Tampilkan postingan dengan label Wanita Aceh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wanita Aceh. Tampilkan semua postingan

Srikandi Aceh itu bernama Cut Nyak

Cut Nyak Dhien@ilustrasi
"SEBAGAI perempuan Aceh, kita tidak boleh menumpahkan air mata pada orang yang sudah syahid," ujar Cut Nyak Dhien usai menampar buah hatinya Cut Gambang yang menangis saat mengetahui Teuku Umar syahid ditembak Belanda, 11 Februari 1899. Cut Nyak kemudian memeluk Cut Gambang.

Setelah kepergian Teuku Umar, pimpinan perang di pantai barat Aceh diambil alih Cut Nyak Dhien. Bersama sisa pasukan suaminya, Cut Nyak bergerilya dari satu medan ke medan pertempuran lainnya.

Dua tahun sejak kematian Teuku Umar, akhirnya perjuangan Cut Nyak bersama pasukan Aceh mulai terdesak akibat tentara Belanda sudah terbiasa berperang di daerah ini. Cut Nyak pun semakin renta.

Matanya sudah mulai rabun dan dia diserang encok. Jumlah pasukannya pun terus berkurang serta sulit sekali memperoleh makanan.

Kondisi Cut Nyak mendatangkan rasa iba bagi sisa pasukannya. Salah satu anak buahnya bernama Pang Laot melaporkan lokasi markas Cut Nyak kepada Belanda karena iba. Akibatnya, Belanda menyerang markas Cut Nyak Dhien di Beutong Le Sageu.

Serangan ini mengejutkan pejuang Aceh. Begitu pula dengan Cut Nyak Dhien yang menyambar rencong untuk melawan musuh. Perlawanan Cut Nyak Dhien berhasil dihentikan Belanda. Dia ditangkap sementara putrinya Cut Gambang, berhasil melarikan diri ke hutan belantara. Cut Gambang kemudian meneruskan perlawanan yang sudah dilakukan oleh ayah dan ibunya.

Cut Nyak Dhien kemudian diboyong ke Kutaradja (Banda Aceh) dan mendapat perawatan medis untuk penyakit yang dideritanya. Penyakitnya seperti rabun dan encok berangsur-angsur sembuh.

Tak lama kemudian, Cut Nyak Dien dibuang ke Sumedang, Jawa Barat. Pengasingan ini dilakukan Belanda karena ketakutan kompeni terhadap semangat yang bisa diciptakan Cut Nyak dalam memicu perlawanan pejuang Aceh kepada mereka. Apalagi saat itu, Cut Nyak Dhien masih terus berhubungan dengan pejuang yang belum tunduk.

Ia kemudian dibawa ke Sumedang bersama dengan tahanan politik Aceh lainnya. Di dalam tahanan, Cut Nyak mendapat julukan Ibu Perbu karena wawasan dan pemahamannya terhadap Islam sangat kental.
Pada tanggal 6 November 1908, Cut Nyak Dhien meninggal karena usianya yang sudah tua.

Makamnya baru ditemukan pada tahun 1959 berdasarkan permintaan Gubernur Aceh saat itu, Ali Hasan. Cut Nyak diakui oleh Presiden Soekarno sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui SK Presiden RI No.106 Tahun 1964 pada tanggal 2 Mei 1964.

Kisah perjuangan Cut Nyak diinterpretasi dalam film drama epos berjudul Tjoet Nja' Dhien pada tahun 1988 yang disutradarai oleh Eros Djarot dan dibintangi Christine Hakim sebagai Tjoet Nja' Dhien, Piet Burnama sebagai Pang Laot, Slamet Rahardjo sebagai Teuku Umar dan juga didukung Rudy Wowor. Film ini memenangkan Piala Citra sebagai film terbaik, dan merupakan film Indonesia pertama yang ditayangkan di Festival Film Cannes (tahun 1989).

Sementara peninggalan Cut Nyak di Aceh yaitu Rumoh Cut Nyak Dhien di Lampisang, Peukan Bada. Rumah itu merupakan benda cagar budaya yang dilestarikan dan mengundang minat wisatawan pecinta sejarah Aceh. Perjuangan Cut Nyak melawan Belanda menjadikan namanya bersanding dengan tokoh-tokoh wanita dunia.

- See more at: http://atjehpost.com/read/2013/03/08/43025/0/39/Srikandi-Aceh-itu-bernama-Cut-Nyak#sthash.AFOuKLuA.dpuf

Safiatuddin; Ratu Kerajaan Aceh

Cap Sikureung
Safiatuddin, foto: meukeutop.blogspot.com


BEBERAPA rumah adat dari berbagai suku di Aceh berdiri kokoh di dalam Taman Sri Ratu Safiatuddin, Banda Aceh. Rumah adat itu diantaranya rumah adat Aceh dan rumah adat Gayo.

Taman Sri Ratu Safiatuddin terletak persis di sisi kanan kantor Gubernur Aceh. Taman ini dibangun saat Gubernur Aceh, Abdullah Puteh berkuasa untuk mengenang peran Sultan Aceh Sri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat.

Merujuk kepada catatan sejarah Kerajaan Aceh disebutkan, Sri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat merupakan putri Sultan Iskandar Muda Meukuta Alam dari permaisuri pertamanya, Putri Sani Ratna Sendi Istana. Sri Ratu memerintah Kerajaan Aceh setelah mangkatnya Sultan Iskandar Tsani pada 1050 Hijriyah atau 1641 Masehi.

Selama masa pemerintahannya mulai 1050 Hijriyah hingga 1086 Hijriyah atau 1641 Masehi hingga 1675 Masehi, Kerajaan Aceh mencapai kemajuan yang cukup baik, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan. Hal ini dijelaskan Syekh Nuruddin Ar Raniri dalam bukunya Bustanus Salatin.

Ulama besar Kerajaan Aceh ini menyebutkan pada masa pemerintahan Sultanah itu, kondisi kerajaan sangat makmur. Makanan pun sangat murah dan kondisi kerajaan dalam keadaan aman sentosa.

"...pada masa pemerintahan Ratu Safiatuddin terlalu makmur, dan makanan pun sangat murah, dan segala manusia pun dalam kesentosaan dan mengikut segala barang sabdanya. Dan ialah yang adil pada segala hukumnya, dan tawakal pada segala pekerjaannya, dan sabar pada segala barang halnya, lagi mengerasi segala yang durhaka..."

Gambaran tersebut menjelaskan bagaiman suasana Kerajaan Aceh saat dipimpin oleh seorang wanita yang semula mendapat rintangan dari kelompok wujudiah di Aceh. Kelompok ini menyerukan agar Aceh tidak dipimpin oleh seorang wanita karena akan melemahkan kekuatan di dunia.

Kendati politik Aceh mulai memburuk sejak mangkatnya Sultan Iskandar Muda dan Iskandar Sani, namun perkembangan di bidang pendidikan dan kesusasteraan semakin maju. Di masa Sri Ratu Safiatuddin, banyak muncul ulama-ulama atau sarjana untuk mengarang buku-buku dalam berbagai disiplin ilmu.

Hal ini dapat dilihat dari pengantar seluruh kitab yang menuliskan bahwa atas anjuran Sri Ratu lah kitab itu ditulis.

Beberapa kitab yang lahir di masa itu seperti Bidayatul Iman Fi Fadlilil Manan berbahasa Melayu yang dikarang Syekh Nuruddin Ar Raniri. Selain itu, Syekh Abdurrauf Syiah Kuala juga berhasil mengarang kitab Miratuth Thullab, berbahasa Melayu.

Di masa pemerintahannya, Sri Ratu Safiatuddin banyak mengambil langkah dalam meningkatkan kedudukan kaum wanita dengan membuat peraturan untuk melindungi kaum hawa. Warisan Sri Ratu Safiatuddin lainnya berupa Cap Sikureung, yaitu stempel sah Kerajaan Aceh.

Setiap Sultan atau Sultanah (Ratu) yang memerintah di Aceh selalu menggunakan sebuah Cap resmi kesultanannya, yang didalam bahasa Aceh disebut Cab Sikureung (Cap Sembilan). Pemberian nama ini didasarkan kepada bentuk stempel itu sendiri yang mencantumkan nama sembilan orang Sultan dan nama Sultan yang sedang memerintah itu sendiri terdapat di tengah-tengah.



Cap Sikureung (Kulit luar) bermakna 9 Sultan :

1. Paling Atas

Sultan Ahmad Syah, yakni Raja pertama Dinasti Aceh-Bugis yang terakhir, 1723-1735, adalah Sultan yang ke-XX, sebelum tahun 1723 disebut dengan gelar Maharadja Lela (Melayu)

2. Kanan Atas

Sultan Djauhan Syah, yakni Putera Raja sebelumnya, 1735-1760, adalah Sultan ke-XXI, bergelar Raja Muda

3. Paling Kanan

Sultan Mahmud Syah, yakni Muhammad atau Mahmoud Syah I, Cucu Sultan Ahmad Syah, 1760-1763, adalah Sultan ke-XXII

4. Kanan Bawah

Sultan Djauhar 'Alam, yakni Cicit laki-laki Sultan Ahmad Syah, 1795-1824, adalah Sultan ke-XXVII

5. Paling Bawah

Sultan Manshur Syah, yakni Putera Djauhar Alam, sekitar 1857-1870, adalah Sultan ke-XXVIII

6. Kiri Bawah

Sultan Said-al-Mukamal, yakni Alauddin al-Qahhar, 1530-1557, adalah Sultan Aceh ke-III

7. Paling Kiri

Sultan Meukuta Alam, yakni Sultan Iskandar Muda, 1607-1636, adalah Sultan Aceh ke-XI

8. Kiri Atas

Sultan Tadjul 'Alam, yakni Ratu Safiatuddin, Sultan wanita pertama Aceh, 1641-1675, adalah Sultan ke-XIII (Puteri Iskandar Muda)

9. Tengah

Waffaa-Allah Paduka Seri Sultan Alauddin muhammad Daud Syah Djohan Berdaulat zil-Allah fil'Alam, yakni adalah Sultan Muhammad Daud Syah, 1879-1903, Sultan Aceh yang terakhir.

Pada Segel-segel Sultan Aceh, tiga tempat diperuntukkan kepada raja-raja yang memerintah dari dinasti sebelumnya. Lima tempat diperuntukkan pada Raja-raja keluarga sendiri, dan yang satu dari yang 5 adalah raja pendiri dan dinastinya. Dan yang terletak di tengah-tengah yaitu Sultan atau Sultanah (Ratu) yang sedang memerintah. (Penjelasan Cap Sikureung ini berdasarkan stempel terakhir milik Kerajaan Aceh).


(sumber: atjehpost.com)

Keumala Hayati, Laksamana pemimpin pasukan Inong Balee

...LIRIH terdengar suara itu memanggil jiwa untuk maju//Dari tanah mu hai Aceh lahir perempuan perkasa bukan hanya untuk dikenang//Tapi dia panglima Laksamana Jaya memanggil kembali untuk berjuang//Dia perempuan Keumala//Alam semesta restui//Lahir jaya berjiwa baja Laksamana Malahayati perempuan ksatria negeri...//

Lirik lagu tersebut dilantunkan Sang Maestro, Iwan Fals mengenang perjuangan Laksamana Malahayati. Keumala merupakan wanita Aceh yang memimpin armada laut kerajaan dan 2 ribu pasukan Inong Balee. Pasukan ini terdiri dari wanita-wanita Aceh yang suaminya tewas dalam perempuan Teluk Haru melawan Portugis.

Berdasarkan catatan Ali Hasjmy dalam bukunya Wanita Aceh menceritakan, pembentukan pasukan Inong Balee ini dilakukan Laksamana Malahayati setelah meminta izin dari Sultan Aceh, Sultan Al Mukamil. Permohonan itu dilakukan Keumala setelah suaminya ikut tewas dalam peperangan meski armada Kerajaan Aceh memperoleh kemenangan melawan Portugis.

Permintaan ini dikabulkan Sultan Al Mukamil dan Laksamana Malahayati diangkat menjadi panglimanya. Armada ini ditugaskan menjaga Teluk Krueng Raya, Aceh Besar dari gangguan bangsa asing.

Konon diceritakan Keumala Hayati awalnya mendapat pendidikan militer di pusat pendidikan tentara Aceh Asykar Baital Makdis. Dia mendapat pelatihan langsung dari instruktur perwira Turki Utsmaniyah.

Di kamp militer inilah Malahayati berkenalan dengan suaminya yang kelak diangkat menjadi Panglima Armada Selat Malaka Aceh. Usai menjalani pendidikan di Baital Makdis, Keumala Hayati diangkat menjadi Komandan Protokol Istana Darud Dunia oleh Sultan Aceh.

Nama Keumala Hayati menjadi populer setelah berhasil menyerbu kapal-kapal perang Belanda yang menyamar jadi kapal dagang. Armada kapal Belanda itu dipimpin Houtman bersaudara yang mengkhianati kepercayaan Sultan Aceh.

Pengkhianatan yang dilakukan dua Zeelander ini setelah berhasil masuk ke Aceh pada 21 Juni 1599 Masehi. Mereka melakukan manipulasi dagang, mengacau, dan menghasut sehingga membuat Sultan Aceh gerah.

Sultan Aceh kemudian memerintahkan Armada Inong Balee menyerbu kapal De Houtman bersaudara pada 11 September 1599. Pertempuran sengit berlangsung di atas geladak kapal Belanda. Cornelis de Houtman berhasil ditikam dan mati di tangan Laksamana Keumala Hayati sementara saudaranya, Frederick de Houtman ditawan.

"Di kapal Van Leeuw telah dibunuh Cornelis de Houtman dan anak buahnya oleh Laksamana Malahayati sendiri, sementara sekretaris rahasianya menyerang Frederick de Houtman dan ditawannya serta dibawa ke darat. Davis dan Tomkins menderita luka..." tulis Marie van C. Zeggelen dalam bukunya berjudul Oude Glorie.

Keberhasilan Malahayati dalam menumpas pengkhianatan de Houtman bersaudara ini membuat karirnya meningkat. Dia dipercaya menjabat sebagai panglima perang angkatan laut kerajaan.

Ketangguhan Laksamana Malahayati menjaga gerbang masuk ke Aceh membuat Kerajaan Belanda yang dipimpin Prince Maurits terpaksa mengambil langkah damai. Belanda mengirimkan utusan yang berangkat dengan empat buah kapal dagang, yaitu Zeelandia, Middleborg, Lange dan Sonne.

Laksamana Malahayati ditugaskan untuk memeriksa kapal-kapal utusan Belanda ini. Setelah mendapat rekomendasi dari panglima armada laut perempuan itu, utusan Belanda baru dapat menemui Sultan Aceh.

Bukti peninggalan sejarah armada Laksamana Malahayati kini bisa dijumpai di Desa Lamreh, Krueng Raya. Di desa itu terdapat Benteng Kuta Inong Balee, markas pasukan Keumala Hayati di Teluk Krueng Raya.

(sumber: atjehpost.com)

Tengku Fakinah; Panglima perang dan ulama Aceh Besar

Sikap heroik perempuan Aceh.@ilustrasi

SEPUCUK surat tiba ke dalam genggaman Cut Nyak Dhien. Surat itu ditulis dalam bahasa Aceh yang indah namun sangat menyayat hati dan perasaan Cut Nyak.
Surat itu berasal dari sahabatnya Tengku Fakinah. Dia merupakan Panglima Sukey (Resimen) Fakinah. Resimen ini memiliki empat balang (batalion) yang di dalamnya merupakan kumpulan pendekar-pendekar wanita tangguh. Balang ini tak pernah menyerah melawan Belanda.
Berdasarkan catatan Ali Hasymi dalam bukunya Wanita Aceh menyebutkan penggalan isi surat itu yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
"... Saya harap kepada Cut Nyak agar menyuruh suaminya, Teuku Umar, untuk memerangi wanita-wanita yang telah siap menanti di Kuta Lamdiran (markas Sukey Fakinah), sehingga akan dikatakan orang bahwa dia adalah panglima berani, Johan Pahlawan seperti yang digelarkan oleh musuh kita Belanda..." tulis Tengku Fakinah.
Pesan yang disampaikan Tengku Fakinah ini secara tidak langsung melecut semangat patriorisme Cut Nyak untuk menyadarkan suaminya, Teuku Umar. Dia juga tak lupa membalas pesan Tengku Fakinah, yang bunyinya antara lain ; "Hati Cut Nyak Dhien tetap seperti sediakala, kami sadar akan langkah suami kami yang telah sesat..."
Cut Nyak Dhien juga mengutus Pang Abdulkarim (Do Karim, penyair), untuk menyampaikan pesan kepada Teuku Umar di Meulaboh.
"Apalagi Pang Karim, sampaikan kepada Teuku Umar bahwa Tengku Fakinah telah siap sedia menanti kedatangan Teuku Umar di Lamdiran. Sekarang, barulah dinilai perjuanganmu cukup tinggi, pria lawan wanita, yang belum pernah terjadi pada masa nenek moyang kita. Kafir sendiri segan memerangi wanita. Karena itu, Teuku didesak berbuat demikian. Sudah dahulu kuperingatkan: janganlah menyusu pada badak..."
Pesan ini sangat menyentuh hati Teuku Umar. Hatta dia kembali berpaling pada perjuangan memerangi bangsa penjajah dengan memboyong persenjataan kompeni yang cukup banyak.
Sikap tegas yang ditujukan Tengku Fakinah ini merupakan semangat heroik perempuan Aceh di masa itu. Sebagai salah seorang Panglima Perang, Tengku Fakinah sangat membenci tindakan pengkhianatan yang dilakukan Teuku Umar. Apalagi suami Cut Nyak membela kafir.
Tengku Fakinah merupakan seorang ulama besar dan pendidik Islam di Aceh Besar. Sebelum peperangan pecah antara Aceh dengan Belanda, dia telah membangun dayah di Lamdiran.
Suaminya merupakan seorang perwira muda yang juga ulama di Aceh. Mereka berkenalan di tempat pendidikan militer. Namanya Tengku Ahmad. Sebelum perang pecah, suami isteri ini mengajar di pusat pendidikan Islam Dayah Lampucok yang dibangun oleh ayah Fakinah.
Pada saat Belanda memulai agresinya terhadap Aceh pada tahun 1873, suami Fakinah, perwira muda Teungku Ahmad ikut bertempur di medan perang Pantai Cermin (Ulee Lheue) di tempat Belanda mendarat. Dalam pertempuran itu, Teungku Ahmad syahid.
Setelah suaminya syahid, Fakinah mengadakan kampanye perang di tengah-tengah kaum wanita. Atas izin Sultan, kemudian Fakinah membentuk pasukan dalam tingkat sukey (resimen) yang diberi nama Sukey Fakinah. Sukey ini terdiri dari empat balang (batalion) dan diisi oleh seluruh pejuang wanita. Dia sendiri menjabat sebagai Panglima Sukey Fakinah.
Di antara empat balang yang menjadi kelengkapan Sukey Fakinah, ada satu balang (batalion) yang seluruh prajuritnya terdiri dari wanita. Sementara balang-balang lain ada pula kawan (kompi) atau sabat (regu) yang komandan dan prajuritnya wanita.
Keempat balang yang berada di bawah pimpinan Fakinah yaitu; Balang Kuta Cotweu, Balang Kuta Lamsayun, Balang Kuta Cotbakgarot, Balang Kuta Bakbale.
Teungku Fakinah dengan sukey-nya ikut bertempur di medan perang dalam wilayah Aceh Rayek. Setelah 10 tahun perang Aceh berlangsung, dia ikut bergerilya bersama Sultan Muhammad Daud, Tuanku Hasyim Bangta Muda, Teungku Muhammad Saman Tiro, dan tokoh lainnya di pedalaman Aceh.
Tengku Fakinah meninggal di tahun 3 Oktober 1933 dalam keadaan renta. Dia dimakamkan di dalam Maqbarah Lamdiran.
Sosok kepahlawanan Teungku Fakinah tidak lekang dimakan usia. Salah satu rumah sakit swasta yang terletak di Geucheu Iniem, Banda Aceh memakai namanya menjadi Rumah Sakit Teungku Fakinah. Selain itu, nama besar Teungku Fakinah juga dipakai sebagai nama lembaga pendidikan Akademi Keperawatan Yayasan Tengku Fakinah yang didirikan pada tahun 1991.

(sumber: atjehpost.com)

Putroe Phang; Dua sisi kepribadian wanita Istana Darud Dunia

Taman Putroe Phang.@heri juanda/atjehpostcom

SYAHDAN dikisahkan dalam sejarah saat Iskandar Muda hendak berangkat ke Malaka dengan Armada Cakra Donya untuk menggempur Portugis di abad ke 16. Di gerbang Istana Darud Dunia, Putri Kamaliah atau lebih dikenal dengan sebutan Putroe Phang merangkul lengan Sultan Iskandar Muda.
"Harap Tuanku waspada dalam melayari Selat Malaka. Akan Tuanku hadapi tiga bahaya; yang pertama gelombang besar, bahaya kedua di Asahan, Tuanku dihadang Raja Muda. Bahaya ketiga ada di Banang, tiga aulia bermakam di sana. Karena itu Tuanku, Banang jangan dihancurkan," pesan Putroe Phang kepada Sultan Aceh itu, seperti diriwayatkan dalam Hikayat Malem Dagang.
Nasehat bijaksana ini dituturkan Putroe Phang setelah Sultan Iskandar Muda menjadi suaminya. Dalam kisah itu, diceritakan pula rasa enggan Putroe Phang terhadap keberangkatan Iskandar Muda memerangi Portugis di Malaka. Kisah ini merupakan sisi lain kepribadian Putroe Phang dan peranannya dalam istana.
Di sisi lain, posisi Putroe Phang dalam Istana Darud Dunia kerap menjadi penasehat bagi suaminya, Sultan Iskandar Muda.
Salah satu peranannya dalam politik negara yaitu terbentuknya sebuah lembaga yang menyerupai Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Lembaga ini terdiri dari Balai Majelis Mahkamah Rakyat yang beranggotakan 73 orang, mewakili penduduk dalam Kerajaan Aceh Darussalam.
Seperti dirunut dalam buku Wanita Aceh karangan Ali Hasjmy disebutkan, untuk mengabadikan jasa dan karya besar Putri Pahang maka semua produk Balai Majelis Mahkamah rakyat disebut sebagai produk Putri Pahang. Hal ini tercermin dalam Hadih Maja (kata berhikmat) yang berbunyi ; Adat bak Poteu Meureuhom, Hukom bak Syiah Kuala, Qanun bak Putroe Phang, Reusam bak Laksamana.
Hadih maja ini menjadi filsafat hidup orang Aceh.
Putroe Phang atau Putri Kamaliah merupakan istri yang dinikahi Sultan Iskandar Muda usai wafatnya Putri Sendi Ratna Istana. Dia merupakan salah satu putri dari keluarga Diraja Pahang.
Sumber: atjehpost.com

Perjalanan cinta Cut Meutia di tengah genderang perang

Keluarga pejuang Aceh tempo dulu.@arsip

“…Dengan gelora berahi seorang wanita yang hangat dan penuh gairah, ia melangkah ke atas ranjang peraduan pengantin, kehangatan dan kegairahan yang lebih berkobar dibandingkan dengan wanita-wanita di mana pun. Dan dengan gelora nafsu seperti itu pulalah ia melangkah ke medan pertempuran untuk bertarung. Ia tidak merasa takut mendampingi suaminya dan mengiringi pasukan-pasukan melakukan pertempuran di mana-mana. Ia keluar-masuk hutan belantara dengan menelan serba aneka kesulitan, kepahitan dan penderitaan. Sementara itu, pasukan-pasukan marsose mengintainya ke mana ia pergi…” tulis Zentgraaf dalam bukunya berjudul Atjeh ‘melukis’ sosok Cut Meutia.
Cut Meutia merupakan putri Teuku Ben Daud yang lahir di tahun 1880, tepat setelah tiga tahun pecah perang antara Kerajaan Aceh melawan Belanda. Dia merupakan keturunan Tok Bineh Blang, seorang bangsawan yang juga ulama dan mempunyai hubungan erat dengan Istana Darud Dunia.
Lukisan Zentgraaf terhadap Cut Meutia berdasarkan fakta yang terjadi. Sebagai seorang perempuan, Cut Meutia setelah bercerai dengan Teuku Syamsyarif kemudian menikah dengan Teuku Cut Muhammad. Sebagai suami istri, pasangan ini hidup romantis terlebih di awal-awal pernikahannya yang dilukis Zentgraaf sebagai masa ‘bulan madu’.
Bulan madu Cut Meutia bersama suami keduanya dimeriahkan genderang perang dan dentuman meriam yang memuntahkan peluru. Bersama suaminya, Cut Meutia berperang di berbagai medan di kawasan Aceh Utara. Ada dua tahapan perang yang dialami Cut Meutia, yaitu perang frontal dan perang gerilya di hutan-hutan Pasai.
Perjalanan bulan madu Cut Meutia dengan Teuku Cut Muhammad berakhir setelah suami yang dicintainya itu tertawan. Teuku Cut Muhammad juga dijatuhi hukuman mati dengan ditembak selusin peluru oleh marsose. Sesuai wasiat mendiang suami, Cut Meutia kemudian dinikahi Pang Nanggroe. Pria ini merupakan seorang pahlawan yang selama ini menjadi wakil panglima Teuku Cut Muhammad.
Perkawinan antara Cut Meutia dengan Pang Naggroe mendatangkan malapetaka bagi Belanda. Pasalnya pasangan ini begitu ahli dan cakap memimpin peperangan.
“…siasat peperangan Pang Nanggroe dan Cut Meutia merupakan seni yang luar biasa tingginya, hanya dapat tumbuh pada seseorang yang dilahirkan untuk menjadi pemimpin perang seperti itu. Dengan bantuan istrinya yang fanatik dan pendendam serta didampingi Putra Rajawali (Teuku Raja Sabi_Putra Cut Meutia dengan Teuku Syamsyarif), Pang Nanggroe merupakan lawan Belanda yang perkasa. Kemahirannya luar biasa…” tulis Zentgraaf seperti dikutip Ali Hasjmy, penulis sejarah Aceh.
26 September 1910 sebuah pertempuran seru terjadi antara Belanda dengan pejuang Aceh. Dalam pertempuran itu, Pang Nanggroe syahid dan Cut Meutia bertindak sebagai Panglima Sukey (resimen). Paska kematian Pang Nanggroe, gerakan perlawanan Cut Meutia dan pejuang Aceh semakin parah. Setiap malam tangsi-tangsi Belanda diserbu dan menjelang pagi pasukan ini mundur ke dalam hutan. Markasnya selalu berpindah-pindah tempat.
Perang gerilya yang dilancarkan Cut Meutia berakhir pada 22 Oktober 1910 akibat adanya mata-mata yang memberitahukan lokasi markas kepada Belanda. Pasukan marsose dengan jumlah besar dan persenjataan lengkap menyerbu benteng pertahanan Cut Meutia. Pertempuran ini berlangsung selama tiga hari.
Pasukan marsose yang dipimpin W.J. Mosselman terus mendesak pasukan Cut Meutia. Mereka memuntahkan peluru ke arah pasukan perlawanan Aceh dan berhasil mengenai kepala Cut Meutia. Singa betina ini menghela nafas terakhir menjelang matahari terbit, 25 Oktober 1910. Tepat sebulan setelah syahid Pang Nanggroe.
Setelah Indonesia merdeka, Cut Meutia diangkat sebagai salah satu pahlawan dari Aceh. Mengenang jasa-jasanya terhadap perjuangan Belanda, banyak jalan-jalan di Indonesia memakai nama Cut Meutia. Selain itu, salah satu rumah sakit di Aceh Utara ikut memakai nama srikandi Aceh ini.
Sumber: atjehpost.com

Ini Atlit Tinju Perempuan dari Tanah Rencong

Salsabilla @istimewa

TINJU merupakan sejenis olahraga beladiri yang teknik permainannya dimainkan oleh dua petarung di atas ring atau arena tinju. Pemainnya menggunakan sarung tinju khusus, fungsinya agar tidak melukai lawan saat mendaratkan pukulan ke tempat-tempat sensitif seperti wajah.
Olahraga ini identik dengan laki-laki, atlit tinju biasanya berotot dan terlihat garang. Namun olahraga ini ternyata juga disukai perempuan, jumlahnya memang tidak sebanyak olahraga lainnya.  Aceh ternyata juga mempunyai atlit tinju perempuan.
Namanya Salsabilla, ia kelahiran 28 September 1993. Saat ini kuliah di Fakultas Ekonomi Jurusan Diploma Keuangan dan Perbankan.
Awal mula ketertarikannya pada dunia tinju sudah terasa sejak ia kecil. Ayahnya adalah seorang mantan petinju, abangnya juga petinju. Namun ia baru terjun ke olahraga tersebut sejak kelas tiga SMA. Sebelumnya ia tidak diizinkan oleh orangtuanya.
Ia tertarik tinju karena sering menyaksikan petinju yang sedang latihan. Ia juga sering datang ke tempat latihan dan lama-lama merasa tertantang mencobanya. Apalagi selama ini tinju identik dengan olahraga laki-laki.
Walaupun belum terlalu lama menekuni olahraga tersebut, ia sudah berhasil menorehkan prestasi. Pada Kejurnas Junior di Binjar, Sumatera tahun 2010 Salsabila berhasil mendapat juara 2. Itu merupakan pertama kalinya ia ikut kompetisi tinju dan berada di atas ring tinju.
“Siapa saja bisa jadi petinju, asalkan mampu berlatih secara disiplin. Mendengarkan perintah pelatih dan mampu mengatur waktu istirahat dan pola makan yang baik,” ujarnya seperti yang di pos kan  ATJEHPOST kemarin.
Untuk menjaga fisik agar tetap fit, Salsabilla biasanya selalu lari pagi, ia juga tidak pernah begadang hingga larut malam dan selalu menjaga pola makannya.
Kpada remaja-remaja Aceh ia berpesan agar selalu semangat dan percaya diri dalam menentukan pilihan hidup.
“Jangan takut mencoba hal-hal yang baru selagi itu masih kegiatan positif, tunjukin bahwa cewek itu bisa lakuin semua yang dilakuin cowok, cewek juga bisa mandiri tanpa melupakan kodratnya sebagai cewek,” ujarnya.
(atjehpost)