Nikmatnya Menyantap Lemang Gayo di Lokasi Wisata Aih Kala Pinang



LEMANG adalah salah satu makanan khas Gayo Lues yang terbuat dari beras ketan. Setelah diberi santan adonan tersebut baru dimasukkan ke dalam bambu yang sudah diberi daun pisang. Lalu dibakar hingga matang.
Terkadang makanan khas Gayo ini sangat sulit dijumpai, konon makanan khas ini hanya dibuat pada waktu-waktu tertentu saja. Misalnya pada perayaan menyambut hari besar islam yaitu pada hari raya Idul fitri, Maulid Nabi dan Isra Miraj. Ketika hari-hari besar ini tiba lemang kembali menjadi makanan primadona bagi orang Gayo terutama bagi kalangan orang tua.
Namun inisiatif M Alamsyah dan istrinya Nuraini yang membuka pondok lemang di lokasi wisata Aih Kala Pinang, membuat makanan tersebut mudah dijumpai. Dari ibu kota Blangkejeren, menuju Aih Kala Pinang hanya sekitar tiga kilometer saja. Rutenya menuju ke Kecamatan Rikit Gaib atau ke Aceh Tengah.
Pondok tersebut letaknya sangat strategis, selain karena letaknya tidak jauh, panorama alam di sana dan sungai besarnya menjadi daya tarik bagi masyarakat. Sungai ini juga bisa digunakan untuk mandi. Jika sudah lelah bermain air, bersantai di pondok-pondok sambil menikmati lemang dan kopi Gayo racikan Alamsyah sungguh nikmat sekali.
Pasangan suami istri tersebut mulai telah menggeluti usaha ini sejak enam tahun silam. Dalam menjalankan usahanya mereka saling berbagi tugas. Aktivitas mereka dimulai sejak pagi hari. Dimulai dengan berangkatnya Alamsyah ke pasar untuk berbelanja.
Sedangkan Nuraini langsung bergegas ke pondok dan menyiapkan alat-alat untuk memanggang lemang. Malam hari mereka telah menyiapkan bahan baku lemang, dan sudah dimasukkan ke dalam bambu. Pagi hari, begitu sampai di pondok Nuraini langsung memanggangnya.
Pukul sepuluh pagi, lemang-lemang tersebut sudah matang. Namun Nuraini sengaja tidak memadamkan bara api, dengan begitu lemang selalu hangat ketika disantap. Lemang-lemang yang dijual pun sudah diperkirakan. Hari Senin misalnya, lemang yang dijual hanya dua tau tiga bambu beras ketan. Sedangkan pada hari Selasa mereka bisa meracik sekitar lima bambu beras dan menghasilkan 30 batang bambu lemang.
Namun jika hari Minggu lemang yang mereka jual bisa mencapai 60 batang bambu. Tak hanya lemang, di hari Minggu atau hari libur lainnya, mereka juga menyediakan ikan bakar, ayam bakar, jagung dan telur rebus, untuk cemilan ada juga kacang goreng.
Per bambu lemang yang dijual hanya Rp15 ribu. Ayam bakar Rp60 ribu per ekor dan ikan bervariasi antara Rp35 ribu sampai Rp40 ribu. Kadang ia juga menerima pesanan lemang dengan variasi lain, seperti dengan tambahan daging bebek dan ikan.
Untuk membuat lemang, bambu-bambu tersebut dipesan dari Kampung Gumpang di Kecamatan Putri Betung. Biasanya ia memesan seminggu sekali.
Pondok lemang milik dua pasangan suami istri yang sudah sepuh ini merupakan yang pertama di Gayo Lues. Dengan modal awal yang hanya Rp250 ribu, ia memulai usahanya dengan peralatan yang dipinjam dari keluarga.
Kini usaha yang dilakoninya tersebut sudah dikenal luas oleh masyarakat Gayo Lues. Bahkan dengan hasil dari usaha tersebut ia kini bisa membiayai dua anaknya yang kuliah di perguruan tinggi, dan seorang lagi masih SMA.[Atjehpost.com]

Artikel Terkait