Tampilkan postingan dengan label Pidie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pidie. Tampilkan semua postingan

Menikmati Sunset Di Pantai Sigli, Aceh

Menikmati Sunset Di Pantai Sigli, Aceh
Menikmati Sunset Di Pantai Sigli, Aceh - Bosan liburan ke tempat itu-itu melulu, yuk ajak keluarga Anda liburan ke pantai di sore hari. Pergilah ke Kabupaten Pidie, letak pantainya tidak terlalu jauh dari pusat ibukota kabupaten Pidie, yaitu di pinggiran kota Sigli. Bahkan bila Anda baru saja mendarat dari Banda Aceh, Anda cukup membutuhkan waktu 2 jam saja dari kota Banda Aceh ke kota Sigli dengan menggunakan kendaraan mobil.
Pada sore hari sebelum magrib, banyak sekali masyarakat berdatangan ke pantai ini. Umumnya dari kota Sigli dan masyarakat luar kota Sigli, seperti dari Aceh Besar dan dari Bireuen. Anda tidak perlu kuatir bila di pantai itu tidak ada tempat buat duduk, karena di situ banyak terdapat pondoh tempat para pedagang menjual berbagai minuman dan makanan bagi para pengunjung.

Seperti di lansir dari Detik Travel, di salah satu pondok/warung tersedia menu bubur yang memiliki citarasa tersendiri yang dinamakan dengan Bubur Hikmah. Selain itu, di lokasi tersebut juga digunakan untuk pemandian atau berolah raga kecil, seperti sepak bola di pasir memancing atau juga menangkap kepiting.

Para pedagang kaki lima juga ikut meramaikan suasana pantai. Di sepanjang jalan menuju lokasi, mereka menawarkan kacang rebus, jagung rebus maupun camilan lainnya.

Namun jika membawa anak-anak untuk mandi di pantai, orangtua harus mendampingi secara ketat atau waspada. Tujuannya agar kenyamanan berekreasi di pantai lebih terjamin.

Gampong Pu'uk, Penghasil Gerabah Tradisional di Wilayah Pidie

Belanga yang dijemur di bawah terik matahari.
Pidie - Jalan berlubang dan berkerikil terbentang sejauh mata memandang. Hamparan sawah yang luas juga mengapit kiri dan kanan ruas jalan menuju Gampong Pu'uk, Kecamatan Delima, Kabupaten Pidie. Dari Kota Sigli menuju Gampong yang terkenal sebagai penghasil gerabah, setidaknya butuh waktu 20 menit untuk menuju desa tujuan.
Di beritakan the globe journal, ratusan gerabah berbentuk belanga, priuk, dan peralatan dapur lainnya tersusun rapi. Dijemur di bawah terik matahari untuk mendapatkan hasil yang lebih baik sebelum dibakar bara api.
Nurlina (35)
Pekerjaan tersebut dilakoni oleh ibu-ibu rumah tangga di desa tersebut. Seperti halnya Nurlina (35) yang mengaku profesi tersebut merupakan warisan endatu.
"Membuat belanga dari tanah liat telah turun temurun kami lakoni. Saya sudah dari kecil membuat belanga, dan itu ibu saya yang ajari dulu," kata Nurlina sambil melanjutkan pekerjaannya.
Sebagai ibu rumah tangga, pekerjaan tersebut paling mungkin dilakukan Nurlina di tengah-tengah kewajiban lainnya. Lagi pula baginya, membuat gerabah merupakan pekerjaan yang mudah. Hal itu didukung pula oleh ketersediaan bahan baku berupa tanah liat dengan kualitas yang bagus.
 "Tanah liat kami ambil di Gle Juruet, dan pasir sungai tinggal ambil di Sungai sepanjang Garot," ujarnya.
Lumrahnya, Nurlina dan ibu-ibu setempat butuh waktu 3-4 hari untuk menyediakan gerabah dalam jumlah tertentu. Setidak-tidaknya jelas ibu paruh baya ini, dirinya mampu memproduksi 70-80 gerabah dalam berbagai bentuk selama rentang waktu itu.
Meski tak tinggi, permintaan gerabah di wilayah Pidie terbilang cukup bagi Nurlina dan ibu rumah tangga lainnya di Desa Pu'uk. Karena itu pula sampai saat ini, produksi gerabah masih dilakukan meskipun masih menggunakan cara-cara tradisional.
" Saya jual ke muge yang ada di Gampong dengan harga Rp 1500-Rp 4000," sambung Rohani (65), yang se-profesi dengan Nurlina.
Rohani (65)
Pernah keduanya berharap, Pemerintah Pidie khususnya dapat menjaga gerabah produksi desanya sebagai salah satu khazanah Aceh. Namun tak banyak yang bisa diharapkan lantaran produksi gerabah pihaknya hanya bergantung pada pasar lokal. Padahal sebut keduanya, andai saja pemerintah mempromosi gerabah buatan lokal Aceh, bukan tak mungkin pihak luar tertarik dengan produk tradisional tersebut.

(theglobejournal)

Enaknya Ikan Keureulieng di lintasan Tangse



MELINTASI Jalan Beureunuen- Geumpang, tidak lengkap rasanya kalau tidak singgah di Cot Kuala, perbatasan antara  Tangse dan Mane.
Ditempat ini, ada satu rumah makan yang memiliki cita rasa tinggi. Kuala Indah, nama warungnya. Warung ini hanya menyediakan menu ikan air tawar, khususnya ikan keureulieng atau kerling. Letak Cot Kuala, sekitar 12 kilometer dari ibu kota Kecamatan Tangse.
Bagi Anda yang berpergian menuju Meulaboh, melalui jalur Geumpang, untuk tiba ke lokasi ini dari kota Bereunuen Kabupaten Pidie membutuhkan waktu berkisar satu setengah jam.  Letak warung milik Muktar ini, persis di tepi jalan lereng Pegunungan Tangse, atau sebelum jembatan rangka baja yang dibawahnya mengalir air sungai dengan bebetuan besar.
Hijaunya Pemandangan alam, dan derasnya suara air sungai yang mengalir diantara bebatuan menambah indah suasana santapan siang di Warung Kuala Indah.
Ikan kerling merupakan ikan air tawar yang bersisik besar mirip gurami. Ikan ini hidupnya di sungai bebatuan sepanjang Tangse dan Geumpang. Di Warung Kuala Indah ini, ikan kerling dimasak dengan cara sederhana, yaitu kuah bening asam pedas.
Selain itu, ada juga menu kerling goreng dan kerling pepes. Satu porsi nasi plus ikan keureulieng,Muktar menjualnya Rp18 ribu. Sedangkan tanpa nasi dijual 13 ribu saja.
Ikan kerling yang dijual Muktar adalah hasil tangkapan yang dibeli dari masyarakat setempat. Satu ekor kerling seberat 1kg dengan kondisi mati dibeli seharga Rp90 ribu. Sedangkan kerling yang masih hidup dibeli dengan harga Rp130 ribu.
Kerling yang masih hidup, kata Muktar, bisa dikarantinakan dalam bak penampung dan mampu bertahan  hidup hingga tujuh hari kedepan
Untuk melayani pembeli, Muktar biasanya dibantu oleh isteri dan adiknya.  Seharinya warung miliknya mampu menjual enam hingga 10 Kg ikan kerling.  “Kita juga menyediakan ikan belut air tawar. Mereka yang singgah disini, biasanya yang sedang melakukan perjalanan ke Meulaboh. Ada juga yang khusus datang dari kota Sigli, hanya untuk menikmati ikan kerling,” ujar Muktar.
“Selain ikan yang sudah dimasak, kami juga menyediakan ikan mentah bagi yang ingin membelinya,” ujar Muktar lagi, kepada ATJEHPOSTcom, saat singgah ditempatnya beberapa hari lalu.(mrd)

Jalan-jalan ke Sigli, di Sini Tempat Santap Mie Aceh yang Nikmat



SIGLI - Mie Aceh sudah menjadi salah satu makanan khas Aceh. Mie dengan racikan bumbu khas tersebut tidak sulit dijumpai di warung-warung kopi yang ada di Aceh. Demikian juga di Kabupaten Pidie.
Jika sewaktu- waktu singgah di Kota Sigli dan ingin menikmati mie Aceh, warung Mie Misbah layak masuk dalam daftar kuliner anda.
Letaknya di Jalan A Majid Ibrahim, sebelah kanan dari Kota Sigli menuju SPBU, sekitar seratus meter dari Taufik Kopi.
Di warung tersebut khusus menyediakan mie aceh, seperti mie kepiting, mie Udang, mie daging dan mie pakai telur. Selain itu juga tersedia mie instant dan mie hun, sebagai pelengkap juga menyediakan minuman aneka juice.
Mie di warung Misbah merupakan salah satu warung favorit mie Aceh di kota sigli, Misbah mengaku meracik sendiri bumbunya yang dipadukan dengan daging sapi atau udang dan mengasilkan mie yang lezat dirasakan oleh lidah.
Sehari-hari, warung mie Misbah beroperasi sejak pukul 09.30 hingga pikul 21.00 wib. “Namun warung mie ini banyak dikunjungi oleh penikmat mie pada waktu sore dan malam hari,” ujar Misbah, pemilik warung  Minggu 13 Januari 2013.
Dibantu keluarganya, Misbah setiap hari melayani pembeli yang jumlahnya bisa mencapai ratusan. Ada yang makan di tempat dengan kelurga, teman dekat, rekan bisnis, dan ada juga yang minta dibungkus untuk dibawa pulang. Saban harinya, dia mengahabiskan belasan kilo mie basah.
Mie favorit di sana adalah mie kepiting, satu porsi mie kepiting dijual Rp 30 ribu. Biasanya menurut Misbah dijual 25 ribu, tapi sekarang kepiting agak susah sehingga harganya harus disesuaikan ujarnya. Sedangkan mie biasa cukup Rp 7 ribu, anda sudah bisa menikmati kelezatan mie Aceh khas warung Misbah. Kata misbah, Selain warga Kota Sigli, tamu dari luar kota juga sering singgah di warungnya.
“Kami tetap menjaga cita rasa mie sesuai dengan nama warung mie Misbah, hanya menyediakan makanan mie Aceh,” ujarnya. | atjehpost.com

Saat Konflik Dulu Desa ini Penghasil Kakao

"Saat konflik berlangsung, semua masyarakat di desa ini terpaksa mengungsi ke daerah lain, sehingga perkebunan yang telah kami tanam harus ditinggali tanpa bisa mengambil hasil,"
Udara dingin dan gumpalan kabut senantiasa mewarnai keseharian masyarakat dataran tinggi di lintasan Sigli-Meulaboh. Jalanan terjal dan berliku juga telah menjadi pemandangan yang biasa bagi mereka yang bermukim di daerah ini.

Daerah yang bertempat di lereng pengunungan ini tergolong salah satu daerah yang subur dan produktif untuk pengembangan potensi pertanian di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Ulee Gunong, begitulah sebutan desa yang terletak di Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie. Masyarakat yang bermukin sekitar 60 Km dari kota Beureunun ini setiap hari memulai aktifitasnya dengan bekerja sebagai petani di perkebunan milik mereka.Desa yang terdiri dari tiga dusun dan memiliki 215 kepala keluarga (KK) ini, merupakan masyarakat yang homogen (sama). Dimana hamper keseluruhannya sebagai petani tanaman tahunan (perkebunan).

Coklat (kakao), kopi, pinang, dan durian merupakan tanaman yang paling digemari penduduk setempat. Selain hasilnya lebih bagus, perkebunan ini juga telah menjadi tradisi turun menurun sejak mereka mendiami daerah dingin ini.

Hampir keseluruhan masyarakat yang tinggal di Desa Ulee Gunong adalah pendatang yang merantau dari berbagai wilayah di Aceh, mereka segaja mendiami daerah ini untuk membuka lahan tidur dan dijadikan perkebunan serta tempat tinggal yang baru.

Saat ini, jenis perkebunan yang paling diminati masyarakat Ulee Gunong adalah tanaman coklat, mereka beranggapan tanaman ini lebih menjanjikan serta perawatannya juga terkesan lebih mudah.

Sebelum bertani coklat, masyarakat setempat merupakan petani kopi, dan ini telah digeluti masyarakat sejak dari tahun enam puluhan. Namun pada akhir sembilan puluhan masyarakat beralih untuk lebih memilih menanam coklat.

Mulanya tanaman coklat di derah ini dibawa oleh H Abu Bakar dan M Yusuf Ali, mereka mendapatkan bibitnya dengan membeli di kota Sigli seharga Rp 500/batang. Dari bibit inilah kemudian dibudidayakan menjadi lebih banyak, dan dibagikan pada masayarakat lainnya.

"Mulanya hanya saya dan H Abu Bakar saja yang menanam coklat di desa ini, kemudian barulah masyarakat yang lain mulai berminat menanamnya juga," ujar Yusuf Ali.

Namun kini perkebunan coklat (kakao) telah menjadi pertanian komoditas masyarakat Desa Ulee Gunong, dan menjadi sarana perekonomian utama dalam memenuhi kebutuan hidup penduduk yang kian lama kian meningkat.

Saat perkebunan coklat memasuki musim panen, masyarakat setempat mampu menghasilkan produknya dalam setahun sebanyak 2 ton/ha. Dan hasilnya mereka jual pada pedangang pegumpul Rp 10.000/kg, bahkan pada harga saat harga melonjak, mereka bisa menjualnya dengan harga 15.000/kg.

Ketika berlangsung konflik Aceh, para petani di derah ini terpaksa untuk mengungsi ke daearah lain dan meninggalkan perkebunan mereka. Hal ini dilakukan masyarakat secara berulang kali.
"Saat konflik berlangsung, semua masyarakat di desa ini terpaksa mengungsi ke daerah lain, sehingga perkebunan yang telah kami tanam harus ditinggali tanpa bisa mengambil hasil," tambahnya.

Pernyataan tersebut dibenarkan Muhammad, kepala Desa Ulee Gunong. Dia menyatakan, saat konflik berlangsung desanya menjadi daerah yang paling sering terjadi kontak tembak, hingga dia dan seluruh masyarakat Desa Ulee Gunong mengambil kesimpulan untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman.

“Hampir setiap hari di sepanjang jalan ini selalu terjadi kontak tembak dan penghadangan. bahkan korban yang berjatuhan pun tidak sedikit,” ungkapnya meyakinkan sembari menunjuk beberapa wilayah yang dianggap rawan.

Perjanjian damai antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Pemerintah yang tertuang dalam MoU Helsingki 15 Agustus 2005 yang lalu, merupakan salah satu titik cerah penyelesaian konflik Aceh. Demikian pula halnya yang dialami masyarakat desa Ulee Gunong.

Beberapa saat setelah perjanjian damai tercapai, keteika itulah masyarakat Ulee Gunong mulai berani untuk kembali ke kampung halaman mereka untuk kembali menggarap perkebunan yang telah lama terbengkalai.

Sementara itu, saat masyarakat mulai kembali ke desanya, mereka kembali dihadapankan dengan persoalan lainya. Mereka harus berpikir dari mana mendapatkan modal untuk memperbaiki perkebunan yang sekian lama tidak terawat.

"Saat kami kembali dari pengungsian, kebun milik masyarakat di desa ini sudah tidak terawat lagi, bahkan banyak juga tanaman yang mati dan diserang hama penyakit," ungkap Yusuf.

M. Nur, ketua kelompok tani desa setempat mengungkapkan, sejak mereka kembali mendiami daerah ini, sampai saat ini mereka belum pernah mendapatkan bantuan pertanian seperti halnya modal bagi masyarakat tani di derahnya. Padahal menurutnya mereka sangat membutuhkannya.

Selain modal, petani di desa ini juga mulai di resahkan dengan banyaknya penyakit dan jamur yang menyerang perkebunan coklat yang mereka garap, bahkan sampai saat ini mereka belum mendapatkan obat/vaksin untuk menanggulanginya.

“Banyak sekali hama dan penyakit yang menyerang perkebuanan kami, salah satunya penyakit busuk buah, yang hingga kini kamitidak tahu cara menanggulanginya,” ujar pria setengah baya itu ketika dijumpai di kebunnya.

Menanggapi telah terpilihnya Gubernur dan Bupati/Walikota baru di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, para petani berharap. Pemerintah terpilih agar mampu memberikan perhatiannya bagi masayarakat desa setempat, dan jangan hanya melihat dan memperhatikan daerah yang mudah dijangkau saja.

"Kami mengharapkan pemerintah baru Provinsi Naggroe Aceh Darussalam bisa memberikan perhatiannya pada petani di desa ini, karena profesi ini telah menjadi penopang kehidupan bagi masyarakat di sini," kata M Nur dengan penuh harapan. [Rizha / bangcut.blogspot.com]

Guha Tujuh Laweung Pidie, Wisata Unik Batu Bergantung

gua 7 di sigli
Gua 7 di Sigli
Keinginan mengunjungi Gua Tujuh awalnya muncul karena kabarnya di dalam gua tersebut terdapat sebuah batu besar yang bergantung tanpa ada penahan (anti gravitasi). Pembuktian dari ketidak-mungkinan itulah yang menimbulkan keinginan kuat untuk dapat menyaksikan sendiri dari fenomena tersebut. Selain informasi tersebut juga kabarnya dilokasi itu terdapat sebanyak 7 buah gua besar (sesuai namanya) dan salah satunya bisa menembus sampai ke Makkah. Begitu rumornya……

Pemandangan perbukitan karst yang gersang menjadi suguhan perjalanan, bersama 4 orang teman, menuju lokasi Guha Tujoh Laweung kabupaten Pidie. Jalanan yang berdebu dan berbatu membuat perjalanan terasa lambat dan berat. 

Akhirnya disebuah persimpangan jalan yang sempit terlihat sebuah papan nama yang menunjukkan arah masuk menuju Guha Tujoh. Suasana kering dan gersang masih tetap menemani perjalanan yang tinggal beberapa ratus meter lagi itu. Tampak beberapa pedagang sedang duduk berbincang di jalan masuk menuju lokasi gua tujuh. 

Mereka segera menawarkan dagangan ketika kami memasuki lokasi tersebut. Selain kami tidak terlihat adanya pengunjung lain yang datang, mungkin itu sebabnya mereka begitu antusias menawarkan dagangannya kepada kami. Warung-warung dagangan mereka terletak dikiri-kanan jalan masuk menuju gua.Sebuah pohon beringin yang tumbuh didepan sebuah gua membuat suasana sedikit nyaman untuk tempat berteduh sebelum memasuki gua.

Perbincangan dengan beberapa pedagang yang juga merangkap sebagai pemandu wisata gua, kami memperoleh keterangan bahwa dilokasi tersebut terdapat sekurangnya 36 buah gua namun belum semuanya tereksplorasi karena pintu gua berada disemak belukar yang sulit ditembus. Sedangkan informasi yang beredar bahwa penamaan Gua Tujuh karena disitu terdapat 7 buah gua merupakan informasi yang keliru. 

Menurut mereka gua itu sebenarnya bernamaGua Aulia Tujuh karena didalam gua itu merupakan tempat bersemayam 7 orang aulia yang dikeramatkan. Mengenai rumor yang mengatakan bahwa salah satu gua mempunyai jalan yang tembus ke Makkah itu juga tidak benar. 

Tetapi sebagai sebuah gua yang dikeramatkan dan sering dijadikan sebagai tempat pertapaan, pada suatu tingkatan tertentu orang yang melakukan tapa (kalut)tersebut dapat berpindah tempat ke Makkah dengan cara yang tidak dapat dijelaskan kekuatan pikir manusia. Kondisi itulah yang selanjutnya menjadi rumor bahwa gua tersebut mempunyai jalan masuk ke Makkah. 

Kejadian-kejadian mistis yang kerap disaksikan oleh pedagang disekitar gua terhadap para pertapa membuat mereka yakin bahwa terdapat sebuah kekuatan gaib yang diperoleh para pertapa yang melakukan kalut di dalam gua tersebut. Selanjutnya mengenai batu bergantung anti-gravitasi mereka tidak memberikan penjelasan panjang lebar karena toh nanti kami akan dapat menyaksikan sendiri bahwa fenomena tersebut adalah benar adanya. Penasaran tingkat tinggi nih….. 

Setelah menyiapkan kamera kami mulai memasuki gua lebar yang sedikit menurun. Suasana musim kering sangat terasa dan dinding gua yang pada umumnya lembab terlihat kering. Di dinding sebelah dalam gua terlihat kreativitas tangan-tangan kreatif yang menuliskan tulisan-tulisan kebanggaan mereka. Beberapa pedagang yang tadi berjualan diwarung juga ikut berjalan didepan kami. Mereka menunjuk sebuah lubang gelap yang terdapat tangga kayu. 

Ternyata gua yang akan dimasuki adalah lubang gelap tersebut dan gua kering yang sedang kami nikmati hanyalah ruang depannya saja. Suasana lembab dan dingin mulai terasa saat kami berdiri dimulut lubang tersebut. Di dalam gua utama yang gelap itu nantinya akan banyak terdapat gua-gua lain yang berukuran lebih kecil.

Perlahan kami menuruni tangga kayu yang disandarkan didinding gua. Setelah menuruni tangga dan lorong batu sedalam kira-kira 10 meter kegelapan mulai menghalangi pandangan mata. Cahaya senter dan lampu teplok dari pemandu yang mengantar kami menjadi penerang gua yang luas itu. Keadaan gelap membuat kami mulai mengeluarkan bekal senter besar yang kami bawa dan cahayanya mengalahkan cahaya penerangan yang mereka punya, hehe…

Para pemandu dan penjaga warung tanpa diminta ikut turun mendampingi kami. Jadilah suasana gua itu dipenuhi cahaya senter kecil dari para pemandu. Jumlah mereka justru jauh lebih banyak dari kami yang hanya berjumlah 4 orang. Mereka seakan berlomba untuk menjelaskan historis gua dan juga mitos-mitos ornament yang ada di dalam gua. 

Sejujurnya saya tidak tertarik dengan semua penjelasan dan mitos-mitos ornament gua yang mereka tunjukkan. Saya mencoba sok ilmiah untuk meyakini bahwa itu semua adalah proses alami yang juga banyak terdapat di gua-gua ditempat lain. Saya hanya tertarik untuk bisa segera melihat batu anti-gravitasi. Namun karena lokasi batu tersebut agak ke jauh dalam jadinya terpaksa kami harus mengikuti jalur yang mereka arahkan.

Tiba disebuah ruangan luas dan becek kami melihat serakan sampah dan botol minuman bekas yang sangat banyak. Tentu saja kami protes kepada mereka karena gua ini ternyata dijadikan tempat pembuangan sampah bekas dagangan mereka. Seorang ibu pemandu yang memegang lampu teplok menjelaskan sambil menunjuk bahwa itu adalah sampah dari atas yang terbawa air saat hujan deras melalui mulut gua vertical lain yang banyak terdapat diatas.

Si ibu tadi sekarang telah berdiri didepan sebuag mulut gua yang kecil dan menjelaskan bahwa dibalik lorong sempit tersebut terdapat ruangan lain yang lebar. Di dalam gua itulah biasanya para pertapa melakukan kalutnya. Jika sedang ada orang yang melakukan kalut disitu pengunjung dilarang mendekati mulut gua karena akan menggangu ketenangan orang yang sedang bertapa. Untuk dapat masuk kedalam ruangan itu pengunjung harus merayap dan tentunya seluruh pakaian akan kotor oleh tanah yang lembab. Karena itu kami tidak memasuki ruangan tersebut. Mungkin lain kali…..

Setelah berkeliling dan berganti-ganti pemandu yang berlomba memberi penjelasan paling menarik menurut mereka tibalah kami disebuah ruang luas. Di tengah ruangan pada langit-langit gua terdapat sebuah gua vertical dan pada mulut gua tersebut terdapat sebuah batu yang bergantung.Batu anti-gravitasi!!! Ketinggian Posisi batu bergantung berada ditengah mulut gua vertical. Batu itu berukuran lebih kurang 2x1,5 meter dan berwarna putih kecoklatan. 

Dari hasil pengamatan tampak bahwa sebenarnya batu tersebut tidak sepenuhnya bergantung tetapi ada 2 sudut kecil yang menempel pada dinding gua tetapi secara logika tempelan itu belum memungkinkan batu itu dapat menahan bobotnya untuk tidak jatuh ke lantai. Menurut penuturan mereka dahulunya batu itu berukuran hanya sebesar guci. Lama kelamaan batu itu terus membesar dan hampir menutupi lorong pintu gua vertikal. 

Dahulunya lagi cahaya matahari dapat menerobos masuk kedalam gua melalui mulut gua dan jelas kelihatan bahwa batu tersebut tidak bersinggungan dengan dinding gua. Karena hanya memandang dari bawah kami berkesimpulan bahwa satu-satunya kemungkinan adalah terdapat tangkai yang membuat batu tersebut dapat bergantung. Namun pendapat ini dibantah oleh mereka bahwa hal tersebut pernah dibuktikan oleh seorang turis yang penasaran untuk membuktikan bahwa bahwa batu tersebut sebenarnya memiliki tangkai diatasnya. 

Turis tersebut menaiki langit-langit gua dengan tangga bamboo pesanan dan segera turun dengan wajah pucat dan membenarkan fenomena tersebut. Siapa turis tersebut, dari mana asalnya, apa profesinya tidak ada yang bisa menjelaskan apalagi untuk mengkonfirmasinya, he… Saat ini setelah peristiwa Tsunami Aceh tahun 2004 lalu, batu tersebut dibagian atasnya telah menumpuk batu-batu lain yang longsor dan menambah beban yang harus ditampung oleh batu bergantung tersebut.

Setelah berkeliling sekian lamanya ternyata masih banyak lorong-lorong yang belum kami masuki. Menurut penjaga warung, lokasi tersebut seluruhnya merupakan perbukitan karst sehingga jika digali sumur tidak ditemui mata air. Kerap kali masyarakat yang mencoba menggali sumur dikawasan tersebut justru menemukan gua-gua lain dbawah tanah. Kondisi ini menyebabkan dilokasi tersebut tidak ada sumber air bersih bagi pengunjung. Pengunjung yang ingin ke toilet terpaksa harus membeli air mineral.

Saat hendak pulang seorang pemandu yang tadi mendampingi kami keliling gua meminta bayaran seikhlasnya untuk jasanya mengantar kami. Sebagai imbalannya kami memberikan uang sebesar Rp.50.000 untuk jasanya mengantar kami berempat. Hal yang membuat kami kaget adalah ucapannya yang mengatakan bahwa uang itu kurang, tidak cukup sebagai jasa bagi mereka semua yang telah mengantar kami berkeliling. 

Ternyata seluruh pemandu dan penjaga warung yang tadinya tanpa diminta ikut turun ke gua bersama kami juga harus mendapat “bayaran seikhlasnya”. Tentu saja hal ini membuat kami sedikit naik darah dan menganggap itu sebagai bentuk pemerasan. Setelah sedikit meninggikan suara akhirnya mereka mau menerima bayaran yang tidak lagi seikhlasnya itu.

Sumber : munhasry.multiply.com