Sultan Alaidin Johan Syah Pendiri Banda Aceh Darussalam


Jatuh Bangunnya Kota Banda Aceh
           Banda Aceh Darussalam sebagai Ibukota Kerajaan Aceh Darussalam, yang sekarang menjadi Ibukota Daerah IstimewaAceh, telah berusia hampir 1000 tahun, satu atau salah satu Kota Islam tertua di Asia Tenggara. Sebagai Ibukota dari sebuah Kerajaan Islam yang pertamadi Rantau Asia Tenggara, Banda Aceh Darussalam dalam perjalanan sejarahnya telah pernah mengalami zaman gemilang dan telah pernah pula menderita masa suram yang menggetirkan. Masa-masa Kerajaan Aceh Darussalam di bawah Pemerintahan Sulthan Alaiddin Ali Mughaiyat Syah, Sulthan Alaidin Abdul Kahhar (Al Kahhar), Sulthan Alaiddin Iskandar MudaMeukuta Alam dan Sulthanah Tajul Alam Safiatuddin, adalahmasa masa ZAMAN GEMILANG-nya Banda Aceh Darussalam.

       Banda Aceh Darussalam mengalami percobaan berat, pada masa Pemerintahan Ratu, yaitu ketika golongan oposisi yangterkenal dengan "Kaum Wujudiyah" menjadi kalap karena usahanya untuk merebut kekuasaan gagal, hatta kekalapannya itu mendorong mereka untuk bertindak liar, yaitu membakar Kuta Dalam Darud Dunia, Mesjid Jami' Baiturrahman dan bangunan bangunan lain dalam wilayah kota. Sekali lagi Banda Aceh Darussalam menderita penghancuran yang getir, pada waktu pecah "Perang Saudara" antara Sulthanyang berkuasa dan adik-adiknya; peristiwa tragis yang dilukiskan Teungku Dirukam dalam karya sastranya, Hikayat Pocut Muhammad.
            Masa yang amat getir dalam sejarah Banda Aceh Darussalam, ialah waktu terjadi Perang di Jalan Allah selama hampir 70 tahun, yang dilakukan oleh Sulthan dan Rakyat Aceh sebagai jawaban terhadap "ultimatum" Kerajaan Belanda yang bertanggal 26 Maret 1873. Yang lebih perih lagi, yaitu setelah Banda Aceh Darussalam menjadi puing, dan di atas puing Kota Islam yang tertua di Nusantara, Belanda mendirikan KOTA RAJA, sebagai langkah awal dari usaha penghapusan dan penghancuran kegemilangan Kerajaan Aceh Darussalam dan Ibukotanya Banda Aceh Darussalam. Banda Aceh Darussalam hancur seluruhnya, sebagai akibat suatu peperangan yang terhebat dan terlama dalam sejarah kolonialisme Belanda di Indonesia. Tidak ada satu bangunan pun yang tinggal, karena Mesjid Raya Baiturrahman, Kuta Dalam Darud Dunia, gedung-gedung pemerintahan, toko-toko di wilayah perdagangan dan rumah-rumah rakyat merupakan "benteng" yang dipertahankan dengan gagah berani, hatta menjadi puing yang berserakan di atas bumi yang memerah karena disirami darah para Syuhada.
              Yang masih sisa dari penghancuran total itu, ialah Kandang-Kandang (Makbarah) para Sulthan dan keluarganya dan Makam-Makam para Ulama Besar. Bangunan-bangunan yang bernilai seni tinggi itulah, yang menjadi SAKSI bisu sepanjang zaman, tetapi sanggup menceritakan MASA LAMPAU ACEH yang megah dan ZAMAN GEMILANG-nya Banda Aceh Darussalam. Jatuh bangunnya Banda Aceh Darussalam sepanjang sejarahnya, adalah sesuai dengan Sunnatullah, yang dapat kita baca dalam ayat-ayat 96-100 Surah Al A'raf, yang terjemahan maksudnya sebagai berikut:
Bismillahir Rahmanir Rahim.
Sekiranya warga desa dan kota,
Sedia beriman dan bertakwa,
Akan Kami kurniakan kepada mereka
Barakah dari bumi dan dari langit.
Tetapi sayang mereka mendustakan Kami,
Hatta mereka Kami binasakan,
Hasil usahanya sendiri.
 Apakah warga desa dan kota
Sudah merasa dirinya aman,
Dari kedatangan azab siksaan Kami,
Di waktu malam, ketika mereka sedang tidur ?
Apakah warga desa dan kota
Sudah merasa dirinya aman,
Dari kedatangan azab siksaan Kami,
Di pagi hari, ketika mereka sedang bermain ?
Apakah mereka sudah merasa aman
Dari sasaran makar Allah,
Tidak, tidak ada yang merasa demikian,
Kecuali orang-orang yang merugi
Apakah peristiwa peristiwa itu
Tidak diketahui oleh orang-orang
Yang mewarisi bumi dari mereka
Yang telah mendapat bencana,
Bahwa kalau Kami berkehendak,
Juga akan membinasakan mereka,
Karena dausa-dausa yang diperbuatnya,
Dan hati mereka Kami tutup,
Hatta mereka tidak dapat mendengar lagi ?
(Q.S. Al A'raf 96-100)

             Banda Aceh Darussalam tidaklah lahir mendadak; tidak didahului oleh peristiwa-peristiwa lain sebelumnya. Banda Aceh sebagai Pusat Kegiatan Politik, Ekonomi, militer, Ilmu Pengetahuan dan Sosial Budaya di belahan timur dunia, sebelum ia lahir keadaan lingkungan di ujung utara Pulau Sumatra ini telah menjadi matang untuk kelahirannya. Sebagai Ibukota sebuah Kerajaan Islam, Tamaddun Islam yang telah berkembang dalam Kerajaan Islam Perlak dan Kerajaan Islam Samudra/Pasai yang mendahuluinya, turut membentuk wajah Banda Aceh yang lahir kemudian. Menurut catatan-catatan yang dapat kita temui dalam beberapa sumber dalam dan luar negeri, bahwa Islam telah masuk ke ujung utara Sumatera (Aceh) pada abad pertama Hijriyah, yang dibawa oleh pedagang-pedagang Arab/Persia. (Antara lain baca Amir Syakib Arsalan : Hadlir Al Alam Al Islamy jilid I, Dr.N.A.Baloch: Advent Of Islam In Indonesia, Mohammad Said: Aceh Sepanjang Abad, Yunus Jamil : Tawarikh Raja-Raja Kerajaan Aceh, A.Hasjmy: Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia dan lain-lain).
                   Dalam abad ke IX Miladi atau awal abad ketiga Hijriyah, telah berdiri Kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara, yaitu Kerajaan Islam Perlak, dengan Ibukota Negara Bandar Khalifah, pada masa mana, daerah-daerah sekelilingnya masih menganut agama Hindu/Budha, seperti yang dapat kita baca dalam beberapa sumber dalam dan luar negeri. (Antaranya, Amir Syakib Arsalan: Hadlir Al Alam Al Islamy Jilid I, Dairat Al Ma'arif Al Islamyah - - Ensiklopedia Islam - Jilid I, Dr.N.A. Baloch: Advent Of Islam In Indonesia, Mohammad Said: Aceh Sepanjang Abad, M.Yunus Jamil: Tawarikh Raja-raja Kerajaan Aceh, A.Hasjmy: Sejarah Masuk Dan Berkembangnya Islam di Indonesia dan bunga Rampai Tentang Aceh).
                   Kerajaan Islam Samudra/Pasai betul-betul telah mencapai kemajuan yang amat tinggi, menurut ukuran zamannya; ia mempunyai pemerintahan yang stabil, mempunyai angkatan perang yang kuat, mempunyai lembaga-lembaga ilmu pengetahuan yang cukup, mempunyai armada dagang yang melayari berbagai penjuru samudra, mempunyai hubungan luar negeri/diplomasi dengan sejumlah negara. Hal ini diakui oleh para ahli sejarah dalam dan luar negeri. Kemajuan-kemajuan ini kemudian diwariskan kepada Kerajaan Aceh Darussalam, terutama kepada Ibukotanya, Banda Aceh Darussalam. (Antaranya baca: Amir Syakib Arsalan: Hadlir Al-Alam Al Islamy, Ibnu Batutah: Rihlah, Dairat Al Ma'arif Al Islamyah - Ensiklopedia Islam - Jilid I, Dr.N.A.Baloch: Advent Of Islam In Indonesia, M.Yunus Jamiln Tawarikh Raja-Raja Kerajaan Aceh, Mohammad Said: Aceh Sepanjang Abad, Prof. Dr.Ismail Suny, SH, M.C.L : Bunga Rampai Tentang Aceh, A.Hasjmy: Sejarah Masuk Dan Berkembangnya Islam Di Indonesia, Rosihan Anwar: Waspada tanggal 11 Maret 1988).

Sumber : http://meukeutop.blogspot.com/2011/06/sulthan-alaidin-johan-syah-pendiri.html

Artikel Terkait