi Provinsi Otonomi khusus di Republik Indonesia, tapi tahun 1950 Aceh disatukan dengan Provinsi Sumatra Utara. Aceh berontak, tahun 1953 pemerintah Jakarta mengirimkan militer untuk memadamkan pemberontakan di Aceh dan Aceh dapat dikuasai. Dengan ditandatanganinya gencatan senjata, namun mengalami kebuntuan. Pada tahun 1959 Aceh diberi status “Daerah Istimewa” di bidang Agama, Adat budaya dan Pendidikan.
KEBUDAYAAN
Aceh memiliki khasanah budaya yang kaya.  Kebudayaan ini pada dasarnya diwarnai oleh ajaran Islam, namun demikian pengaruh Agama Hindu yang telah berakar sebelum masuknya Islam masih tetap berpengaruh. Hal ini terlihat baik dalam kehidupan adat istiadat, kesenian maupun kehidupan sehari-hari.Kesenian tradisional masyarakat Aceh memiliki identitas yang religius, komunal, demokratik dan heroik. Kesusasteraan Aceh terdapat dalam Bahasa Aceh dan Melayu (Jawi), sementara Bahasa Arab, baik kata maupun ibaratnya banyak sekali mempengaruhi Kesusasteraan Aceh. Pakaian sehari-hari di Aceh sesuai dengan prinsip ajaran Islam. Bagi wanita diwajibkan memakai pakaian yang menutup aurat: di bawah kaki hingga tumit, lengan badan dan rambut.Dahulu, kaum wanita biasanya memakai celana panjang, namun akibat pergantian masa, keadaan ini telah berubah. Sekarang, orang Aceh lebih suka memakai kain sarung dan blus batik, namun dalam keadaan tertutup aurat. Pakaian-pakaian ala barat pada umumnya dipakai oleh kalangan muda-mudi, khususnya anak-anak sekolah, mahasiswa dan orang-orang kantor. Hampir semua pakaian berada dalam batas kesopanan dan pakaian setengah telanjang tidak pernah terlihat, meskipun di tepi pantai.  Wisatawan diharapkan dapat menjaga norma-norma di daerah ini.Selama Bulan Ramadhan dan Hari Jum’at akan terlihat tanda-tanda keIslaman yang kuat. Selama Bulan Ramadhan semua orang dewasa diharuskan berpuasa, tetapi tanpa menghambat aktifitas sehari-hari. Dari terbitnya fajar hingga terbenam matahari,  masyarakat menahan diri dari makan, minum dan merokok. Bagi non muslim yang ingin mencari makanan biasanya dapat dijumpai tempat-tempat tertentu, tanpa mengganggu orang-orang yang berpuasa. Namun, restoran-restoran biasanya ditutup pada siang hari selama bulan puasa. Pada hari Jum’at, kaum pria maupun anak-anak pergi ke mesjid guna melaksanakan shalat karena hari tersebut dianggap hari paling mulia.  Kantor-kantor dan pertokoan ditutup selama pelaksanaan shalat Jum’at.Tatakrama kehidupan masyarakat Aceh merupakan hal yang sangat penting. Orang asing atau orang pendatang yang masuk ke sebuah kampong harus mematuhi peraturan yang berlaku atau paling tidak berjumpa dengan “Kepala Kampung” untuk memperkenalkan dirinya dan saling berkenalan. Apabila dua orang Muslim bertemu, mereka saling menyapa dengan mengucapkan “Assalamu ’alaikum”, dengan jawaban “Wa ’alaikumusalam”.Orang pertama memberikan salam kepada yang lain biasanya orang pendatang. Setelah dijawab salam biasanya berjabat tangan. Memberi atau menerima sesuatu dari orang lain selalu dilakukan dengan tangan kanan.
PAKAIAN TRADISIONAL
Aceh terbagi dalam 23 kabupaten/kota. Hampir setiap daerah mempunyai pakaian yang berbeda. Tapi pakaian standar untuk laki-laki celana panjang hitam, baju hitam tangan panjang dengan satu kancing di leher. Kain songket dililit di pinggang dan satu rencong diselipkan di balik songket bagian depan. Di kepala kupiah meukeutop, di puncak kopiah terdapat ornamen emas berbentuk bintang.Wanita Aceh menggunakan blus kuning atau merah dengan bordir benang mas di depan (dada) dan di ujung lengan, bawahnya memakai celana hitam yang dibordir benang mas dan menggunakan sarung songket diatasnya ditambah tali pinggang yang terbuat dari emas atau perak. Kepala dihiasi dengan kembang goyang dari emas, kalung berurai dari leher sampai pinggang. Tangan memakai beberapa gelang dan jari tangan penuh dengan cincin emas.
MAKANAN DAN MINUMAN
Jenis makanan Aceh hampir sama dengan makanan Indonesia lainnya, beragam dan agak pedas. Makanan lain, seperti masakan Padang, Cina, Eropa dan masakan Indonesia lainnya mudah dijumpai di kota. Bermacam outlet dari restoran hotel besar sampai ke jalan-jalan kecil dapat dijumpai warung nasi, mie, martabak, sayuran dan makanan kue-kue tradisional.  Orang Aceh mengkonsumsi nasi yang telah dimasak, dikukus atau nasi goreng dengan sayur, ikan, daging, ayam, sambal cabe, emping, pecal, gado-gado yang biasanya pedas atau sesuai dengan permintaan. Juga terdapat “Rujak Aceh” yang segar. Di restoran-restoran besar sering dijumpai udang, kepiting, daging kambing dan banyak lainnya dimasak dengan resep tradisional Aceh. Biasanya untuk mengempukkan daging, maka digunakan daun ganja sebagai bumbu masak, bukan untuk tujuan memabukkan.
RUMAH ACEH
Kampung Aceh terletak di daerah sedikit ke pedalaman yang dikelilingi oleh pepohonan yang menghasilkan buah-buahan, sehingga terasa sejuk. Rumah Aceh dibangun secara tradisional dengan menggunakan pasak kayu penggati paku yang dimasukkan dalam lubang penjepit untuk menjamin kekuatan rumah. Rumah dibangun di atas 16,20 atau 24 tiang yang kokoh setinggi 6-8 kaki diatas tanah untuk proses sirkulasi udara dan kenyamanan bagi orang-orang untuk bergerak. Tiang rumah terbuat dari kayu keras berwarna coklat tua (merbau), khususnya di tanam di dalam tanah. Semua sisi yang digunakan panjangnya berukuran 12 kaki. Dinding dibuat dari kayu meranti atau bambu, lantai bertingkat, bagian tengah lebih tinggi 30 cm dari sisi lainnya. Atap terbuat dari daun rumbia.
Tangga dan pintu dibuka melalui lantai di ruang tamu, ruang pertama sepanjang rumah dinamakan “Seuramo Keu” artinya “Serambi Depan”, yang digunakan untuk tamu perempuan atau hari-hari besar agama, pertemuan dan diskusi. Di tengah-tengah di sisi yang lebih tinggi biasanya digunakan oleh laki-laki dan di belakangnya disebut “Seuramo Likot” atau “Serambi Belakang”. Sedankan, tingkat yang paling rendah adalah dapur. Rumoh Inong (ruang tidur perempuan) atau Rumah Inti Aceh, yaitu ruangan untuk wanita yang digunakan untuk melahirkan, untuk menempatkan orang meninggal dan dukacita. Serambi belakang atau ruang umum, digunakan untuk membesarkan  anak-anak, menjahit, menganyam tikar dan mengobrol sambil mengupas pinang.Rumah Aceh cenderung dibangun menghadap Kiblat, konstruksi dimulai dengan peusijuk dan meletakkan empat potongan kain berwarna merah dan putih di ujung tiang sudut, keempat potongan kain ini melambangkan dua perempuan dan dua laki-laki sesuai dengan orang yang menempati rumah tersebut. Kain berwarna merah berarti berani dan putih berarti suci.  Pemasangannya ditaburi dengan beras, air sambil membaca do’a. Setelah acara selamatan ini baru konstruksinya dibangun.
Rumah Aceh kaya dengan berbagai ornamen pada atap dan dinding. Bagian atap dan dinding yang berbentuk segi tiga dinamakan tulak angen. Dekorasi lainnya terdapat pada jendela, bingkai jendela dan tiang dalam yang terdiri dari papan dan tiang bagian luar. Motif yang digunakan berbentuk simetris, spiral, tumbuh-tumbuhan, kali-kali, petak-petak, segi tiga, seperti permata. Di tengah motif tersebut digunakan bulan sabit dan bintang atau bintang-bintang.
KERAJINAN TRADISIONAL
Di Aceh terdapat kerajinan tangan yang khas, kerajinan tangan yang utama adalah sulaman benang emas, tenunan sutra, rencong dan kerajinan kayu. Kerajinan tangan yang berasal dari dataran tinggi Gayo dan Alas terkenal dengan keanekaragaman motif warna bordiran. Jenis tembikar juga terdapat di daerah ini, tetapi keduanya memiliki perbedaan dalam bentuk model dan penggunaannya. Walaupun tempat produksinya di pedesaan, tetapi bisa diperoleh atau dijual di kota.
Sulaman Benang Mas
Sulaman benang emas Aceh adalah jenis rajutan yang memakai dua jenis benang. Secara tradisional digunakan benang sutra atau benang yang berwarna metalik (perak), tetapi sekarang secara umum benang emas dicampur dengan bahan yang dasarnya katun. Jenis benang lainnya adalah katun berwarna dengan motif yang telah didesain. Lapisan sulaman ada yang dilapisi dengan kertas tebal agar menimbulkan kesan tiga dimensi. Untuk menambah pernek-pernik kilauannya ditambah payet-payet. Bordiran benang emas dipakai untuk mendekorasi ruang-ruang resepsi pada pesta perkawinan, tatakan-tatakan, sprei-sprei (kain-kain alas tempat tidur), sarung-sarung bantal, dekorasi diinding, kipas dan sebagainya.
Tenunan Sutra
Awal abad ke-10 dan 11 semasa Dinasti Sung di Cina disebutkan bahwa tenunan sutra Pidie merupakan produksi terkenal di dunia. Tenunan sutra Pidie telah diekspor ke India sampai abad ke-16 dan dikabarkan kualitas serta harganya lebih tinggi dari pada tenunan sutra India.
Barang-barang Perhiasan
Berdasarkan fakta sejarah, tukang emas Aceh mulai ada antara abad ke-13 dan 15. Kerajaan Samudra Pase telah menggunakan uang logam emas. Kemudian Sultan Iskandarmuda memperkerjakan 300 orang tukang emas di istana kerajaan di Banda Aceh untuk kegiatan pembuatan kerajinan emas dengan kualitas seni yang tinggi. Kegemaran terhadap emas masih tinggi di Aceh dan mudah menemukan emas yang menarik yang dikerjakan dengan desain tradisional, seperti “cucok sanggoi” (pin buket yang disematkan disanggul), “klah takue” (lebar dengan pengaet yang keras), ”keutab lhee lapeh“ (kalung tiga tingkat), “teurapan bajee” (kerah emas), ”deureuham” (uang logam emas) yang menyerupai bunga-bunga yang sedang  mekar dikelilingi dengan manik-manik), ”enteuk” (uang logam emas yang disimpan), “gleung jaro” (gelang tangan), “gleung gaki” (gelang kaki) dan “talo keuieng” (tali pinggang emas).
Anyaman
Menganyam adalah aktifitas wanita di Aceh Tenggara pada waktu senggang. Bahan yang dipakai adalah pandan, cike dan ketan. Sebelum dipakai, bahan tersebut harus dikeringkan di bawah sinar matahari dan digantungkan di dalam rumah. Beberapa anyaman diberi warna merah tua, maron, hijau, kuning dan hitam. Contoh yang telah dibuat adalah hiasan dekorasi pada tikar, tas empat persegi panjang, kipas dan hiasan-hiasan dinding.
SENJATA TRADISIONAL
Rencong
Rencong sangat populer dan merupakan pisau belati khas orang Aceh yang terkenal semasa perang Aceh. Sekarang rencong berfungsi sebagai asesoris pakaian tradisional Aceh dan sangat dikenal sebagai cenderamata. Matanya dibuat dari logam, gagang dan sarungnya secara umum dibuat dari gading, kayu atau tanduk kerbau, bahkan dari emas atau perak yang dikombinasikan dengan tanduk kerbau atau gading. Bentuk rencong diambil dari bahasa Arab “Bismillahirrahmannirrahiim” (Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Bentuk dari komponen-komponen rencong sama dengan huruf bahasa Arab dalam Bismillah.
Siwah
Umumnya Sultan dan orang-orang yang memiliki status memakai siwah sebagai senjata pada upacara adat. Siwah mempunyai mata yang lebih panjang dari pada rencong, tetapi bentuknya seperti rencong.
Peudeung
Jenis senjata lain yang terkenal semasa peperangan adalah Peudeung, sejenis pedang yang panjang. Sejarah pedang dapat ditelusuri pada abad ke-16. Setiap peudeung diberi nama setelah dibuat gagangnya. Contohnya, gagang pedang seperti ekor kucing, gagang seperti mulut buaya, gagang seperti tanduk rusa, gagang pedang seperti kaki kuda dan gagang pedang seperti paruh bebek.
ALAT-ALAT MUSIK TRADISIONAL
Alat musik Aceh yang terkenal adalah “Surune Kalee”, yaitu alat tiup tunggal dari kayu dengan satu lubang di belakang dan tujuh di depan. Ada berbagai jenis seruling (alat tiup) yang terbuat dari bambu, sepeti “buloh perindu“, “bansi” dan “suling”. Gong dibuat dari kuningan atau dari kulit kambing yang dikeringkan dan dibunyikan dengan alat pemukul dari kayu.Ada tiga jenis ukuran gong yang sesuai dengan ukurannya, yaitu “gong”, ”canang” dan “mong-mong”. ”Rapa-ii” adalah tamborin yang dibuat dari kulit kambing. Contohnya, Rapa-ii pasai, yang telah diperkenalkan oleh kerajaan Samudra Pasai sebagai alat untuk memanggil rakyatnya untuk berkumpul. Tak-tok dibuat dari bambu dan sangat mirip dengan “angklung” Jawa. Para pemain alat tradisional biasanya pria, sementara yang wanita bernyanyi dan bermain tamborin. Sebuah band tradisional terdiri dari seorang pemimpin, empat atau lima orang pemain dan satu atau dua orang anak laki-laki sopranos.
TARIAN
Tarian biasanya dipersembahkan sebagai hiburan untuk para sultan dan tamu mereka setelah bekerja keras di ladang. Dewasa ini tari-tarian paling banyak dipertunjukkan, khusus pada berbagai acara pemerintahan, tetapi banyak pula kelompok-kelompok tarian tradisional sebagai warisan tradisi. Setiap daerah mempunyai versi masing-masing dan setiap tarian memiliki ciri khas daerah. Pakaian yang dipakai adalah celana dan baju lengan panjang serta sarung yang dililit di pinggang dan warnanya sering berkilat-kilat. Wanita biasanya memakai penutup kepala, tetapi perhiasan yang dipakai tergantung pada jenis tarian yang dilukiskan.Tarian Aceh umumnya memiliki karakteristik tertentu. Nilai-nilai Islami sering disebarkan melalui tarian. Tari-tarian tersebut berhubungan dengan aktifitas sosial sehari-hari. Semua tarian Aceh ditampilkan oleh satu kelompok dan dinamis dengan hentakan kaki, tepukan dada, pinggul dan bahu. Mula-mula dengan irama lambat, sedikit demi sedikit meningkat sesuai dengan tariannya. Lagu-lagu dan puisi-puisi selalu dinyanyikan oleh penari-penari itu sendiri. Beberapa tarian yang terkenal adalah:
Ranub Lam Puan
“Ranub” adalah sirih yang sering dimakan oleh orang Aceh sebagai daun yang berkhasiat. Secara tradisional digunakan sebagai kunyahan setalah makan dan disajikan untuk menunjukkkan rasa hormat kepada para tamu.“Penyajian Sirih kepada tamu“ adalah sebuah tarian yang sudah populer untuk penyambutan tamu-tamu terkemuka yang datang ke Aceh dan juga pada pembukaan acara seremonial ditarikan oleh sembilan orang wanita dan diiringi oleh musik “Seurunee Kalee”. Pada akhir tarian para penari menawarkan  “Sirih” (ranub) untuk para tamu sebagai rasa hormat walaupun  tidak seorang pun harus makan sirih.
Pemeulia Jamee
Tari ”Pemeulia Jamee” sama dengan tarian Ranub Lampuan. Perbedaannya adalah tidak menyajikan Sirih dan musik yang digunakan bernuasa padang pasir di Negara Arab, dan  lagu yang dinyanyikan dimulai dengan sapaan dengan bahasa Arab, “Assalamu ’alaikum”.
Rapa-ii Geleng
Rapa-ii adalah  jenis tamborin yang biasanya dipakai untuk mengiringi sebuah lagu atau tarian. Permainan Rapa-ii telah dikembangkan dan diiringi dengan lagu-lagu dan berbagai macam lenggak-lenggok yang indah. Ini merupakan dobrakan penampilan sebuah tarian baru yang disebut “Rapa-ii Geleng”. Tarian ini dimainkan oleh 11 sampai 12  orang  penari dan setiap mereka memainkan Rapai (tamborin kecil).Sambil bermain Rapa-ii dan menyanyikan lagu, mereka melakukan berbagai gerakan tubuh, yaitu tangan, kepala dan lain-lain. Gerakan para penari hampir sama dengan tarian Saman, tetapi menggunakan “Rapa-ii”. Jenis tarian ini sangat dinikmati dan menyenangkan. Disamping itu, masih banyak lagi kesenian-kesenian lain, seperti: Ratoh Dang Deria dan Dendang Singkil.
Seudati
Seudati adalah salah satu tarian yang populer di Aceh Utara. Jumlah penarinya sebanyak 8 orang dalam satu kelompok dan mereka dipimpin oleh seorang penari yang disebut “Syech” dan didampingi oleh dua penari lain yang disebut “Apet Syech”. Tarian ini dibantu oleh dua penyanyi untuk mengiringi tarian. Ada dua jenis Seudati: v  Seudati Inong: jenis seudati yang dimainkan oleh gadis-gadis dengan memakai kostum cerah. v  Seudati Agam: jenis seudati yang dimainkan oleh pria.
Tarek Pukat
Tarian Tarek Pukat menggambarkan kehidupan nelayan di daerah pesisir. Termasuk di dalamnya pembuatan jala jaring, mendayung sampan, menangkap ikan dan menarik jala. Jenis tarian ini sangat menyenangkan dan dinamis yang diiringi oleh lagu dan instrumen musik. Setiap penari mempunyai tali sambil menarik tali dan dirangkaikan menjadi jala.
Marhaban
Tarian ini umumnya ditujukan untuk menyambut lahirnya Nabi Muhammad SAW. Popularitas tarian ini sering ditampilkan pada berbagai acara kebudayaan. Ada 20 orang pemain, 10 orang pemain wanita dan 10 orang pemain pria yang diiringi dengan tamborin. Tarian ini sering diiringi dengan do’a-doa yang dipersembahkan kepada Rasulullah.
Lansir Madam
Lansir Madam adalah sisa-sisa dari era kolonial dan menggambarkan sebagai “Tarian Belanda”.
Saman
Saman adalah tarian yang sangat populer di Aceh dan tarian ini telah terkenal di luar negeri dengan nama “Tangan Seribu” yang berasal dari Alas dan biasanya dipertunjukkan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW dan acara-acara penting lainnya. Ditarikan oleh 8 sampai 20 orang pemain pria berlutut/duduk dalam satu barisan di lantai dan membuat gerakan tubuh yang diiringi dengan lagu, menepuk tangan, menepuk dada, menepuk tangan di lantai dan lain-lain.Jenis tarian ini menyayikan lagu pujian kepada Allah atau do’a. Tarian ini dimulai dengan gerakan lambat dan meningkatnya tempo secara berangsur-angsur sampai kecepatan tinggi hingga akhirnya tiba-tiba berhenti. Tari Saman memiliki perbedaan menurut versi daerah.
Meuseukat
“Meuseukat” hampir sama dengan “Saman” perbedaannya hanya “Meuseukat” yang dimainkan oleh wanita yang berasal dari Aceh Selatan.
Pho
Kata “Pho” berasal dari kata “Peubae Po”. “Peubae” berarti tangisan dan “Po” adalah orang yang dihormati. Tarian tersebut dikembangkan dari tarian lama “Bineuh” dan dimulai pada abad ke-16 di  Aceh Selatan. Tarian ini mulai dipertunjukkan pada acara kematian sultan atau orang yang dimuliakan sebagai suatu ungkapan kesedihan dan kehilangan. Setelah bertahun-tahun mulai ditampilkan pada upacara “Manoe Pucok” (mandi pucuk secara berturut-turut) dalam hari-hari sebelum pesta perkawinan ketika pengantin dimandikan.Selama upacara ini berlangsung pengantin wanita duduk lengkap dengan pakaian tradisional dan ditemani oleh orang tuanya setelah “Peusijuk” (ditepung tawari) para penari muncul, mereka dipimpin oleh seorang “Syech” yang menyanyikan lagu tentang gambaran kehidupan pengantin wanita dari lahir sampai menikah. Kisahnya tentang kehidupan selama dengan orang tua, berapa banyak yang telah mereka habiskan untuknya dan bagaimana mereka telah merawatnya. Sekarang saatnya berpisah  dan pengantin wanita akan meninggalkan orang tuanya untuk sebuah kehidupan baru dengan suaminya sebagai istri dan ibu. Pengantin baru juga direstui dan dido’akan semoga selalu sejahtera. Lagu-lagunya sering bernada sedih, tidak hanya pengantin dan orang tuanya yang sedih, tetapi juga para undangan ikut bersedih.
Perang Sabil
“Perang Sabil” adalah sebuah kreasi baru, yang dikombinasikan untuk mengingatkan   peperangan melawan penyerbu asing. Tarian ini sangat dinamis yang diiringi oleh musik dan ditampilkan oleh 8 orang pria dan 8 orang wanita. Wanita membantu membawa rencong dan pria membawa pedang (Peudeung). Para penari melukiskan bagaimana rencong dan peudeung dipakai dalam sebuah peperangan nyata dan tarian itu sendiri dapat terluka jika penari kehilangan konsentrasi.
Bines
“Bines” berasal dari bahasa Alas dan dikembangkan dari cerita rakyat “Odeni Maleleng”. Cerita ini melukiskan tentang nasib seorang wanita yang berzina dan dihukum oleh orang kampungnya sendiri sampai mati. Ibu gadis tersebut menangis sambil menghampiri tubuh si gadis yang terbaring beralaskan selembar kulit. Tarian ini melukiskan dukacita seorang ibu dan sebuah nyanyian duka dalam bahasa daerah yang diikuti berbagai gerakan.
Didong
“Didong” adalah jenis tarian yang berasal dari daerah Gayo yang sangat terkenal. Didong dilakukan secara berkelompok yang terdiri dari 20 sampai 40 orang pria. Tarian ini ditampilkan pada berbagai kesempatan.
Ula-Ula Lembing
Sebuah tarian yang sangat dipengaruhi oleh tradisi Melayu dan sangat populer di Aceh Timur, yang ditarikan oleh 4 pasangan dengan pakaian dalam kostum tradisional Melayu.
Alee Tunjang
Jenis tarian ini sering dilakukan pada saat musim panen datang, yang melukiskan penggilingan padi secara tradisional. Ditampilkan oleh empat pasangan dengan gerakan indah dan diiringi musik “Seurunee Kalee”. Diangkat dari kata “Lesung” (alat menumbuk padi) dan “Alu” (alat penumbuk), 2 atau 3 meter panjangnya.
Daboih
“Daboih” dikenal sebagai sebuah tarian yang sangat keras, yang menampilkan kekebalan seseorang dari berbagai benda tajan dengan menikam dirinya sendiri. Permainan Daboih diiringi oleh musik tamborin “Rapa-ii”. Pertunjukan Daboih kadang-kadang dramatis, bahkan gergaji listrik dapat digunakan.
PEMERINTAHAN
Secara administrasi Aceh terdiri dari 23 kabupaten/kota, 136 kecamatan dan 5.463 desa. 23 kabupaten/kota tersebut terdiri: Kabupaten Aceh Besar, Kabupaten Pidie Jaya, Kabupaten Pidie, Kabupaten Aceh Utara, Kabupaten Bireun, Kabupaten Bener Meriah, Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Aceh Timur, Kabupaten Aceh Tamiang, Kabupaten Aceh Tenggara, Kabupaten Gayo Lues, Kabupaten Aceh Jaya, Kabupaten Aceh Barat, Kabupaten Nagan Raya, Kabupaten Aceh Barat Daya, Kabupaten Aceh Selatan, Kabupaten Aceh Singkil, Kabupaten Simeulue, Kota Banda Aceh, Kota Sabang, Kota Lhokseumawe, Kota Langsa dan Kota Subulussalam.
Tingkat pemerintahan yang paling rendah adalah desa, umumnya dikenal dengan “Gampong”. Setiap gampong memiliki kepala disebut “Keuchik”. Keuchik dibantu oleh Tuha Peut dan sangat dihormati.
Masyarakat diwakili oleh seorang “Teungku Meunasah” atau “Teungku Imum” sebagai tokoh agama pada setiap gampong. Di gampong terdapat satu bangunan yang disebut “Meunasah” yang berfungsi sebagai pusat administrasi gampong, tempat pendidikan agama, pusat musyawarah dan tempat pertemuan untuk berbagai kegiatan masyarakat.

TRANSPOTRASI
Transportasi Darat
Transportasi di seluruh Aceh relatif sudah berjalan lancar sampai ke berbagai pelosok daerah, kecuali ke beberapa wilayah yang masih terisolir seperti Lokop, Blang Kejeren, Singkil dan lain-lain yang kondisinya masih kurang baik. Dewasa ini jalan ke wilayah tersebut masih dalam tahap pembangunan. Sejak tahun 1990 panjang ruas jalan seluruhnya di Aceh mencapai 10.832,53 Km terdiri dari jalan negara 973,6 Km, jalan Propinsi 1.580,90 Km dan jalan Kabupaten/Kotamadya 8.278,03 Km.Keadaan jalan/jembatan negara yang menghubungkan Banda Aceh sampai dengan batas Provinsi Sumatra Utara yang menyelusuri bagian pantai utara dan timur Aceh sepanjang 584,3 Km kondisinya seluruhnya dalam keadaan mantap. Demikian juga dengan jalan/jembatan negara yang menyelusuri bagian pantai barat dan selatan Aceh sebagaian dalam keadaan mantap dan seluruh rakit penyebarangan telah diganti dengan jembatan.
Transportasi Laut
Aceh memiliki 11 buah pelabuhan laut, masing-masing 5 buah di bagian pantai barat - selatan dan 6 buah di bagian pantai utara - timur Aceh, dimana kondisi fasilitasnya relatif memadai. Disamping itu, terdapat pelabuhan khusus milik PT. SAI di Lhoknga untuk kegiatan pengangkutan semen, milik PT. AAF di Krueng Geukueh untuk pengangkutan pupuk, milik Mobil Oil untuk pengangkutan alat-alat berat milik PT. Arun untuk pengangkutan LNG dan beberapa pelabuhan khusus lainnya milik HPH untuk pengangkutan kayu.
Sebagian besar pelabuhan di Provinsi Aceh berfungsi sebagai bongkar muat barang dari kapal-kapal yang pelayarannya tidak reguler.  Beberapa waktu yang lalu hubungan reguler ke daerah ini dilaksanakan oleh:   Pelayaran Nusantara: menghubungi Pelabuhan Malahayati Krueng Raya –Lhokseumawe – Belawan - Tanjung Periuk - Pontianak.   Pelayaran Perintis: menghubungi Pelabuhan Meulaboh – Tapaktuan - Sibolga - Teluk Bayur - Tanjung Priok. Pelayaran Fery: menghubungi Pelabuhan Ulee Lheue - Sabang dan Labuhan Haji, Aceh Barat Daya - Sinabang.
Dewasa ini yang aktif hanya pelayaran Ferry yang secara reguler melayani jalur pelabuhan Ulee Lheu – Sabang dan Labuhan Haji, Aceh Barat Daya – Sinabang (Simeulue).

Transportasi Udara
Transportasi udara di Aceh sudah cukup baik. Saat ini di Aceh terdapat  6 buah bandar udara. Bandar Udara Sultan Iskandarmuda adalah bandara internasional yang terletak 16 Km dari Kota Banda Aceh. Penerbangan dari dan ke Bandara Sultan Iskandarmuda dilayani oleh Maskapai Penerbangan Garuda, Lion Air dan Sri Wijaya Air dengan rute penerbangan Sultan Iskandarmuda – Polonia – Sukarno Hatta (Jakarta). Sementara, selain Lion Air yang menghubungkan Banda Aceh -  Penang, Maskapai Penerbangan asing lainnya, seperti AirAsia juga menghubungkan Banda Aceh -  Kuala Lumpur.
PERJALANAN SELAMA RAMADHAN
Bulan Ramadhan yaitu bulan berpuasa bagi seluruh umat Islam selama satu bulan penuh. Melakukan perjalanan wisata di Aceh selama bulan tersebut memberikan dimensi baru bagi turis non muslim. Selama bulan ini umumnya semua restoran dan kedai-kedai makanan ditutup mulai dari matahari terbit sampai matahari terbenam. Ketika bulan puasa, tidak hanya makanan, minuman dan merokok yang dilarang, tetapi juga pemikiran yang tidak baik, dusta dan perbuatan tercela. Ramadhan adalah bulan pembersihan jiwa dan raga. Jika perlu makan, minum atau merokok, jangan di dilakukan di tempat umum, namun dapat dilakukan di ruangan sendiri atau restoran tertentu (restoran Cina). Di tempat yang banyak turis, biasanya makanan dan minuman akan disediakan di tempat khusus. Alternatif lain yang paling baik adalah ikut berpuasa dan nikmati perasaan jiwa yang tenang.
ADAT DAN TATAKRAMA
Orang Aceh sudah terbiasa bergaul dengan orang-orang asing dan menyambut baik kedatangan orang asing ke Aceh. Agama dan tradisi mereka sangat kuat dan selalu menghargai serta menghormati gaya hidup para pendatang. Bila ada sikap yang aneh yang dilakukan oleh orang asing, maka akan berdampak negatif. Ada beberapa cara bagaimana bersikap dan membaur antara masyarakat lokal dengan masyarakat pendatang yang berbeda budaya dan agama.
Komunikasi Non Verbal
Penempatan tangan di pinggang merupakan tanda kemarahan atau kesombongan. Telunjuk tangan kanan digunakan untuk menunjuk sesuatu dan dengan telapak tangan terbuka dipakai sebagai isyarat kepada seseorang. Telapak kaki dan sepatu mungkin  kotor, tidak sopan jika disilangkan dan menghadap ke arah orang lain. Jangan menunjuk sesuatu dengan kaki karena sangat tidak sopan. Jangan melempar sesuatu kepada orang lain, lebih baik memberikan langsung dengan tangan, meskipun kamu harus berpindah tempat sebentar. Dalam kehidupan sehari-hari, pria bercengkrama dengan pria dan wanita bercengkrama dengan wanita. Berhubungan mesra antara pria dan wanita tidak dilakukan di depan umum.
Adab Dalam Berkunjung Atau Bertamu
Apabila mengunjungi rumah orang Aceh, jangan lupa membuka sepatu. Orang Aceh selalu menghidangkan minuman untuk tamu. Minuman yang sering dihidangkan adalah kopi dan teh. Sangatlah sopan untuk menunggu sampai dibilang “silahkan” oleh tuan rumah. Para tamu biasanya ditanyakan, “apakah mereka sudah makan” jawaban yang sopan adalah ya (sudah). Namun, jika makanan secara langsung disediakan, sangat tidak sopan jika kita menolaknya.
Ketika hendak pulang ucapkan “terima kasih” kepada istri tuan rumah karena ia telah menghabiskan seluruh waktunya di dapur. Jangan mengunjungi rumah orang Aceh pada waktu sholat. Jika ada seorang wanita yang belum menikah di rumah tersebut, diharapkan tidak datang ke rumah tersebut. Ketika memberi dan menerima sesuatu selalu dengan tangan kanan, namun boleh diambil dengan tangan kiri jika tangan kanan bermasalah. Gunakan hanya tangan kanan untuk makan. Ketika makan dengan tangan, cucilah tangan dalam mangkuk air khusus yang dipakai untuk mencuci tangan. Setelah makan, tunggu sampai semua orang selesai makan sebelum kamu mencuci tanganmu. Jika kamu memakai sendok dan garpu, taruhlah sendok dan garpu kembali dalam keadaan telungkup sebagai tanda kamu sudah merasa kenyang. Tinggalkan sedikit air di dalam gelas sebagai tanda bahwa kamu tidak mau menambahnya.
Adab Dalam Berpakaian
Orang Aceh sangat menekankan kesantunan dalam berpakaian. Wanita Aceh pada umumnya menggunakan pakaian muslimah dengan mengenakan jilbab.  Sementara laki-laki Aceh mengenakan pakaian yang pada umumnya dinilai sopan dengan tidak menampilkan aurat. Hindari mengenakan celana pendek di tempat-tempat umum baik bagi wanita maupun pria, kecualai di tempat atau area privat.Gaya berpakaian yang terbuka dan tidak menutup aurat sebisa mungkin dihindari. Pakaian renang, seperti budaya orang barat dianggap tidak pantas. Jika pergi ke perkampungan dan sekitarnya harus bersikap sopan. Pakailah celana pendek ketika berenang, wanita juga lebih baik memakai baju kaos. Bila memerlukan bantuan dapat meminta kepada masyarakat. Selama di Aceh, wisatawan akan diperlakukan sesuai dengan cara berpakaian. Khusus di pedesaan dianjurkan tidak memakai celana pendek dan kaos yang minim. Wanita lebih baik tidak memakai celana pendek dan baju tanpa lengan.
Sumber : Disbudpar Aceh

Artikel Terkait