Bakpia AG, penganan asal Tionghoa khas Sabang


Di kalangan wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, kue bakpia merupakan salah satu penganan yang paling dicari ketika berkunjung ke pulau paling barat Provinsi Aceh, Kota Sabang. Tidak banyak yang tahu kalau asal makanan tersebut sebenarnya berasal dari dataran Tionghoa.
Bakpia adalah makanan yang terbuat dari campuran kacang hijau dengan gula, yang dibungkus dengan tepung, lalu dipanggang.
Istilah bakpia sendiri adalah berasal dari dialek Hokkian, yaitu dari kata "bak" yang berarti daging dan "pia" yang berarti kue, yang secara harfiah berarti roti berisikan daging. Di beberapa daerah di Indonesia, makanan yang terasa legit ini dikenal dengan nama pia atau kue pia.
Bakpia termasuk salah satu masakan yang populer dari keluarga Cina atau Tionghoa.
Di Sabang, kue bakpia yang paling terkenal adalah bakpia merek AG. Seperti yang dikutip oleh kompas.com, bakpia AG muncul dari sentuhan tangan dingin Marfin Gunawan (53) atau kerap dipanggil A Guan (AG).
Pemiliknya adalah mantan mantan sopir angkutan barang itu mampu mendongkrak pamor kue kacang.
Asal muasalnya muncul bakpia AG, terjadi pada tahun 1994. Saat itu, seorang pengusaha kacang hijau tingkat rumah tangga memberinya resep rahasia membuat kue kacang hijau kepada Marfin.
Pengusaha itu sendiri memilih alih profesi karena merasa usaha lamanya itu tidak prospektif.
Saat ini, kue bakpia Sabang sudah memiliki nama yang cukup tenar di tingkat nasional. Kue bakpia Sabang juga dinilai jauh lebih enak dibanding bakpia Yogya.
Hal ini diungkapkan oleh Sekretaris Dewan (Sekwan) DPRD Drajat Suwardono dan sejumlah wartawan Yogya yang datang ke Aceh beberapa waktu lalu.
“Jauh lebih enak. Kita juga akan membawa pulang kue ini sebagai oleh-oleh ke Yogya,” ujar Sekretaris Dewan (Sekwan) DPRD Drajat Suwardono, yang memimpin rombongan wartawan dan staf sekretariat DPRD Yogyakarta, saat berkunjung ke kantor Gubernur Aceh, Selasa 29 Januari lalu. | atjehpost.com