Foto - Transportasi Perahu di Pedalaman Aceh Utara



LANGKAHAN - Trasportasi perahu, memasak dengan kayu serta bermanjakan cahaya remang lampu teplok dan obor di malam hari merupakan hal biasa bagi masyarakat pedalaman perbatasan antara Kabupaten Aceh Utara, Aceh Timur dan Bener Meriah.
Air sungai pun memiliki manfaat luar biasa, mulai dari mencuci, minum, memasak, mandi, bahkan menjadi WC bagi masyarakat.
Terdapat lima dusun yang hidup dalam kekurangan sarana dan prasarana di Desa Leubok Pusaka, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara. Masing Dusun Ketok, Sarah Raja, Alue Sepui, Karang Baru, dan Bina Baru.
Soal jarak tempuh, jika dilalui dari Kota Pantonlabu, Kecamatan Tanah Jambo Aye ke Sarah Raja mencapai 60 kilometer. Dengan jalanan berlubang dan becek karena landasan tanah liat. Jika musim hujan akan sulit dilintasi. Ditambah naik turun perbukitan terjal.
Belum lagi harus menggunakan transportasi perahu, boat mesin dan ketek untuk mengarungi terusan aliran sungai Arakundo. Waktu yang diperlukan untuk mencapai kawasan pedalaman itu sekitar 3,5 jam. Itu pun jika tidak ada rintangan hujan.
Pada dasarnya lokasi itu dapat dijangkau dalam waktu 25 menit dengan jarak tempuh 14 kilometer. Namun jalur itu sudah tidak dapat dilalui lagi sejak 8 tahun lalu. Tepatnya setelah lima jembatan penghubung putus akibat abrasi dan badan jalan yang tertutup tanah bukit yang longsor.
Di kawasan hutan itu masyarakat kesulitan untuk berkomunikasi. Jika ingin menggunakan handphone, maka harus naik ke atas bukit untuk mendapatkan sinyal.
Selain itu, masih ada cara unik lainnya untuk berkomunikasi. Biasanya masyarakat setempat memasukan handphone ke dalam kotak rokok. Lalu kotak rokok itu digantung ke tempat yang lebih tinggi, bahkan terkadang di atas pohon.
Tapi cara itu hanya efektif untuk mengirim dan menerima pesan. Sedangkan untuk berkomunikasi tetap harus naik bukit.
Hingga awal tahun 2013 ini, menurut masyarakat setempat, belum ada tanda atau kabar dari Pemerintah Kabupaten Aceh Utara terkait pembangunan ulang jembatan tersebut.  
Seluruh aktivitas masyarakat berhenti total setelah pukul 20.00 WIB. Pemukiman penduduk menjadi sepi dan gelap gulita karena masyarakat lebih memilih tidur. Yang terdengar hanya suara jangkrik dan burung hutan yang saling sahut-sahutan. Berikut foto-fotonya:




















































































ZULKIFLI ANWAR | Foto : ZULKIFLI ANWAR | ATJEHPOSTcom

Artikel Terkait