Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan

Sie Reuboh, Tak Sekedar Daging Rebus Biasa

Sie Reuboh aceh besar
Sie Reuboh. ©2014 Acehtourismagency.blogspot.com
DAGING rebus atau dalam bahasa Aceh disebut sie reuboh, bukan sekadar daging yang direbus. Ini kuliner khas Kabupaten Aceh Besar yang diwariskan turun-temurun dan menjadi santapan wajib saat tiba Ramadhan. Karena, kuliner ini bisa bertahan hingga satu bulan.

Sie reuboh memang bukan sekadar daging rebus. Ia dibuat dari gumpalan daging beserta gapah yang dibumbui garam, cabe merah, cabe kering, cabe rawit, kunyit, kemudian direbus hingga mendidih di belanga tanah tanpa disiram air.

Khusus untuk gilingan ketiga jenis cabe, rawit, merah dan cabe jangan dihaluskan. Biarkan ia dalam keadaan kasar sehingga bijinya akan lengket di permukaan daging nantinya.

Setelah air rebusan yang keluar dari daging dan gapah mengering, biarkan ia selama satu malam dalam belanga. Keesokan harinya, ketika dipanaskan kembali dan gapah yang membalut daging meleleh, siramkan cuka bersama air dan biarkan sampai mengering hingga dagingnya empuk. Cuka yang digunakan pun harus cuka enau.

Sampai tahapan ini, satu fase masakan kuliner sie reuboh bisa dianggap selesai dan bisa dijadikan santapan dengan cara disayat sebagai lauk. Di tahapan ini pula, sie reuboh bisa akrab dengan waktu dan bertahan hingga berbulan-bulan. Cara menyantapnya tak berubah, yakni dipanaskan dengan api yang tak terlalu besar, dan harus tetap dalam belanga tanah.

Proses sie reuboh sebagai kuliner khas Aceh Rayeuk belum seluruhnya berhenti sampai di sini. Daging rebus itu bisa diolah menjadi banyak turunan. Mulai dari sie goreng istilahnya yang mirip rendang, dimasak lemak, dibuat kuah asam keung khas Aceh dan bisa juga dijadikan semacam abon.

Sie reuboh menguapkan wangi cuka yang keras dan menggoda. Wangian cuka ini menjalar bersama rasa pedas bercampur asam hingga ke langit-langit mulut ketika dimakan. Wangi cuka nipah inilah yang mendominasi rasa daging rebus, yang sulit untuk dilewatkan.

Di tahun-tahun terakhir ini sie reuboh sebagai menu kuliner yang dijajakan di warung-warung apalagi restoran, makin jarang didapat. Ia kalah pamor dengan ayam tangkap, atau ayam penyet misalnya.

Namun, di kawasan Lambaro, Aceh Besar, sebuah rumah makan khas Aceh Rayek, Delima Baru, dan resto Ayam Tangkap Blang Bintang, masih tetap menjadikan sie reuboh sebagai menu utama. “Satu hari kami memasak 30 kilogram gading khusus untuk sie reuboh. Kebanyakan pelanggan kami memang memesan sie reuboh sebagai menu utama,” kata Rusli, pemilik rumah makan tersebut.

Tak ada ramuan khusus untuk melariskan masakan itu. Resep pembuatan sie reuboh ini juga diwariskan secara turun-temurun oleh keluarga Rusli. “Saya merupakan generasi ketiga. Usaha rumah makan ini sudah ada sejak 60-an,” ungkapnya.

Namun, di rumah-rumah warga Aceh Besar, khususnya saat meugang memasuki bulan Ramadhan, kuliner yang mengundang kolesterol ini hampir bisa ditemui di setiap rumah warga. Mau mencoba? Yuk ke Aceh Besar.(*)

Dari Makanan Meugang hingga Peunajoh Prang


RITUAL meugang diperingati warga Aceh dua atau satu hari menjelang Ramadhan, Idul Fitri, serta Idul Adha. Ritual itu biasanya dilakukan dengan membeli dan memakan masakan berbahan daging. Bagi masyarakat Aceh Besar, hari meugang tanpa sie reuboh terasa hampa.

Sie Reuboh, Tak Sekedar Daging Rebus Biasa
Sie Reuboh. ©2014 Acehtourismagency.blogspot.com
Rasa sie reuboh yang gurih, pedas, dan keasam-asaman membuatnya lezat disantap bersama nasi atau disajikan langsung.

Sie reuboh memang memiliki karakter tersendiri. Selain rasanya yang khas, masakan ini juga tahan lama atau bisa disimpan berhari-hari. “Sie reuboh tidak akan basi. Kalau sudah dingin tinggal dipanaskan lagi, dan tetap masih enak dimakan,” kata Bidin, seorang penggemar sie reuboh.

Seperti warga Aceh Besar lainnya, Bidin tetap menjadikan sie reuboh sebagai masakan yang harus ada di rumah pada setiap hari meugang. “Walaupun menu lain ada, sie reuboh tetap harus tersedia. Ini wajib,” ujarnya.

Karena tahan lama dan tak cepat basi, makanan ini sering pula menjadi peunajoh prang atau logistik perang. Seorang mantan kombatan di Aceh Besar mengaku, saat ia masih bergerilya, makanan ini sering menjadi bekal dari keluarga yang dibawanya ke hutan. “Itu karena makanan ini tahan lama. Jika ingin menyantapnya, cukup dengan dipanaskan saja. Sehingga cocok dibawa saat bergerilya,” ungkap Saifuddin, seorang mantan kombatan yang kini berprofesi sebagai kontraktor.

Kesederhanaan dalam penyajiannya, menjadi salah satu alasan makanan ini cukup digemari, khususnya saat sahur jelang berpuasa di bulan Ramadhan. Sayangnya, kesederhanaan sie reboh ini juga telah membuatnya dipandang sebelah mata.

Di Banda Aceh, misalnya, cukup sulit untuk menemukan sajian ini di rumah makan atau restoran. Untungnya, salah satu rumah makan di kawasan Lambaro, Aceh Besar, dan resto ayam tangkap Blang Bintang, masih menyediakan makanan tersebut.

“Dulu, tahun enam puluhan, kakek saya membuka rumah makan yang menyediakan sie reuboh di kawasan Jalan Perdagangan, Banda Aceh. Kemudian 1997, pindah ke Jalan Diponegoro dan dikelola oleh orang tua saya. Barulah sekitar 2006 saya melanjutkan usaha turun-temurun ini di kawasan Lambaro,” ungkap Rusli, pemilik Rumah Makan Delima Baru.

Saat Serambi berkunjung di rumah makan itu, terlihat seorang turis asing sedang menikmati hidangan sie reuboh. Meski tangannya dipenuhi gapah, ia terus saja menyantap makanan itu tanpa perduli orang-orang di sekitarnya. Ternyata, makanan ini tak hanya cocok di lidah para pribumi, tapi juga bisa diterima di lidah mereka yang tak terbiasa dengan makanan tersebut. Inilah makanan meugang hingga peunajoh prang.(*)

Tak Perlu Waktu Lama Memasaknya

SERING yang menduga, kuliner Aceh merupakan masakan yang sulit diolah. Teknik memasaknya pun terkesan sulit. Padahal, tak semua demikian. Buktinya, sie reuboh bisa dimasak dalam waktu yang cepat; hanya 30 menit. Teknik pengolahannya pun jauh dari kesan rumit.

Sederhanakah cara membuat sie reuboh? Jawabannya, sangat sederhana. Tak ada literatur dan ketentuan yang mengahruskan penggunaan daging tertentu. Pemilihan daging bisa disesuaikan dengan selera. Bisa menggunakan has luar dan bisa juga has dalam. Atau, jeroan pun boleh. Bahkan, bisa juga memilih daging sapi atau daging kambing.

Nah... bagaimana dengan bumbunya? Khusus sie reuboh, pemakaian bumbu rempahnya tak terlalu banyak. Yang dibutuhkan hanya bawang merah, bawang putih, cabai merah, cabai rawit, serta cuka-untuk memunculkan rasa asam. Seluruh bahan tersebut mudah diperoleh di pasaran maupun di ladang-ladang penduduk.

Untuk mencitrakan masakan khas yang yang didominasi rasa pedas, sie reboh banyak menggunakan cabai. Kemudian, sie reuboh diolah menjadi menu makanan. Proses pengolahannya tak sampai 30 menit.

Agar proses memasaknya lebih cepat dan singkat, dianjurkan menggunakan daging sapi has dalam atau has luar. Karena, tingkat keempukan lebih dari daging lainnya. Tapi, jika tak ingin repot-repot memasaknya, silakan rasakan kenikmatan sie reuboh ini di resto dan warung makan di Aceh Besar.(*)

Tanpa Sie Reuboh, Tak Jadi Meugang

MEUGANG atau yang disebut juga hari palahan, menjadi tradisi sakral di Aceh. Saking sakralnya, jika pada hari meugang tak membawa pulang daging, akan menjadi minder dan dianggap memalukan. Pada 1986 lalu, seorang pria rela memotong kemaluannya lantaran tak sanggup membawa daging ke rumah mertua pada hari meugang.

Kesakralan ini dilengkapi dengan tradisi tersendiri di masih-masing daerah. Di Aceh Besar, meugang yang diperingati sehari menjelang Idul Adha, Idul Fitri, dan puasa Ramadhan, akan hampa jika tanpa dilengkapi sie reuboh. Meski tak dilengkapi aturan kuat, masakan ini menjadi menu wajib bagi warga Aceh Besar saat meugang.

Sie reuboh memang memiliki karakter tersendiri. Selain rasanya yang khas, masakan ini juga tahan lama atau bisa disimpan berhari-hari. Satu keuntungan sie reuboh ini, tidak akan basi. Bila sudah dingin, tinggal dipanaskan, tetap masih enak dimakan kapan pun. Karena itu, saat meugang warga Aceh Besar sering membuat sie reuboh, untuk kemudian disimpan sebagai menu berbuka puasa atau sahur.

Kepupuleran masakan ini bukan hanya digemari oleh warga Aceh Besar. Beberapa warga daerah lain juga sering mencari sie reuboh di warung-warung nasi pada hari biasa. Tapi bagi warga Aceh Besar, seakan ada isyarat, meugang tak akan sah bila tak dilengkapi dengan sajian menu sie reuboh.(*)

Sumber : http://aceh.tribunnews.com

Ngopi di Kedai Kopi Bergaya Rumah Tradisional Aceh

Ngopi di Kedai Kopi Bergaya Rumah Tradisional Aceh
Rumoh Aceh (c) DetikTravel
Ngopi di Kedai Kopi Bergaya Rumah Tradisional Aceh - Bila Anda datang ke Kota Banda Aceh jangan heran bila sering melihat atau menjumpai warung atau kedai kopi. Maka tak salahnya bila Kota Banda Aceh dijeluki kota seribu satu warung kopi. Disini kita tidak susah mencari warung kopi, sejauh mata memandang pasti akan nampak kedai kopi.

Umumnya sekarang ini banyak kedai-kedai kopi yang ada di Aceh khususnya di Kota Banda Aceh berkonsep modern. Seperti tersedianya akses internet gratis atau wifi dan berbagai fasilitas lainnya seperti layaknya kafe. Rumoh Aceh bisa dikatakan warung kopi terbaik di Kota Banda Aceh.

Namun bila Anda ingin merasakan suasana kedai kopi yang bergaya tradisional, Anda bisa datang ke kedai kopi Rumoh Aceh. Bentuk bangunan kedai kopi ini memang sengaja di desain seperti gaya rumah tradisional Aceh.

Di kedai kopi Rumoh Aceh ini banyak menyediakan menu makanan dan minuman khas Aceh, serta tak ketinggalan kopi luwak. Disini Anda bisa menikmati suasana rumah tradisional yang Aceh banget, karena tempatnya disini nyaman dan lengkap.

Di kedai kopi Rumoh Aceh, menu andalannya adalah Kopi Luwak, Robusta organik, jus, dan minuman lainya.

Kulinernya juga beragam, kebanyakan menu makanan khas Aceh. Tempat ini juga cocok untuk bersantai.. Nuansa asli ke Acehan terasa kental di sini. Lokasi sangat mudah di kunjungi yaitu di Warong Rumoh Aceh JL. Rawa Sakti V, Jeuingke, Banda Aceh, Provinsi Aceh.

Berikut suasana di warung kopi Rumoh Aceh yang di kutip dari DetikTravel.
Pengunjung sedang makan siang
Suasana di Rumoh Aceh Kopi
Meja makan
Selain warung kopi Rumoh Aceh, di Kota Banda Aceh juga ada tempat ngopi yang tak kalah serunya. Warung kopi satu ini adalah yang tertua di Kota Banda Aceh, para artis dan para pejabat bila ke Kota Banda Aceh pasti ngopinya di warung kopi ini, yaitu warung kopi Solong. Baca selengkapnya di artikel ini.

Ke Banda Aceh Jangan Lupa Cicipi Mie Tumis

Ke Banda Aceh Jangan Lupa Cicipi Mie Tumis
Mie tumis Aceh @ATJEHPOSTcom/Ferhat Muchtar
Mau rencana berkunjung ke Banda Aceh, atau lagi di Banda Aceh, pastinya Anda tidak melewatkan mencoba kuliner khas Aceh. Salah satunya adalah mie tumis. Sekilas mie tumis ini tidak terlalu berbeda dengan mie Aceh kebanyakan. Warna mie kuning merona serupa kunyit, rasa rempah terasa melekat merupakan andalan hidangan ini.

Tapi mie tumis berbeda dengan mie rebus. Jika Anda sering mencicipi mie Aceh, ada bisa memesan hidangannya dengan cara pengolahan berbeda. Jika mie rebus, kuahnya lebih banyak sehingga mie terkesan “tenggelam”. Bagi Anda yang ingin mencicipi mie tanpa kuah, ada bisa memesan dengan pengolahan kering dan gurih, ini disebut mie kering.

Nah, bagi Anda yang ingin mencicipi mie dengan gabungan dua pengolahan tersebut, Anda bisa memilih mie tumis.

Tampilan mie tumis sangat menggoda. Anda bisa merasakan gurihnya mie yang kenyal dipadu dengan kuah rempah yang kental. Kuahnya tidak terlalu meruah, cukup membasahi mie sekedarnya saja. Irisan sayuran dan taburan bawang goreng, membuat tampilannya terkesan ramai. Belum lagi rasa acar bawang merah-cabe rawit yang memperkaya rasa asam dan pedas.

Kelezatan mie tumis ini semakin diperkaya dengan kriuknya kerupuk mulieng (emping melinjo) khas Aceh, dan potongan mentimun sebagai penutup santapan.

Bagi Anda yang berkunjung ke Banda Aceh, mencari mie tumis tidaklah terlalu sulit. Menu ini tersedia di semua warung yang mengandalkan mie Aceh sebagai menu utamanya. Salah satunya di Paknek Coffee, tempat nongkrong ini letaknya di kawasan Peunayong yang berhadapan dengan pusat kuliner malam di Jalan Ahmad Yani.

Di sini, mie tumis dibandrol dengan harga Rp 8.000/porsi. Jika Anda ingin mie tumis ditambah dengan potongan daging, harganya menjadi Rp 15.000. Jika menginginkan tambahan telur goreng, harga menjadi Rp 10.000/porsinya. Mie tumis ini lezatnya disantap ketika panas. Anda bisa menetralisirnya dengan minuman dingin. Kepingin coba? Mangat that!

Manisan Pala, Oleh-oleh Khas Tapak Tuan




Manisan pala merupakan salah satu jenis makanan ringan yang tergolong dalam kelompok manisan buah-buahan. Usaha pembuatan manisan pala tidak memerlukan teknologi yang sulit dan pembuatannya cukup mudah, oleh karena itu usaha ini mudah dilakukan oleh para pengusaha baru.

Pembuatan manisan pala umumnya dilakukan oleh pengusaha kecil di daerah penghasil pala. Kabupaten Aceh Selatan adalah kabupaten penghasil komoditi pala terbesar di Aceh bahkan di Pulau Sumatera. Manisan buah pala ini termasuk industri rumah tangga yang banyak dijumpai di Kabupaten Aceh Selatan. Selain diolah menjadi manisan dan sirup, pala dapat dibuat juga menjadi minyak pala yang berkhasiat tinggi untuk mengobati luka. Bahkan kini kue dan kembang gula pun dapat dibuat dari buah pala.

Manisan pala selain menjadi makanan ringan yang disajikan pada saat perayaan hari-hari besar lebaran dan tahun baru bagi masyarakat setempat juga dapat dijadikan buah tangan bagi wisatawan yang berkunjung ke daerah ini.



Baca juga


Kunjungan Singkat ke Sabang, Lakukan 10 Hal Ini!

Kota Sabang dari atas

Sebagai kota paling barat di Indonesia, Sabang menawarkan banyak kegiatan seru untuk wisatawan. Mulai dari wisata alam sampai kuliner, 10 hal ini wajib Anda lakukan saat berkunjung ke Sabang dan Pulau Weh!
Banyak hal menarik yang bisa dilakukan di Pulau Weh, dan Sabang sebagai kota terbesarnya. Wilayah paling barat Indonesia ini punya banyak wisata seru yang sayang untuk dilewatkan. Kalaupun Anda memiliki waktu singkat, minimal lakukanlah 10 hal ini di Sabang:
1. Mengunjungi Titik 0 Km Indonesia

Tugu Km 0

Bagi Anda yang sangat cinta dengan Republik Indonesia, tugu yang satu ini bisa menjadi kebanggaan tersendiri. Mengunjungi titik 0 Indonesia menjadi cerita seru yang tak akan terlupakan, apalagi kita bisa mendapatkan Sertifikat Km 0 yang ditandatangani langsung oleh Walikota Sabang.
Tugu ini berjarak kurang lebih 29 km dari pusat Kota Sabang, dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam 30 menit bila menggunakan kendaraan. Tugu setinggi 20 meter tersebut berwarna krem dan merah muda dengan lambang Garuda yang sedang menggengam angka 0 di puncaknya. Di lantai 2 tugu ada 2 buah prasasti, yang ditandatangani Menteri Riset dan Teknologi/Ketua BPP Teknologi BJ. Habibie, pada 24 September 1997. 
Isinya menjelaskan bahwa penetapan posisi geografis Km 0 Indonesia itu diukur para pakar BPP Teknologi dengan menggunakan teknologi Global Positioning System (GPS). Sementara prasasti kedua menjelaskan dalam angka  posisi geografis Km 0. Yang pasti jangan lupa untuk mengabadikan momen ini menggunakan kamera. Carilah posisi di bagian barat tugu untuk mendapatkan wujud tugu keseluruhan.
2. Snorkeling dan diving di Iboih

Snorkeling di Iboih

Tak lengkap ke Pulau Weh tanpa mencoba snorkeling atau diving di Iboih. Gampong Iboih memang terkenal dengan wisata baharinya. Ada 3 tempat yang menjadi primadona kunjungan wisatawan di Iboih, yaitu Pantai Teupin Sirkui, Pantai Pulau Rubiah dan Pantai Gapang. Untuk sekali snorkeling sepuasnya, wisatawan hanya dikenakan Rp.45.000 saja. Alat yang disewakan berupa snorkel, pelampung dan fin.
Sedangkan untuk sekali menyelam, wisatawan dikenakan tarif sebesar Rp 400.000 lengkap dengan instruktur. Bagi penyelam pemula harus mendapatkan teori dasar tentang fungsi perlengkapan menyelam selama kurang lebih 20 menit oleh sang instruktur, atau yang lebih dikenal sebagai 'buddy'.
Setelah paham, mulailah untuk bersiap-siap melakukan latihan dasar menyelam dengan kedalaman sekitar 2 meter. Setelah terbiasa bernapas menggunakan mulut di bawah air itu artinya sudah bisa untuk melanjutkan ke tingkat selanjutnya. Tapi jangan sekali-kali diving sendirian, usahakan buddy selalu menemani waktu diving. Hal ini untuk mengurangi risiko yang mungkin terjadi selama diving.
3. Mencicipi rujak buah Pulau Klah
Selain terkenal kelezatannya, yang menjadi daya tarik rujak Pulau Klah adalah pemandangan langsung menuju Pulau Klah dengan hamparan laut yang berwarna hijau dan biru, karena itulah rujak itu disebut sebagai rujak buah Pulau Klah walaupun tidak berada di Pulau Klah.
4. Makan sate gurita dan mie jalak

Sate Gurita

Apalah arti liburan tanpa wisata kuliner. Di Sabang, ada beberapa makanan yang wajib dicicipi pun digemari masyarakat dan wisatawan. Dua di antaranya adalah Sate Gurita dan Mie Jalak.
Sate gurita ini terhitung masakan khas Sabang yang belum lama ditemukan, namun keberadaannya sering dicari oleh warga dan wisatawan. Sate gurita ini pada dasarnya sama dengan sate biasa, dengan bumbu kacang atau bumbu padang. Yang jadi daya tariknya adalah daging gurita yang dimasak lembut dan bumbunya meresap sampai ke dalam. Untuk seporsi sate gurita hanya dikenai Rp 10.000 saja.

Mie Jalak

Mie jalak merupakan masakan khas Sabang yang udah ada sejak lama, merupakan resep turun temurun sejak zaman Belanda. Mie jalak ini bisa ditemukan di Toko Pulau Indah, di Jalan Perdagangan. Harga satu porsi mie jalak hanya Rp 10.000 saja.






5. Mengunjungi Tugu Sabang – Merauke
Selain tugu Km 0, Sabang memiliki tugu yang bersejarah lainnya yaitu Tugu Kembar Sabang Merauke. Dinamakan Tugu Kembar Sabang Merauke karena tugu ini yang memiliki kesamaan dengan tugu yang ada di Sota, Papua. Dikatakan kembar, karena ada 2 tugu yang sama dengan lokasi yang berbeda, satunya berada di Km 7, tugu Km 0 yang pertama, sedangkan satu lagi berada di pusat kota, di depan kantor Walikota Sabang.
6. Menikmati sunrise di Pantai Anoi Itam
Bagi pecinta Matahari Terbit, pemandangan indah di Pantai Anoi Itam jangan sampai terlewatkan. Berada kurang lebih 11 km dari pusat kota, inilah pantai di wilayah timur Sabang. Selain itu wisatawan juga bisa keindahan bawah lautnya. Terumbu karang yang ada di pantai berpasir hitam ini tidak kalah menarik dengan terumbu karang yang ada di Iboih, hanya saja alat snorkel harus dibawa sendiri.
7. 'Surga tersembunyi' di Jaboi
Menurut sejarah, Sabang berasal dari kata Shabag yang artinya gunung meletus. Hal ini dibuktikan dengan masih adanya gunung berapi yang ada di bawah laut dan daratan, salah satunya gunung berapi Jaboi yang berada di Gampong Jaboi, kurang lebih 15 km dari pusat Kota Sabang. Di Gunung Berapi jaboi kita bisa melihat langsung kawah yang masih aktif dan aliran air hangat yang mengalir di sekitar kawah. Selain itu kita bisa menikmati keindahan alam yang luar biasa cantik dengan latar yang serba putih.
8. Sunset di Sabang Hill
Bagi pecinta panorama matahari terbenam, Sabang Hill menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi. Selain menikmati sunset kita juga bisa menikmati pemandangan Teluk Sabang yang teduh, sambil menikmati segelas teh hangat di cafe hotel Sabang Hill. Kalau beruntung, wisatawan bisa melihat gerombolan lumba-lumba keluar dari teluk!
9. Belanja t-shirt di Kaos Piyoh
Saatnya berburu buah tangan. Bagi wisatawan yang mencari kaos atau t-shirt dengan desain yang unik dan menarik bisa mampir di Piyoh Design, di Jalan Cut Mutia No.11, Kota Atas. Toko ini menyediakan beragam cinderamata khas Sabang seperti pin, gantungan kunci, boneka, tas, stiker dan lain-lain yang bercirikan Kota Sabang. Kualitasnya juga bagus.
10. Oleh-oleh bakpia dan salak Sabang
Siapa bilang bakpia hanya ada di Yogya? Anda bisa membawa cinderamata berupa bakpia dan salak Sabang. Bakpia Sabang terkenal karena memiliki rasa yang enak, lembut di dalam renyah dan gurih di luar. Ada berbagai varian rasa seperti original, pandan, kopi dan durian. Harga perkotaknya hanya Rp 15.000 saja. Wisatawan bisa mendapatkannya di Dapat Jalan Perdagangan atau Pelabuhan Balohan.
Satu lagi yang wajib dibawa pulang dari Sabang yaitu salak. Salak hasil perkebunan Balohan ini memiliki rasa yang renyah dan manis, selain itu memiliki bentuk yang lebih kecil dibanding salak yang lain. Harga perkilonya hanya Rp 20.000 saja, bisa didapatkan di Pelabuhan Balohan.

Lihat juga:

Yuk Ramaikan Sail Sabang 2017 “Sabang Sebagai Pelabuhan Hub Wisata Bahari Internasional”
(Hijrah Saputra, detikTravel)

Kopi Solong Ulee Kareng dan 4 Oleh-oleh yang Aceh Banget!

Berwisata ke tanah rencong belum pas jika tak membawa oleh-oleh khas Aceh. Dari senjata tradisional yang khas yaitu rencong sampai kue manis yaitu timphan, inilah beragam oleh-oleh yang khas Aceh banget!

Beda tempat, beda lagi oleh-olehnya. Beruntung Provinsi Aceh diberi kekayaan budaya, tradisi, dan kuliner sehingga banyak yang bisa dijadikan buah tangan untuk keluarga dan kerabat. Dikutip dari detikTravel, ini dia 4 oleh-oleh dari Provinsi Aceh yang pantas Anda beli:

1. Rencong dan Songket Aceh

Rencong, senjata tradisional Aceh (goaceh.com)

Tau gak sih kenapa Provinsi Aceh disebut 'Tanah Rencong' adalah karena senjata ini. Rencong merupakan senjata tajam, tergolong sebagai belati, yang digunakan dalam Kerajaan atau Kesultanan Aceh. Rencong berukir kutipan ayat suci Al Quran, biasanya terbuat dari tanduk kerbau dengan kayu sebagai sarungnya.

Layaknya keris bagi masyarakat Jawa, rencong punya kekuatan mistis bagi warga Aceh. Sampai saat ini rencong masih dipakai sebagai atribut busana dalam upacara tradisional Aceh.

Tak sulit mendapatkan rencong kalau Anda berwisata ke Aceh, terutama ke ibu kotanya yakni Banda Aceh. Beberapa tempat membeli rencong antara lain Gaya Souvenir dan Kutaraja Suvenir di di Jl. Twk Pulo Dibaroh Kampung Baru, Pusaka Souvenir di Jl. Sri Ratu Safiatuddin Peunayong, dan Rencong Aceh di Jl. Mohd Jam.

"Harganya tergantung ukuran. Rencong besar sekitar Rp 150.000, yang kecil Rp 70.000-80.000," kata Roma, Public Relations Komunitas 'I Love Aceh' Kamis (18/4/2013).

Selain rencong, Aceh juga punya kain khas yakni songket. Kerajinan songket Aceh berasal dari Desa Siem di Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar. Dari Banda Aceh, Anda bisa naik labi-labi (kendaraan umum) atau mobil pribadi dengan jarak tempuh sekitar 14 Km.

Tak sekadar kain untuk pakaian, songket Aceh digunakan untuk beragam keperluan seperti hiasan meja, hiasan dinding, dan sebagainya. Selain menyambangi langsung tempat pembuatannya, Anda juga bisa belanja songket Aceh di toko-toko suvenir.

Pembuatan songket Aceh (atjehpost.com)

"Kalau songket agak mahal, Rp 200.000 per helai sarung," tambah Roma.

2. Kopi Solong Ulee Kareng

Kopi khas Aceh (atjehpost.com)

Aceh terkenal dengan kopinya. Terlepas dari kebiasaan masyarakat setempat menyeruput kopi, wisatawan bisa membawa kopi Aceh sebagai buah tangan. Salah satu gerai kopi yang paling terkenal adalah Ulee Kareng yang berlokasi di Jl Lamreung No 2, Banda Aceh.

Kopi yang terkenal adalah solong, yang disajikan lewat saringan kain yang bentuknya mirip kaus kaki. Kalau menikmati kopi solong di tempat, Anda bisa melihat barista memindahkan kopi dari satu ceret ke ceret yang lain. Citarasanya tak usah diragukan, kopi yang dirintis sejak tahun 1960 ini adalah yang paling terkenal kelezatannya di Aceh.

"Kita punya beragam jenis kopi mulai dari arabica super sampai bubuk kasar kopi robusta," tutur Budi, pegawai gerai kopi Ulee Kareng.

Lanjut Budi, harganya beragam tergantung kualitas. Yang termurah adalah bubuk kopi 100 gram yang dijual mulai Rp 7.000.

"Yang paling mahal kopi arabica super. Ukuran 300 gram harganya Rp 30.000," tambahnya.

 3. Kue tradisional Aceh

Timphan, salah satu kue tradisional Aceh (atjehpost.com)

Salah satu primadona wisata kuliner di Aceh adalah kue tradisionalnya. Ada banyak kue tradisional yang bisa dijumpai di seantero Aceh, namun ada 3 jenis yang paling terkenal di kalangan wisatawan.

Pertama adalah timphan. Kue basah ini dibungkus seperti lontong pipih dengan ukuran yang tak terlalu besar. Rasanya manis legit, sangat nikmat kalau dijadikan teman minum kopi Aceh. Karena tergolong kue basah, timphan hanya tahan sampai 2 hari karena dibuat tanpa bahan pengawet.

Kue kedua adalah bhoi. Kue yang dikenal di seluruh Aceh ini punya bentuk beragam mulai dari ikan, bunga, bintang, dan lain-lain. Tradisinya, kue bhoi disajikan saat hajatan atau pesta. Namun sekarang kue ini digemari wisatawan sebagai buah tangan, karena harganya relatif murah mulai dari Rp 5.000 per potongnya tanpa ada isi.

Ketiga, kue adee. Ini adalah kue basah sejenis bingkang dengan aroma bawang namun bercitarasa manis yang khas. Kue ini berasal dari kawasan Kabupaten Pidie Jaya. Biasanya kue ini jadi makanan pembuka saat buka puasa di bulan Ramadan. Namun sekarang, wisatawan bisa membawa adee sebagai oleh-oleh manis untuk keluarga.

Tak sulit mencari kue-kue tradisional Aceh, termasuk ketiga jenis tersebut. Salah satu toko yang menjualnya yakni Istana Kueh Tradisional di Jl Cut Nyak Dhien, Lampisang Lhoknga Km 8, Kabupaten Aceh Besar. Selain itu Anda juga bisa menyambangi Pasar Aceh di Peunayong, persis di belakang Masjid Raya Baiturrahman.


4. Dendeng Aceh
Dendeng Aceh (jalanjalanyuk.com)
Bisa jadi, Dendeng Aceh adalah makanan yang paling tahan lama untuk dijadikan oleh-oleh. Dendeng Aceh terbuat dari daging sapi atau rusa yang diiris tipis, dikeringkan, dan dicampur olahan rempah dan bumbu tradisional. Ada berbagai rasa mulai dari asin, manis, sampai rasa kari.

Salah satu toko yang menjual Dendeng Aceh adalah Toko Dendeng Seulawah di Jl Cik Ditiro Banda Aceh, di depan Terminal Batoh. Toko-toko suvenir dan Pasar Aceh yang berada di Peunayong juga menyuguhkan Dendeng Aceh dengan beragam harga.

Di toko, 1 Kg dendeng sapi dijual Rp 200.000 sedangkan dendeng rusa sekitar Rp 300.000. Meski tanpa pengawet, Dendeng Aceh bisa bertahan hingga 3 bulan!


(detikTravel)

Inilah Rahasia Kelezatan Kari Aceh

Kari kambing Aceh. Foto: Kompas
AWAL hari beraroma kari di pertengahan Februari 2013. Musim angin barat nan basah mencipta mendung di atas meunasah (mushala) Desa Pupu, Kecamatan Ulim, Pidie Jaya, Nanggroe Aceh Darussalam. Namun, mendung tak merundung para lelaki di desa itu menyiapkan pesta.

Muhammad (45), sang koki kampung, menuang minyak kelapa dalam kuali besi bergaris tengah nyaris semeter. Begitu mendidih, dia segera menuang aneka bumbu: serai, bungong lawang keling, daun pandan, daun salam, bawang putih keprek, bawang merah iris, dan daun temurui (bay leaf). Wangi rempah pun menguar, memenuhi kolong meunasah.

Itu baru permulaannya saja. Muhammad lantas menuang seember penuh potongan daging dari tiga ekor kambing ke dalam kuali. Begitu daging mulai layu, ia menambahkan seember penuh bumbu kental berwarna kuning ke atasnya. Dengan tangan telanjang, Muhammad mengaduk bumbu dan daging langsung di atas kuali. Campuran air dan asam jawa kemudian ditambahkan. Ketika kuah daging mendidih, santan ditambahkan.

Dalam dua jam, kuah kare kameng—bahasa Aceh untuk kari kambing—nan berlemak itu pun matang. Segera saja udara dipenuhi wangi kari. Muhammad menciduk kari kambing dan menyodorkannya ke empat orang juru masak senior yang hari itu berperan sebagai juru cicip. Mereka diam sesaat menunggu jejak rasa kari tercecap di lidah. Setelah itu, mereka membisiki Muhammad. Juru masak itu bergegas menambahkan garam dan beberapa rempah.

Para pencicip mencoba lagi. Kali ini, mereka menganggukkan kepala tanda kari tersebut pantas dihidangkan dalam kenduri maulid hari itu.

Muhammad pun bisa bernapas lega. Puluhan laki-laki di meunasah yang sedari pagi ingin berpesta kari tersenyum gembira. Mereka segera berbaris untuk mendapatkan sepiring kari. Kami juga kebagian mencicipi kari dengan daging demikian empuk. Setiap tetes kuahnya menghadirkan aneka rasa yang serasi: gurih, pedas, hangat, asin, dan asam. Hari itu kami benar-benar pesta kari.

Di sela-sela kemeriahan pesta, Muhammad menceritakan rahasia kelezatan kari aceh. Ada 22 bumbu yang ia gunakan, antara lain kelapa gongseng, kelapa kukur, santan, kemiri, kunyit, pala, lawang keling atau bisa diganti cengkeh, lada, jahe, cabai, kayu manis, daun kari, pandan, dan sederet bumbu lain. Aneka bumbu itu harus diracik dalam takaran yang pas. ”Seberapa pun daging yang dimasak, kelezatan harus tetap sempurna,” ujar Muhammad yang biasa memasak dalam ukuran satu-dua ekor kambing atau lembu.

Buat kami, kari masakan Muhammad hari itu sudah lezat. Namun, di lidah seorang pencicip, Razali Hanafiah (61), rasa kari itu belum sempurna. ”Bumbunya masih kurang, harusnya ada 24 bumbu,” kata Razali, paman sekaligus guru masak Muhammad.

Dia lantas menunjukkan dua jenis bumbu yang absen dalam kari olahan Muhammad hari itu, yaknikacakra ci (kaskas ) dan jinten manis yang disimpan rapi di dalam stoples. Kacakra ci yang berbentuk butiran kecil berwarna kuning kecoklatan itu menambah rasa gurih pada kuah kari. ”Payah (susah) memang mencari bumbu ini sekarang. Kita harus cari di warung India,” kata Razali.

”Kalau mau lebih enak lagi, ya, ditambah biji bakung (baca: ganja),” sahut Muhammad. ”Tapi, kare kameng tadi tidak pakai, ya,” dia buru-buru menambahkan.

Dulu, biji ganja kerap dipakai dalam masakan Aceh. Fungsinya untuk memberi rasa gurih dan mengempukkan daging. Ada yang percaya biji-biji itu meningkatkan nafsu makan. ”Saking populernya ganja di masa lalu, ada hikayat yang menulis soal itu. Biji bakung itu sempat jadi identitas orang Aceh,” kata Nurdin, peneliti hikayat sekaligus Kepala Museum Aceh.

Sejarawan Aceh, Rusdi Sufi, menambahkan, ganja dulu dipakai orang Aceh sebagai bumbu makanan dan racikan obat. ”Waktu saya kecil, ketika tidak ada ikan atau daging untuk dimasak, cukup ambil nangka muda. Saya cincang, masak di kuali dengan bumbu kari, kasih sedikit biji bakung, sedap sudah. Itu tahun 1970-an. Sekarang tentu tidak lagi sebab ganja dilarang,” katanya diikuti tawa.

Sumber: kompas