Tonggak Awal Berdirinya Kerajaan Aceh Darussalam


KERAJAAN Aceh lahir dari penggabungan dua buah kota pemukiman besar di Aceh Besar. Hal ini ditulis dalam Hikayat Aceh, halaman 72. Kedua kota pemukiman ini yaitu Meukuta Alam dan Darul Kamal. Kedua kota ini, berdasarkan hikayat tersebut dipisahkan oleh satu aliran sungai.
Mada ada ngantarai daripada dua raja itu suatu sungai. Setengah kepada raja Makota Alam, setengah kepada raja Dar ul-Kamal,” jelas hikayat tersebut.
Kedua penguasa pemukiman tersebut mengawinkan anak mereka sebagai tonggak dasar penggabungan wilayah. Perkawinan itu berujung pada perluasan kedua wilayah yang kemudian dipimpin oleh seorang raja dari Meukuta Alam. Dua wilayah yang bergabung ini kemudian dinamakan dengan Aceh Darussalam. Sayangnya tidak ada catatan sama sekali mengenai tanggal pasti penggabungan dua wilayah ini.
Meskipun begitu, kedua penduduk pemukiman ini masih belum dipastikan asal daerah mereka sebenarnya. Karena, berdasarkan kesaksian Snouch Hougronje, ia pernah mendengar seorang ulama kharismatik Aceh, Teungku Kutakarang yang menyebutkan Aceh lahir dari percampuran orang Arab, Parsi dan Turki. Namun, di Pasai selaku daerah bagian Aceh didapati pada mulanya dihuni oleh orang Bengali yang jumlahnya mayoritas.
Sementara Denys Lombard berdasarkan penelitiannya mengatakan, ada pula yang menyebut asal mula Aceh itu berasal dari Campa. Runutnya berdasarkan sejarah melayu, dituliskan adanya seorang Raja dari Campa, Syah Pu Liang (Ling) diusir dari ibukotanya oleh bangsa Vietnam. Ia mencari perlindungan ke Aceh dan kemudian membentuk wangsa baru.
Walaupun mula terbentuknya Aceh sendiri belum ada kepastian, namun banyak sejarawan yang sepakat mengambil patokan awal berdirinya kerajaan ujung Sumatera ini dimulai dari berkuasanya Ali Mughayat Syah. Pires menyebutkan Aceh (Achey) adalah negeri pertama di pantai pulau Sumatera yang dibatasi selat dan Lambry (Lamreh_menurut Teuku Iskandar dalam Hikayat Aceh) terletak tepat di sebelahnya yang meluas ke pedalaman.
Lambat laun, tanah atau daerah sekitarnya tersebut berada di bawah kekuasaan satu raja yang memeluk agama Islam. Raja tersebut merupakan raja yang paling gagah perkasa (homen cavaleiro) dibandingkan raja-raja disekitarnya.
Raja Aceh ini pernah melancarkan perang dengan kerajaan Pedir yang menyebabkan banyaknya korban tewas di pihak lawan.
Bahkan, untuk menguasai daerah perairan Raja Aceh mempunyai 30 sampai 40 perahu lancar. Raja yang biasa disebut Sultan itu berhasil menguasai pulau-pulau Gamispola (Pulau Weh dan sekitarnya).
Homen cavaleiro dari Aceh tersebut kemudian hari dikenal dengan Sultan Ali Mughayat Syah yang telah berhasil menaklukkan Deli, Daya, Pedir dan Pasai (1524). Sementara pada bulan Mei 1521, Ali Mughayat Syah juga mampu mengalahkan armada portugis yang dipimpin oleh Jorge de Brito di laut lepas.
Bisa dikatakan, Ali Mughayat Syah selaku Sultan Aceh telah berhasil memperluas daerah kekuasaan dan mempertahankan kewibawaan Aceh di dunia Internasional. Setidaknya, 120 tahun kemudian bangsa Portugis dari Barat yang dikenal berasal dari negeri modern tidak mampu menaklukkan Aceh sama sekali.
Kuatnya pertahanan Aceh dalam menghadapi agresi Portugis itu, selain dilatarbelakangi oleh keberanian Sultan dan para ksatrianya ditambah armada laut yang kuat dan patriot, Aceh juga mempunyai peta geografis alur pantai yang begitu sulit untuk berlabuh kapal-kapal besar.
Di sepanjang garis pantai Aceh terdapat banyak karang yang bisa membuat kapal-kapal karam. Jalan satu-satunya menaklukkan Aceh pada saat itu hanya melalui laut dengan menembakkan meriam-meriam ke daerah pesisir.
Sumber : BOY NASHRUDDIN AGUS | ATJEHPOSTcom

Artikel Terkait