Menapak ke Puncak Seulawah Agam


Gunung Seulawah Agam kini berstatus waspada II. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat, aktivitas kegempaan Seulawah meningkat dalam beberapa hari terakhir. Seperti apa suasana di puncak Seulawah?

Gunung Seulawah adalah salah satu ikon Aceh. terletak di kawasan Aceh Besar, gunung yang pernah mengeluarkan suara gemuruh disertai asap pada Agustus 1975 ini memiliki ketinggian 1.726 meter di atas permukaan laut.

Salah satu jalur yang paling sering menjadi pilihan para pecinta alam untuk mendaki ke puncak Seulawah adalah melewati Desa Suka Makmur di Saree, Aceh Besar. Terletak di lekukan pinggang seulawah, desa ini dihuni para petani yang umumnya hidup dari berkebun. Di sini. hamparan kebun alpokat, ketela dan cabai menyambut para pendaki

Warga setempat sudah terbiasa dengan para pendaki gunung yang hilir mudik. Ketika saya dan tiga orang rekan datang ke sana pada pertengahan 2005 lalu, mereka menyambut dengan ramah. Di sebuah rumah, saya menitipkan mobil sedan Crown bekas taxi Singapura yang terseok-seok ketika saya paksa mendaki hingga ke desa itu.

Perjalanan itu dipandu seorang rekan yang jebolan organisasi pecinta alam di kampusnya. Bagi saya yang belum pernah mendaki gunung sebelumnya, perjalanan itu amat menguras tenaga.

Berangkat selepas subuh dari Banda Aceh, kami tiba di sana sekitar pukul 09.00 wib. Setelah istirahat sejenak, pukul 10.00 pendakian dimulai.











Foto: Mapal Jabal Gafur (http://mapala-je.blogspot.com)
Lima belas menit perjalanan, kami tiba di sebuah sungai kecil berbentuk alur yang pinggirannya telah dibeton. Airnya sejuk dan jernih. Para pendaki biasanya mengambil persediaan air di sini. Sebab, di atas tak ada lagi sumber air. Tempat yang biasa disebut pintu rimba terlihat bersih. Tak ada sampah-sampah plastik berserakan. Ada satu aturan wajib bagi para pendaki: dilarang membuang sampah sembarangan.

Dari sini, rute perjalanan perlahan-lahan mulai mendaki. Dengan menyandang ransel berisi perbekalan air dan makanan, kami berjalan menyusuri jalan setapak rute pendakian. Aroma khas hutan dan bau tanah yang lembab terasa menyegarkan. Sesekali terdengar suara burung berkoak-koak. Sesekali kami berlari kecil ketika menemukan jalan mendatar.

Tempat peristirahatan pertama dicapai setelah dua jam perjalanan. Para pendaki menyebutnya pintu angin. Posisinya berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Lokasinya berada di pinggir bukit. Di bawah, terhampar lembah yang menghijau. Saya yang sedari tadi ngos-ngosan sepanjang perjalanan, seperti menemukan surga.

Ada banyak cerita yang muncul di pintu angin ini.  Zulfikar, teman saya yang anak pecinta alam itu, baru memberi tahu ketika kami turun keesokan paginya. Dia bilang, para pendaki sering menemukan serombongan orang bersurban putih duduk berzikir. Anehnya, orang-orang itu hanya muncul sekejap, lalu menghilang. "Kalau saya beritahu saat mendaki, bisa-bisa kalian ketakutan duluan," kata Zulfikar.

Satu jam beristirahat, perjalanan dilanjutkan. Salah satu lokasi penting adalah beringin tujuh. Di sini memang ada tujuh batang beringin raksasa. Bagi para pendaki Seulawah, beringin tujuh juga menyimpan banyak cerita. Sering ada yang tersesat di tempat ini. Maklum, ada sejumlah persimpangan jalan di sini. Jika salah pilih jalan, bisa-bisa turun ke Desa Lamteuba, Aceh Besar.

Melewati beringin tujuh, jalur pendakian kian berat. Batu-batu besar mulai berserakan di jalan. Di beberapa titik, kami harus memanjat melintasi batu yang dipenuhi akar kayu. Tingkat kemiringannya mencapai 60 derajat. Suhu udara kian terasa menggigit. Beberapa kali saya terduduk di tanah lantaran kaki kian berat melangkah. Namun, rasa penasaran menaklukkan puncak Seulawah mengalahkan rasa lelah yang mendera.











Batu gajah. Foto: http://munhasry.multiply.com 

Malam mulai turun ketika kami tiba di sebuah batu raksasa yang bentuknya serupa gajah. Sebatang pohon yang menyembul dari batu itu memang menyerupai belalai.  Itu sebabnya, batu itu dinamai batu gajah. Lulut dan daun pakis tumbuh di atasnya. Posisinya berada pada ketinggian sekitar 1.750 meter di atas permukaan laut.

Tak jauh dari sana, saya melihat bekas orang mendirikan tenda. Saya sempat meminta kepada Zulfikar agar mengizinkan kami beristirahat sejenak. Namun, ia melarang. Alasannya, hari sudah terlalu malam. Biasanya, kata dia, perjalanan menuju puncak Seulawah ditempuh dalam waktu 7-8 jam. Tapi malam itu, kami sudah berjalan hampir 11 jam! Walhasil, perjalanan pun dilanjutkan. "Perjalanan kita masih jauh," kata Zulfikar. Saya hanya bisa mendengus.

Sekitar 15 menit dari batu gajah, ada sebuah tanjakan. Untuk melewati tanjakan ini, orang-orang harus merayap sambil berpegangan di akar kayu.












Foto: http://lelakirindu.multiply.com

Hap, saya berhasil melewati tanjakan itu. Pemandangan yang tersaji sungguh mengejutnya. Tak ada lagi di sana. Yang ada pohon-pohon yang dipenuhi lumut dan sebuah tugu. Tanah yang saya pijak terasa labil. Jika sambil menjijit, kelabilan tanahnya kian terasa. Rupanya, inilah puncak gunung Seulawah Agam. Zulfikar tertawa terbahak-bahak ketika melihat saya terheran-heran. Soalnya, saya membayangkan perjalanan masih jauh.









Foto: http://pujanggapengembara.blogspot.com

Di tugu yang tingginya tak sampai dua meter tertulis,"P.137 Gunung Seulawah Agam. Direnovasi oleh Pecinta Alam se-Aceh pada tanggal 17-08-1995. 50 Tahun Indonesia Merdeka."

Jam telah menunjukkan pukul 9 malam ketika kami tiba di puncak. Suhu yang teramat dingin membuat tubuh menggigil. Di kejauhan kerlip lampu rumah-rumah warga kota Banda Aceh terlihat seperti cahaya kunang-kunang.

Malam itu, untuk pertama kali dalam hidup, saya berselimut kabut di puncak Seulawah.[atjehpost.com]

Artikel Terkait