Tampilkan postingan dengan label Tradisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tradisi. Tampilkan semua postingan

Perang, Makan, dan Makanan

(kompas)
JIKA pengaruh India dalam kuliner Aceh memang tak terbantahkan lagi akibat hubungan dagang yang panjang di masa lalu, bagaimana dengan perang panjang yang menempa Aceh? Adakah jejaknya dalam kuliner mereka?

”Pengaruhnya jelas sekali,” kata Reza Idria, antropolog dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry, Aceh. ”Perang tidak hanya berpengaruh terhadap jenis makanan, tetapi juga sikap dan cara makan.”

Sikap itu terekam dalam ungkapan pajoh laju, prang-prang kalehbu (makan dulu, kalaupun perang kita sudah kenyang) yang sangat populer di Aceh. ”Ungkapan itu pasti lahir dari pengalaman panjang semasa perang,” kata Reza.

Azhar Abdurrahman, mantan Sekretaris (Arakata) Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Wilayah Meureuhom Daya yang kini menjabat Bupati Aceh Jaya, merasakan betul tuah ungkapan itu. Suatu ketika, ia menyusup ke dapur rumahnya tepat saat azan maghrib berkumandang. Sang istri segera menyiapkan makanan dan berkata, ”Pajoh laju prang-prang kalehbu.”

Azhar segera mengikuti saran istrinya. Di suapan terakhir, tiba-tiba ia melihat pasukan lawan berkelebat di balik pintu. Ia melirik jendela yang terbuka dan secepat kijang melompatinya. Azhar berlari sekencang mungkin ke dalam hutan dan bersembunyi untuk menghindari kejaran. Hingga malam esok harinya, ia baru bisa makan lagi. ”Bayangkan kalau saya tidak sempat makan, bisa kelaparan,” ujar Azhar yang bergerilya sejak 2003-2005.

Pengalaman nyaris serupa dialami Fauzan Azima, mantan Panglima GAM Wilayah Linge, Gayo Lues, Alas, dan Tanah Karo. Suatu hari, Fauzan dan lima rekan sesama tentara GAM bertemu di dalam hutan. Pengalaman mengajarkan, setiap ada kesempatan mereka harus makan. ”Di Gayo, kami menyebutnya dengan istilah, ike terjadi sesanah kite nge mangan, yang artinya sama dengan pajoh lajo prang-prang kalehbu,” kata Fauzan.

Begitu selesai makan, tiba-tiba mereka diserbu pasukan lawan. Tiga teman Fauzan tewas tertembak dan seorang tertangkap. Fauzan dan seorang teman lagi berhasil melarikan diri. Mereka masuk ke hutan dengan arah berbeda. Selama satu bulan bersembunyi di hutan, Fauzan hanya bisa makan dua kilogram gula merah yang tersisa di tasnya. ”Selain gula, saya cuma makan kura-kura yang saya temukan di hutan,” ujarnya.

Fauzan yang bergerilya dari 1999 hingga 2005 kini menikmati masa damai. Ia bisa menyeruput kopi di kedai sambil berpikir bagaimana menata masa depan keluarga lewat perkebunan kopi. Masa-masa perang tinggal kisah yang tertanam dalam kenangan, termasuk gaya makan yang serba cepat. ”Perang menuntut kita untuk selalu siaga. Dan, itu memengaruhi cara kita makan,” tutur Fauzan.

Untuk menandai tentara GAM yang baru turun gunung, lanjut Fauzan, sebenarnya bisa diperhatikan dari cara makannya yang sangat cepat. Dalam dua menit, makanan disantap sampai tak bersisa. Mereka juga selalu mencengkeram sisi piring agar tidak mudah lepas jika ada guncangan. Kebiasaan itu terbawa di masa damai dan menjadi gaya makan orang Aceh secara umum.

Sejarah perang panjang membuat kebiasaan makan cepat menjadi semacam tuntutan sosial. ”Orang Aceh yang makan lambat sering diolok-olok sebagai orang yang tidak sanggup perang,” kata Azhar.

(sumber: kompas.com)

Hikayat Dagang dan Perang dalam Kari Aceh

Aneka rempah dan bumbu kari, Kompas
BAGI masyarakat Aceh, kari adalah makanan istimewa. Kenduri tanpa kari ibarat pesta tanpa kegembiraan. ”Seperti orang keling kehilangan ketumbar. Orang akan bertanya-tanya jika tak ada kari dalam kenduri,” kata Nurdin.

Kari, ujar Nurdin, harus ada dalam setiap kenduri yang menyertai tiga siklus dalam kehidupan manusia, yakni kelahiran, perkawinan, dan kematian. Kari juga disuguhkan dalam acara-acara kenduri lain, seperti sunatan dan maulid. Biasanya daging yang digunakan untuk kari adalah ayam, sapi, kerbau, bebek, dan kambing. Selain itu, biasanya ditambahkan pula pisang kepok mengkal, hati batang pisang, kluwih, kentang, atau labu, bergantung wilayahnya.

Populernya kari di Aceh menggambarkan bahwa pengaruh kuliner India mengakar kuat di sana meski istilah kari tidak ditemukan dalam catatan-catatan lama. Dua jilid buku The Achehnes (1906) yang ditulis antropolog yang bekerja untuk pemerintah kolonial Belanda, Snouck Hurgronje, hanya mencatat tiga jenis gulè yang populer di Aceh, yakni gulèmasam keu’euéng, yakni aneka sayur yang direbus dalam air dan dicampur bawang merah, lada, cabai, garam, dan boh slimèng atau asam sunti.

Menu kedua adalah gulè leuma, yakni campuran aneka rempah, seperti jahe, temurui, dan serai. Sebagai lauknya digunakan ikan kering (eungköt tho) atau karéng (ikan kecil dari jenis biléh), atau ikan keumamah, yaitu ikan tongkol kering yang diimpor dari Kepulauan Maladewa di Samudra Hindia. Selain menggunakan asam sunti, kuah ini juga menggunakan santan.

Menu ketiga adalah kuah pi u (pliek u). Kuah ini dibuat dari ampas kelapa yang telah diambil minyaknya lalu dicampur bóh panaïh (nangka muda) dan ikan kering atau ikan kecil. Pada acara kenduri, menurut Snouck, menu yang wajib ada adalah nasi kuning (bu kunyit) dengan lauk gule ikan keumamàh teunaguën. ”Kerbau, sapi, atau kambing jarang dimasak kecuali pada acara-acara sangat besar,” tulis Snouck.

Absennya istilah kari dalam literatur lama tidak mengherankan. Pasalnya, penggunaan istilah kari secara global memang relatif baru. Colleen Taylor Sen dalam bukunya, Curry: A Global History (2009), menyebutkan, istilah kari awalnya tidak digunakan orang India. Mereka menyebut aneka hidangan berempah itu dengan nama lebih spesifik, seperti korma, rogan josh, molee, vindaloo, dan doh piaza.

Kata kari berasal dari bahasa India bagian selatan (Tamil), yakni keril yang dikaitkan dengan tumis sayuran dan daging berempah. ”Tetapi, sekarang orang India sering menggunakan kata kari untuk banyak masakan rumah dengan saus, khususnya ketika mereka bicara dengan orang asing,” tulis Taylor.

Globalisasi istilah kari dimulai saat terjadinya penghapusan perdagangan budak di Kerajaan Inggris pada 1807, yang diikuti penghapusan perbudakan pada 1833. Sebagai penggantinya, Inggris membawa lebih satu juta buruh dari India untuk bekerja di perkebunan-perkebunan di wilayah jajahannya, dari Afrika hingga Malaysia. Para pendatang baru itu mengintegrasikan bumbu-bumbu lokal ke dalam kebiasaan makan mereka untuk menciptakan berbagai kari jenis baru. Fenomena serupa terjadi di koloni Belanda di Indonesia.

Walaupun penyebutan kari secara global relatif baru, menurut Taylor, tradisi kuliner India telah lama merembes dalam kuliner Asia Tenggara, termasuk Indonesia. ”Sejak awal abad ketiga sebelum Masehi, pedagang India dan misionaris Buddha membawa asam jawa, bawang putih, bawang merah, jahe, kunyit, dan lada ke wilayah itu,” sebut Taylor.

Bahkan, menurut Taylor, jenis makanan berempah dan bersantan yang di Indonesia populer disebut sebagai gule sebenarnya bisa digolongkan sebagai kari. Tentu saja, kari yang telah diindonesiakan.

Pengaruh India, terutama dalam penggunaan rempah dan santan, itu jelas terlihat dari tiga jenis masakan Aceh di masa lalu, seperti dicatat Snouck. Sampai sekarang, ketiga jenis masakan itu masih sangat populer di Aceh. Bahkan, menurut Azhari, budayawan Aceh, gulè leuma (gule leumak) memiliki banyak sekali variasi, dari leumak sayuran sampai ikan teupelumak atau udang teupeulemak.

Ikan keumamah—saat ini diproduksi sendiri oleh orang Aceh—juga menunjukkan, lamanya interaksi perdagangan dan kebudayaan antara Aceh dan ”Negeri Atas Angin”, yakni sebutan untuk negeri India, Persia, Arab, dan sekitarnya. Sebaliknya Kepulauan Nusantara di masa lalu dikenal sebagai ”Negeri Bawah Angin”. Penggunaan istilah ”Negeri Bawah Angin” dapat ditemukan pada naskah Hikayat Raja-raja Pasai untuk merujuk wilayah Asia Tenggara, dari Sumatera Utara sampai Maluku.

(sumber: Kompas)

Aceh Kenduri Sepanjang Hari

Warga makan bersama di Meunasah Pupu, Kecamatan Ulim, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. (kompas)

KENDURI tak mengenal musim di Aceh. Bahkan, di kala perang, kenduri tetap berjalan. Begitulah, lewat kenduri orang Aceh saling mengikatkan diri.

Aroma kenduri Maulid tercium di awal pagi di Desa Pupu, Kecamatan Ulim, Kabupaten Pidie Jaya, pertengahan Februari lalu. Lepas subuh, Aisyah (51) dan Mardianah (38) sibuk menyiapkan aneka masakan yang akan dibawa ke meunasah (musala) tempat kenduri berlangsung. Tangan mereka cekatan membungkus nasi berbentuk kerucut dengan daun pisang batu.

Nasi itu lantas disusun meninggi di atas sebuah nampan bersama aneka lauk terbaik, mulai telur balado, rendang, kuah sup, hingga kari itik. Semakin tinggi isi nampan itu menunjukkan makin mapan si pembuat secara ekonomi. Nurdin, Kepala Museum Aceh, mengatakan, orang-orang kaya dulu menyusun hingga tujuh lapis lauk di atas nampan hidangan untuk dibawa ke meunasah.

Sekitar pukul 11.00, nampan berisi aneka masakan buatan Aisyah dan Mardianah dibawa ke meunasah. Di sana sudah ada belasan nampan lain yang disumbangkan warga. Dengan iringan doa, tetamu menyantap hidangan yang tersedia. Jika tidak habis, tetamu wajib membawa pulang hidangan. ”Kalau sampai ada sisa, kami bisa marah. Sebab, makanan yang kami hidangkan adalah sedekah,” kata Aisyah.

Maulid adalah salah satu kenduri wajib yang dirayakan besar-besaran di Aceh. Snouck Hurgrounje dalam buku Aceh di Mata Kolonialis menyebutkan, Maulid di Aceh tidak hanya terkait peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga terkait ketaatan kepada Kerajaan Turki yang melindungi Kesultanan Aceh. Sultan Turki berpendapat, Aceh yang letaknya cukup jauh dari Turki tidak perlu mengirimkan upeti setiap tahun. Sebagai gantinya, Sultan memerintahkan Aceh menunjukkan ketaatannya dengan memperingati Maulid setiap tahun secara bersama-sama.

Itulah yang terjadi hingga kini. Desa-desa bergantian menggelar kenduri Maulid. Mereka saling mengundang dan mengunjungi. Jika sebuah desa menggelar kenduri Maulid, semua warga ikut terlibat. ”Ada yang menyumbang makanan, ada yang menyumbang tenaga demi menjamu tamu,” ujar Geucik(kepala desa) Pupu, Idris Yusuf.

Peringatan Maulid di Aceh merentang hingga empat bulan. Tahun ini, peringatan Maulid dimulai akhir Januari dan berakhir April nanti. Sepanjang waktu itu, ada saja kampung yang menggelar kenduri. Ketika berkunjung ke rumah Cut Rahmi di Montasik, Aceh Besar, ia mengundang kami untuk menghadiri kenduri esok harinya. Undangan serupa datang ketika kami bertandang ke rumah Cut Nyak Mizar di Meulaboh, Aceh Barat.

Maulid tidak hanya berlangsung di masa damai. Pada masa konflik antara GAM dan Pemerintah RI memanas, tentara-tentara GAM yang bergerilya di hutan tidak ketinggalan menggelar Maulid. Azhar Abdurrahman, mantan tentara GAM yang kini menjabat Bupati Kabupaten Pidie Jaya mengenang, setiap musim Maulid tiba, ia dan beberapa temannya berburu rusa.

Jika rusa tak didapat, mereka turun ke kampung untuk meminta sumbangan kambing kepada kerabat dan memesan bumbu kari. Daging rusa atau kambing itu lantas dimasak dengan bumbu kari lengkap di markas besar GAM di wilayah Lamno. Sejenak mereka melupakan perang dan beralih pesta kari.

”Itulah saat paling menyenangkan di dalam hutan. Buat kami Maulid itu wajib digelar pada masa damai ataupun perang,” ujar Azhar menegaskan. Tidak hanya Maulid, Azhar juga menggelar kenduri lainnya pada masa perang. Ketika anaknya berusia 40 hari, Azhar menyelinap ke rumahnya hanya untuk menggelar kenduri menjejakkan kaki anak ke tanah.

Kenduri galau

Begitulah, ada sederet kenduri yang biasa digelar masyarakat Aceh. Ada kenduri yang terkait dengan perayaan agama Islam, seperti Isra Miraj, Nuzulul Quran, dan Asyura. Ada kenduri yang terkait dengan daur hidup seseorang seperti kelahiran, sunatan, pernikahan, hingga kematian. Ada pula kenduri petani dan kenduri nelayan. Orang membangun rumah pun menggelar kenduri. Pindah rumah, mereka bikin kenduri lagi.
Pokoknya, orang Aceh punya banyak alasan untuk membuat kenduri. Ketika hati senang karena dapat uang, orang Aceh bikin kenduri. Ketika hati galau pun kami bikin kenduri.
-- Reza Idria
“Pokoknya, orang Aceh punya banyak alasan untuk membuat kenduri. Ketika hati senang karena dapat uang, orang Aceh bikin kenduri. Ketika hati galau pun kami bikin kenduri,” kata Reza Idria, antropolog dari IAIN Ar Raniri, Banda Aceh.

Ia mencontohkan, seorang kerabatnya yang bermimpi bertemu almarhum orangtuanya. Wajah almarhum terlihat masam. ”Besoknya dia bikin kenduri selamatan untuk almarhum. Buat orang Aceh kenduri itu bermakna sedekah. Semakin sering kenduri, semakin sering sedekah,” kata Reza.

Tidak mengherankan jika orang Aceh sepanjang tahun sibuk menggelar atau menghadiri undangan kenduri. ”Dalam dua minggu ini saya sudah menghadiri delapan kenduri, mulai dari akikah, pernikahan, maulid, hingga kenduri arisan,” ujar Reza yang mengaku sering kewalahan dengan aneka undangan kenduri.

Kalau Reza kewalahan, Rahman justru tidak. Dia dan teman-teman bahkan membentuk ”pasukan pemburu kenduri” yang kerjanya mengejar ke mana kenduri pergi. ”Lumayan bisa makan gratis,” katanya.

Sebanyak apa pun undangan kenduri yang datang, orang Aceh berusaha untuk memenuhinya. Pasalnya, kata Reza, kenduri adalah mekanisme sosial orang Aceh untuk saling mengikatkan diri dan saling mengunjungi. Agar ikatan sosial makin kuat, adat membuat setiap kampung saling bergantung. Di Gampong Lam U, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, misalnya, setiap meunasah hanya boleh memiliki dua kuali meski mereka sebenarnya memerlukan empat kuali.

”Tujuannya agar ketika masak kari untuk kenduri, pengurus meunasah meminjam kuali kepada meunasah lain,” ujar Reza.

Dewa anggur

Tradisi kenduri di Aceh telah berumur panjang. Anthony Reid dalam buku Menuju Sejarah Sumateramenuliskan, raja-raja kesultanan Aceh biasa menggelar aneka kenduri dan perayaan megah yang disertai aneka hiburan termasuk untuk menjamu utusan asing. Meskipun, menurut Snouck Hurgrounje, (ketika itu) masyarakat Aceh kebanyakan masih kurang makan.

Reid menambahkan, ketika menjamu utusan Inggris, Thomas Best, Sultan Iskandar Muda menyuguhkan paling tidak 400 jenis makanan dan minuman yang cukup untuk santapan beratus-ratus prajurit. Begitulah, kenduri dan perayaan besar sekaligus digunakan untuk memperlihatkan kemegahan dan kejayaan kerajaan.

Orang asing yang melihatnya akan terpukau seperti yang diperlihatkan John Davis, petualang Inggris yang datang ke Aceh pada abad ke-16. Ia geleng-geleng kepala melihat kemewahan pesta yang digelar Sultan Aceh dari pagi hingga petang. ”Raja seperti ’dewa anggur’ dan sukacita,” katanya.

(sumber: kompas.com)

Para Penjaga Rahasia Kari Aceh

Asber Os Meri (kiri) meracik bumbu permintaan pembeli di Pasar Setui, Banda Aceh, KOMPAS/AGUS SUSANTO

Oleh Budi Suwarna dan Ahmad Arif

Aceh adalah kari. Aroma rempahnya diturunkan dari generasi ke generasi. Tak perlu khawatir kelezatannya akan memudar sebab selalu ada penjaga rasa kari yang lahir di setiap generasi. Lantai 2 Pasar Setui, Banda Aceh, akhir Februari. Keramaian hanya ada di sudut bangunan bagian belakang, tempat Asber Os Meri (48), atau akrab disapa Kak Meri, berjualan bumbu.

”Masak apa hari ini sayang?” Kak Meri, si peracik bumbu terkenal di Banda Aceh itu, menyapa akrab pelanggannya.

”Kari untuk dua ekor ayam, Kak,” jawab Ros (50) sambil menyodorkan selembar uang Rp 5.000. Ros adalah ibu rumah tangga dari Lamlagang, Banda Aceh. Hampir setiap pagi ia membeli racikan bumbu di kios Kak Meri.
Masakan Aceh itu rumit. Bumbunya banyak sekali. Kalau meracik sendiri, habis waktu kita. Belum lagi kalau kurang pas takarannya, bisa tidak enak rasanya.
-- Ros
”Masakan Aceh itu rumit. Bumbunya banyak sekali,” keluh Ros. ”Kalau meracik sendiri, habis waktu kita. Belum lagi kalau kurang pas takarannya, bisa tidak enak rasanya.”

Ros tidak berlebihan. Untuk memasak kari ayam atau kambing khas Pidie, misalnya, setidaknya dibutuhkan 22 macam bumbu. Bahkan, ada yang memakai 24 bumbu.

Setiap hari Kak Meri melayani 200-an pelanggan seperti Ros. ”Saat hari meugang—dua hari sebelum Ramadhan—ada ribuan orang yang beli bumbu antre dari pagi sampai malam,” ujar Kak Meri yang mewarisi kios dari ibunya tahun 1980-an.

Bagi masyarakat Aceh, makan menjadi momen istimewa, khususnya jika ada kari daging dalam menunya. Sedari dulu mereka adalah penikmat kuliner, seperti disebutkan di banyak catatan lama. Dalam The Voyage of Thomas Best to The East Indies, 1612-1614 disebutkan, Best yang datang ke Aceh sebagai utusan Belanda dijamu Sultan Iskandar Muda dengan 400 macam makanan dari daging.

Kebiasaan makan enak kemudian menurun dari para tetua Aceh ke generasi sekarang. Tengoklah, di piring nasi orang Aceh, kita bisa temukan 3-4 macam lauk. ”Sehari-hari orang Aceh makan seperti itu. Setiap rumah tangga setidaknya menyediakan empat menu dalam sekali makan,” kata Reza Idria, antropolog dari Institut Agama Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh.

Pada masa lalu, gaya hidup ini ditopang ketersediaan tanaman rempah di pekarangan rumah. Sekarang, tanaman bumbu mulai hilang dari pekarangan rumah. Jadi, orang merasa lebih efisien membeli bumbu racikan dari pedagang seperti Kak Meri. Dialah koki keluarga yang sesungguhnya. Katakan saja mau masak apa, Kak Meri akan meracikkan bumbunya dan memastikan kelezatannya.

Koki kenduri

Penjaga rasa kari untuk kepentingan kenduri besar berbeda lagi. Setiap desa di Aceh pada umumnya memiliki seorang juru masak kari dan pencicipnya. Hampir dipastikan, mereka semuanya laki-laki. Di Aceh, memasak untuk kenduri memang dilakukan laki-laki. ”Kami memasak seekor-dua ekor kambing atau lembu. Kalau perempuan memasak sekilo-dua kilo daging,” ujar Razali Hanafiah, salah seorang pencicip kari di Meunasah Pupu, Kecamatan Ulim, Kabupaten Pidie Jaya.

Siang itu, Razali mencicipi kari kambing yang diolah keponakannya, Muhammad (45). Ia menyendok kuah dari kuali raksasa berisi kari. Ia diam sejenak, membiarkan lidahnya mencecap setiap jejak rasa. Kemudian, ia menganggukkan kepala tanda kari itu pantas dihidangkan untuk maulid hari itu. Semua orang yang berada di meunasah (mushala) Desa Pupu, Kecamatan Ulim, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, pun bernapas lega dan tersenyum gembira. Mereka lantas berbaris dengan piring berisi nasi menunggu pembagian kari. Begitulah, satu anggukan kepala Razali sudah cukup untuk memulai sebuah pesta kari.

Razali adalah tokoh penting di setiap kenduri di Desa Pupu. Di lidah Razali-lah, rahasia kelezatan kari desa itu berada. Hari itu ia tidak terlalu bergembira sebab rasa kari yang dimasak Muhammad, buatnya masih kurang sempurna. ”Sepertinya ada empat bumbu langka yang tidak dia gunakan. Payah (susah) memang mencarinya sekarang,” ujar Razali seusai pesta.

Razali memang memiliki otoritas sebagai penjaga kelezatan rasa kari di desanya. Ia memiliki pengalaman memasak kari sejak remaja. Awalnya, ia membantu berdagang mi aceh. Dari situ, kepiawaiannya meracik bumbu terasah. Pada tahun 1960-an, ia mulai memasak kari untuk keperluan kenduri. Posisinya sebagai pemasak kari kian mantap pada tahun 1990-an. ”Hampir setiap hari saya diminta masak kari untuk kenduri,” ujar Razali, yang selalu menggiling sendiri bumbu karinya dengan gilingan batu.

Seperti juru masak kari lainnya, Razali menciptakan resep kari dengan komposisi bumbu kari yang hanya ia ketahui sendiri. Dia menggunakan 24 macam bumbu, mulai dari cabai, lada, bawang, daun temurui, pandang, lawang keling, hingga kacakraci atau kaskas. Bumbu tersebut tidak ada yang ditimbang. ”Saya kira-kira saja, bergantung besar kecilnya kuali untuk memasak,” tutur Razali.

Sejak sepuluh tahun yang lalu, Razali menurunkan kepiawaiannya memasak kepada Muhammad. Kini, keponakan Razali itu menjadi ”pendekar” kari di desanya. ”Setiap ada kenduri di desa ini, saya diundang masak kari,” ujar Muhammad.

Kepiawaian memasak kari memang diturunkan dari generasi ke generasi. Dari paman kepada keponakannya, dari ayah kepada anaknya. Azhari Abdullah (59), misalnya, mewarisi keterampilan memasak kari dari ayahnya sejak masa SMA. ”Orangtua saya memberi tahu ini-itu. Jadi belajar masak karinya lama dan sedikit demi sedikit,” ujar Azhari, yang bekerja sebagai guru olahraga.

Setelah mahir membuat kari, orangtuanya melepas Azhari masak kari sendiri. Azhari pun mulai ”berkelana” dari satu kenduri ke kenduri lain, mulai tingkat desa sampai provinsi.

Akhir Februari lalu, Azhari memasak kari kambing untuk kenduri akikah. Ia mengaduk semua bumbu dan daging dengan tangan telanjang langsung di atas kuali yang apinya baru saja dinyalakan. ”Begini cara mengaduk supaya bumbu meresap ke dalam daging,” katanya kepada anak-anak muda yang membantunya.

Sumber :
Kompas Cetak

Mengenal pantangan turun ke sawah di Aceh Barat Daya

pantangan turun ke sawah @ilustrasi
KHANDURI Ulee Lhueng atau kenduri turun ke sawah sudah menjadi tradisi turun temurun dari nenek moyang bagi masyarakat Aceh Barat Daya. Kenduri ini digelar setiap kali akan memasuki musim tanam.

Di Aceh Barat Daya kenduri tersebut kembali berlangsung kemarin siang, Kamis, 21 Maret 2013. Acara ini dibuat di Gampong Persiapan Alue Seulaseh Kecamatan Jeumpa.

Dalam acara yang dihadiri oleh sejumlah pejabat penting di Aceh Barat Daya itu juga dijelaskan mengenai tata cara turun ke sawah. Misalnya larangan atau pantangan saat padi sedang mekar dan bunting. Pantangan tersebut harus dijaga dalam bercocok tanam yang dipercaya bisa membawa keberkatan dan hasil panen yang memuaskan.

Ketua pantia acara Khairuddin, dalam laporannya mengatakan ada 12 pantangan yang tidak boleh dilakukan saat sedang bunting padi yaitu:
  • Dilarang membawa lukah atau bubee/bubu
  • Dilarang melakukan perbuatan asusila
  • Dilarang mabuk atau berjudi di sawah
  • Dilarang berkelahi apalagi sampai keluar darah
  • Dilarah membuang sampah di saluran air di sawah
  • Dilarang membakar jerami sebelum padi menguning
  • Dilarang transaksi jual beli padi atau membawa timbangan ke areal persawahan
  • Dilarang menanam nilai di areah persawahan
  • Dilarang membuat bob atau tulop sembarangan oleh aneuk blang masing-masing
  • Membuat bob atau tolop yang telah dibentuk harus terlebih dahulu dikonsultasikan dengan Kejruen blang setempat
  • Dilarang mencari rotan saat padi sedang bunting
  • Apabila semua ketentuan ini dilanggar maka sebelum ada qanun yang mengaturnya akan dikenakan sanksi adat sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

(sumber: Atjehpost)

6 mitos pernikahan dalam tradisi Aceh

ilustrasi
MITOS adalah suatu cerita yang diyakini kepercayaannya dalam kehidupan masyarakat secara turun temurun. Di Aceh, yang identik dengan Syariat Islam, juga berkembang mitos atau kepercayaan tentang beberapa hal. Salah satunya yang paling dipercaya hingga saat ini adalah tradisi tentang pernikahan.

Seperti yang di rangkum Atjehpost, berikut beberapa kepercayaan masyarakat tentang pernikahan yang dilestarikan hingga kini:

Pernikahan tidak boleh dilakukan siang hari
Beberapa kelompok masyarakat di berbagai daerah di Aceh percaya bahwa pernikahan di siang hari akan berakibat buruk terhadap keharmonisan rumah tangga nantinya. Siang hari diidentikan dengan panas.

Pengantin pria dilarang keluyuran menjelang pernikahan
Para pengantin pria di beberapa kabupaten kota di Aceh dilarang keluyuran di malam hari menjelang pernikahan. Ini karena prilaku tersebut dianggap tidak baik bagi keharmonisan rumah tangga serta ditimpa kemalangan.

Remaja Aceh dilarang makan nasi di piring retak
Remaja di Aceh, baik pria dan wanita, dilarang makan dan minum dari gelas atau piring yang retak. Jika kebiasaan ini dilanggar, maka sang pemuda atau pemudi tersebut, dikhawatirkan akan mendapatkan jodoh yang cacat, atau minimal cacat moral.

Wanita muda dilarang duduk di pintu masuk
Para wanita muda di Aceh dilarang duduk atau tidur di pintu masuk rumah. Bagi yang melanggar, menurut kepercayaan masyarakat, akan susah mendapatkan jodoh serta dilangkahi oleh saudaranya dalam urusan jodoh.

Remaja Aceh dilarang mengambil nasi di atas kompor
Bagi para remaja yang melanggar tradisi ini, menurut kepercayaan masyarakat, akan mendapatkan jodoh yang lebih tua atau jelek.

Pengantin yang wajahnya berkerut di hari pesta harus diperlihatkan pantat belanga
Tradisi ini masih berkembang di beberapa daerah Aceh. Dimana, ketika ada pasangan yang berwajah cemberut atau hitam di hari pesta pernikahan, maka keluarga diharuskan memperlihatkan pantat periuk atau belanga. Percaya atau tidak, tradisi ini masih berjalan di beberapa daerah Aceh.

(atjehpost)

Tradisi Jelang Nikahan di Aceh


TRADISI pernikahan yang unik di setiap daerah mendeskripsikan bahwa tidak mudah untuk meminang seorang wanita. Banyak tahapan yang dilalui pada hasri sakral tersebut, salah satunya pada upacara seulanke atau theulangke yang hingga kini masih dilestarikan di Nangroe Aceh.
Bukan mempelai pria yang ambil tindak, melainkan utusan dari mempelai pria. Utusan adalah pria dewasa yang bijak dalam berbicara dalam bahasa Aceh. Pembicaraan ini dimaksudkan untuk bertanya tentang status si gadis, jika ia belum ada yang memiliki, maka utusan akan menyampaikan maksud lamaran kepada orang tua si wanita.
Jika wanita sudah bersedia dilamar, barulah pihak lelaki akan datang bersama dengan orang yang dituakan ke rumah gadis dengan membawa berbagai macam syarat seperti pineung reuk, gambe, gapu, cengkih, pisang raha, dan pakaian adat Aceh.
Setelah itu, lamaran tidak serta merta langsung diterima. Pihak wanita akan mendiskusikannya terlebih dahulu, diterima atau tidaknya tergantung dari musyawarah keluarga pihak wanita.
Jika lamaran diterima, maka kedua mempelai akan menginjak ke tanap pertunangan (Jakba Tanda). Dalam proses ini pihak pria akan datang kembali untuk melakukan Peukeong, yaitu membicarakan berapa besar uang yang diminta pihak wanita (jeunamee/jeulamee) dan berapa banyak tamu yang akan di undang.
Budaya gotong royong sangat kuat pada diri masyarakat Aceh. Menjelang pernikahan, masyarakat akan bergotong-royong membantu mempersiapkan alat-alat apa saja yang akan digunakan di acara perkawinan. Dari pihak mempelai wanita sendiri, ada beberapa ritual yang dijalankan sebelum memasuki prosesi pernikahan, diantaranya:
Tradisi Potong Gigi (kohgigu). Ditujukan agar gigi sang calon pengantin terlihat kuat. Untuk itu akan digunakan tempurung batok kelapa yang dibakar sampai mengeluarkan cariran hitam, lalu cairan hitam yang keluar dari batok tersebut ditempelkan pada bagian gigi.
Upacara kruet andam. Dalam adat pernikahan Aceh, kruet andam adalah ritual perawatan tubuh yang biasa ditujukan untuk kebersihan kulit. Biasanya ritual dilakukan dengan cara mengerit anak rambut atau bulu-bulu halus yang tumbuh agar tampak lebih bersih. Setelah kruet andam dilakukan, dilanjutkan dengan pemakaian daun pacar (bohgaca). Daun pacar digunakan untuk menghiasi kedua tangan calon mempelai.
Seumanoe Pucok. Salah satu prosesi adat perkawinan yang harus dilaksanakan calon pasangan pengatin sebelum akad nikah. Seumanoe pucok selain bertanda akan melepas masa lajang, siraman yang dilakukan pemuka adat, kedua orang tua atau wali dan family dekat juga bertujuan untuk membersihkan diri. (*/tourismnews.co.id)