Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Mercure Francais; Kala Malaka dikepung armada laut Aceh

Ilustrasi galias.@Dok Sejarah Aceh
SEBUAH jurnal Prancis yang terbit sejak tahun 1605 pernah mencatat kegagahan armada laut Kerajaan Aceh kala mengepung Malaka. Raja Malaka bahkan harus meminta pertolongan bangsa Eropa untuk menghalau serangan 300 kapal layar dan 30 galias bangsa Aceh.

Saat itu jurnal yang kerap mengulas strategi militer di Eropa atau kehidupan-kehidupan istana ini dipimpin oleh Jean Richer (1635) yang kemudian diganti Theophraste Renaudot (1644).

Jurnal berbahasa Prancis ini menceritakan kisah pengepungan ini lewat artikelnya berjudul : Siege de Malaca par les Dachinois (Pengepungan Malaka oleh orang Aceh) tahun 1629 hingga 1630.

Berikut kisah pengepungan ini dinukilkan Denys Lombard dalam bukunya Kerajaan Aceh; Zaman Sultan Iskandar Muda :

Voyone ensuitte une relation publice par les Espagnols de ce que les Portugais ont fait ceste année aux Indes.

L’ évesque de Cochin estant mort en la ville de Goa, Sa Majesté Catholique envoya ordre pour establir trios chefs au gouvernement des Indes Orientales. Ses despesches estans ouvertes au conseil on cogneut que la volonté de ladite Majesté estoit d’admettre audit government les trios chefs qu’il nommoit, pour ester a l’advenir les Indes régies par un Triumvirat, ce qui n’avoit esté pratiqué jusques alors en ces pays-la depuis que les Portugais y sont establish. D. Nugna, Alvares de Boteillo, l’un de ces trios gouverneurs, ne fut si tost en la possession du gouvernement, que le Roy d’Aliena luy envoya une ambassade, pour le prier de le secourir et ayder a faire lever le siege de la ville de Malaca, assiégé par les Dachinois, s’offrant d’aller par après assiégér la Xitera (ou nouvelle Cour Belgique des Hollandais, ou ils tenoient leur Gouvernement) avec une puissante arméé. Xitera est une isle proche de Malaca ou les Hollandais ont fait bator une puissante forteresse.

Sur les offers de ce Roy, Nugna Alvares estant choisi pour conduire le secours a Malaca, fut bien aise de ceste charge, pour avoir autrefois esté employé aux gueres faictes contre les Hollandais. Pour l’exécution de ce dessein il fit équiper et armer trente navires et qulques galéres pour porter des vivres et munitions, laissant la charge du gouvernement aux deux gouverneurs ses collegues. Il partit de Goa avec cette armée, et suivant sa route arriva a la veue de Malaca, ou il trouva la ville assiégée par mer et par terre, par les Dachinois grands ennemis des Chrestiens, qui avoient leur armée navale plus de trios cens voiles et trente galeres Royales. Apres que Dom Nugna eut recogneu le camp des enemis, il les alla investir de nuict; Durant laquelle il les assaillit, les défit et mit en route; et poursuivant sa victoire, descend en terre avec ses forces, et alla attaquer le gros de l’armée des Dachinois, plus grande beaucoup en nombre d’hommes que la sienne; néant moins se confiant au courage des siens, la combatit et la défit, emmenant grand nombre de prissonniers, le reste estant contraint de se sauvér a la fuite; et ainsi la ville de Malaca fut délivree du siege qu’elle avoit soustenu l’espace de cinq mois, estant alors réduite a une grande disette de vivres et d’autres necessite sans pour cela perdre courage, ayan résisté puissamment contre les attaques des ennemis.

Le general Nugna Alvares estoit a la teste de son armée et surmonta en cette expedition les lieux et endroicts plus périlleux. Il asseura tallement le courage des siens que la gloire luy demeura d’avoir libéré Malaca de ce long siege, et gaigna sur les ennemis quatre cens pieces d’artillerie, entre lesquelles il y en avoit cent de quarante livres de caliber avec lesquelles il remis sur son armée navale, et alors la ville de Apres cela Nugna avec son armée navale s’achemina vers Xisera, ou le ioint avec luy se rendirent masitres de la forteresse.


Terjemahan :

Marilah kita lihat sekarang sebuah cerita yang diterbitkan oleh orang Spanyol mengenai apa yang dilakukan bangsa Portugis tahun ini di Hindia.

Karena Uskup Cochin, telah wafat di Kota Goa, Paduka Katolik mengirim perintah supaya ditempatkan tiga pemimpin dalam Pemerintahan Hindia Timur. Setelah pesannya dibuka di Dewan, maka diketahui bahwa menurut keinginan Seri Paduka hendaknya ketiga pemimpin yang disebutnya dimasukkan ke dalam pemerintahan, supaya Hindia untuk selanjutnya diperintah oleh sebuah Triumvirat. (Ketiga gubernur itu ialah Nuno Alvares Botelho, kapten jenderal “Armada Alto-bordo” , Dom Lourenco dan Cunha, kapten kota Goa dan Goncalo Pinto da Fonseca), suatu hal yang sejak bangsa Portugis menetap di sana belum pernah dilakukan di negeri-negeri itu sampai saat itu. Baru saja D. Nugna, Alvares de Boteillo, salah satu dari ketiga gubernur itu memegang jabatannya, maka Raja Aliena mengirim utusan minta pertolongan dan bantuan untuk membebaskan Kota Malaka yang sedang dikepung oleh bangsa Aceh, disertai dengan tawaran; sesudahnya akan mengepung Xitera (atau Istana Belgia baru kepunyaan Belanda, tempat pemerintahan mereka) dengan tentara yang kuat sekali. Xitera adalah pulau dekat dengan Malaka tempat sebuah benteng yang kuat didirikan oleh bangsa Belanda.

Atas tawaran raja ini, Nugna Alvares yang dipilih untuk memimpin bantuan bagi Malaka, senang dengan tugas ini karena dahulu sudah pernah ikut serta dalam perang-perang melawan bangsa Belanda. Untuk melaksanakan rencana itu, ia memperlengkapi dan mempersenjatai tiga puluh kapal dan beberapa galias (dua puluh delapan kapal_menurut teks Portugis) yang harus mengangkut makanan dan amunisi, sedangkan tugas pemerintahan diserahkannya kepada kedua gubernur lainnya, rekan-rekannya. Ia berangkat dari Goa bersama tentara itu, lalu menempuh jalan sampai tiba di depan Malaka; di sana ditemukannya kota itu dikepung dari laut dan dari darat oleh bangsa Aceh, musuh besar orang Eropa, yang mempunyai lebih dari tiga ratus kapal layar dan tiga puluh galias kerajaan dalam angkatan lautnya. Setelah sempat tinggal musuh diketahui oleh Dom Nugna, malam hari dikepungnya; sementara itu ia menyerang, mengalahkan dan mengusir musuh itu; dan untuk melanjutkan kemenangannya, ia mendarat bersama angkatan bersenjatanya dan menyerang bagian pokok tentara Aceh yang jauh lebih besar jumlahnya dari tentaranya sendiri; meskipun begitu ia mengandalkan keberanian orang-orangnya, dan tentara itu diserbunya dan dikalahkannya, dan dibawanya sejumlah besar tawanan, sedangkan sisanya terpaksa lari untuk menyelamatkan nyawanya; maka demikianlah kota Malaka dibebaskan dari pengepungan yang sudah lima bulan lamanya dideritanya, bersama kekurangan akan makanan dan keperluan lain, tetapi keberaniannya tak luntur dan serbuan-serbuan musuh dilawannya dengan kuat.

Jenderal Nugna Alvares memimpin tentaranya dan, selama serangan ini, berhasil melintasi tempat-tempat yang paling berbahaya. Keberanian anak buahnya diandalkannya sedemikian kukuhnya hingga ia tetap jaya karena telah membebaskan Malaka dari pengepungan yang lama, dan dari musuhnya direbutnya empat ratus alat artileri, di antaranya yang berbobot seratus empat puluh pon caliber yang dibawanya ke armada lautnya, maka kemudian Kota Malaka yang mulai menjadi kunci perniagaan Hindia Timur. Sesudah itu Nugna bersama angkatan lautnya menuju Xisera; di sana Raja Aliena sudah menggantung banyak orang Belanda, dan setelah mereka bergabung dengannya, mereka merebut bentengnya.[]

sumber : Atjehpost / Kerajaan Aceh; Zaman Sultan Iskandar Muda karangan Denys Lombard.

Jejak sejarah Banda Aceh dan istana di tepi Kuala Naga

Ilustrasi Masjid Raya Baiturrahman yang menjadi ikon Kota Banda Aceh.@Acehtourismagency
KERAJAAN Aceh Darussalam dibangun di atas puing Kerajaan Indra Purba, Kerajaan Indra Patra dan Kerajaan Indra Pura. Keterangan itu diperoleh setelah ditemukannya batu-batu nisan di Kampung Pande, Banda Aceh.

Diantaranya seperti yang terukir di nisan Sultan Firman Syah cucu dari Sultan Johan Syah. Di batu itu dituliskan keterangan bahwa Banda Aceh adalah ibukota Kerajaan Aceh Darussalam yang dibangun pada Jum'at, 1 Ramadhan 601 H atau 22 April 1205. Ibukota Banda Aceh ini dibangun oleh Sultan Johan Syah setelah berhasil menaklukkan Kerajaan Indra Purba dengan ibukotanya Bandar Lamuri.

Keterangan lain mengenai Kesultanan Aceh Darussalam juga dibuktikan dengan ditemukannya batu nisan milik Sultan Ali Mughayat Syah. Di nisan pendiri Kesultanan Aceh Darussalam yang berada di Kandang XII Banda Aceh ini, disebutkan bahwa Sultan Ali Mughayat Syah meninggal dunia pada 12 Dzulhijah tahun 936 Hijriah atau pada 7 Agustus 1530.

Merujuk pada tulisan Rusdi Sufi dan Agus Budi Wibowo tahun 2006 tentang Kerajaan Aceh Darussalam mengatakan, kemunculan Kesultanan Aceh Darussalam yang beribukota di Banda Aceh ini tidak lepas dari eksistensi Kerajaan Islam Lamuri. Salah seorang sultan yang terkenal dari Kerajaan Islam Lamuri adalah Sultan Munawwar Syah. Sultan inilah yang kemudian dianggap sebagai moyangnya Sultan Aceh Darussalam yang terhebat, yakni Sultan Iskandar Muda.

Akhir abad ke-15 pusat singgasana Kerajaan Lamuri dipindahkan ke Meukuta Alam, Banda Aceh sekarang. Sementara mengenai Lamuri atau sebagian ada yang mengatakan Lam Urik, saat ini terletak di kawasan Aceh Besar. Merujuk pada catatan Dr. N. A. Baloch dan Dr. Lance Castle, yang dimaksud dengan Lamuri yaitu Lamreh di Pelabuhan Malahayati (Krueng Raya sekarang). Jejak kerajaan ini kembali ditemukan saat ini di perbukitan Lamreh.

Dari catatan tersebut, diketahui istananya dibangun di tepi Kuala Naga (kemudian menjadi Krueng Aceh) di Kampung Pande atau sering disebut dengan "Kandang Aceh".

Masa pemerintahan Sultan Alaidin Mahmud Syah, istana Kerajaan Aceh dibangun ulang di seberang Kuala Naga (Krueng Aceh) dengan nama Kuta Dalam Darud Dunia (dalam kawasan Meuligoe Aceh atau Pendopo Gubernur sekarang). Selain itu, beliau juga mendirikan Masjid Raya Baiturrahman pada tahun 691 H. Banda Aceh Darussalam dijadikan sebagai ibukota Kerajaan Aceh Darussalam dan sekarang ini merupakan ibukota Aceh.

Berdasarkan temuan nisan Sultan Firman Syah tersebut maka diketahuilah Banda Aceh sudah berusia 808 tahun dengan penetapan hari jadi pada 22 April.

- See more at: http://atjehpost.com/sejarah_read/2013/04/20/48715/0/39/Jejak-sejarah-Banda-Aceh#sthash.29A0AGdR.dpuf

Antara Banda Aceh dan Kuta Raja

Pendaratan pertama Belanda di Aceh yang disambut perlawanan oleh pejuang Kerajaan Aceh.@Dok. Sejarah Aceh
PEPERANGAN antara Kerajaan Belanda dengan Kerajaan Aceh yang berlangsung di Aceh menorehkan luka lama. Apalagi saat Belanda berhasil membakar Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh dan menaklukkan ibukota kerajaan, Banda Aceh.

Peperangan frontal yang berlangsung antara Belanda dengan Kerajaan Aceh berlangsung lama. Sultan dan pengikutnya yang mendiami Istana Darud Dunia baru bisa ditaklukkan setelah mewabahnya kolera. Saat itu, Sultan Muhammad III Daud Syah Johan Berdaulat terpaksa mengungsi. Bahkan dia mangkat akibat penyakit tersebut.

Setelah Darud Dunia berhasil direbut, Belanda di bawah pimpinan Gubernur Van Swieten mendirikan kota baru di Banda Aceh. Upaya ini dilakukan untuk menghapus kegemilangan Kerajaan Aceh Darussalam dan ibukotanya Banda Aceh Darussalam.

Van Swieten juga mengganti nama Banda Aceh pada 16 Maret 1874 melalui proklamasinya yang berbunyi : "Bahwa Kerajaan Belanda dan Banda Aceh dinamainya dengan Kuta Raja, yang kemudian disahkan oleh Gubernur Jenderal di Batavia dengan beslit yang bertanggal 16 Maret 1874. Semenjak saat itu resmilah Banda Aceh Darussalam dikebumikan dan di atas pusaranya ditegaskan Kuta Raja sebagai lambang dari kolonialisme."

Kebijakan Van Swieten menuai kontroversi di kalangan tentara Belanda yang pernah bertugas. Mereka menganggap Van Swieten mencari muka pada Kerajaan Belanda karena berhasil menaklukkan pusat kekuasaan Kerajaan Aceh Darussalam. Mereka juga meragukan Van Swieten berhasil merebut Aceh pada saat itu yang kemudian dibuktikan dengan adanya perang gerilya oleh pasukan kerajaan Aceh dan ulama setempat.

Setelah Indonesia merdeka dan Aceh berada di dalam wilayahnya, nama Banda Aceh dipulihkan. Kuta Raja yang dilakapkan oleh Van Swieten diubah dengan Keputusan Menteri Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah bertanggal 9 Mei 1963 No. Des 52/1/43-43. Sejak itu, ibukota Aceh kembali disebut dengan nama Banda Aceh.

- See more at: http://atjehpost.com/sejarah_read/2013/04/20/48727/0/39/Antara-Banda-Aceh-dan-Kuta-Raja#sthash.FRMqvtHp.dpuf

Hikayat Dagang dan Perang dalam Kari Aceh

Aneka rempah dan bumbu kari, Kompas
BAGI masyarakat Aceh, kari adalah makanan istimewa. Kenduri tanpa kari ibarat pesta tanpa kegembiraan. ”Seperti orang keling kehilangan ketumbar. Orang akan bertanya-tanya jika tak ada kari dalam kenduri,” kata Nurdin.

Kari, ujar Nurdin, harus ada dalam setiap kenduri yang menyertai tiga siklus dalam kehidupan manusia, yakni kelahiran, perkawinan, dan kematian. Kari juga disuguhkan dalam acara-acara kenduri lain, seperti sunatan dan maulid. Biasanya daging yang digunakan untuk kari adalah ayam, sapi, kerbau, bebek, dan kambing. Selain itu, biasanya ditambahkan pula pisang kepok mengkal, hati batang pisang, kluwih, kentang, atau labu, bergantung wilayahnya.

Populernya kari di Aceh menggambarkan bahwa pengaruh kuliner India mengakar kuat di sana meski istilah kari tidak ditemukan dalam catatan-catatan lama. Dua jilid buku The Achehnes (1906) yang ditulis antropolog yang bekerja untuk pemerintah kolonial Belanda, Snouck Hurgronje, hanya mencatat tiga jenis gulè yang populer di Aceh, yakni gulèmasam keu’euéng, yakni aneka sayur yang direbus dalam air dan dicampur bawang merah, lada, cabai, garam, dan boh slimèng atau asam sunti.

Menu kedua adalah gulè leuma, yakni campuran aneka rempah, seperti jahe, temurui, dan serai. Sebagai lauknya digunakan ikan kering (eungköt tho) atau karéng (ikan kecil dari jenis biléh), atau ikan keumamah, yaitu ikan tongkol kering yang diimpor dari Kepulauan Maladewa di Samudra Hindia. Selain menggunakan asam sunti, kuah ini juga menggunakan santan.

Menu ketiga adalah kuah pi u (pliek u). Kuah ini dibuat dari ampas kelapa yang telah diambil minyaknya lalu dicampur bóh panaïh (nangka muda) dan ikan kering atau ikan kecil. Pada acara kenduri, menurut Snouck, menu yang wajib ada adalah nasi kuning (bu kunyit) dengan lauk gule ikan keumamàh teunaguën. ”Kerbau, sapi, atau kambing jarang dimasak kecuali pada acara-acara sangat besar,” tulis Snouck.

Absennya istilah kari dalam literatur lama tidak mengherankan. Pasalnya, penggunaan istilah kari secara global memang relatif baru. Colleen Taylor Sen dalam bukunya, Curry: A Global History (2009), menyebutkan, istilah kari awalnya tidak digunakan orang India. Mereka menyebut aneka hidangan berempah itu dengan nama lebih spesifik, seperti korma, rogan josh, molee, vindaloo, dan doh piaza.

Kata kari berasal dari bahasa India bagian selatan (Tamil), yakni keril yang dikaitkan dengan tumis sayuran dan daging berempah. ”Tetapi, sekarang orang India sering menggunakan kata kari untuk banyak masakan rumah dengan saus, khususnya ketika mereka bicara dengan orang asing,” tulis Taylor.

Globalisasi istilah kari dimulai saat terjadinya penghapusan perdagangan budak di Kerajaan Inggris pada 1807, yang diikuti penghapusan perbudakan pada 1833. Sebagai penggantinya, Inggris membawa lebih satu juta buruh dari India untuk bekerja di perkebunan-perkebunan di wilayah jajahannya, dari Afrika hingga Malaysia. Para pendatang baru itu mengintegrasikan bumbu-bumbu lokal ke dalam kebiasaan makan mereka untuk menciptakan berbagai kari jenis baru. Fenomena serupa terjadi di koloni Belanda di Indonesia.

Walaupun penyebutan kari secara global relatif baru, menurut Taylor, tradisi kuliner India telah lama merembes dalam kuliner Asia Tenggara, termasuk Indonesia. ”Sejak awal abad ketiga sebelum Masehi, pedagang India dan misionaris Buddha membawa asam jawa, bawang putih, bawang merah, jahe, kunyit, dan lada ke wilayah itu,” sebut Taylor.

Bahkan, menurut Taylor, jenis makanan berempah dan bersantan yang di Indonesia populer disebut sebagai gule sebenarnya bisa digolongkan sebagai kari. Tentu saja, kari yang telah diindonesiakan.

Pengaruh India, terutama dalam penggunaan rempah dan santan, itu jelas terlihat dari tiga jenis masakan Aceh di masa lalu, seperti dicatat Snouck. Sampai sekarang, ketiga jenis masakan itu masih sangat populer di Aceh. Bahkan, menurut Azhari, budayawan Aceh, gulè leuma (gule leumak) memiliki banyak sekali variasi, dari leumak sayuran sampai ikan teupelumak atau udang teupeulemak.

Ikan keumamah—saat ini diproduksi sendiri oleh orang Aceh—juga menunjukkan, lamanya interaksi perdagangan dan kebudayaan antara Aceh dan ”Negeri Atas Angin”, yakni sebutan untuk negeri India, Persia, Arab, dan sekitarnya. Sebaliknya Kepulauan Nusantara di masa lalu dikenal sebagai ”Negeri Bawah Angin”. Penggunaan istilah ”Negeri Bawah Angin” dapat ditemukan pada naskah Hikayat Raja-raja Pasai untuk merujuk wilayah Asia Tenggara, dari Sumatera Utara sampai Maluku.

(sumber: Kompas)

Kejayaan Lada Aceh Kini Tinggal Sepenggal Cerita

Nenek Rohani menunjukkan pohon lada di Desa Ie Suum, Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar, Kompas
SEJAK puluhan tahun sebelum Masehi, lada (Piper nigrum L) yang tumbuh di Sumatera bagian utara telah dilirik para pedagang asing, khususnya para pelaut dari Tamil, India selatan. Puncak kejayaan lada Sumatera terjadi pada abad ke-16 kala Kesultanan Aceh berdiri. Kesultanan yang menguasai pantai barat hingga timur Sumatera ini pun kaya raya karena perdagangan lada.

Selain dipakai untuk menggenjot perekonomian, lada juga dipakai Kesultanan Aceh sebagai alat diplomasi. Syahdan, seorang Sultan Aceh memerintahkan sebuah misi untuk mengirim upeti berupa lada satu kapal penuh kepada Kerajaan Turki yang melindungi Kerajaan Aceh dari serangan Portugis dan musuh lain.

Singkat cerita, misi dari Aceh itu tiba di Istanbul. Namun, pegawai kerajaan tidak memperbolehkan mereka menemui Raja Turki. Setelah beberapa lama di Turki, perbekalan mereka pun habis hingga mereka terpaksa menjual sebagian demi sebagian lada upeti untuk biaya hidup.

Utusan Aceh itu akhirnya bisa bertemu dengan Raja. Dan, mereka hanya bisa mempersembahkan lada secupak (sekitar 675 gram) yang tersisa di kapal. Raja Turki tetap menerima upeti dengan perasaan senang. Ia membalas ”upeti” lada secupak dengan memberikan meriam yang kemudian diberi nama meriam secupak (Snouck Hurgronje, 1985).

Lada memang lama mengakar dalam kehidupan orang Aceh, sampai-sampai ada keyakinan bahwa lada di dunia berasal dari sana. Menurut dongeng yang dikutip JJCH Van Waardenburg (1936), tanaman lada ada berkat usaha seorang keramat bernama Teungku Lam Peuneu’eun yang makamnya terletak di daerah Aceh Besar (IX mukim Tungköb). Keramat itu dikatakan telah menyemai bibit kapuk (panjoe)dan dari bibit itulah berasal tanaman lada.

Untuk menghormatinya, sebagian masyarakat di Aceh Timur dan Aceh Barat setiap tahun menggelar kenduri saat tanaman lada mulai berbunga di usia tiga tahunan. Kenduri bunga lada itu dimaksudkan untuk mencegah bunga lada rontok sebelum panen tiba.

Waardenburg juga mencatat, masyarakat Aceh memiliki sejumlah istilah yang dipinjam dari kata lada. Satu penggal periode pertumbuhan janin dalam kandungan ibu, misalnya, dinyatakan dengan ukuran lada. Umur janin dua bulan disebut sebesar butir lada (dua buleuen ubó lada), tiga bulan berbentuk manusia (lhèe buleuen ka meusipheuet), empat bulan jadi manusia (peuet buleuen jeuet keu ma 'nusia).

Jika seseorang merantau dan tak kembali lagi ke daerah asal, ia dikatakan ”mate reudeueb maté lada”atau mati tanaman dadap, mati tanaman lada.

Bagaimana lada saat ini? Buku Statistik Perkebunan Aceh tahun 2011 mencatat, produksi lada di seluruh Nanggroe sebanyak 217 ton (2009), 205 ton (2010), dan 216 ton (2011). Bandingkan dengan sepenggal catatan produksi lada yang dibuat Tome Pires (1512-1515). Ia menyebutkan, Pelabuhan Pidie dan Pasai saja ketika itu memproduksi 16.000 bahar lada atau sekitar 2.718 ton lada per tahun. Belum lagi jika dihitung produksi lada dari perkebunan-perkebunan di sepanjang pesisir barat Aceh (Dasgupta, 1962).

Begitulah, kejayaan lada Aceh kini tinggal sepenggal cerita di masa lalu.

(sumber: Kompas)

Aceh Menjadi Pusat Lada Dunia

Taburan daun temurui di atas kuah kari. (kompas)
GELOMBANG kedatangan orang-orang India ke pesisir Aceh memuncak setelah kejatuhan Kesultanan Malaka ke Portugis pada 1511. Malaka saat itu merupakan pelabuhan utama bagi kapal-kapal India, Arab, China, dan Melayu. Petualang Portugis, Tome Pires (1468-1540), menyatakan, ”Siapa pun yang menguasai Malaka dapat mencekik mati Venesia. Mulai dari Malaka, Malaka sampai ke China, China sampai ke Maluku, Maluku sampai ke Jawa, Jawa sampai ke Malaka dan Sumatera berada di dalam kekuasaannya.”

Namun, pernyataan Tome Pires tidak sepenuhnya tepat. Kejatuhan Malaka ternyata mendorong terbentuknya Kesultanan Aceh. ”Kesultanan Aceh yang tercipta oleh penaklukan Sultan Ali Mughayat Syah atas seluruh daerah pantai utara (1520-1524) pada dasarnya adalah permulaan baru yang muncul karena intervensi Portugis yang tidak dapat diterima itu,” tulis Reid.

Sejak terbentuknya kesultanan baru, Aceh berkembang menjadi pusat lada dunia. Para pedagang yang semula berlabuh ke Malaka memilih berdagang ke Aceh dan kemudian ke Banten. Dengan cepat, Aceh berhasil memperluas kebun lada di Sumatera dan menemukan jalur pengapalan lada langsung ke Laut Merah dengan menghindari wilayah pantai barat India yang dikuasai Portugis. ”Pada tahun 1550-an Aceh memasok sekitar separuh kebutuhan lada Eropa melalui jalur ini,” tulis Reid.

Banda Aceh yang menjadi pusat kekuasaan Kesultanan Aceh semakin banyak dihuni pendatang dari ”Negeri Atas Angin”, khususnya dari India. Mereka membangun koloni, sebagian kawin dan melebur dengan orang Aceh. ”Sekarang susah mencari orang Aceh asli. Lihat saja wajah orang Aceh. Ada yang mirip Arab, Keling, Banglades,” kata Rusdi Sufi. ”Di Aceh juga ada beberapa Kampung Keling yang jejaknya masih ada. Ini menandakan mereka pernah membangun koloni.”

Mengutip catatan pelaut Inggris, James Lancaster, yang berkunjung ke Aceh pada 5 Juni 1602, Dennys Lombard (1981) menyimpulkan bahwa bangsa India mendominasi perdagangan Aceh pada era itu. Saat Lancaster membuang sauh di Aceh, dia melihat 16 sampai 18 kapal, ”beberapa dari Gujarat, Bengala, Kalkutta (Malabar), sebagian dari Pegu (Myanmar).” Selain itu, menurut Lombard, Aceh juga mempunyai hubungan dengan pedagang Sri Lanka dan Koromandel (Tamil). Beragamnya subetnis India yang berdagang ke Aceh ini agaknya memengaruhi banyaknya variasi kari di Aceh dewasa ini.

Selain berdagang, menurut catatan pelaut Inggris, William Dampier yang berkunjung ke Aceh pada 1688, orang Tamil didatangkan ke Aceh sebagai budak untuk bekerja di pertanian. ”Budak dibawa orang Inggris dan Denmark beberapa waktu yang lalu dari pantai Koromandel (Tamil) ketika ada kelaparan di Aceh... Merekalah yang pertama-tama memperkenalkan jenis pertanian itu kepada orang Aceh (pesisir),” tulis Dampier dalam Supplément du voyage autour du monde (1723).

Para pedagang India ini, lanjut Lombard, tetap menjalin perdagangan dengan Aceh hingga abad ke-18 ketika kejayaan Kesultanan Aceh sudah merosot. ”Meskipun kota itu tidak lagi merupakan gudang barang dagangan dari Timur, perdagangannya dengan orang-orang Hindustan masih terjalin. Mereka menyediakan kain katun dan sebagai gantinya menerima serbuk emas, kayu sapang, buah pinang, (nilam), lada, belerang, kapur, dan kemenyan,” tulis Lombard.

Kegemilangan Kesultanan Aceh terus merosot seiring menguatnya Belanda di Nusantara. Sejak kedatangan Portugis di Malaka yang disusul Spanyol, Inggris, dan Belanda, perburuan rempah kian lekat dengan peperangan. Aceh pun berada dalam pusaran perang panjang dan berdarah. Perang Aceh melawan Belanda dimulai dari 1873 hingga 1904. Ini merupakan perang terpanjang di Nusantara. Bahkan, setelah Kesultanan Aceh menyerah pada 1904, perlawanan rakyat Aceh dengan sistem gerilya berlanjut. Aceh belum sepenuhnya ditaklukkan Belanda ketika gerakan kemerdekaan Indonesia menggelora.

Setelah kemerdekaan Indonesia, perang masih terjadi di Aceh. Pada 1953, Daud Beureuh menggelorakan perlawanan DI TII yang baru berakhir pada 1962. Empat belas tahun kemudian, giliran Hasan Tiro mendeklarasikan kemerdekaan Aceh Sumatera. Aceh kembali dibelit konflik berdarah hingga penandatanganan damai pada 15 Agustus 2005.

(sumber: kompas.com)

Menikmati suasana Belanda di Kerkhof Peutjoet

Kerkhof di Banda Aceh. @atjehpost.com
NYAMAN dan asri. Inilah kesan pertama saat memasuki pintu gerbang utama Kherkof Cementery atau yang lebih dikenal denganKherkof Peutjoet. Nama Kerkhof sendiri berasal dari bahasa Belanda yang memiliki arti Gereja atau Kuburan. Jalur masuk yang panjang mencapai puluhan meter dan lebar tampak menyerupai altar gereja, namun yang ini hanya berbahan dasar aspal. Di ke dua sisi altarrumpun-rumpun bunga melati terlihat tertata rapi, dengan warna bunganya yang putih, juga ada bougenvile dengan bunganya yang warna-warni.

Kerkhof Peutjoet diapit oleh gedung Museum Tsunami yang tampak tinggi menjulang di sisi sebelah kirinya, gagah dan menarik perhatian dengan warna cokelat yang terang. Sedangkan di ruas kanan diapit oleh sebuah perguruan Katholik Budhi Darma. Di bagian depan, terdapat taman thank to the world atau yang lebih dikenal dengan sebutan Lapangan Blang Padang.

Meski di area ini terdapat 2.200 makam namun tidak sedikitpun ada kesan angker, sebagaimana kesan umum yang ditemui di area pekuburan. Suasana inilah yang membuat Kerkhof Peutjoet mempunyai daya tarik tersendiri bagi pengunjung, baik lokal maupun dari manca negara.

Pengunjung dapat dengan bebas menyusuri area makam untuk melihat-lihat, atau mengabadikan berbagai moment di komplek makam ini, bahkan banyak juga bagi pasangan yang akan menikah melakukan foto preweddingnya di tempat ini. Terutama di hari-hari libur.

Setelah melewati pintu utama kita akan bertemu dengan sebuah pintu gerbang yang kokoh dan tinggi. Dibuat pada tahun 1893 Masehi berbahan dasar batu bata. Di atas pintu tertulis sebuah kalimat dengan kosa kata arab, melayu dan huruf jawa. Onze kameraden gevallen op het veld van eer begitu kalimat yang tertera di sana yang artinya untuk sahabat kita yang gugur di medan perang.

Dinding-dindingnya yang tebal berwarna krem dengan les cokelat, di setiap ruasnya terdapat lapisan batu marmar yang digrafir nama-nama pejuang yang terdapat di dalam komplek makam. Lengkap dengan tahun serta lokasi kejadian.

Nama-nama yang tertera di dinding tercatat sejak tahun 1873 M sampai pada tahun 1935 M. Dari 2.200 nama yang tercatat, 35 nya adalah prajurit angkatan laut kerajaan dan 118 orang perwira. Sedangkan sisanya didominasi oleh tentara Kerajaan Hindia Belanda.

Komplek makam ini masuk ke kawasan Blower, kelurahan Suka Ramai yang terletak di Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh. Di sebelah timur berbatasan langsung dengan jalan T. Umar, Stui. Bersebelahan dengan taman Ghirah atau lebih dikenal dengan sebutan Taman Gunongan.

Di sinilah terdapat sebuah makam seorang Jenderal Belanda yang sangat terkenal pada masa itu yaitu J.H.R Kohler (1818-1873 M). Dalam buku panduan Kuburan Militer Peutjoet yang ditulis oleh G.A Geerts yang menjabat sebagai wakil ketua Yayasan Peutjoet Belanda, Jenderal Kohler digambarkan sebagai sosok lelaki Belanda yang memiliki wajah agak persegi, matanya cokelat dan berkulit putih kemerahan, rambutnya merah seperti rambut jagung dan kumisnya tebal.

Kohler adalah perwira komandan pada ekspedisi Aceh yang pertama. Pada tanggal 8 April 1873 ia mendarat dengan pasukannya di pantai utara Aceh. Setelah membentuk pangkalan jembatan di dekat sungai Aceh, ia bermaksud untuk bergerak menuju ke Kraton tempat kediaman Sultan Aceh, sayangnya Kohler tidak mengetahui secara pasti di mana lokasi Kraton.

Kohler dipromosikan menjadi Mayor Jenderal pada tanggal 10 April 1873, pada hari berikutnya Masjid Raya Baiturrahaman dibakar oleh Belanda yang menimbulkan kemarahan luar biasa dari rakyat Aceh dan terjadilah peperangan yang sangat sengit.

Kira-kira pukul 08.30 pagi bertepatan dengan tanggal 14 April 1973 Kohler datang untuk melihat-lihat situasi dengan teropongnya, saat itulah ia ditembak oleh seorang penembak Aceh, lokasinya berada di halaman Masjid Raya Baiturrahman, sampai sekarang masih terdapat monumen kematian Kohler di sana.

Setelah kematiannya, jenazah Kohler kemudian diterbangkan ke Batavia dan dikuburkan di pekuburan Tanah Abang Jakarta. Namun, karena ada rencana pengembangan kota Jakarta pada tahun 1975, atas permintaan masyarakat Aceh akhirnya pada tahun 1978 jasad Kohler dipindahkan ke Aceh pada tanggal 19 Mei. Setelah 105 tahun ‘menetap’ di pekuburan Tanah Abang Jakarta, sang Jenderal pun kembali ke Aceh. Ke tanah tempat di mana ia menghembuskan nafasnya yang terakhir kali.

Selain Kohler tentu saja banyak prajurit-prajurit lainnya yang terkenal dan dimakamkan di sini, salah satunya adalah Letnan Kolonel J.J Roeps yang terbunuh pada tahun 1840. Mereka-mereka yang dikuburkan di sini termasuk para perempuan dan anak-anak yang terkena wabah penyakit seperti malaria.

Namun, dari ribuan makam berwarna putih yang tampak sangat terawat dan bersih tersebut,di bagian timur kompleks makam terdapat pemandangan lain. Di bawah sebatang pohon yang rimbun terdapat tiga buah makam dengan kondisi memprihatinkan. Rumput-rumput ilalang tampak tumbuh berantakan. Yah, salah satu dari makam itu adalah milik Meurah Pupok, putra Sultan Iskandar Muda, yang dihukum karena suatu kesalahan. Konon katanya, pada saat Sultan menghukum puteranya inilah lahir ungkapan Matee aneuk meupat jirat, gadoh adat pat tamita.

Meski terletak di area Kerkhof, namun pihak Yayasan Peutjoet di Belanda tidak ikut mengurus makam Meurah Pupok. Karena mereka beranggapan itu di luar kewenangan Yayasan.

Adalah Habibah (45), yang sudah belasan tahun menjaga dan merawat Kerkhof ini mengatakan bahwa pada waktu-waktu tertentu ada petugas khusus yang datang untuk membersihkan makam Meurah Pupok. Namun ia tidak mengetahui secara pasti dari mana mereka berasal. “Sepengetahuan saya juga tidak pernah ada keturunan Sultan yang berkunjung ke makam ini.

(sumber: atjehpost.com)

Gampong “Heritage” Itu Telah Melintasi Dunia


ULEE  LHUEUE. Ya, sebuah gampong “heritage” dengan pelabuhan tua yang  cerocok lapuknya menusuk laut. Cerocok dengan selangkang besi karatan berkolom menyilang, berlantai papan “tim”  yang diatasnya bersusun rel  tempat lori  melarikan barang  hingga ke gudang-gudang  berpagar kawat.
Ulee Lhueue memang sebuah kota peninggalan sejarah  yang dihari-hari menjelang kematiannya,  ketika di pagi bencana di ujung Desember delapan tahun lalu,  menjadi tempat “indehoy” para pemancing ikan dalam menyalurkan  hobi.
Cerocok tempat tongkang dan sekoci kapal KPM  (konneklijke paketvaart matschaapy) bersandar menurunkan  barang serta penumpang. Cerocok yang  membuat Bram “Atjeh” Titaley, si Ambon Manise, anak “marsose” di asrama Dipo –kini menjadi kawasan Hotel Sultan dan pertokoan sepanjang Jalan Sri Ratu Sfiatuddin,- yang kemudiannya menjadi buaya keroncong dengan  penggalan syairnya, “Ulee Lheue di Kutaraja// Boleh tak boleh dibawa saja.”
Bram, seperti pernah dikatakan cucunya Harvey Malaiholo,  sebelum berpulang,  sering menerbangkan kenangannya ke negeri di pucuk barat nusantara itu.  Betapa tidak, si Bram Atjeh, kakeknya penyanyi bintang radio itu,  ketika di usia  tuanya  termehek-mehek merindukan Kutaraja. Bukannya hanya Bram, pemusik lainnya Max Sapulete,  “Si Nyong” Ambon itu, pimpinan orkes  RRI Jakarta, yang lebih Atjeh dari orang Aceh, menyediakan hari ketika masih mengisi acara di RRI Banda Aceh  selalu menyisihkan liburan Minggunya bermain pasir di Pantai Cermin.
Kini, kenangan Ulee Lheue di Kutaraja, sepertinya sudah menguap.. Menguap bersama terjunnya tubir laut.  Menguap pula bersamanya,  perumahan liar dan kumuh yang berhimpitan ke arah Pantai Cermin bersama kantor “duane,” bea cukai, bangunan termegah di tanah syuhada itu.
Seperti tak bersisa, lenyap pula kampung “wareeh” Aso Nanggroe, Surin, Meuraksa, Cot Leungkeuhuh, Lambong dan Deyah Geulumpang hingga Punge, baik yang bernama   Blang Cut maupun Jurong. Tak ketinggalan  sudah tamat negeri Blang Oi’ tempat bermukim  “entrepreneur” Pasar Atjeh  yang terkenal dengan rumah dua lantai berkamar sepuluh sepanjang kisi-kisi  jalan desanya  berkelok-kelok.
Kini  Gampong Wareeh itu   dijejeri rumah petak type 36 macam kotak sabun dengan penghuni yang sudah punah dan  kalau pun masih ada yang tersisa jumlahnya tak lebih dua ratus orang. Padahal sebelumnya penduduk gampong-gampong tua itu mencapai angka  2.000 jiwa. Gampong-gampong di Meuraxa itu selain padat penduduk juga padat dengan rumah petak berbaur rumah “aso lhok.”
Di Surin, seperti diceritakan Irwan, anak “aso” di kampung itu, ibu, nyak wa, pakwa, cut kak dan “aneuk  keumeun”nya berpulang di kuburan massal tanpa sempat ia kafani. Ia sendiri belum mau bermukim di kampung “wareeh” itu, padahal rumah dan jalan-jalannya sudah direhab  bak sarang laba-laba. Sudah beraspal “hotmix,” sering  mengecoh  para petakziah. “Masih ada perasaan getir setiap saya pulang,” ujar Irwan yang mendapat satu rumah petak di sana. Getir dari “gadohnya seumangat.”
Mau tahu bagaimana derita si Mahzar anak Kampung Pie yang tak punya tali gantungan hidup setelah kerabatnya tak tersisa satupun, dan  dirinya terlunta-lunta di sudut Goheng setelah diayak humbalang. Ia sering “heng” kalau diajak berselancar mengingat hari kelam itu. “Hana cas lee,” kata remaja, yang ibunya, dulu, guru disebuah sekolah dasar, meringis menahan pedih ulu hatinya.   Sorot matanya kosong. Dan di kampungnya banyak penduduk baru dicatatkan kantor desa untuk menebalkan susunan kartu keluarga. “Saya sulit untuk mengingat, sudah banyak ngawurnya,” ucapnya tergelak.
Untuk itu, ketika kami takziah, pekan lalu ke kampung para syuhada itu, tak ada lagi kesibukan para nyak-nyak menjulur dari “rumoh” panggung  menjemur asam sunti. Tak ada  tebaran aroma “pliek u’ ditampah jemuran matahari menerobos jurong-jurong dengan bau menyengat dan mengingatkan kita tentang gampong aceh yang khas. Sebuah kehilangan dari putusnya rantai budaya ketika anak-anak Ulee Lhueue memakai celana jengki dengan kaos oblong bertuliskan “care, uplink, chf, oxfam” dan “arc.”  Kehilangan ketika kami  tak menemukan “rumoh aceh” di kampung Aso Nanggroe.  Kehilangan alunan nyanyian bermantera  do…do  idang …do  ..do ..idi…….”  ketika “po nek” mengayun cucunya digulungan buaian “ija panyang”  menjelang dhuha. Dan juga kehilangan roh  Cek Man, pawang pukat di  kampung “tuha,” Lamteh, yang suaranya menggelegar memimpin koor tarek pukat, “satoooo….duaaa….tegaaaaaa di pantai kampung para “indatu” itu.
Juga ketika kami “mudik” tak ada lagi “keukarah” Cot Lengkeuhuh yang renyah bersama timpan “made in” Lambong nan legit dan aromanya bisa  tinggal berhari-hari bersama sendawa. Timpan yang selalu diimpikan   Yusuf Hanafiah, guru besar kedokteran di USU Medan ketika menjenguk tanah kelahirannya.  Dan ketika kami berjumpa pada suatu hari di sebuah hotel di Jakarta beberapa tahun lalu, mantan Rektor USU itu, berlinang air mata mengenang Lambong sebagai negeri “kuliner.”
Kini kuliner Lambong itu sudah raib bersama anak-anak terbaiknya. Kampung itu kini seperti merana dengan jalan desa yang lengang dan satu dua rumah petak pemberian NGO dan BRR yang tersuruk dicelah-celah tanah rawa “neheun.”  Tak ada lagi rantai bersambung kuliner  Lambong bertekstur  Aceh yang menjadi pesanan  “ekspor”  hingga ke Negeri Kedah di Malaysia, dan nikmatnya mencecah lidah.
Itulah haru biru dari kehilangan peradaban “peutomeurohom” dan datangnya  sebuah perubahan campur aduk dari berbagai sudut “donya,” membawa pesan jender sebagai warisan  peradaban baru. Padahal para  Cut Po pewaris Safiatuddin telah mengajarkan penghormatan terhadap peninggalan tetua.  Perubahan dari  mewabahnya virus kultur metropolitan  untuk membunuh  kesantunan anak “aso nanggroe” dalam bertingkah polah.
Haru biru dari lekangnya ingatan mereka tentang terceraiberainya pelabuhan ferry di ujung hutan bakau Pantai Cermin dan mengirim kapal PLTD Apung milik PLN menerabas seluruh halangannya untuk kemudian terdampar di Blang Cut untuk jadi monumen kesejatian bencana. Sebuah monumen tanpa harus dibangun dengan proses tender dan amprah duit berjibun tapi menekukkan  kepala para penziarah yang menatapnya.
Ulee Lheue hari-hari di ujung bulan Desember adalah, tipikal kampung modern tanpa penanda “rumoh tuha” dengan  tangga, dua belas bilah papan, berpintu rendah  untuk tempat pulangnya para “syedara.” Kampung yang tak lagi  punya   “bale “ pengajian dan “meunasah” sebagai rumah kedua para anak akil baliq. Dan juga tak ada lagi  “gampong aceh”  dengan tumbuhan pusaka   “bak mee, bak meulieng” dan pohon belimbing untuk bahan kuah “asam keung” sebagai simbol tanah “aso.”
Lihatlah bangunan  minimalis gedung megah Pusat Riset Tsunami kearah jalan Peukan Bada, dulu, dipantatnya berdiri Rumah Sakit Meuraksa di atas bekas tanah  eigendom milik “hofd,” ulee balang sagoe XII. Pusat riset itu menjulang empat lantai dengan cat “ngejreng,” dan diresmikan beberapa tahun lalu, kini, kesepian dengan rumput liar mulai merambat pagar. Juga ada gedung pertemuan nelayan, yang kini menjadi Kantor Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh, di ujung Jalan Iskandarmuda arah kekota yang  menjadi jalan utama dua jalur yang  menjadi jalan terbaik di kota ini, membelah desa lambung dengan desa Meuraksa.
Cobalah susuri Deah Geulumpang, Deah Baro, Lambong hingga ke Lampaseh Aceh. Jalannya di pilah dua dengan pot beton yang bunga meranggas tak pernah disirami. Ada gedung bertingkat untuk penyelamatan berlantai lima dengan “heli pad” di pucuknya. Marka penunjuk arah bersilangan tanda garis panah membuat “mumang”  Saidon, orang tua di Deah Geulumpang. Ketika kami jumpai usai “tsunami drill”  diujicoba beberapa waktu lalu, dan ia  ikut berlarian terengah-engah. Sembari menghela nafas, pria berambut putih yang melajang di rumah cucunya itu mengatakan, “kalau sudah janji mati, ya sudah.” Janji yang ditepati ketika ia teringat “tambo” keluarganya menutup garis turunan di hari kemalangan empat tahun lalu itu. 

Penulis: Darmansyah

Sumber: Nuga.co

Ini Rumah Sewaan Pertama di Kota Banda Aceh


RUMAH kopel memanjang di gang melingkar  itu telah lama berganti pemilik. Juga berganti rupa.  Gang kecil, yang dulunya  sangat terkenal sebagai  hunian elite birokrat,  dengan nama ke”belanda-belanda”an, Spordex,  telah bersalin nama dengan  nama baru  Linggar Waru.
Sebuah nama,  entah dari reinkarnasi  mana datangnya,  sehingga  mengubah pula bentuk bangunan  kopel  memanjangnya  dengan ruko dan  rumah-rumah gaya minimalis.
Spordex. Spoor dan dex. Dua  kata bahasa  Belanda. Kereta api dan tanggul. Spordex,  memang tanggul rel kereta api,  dulunya. Dex yang dibangun Belanda di awal penaklukan Aceh, 1874, untuk memudahkan mobilitas logistik dan pasukan dari Uleue Lheue ke Koetaradja sepanjang lima kilometer, melintasi Pekan Aceh, Lampaseh, Deah Baro maupun Deah Geuleumpang.
Spordex, tanah tanggul kereta api itu,  entah bagiamana awalnya, diadopsi untuk sebuah nama  “cluster” hunian di tengah kota oleh seorang Yunani muda, Petros Franxiscus Handziris. Kluster sangat terkenal bagi warga Banda Aceh kala itu. Hunian elite birokrat berstatus rumah sewa. Hunian yang dicatat sebagai properti pertama di Koetaradja.
Handziris memang “tuan” rumah sewa di Koetaradja. “Tuan” dengan status sosial tinggi di lingkungan pergaulan elite kota dengan menabur kepemilikan kluster rumah sewa. Kepemilikan rumah sewan yang tidak hanya di gang melingkar Spordex, tapi juga merambah ke jalan Cut Meutia, samping Java Bank (kini BI) dan kini telah jadi barisan pertokoan, yang salah satunya, rumah makan Asia Utama. Bahkan,  sampai ke Merduati.
Di Merduati  jejak properti Handziris masih bisa dilacak lewat ingatan banyak penduduk Banda Aceh. Letaknya, ketika itu,  agak terperosok di pantat jalan “tusuk sate,’ Muhammad Jam – Merduati. Persisnya di barisan toko buku Zikra, sekarang,
sebelum dibangun jalan tembus, ujung Muhamad Jam. Gangnya berkelok dari arah sebuah  jembatan kecil di samping rumah panggung, kantor legiun veteran, dan tembus ke depan kantor majelis ulama sekarang. Lokasinya agak tersembunyi di belakang kerumunan bangunan.
Rumah kopel Merduati hanya satu baris, sebanyak enam unit. Bangunannya dari kayu berjendela tinggi dari kaca. Dan sebagai rumah sewa, seperti Spordex maupun samping BI, penghuninya selalu gonta ganti.
Spordex, rumah kopel Cut Meutia dan kopel ujung jalan Muhammad Jam, memang tidak bisa dipisahkan dari Petros F Handziris. “Tuan Muda,” sebagaimana tertulis di nisannya, yang datang ke Koetaradja dari sebuah kota kecil berteluk indah, Tinos di Yunani,   yang juga tercatat sebagai kota kelahiran Tina, istri raja kapal Onasis,  di tahun 1900. Ia datang ke Koetaradja dalam  usia sangat remaja, 17 tahun.
Sebelum ke Koetaradja, menurut berbagai informasi, tuan muda Ziris, sempat singgah dan menetap sementara di Medan. Ia punya paman dari garis ibu yang telah lama menetap di sana dan juga menekuni bisnia rumah sewa. Sang pamanlah yang “mengundang” Ziris ke Hindia Belanda dan membekalinya dengan modal untuk membangun rumah sewa di Koetaradja.
Ziris pernah dimintakan klarifikasinya atas  informasi ini  dan dia mengiyakan tanpa ingin mengomentari.
Kluster hunian Spordex, menurut catatan yang agak simpang siur,  dibangun  tahun 1907.  Dalam dua type.  Type pertama, sebanyak 15 unit, berbentuk kopel dua, bergaya semi art deco, permanen, di sisi utara. Sedangkan di sisi selatan juga bangunan  berbentuk kopel memanjang sebanyak  sepuluh unit bangunan kayu.
Satu dari lima belas bangunan permanennya, di sisi utara,  ditempati oleh lelaki kelahiran 1883 itu, hingga akhir usianya tahun 1960.
“Saya masih ingat rumah yang ditempati Handziris. Ada pahatan namanya di atas pintu utama disertai  gambar bendera Yunani sedang berkibar. Sekarang saya tidak tahu apa masih ada pahatan itu,” ujar Teuku Bahrum, 66 tahun, pemilik Hotel Rajawali, yang dipenghujung tahun limapuluhan pernah tinggal di Spordex dan beristrikan anak salah seorang penghuni disana.
Bahrum memang bisa dengan pas mengingat rumah tinggal Handziris karena ia pernah menjadi penghuni salah satu rumah sewa di situ.  “Saya lama tinggal di Spordex dan tahu penghuninya, kala itu. Mereka  para pejabat penting. Ada Pak Binsar, kepala kantor statistik, jaksa Darwis, bupati Tengku Sulaiman, Cut Rahmah dan banyak lainnya,” kenang Bahrum.
Komunitas Spordex, waktu itu,  menurut Bahrum, sangat beragam. Plural. Baik dari suku, agama maupun status sosial. “Tapi harmoni. Kami seperti keluarga besar. Mungkin pengaruh romantisme pasca perang,” ujar pemilik hotel Rajawali itu melayangkan ingatannya ketahun limapuluhan  ketika ia menjadi salah seorang penghuni gang melingkar di pangkal jalan Diponegoro itu.
Bahkan, menurut Bahrum, hingga kini, ia masih rajin  berkomunikasi sesama mantan penghuni. Ia menyebut anak-anak Pak Binsar atau anak-anak Pak Sitompul yang telah jadi “orang.” Bahkan anak Pak Darwis, asal Minang, beberapa orang diantaranya  menjadi tentara dan berpangkat jenderal. Begitu juga dengan anak Pak Sitompul yang pernah jadi jenderal dalam posisi penting di TNI-AD “Mereka rata-rata sukses karena mendapat pendidikan yang baik,” katanya serius..
Linggar Waru, atau Spordex, kini tak lagi dengan wajah maupun suasana semasa Handziris masih datang mengutip uang sewa. Dan tidak juga seperti yang bisa dikenang Teuku Bahrum ketika masih berdomisili di sana. Handziris telah berpulang 19 April tahun 1960, dan dikebumikan di pekuburan Kherkof.
Rumah-rumah Handziris, baik yang permanen maupun bangunan kayu, di Spordex  telah beralih kepemilikan.Ada diantara rumah itu yang alih kepemilikannya berlangsung lebih dari sepuluh kali. “Tak ada lagi pemilik lama di sini,” kata salah seorang penghuni di barisan rumah permanen tanpa ingin disebut namanya. Ia sendiri mengaku  menjadi pemilik kedelapan.
Sumber : nuga.co

Tiang Tempat Teuku Chik Di Tunong ditembak mati akan dipugar

Tiang tempat Teuku Chik Di Tunong dihukum dieksekusi. @ Irman I.P
DARI 19 situs sejarah di Lhokseumawe hasil pendataan sementara oleh Bidang Kebudayaan pada Dinas Perhubungam, Pariwisata dan Kebudayaan (Dishubparbud), tiang tempat Teuku Chik Di Tunong ditembak mati oleh serdadu Belanda, salah satu situs yang menjadi prioritas pemerintah untuk pemugaran.

“Kita akan prioritaskan pemugaran situs-situs sejarah yang ada di Kecamatan Banda Sakti, yang mudah dijangkau. Prioritas pertama, pemugaran tiang gantungan (tempat eksekusi) Teuku Chik Di Tunong,” ujar Faisal Riza, Kepala Bidang Kebudayaan pada Dishubparbud Kota Lhokseumawe seperti yang di beritakan Atjehpost, Kamis sore, 14 Maret 2013.

Faisal Riza bersama sejumlah staf Bidang Kebudayaan, Kamis kemarin, telah meninjau lokasi tiang tempat suami Cut Meutia tersebut ditembak mati oleh penjajah Belanda, di Kampung Jawa Lama, Banda Sakti. Kata dia, lokasi situs itu berada depan pintu rumah warga.

“Lahan lokasi situs tersebut statusnya milik masyarakat setempat, maka untuk pemugaran atau pelestarian, kita harus melakukan pembebasan lahan terlebih dahulu, tentunya ini butuh proses,” kata Faisal Riza.

Suami pahlawan nasional Cut Meutia, Teuku Chik Di Tunong yang turut berperang melawan Belanda, ditangkap hingga akhirnya dihukum tembak dengan cara diikat pada tiang di dekat pantai Lhokseumawe pada 25 Maret 1905 silam.

Hasil penelusuran pada Sabtu, 28 Juli 2012, diketahui lokasi eksekusi mati yang dilakukan serdadu Belanda terhadap Teuku Chik Di Tunong (Teuku Cut Muhammad) dan rekannya Teuku Chik Di Buah (Teuku Mohd Daud) berada di Kampung Jawa Lama, Banda Sakti, Lhokseumawe.

Di lokasi yang berjarak sekitar 50-70 meter dengan pantai itu, ada satu tiang besi sebesar betis orang dewasa. Tetapi tiang besi itu hanya tersisa setinggi lutut anak usia sekolah dasar. Pangkal tiang besi tersebut tertancap persis di sebuah lorong di tengah pemukiman penduduk yang amat padat.

Warga setempat berharap Pemerintah Lhokseumawe segera memugar situs sejarah itu agar tidak lenyap tanpa bekas. Harapan ini juga disampaikan Cut Zuraida Binti Raja Sabi, cucu dari Teuku Chik Di Tunong dan Cut Meutia.

(atjehpost)

Sejarah panjang IAIN Ar-Raniry

DERETAN gedung berwarna indah tertata rapi. Arsitekturnya bernuansa pandang pasir nan megah. Gedung itu adalah milik Institute Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry, Kota Banda Aceh, yang baru saja selesai dibangun ulang oleh Islamic Development Bank (IDB).

Ratusan mahasiswa tampak sibuk dengan aktivitas masing-masing. Seperti yang di kutip dari Atjehpost, hari ini, Kamis 14 Maret 2013, merupakan hari pemilihan Rektor IAIN Ar-Raniry yang baru.

Ada tiga kandidat yang akan bersaing, seperti Prof Dr H Farid Wajdi Ibrahim MA, yang menjabat sebagai Rektor IAIN Ar-Raniry saat ini, Dr Mujiburrahman MAg, Pembantu Dekan 1 Fakultas Tarbiyah, serta Dr Hj Chairan M Nur MAg, Pembantu Dekan II Fakultas Tarbiyah.

Sejarah panjang IAIN Ar-Raniry memiliki arti penting tersendiri bagi para dosen untuk mendapatkan posisi tertinggi di sana.

Berdasarkan data yang dimiliki situs Wikipedia, lahirnya IAIN Ar-Raniry didahului dengan berdirinya Fakultas Syariah pada tahun 1960 dan Fakultas Tarbiyah tahun 1962 sebagai cabang dari IAIN Sunan Kalidjaga Yogyakarta.

Di samping itu pada tahun yang sama (1962-red), didirikan pula Fakultas Ushuluddin sebagai fakultas swasta di Banda Aceh. Setelah beberapa tahun menjadi cabang dari IAIN Yogyakarta, fakultas-fakultas tersebut berinduk ke IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta selama enam bulan sampai IAIN Ar-Raniry diresmikan.

Pada saat diresmikan pada tanggal 5 Oktober 1963, dengan dikeluarkannya Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 89 Tahun 1963.

Sebagai IAIN ketiga di nusantara setelah IAIN Sunan Kalidjaga Yogyakarta dan IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, IAIN Ar-Raniry terus maju dan berkembang.

Hal ini terlihat, ketika IAIN Ar-Raniry diresmikan (5 Oktober 1963) baru memiliki tiga fakultas, yaitu Fakultas Syari'ah, Fakultas Tarbiyah dan Fakultas Ushuluddin, namun baru berusia 5 tahun telas diresmikan pula Fakultas Dakwah (tahun 1968) sebagai fakultas dakwah pertama di lingkungan IAIN di Indonesia. Pada tahun 1968 ini pula, IAIN Ar-Raniry ditunjuk sebagai induk dari dua fakultas agama berstatus negeri di Medan (cikal bakal IAIN Sumatera Utara-red), yaitu Fakultas Tarbiyah dan Syari'ah yang berlangsung selama 5 tahun.

Untuk menyamai dengan IAIN-IAIN lain, pada tahun 1983, Fakultas Adab resmi menjadi salah satu dari 5 fakultas di lingkungan IAIN Ar-Raniry.

Sedangkan kata Ar-Raniry yang dinisbahkan kepada IAIN Banda Aceh adalah nama seorang Ulama besar dan mufti yang sangat berpengaruh pada masa Sultan Iskandar Tsani (memerintah tahun 1637-1641-red).

Ulama besar tersebut nama lengkapnya Syeikh Nuruddin Ar-Raniry yang berasal dari Ranir (sekarang Rander) di Gujarat, India. Beliau telah memberikan konstribusi yang amat berharga dalam pengembangan pemikiran Islam di Asia Tenggara, khususnya di Aceh.

Pada masa konflik, IAIN Ar-Raniry tercatat pernah menjadi pusat gerakan mahasiswa Aceh. Gerakan-gerakan yang dibangun oleh para mahasiswa di sana menjadi perhatian dari dunia internasional.

Sedangkan dalam historitasnya sejak berdiri, IAIN Ar-Raniry sebagai lembaga pendidikan tinggi, telah menunjukkan peran dan signifikansinya yang strategis bagi pembangunan dan perkembangan masyarakat.

(atjehpost)

Tengku Fakinah; Panglima perang dan ulama Aceh Besar

Sikap heroik perempuan Aceh.@ilustrasi

SEPUCUK surat tiba ke dalam genggaman Cut Nyak Dhien. Surat itu ditulis dalam bahasa Aceh yang indah namun sangat menyayat hati dan perasaan Cut Nyak.
Surat itu berasal dari sahabatnya Tengku Fakinah. Dia merupakan Panglima Sukey (Resimen) Fakinah. Resimen ini memiliki empat balang (batalion) yang di dalamnya merupakan kumpulan pendekar-pendekar wanita tangguh. Balang ini tak pernah menyerah melawan Belanda.
Berdasarkan catatan Ali Hasymi dalam bukunya Wanita Aceh menyebutkan penggalan isi surat itu yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
"... Saya harap kepada Cut Nyak agar menyuruh suaminya, Teuku Umar, untuk memerangi wanita-wanita yang telah siap menanti di Kuta Lamdiran (markas Sukey Fakinah), sehingga akan dikatakan orang bahwa dia adalah panglima berani, Johan Pahlawan seperti yang digelarkan oleh musuh kita Belanda..." tulis Tengku Fakinah.
Pesan yang disampaikan Tengku Fakinah ini secara tidak langsung melecut semangat patriorisme Cut Nyak untuk menyadarkan suaminya, Teuku Umar. Dia juga tak lupa membalas pesan Tengku Fakinah, yang bunyinya antara lain ; "Hati Cut Nyak Dhien tetap seperti sediakala, kami sadar akan langkah suami kami yang telah sesat..."
Cut Nyak Dhien juga mengutus Pang Abdulkarim (Do Karim, penyair), untuk menyampaikan pesan kepada Teuku Umar di Meulaboh.
"Apalagi Pang Karim, sampaikan kepada Teuku Umar bahwa Tengku Fakinah telah siap sedia menanti kedatangan Teuku Umar di Lamdiran. Sekarang, barulah dinilai perjuanganmu cukup tinggi, pria lawan wanita, yang belum pernah terjadi pada masa nenek moyang kita. Kafir sendiri segan memerangi wanita. Karena itu, Teuku didesak berbuat demikian. Sudah dahulu kuperingatkan: janganlah menyusu pada badak..."
Pesan ini sangat menyentuh hati Teuku Umar. Hatta dia kembali berpaling pada perjuangan memerangi bangsa penjajah dengan memboyong persenjataan kompeni yang cukup banyak.
Sikap tegas yang ditujukan Tengku Fakinah ini merupakan semangat heroik perempuan Aceh di masa itu. Sebagai salah seorang Panglima Perang, Tengku Fakinah sangat membenci tindakan pengkhianatan yang dilakukan Teuku Umar. Apalagi suami Cut Nyak membela kafir.
Tengku Fakinah merupakan seorang ulama besar dan pendidik Islam di Aceh Besar. Sebelum peperangan pecah antara Aceh dengan Belanda, dia telah membangun dayah di Lamdiran.
Suaminya merupakan seorang perwira muda yang juga ulama di Aceh. Mereka berkenalan di tempat pendidikan militer. Namanya Tengku Ahmad. Sebelum perang pecah, suami isteri ini mengajar di pusat pendidikan Islam Dayah Lampucok yang dibangun oleh ayah Fakinah.
Pada saat Belanda memulai agresinya terhadap Aceh pada tahun 1873, suami Fakinah, perwira muda Teungku Ahmad ikut bertempur di medan perang Pantai Cermin (Ulee Lheue) di tempat Belanda mendarat. Dalam pertempuran itu, Teungku Ahmad syahid.
Setelah suaminya syahid, Fakinah mengadakan kampanye perang di tengah-tengah kaum wanita. Atas izin Sultan, kemudian Fakinah membentuk pasukan dalam tingkat sukey (resimen) yang diberi nama Sukey Fakinah. Sukey ini terdiri dari empat balang (batalion) dan diisi oleh seluruh pejuang wanita. Dia sendiri menjabat sebagai Panglima Sukey Fakinah.
Di antara empat balang yang menjadi kelengkapan Sukey Fakinah, ada satu balang (batalion) yang seluruh prajuritnya terdiri dari wanita. Sementara balang-balang lain ada pula kawan (kompi) atau sabat (regu) yang komandan dan prajuritnya wanita.
Keempat balang yang berada di bawah pimpinan Fakinah yaitu; Balang Kuta Cotweu, Balang Kuta Lamsayun, Balang Kuta Cotbakgarot, Balang Kuta Bakbale.
Teungku Fakinah dengan sukey-nya ikut bertempur di medan perang dalam wilayah Aceh Rayek. Setelah 10 tahun perang Aceh berlangsung, dia ikut bergerilya bersama Sultan Muhammad Daud, Tuanku Hasyim Bangta Muda, Teungku Muhammad Saman Tiro, dan tokoh lainnya di pedalaman Aceh.
Tengku Fakinah meninggal di tahun 3 Oktober 1933 dalam keadaan renta. Dia dimakamkan di dalam Maqbarah Lamdiran.
Sosok kepahlawanan Teungku Fakinah tidak lekang dimakan usia. Salah satu rumah sakit swasta yang terletak di Geucheu Iniem, Banda Aceh memakai namanya menjadi Rumah Sakit Teungku Fakinah. Selain itu, nama besar Teungku Fakinah juga dipakai sebagai nama lembaga pendidikan Akademi Keperawatan Yayasan Tengku Fakinah yang didirikan pada tahun 1991.

(sumber: atjehpost.com)

Perjalanan cinta Cut Meutia di tengah genderang perang

Keluarga pejuang Aceh tempo dulu.@arsip

“…Dengan gelora berahi seorang wanita yang hangat dan penuh gairah, ia melangkah ke atas ranjang peraduan pengantin, kehangatan dan kegairahan yang lebih berkobar dibandingkan dengan wanita-wanita di mana pun. Dan dengan gelora nafsu seperti itu pulalah ia melangkah ke medan pertempuran untuk bertarung. Ia tidak merasa takut mendampingi suaminya dan mengiringi pasukan-pasukan melakukan pertempuran di mana-mana. Ia keluar-masuk hutan belantara dengan menelan serba aneka kesulitan, kepahitan dan penderitaan. Sementara itu, pasukan-pasukan marsose mengintainya ke mana ia pergi…” tulis Zentgraaf dalam bukunya berjudul Atjeh ‘melukis’ sosok Cut Meutia.
Cut Meutia merupakan putri Teuku Ben Daud yang lahir di tahun 1880, tepat setelah tiga tahun pecah perang antara Kerajaan Aceh melawan Belanda. Dia merupakan keturunan Tok Bineh Blang, seorang bangsawan yang juga ulama dan mempunyai hubungan erat dengan Istana Darud Dunia.
Lukisan Zentgraaf terhadap Cut Meutia berdasarkan fakta yang terjadi. Sebagai seorang perempuan, Cut Meutia setelah bercerai dengan Teuku Syamsyarif kemudian menikah dengan Teuku Cut Muhammad. Sebagai suami istri, pasangan ini hidup romantis terlebih di awal-awal pernikahannya yang dilukis Zentgraaf sebagai masa ‘bulan madu’.
Bulan madu Cut Meutia bersama suami keduanya dimeriahkan genderang perang dan dentuman meriam yang memuntahkan peluru. Bersama suaminya, Cut Meutia berperang di berbagai medan di kawasan Aceh Utara. Ada dua tahapan perang yang dialami Cut Meutia, yaitu perang frontal dan perang gerilya di hutan-hutan Pasai.
Perjalanan bulan madu Cut Meutia dengan Teuku Cut Muhammad berakhir setelah suami yang dicintainya itu tertawan. Teuku Cut Muhammad juga dijatuhi hukuman mati dengan ditembak selusin peluru oleh marsose. Sesuai wasiat mendiang suami, Cut Meutia kemudian dinikahi Pang Nanggroe. Pria ini merupakan seorang pahlawan yang selama ini menjadi wakil panglima Teuku Cut Muhammad.
Perkawinan antara Cut Meutia dengan Pang Naggroe mendatangkan malapetaka bagi Belanda. Pasalnya pasangan ini begitu ahli dan cakap memimpin peperangan.
“…siasat peperangan Pang Nanggroe dan Cut Meutia merupakan seni yang luar biasa tingginya, hanya dapat tumbuh pada seseorang yang dilahirkan untuk menjadi pemimpin perang seperti itu. Dengan bantuan istrinya yang fanatik dan pendendam serta didampingi Putra Rajawali (Teuku Raja Sabi_Putra Cut Meutia dengan Teuku Syamsyarif), Pang Nanggroe merupakan lawan Belanda yang perkasa. Kemahirannya luar biasa…” tulis Zentgraaf seperti dikutip Ali Hasjmy, penulis sejarah Aceh.
26 September 1910 sebuah pertempuran seru terjadi antara Belanda dengan pejuang Aceh. Dalam pertempuran itu, Pang Nanggroe syahid dan Cut Meutia bertindak sebagai Panglima Sukey (resimen). Paska kematian Pang Nanggroe, gerakan perlawanan Cut Meutia dan pejuang Aceh semakin parah. Setiap malam tangsi-tangsi Belanda diserbu dan menjelang pagi pasukan ini mundur ke dalam hutan. Markasnya selalu berpindah-pindah tempat.
Perang gerilya yang dilancarkan Cut Meutia berakhir pada 22 Oktober 1910 akibat adanya mata-mata yang memberitahukan lokasi markas kepada Belanda. Pasukan marsose dengan jumlah besar dan persenjataan lengkap menyerbu benteng pertahanan Cut Meutia. Pertempuran ini berlangsung selama tiga hari.
Pasukan marsose yang dipimpin W.J. Mosselman terus mendesak pasukan Cut Meutia. Mereka memuntahkan peluru ke arah pasukan perlawanan Aceh dan berhasil mengenai kepala Cut Meutia. Singa betina ini menghela nafas terakhir menjelang matahari terbit, 25 Oktober 1910. Tepat sebulan setelah syahid Pang Nanggroe.
Setelah Indonesia merdeka, Cut Meutia diangkat sebagai salah satu pahlawan dari Aceh. Mengenang jasa-jasanya terhadap perjuangan Belanda, banyak jalan-jalan di Indonesia memakai nama Cut Meutia. Selain itu, salah satu rumah sakit di Aceh Utara ikut memakai nama srikandi Aceh ini.
Sumber: atjehpost.com

Balee Juang Kota Langsa terbengkalai


GEDUNG Balee Juang, atau saat ini dikenal dengan nama Kantor Bappeda Aceh Timur lama di Kota Langsa, terbengkalai. Hal ini terjadi setelah pelayanan publik Pemkab Aceh Timur dipindahkan ke pusat pemerintahan baru di Titi Baro, Idi Rayeuk.
Gedung Balee Juang merupakan bangunan peninggalan kolonial Belanda.
Gedung tersebut terletak di persimpangan lampu merah, Jalan A.Yani Kota Langsa. Saat ini kondisi gedung tersebut sangat memprihatinkan karena minim perawatan.
Pembangunan Gedung Balee Juang ini diperkirakan terjadi saat agresi militer Belanda kedua.
Gedung ini juga pernah dijadikan sebagai tempat mencetak uang, yang saat itu disebut dengan nama “bon kontan” bernilai Rp100.
Kegiatan cetak uang tadi berlangsung di bawah pimpinan Mayor Oesman Adami yang saat itu ditunjuk sebagai pimpinan Badan Perbekalan Devisi X Sumatera.
“Kita berharap Pemerintah Aceh Timur segera mungkin menyerahkan Gedung Juang ini ke Pemko Langsa. Jangan dibiarkan tidak terawat, terlebih gadung ini memiliki nilai potensi sejarah besar bagi Aceh,” ujar Edi S, pemerhati budaya di Langsa Rabu 6 Maret 2013. (atjehpost.com)

Ini isi Surat Dagang Kerajaan Aceh dengan Prancis


Kerajaan Aceh sejak lama telah menjalin hubungan dengan sejumlah negara luar, seperti Inggris, Prancis, Amerika, Belanda, Turki, China dan beberapa negara di Asia lainnya. Di masa Aceh dipimpin Sultan Iskandar Muda Johan Berdaulat, daerah ini juga mengikat hubungan dengan negara-negara besar Eropa. Satu diantaranya yaitu negara Prancis.
======================================
Kerajaan Aceh yang kaya akan hasil bumi, menarik hati pembesar-pembesar atau raja-raja dari Eropa untuk menjalin hubungan diplomatis. Seperti halnya yang dilakukan oleh Raja Louis XIII lewat perantaranya de Beaulieu.
Mereka saling mengirimkan surat dan mengikat kerjasama di bidang perdagangan. Sayangnya, surat-surat yang ditujukan Raja Perancis ini raib dan tidak tahu kemana.
Dalam buku Kerajaan Aceh karya Denys Lombard hanya melampirkan surat balasan dari Sultan Iskandar Muda yang berisi tentang hubungan dagang antara Aceh dan Perancis pada masa itu.
Berikut petikan surat yang disajikan Lombard dari teks aslinya :
Lettre du grand Siri Sultan, vainqueur et conquesteur avee Paide de Dieu, de Plusieurs Royaumes, Roy d’Achen et par la faveur de Dieu, de toutes les terres qui en sont au levant et au couchant. Du levant, le Royaume, terres et seigneuries de Deli; le Royaume de Ior avec ses terres et seigneuries; le Royaume de Paham, le Royaume de Queda et le Royaume de Pera avec leurs terres et seigneuries. Du couchant, le Royaume et territoire de Priaman, le Royaume et territoire de Ticou; le Royaume et territoire de Passaman.
Soeint donnés au grand et puissant Roy de France. Sçaura le Roy de France que la letter qu’il m’a envoyée par le Capitaine Général de Beaulieu m’a esté délivree et que j’ay vu tout ce qu’il m’escrit et comme il me recommande de Capitaine Général auquel j’ay fait beaucoup d’honneur, tant au fait du traffic, que de luy avoir donné qualité et séance de mes principaux gentilshommes.
Quant à l’offre si j’ay affaire de quelque chose de France, j’envoye un mémoire par le Capitaine Général de Beaulieu, pour faire paroistre combine j’estime cela, disant d’avantage si Dieu conduit cette letter à sauvement, j’en attends response par les navires qui viendront, chargez de marchandises pour trafiquer en ce Royaume, qui me sera grand contentement; ainsi je prie Dieu qu’il garde bien les Estats du Roy de France.
Et puis que Dieu nous a fait grands rois en ce monde, il semble raisonnable que nous soyons amis et que nous communications. En signal d’amitié, j’envoye huit bahars de poivre qui est prist de cette terre, Dieu preserve l’illustre personne du Roy de France avec ses Estats et Royaumes pour longues annés.
Fait au mois Rajab (ou juin) l’an mil trente.
Terjemahan :
Surat dari Sri Sultan yang agung, yang berkat bantuan Allah telah menaklukkan dan menundukkan beberapa kerajaan, Raja Aceh dan, dengan rahmat Allah, Raja semua tanah di masyrik dan maghrib. Di masyrik, kerajaan, daerah dan tanah-tanah Deli; Kerajaan Johor beserta daerah dan tanah-tanahnya; Kerajaan Pahang, Kerajaan Kedah dan Kerajaan Perak bersama daerah dan tanah-tanahnya. Di maghrib, Kerajaan dan wilayah Priaman, Kerajaan dan wilayah Tiku; Kerajaan dan Wilayah Paseman.
Dialamatkan kepada Raja Prancis yang agung dan kuasa. Hendaknya diketahui Raja Prancis bahwa surat yang dikirimnya dengan perantaraan Kapten Jenderal de Beaulieu telah disampaikan kepada saya dan bahwa telah say abaca apa yang tertulis di dalamnya dan bahwa kepada saya telah disebutnya kebaikan Kapten Jenderal itu yang saya perlakukan dengan hormat sekali, baik dalam hal perniagaan, maupun waktu saya beri gelar dan kedudukan seperti orang kaya saya yang terkemuka.
Berhubung dengan tawaran apakah saya memerlukan sesuatu dari Prancis, saya sampaikan dengan perantaraan Kapten Jenderal de Beaulieu sebuah laporan (laporan ini hilang tanpa jejak) untuk menunjukkan betapa besar penghargaan saya, dan saya katakan pula, jika Allah mengarahkan surat ini dengan selamat, saya mengharapkan jawaban dengan kapal-kapal yang bakal datang bermuatan barang dagangan untuk diperjualbelikan di kerajaan ini, suatu hal yang bakal sangat menyenangkan hati saya; maka saya berdoa kepada Allah supaya negara Raja Prancis selamatlah.
Dan karena Allah telah membuat kita raja-raja besar di dunia ini, maka sudah sepantasnya kita bersahabat dan menjalin hubungan. Sebagai tanda persahabatan, saya mengirim delapan bahar (350 pon Prancis atau 180 kg) lada yang diambil dari tanah ini (Aceh). Semoga Allah masih bertahun-tahun lamanya melindungi Yang Mulia Raja Prancis bersama negara-negara dan kerajaan-kerajaannya.
Dibuat pada bulan Rajab (atau Juni) tahun seribu tiga puluh (1030 H/ Juni 1621 M). | boy nashruddin agus/atjehpost.com