Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Mengenal pantangan turun ke sawah di Aceh Barat Daya

pantangan turun ke sawah @ilustrasi
KHANDURI Ulee Lhueng atau kenduri turun ke sawah sudah menjadi tradisi turun temurun dari nenek moyang bagi masyarakat Aceh Barat Daya. Kenduri ini digelar setiap kali akan memasuki musim tanam.

Di Aceh Barat Daya kenduri tersebut kembali berlangsung kemarin siang, Kamis, 21 Maret 2013. Acara ini dibuat di Gampong Persiapan Alue Seulaseh Kecamatan Jeumpa.

Dalam acara yang dihadiri oleh sejumlah pejabat penting di Aceh Barat Daya itu juga dijelaskan mengenai tata cara turun ke sawah. Misalnya larangan atau pantangan saat padi sedang mekar dan bunting. Pantangan tersebut harus dijaga dalam bercocok tanam yang dipercaya bisa membawa keberkatan dan hasil panen yang memuaskan.

Ketua pantia acara Khairuddin, dalam laporannya mengatakan ada 12 pantangan yang tidak boleh dilakukan saat sedang bunting padi yaitu:
  • Dilarang membawa lukah atau bubee/bubu
  • Dilarang melakukan perbuatan asusila
  • Dilarang mabuk atau berjudi di sawah
  • Dilarang berkelahi apalagi sampai keluar darah
  • Dilarah membuang sampah di saluran air di sawah
  • Dilarang membakar jerami sebelum padi menguning
  • Dilarang transaksi jual beli padi atau membawa timbangan ke areal persawahan
  • Dilarang menanam nilai di areah persawahan
  • Dilarang membuat bob atau tulop sembarangan oleh aneuk blang masing-masing
  • Membuat bob atau tolop yang telah dibentuk harus terlebih dahulu dikonsultasikan dengan Kejruen blang setempat
  • Dilarang mencari rotan saat padi sedang bunting
  • Apabila semua ketentuan ini dilanggar maka sebelum ada qanun yang mengaturnya akan dikenakan sanksi adat sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

(sumber: Atjehpost)

Tari Saman Raih Penghargaan di Inggris

Pertunjukan Tari Saman dari Aceh, foto: Antara

Tim Penari Saman dari Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Leeds, Inggris, memboyong  'Best Performance Award' dalam acara 'Cultural Showcase' di Inggris.
Acara yang digelar University of Leeds sebagai bagian dari World Unite Festival 2013. "Festival kebudayaan yang diadakan Leeds University Union ini menunjukkan kekayaan kebudayaan dari berbagai pelosok dunia," jelas Ketua PPI Leeds, Ivaldi Fabtra, Selasa (19/3).
Ivaldi menjelaskan puncak acara itu adalah 'Cultural Showcase', saat setiap komunitas menampilkan pertunjukan kebudayaan masing-masing. 
Leeds Indonesian Society yang dipayungi PPI Leeds juga mengelar beberapa event seperti pemutaran film Rumah Dara di International Film Festival dan Indonesian Fair. 
Ivaldi Fabtra mengatakan mahasiswa dan mahasiswi Indonesia juga mendirikan stall makanan dan cindera mata dari Indonesia, serta mengadakan pertunjukan musik Indonesia dan pemutaran film 'Merantau' dan 'The Raid'.
Puncak acara adalah Cultural Showcase, dan ketika tim Indonesia mendapat giliran. Pertujukan diawali dengan dengan video pengantar. Selanjutnya tim saman PPI Leeds  memulai aksi yang berhasil memukau penonton. Gemuruh tepuk tangan dan riuh teriakan yang penuh kekaguman selalu memenuhi ruangan setiap kesempatan. 
(antara)

6 mitos pernikahan dalam tradisi Aceh

ilustrasi
MITOS adalah suatu cerita yang diyakini kepercayaannya dalam kehidupan masyarakat secara turun temurun. Di Aceh, yang identik dengan Syariat Islam, juga berkembang mitos atau kepercayaan tentang beberapa hal. Salah satunya yang paling dipercaya hingga saat ini adalah tradisi tentang pernikahan.

Seperti yang di rangkum Atjehpost, berikut beberapa kepercayaan masyarakat tentang pernikahan yang dilestarikan hingga kini:

Pernikahan tidak boleh dilakukan siang hari
Beberapa kelompok masyarakat di berbagai daerah di Aceh percaya bahwa pernikahan di siang hari akan berakibat buruk terhadap keharmonisan rumah tangga nantinya. Siang hari diidentikan dengan panas.

Pengantin pria dilarang keluyuran menjelang pernikahan
Para pengantin pria di beberapa kabupaten kota di Aceh dilarang keluyuran di malam hari menjelang pernikahan. Ini karena prilaku tersebut dianggap tidak baik bagi keharmonisan rumah tangga serta ditimpa kemalangan.

Remaja Aceh dilarang makan nasi di piring retak
Remaja di Aceh, baik pria dan wanita, dilarang makan dan minum dari gelas atau piring yang retak. Jika kebiasaan ini dilanggar, maka sang pemuda atau pemudi tersebut, dikhawatirkan akan mendapatkan jodoh yang cacat, atau minimal cacat moral.

Wanita muda dilarang duduk di pintu masuk
Para wanita muda di Aceh dilarang duduk atau tidur di pintu masuk rumah. Bagi yang melanggar, menurut kepercayaan masyarakat, akan susah mendapatkan jodoh serta dilangkahi oleh saudaranya dalam urusan jodoh.

Remaja Aceh dilarang mengambil nasi di atas kompor
Bagi para remaja yang melanggar tradisi ini, menurut kepercayaan masyarakat, akan mendapatkan jodoh yang lebih tua atau jelek.

Pengantin yang wajahnya berkerut di hari pesta harus diperlihatkan pantat belanga
Tradisi ini masih berkembang di beberapa daerah Aceh. Dimana, ketika ada pasangan yang berwajah cemberut atau hitam di hari pesta pernikahan, maka keluarga diharuskan memperlihatkan pantat periuk atau belanga. Percaya atau tidak, tradisi ini masih berjalan di beberapa daerah Aceh.

(atjehpost)

Mulia Mardi, peuratoh muda seni tutur Aceh


SENI Ratoh merupakan seni bertutur bebas dari Aceh yang berisi nasehat-nasehat, riwayat hidup, sejarah, pesan-pesan agama, moral, dan nilai-nilai yang tumbuh dalam masyarakat saat ini.
Seni tutur khas Aceh ini biasanya dipentaskan di acara formal maupun non formal seperti pementasan teater, pertunjukan seni dan acara perkawinan. Kesuksesan seni Ratoh ini tergantung dari peuratoh atau penuturnya. Seorang peuratoh haruslah kocak dan lucu sehingga aksi tuturnya bisa menghibur penonton.
Aceh memiliki seorang peuratoh muda yang potensial. Umurnya kini baru 23 tahun dan masih tercatat sebagai mahasiswa di IAIN Ar Raniry di Fakultas Dakwah Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam.
Namanya Mulia Mardi, ia lahir di Aceh Besar 9 Maret 1990 silam. Kehadian Mulia di tatanan seni Ratoh Aceh memang istimewa, pasalnya para peratoh umumnya orang-orang tua. Meski masih muda, Mulia sangat percaya diri untuk tampil di setiap pertunjukan.
Menurutnya walaupun seni tutur identik dengan orang tua dan sejumlah anak muda menganggapnya tidak keren, bagi Mulia justru sebuah kekayaan budaya yang harus dilestarikan.
“Kalau bukan anak muda Aceh yang mau melestarikan siapa lagi?” ujarnya seperti yang di beritakan  ATJEHPOSTcom Senin kemarin, 11 Maret 2013.
Anak muda ini mengaku mulai tertarik pada kesenian ini sekitar delapan bulan silam, pada tahun 2012. Awalnya kata Mulia, ada garapan teater Monolog Prodo Imitatio yang disutradarai oleh Tejo. Dalam garapan monolog itulah ada konsep seni tutur yang bernuansa Aceh dan kemudian ditampilkan perdana oleh Mulia pada pementasan teater Rongsokan. Ternyata aksinya memukau penonton. Setelah itu katanya sejumlah tawaran pentai mulai diterimanya.
“Saya senang aja ternyata Ratoh yang saya tampilkan bisa menghibur banyak penonton, sejak itu saya jadi semangat untuk menekuni seni tutur Ratoh ini,” ujarnya.
Berawal di Monolog Prodo kemudian berkembang menjadi hobi baru bagi Mulia. Setelah itu ia sering diundang ke berbagai acara di café-café. Pernah beberapa kali menjadi bintang tamu di tv lokal. Kesenian Ratoh yang ia bawa mulai direspon masyarakat Banda Aceh.
Peminatnya bukan hanya orang tua, melainkan juga para remaja. Ratoh yang dibawa Mulia tak kalah seru dengan stand up comedy yang sekarang sedang digandrungi masyarakat. Ia sengaja memadukan konsep adat dengan sentuhan modern agar kalangan remaja pun bisa menikmati seni budaya Aceh tersebut.
“Saya memadukan antara konsep adat dengan konsep modern dan isi ratohnya  kocak supaya penontonya terhibur dan setiap pertunjukan saya selalu membawa peralatan yang saya letakkan di dalam bungkusan sarung,” ujarnya sambil tertawa.
Ia memang serius memperkenalkan Ratoh agar kelestariannya selalu terjaga. Dulu katanya, Ratoh dipopulekan oleh Adnan PMTOH namun setelah Adnan menurutnya tidak ada lagi penerusnya.
“saya juga terinspirasi dengan beliau karena di setiap pertunjukannya selalu membawa benda-benda aneh dan dia juga berimajinasi tinggi,” ujarnya.
Menjadi seniman tutur tentu saja ada suka duku yang sudah dilaluinya. Sejauh ini menurutnya penonton atau masyarakat menilai positif dan terhibur. Bahkan anak-anak muda juga banyak yang menonton. “Tapi sering dibilang sama teman-teman muka boyband tapi boybandnya kok ratih, tapi semua itu menjadi pembelajaran yang sangat berharga bagi saya,” ujarnya.
Meski baru delapan bulan menjalani seni tutur, eksistensi Mulia sudah di tingkat nasional. Baru-baru ini bersma teater Rongsokan Mulia memperkenalkan budaya Aceh dengan ratohnya di Festival Teater Mahasiswa Nasional pada 8 Februari 2013 lalu. Di luar dugaannya penampilannya ternyata disukai. Selain Ratoh, Mulia juga menunjukkan aksi debusnya dan penampilan mereka masuk di media lokal Surabaya.
“Alhamdullillah penampilan saya dan teman teater rongsokan mendapat apresiasi dari masyarakat luar,” ujarnya.
Setelah aksi puncaknya di Surabaya, teater Rongsokan diundang ke berbagai Universitas di pulau Jawa. Pada 16 Februari misalnya mereka tampil di Universitas Sunan Kali Jaga di Jogjakarta, pada 21 Februari di Unisma Bekasi untuk pementasan empat kota yaitu Aceh, Padang, Jakarta dan Jogja.
Selain itu pada 22 Februari 2013 tampil di Universitas Pancasila Jakarta selatan, 24 Februari di tampil di UNRI, 26 Februari tampil di Warung Apresiasi Jakarta Selatan, 2 Maret di Panggung Apresiasi Bandung dan 4 Maret di STMIK Bina Saleh Bekasi. Di event terakhir ini Mulia menjadi juri. Penampilan terakhir mereka di Gedung Wali Kota Bogor dalam acara silaturahmi karya.
Penasaran dengan ratoh ala Mulia Mardi? Berikut sedikit liriknya:
Marilah bangkit generasi
Beuseurasi tabangun Negeri
Adat tradisi taangkat kembali
Negeri kita berseri-seri

(atjehpost)

Tradisi Jelang Nikahan di Aceh


TRADISI pernikahan yang unik di setiap daerah mendeskripsikan bahwa tidak mudah untuk meminang seorang wanita. Banyak tahapan yang dilalui pada hasri sakral tersebut, salah satunya pada upacara seulanke atau theulangke yang hingga kini masih dilestarikan di Nangroe Aceh.
Bukan mempelai pria yang ambil tindak, melainkan utusan dari mempelai pria. Utusan adalah pria dewasa yang bijak dalam berbicara dalam bahasa Aceh. Pembicaraan ini dimaksudkan untuk bertanya tentang status si gadis, jika ia belum ada yang memiliki, maka utusan akan menyampaikan maksud lamaran kepada orang tua si wanita.
Jika wanita sudah bersedia dilamar, barulah pihak lelaki akan datang bersama dengan orang yang dituakan ke rumah gadis dengan membawa berbagai macam syarat seperti pineung reuk, gambe, gapu, cengkih, pisang raha, dan pakaian adat Aceh.
Setelah itu, lamaran tidak serta merta langsung diterima. Pihak wanita akan mendiskusikannya terlebih dahulu, diterima atau tidaknya tergantung dari musyawarah keluarga pihak wanita.
Jika lamaran diterima, maka kedua mempelai akan menginjak ke tanap pertunangan (Jakba Tanda). Dalam proses ini pihak pria akan datang kembali untuk melakukan Peukeong, yaitu membicarakan berapa besar uang yang diminta pihak wanita (jeunamee/jeulamee) dan berapa banyak tamu yang akan di undang.
Budaya gotong royong sangat kuat pada diri masyarakat Aceh. Menjelang pernikahan, masyarakat akan bergotong-royong membantu mempersiapkan alat-alat apa saja yang akan digunakan di acara perkawinan. Dari pihak mempelai wanita sendiri, ada beberapa ritual yang dijalankan sebelum memasuki prosesi pernikahan, diantaranya:
Tradisi Potong Gigi (kohgigu). Ditujukan agar gigi sang calon pengantin terlihat kuat. Untuk itu akan digunakan tempurung batok kelapa yang dibakar sampai mengeluarkan cariran hitam, lalu cairan hitam yang keluar dari batok tersebut ditempelkan pada bagian gigi.
Upacara kruet andam. Dalam adat pernikahan Aceh, kruet andam adalah ritual perawatan tubuh yang biasa ditujukan untuk kebersihan kulit. Biasanya ritual dilakukan dengan cara mengerit anak rambut atau bulu-bulu halus yang tumbuh agar tampak lebih bersih. Setelah kruet andam dilakukan, dilanjutkan dengan pemakaian daun pacar (bohgaca). Daun pacar digunakan untuk menghiasi kedua tangan calon mempelai.
Seumanoe Pucok. Salah satu prosesi adat perkawinan yang harus dilaksanakan calon pasangan pengatin sebelum akad nikah. Seumanoe pucok selain bertanda akan melepas masa lajang, siraman yang dilakukan pemuka adat, kedua orang tua atau wali dan family dekat juga bertujuan untuk membersihkan diri. (*/tourismnews.co.id)

Besinte Lestarikan Budaya Melalui Pernikahan

Banda Aceh - Indonesia adalah negeri yang kaya akan suku bangsa dan adat istiadat. Masing-masing suku memiliki tradisi yang berbeda, ritual pernikahan di Aceh misalnya. 

Saat masuk ke dalam keluarga mempelai wanita Aceh Gayo sudah berkumpul. Para nenek duduk berbaris di sebelah kiri mempelai, mulai dari yang hubungan kerabat paling dekat hingga para tetua adat yang siap memulai ritual. 

Setelah diterima permohonan dari Suku Besinte yang merupakan perwakilan dari mempelai wanita kepada Raja Sarak Opat atau perwakilan kepala desa, ritual dilanjutkan dengan pemotongan jeruk purut. Potongan jeruk purut ini nantinya harus dipakai mandi oleh sang calon memperlai wanita. Ini dilakukan pada pagi hari sebelum menikah yang bertujuan untuk menyucikan diri sebelum memulai hidup baru. 

Kemudian ke ritual terpenting, yaitu sesi tepung tawar. Pada ritual ini sang memperlai wanita mengenakan kain hitam yang di tengahnya ada lingkaran putih seperti bulan. Kain ini menandakan biduk rumah tangga selamanya cerah, namun berwarna saat riak kecil terjadi, manusia haruslah mengingat kembali Sang Pencipta.

Pada tepung tawar, sang mempelai diteteskan air yang dicampur dengan beras dan dedaunan. Ada dedingin yang bermakna semoga pernikahannya kelak tenteram dan sejuk. Daun bebesi yang bermakna konsisten atas pilihan yang dibuat daun ongkal menandakan menikah hanya sekali seumur hidup.

Daun ulung kayu kul yang diharapkan nanti sebagai suami istri dapat saling membantu dan bahu-membahu, serta anak di awal agar kehidupan pernikahannya tetap langgeng dan mesra. Nah beras sendiri bermakna kemakmuran diletakkan di tangan agar sang istri nantinya bertanggung jawab atas penghasilan suaminya.


(liputan6)

SMA 1 Lampeneurut gelar Festival Seni Tari Pelajar


SANGGAR Cahaya Fajar SMA Negeri 1 Lampeneurut, Kabupaten Aceh Besar, akan melaksanakan Festival Seni Tari Pelajar se-Aceh Besar dan Kota Banda Aceh. Kegiatan ini direncanakan berlangsung di halaman SMA Negeri 1 Darul Imarah Aceh Besar, dari 2 hingga 3 Maret 2013 mendatang.

Ketua Panitia Festival Seni Tari Pelajar Se-Aceh Besar dan Banda Aceh, Fahrul  Mengatakan, kegiatan tersebut diselenggarakan  dalam rangka ulang tahun Sanggar Cahaya Fajar yang ke 5.

Adapun tujuan Kegiatan ini, kata dia, untuk menyalurkan bakat dan minat terhadap  tari tradisional Aceh. Kegiatan yang akan menjadi Event Tahunan ini, rencananya akan dibuka oleh  Bupati Aceh Besar, Muklis Basyah.

"Saat ini sudah ada 15 sanggar atau sekolah yang mendaftar,” kata dia.
Menurut dia, ada 7 Jenis tarian tradisional Aceh yang akan diperlombakan, seperti tari seudati, tari likok pulo, saman gayo, rapa’i geleng, ratep meuseukat, ratoeh jaroe, tari beusaree saree dan tarek pukat .

“Kita berharap kedepan akan lebih banyak lagi sekolah yang mau berpartisipasi  pada festival  yang melestarikan nilai dan budaya Aceh ini,” ujar Fahrul. | atjehpost.com

Ini Kata Makian Dalam Bahasa Aceh


“Pap ma kah, trép that hana meureumpök tanyoe.” Kalimat ini diucapkan seseorang kepada sahabatnya saat bersua di terminal Batoh. Ada satu hal menarik dibicarakan jika kita membaca kalimat itu, yaitu penggunaan kata pap ma kah. Kata ini merupakan salah satu kata makian.

Kata makian salah satu bentuk sumpah serapah berisi kata-kata keji (kotor, kasar), diucapkan karena marah, jengkel, atau senang. Contoh kata makian: kajak u bui jak, waba kareuh, waba puta, ék leumo, lagèe ulèe kamèng teutet, aneuk glanteu tak, jak lét ma keudéh, aneuk bajeung, aneuk asèe paléh, aneuk eungkong, hajam, jak geulét ku.

Makian itu digunakan oleh anak-anak sampai dengan orang tua untuk meluapkan rasa benci, jengkel, senang, dan kagum. Sebagian orang tua yang marah kepada anaknya, karena perilaku si anak yang tidak baik, akan menggunakan kata makian, seperti Bit-bit kah aneuk asèe paléh. Bukan hanya itu, terkadang sebagian orang tua secara tak sadar juga memaki anaknya menggunakan kata aneuk eungkong.

Begitu pula untuk mengungkapkan rasa senang atau kagum, kata-kata makian “laris manis” bagi sebagian orang. Kata makian yang umumnya digunakan oleh sebagian orang untuk mengungkapkan kekaguman adalah ‘ok mi atau ‘ok mè, misalnya ‘Ok mijih, caröng that si Gam Bakông nyan.

Sebagian kata makian itu tidak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, misalnya kata aneuk glanteu tak, jak lét ma keudéh. Kata ini tidak dapat diterjemahkan menjadi anak disambar petir, pergi kejar ibu kamu sana. Memang terjemahan ini dapat dimengerti, tetapi bukan lagi makian karena berbedanya nuansa makna antara bahasa Aceh dan Indonesia.

Memang saat mengucapkan kata makian itu ada kepuasaan batin tersendiri. Namun, kita sangat dianjurkan tidak menggunakan kata-kata itu dalam kehidupan sehari-hari. Ini karena ketabuannya dalam masyarakat dan menjadi tolok ukur akhlak seseorang.

Acapkali kata makian menjadi bumerang bagi yang mengucapkannya. Orang tua yang memaki anaknya menggunakan kata aneuk eungkong, sebenarnya telah menyebutkan diri mereka sendiri sebagai eungkong karena anaknya mereka sebut eungkong. Begitu pula ketika orang tua memaki anaknya menggunakan kata asèe paléh. Sudah pasti orang tuanya juga asèe paléh karena si anak yang mereka sebut asèe paléh adalah anaknya.

Jadi, mari berusaha bertutur kata sopan tanpa menggunakan kata-kata makian.

Sumber : http://atjehpost.com/read/2013/01/13/35156/437/3/Kata-Makian-Dalam-Bahasa-Aceh#sthash.awgV2UKy.dpbs

Upacara Adat Untuk Menyelesaikan Masalah Di Aceh


Untuk membuat keputusan dan menyelesaikan masalah, tidak melulu dengan cara kekerasan. Masyararat Aceh percaya, sebuah upacara adat akan memberikan kontribusi besar untuk merengangkan situasi yang tegang.

Peusijuek Meulannga adalah salah satu upacara tradisional Aceh yang berfungsi untuk membuat keputusan dan menyelesaikan masalah. Cerminan budaya ini disebut juga tepung tawari. Pada masyarakat Aceh upacara ini dianggap upacara tradisional simbolik dari permohonan keselamatan, ketentraman, kebahagiaan, perestuan dan saling memaafkan.

Upacara dihadiri oleh Tengku (ulama) atau atau orang yang dituakan (Majelis adat) sebagai pemimpin upacara. Hal ini dilakukan karena Peusijuek salah satu unsur tersebut memperoleh keberkatan dan setelah selesai upacara peusijuek adakalanya diiringi dengan doa bersama yang dipimpin oleh Tengku untuk mendapat berkah dan rahmat dari Allah SWT.

Peusijuek Meulangga dilakukan untuk mendamaikan perselisihan/pertengkaran antar warga yang mengakibatkan keluarnya darah. Peusijuk ini biasanya dilakukan di Meunasah dipimpin oleh Geuchik (kepala desa) yang bertindak sebagai wakil dari kedua belah pihak yang bertikai. Ia juga menjadi hakim yang mendamaikan perselisihan tersebut secara adat.

Bagi pihak yang melakukan pelanggaran seperti perkelahian hingga mengeluarkan darah, maka dia diharuskan memberi sejumlah uang kepada pihak yang darahnya keluar. Pemberian uang tersebut disebut sayam. Jumlah uang yang diberikan tergantung pada kesepakatan kedua belah pihak. | tourismnews.co.id

Beginilah Festival Cina di Banda Aceh era Belanda


KAWASAN Peunayong yang dikenal sebagai daerah pecinan dan pusat perdagangan di Banda Aceh sudah lama menjadi daerah hunian etnis Tionghoa. Di kawasan ini mereka hidup turun temurun sambil berdagang.
Sebuah foto lama koleksi Tropen Museum memperlihatkan warga Tionghoa berfoto saat pagelaran festival etnis Tionghoa kala itu. Foto itu  memperlihat orang Cina masa itu masih bergaya ala film kung fu: rambut panjang yang dikuncir ke belakang. Disebutkan, foto itu diperkirakan diambil sekitar tahun 1875-1885.
Sejumlah catatan sejarah menunjukkan keberadaan etnis Tionghoa di Banda Aceh bermula dari adanya hubungan dagang.  Diperkirakan mereka masuk ke Aceh sejak abad ke-14. Peunayong sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan Krueng Aceh, diyakini sebagai kawasan keluar masuknya barang dari dan keluar Aceh. Sampai saat ini masih ada bangunan kuno di Peunayong dengan desain arsitektur mirip bangunan khas Cina.
Sampai saat ini ada dua versi soal asal muasal kata Peunayong. Ada yang bilang Peunayong berasal dari kata "peumayong" yang berarti memayungi. Sedangkan sumber lainnya menyebut berasal dari kata "peu na jung."  Jung adalah kapal yang dipakai orang Cina ketika membawa barang ke Aceh. Sedangkan "peu na" adalah bahasa Aceh yang bermakna "adakah". Jadi, ketika hendak bertanya adakah kapal cina yang masuk, pertanyaannya menjadi "peu na jung?" Dalam perkembagannya, "peu na jung" menjadi Peunayong. Anda lebih yakin yang mana?[] Atjehpost.com

Foto - Barongsai meriahkan Imlek di Banda Aceh


Berbeda dengan perayaan Imlek tahun-tahun sebelumnya di Aceh. Kali ini perayaan tersebut lebih meriah yang juga menghadirkan atraksi Barongsai dari komunitas Hakka.
Barongsai adalah tarian tradisional Cina dengan menggunakan sarung yang menyerupai Singa. Barongsai memiliki sejarah ribuan tahun. Catatan pertama tentang tarian ini bisa ditelusuri pada masa Dinasti
Chin, sekitar abad ketiga sebelum masehi.

Kesenian Barongsai mulai populer di zaman dinasti Selatan-Utara (Nan Bei) tahun 420-589 Masehi. Kala itu pasukan dari Raja Song Wen Di kewalahan menghadapi serangan pasukan gajah Raja Fan Yang dari negeri
Lin Yi. Seorang panglima perang bernama Zhong Que membuat tiruan boneka singa untuk mengusir pasukan Raja Fan itu. Ternyata upaya itu sukses hingga akhirnya tarian barongsai melegenda.
Berikut foto-foto atraksi Barongsai pada perayaan Imlek di Banda Aceh, Minggu, 10 Februari 2013.





















































HERI JUANDA | Foto : HERI JUANDA | ATJEHPOSTcom

Ini arti Imlek bagi warga Tionghoa di Banda Aceh


PERINGATAN Imlek di Kota Banda Aceh lebih banyak dirayakan oleh warga Tionghoa dengan bersembahyang di Vihara Dharma Bhakti. Namun muda-mudi keturunan Tionghoa juga menyambut perayaan tersebut dengan motivasi yang berbeda-beda.
Seorang warga Tionghoa di Kota Banda Aceh bernama Gus, misalnya.  Warga Tionghoa itu, mengaku arti Imlek bagi dirinya adalah perasaan atau suasana hati.
“Imlek jika diartikan secara suku kata Im yang berarti hati. Sedangkan lek adalah tanggal, atau dengan kata lain, Imlek itu bisa diartikan suasana hati,” ujar dia.
Menurut dia, perayaan Imlek tahun ini tidak banyak yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Dimana, setiap orang Tionghoa mengunjungi Vihara untuk sembahyang, kemudian bagi-bagi angpao dan pertunjukan atraksi Barongsai.
“Bedanya hanya zodiak bagi orang Tionghoa itu sendiri,” ujarnya.
Sementara Keni, warga Tionghoa lainnya, mengaku Imlek adalah hari reunian keluarga.
“Imlek itu kayak reunian keluarga. Kumpul bersama terus dapat angpau, ya senang aja. Biasanya, angpao dapat dari saudara yang lebih tua atau yang udah nikah,” kata cowok bermata sipit ini.
Pantauan ATJEHPOSTcom, Perayaan Imlek di Banda Aceh terlihat begitu meriah, Minggu 10 Februari 2010. Beberapa toko Cina yang terdapat di sepanjang Jalan Teukur Umar Setui  Kota Banda Aceh, juga memasang lampion.
Kawasan Penayong juga terlihat ramai dan terdapat beberapa karangan bunga sebagai ucapan selamat Imlek kepada warga Tionghoa.
Selain itu, banyak warga Tionghoa mendatangi Vihara Dharma Bhakti untuk sembahyang dengan pakaian khas Cina yang berwarna merah. | atjehpost.com

Barongsai Meriahkan Pembukaan Turnamen Futsal


BANDA ACEH – Tim barongsai Hakka Tionghoa Banda Aceh memeriahkan pembukaan turnamen futsal se Kecamatan Kuta Alam Banda Aceh di Gampong Laksana sore kamarin, Minggu, 3 Februari 2013.
Kepala Desa Gampong Laksana, Rahmad, kepada ATJEHPOSTcom mengatakan pertandingan futsal tersebut digelar untuk meningkatkan kebersamaan. Selain itu juga untuk menambah kekompakan pemuda di Kuta Alam.
“Ini juga sebagai wadah pemuda dalam mengembangkan kreatifitas agar terhindar dari kenakalan remaja saat ini seperti narkoba yang semakin meningkat,” ujarnya.
Gampong Laksana katanya merupakan gampong multietnis, sehingga kegiatan ini bisa menjadi ajang untuk saling bersilaturrahmi sesama masyarakat.

Foto - Budaya Tradisional Kuda Kepang di Pacuan Kuda


REDELONG – Memperigati Hari Ulang Tahun Kabupaten Bener Meriah yang ke-9 berbagai kesenian dan kebudayaan diadakan di Lapangan Pacuan Kuda Sengeda, Rembele Kecamatan Bukit, Bener Meriah pada Minggu 13 Januari 2013. Salah satunya yaitu pergelaran budaya tradisional kuda kepang.
Masyarakat terlihat antusias menyaksikan berbagai pergelaran kesenian dan kebudayaan tersebut.[bna]
Berikut foto-foto kebudayaan tradisionil kuda kepang dalam acara tersebut :



























































Sumber : atjehpost.com

Reins Melukis Tsunami dan Budaya Gayo


Lukisan Reins PACU KUDE. (Foto Aman Renggali)
LELAKI yang gemar memakai topi baret merah ini seketika menyambut tanganku, ketika dari jarak lima meter namanya kusebut seperti mambaca sebuah judul puisi. Spontan pak Reins tertawa lebar dengan gayanya yang khas. “Ah kau menjadikan aku lebih muda saja”, sambutnya ramah dengan tawa lepas.
Dikalangan seniman dan budayawan Aceh namanya sudah tidak asing lagi, lelaki gaek yang sudah berkarya sejak tahun 1970 ini terlihat masih sangat energik. Semangat dan spiritnya untuk terus berkarya berbanding terbalik dengan usianya saat ini yang telah memasuki tahun ke 68. Nama lengkapnya Rein Asmara, lahir di Sumatera Utara dan tinggal di bilangan Stui Banda Aceh.
Sepintas pak tua yang tak mau dipanggil “pak” ini terkesan dingin, penuh misteri dan cenderung diam bila diajak diskusi. Mimiknya selalu berubah bila menanggapi topik pembicaraan, ini artinya Reins adalah seniman yang penuh pertimbangan dan sangat matang dalam menyikapi lingkungannya. Tetapi sebagai pelaku seni murni ia tak mampu menyembunyikan gejolak pikirannya, ketika pembicaraan mulai mengarah tentang prihal kehidupan seniman di Aceh. Dengan angkatan suara lembut dan kemudian meninggi, Reins melontarkan sejumlah ide dan pikirannya yang sangat kontekstual dengan situasi kekinian.
Itulah Reins Asmara yang memulai karir seninya sebagai pelukis di Pendidikan Berkesenian Sanggar Besar Seni Rupa Sekar Gunung Medan. Kepada penulis ia mengaku mempunyai kenangan dan sejarah sendiri tentang Aceh, terutama terkait bencana dahsyat yang menimpa Aceh bulan Desember 2004 silam. Istri tercinta serta anak Reins turut jadi korban gelombang raya yang dipicu gempa berkekuatan 8,9 skala reighter itu.
Lukisan Reins GAJAH BERKERAWANG. (Foto Aman Renggali)
Dalam pergelaran karya, Reins termasuk seniman yang produktif. Sejumlah pameran seni lukis yang pernah ia ikuti baik secara tunggal maupun “keroyokan” adalah di Simpassri dan Asri ’45 Medan 1970-1976, Taman Budaya Medan 1978, Tebing Tinggai 1981, Medan 1982, Jakarta 1983, Padang 1984, Medan 1986,Pematang Siantar 1987, Tapak Tuan 1992, Jawa Timur, Yogyakarta, Jawa Tengah Solo 1999 serta puluhan event pameran lainnya diberbagai tempat. Memasuki tahun dua ribuan ia juga telah menggelar karya di sejumlah kota di Indonesia, baik yang diselengarakan oleh Taman Budaya berbagai Provinsi dengan Kementerian Pendidikan dan Parawisata serta Even Organizer Internasional lainnya yang konsen terhadap seni rupa murni.
Selain pamer karya, ia juga mengikuti berbagai kegiatan berbentuk seminar, studi banding serta pertemuan seniman lukis lokal, nasional dan internasional.
Ketika berkesempatan membolak balik sejumlah karya Reins dalam booklet dan pajangan album, kutemukan beberapa goresan yang membuat jantungku berdesir. Biasa berkaca mata kali ini kutanggalkan. Menikmati kejujuran harus telanjang.
Tema goresan kuas Reins memang beragam. Mulai dari kesaksian alam, keindahan bunga, perempuan, bangunan, hewan sampai kepada bencana dan nilai-nilai estetik budaya Gayo semua terangkum. Aku tidak mempunyai kompetensi untuk mengklasifikasikan aliran Reins dalam melukis, apakah realis, abstrak, surialis, dekoratif atau aliran modren seni lukis lainnya. Karena hematku, menikmati karya Reins bagai berada di alam yang ia jadikan objek lukisan.
Menyaksikan aku terpaku dengan visual yang dihasilkan tarian jemari Reins, ia malah menunjukkan sebuah karya lainnya. Sebuah lukisan yang agak abstrak namun cukup membuat mata lekat. Warnanya putih keabu-abuan, karena faktor kanvas warna dan tekstur lukisan terkesan lebih menonjol. Sekilas seperti potongan kayu tumbang yang disusun menjadi kaligrafi. Anehnya di atas huruf-huruf abstrak kaligrafi itu terdapat puingan rumah, kapal dan perahu yang terbalik serta bayangan manusia. Tanpa sempat bertanya Reins menjelaskan bahwa lukisan itulah yang membuatnya bersyukur sekaligus berdo’a setiap waktu. Ternyata lukisan itu ia aktualisasikan dari kejadian gempa dan gelombang Tsunami yang menghantarkan istri dan anaknya keharibaan sang Pencipta. “Saat melukis ini saya sambil menangis” kata Reins dengan suara rendah seolah menutupi kesedihannya.
Lukisan Reins PENARI GUEL. (Foto Aman Renggali)
Namun kemudian dengan penuh semangat sekaligus miris, Reins mengaku setiap bulan Desember sejak tahun 2005 ia menggelar karya-karya lukisnya kehadapan publik secara rutin. Ini ia lakukan sebagai wujud kecintaannya terhadap sebagian keluarganya yang menjadi korban Tsunami, juga sebagai moment untuk mengenang dan ungkapan belasungkawa terhadap bencana besar yang menimpa negeri Serambi Mekah.
Untuk pameran tahun ini Reins Asmara akan menggelar karya pada tanggal 27 Desember 2012, bertempat di Ulee Lheue Corner & Restaurant Banda Aceh. Sambil menunjukkan sejumlah dokumentasi lukisannya ia mengajak seluruh masyarakat untuk hadir dilokasi pameran. “Ada 50 karya lukis yang akan saya pajang disana, siapa saja boleh datang”, undangnya.
Sebagai seorang pelukis besar berikut dengan karya-karyanya sosok Reins pernah dikomentari oleh Sekaragung dari Yayasan SIMPASSRI, yang antara lain mengatakan “seni adalah isi bukan simerah pipi yang rahum penuh birahi”. Sekaragung juga menimbali kalimat tersebut dengan mengutif kalimat Rabindranath Tagore yang menyatakan bahwa “seniman adalah orang yang terdekat dengan Tuhannya”.
Lagi-lagi Reins “mengganguku”. “Ah ya, itu tentang Gayo” celetuknya seperti ingin menyatukan emosi danintresku terhadap apa yang terpapar dihadapan. Kali ini ia berceloteh agak panjang lebar, tetapi aku sudah tak memperdulikannya. Aku terpaku dan menikmati apa yang ada, persis seorang bayi yang dihadiahi permen gula-gula dan boneka mainan sekaligus.  Cuek.
Ingatanku melayang ketahun delapan puluhan hingga awal tahun sembilan puluhan silam. Dimana dua ekor kuda yang diberi nama “Buge Mujadi” dan “Pesaka Due Belas” oleh lelaki yang saat ini berusia 86 tahun tampak menyeringai. Tetapi sosok yang kuhormati itu (H. Sulaiman Aman Hafisah Meriah) tak terwakili dalam pantulan kanvas bercat minyak itu, yang ada hanya deru lari dan desau angin ditelinga. “Renye, renye. Ooaasalualéééé! Katak buntang keketol matéééé”.
Ya, lukisan Reins tentang pacuan kuda tradisonal Gayo telah membuatku sedikit sentimen. Kekuatan goresan dengan pilihan warna serta tekstur yang mencuat menjadikan karya ini lebih indah dari sebuah jepretan lensa fotografi termutakhir. Aku tergoda!
Belum lagi selesai, obrolan Reins kubiarkan saling bersahut bersama sahabat lainnya dengan kopi dan kepulan asap rokok yang membatasi pandangan.
Kali ini sepasang manusia berselendang kerawang Gayo dan berbulang pengkah mengajakku menabuh repai dan meniup soling ines. Tarian sakral yang dimainkan berbau mistis untuk membangunkan gajah itu kini juga membangunkan nasionalimeku. Hewan saja tergerak untuk menari, konon manusia Gayo yang katanya mempunyai cita rasa seni tinggi. Tarian yang biasanya digelar untuk menyambut tamu agung itu, dalam lukisan Reins tampak sangat bersahaja, romatis dan penuh dengan nilai persaudaraan. Dan aku sebagai tamu yang disambut dihadapan lukisan, yang bertandang dengan kekerdilan tersenyum lebar dengan mata melotot dan bahu yang bergerak tanpa sadar. Guel.
Lukisan tarian yang dimainkan oleh seorang ibu setengah baya bersama dengan seorang bebujang berbaju kuning keemasan, cukup menjadi kekuatan bagi mata dan rasaku untuk tidak memperdulikan Reins serta temannya. Lukisan yang sangat sederhana. Bahkan mungkin terlalu sederhana sebagai sebuah karya yang dihasilkan oleh pelukis profesional. Sepintas, demikian.
Reins Asmara dengan latar lukisan Tsunaminya. (Foto Aman Renggali)
Tetapi rasa, rasa yang menunjukkan ini sebagai sesuatu yang berbeda.
Masih ada sejumlah lembar dan potretan kanvas karya Reins yang tak kubolak-balik. Seperti seekor gajah yang dibaluti dengan relief ukiran bermotif kerawang Gayo, mulai dari ekor hingga panggkal gadingnya. Seorang ibu tua yang mengelus rambut anak gadisnya dengan penuh cinta, kumpulan manusia yang mencoba keluar dari kepungan gelombang raya dan masih banyak lukisan lainnya.
Amatanku, sebagai pelukis yang bersahaja Reins Asmara dalam hal ini hanya mempunyai dua tema utama. Tsunami dan Budaya Gayo.
Sebelum beralih, kesimpulan ini kumasukkan dalam catatan diaryku. Lalu seolah tanpa cela, aku kembali kemeja dimana Reins dan sahabat seniman lainnya berada. (Salman Yoga S / lintasgayo.com)