Kenduri Apam Bersama Keturunan Sultan Atjeh

SETIAP Rajab dalam kalender Hijriah, Aceh dikenal dengan kenduri apam. Apam merupakan salah satu penganan khas di Aceh. Dalam bahasa Indonesia disebut surabi.

Sudah jadi tradisi, keturunan Sultan Aceh pun turut melaksanakan kenduri apam. Mereka kenduri untuk mengingat dan berdoa pada almarhum raja-raja Aceh.


Adalah Sultan Alauddin Muhammad Daud Syah. Beliau memerintah Kerajaan Aceh tahun 1874-1903. Ia merupakan ayah dari dari Tuanku Raja Ibrahim. Sultan Aluddin mangkat di Jakarta pada 6 Februari 1939. Makamnya berada di komplek TPU Rawamangun.


Sultan Alauddin Muhammad Daud Syah pernah ditangkap oleh belanda pada 1903. Setelah mangkatnya beliau, menjadi tanda tanya , siapa dan bagaimana garis kesulatanan Aceh itu? Namanya Putroe Sukmawati. Ia merupakan cucu dari Sultan Alauddin Muhammad Daud Syah. Sukmawati adalah anak dari Sultan Tuanku Raja Ibrahim. Ia biasa disapa “bunda”. Saat dijumpai kemarin di kediamannya, tampak rambut Bunda Putroe mulai memutih.


Tidak ada kesan bahwa ia merupakan cucu dari Sultan Aceh. Penampilannya biasa saja. Ia juga melakukan sesuatu layaknya masyarakat biasa.


Bunda Putroe bertutur, sebenarnya anak Tuanku Raja Ibrahim ada 16 orang. Namun, yang masih hidup 10 orang. Beberapa nama yang sempat disebut Bunda Putro antara lain Putroe Sariawan, cicit dari Tuanku Raja Ibrahim anak dari Putroe Darma Kasmi.


Ada juga Cut Farina anak dari Teungku Putroe Sariwan. Selanjutnya, Warul Waliddin anak Tuanku Raja Yusuf.  Hadir juga di acara kenduri apam itu Teungku Putroe Sariawan. Teungku Putroe memiliki anak bernama Cut Fariani.


Para keturunan Sultan Aceh hidup sangat sederhana. Minuman yang disuguhkan pun hanya kopi. Sungguh tidak tergambar bahwa mereka adalah keturunan raja. Melihat kejayaa Aceh masa kerajaan, mestinya ada kepedulian dari Pemerintah Aceh terhadap keturunan sultan tersebut.


Mereka memang tidak meminta pengakuan dari pemerintah bahwa mereka adalah generasi keturunan Sultan Aceh. Namun, mereka punya tambo kerajaan yang membuktikan bahwa mereka adalah keluarga raja.


“Setiap tahun kami menggelar kanduri apam di museum rumah Aceh, sekalian ziarah ke makam Tuanku Raja Ibrahim,” kata Farnia, 53, cucu Sultan Aluddin Muhammad Daud Syah.


Masa silam, museum Aceh itu adalah lokasi tempat tinggal Farnia dan keluarganya. Mestinya, mereka menetap di sana, bukan di pinggiran kota.


Cut Sulina, anak dari Teungku Putroe Safiatuddin Cahaya Nuralam, yang juga masih ada ikatan dengan Ratu Safiatuddin turut hadir dalam acara kanduri apam tersebut.


“Inilah yang disebut sejarah menghapus sejarah. Sejarah yang di mulut saja, cocok dengan kondisi sekarang,” kata Cut Suliana yang mempunyai ayunan berbahan emas.


Bunda Putroe Sukmawati tidak minta pengakuan kepada pemerintah Aceh, hanya berpesan bagaimana caranya keluarga keturunan raja Aceh ini selalu bersatu.
 | iklilnews.blogspot.com