Tampilkan postingan dengan label Bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bisnis. Tampilkan semua postingan

Gampong Pu'uk, Penghasil Gerabah Tradisional di Wilayah Pidie

Belanga yang dijemur di bawah terik matahari.
Pidie - Jalan berlubang dan berkerikil terbentang sejauh mata memandang. Hamparan sawah yang luas juga mengapit kiri dan kanan ruas jalan menuju Gampong Pu'uk, Kecamatan Delima, Kabupaten Pidie. Dari Kota Sigli menuju Gampong yang terkenal sebagai penghasil gerabah, setidaknya butuh waktu 20 menit untuk menuju desa tujuan.
Di beritakan the globe journal, ratusan gerabah berbentuk belanga, priuk, dan peralatan dapur lainnya tersusun rapi. Dijemur di bawah terik matahari untuk mendapatkan hasil yang lebih baik sebelum dibakar bara api.
Nurlina (35)
Pekerjaan tersebut dilakoni oleh ibu-ibu rumah tangga di desa tersebut. Seperti halnya Nurlina (35) yang mengaku profesi tersebut merupakan warisan endatu.
"Membuat belanga dari tanah liat telah turun temurun kami lakoni. Saya sudah dari kecil membuat belanga, dan itu ibu saya yang ajari dulu," kata Nurlina sambil melanjutkan pekerjaannya.
Sebagai ibu rumah tangga, pekerjaan tersebut paling mungkin dilakukan Nurlina di tengah-tengah kewajiban lainnya. Lagi pula baginya, membuat gerabah merupakan pekerjaan yang mudah. Hal itu didukung pula oleh ketersediaan bahan baku berupa tanah liat dengan kualitas yang bagus.
 "Tanah liat kami ambil di Gle Juruet, dan pasir sungai tinggal ambil di Sungai sepanjang Garot," ujarnya.
Lumrahnya, Nurlina dan ibu-ibu setempat butuh waktu 3-4 hari untuk menyediakan gerabah dalam jumlah tertentu. Setidak-tidaknya jelas ibu paruh baya ini, dirinya mampu memproduksi 70-80 gerabah dalam berbagai bentuk selama rentang waktu itu.
Meski tak tinggi, permintaan gerabah di wilayah Pidie terbilang cukup bagi Nurlina dan ibu rumah tangga lainnya di Desa Pu'uk. Karena itu pula sampai saat ini, produksi gerabah masih dilakukan meskipun masih menggunakan cara-cara tradisional.
" Saya jual ke muge yang ada di Gampong dengan harga Rp 1500-Rp 4000," sambung Rohani (65), yang se-profesi dengan Nurlina.
Rohani (65)
Pernah keduanya berharap, Pemerintah Pidie khususnya dapat menjaga gerabah produksi desanya sebagai salah satu khazanah Aceh. Namun tak banyak yang bisa diharapkan lantaran produksi gerabah pihaknya hanya bergantung pada pasar lokal. Padahal sebut keduanya, andai saja pemerintah mempromosi gerabah buatan lokal Aceh, bukan tak mungkin pihak luar tertarik dengan produk tradisional tersebut.

(theglobejournal)

Bireuen Ekspor Sabuk Kelapa ke China



EKSPOR perdana sekitar enam ton sabut kelapa ke China, ditandai pada peresmian pengoperasian pabrik sabut kelapa UD Coco Tanjong Sejahtera, di Desa Tanjong Beuridi, Kecamatan Peusangan Selatan, Kabupaten Bireuen, Aceh.

Hasil kerja sama PT Arun LNG dan Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (Aiski), realisasi pabrik sukses didirikan atas pertimbangan ketersediaan bahan baku, tenaga kerja memadai, sekaligus dukungan besar yang diperlihatkan masyarakat tempatan.

Direktur pelaksana proyek, Ir H Muhammad Nurdin Idris, mengatakan tujuan utama pendirian pabrik yang bernilai Rp 450 juta itu guna mendorong pertumbuhan ekonomi pedesaan yang didukung potensi wilayah setempat.

“Bahan baku terjamin, begitu halnya tenaga kerja trampil di sini,” sebutnya.

Hingga saat ini tercatat puluhan tenaga kerja merupakan warga setempat yang sudah dibekali dengan keahlian khusus. Diharapkan terjaring tenaga-tenaga lainnya yang bisa dimanfaatkan untuk kelanjutan pabrik sabut kelapa tersebut.

Pendapatan diperoleh nantinya, dimanfaatkan sepenuhnya untuk kesejahteraan ekonomi masyarakat serta untuk mendirikan pabrik lain di Bireuen.

“Kehadiran pabrik atau industry ini mendorong perbaikan ekonomi warga sekitar,” tambah Nurdin.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Arun LNG, Iqbal Hasan Saleh, menambahkan pabrik sabut kepala merupakan sector terabaikan selama ini, di mana banyak sabut kelapa dibuang atau dibakar percuma karena tak paham manfaat gandanya.

“Nah, dengan pengolahan maksimal seperti ini bisa mendatangkan rezeki berlipat bahkan menjadi bahan baku ekspor,” ujar Iqbal seraya menyebutkan pencanangan pabrik tersebut sudah dimulai sejak enam bulan silam.

Ditambahkan, sabut kepala dihasilkan nantinya bisa menjadi bahan baku pembuatan springbed, matras, jok mobil, karpet, dan lain-lain. (acehterkini/kompas)

Wow, Ada Ikan Seharga 1,5 Juta / Kg dari Aceh


Banda Aceh - Ketersediaan sumber daya perikanan di Aceh  tidak ada yang meragukan. Menjadi wajar ketika banyak yang berminat untuk melakukan investasi dibidang tersebut. Ditambah lagi dengan adanya ikan Kerapu Tikus yang harga jual dipasaran mencapai 1,5 juta perkilogram.
Koordinator perusahaan PT. Alhilal Corpora yang bergerak dibidang investasi kelautan dan perikanan mengatakan, ikan kerapu tikus saat ini harganya berkisar Rp.1,5 juta/kg menjadi investasi perikanan yang menjanjikan dan menguntungkan bila dikembangkan di Aceh.
"Ikan kerapu tikus itu hanya bisa hidup diperairan laut Aceh, sangat besar potensinya," kata koordinator PT.Alhilal Corpora, Hilmy Bakar, MBA, PhD Economic yang di lansir The Globe Journal, Jumat (16/3/2013) kemarin.
Tegas Hilmy, saat ini pengusaha perikanan dari Medan membawa keluar 50 juta ekor bibit kerapu tikus pertahun dari Aceh. Bibit tersebut diambil dari Aceh, kemudian dibudidayakan di Medan. Hal yang membuat miris, kata Hilmy, ikan hasil penangkaran tersebut kemudian dikembalikan ke Aceh untuk di pasarkan.
Atas dasar itulah, Hilmy Bakar berkeinginan untuk mengembangkan budidaya ikan tersebut di Aceh. Tentunya, Pemerintah Aceh harus memiliki political will untuk membangun industry perikanan tersebut.
"Saya ini orang ekonomi, jadi saya paham betul kalau dikelola di Aceh akan sangat menguntungkan," tambahnya.
Masih sebagaimana dikatakan oleh Hilmy Bakar, ternyata bicara menyangkut dengan ketersediaan sumber daya perikanan di Aceh memang tidak ada habisnya. Selain Aceh memiliki sumber perikanan laut, Aceh juga memiliki perikanan air tawar yang tidak kalah untuk dikembangkan.
Helmy mencontohkan ikan Keureuleung yang hidup di sungai berarus deras juga memiliki potensi besar untuk dikemabangkan menjadi industri perikanan air tawar. Sedangkan ketersediaan sumber ikan tersebut saat ini tersedia banyak di Kecamatan Geumpang Kabupaten Pidie.  
"Saya juga sudah makan ikan Keureuleung itu, luar biasa lezatnya, kenapa tidak kita kembangkan industri perikanan itu," tukasnya.
Akuinya kembali, di Aceh memiliki banyak ikan terbaik dan memiliki kualitas ekspor. Akan tetapi, Aceh saat ini belum mengelola sumber daya yang melimpah itu. Harapannya, Pemerintah Aceh agar mendukung upaya pengembangan industri perikanan di Aceh saat ini. 
(theglobejournal)

Snack ala Bireuen Kian Populer

Bireuen - Dikenal sebagai segitiga emas Aceh, letak Kabupaten Bireuen diapit lima kabupaten/kota, yakni Kabupaten Pidie Jaya, Bener Meriah, Aceh Tengah, Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe, memudahkan transit bagi warga pelintas baik menuju dari Banda Aceh menuju Medan atau sebaliknya.

Kemudahan transit ini mendorong pencitraan kawasan yang terus berkembang sebagai lokasi penjualan aneka oleh-oleh. Hal itu kini menjadi daya tarik tersendiri di kabupaten pemekaran dari Aceh Utara ini. Sebut saja, keripik pisang, andalan buah tangan yang dijajakan di sepanjang lintasan jalan negara, antara Kecamatan Jeumpa dan Kota Juang. 

Kendati rasa keripik pisang di sini lazimnya sama di mana-mana, ada sesuatu yang berbeda menjadi daya tarik tersendiri. Selain gurih, cita rasa ditawarkan beragam, mulai dari keripik pisang manis, asin, keripik ubi tawar, pedas, keripik sukun, keripik kentang dan aneka makanan ringan lain sebagai pelengkap.

Dipastikan, setiap pengunjung atau pelintas tak melewatkan kawasan ini untuk "memburu" berbagai jenis keripik olahan. Mulai dari angkutan umum sampai kendaraan pribadi tak pernah sepi memarkirkan kenderaannya di pinggiran rak-rak keripik yang banyak terdapat sesaat memasuki ibu kota kabupaten. 

Penuturan Hafsah (40), warga Kabupaten Aceh Utara, dirinya setiap melintasi Bireuen hendak ke Banda Aceh, selalu berpesan pada supir angkutan agar mampir sebentar untuk membeli keripik pisang sebagai buah tangan. Hal itu dia lakukan karena pesanan sang anak yang menempuh pendidikan di Banda Aceh.

"Saya tak lupa mengingatkan supir untuk berhenti membeli keripik di Bireuen," katanya, beberapa waktu yang lalu.

Selain gurih, harga aneka keripik ini tergolong terjangkau agi masyarakat umum.  Dihargai Rp 15.00 per kilogram untuk jenis pisang, sampai Rp 40.000 per kilogram jenis sukun. 


Begitupun, harga bisa lebih murah tergantung pasokan pisang. Diakui Nasir (47), salah seorang pedagang, penjualan keripik mereka laku keras setiap akhir pekan, seperti Sabtu dan Minggu, serta pada momen perayaan hari-hari besar seperti lebaran Idul Fitri dan Idul Adha. DI hari-hari itu banyak pelintas melewati Bireuen untuk bepergian.

"Kalau hari biasa memang cenderung sepi, tapi akhir pekan ramai," katanya. 

Menjamurnya pedagang keripik yang notabene berasal dari pedagang lokal di Bireuen ini, terjadi pascapenandatangan MoU di Helsinki, Agustus 2005 silam. Sejumlah pedagang mengaku rezeki konflik yang tertunda kini mengalir memberi kemakmuran cukup lumayan bagi kelangsungan perekonomian keluarga mereka sehari-hari.

Omzet rata-rata di atas Rp300.000 per hari mampu diraih Nasir dan rekan pedagang sepertinya, sedangkan hari-hari tertentu dengan momen besar, penjualan tiga hingga lima kali lipat lebih besar dapat diperoleh. Dengan harga lumayan terjangkau bagi semua kalangan, dipastikan keripik-keripik itu menjadi primadona sebagai buah tangan. Tidak hanya untuk kerabat jauh, bagi mahasiswa pun oleh-oleh keripik seolah menjadi satu keharusan yang dibawa serta setiap kembali dari kampung halaman. 

Produksi keripik dari puluhan industri rumahan tersebar di Kabupaten Bireuen itu relatif menyebar. Terdapat ratusan sentra industri di Kecamatan Juli, Peusangan, Jeumpa dan Kota Juang. Menyerap ratusan tenaga kerja lokal, diharapkan komoditi pisang tetap mampu memenuhi kebutuhan pengusaha keripik agar harga jual tetap stabil hingga beberapa waktu ke depan. 


(theglobejournal)

Kartini, pengusaha Aceh di balik tersohornya Klinik Cempaka Lima


Kartini Harris @atjehpostcom
NAMA Klinik Cempaka Lima Banda Aceh yang kian tersohor tak terlepas dari tangan dingin Kartini Harris yang terus gigih membesarkan klinik tersebut. Kini setiap kita melewati Jalan Teungku Daud Beureueh di dekat Simpang SMA 3 Banda Aceh, selalu terlihat antrian panjang di  kawasan itu.
Nama Kartini, pemilik klinik tersebut memang tidak sepuler nama Cempaka Lima. Perempuan yang tergabung di Ikatan Pengusaha Wanita Indonesia Aceh ini kini berusia 60 tahun. Ia lahir di Sigli, 24 April 1953 silam. Momen itu rupanya yang mengilhami sang bunda untuk memberikannya nama sama dengan tokoh perempuan Indonesia Kartini.
Ayahnya seorang pengusaha beras pada masa itu.  Seperti yang di beritakan ATJEHPOSTcom beberapa waktu lalu ia mengatakan naluri berbisnis ayahnya juga turun dalam dirinya. Karena itu meski ia berlatar belakang apoteker ia akhirnya bisa mengelola bisnis pelayanan kesehatan dan berkembang baik.
Klinik tersebut mulai dirintis pada tahun 1991. Meski ia lulusan Farmasi, namun ia mengenal banyak dokter. Dokter-dokter tersebut kemudian diajak bekerjasama olehnya. Dalam menjalankan aktivitasnya perempuan yang masih energik ini selalu berprinsip bahwa berjuang tidak hanya dengan perang. Petuah itulah yang terus dipegangnya sampai sekarang.
Nama Cempaka Lima terdengar anggun dan feminism. Rupanya ia memilih nama itu bukan tanpa sebab. Nama Cempaka diambil dari jalan tempat mereka tinggal pada masa itu. Sedangkan lima berasal dari jumlah anggota keluarga mereka.
“Saya mulai membangun usaha ini dengan modal uang tabunban saya sebesar Rp 18 juta,” katanya waktu itu.
(atjehpost)

Tripang, mutiara terpendam di Laut Simeulue


TRIPANG (kolong dalam bahasa Simeulue) merupakan salah satu sumber daya alam yang terpendam di dasar laut perairan Kabupaten Simeulue. Hasil laut ini memiliki nilai jual tinggi dan diburu nelayan di 10 kecamatan yang ada di kabupaten itu.
Daya jual tripang mengalahkan harga pasaran lobster Simeuleu. Jika lobster dijual seharga Rp300 ribu hingga Rp500 ribu per kilogram, sedangkan harga tripang yang telah dikeringkan dibanderol hingga Rp1 juta per kilogram.
Harga tinggi ini disebabkan resiko mencari tripang yang ada di dasar laut kerap merenggut nyawa dan mengakibatkan kelumpuhan fisik para penyelam. Tripang hidup di dasar laut dengan kedalaman 1 meter hingga puluhan meter di antara batu karang.
Resiko lainnya yang bisa dihadapi penyelam yaitu adanya ikan bernaluri pembunuh seperti hiu, gurita dan tidak tersedianya oksigen.
"Biasanya penyelaman mencari tripang lebih dari dua orang. Tidak boleh satu orang karena satu menyelam satu mengawasi proses penyelaman dari atas permukaan air," kata Elfian, salah seorang penyelam yang merupakan warga Gampong Busung, Kecamatan Teupah Tengah, Rabu 6 Maret 2013.
Kata dia, penyelaman dilakukan secara tradisional bermodalkan kaca mata air, tombak kecil,  maupun menggunakan alat bantu pernafasan dengan menggunakan mesin kompresor.
"Selagi masih tahan nafas ini kami menyelam. Biasa saat menyelam dikawal seutas tali yang dipegang kawan dari atas perahu. Gunanya bila ada sesuatu baik si penyelam maupun dari atas perahu, tinggal disentak dan ditarik tali itu," ujarnya.
Hal senada disampaikan Mariadi, seorang penyelam tripang yang mempunyai pengalaman menyedihkan karena temannya tewas dimangsa ikan hiu saat memburu biota laut itu. Rekan seprofesinya, Yusnadi (42) yang tewas ditempat, hanya terpaut 30 meter dengan dirinya saat diserang hiu. Peristiwa itu, kata dia, terjadi diperairan Pulau Siumat bulan September 2012.
"Rekan saya meninggal digigit ikan hiu saat kami menyelam (mencari) tripang. Dia kehilangan daging tubuhnya, tangan, pinggang, usus, dan daging punggung belakang," kata Mariadi.
Ada beberapa jenis tripang yang ditangkap dan bisa dijual ke pasar. Mariadi merincikan tripang yang ditangkap yaitu tripang gajah, kunyit, tuti, pahit, ular, ayam, coklat, bantal, abu-abu, mengkudu, nasi, gajah bakau, duri, karet, dan tripang pasir. (atjehpost.com)

Jual Pisang Goreng Raup Ratusan Ribu Perhari


Takengon sebuah kota yang diapit pengunungan ini memang menyimpan sejuta cerita menarik untuk diulas, mulai dari tanahnya yang katanya serpihan tanah surga hingga menjadikan Kopi Arabica  Gayo yang memiliki cita rasa kelas dunia ini. Masyarakatnya pun mayoritas memiliki kebun kopi sendiri.
Namun sangat disayangkan jika kopi menjadi salah satu andalan masyarakat Takengon, seharusnya masyarakat juga menyelingi tanaman mereka dengan tanaman lainnya yang tak kalah dari nilai ekonomisnya, katakan saja tanaman pisang yang menjadi bahan baku berbagai makanan ringan yang hampir setiap hari laku keras dipasaran lokal saja.
Seperti yang dilakukan oleh seorang warga Tetunyung Kecamatan Lut Tawar Aceh Tengah , Arman 52 Tahun, yang memiliki usaha dagang pisang goreng dikawasan Pasar Inpres Takengon.
Arman yang dijumpai Lintas Gayo, Senin (25/02/2013) mengaku jika hasil dagangannya yang mengandalkan bahan baku pisang ini bisa mencukupi kebutuhan istri dan ke-3 anaknya, dengan berpenghasilan rata-rata Rp.500 ribu perharinya.
Ini tentu angka yang fantastis, dalam sebulan Arman berpenghasilan 15 Juta Rupiah dan setahunnya 180 Juta rupiah.
“Penghasilan saya lumayan bisa untuk menyekolahkan dua anak saya menjadi sarjana dan sibungsu yang masih duduk dibangku sekolah dasar dan menyewakan kedai ini seharga 12 Juta Rupiah”, kata Arman.
Arman menjelaskan dirinya bekerja sebagai penjual pisang goreng mulai pukul 6 pagi hingga magrib tiba.
“Syukur alhamdulillah saat ini langganan tetap saya sudah ada, dan sudah banyak yang mengetahui kedai saya ini dengan nama Ayu Ara”, aku Arman.
Pria kelahiran Angkup Silih Nara ini menambahkan, seharinya sebanyak 10 sampai 15 tandan yang diolah menjadi pisang goreng ini dibelinya dari pedagang asal pesisir.
“Sungguh sangat disayangkan, didaerah kita tanahnya sangat subur, apa saja ditanam dapat tumbuh dengan baik, namun kita luput akan potensi alam kita disini, pisang saja harus didatangkan dari luar daerah, padahal selain kopi kan pisang bisa jadi tanaman alternatif warga”, sesalnya.
Arman pun melanjutkan bahwa dirinya harus mengeluarkan biaya pertandannya sebesar 15-20 ribu rupiah.
“Coba bayangkan saja jika bahan baku tersedia disini pasti masyarakat juga akan memiliki penghasilan sampingan selain berkebun kopi yang panen hanya 2 kali dalam setahun”, tutur Arman.
Yah, usaha giat yang dibangun Arman dan keluarganya memang patut diacungi jempol, hal ini merupakan motivasi bagi masyarakat di Takengon, jika menjadi seorang penjual pisang goreng saja mampu memiliki penghasilan yang begitu besar. Hanya saja kedepan kita harus mengingat potensi alam kita yang juga cocok untuk tanaman selain kopi. | lintasgayo.com