Tampilkan postingan dengan label Souvenir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Souvenir. Tampilkan semua postingan

Kopi Solong Ulee Kareng dan 4 Oleh-oleh yang Aceh Banget!

Berwisata ke tanah rencong belum pas jika tak membawa oleh-oleh khas Aceh. Dari senjata tradisional yang khas yaitu rencong sampai kue manis yaitu timphan, inilah beragam oleh-oleh yang khas Aceh banget!

Beda tempat, beda lagi oleh-olehnya. Beruntung Provinsi Aceh diberi kekayaan budaya, tradisi, dan kuliner sehingga banyak yang bisa dijadikan buah tangan untuk keluarga dan kerabat. Dikutip dari detikTravel, ini dia 4 oleh-oleh dari Provinsi Aceh yang pantas Anda beli:

1. Rencong dan Songket Aceh

Rencong, senjata tradisional Aceh (goaceh.com)

Tau gak sih kenapa Provinsi Aceh disebut 'Tanah Rencong' adalah karena senjata ini. Rencong merupakan senjata tajam, tergolong sebagai belati, yang digunakan dalam Kerajaan atau Kesultanan Aceh. Rencong berukir kutipan ayat suci Al Quran, biasanya terbuat dari tanduk kerbau dengan kayu sebagai sarungnya.

Layaknya keris bagi masyarakat Jawa, rencong punya kekuatan mistis bagi warga Aceh. Sampai saat ini rencong masih dipakai sebagai atribut busana dalam upacara tradisional Aceh.

Tak sulit mendapatkan rencong kalau Anda berwisata ke Aceh, terutama ke ibu kotanya yakni Banda Aceh. Beberapa tempat membeli rencong antara lain Gaya Souvenir dan Kutaraja Suvenir di di Jl. Twk Pulo Dibaroh Kampung Baru, Pusaka Souvenir di Jl. Sri Ratu Safiatuddin Peunayong, dan Rencong Aceh di Jl. Mohd Jam.

"Harganya tergantung ukuran. Rencong besar sekitar Rp 150.000, yang kecil Rp 70.000-80.000," kata Roma, Public Relations Komunitas 'I Love Aceh' Kamis (18/4/2013).

Selain rencong, Aceh juga punya kain khas yakni songket. Kerajinan songket Aceh berasal dari Desa Siem di Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar. Dari Banda Aceh, Anda bisa naik labi-labi (kendaraan umum) atau mobil pribadi dengan jarak tempuh sekitar 14 Km.

Tak sekadar kain untuk pakaian, songket Aceh digunakan untuk beragam keperluan seperti hiasan meja, hiasan dinding, dan sebagainya. Selain menyambangi langsung tempat pembuatannya, Anda juga bisa belanja songket Aceh di toko-toko suvenir.

Pembuatan songket Aceh (atjehpost.com)

"Kalau songket agak mahal, Rp 200.000 per helai sarung," tambah Roma.

2. Kopi Solong Ulee Kareng

Kopi khas Aceh (atjehpost.com)

Aceh terkenal dengan kopinya. Terlepas dari kebiasaan masyarakat setempat menyeruput kopi, wisatawan bisa membawa kopi Aceh sebagai buah tangan. Salah satu gerai kopi yang paling terkenal adalah Ulee Kareng yang berlokasi di Jl Lamreung No 2, Banda Aceh.

Kopi yang terkenal adalah solong, yang disajikan lewat saringan kain yang bentuknya mirip kaus kaki. Kalau menikmati kopi solong di tempat, Anda bisa melihat barista memindahkan kopi dari satu ceret ke ceret yang lain. Citarasanya tak usah diragukan, kopi yang dirintis sejak tahun 1960 ini adalah yang paling terkenal kelezatannya di Aceh.

"Kita punya beragam jenis kopi mulai dari arabica super sampai bubuk kasar kopi robusta," tutur Budi, pegawai gerai kopi Ulee Kareng.

Lanjut Budi, harganya beragam tergantung kualitas. Yang termurah adalah bubuk kopi 100 gram yang dijual mulai Rp 7.000.

"Yang paling mahal kopi arabica super. Ukuran 300 gram harganya Rp 30.000," tambahnya.

 3. Kue tradisional Aceh

Timphan, salah satu kue tradisional Aceh (atjehpost.com)

Salah satu primadona wisata kuliner di Aceh adalah kue tradisionalnya. Ada banyak kue tradisional yang bisa dijumpai di seantero Aceh, namun ada 3 jenis yang paling terkenal di kalangan wisatawan.

Pertama adalah timphan. Kue basah ini dibungkus seperti lontong pipih dengan ukuran yang tak terlalu besar. Rasanya manis legit, sangat nikmat kalau dijadikan teman minum kopi Aceh. Karena tergolong kue basah, timphan hanya tahan sampai 2 hari karena dibuat tanpa bahan pengawet.

Kue kedua adalah bhoi. Kue yang dikenal di seluruh Aceh ini punya bentuk beragam mulai dari ikan, bunga, bintang, dan lain-lain. Tradisinya, kue bhoi disajikan saat hajatan atau pesta. Namun sekarang kue ini digemari wisatawan sebagai buah tangan, karena harganya relatif murah mulai dari Rp 5.000 per potongnya tanpa ada isi.

Ketiga, kue adee. Ini adalah kue basah sejenis bingkang dengan aroma bawang namun bercitarasa manis yang khas. Kue ini berasal dari kawasan Kabupaten Pidie Jaya. Biasanya kue ini jadi makanan pembuka saat buka puasa di bulan Ramadan. Namun sekarang, wisatawan bisa membawa adee sebagai oleh-oleh manis untuk keluarga.

Tak sulit mencari kue-kue tradisional Aceh, termasuk ketiga jenis tersebut. Salah satu toko yang menjualnya yakni Istana Kueh Tradisional di Jl Cut Nyak Dhien, Lampisang Lhoknga Km 8, Kabupaten Aceh Besar. Selain itu Anda juga bisa menyambangi Pasar Aceh di Peunayong, persis di belakang Masjid Raya Baiturrahman.


4. Dendeng Aceh
Dendeng Aceh (jalanjalanyuk.com)
Bisa jadi, Dendeng Aceh adalah makanan yang paling tahan lama untuk dijadikan oleh-oleh. Dendeng Aceh terbuat dari daging sapi atau rusa yang diiris tipis, dikeringkan, dan dicampur olahan rempah dan bumbu tradisional. Ada berbagai rasa mulai dari asin, manis, sampai rasa kari.

Salah satu toko yang menjual Dendeng Aceh adalah Toko Dendeng Seulawah di Jl Cik Ditiro Banda Aceh, di depan Terminal Batoh. Toko-toko suvenir dan Pasar Aceh yang berada di Peunayong juga menyuguhkan Dendeng Aceh dengan beragam harga.

Di toko, 1 Kg dendeng sapi dijual Rp 200.000 sedangkan dendeng rusa sekitar Rp 300.000. Meski tanpa pengawet, Dendeng Aceh bisa bertahan hingga 3 bulan!


(detikTravel)

Gampong Pu'uk, Penghasil Gerabah Tradisional di Wilayah Pidie

Belanga yang dijemur di bawah terik matahari.
Pidie - Jalan berlubang dan berkerikil terbentang sejauh mata memandang. Hamparan sawah yang luas juga mengapit kiri dan kanan ruas jalan menuju Gampong Pu'uk, Kecamatan Delima, Kabupaten Pidie. Dari Kota Sigli menuju Gampong yang terkenal sebagai penghasil gerabah, setidaknya butuh waktu 20 menit untuk menuju desa tujuan.
Di beritakan the globe journal, ratusan gerabah berbentuk belanga, priuk, dan peralatan dapur lainnya tersusun rapi. Dijemur di bawah terik matahari untuk mendapatkan hasil yang lebih baik sebelum dibakar bara api.
Nurlina (35)
Pekerjaan tersebut dilakoni oleh ibu-ibu rumah tangga di desa tersebut. Seperti halnya Nurlina (35) yang mengaku profesi tersebut merupakan warisan endatu.
"Membuat belanga dari tanah liat telah turun temurun kami lakoni. Saya sudah dari kecil membuat belanga, dan itu ibu saya yang ajari dulu," kata Nurlina sambil melanjutkan pekerjaannya.
Sebagai ibu rumah tangga, pekerjaan tersebut paling mungkin dilakukan Nurlina di tengah-tengah kewajiban lainnya. Lagi pula baginya, membuat gerabah merupakan pekerjaan yang mudah. Hal itu didukung pula oleh ketersediaan bahan baku berupa tanah liat dengan kualitas yang bagus.
 "Tanah liat kami ambil di Gle Juruet, dan pasir sungai tinggal ambil di Sungai sepanjang Garot," ujarnya.
Lumrahnya, Nurlina dan ibu-ibu setempat butuh waktu 3-4 hari untuk menyediakan gerabah dalam jumlah tertentu. Setidak-tidaknya jelas ibu paruh baya ini, dirinya mampu memproduksi 70-80 gerabah dalam berbagai bentuk selama rentang waktu itu.
Meski tak tinggi, permintaan gerabah di wilayah Pidie terbilang cukup bagi Nurlina dan ibu rumah tangga lainnya di Desa Pu'uk. Karena itu pula sampai saat ini, produksi gerabah masih dilakukan meskipun masih menggunakan cara-cara tradisional.
" Saya jual ke muge yang ada di Gampong dengan harga Rp 1500-Rp 4000," sambung Rohani (65), yang se-profesi dengan Nurlina.
Rohani (65)
Pernah keduanya berharap, Pemerintah Pidie khususnya dapat menjaga gerabah produksi desanya sebagai salah satu khazanah Aceh. Namun tak banyak yang bisa diharapkan lantaran produksi gerabah pihaknya hanya bergantung pada pasar lokal. Padahal sebut keduanya, andai saja pemerintah mempromosi gerabah buatan lokal Aceh, bukan tak mungkin pihak luar tertarik dengan produk tradisional tersebut.

(theglobejournal)

Kerawang: Kerajinan Bordir Suku Gayo


Kerawang awalnya adalah ukiran pada rumah Adat Gayo "Pitu Ruang", yang kemudian motifnya diadopsi kedalam barang-barang kerajinan khas Gayo. Bordir Kerawang memiliki corak yang khas, dimana mempunyai makna filosofi yang dalam dari setiap ukiran dan bentuknya. Bordir Kerawang Gayo ini sering dipakai untuk hiasan dinding, alas meja, motif pakaian , tas dan lain sebagainya. Motif Kerawang Gayo tidak hanya diminati masyarakat lokal saja, namun daerah Aceh lainnya juga banyak mencari motif ini. Bahkan wisatawan dari luar daerah Aceh juga menyukai kerajinan yang menggunakan Kerawang Gayo ini.








Sumber : galleryaceh.info

Kopiah Meukutop - Topi Adat Aceh

Kopiah Meukutop adalah Topi Adat tradisional Aceh, biasanya digunakan sebagai pelengkap pakaian adat Aceh yang dikenakan oleh pria. Kopiah MeukutopTerbuat dari kain songket Aceh dan pernak-pernik khas Aceh lainnya. 

Saat ini Kopiah Meukutop dapat juga dijadikan souvenir yang indah dan menarik ,Kopiah Meukutop ini hampir dapat ditemukan di tiap Kabupaten/Kota di Propinsi Aceh, kecuali untuk daerah-daerah tertentu yang pakaian adatnya berbeda.


Sumber : visitaceh.com

Kasab: Sulaman Khas Aceh


Kasab atau kerajaninan benang emas dikenal secara luas sebagai sulaman khas tradisional dari Aceh yang dibuat diatas kain beludru. Ukiran Kasab terdiri dari banyak motif yang pada umumnya berbentuk flora yang disulam dengan rapi bahkan dihiasi dengan manik-manik berwarna emas. Bagi masyarakat tradisional aceh penggunaan kasab sama halnya dengan penggunaan rencong, jenis kasab bisa mewakili derajat atau menjadi parameter status sosial, misalnya bagi raja dan rakyat umum bentuk dan coraknya akan sedikit berbeda dari segi warna dan unsurnya. tapi sekarang perbedaan itu sudah tidak terlalu dipermasalahkan dan bahkan disetarakan.
Dilihat dari pemakaiannya, kasab merupakan bagian dari perangkat adat masyarakat aceh yang berfungsi sebagai dekorasi. Meskipun sebagai dekorasi, kasab sebenarnya mengandung nilai/makna sendiri sehingga tidak sekedar mengandung nilai estetika semata. Misalnya pada ayakan yang biasa dipasang pada dinding utama akan dihiasi dengan kipas berjumlah 17 buah, angka 17 tersebut merupakan jumlah sujud dalam shalat selama sehari semalam sebagai perwujudan dari falsafah hidup masyarakat aceh yang tidak terlepas dari ajaran syariat, “adat dikandong hayat, syariat dikandong badan”. Begitulah aceh, setiap aktivitas kebudayaan masyarakat selalu menjunjung tinggi nilai religiusitas
Begitu juga halnya dengan ukiran-ukiran pada kasab yang penuh dengan corak dan motif flora. Pemilihan motif flora ini sendiri mengandung makna keagamaan yang kuat yakni terkandung nilai-nilai ajaran syariat Islam sehingga adanya sebuah pemahaman bahwa adanya pelarangan untuk menggambarkan bentuk makhluk hidup seperti hewan atau manusia. Di sisi lain Leigh (1987) dalam bukunya Hands Of Time: The Crafts Of Aceh menjelaskan kekayaan motif flora yang terdapat pada hasil-hasil karya seni di Aceh mempunyai makna dalam kerangka konseptual Islam yang mengaitkan taman dan alam tumbuh-tumbuhan dengan taman firdaus.

Warna yang terkandung pada kasab terdiri dari 4 warna khusus, seperti pada tiree atau tirai misalnya membentang beludu polos secara vertikal antara warna kuning, merah, hujau dan hitam. Ke empat warna tersebut mewakili status sosial masyarakat tradisional aceh mulai dari kuning melambangkan raja, merah sebagai hulubalang atau panglima, hijau sebagai ulama sementara hitam sebagai rakyat jelata, setidaknya begitulah kata zuriati salahsatu pelaku pengrajin kasab di kabupaten aceh selatan.

Berdasarkan fungsinya kasab terdiri dari beberapa bagian, yaitu pelaminan, pinto geurubang, bhi, Ayu-ayu, Seuradi, Dalansi, Tilam Duek, Mereuecu, tiang pelaminan, tirai, aneuk tirai, langet-langet, Mata langet, Mata Kasur, dan kipas. Setiap bagian kasab mengandung corak yang berbeda-beda. Proses pembuatan satu bagian kasab biasanya menghabiskan waktu berbulan-bulan karena perlu ketelitian dan konsentrasi serta kesabaran untuk menghasilkan sulaman kasab yang sempurna.
Dewasa ini kasab tidak hanya menggunakan benang berwarna emas tetapi ada yang menggunakan warna perak. Penggunaan benang berwarna perak biasanya mempengaruhi harga sulaman dan tentunya warna perak lebih murah. Penggunaan kasab saat ini umumnya digunakan pada acara-acara yang bersifat khusus seperti pernikahan, sunatan rasul, aqiqah dan seremonial lainnya yang mengandung nilai adat. Namun sulaman kasab sendiri sekarang ini tidak terbatas kepada perangkat dekorasi pesta namun sulaman benang emas khas aceh ini sudah merambah pada souvenir dan hiasan lainnya yang dijual sebagai cenderamata khas aceh.

Makna dan Sejarah Rencong Aceh


Meski tidak ditemukan catatan sejarah yang mengisahkan asal usul Rencong, namun asal mula Rencong terekam dalam sebuah legenda Aceh.
Dalam sebuah cerita rakyat dikisahkan, zaman dahulu di daratan Aceh hidup seekor burung raksasa sejenis Rajawali, orang Aceh menyebutnya “Geureuda”. Keberadaan burung raksasa tersebut sangat menggangu kehidupan rakyat. semua jenis tanaman, buah-buahan dan ternak rakyat dilahapnya.
Semua jenis perangkap dan senjata yag digunakan untuk membunuhnya tidak mapan, malah makin lama “Geureuda” tersebut makin beringas melahap tanaman rakyat, mungkin dari legenda itulah sampai sekarang orang Aceh menyebutkan “Geureuda” kepada orang – orang yang congok.
Oleh raja yang berkuasa ketika itu, menyuruh seorang pandai besi yang juga ulama untuk menciptakan sebuah senjata ampuh yang mampu membunuh Geureuda tersebut. Oleh pandai besi yang mempunyai ilmu maqfirat besi, setelah melakukan puasa, sembahyang sunat dan berdoa baru menempa besi pilihan dengan campuran beberapa unsur logam menjadi Rencong.
rencongMenyebut senjata rakyat Aceh, selain meriam dan senjata api, yang paling terkenal adalah Rencong. Bahkan, salah satu gelar tanah Aceh disebut juga sebagai “Tanah Rencong”. Rencong (Reuncong) adalah senjata tradisional dari Aceh. Rencong Aceh memiliki bentuk seperti huruf (L) atau lebih tepat seperti tulisan kaligrafi“Bismillah”. Rencong termasuk dalam kategori dagger atau belati (bukan pisau atau pedang).
Rencong selain simbol kebesaran para bangsawan, merupakan lambang keberanian para pejuang dan rakyat Aceh di masa perjuangan. Keberadaan rencong sebagai simbol keberanian dan kepahlawanan masyarakat Aceh terlihat bahwa hampir setiap pejuang Aceh, membekali dirinya dengan rencong sebagai alat pertahanan diri. Namun sekarang, setelah tak lagi lazim digunakan sebagai alat pertahanan diri, rencong berubah fungsi menjadi barang cinderamata yang dapat ditemukan hampir di semua toko kerajinan khas Aceh.

Mengenai sejarah timbulnya akal manusia dalam menciptakan senjata reuncong ini dapat ditinjau dari dua segi:
Pertama, sejak sebelum zaman Islam orang Aceh sudah menggunakan berbagai peralatan dalam kehidupan sosial budaya masyarakat. Berbagai macam bentuk alat-alat atau perkakas itu antara lain, alat perang, kampak, pisau dan sebagainya. Sudah barang tentu dalam penciptaan berbagai macam alat yang dibutuhkan tersebut mempunyai cara pembuatannya masing-masing, sebagai tampak pada kampak genggam zaman batu tua (Paleolithikum) menjadi kampak licin atau diasah dengan baik sehingga tajam, merupakan hasil ciptaan manusia dalam pembuatan alat-alat pada zaman batu baru (Neolithikum).
Demikian juga terjadi pada alat-alat pemotong seperti parang. Tentu saja pada mulanya berbentuk kasar, lama kelamaan berbentuk licin dan halus. Hal ini merupakan tugas dari pandai-pandai besi, yang di Aceh dikenal dengan nama Pandee Beusou. Pandee Beusou itu umumnya menciptakan alat-alat pemotong yang praktis untuk rumah tangga yaitu pisau yang pada mulanya berbentuk kasar kemudian secara perlahan-lahan mencapai kesempurnaannya.
Kedua, Reuncong dilihat sebagai senjata perang. Alat-alat ini mula-mula berasal dari pisau yang digunakan secara praktis kemudian dikembangkan untuk penggunaannya yang bersifat magis religius setelah dibentuk sedemikian rupa, sehingga menjadi senjata perang dan biasanya diciptakan oleh pandee beusou yang ahli. Pandee beusou di samping berkeahlian menciptakan bentuk yang indah, dia juga harus dapat menciptakan bentuk yang dapat membahayakan musuh, kalau digunakan untuk menikam.
Sebagaimana tiap naluri manusia menginginkan alat perkakas pribadi, demikian juga bahwa alat yang seperti rencong diciptakan orang Aceh sebelum masuk Islam ke Indonesia. Untuk selanjutnya demikian pula bahwa rencong secara evolusi mencapai kesempurnaannya mulai sejak masuknya Islam ke Indonesia. Dengan perkataan lain bahwa rencong itu mulai dikenal sejak berdirinya kerajaan Islam yang bernama Pasee. Sejak pasee tumbuh dan berkembang dia membutuhkan pola strategi pertahanan yang kuat. Pola strategi pertahanan tersebut membutuhkan kekuatan anggota militer yang dibarengi dengan persenjataan dan peralatan perang yang cukup memadai. Salah satu alat ini adalah rencong dan menurut para ahli sejarah rencong ini mulai digunakan pertama kali pada saat Sultan Ali Muqhayat-Syah memerintah kerajaan pada tahun 1514-1528.
Senjata rencong ini menemui bentuk yang sebenarnya pada waktu itu sebagaimana yang kita kenal sekarang, yang kelihatannya lebih berorientasi pada kepercayaan Islam sebagai agama yang amat berpengaruh dalam penghidupan sosial budaya masyarakat Aceh.
Menurut sejarahnya, rencong memiliki tingkatan. Pertama, rencong yang digunakan oleh raja atau sultan. Rencong ini biasanya terbuat dari gading (sarung) dan emas murni (bagian belatinya). Kedua, rencong-rencong yang sarungnya biasa terbuat dari tanduk kerbau atau kayu, sedangkan belatinya dari kuningan atau besi putih.
Bentuk rencong berbentuk kalimat bismillah, gagangnya yang melekuk kemudian menebal pada sikunya merupakan aksara Arab “Ba“, bujuran gagangnya merupaka aksara “Sin“, bentuk lancip yang menurun kebawah pada pangkal besi dekat dengan gagangnya merupakan aksara “Mim“, lajur besi dari pangkal gagang hingga dekat ujungnya merupakan aksara “Lam“, ujung yang meruncing dengan dataran sebelah atas mendatar dan bagian bawah yang sedikit keatas merupakan aksara “Ha“.
Rangkain dari aksara Ba, Sin, Lam, dan Ha itulah yang mewujudkan kalimat Bismillah. Jadi pandai besi yang pertama kali membuat rencong, selain pandai maqrifat besi juga memiliki ilmu kaligrafi yang tinggi. Oleh karena itu , rencong tidak digunakan untuk hal-hal kecil yang tidak penting, apalagi untuk berbuat keji, tetapi rencong hanya digunakan untuk mempertahankan diri dari serangan musuh dan berperang dijalan Allah.
Secara umum, ada empat macam rencong yang menjadi senjata andalan masyarakat Aceh.
Rencong Meucugek (Meucungkek), Disebut meucugek karena pada gagang rencong terdapat suatu bentuk panahan dan perekat yang dalam istilah Aceh disebut cugek atau meucugek. Cugek ini diperlukan untuk mudah dipegang dan tidak mudah lepas waktu menikam ke badan lawan atau musuh.
Rencong Meupucok, Rencong ini memiliki pucuk di atas gagangnya yang terbuat dari ukiran logam yang pada umumnya dari emas. Gagang dari rencong meupucok ini kelihatan agak kecil, yakni pada pegangan bagian bawah. Namun, semakin ke ujung gagang ini semakin membesar. Jenis rencong semacam ini digunakan untuk hiasan atau sebagai alat perhiasan. Biasanya, rencong ini dipakai pada upacara-upacara resmi yang berhubungan dengan masaalah adat dan kesenian.
Rencong Pudoi, Rencong jenis ini gagangnya lebih pendek dan berbentuk lurus, tidak seperti rencong umumnya. Terkesan, rencong ini belum sempurna sehingga dikatakan pudoi. Istilah pudoi dalam masyarakat Aceh adalah sesuatu yang diangap masih kekurangan atau masih ada yang belum sempurna.
Rencong Meukuree, Perbedaan rencong meukuree dengan jenis rencong lain adalah pada matanya. Mata rencong jenis ini diberi hiasan tertentu seperti gambar ular, lipan, bunga, dan sebagainya. Gambar-gambar tersebut oleh pandai besi ditafsirkan dengan beragam macam kelebihan dan keistimewaan. Rencong yang disimpan lama, pada mulanya akan terbentuk sejenis aritan atau bentuk yang disebut kuree. Semakin lama atau semakin tua usia sebuah rencong, semakin banyak pula kuree yang terdapat pada mata rencong tersebut. Kuree ini dianggap mempunyai kekuatan magis.
Rencong yang ampuh biasanya dibuat dari besi-besi pilihan, yang di padu dengan logam emas, perak, tembaga, timah dan zat-zat racun yang berbisa agar bila dalam pertempuran lawan yang dihadapi adalah orang kebal terhadap besi, orang tersebut akan mampu ditembusi rencong.
Gagang rencong ada yang berbentuk lurus dan ada pula yang melengkung keatas. Rencong yang gagangnya melengkung ke atas disebut Reuncong Meucungkek, biasanya gagang tersebut terbuat dari gading dan tanduk pilihan.
Bentuk meucungkek dimaksud agar tidak terjadinya penghormatan yang berlebihan sesama manusia, karena kehormatan yang hakiki hanya milik Allah semata. Maksudnya, bila rencong meucungkek disisipkan dibagian pinggang atau dibagian pusat, maka orang tersebut tidak bisa menundukkan kepala atau membongkokkan badannya untuk memberi hormat kepada orang lain karena perutnya akan tertekan dengan gagang meucungkek tersebut.
Gagang meucungkek itu juga dimaksudkan agar, pada saat-saat genting dengan mudah dapat ditarik dari sarungnya dan tidak akan mudah lepas dari genggaman. Satu hal yang membedakan rencong dengan senjata tradisional lainnya adalah rencong tidak pernah diasah karena hanya ujungnya yang runcing saja yang digunakan.
Sumber : acehdesain.wordpress.com

Mesikhat, Payung Bertuah dari Tanah Alas


BANDA ACEH - Bagi masyarakat Alas di Aceh Tenggara, keberadaan payung tak hanya berfungsi sebagai simbol adat pada upacara-upacara perkawinan, sunat rasul, atau prosesi penyambutan tamu-tamu penting saja.

Lebih dari itu, mereka meyakini payung memiliki "tuah" tersendiri yang sering dijadikan media untuk bernazar. Di wilayah pesisir payung adat umumnya berwarna kuning terang dengan sulaman dari kasab atau manik-manik motif Aceh. Di beberapa tempat seperti Aceh Barat dan Selatan ada juga payung berwarna merah.

Sedangkan di Alas payung adat berwarna hitam dengan bordiran berasal dari warna-warna merah, kuning, dan hijau, yang disebut dengan payung mesikhat.

Uniknya, motif payung mesikhat tidak terbuat dari kasab atau pun manik-manik, melainkan dibordir dengan gambar-gambar khusus yang menceritakan perjalanan masyarakat Alas semasa lajang hingga selesai prosesi perkawinan.

Pembuat mesikhat tak boleh asal-asalan, minimal mereka harus mengetahui budaya masyarakat Alas, dan memiliki ketelatenan serta kesabaran tinggi. Karena tak mudah, di Alas tidak banyak yang bisa membuat payung tersebut.

Di Kecamatan Tanah Alas misalnya, hanya ada satu orang pembuat payung mesikhat, namanya Dasiman. Sedangkan dari total 16 kecamatan di Aceh Tenggara para pembuat payung hanya tersebar di lima kecamatan saja yaitu Lawe Sumur, Lawe Alas, Badar, Bambel, dan Tanah Alas.

Ditemui di Taman Sari Banda Aceh dalam sebuah event pameran produk rumah tangga yang diprakarsai Unit Pelaksana Kegiatan Provinsi Aceh, kepada The Atjeh Post, Dasiman menceritakan hal ihwal ia menjadi pengrajin payung.

 Payung-payung hasil olahan tangan Dasiman tak hanya cantik dan menarik, tetapi juga menunjukkan karakter masyarakat Alas yang kuat melalui padu-padan warnanya yang khas.

Warna-warna yang dipakai melambangkan kebudayaan masyarakat Alas. Seperti hitam yang merepresentasikan sikap rendah hati, merah melambangkan keberanian dalam menegakkan kebenaran. Sedangkan kuning bata sebagai simbol warna tanah yaitu asal-usul manusia dan tempat kembalinya manusia. Adapun hijau adalah simbol kesejukan dan kesuburan.

Profesi sebagai pembuat mesikhat sudah dilakoni Dasiman sejak dua belas tahun silam. Karena hanya itu satu-satunya keahlian yang dipunyai lelaki berusia 47 tahun tersebut. Sebelum menekuni profesi tersebut Dasiman bertani dengan memanfaatkan sawah atau ladang milik orang tuanya.

“Saya nggak punya sawah dan ladang seperti orang lain, jadi tidak ada yang bisa diharapkan dari bertani, lagi pun keahlian saya memang menjahit,” katanya kepada The Atjeh Post, Minggu 18 Maret 2012.

Lelaki lulusan SMEA itu mendapatkan keterampilan membordir secara otodidak. Tak hanya bisa membordir payung, Dasiman juga bisa membordir baju adat dan merangkai bunga.

Penghasilan membuat payung menurutnya sangat lumayan. Satu payung Dasiman bernilai Rp500 ribu. Sedangkan untuk baju adat harga berkisar antara Rp250 ribu sampai Rp300 ribu, dengan persentase keuntungan yang bisa ia dapatkan sekitar 40 persen. Dalam sebulan Dasiman bisa memproduksi antara empat sampai enam payung. Penghasilan yang diperoleh pun berkisar jutaan rupiah.

Dasiman juga menyewakan payung-payungnya dengan harga Rp15 ribu selama 24 jam. Saat ini setidaknya ia mempunyai lima unit payung mesikhat yang sering disewa oleh masyarakat setempat saat proses perkawinan.

Dari hasil jerih payahnya inilah Dasiman menghidupi istri dan ketujuh anaknya. Bahkan anak pertama dan kedua Dasiman kini sudah menjadi polisi dan perawat. Dan dua orang lainnya menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Sejak 2000 sampai sekarang Dasiman sudah memproduksi ratusan payung mesikhat. Ia semakin optimis menjalani hidupnya sebagai pembuat payung. Karena menurutnya membuat mesikhat bukan hanya sebagai sumber mata pencahariannya, tetapi juga untuk mempertahankan kebudayaan Alas itu sendiri.

Payung mesikhat, kata Dasiman, hanya digunakan untuk acara-acara yang bersifat suka cita saja. Selain perkawinan, payung mesikhat juga dipakai pada acara pemberian nama anak dalam upacara mandi bayi yang pertama.

Biasanya proses pemandian bayi dilakukan di sungai. Dalam perjalanan pulang pergi itulah si bayi dipayungi dengan mesikhat.
Menurut cerita Dasiman, beberapa payung itu kini ada di museum Tokyo, Jerman, dan Belanda. "Dibawa oleh Akifumi Iwabuchi, mahasiswa Jepang yang dulu penelitian di Aceh Tenggara tahun 1986 sampai 1987," ujar Dasiman.

Payung ini juga sering dijadikan media untuk melepaskan nazar atau kaul. Dikatakan Dasiman, sebagian masyarakat masih mempercayai jika keberadaan mesikhat memiliki berkah sendiri. Tak heran jika ada anak kecil sakit atau ingin lulus tes tertentu mereka akan bernazar pada payung tersebut.

Diakui Dasiman, membuat mesikhat memang pekerjaan ekslusif karena sedikit orang yang bisa melakukan pekerjaan tersebut. Melalui profesinya itu Dasiman seolah ingin mengatakan bahwa mempertahankan adat istiadat bukanlah penghalang untuk berkembang.[Sumber]