Tampilkan postingan dengan label Sultan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sultan. Tampilkan semua postingan

Begini peta Asia Tenggara yang dikirim Sultan Aceh untuk Turki

@LostIslamicHist
Dikutip dari Atjehpost, sebuah peta Asia Tenggara yang dibuat oleh Kesultanan Aceh pada tahun 1850 muncul di dunia maya. Peta itu diposting lewat akun twitter Lost Islamic History @LostIslamicHist pada 1 April 2013.

Postingan itu disertai pengantar,"A map of Southeast Asia made by the Sultanate of Aceh in 1850."   

Disebutkan, peta ini dikirim kepada Sultan Ottaman di Istanbul, Turki, untuk memperkuat hubungan kedua kerajaan, terutama dalam menghadapi invasi Belanda di Asia Tenggara.

Peta ini dengan jelas menunjukkan pulau-pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Srilanka, Maldive, dan ujung selatan India.

Hubungan Kesultanan Aceh dengan Turki telah dimulai sejak 1563 Masehi. Ketika itu, Turki merespon surat Sultan Aceh dengan mengirim dua kapal perang dan peralatan perang termasuk sejumlah meriam. Kiriman itu tiba di pelabuhan Aceh pada 1566 atau 1567 M. (Lihat: Begini wujud surat Sultan Turki untuk Sultan Aceh).

Tiga abad setelahnya, pada 1850, hubungan antara Turki dan Aceh kembali diperkuat. Aceh yang ketika itu itu diperintah oleh Sultan Ibrahim Mansyur Syah mengirim utusan bernama Sidi Muhammad. Tujuannya meminta Turki agar bersedia melindungi Aceh dari rongrongan Inggris dan Belanda.

Melihat dari tahunnya, kemungkinan besar peta tersebut dibawa Sidi Muhammad pada saat bersamaan.

Turki yang ketika itu dipimpin Sultan Abdul Madjid awalnya merespon positif surat itu. Namun, hingga 1873, bantuan senjata senjata yang diharapkan oleh Kesultanan Aceh tidak kunjung tiba hingga pecahnya perang Aceh-Belanda pada 1873.

Kantor Berita Reuters memberitakan, Turki sempat memberangkatkan puluhan kapal perang menuju Aceh guna membantu menghadapi Belanda. Namun, bantuan itu tidak sampai ke Aceh karena Turki menghadapi tekanan negara internasional.


(atjehpost)

Keumala Hayati, Laksamana pemimpin pasukan Inong Balee

...LIRIH terdengar suara itu memanggil jiwa untuk maju//Dari tanah mu hai Aceh lahir perempuan perkasa bukan hanya untuk dikenang//Tapi dia panglima Laksamana Jaya memanggil kembali untuk berjuang//Dia perempuan Keumala//Alam semesta restui//Lahir jaya berjiwa baja Laksamana Malahayati perempuan ksatria negeri...//

Lirik lagu tersebut dilantunkan Sang Maestro, Iwan Fals mengenang perjuangan Laksamana Malahayati. Keumala merupakan wanita Aceh yang memimpin armada laut kerajaan dan 2 ribu pasukan Inong Balee. Pasukan ini terdiri dari wanita-wanita Aceh yang suaminya tewas dalam perempuan Teluk Haru melawan Portugis.

Berdasarkan catatan Ali Hasjmy dalam bukunya Wanita Aceh menceritakan, pembentukan pasukan Inong Balee ini dilakukan Laksamana Malahayati setelah meminta izin dari Sultan Aceh, Sultan Al Mukamil. Permohonan itu dilakukan Keumala setelah suaminya ikut tewas dalam peperangan meski armada Kerajaan Aceh memperoleh kemenangan melawan Portugis.

Permintaan ini dikabulkan Sultan Al Mukamil dan Laksamana Malahayati diangkat menjadi panglimanya. Armada ini ditugaskan menjaga Teluk Krueng Raya, Aceh Besar dari gangguan bangsa asing.

Konon diceritakan Keumala Hayati awalnya mendapat pendidikan militer di pusat pendidikan tentara Aceh Asykar Baital Makdis. Dia mendapat pelatihan langsung dari instruktur perwira Turki Utsmaniyah.

Di kamp militer inilah Malahayati berkenalan dengan suaminya yang kelak diangkat menjadi Panglima Armada Selat Malaka Aceh. Usai menjalani pendidikan di Baital Makdis, Keumala Hayati diangkat menjadi Komandan Protokol Istana Darud Dunia oleh Sultan Aceh.

Nama Keumala Hayati menjadi populer setelah berhasil menyerbu kapal-kapal perang Belanda yang menyamar jadi kapal dagang. Armada kapal Belanda itu dipimpin Houtman bersaudara yang mengkhianati kepercayaan Sultan Aceh.

Pengkhianatan yang dilakukan dua Zeelander ini setelah berhasil masuk ke Aceh pada 21 Juni 1599 Masehi. Mereka melakukan manipulasi dagang, mengacau, dan menghasut sehingga membuat Sultan Aceh gerah.

Sultan Aceh kemudian memerintahkan Armada Inong Balee menyerbu kapal De Houtman bersaudara pada 11 September 1599. Pertempuran sengit berlangsung di atas geladak kapal Belanda. Cornelis de Houtman berhasil ditikam dan mati di tangan Laksamana Keumala Hayati sementara saudaranya, Frederick de Houtman ditawan.

"Di kapal Van Leeuw telah dibunuh Cornelis de Houtman dan anak buahnya oleh Laksamana Malahayati sendiri, sementara sekretaris rahasianya menyerang Frederick de Houtman dan ditawannya serta dibawa ke darat. Davis dan Tomkins menderita luka..." tulis Marie van C. Zeggelen dalam bukunya berjudul Oude Glorie.

Keberhasilan Malahayati dalam menumpas pengkhianatan de Houtman bersaudara ini membuat karirnya meningkat. Dia dipercaya menjabat sebagai panglima perang angkatan laut kerajaan.

Ketangguhan Laksamana Malahayati menjaga gerbang masuk ke Aceh membuat Kerajaan Belanda yang dipimpin Prince Maurits terpaksa mengambil langkah damai. Belanda mengirimkan utusan yang berangkat dengan empat buah kapal dagang, yaitu Zeelandia, Middleborg, Lange dan Sonne.

Laksamana Malahayati ditugaskan untuk memeriksa kapal-kapal utusan Belanda ini. Setelah mendapat rekomendasi dari panglima armada laut perempuan itu, utusan Belanda baru dapat menemui Sultan Aceh.

Bukti peninggalan sejarah armada Laksamana Malahayati kini bisa dijumpai di Desa Lamreh, Krueng Raya. Di desa itu terdapat Benteng Kuta Inong Balee, markas pasukan Keumala Hayati di Teluk Krueng Raya.

(sumber: atjehpost.com)

Putroe Phang; Dua sisi kepribadian wanita Istana Darud Dunia

Taman Putroe Phang.@heri juanda/atjehpostcom

SYAHDAN dikisahkan dalam sejarah saat Iskandar Muda hendak berangkat ke Malaka dengan Armada Cakra Donya untuk menggempur Portugis di abad ke 16. Di gerbang Istana Darud Dunia, Putri Kamaliah atau lebih dikenal dengan sebutan Putroe Phang merangkul lengan Sultan Iskandar Muda.
"Harap Tuanku waspada dalam melayari Selat Malaka. Akan Tuanku hadapi tiga bahaya; yang pertama gelombang besar, bahaya kedua di Asahan, Tuanku dihadang Raja Muda. Bahaya ketiga ada di Banang, tiga aulia bermakam di sana. Karena itu Tuanku, Banang jangan dihancurkan," pesan Putroe Phang kepada Sultan Aceh itu, seperti diriwayatkan dalam Hikayat Malem Dagang.
Nasehat bijaksana ini dituturkan Putroe Phang setelah Sultan Iskandar Muda menjadi suaminya. Dalam kisah itu, diceritakan pula rasa enggan Putroe Phang terhadap keberangkatan Iskandar Muda memerangi Portugis di Malaka. Kisah ini merupakan sisi lain kepribadian Putroe Phang dan peranannya dalam istana.
Di sisi lain, posisi Putroe Phang dalam Istana Darud Dunia kerap menjadi penasehat bagi suaminya, Sultan Iskandar Muda.
Salah satu peranannya dalam politik negara yaitu terbentuknya sebuah lembaga yang menyerupai Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Lembaga ini terdiri dari Balai Majelis Mahkamah Rakyat yang beranggotakan 73 orang, mewakili penduduk dalam Kerajaan Aceh Darussalam.
Seperti dirunut dalam buku Wanita Aceh karangan Ali Hasjmy disebutkan, untuk mengabadikan jasa dan karya besar Putri Pahang maka semua produk Balai Majelis Mahkamah rakyat disebut sebagai produk Putri Pahang. Hal ini tercermin dalam Hadih Maja (kata berhikmat) yang berbunyi ; Adat bak Poteu Meureuhom, Hukom bak Syiah Kuala, Qanun bak Putroe Phang, Reusam bak Laksamana.
Hadih maja ini menjadi filsafat hidup orang Aceh.
Putroe Phang atau Putri Kamaliah merupakan istri yang dinikahi Sultan Iskandar Muda usai wafatnya Putri Sendi Ratna Istana. Dia merupakan salah satu putri dari keluarga Diraja Pahang.
Sumber: atjehpost.com

Ini isi Surat Dagang Kerajaan Aceh dengan Prancis


Kerajaan Aceh sejak lama telah menjalin hubungan dengan sejumlah negara luar, seperti Inggris, Prancis, Amerika, Belanda, Turki, China dan beberapa negara di Asia lainnya. Di masa Aceh dipimpin Sultan Iskandar Muda Johan Berdaulat, daerah ini juga mengikat hubungan dengan negara-negara besar Eropa. Satu diantaranya yaitu negara Prancis.
======================================
Kerajaan Aceh yang kaya akan hasil bumi, menarik hati pembesar-pembesar atau raja-raja dari Eropa untuk menjalin hubungan diplomatis. Seperti halnya yang dilakukan oleh Raja Louis XIII lewat perantaranya de Beaulieu.
Mereka saling mengirimkan surat dan mengikat kerjasama di bidang perdagangan. Sayangnya, surat-surat yang ditujukan Raja Perancis ini raib dan tidak tahu kemana.
Dalam buku Kerajaan Aceh karya Denys Lombard hanya melampirkan surat balasan dari Sultan Iskandar Muda yang berisi tentang hubungan dagang antara Aceh dan Perancis pada masa itu.
Berikut petikan surat yang disajikan Lombard dari teks aslinya :
Lettre du grand Siri Sultan, vainqueur et conquesteur avee Paide de Dieu, de Plusieurs Royaumes, Roy d’Achen et par la faveur de Dieu, de toutes les terres qui en sont au levant et au couchant. Du levant, le Royaume, terres et seigneuries de Deli; le Royaume de Ior avec ses terres et seigneuries; le Royaume de Paham, le Royaume de Queda et le Royaume de Pera avec leurs terres et seigneuries. Du couchant, le Royaume et territoire de Priaman, le Royaume et territoire de Ticou; le Royaume et territoire de Passaman.
Soeint donnés au grand et puissant Roy de France. Sçaura le Roy de France que la letter qu’il m’a envoyée par le Capitaine Général de Beaulieu m’a esté délivree et que j’ay vu tout ce qu’il m’escrit et comme il me recommande de Capitaine Général auquel j’ay fait beaucoup d’honneur, tant au fait du traffic, que de luy avoir donné qualité et séance de mes principaux gentilshommes.
Quant à l’offre si j’ay affaire de quelque chose de France, j’envoye un mémoire par le Capitaine Général de Beaulieu, pour faire paroistre combine j’estime cela, disant d’avantage si Dieu conduit cette letter à sauvement, j’en attends response par les navires qui viendront, chargez de marchandises pour trafiquer en ce Royaume, qui me sera grand contentement; ainsi je prie Dieu qu’il garde bien les Estats du Roy de France.
Et puis que Dieu nous a fait grands rois en ce monde, il semble raisonnable que nous soyons amis et que nous communications. En signal d’amitié, j’envoye huit bahars de poivre qui est prist de cette terre, Dieu preserve l’illustre personne du Roy de France avec ses Estats et Royaumes pour longues annés.
Fait au mois Rajab (ou juin) l’an mil trente.
Terjemahan :
Surat dari Sri Sultan yang agung, yang berkat bantuan Allah telah menaklukkan dan menundukkan beberapa kerajaan, Raja Aceh dan, dengan rahmat Allah, Raja semua tanah di masyrik dan maghrib. Di masyrik, kerajaan, daerah dan tanah-tanah Deli; Kerajaan Johor beserta daerah dan tanah-tanahnya; Kerajaan Pahang, Kerajaan Kedah dan Kerajaan Perak bersama daerah dan tanah-tanahnya. Di maghrib, Kerajaan dan wilayah Priaman, Kerajaan dan wilayah Tiku; Kerajaan dan Wilayah Paseman.
Dialamatkan kepada Raja Prancis yang agung dan kuasa. Hendaknya diketahui Raja Prancis bahwa surat yang dikirimnya dengan perantaraan Kapten Jenderal de Beaulieu telah disampaikan kepada saya dan bahwa telah say abaca apa yang tertulis di dalamnya dan bahwa kepada saya telah disebutnya kebaikan Kapten Jenderal itu yang saya perlakukan dengan hormat sekali, baik dalam hal perniagaan, maupun waktu saya beri gelar dan kedudukan seperti orang kaya saya yang terkemuka.
Berhubung dengan tawaran apakah saya memerlukan sesuatu dari Prancis, saya sampaikan dengan perantaraan Kapten Jenderal de Beaulieu sebuah laporan (laporan ini hilang tanpa jejak) untuk menunjukkan betapa besar penghargaan saya, dan saya katakan pula, jika Allah mengarahkan surat ini dengan selamat, saya mengharapkan jawaban dengan kapal-kapal yang bakal datang bermuatan barang dagangan untuk diperjualbelikan di kerajaan ini, suatu hal yang bakal sangat menyenangkan hati saya; maka saya berdoa kepada Allah supaya negara Raja Prancis selamatlah.
Dan karena Allah telah membuat kita raja-raja besar di dunia ini, maka sudah sepantasnya kita bersahabat dan menjalin hubungan. Sebagai tanda persahabatan, saya mengirim delapan bahar (350 pon Prancis atau 180 kg) lada yang diambil dari tanah ini (Aceh). Semoga Allah masih bertahun-tahun lamanya melindungi Yang Mulia Raja Prancis bersama negara-negara dan kerajaan-kerajaannya.
Dibuat pada bulan Rajab (atau Juni) tahun seribu tiga puluh (1030 H/ Juni 1621 M). | boy nashruddin agus/atjehpost.com

Makam Saidil Mukamil, Sultan Aceh yang dilupakan usai tsunami

@REZA MUSTAFA/ATJEHPOSTcom | Makam Saidil Mukamil, Sultan Kerajaan Aceh ke 10

SUASANA di komplek makam itu lengang, Sabtu 2 Maret 2013. Terletak di Jalan Tgk. Chik Pante Kulu, Lr. Melati Kelurahan Merduati, Kec. Baiturrahman, Banda Aceh. Komplek makam ini berada di belakang bangunan pertokoan. Dari Jalan Prof. A. Majid Ibrahim, ia terletak persis di belakang gedung Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah, Banda Aceh.
Sebidang tanah yang dipagari kawat setinggi pinggang orang dewasa terlihat sama sekali tak terurus. Pagar yang selain menjadi batas tanah tersebut berfungsi juga sebagai tempat jemuran warga. Di tengah-tengah sebidang tanah ukuran tujuh muka toko itu, sepasang nisan terukir menyembul diantara semak rerumputan yang tumbuh subur.
Semak belukar menutup area tanah komplek makam. Di sudut kiri, di samping sebuah gardu PLN berdiri dua pamplet putih dengan Kop Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Wilayah Kerja Provinsi NAD dan Sumatera Utara.
Pamplet itu menerangkan secara singkat bahwa makam tersebut merupakan milik Saidil Mukamil. Tak ada keterangan silsilah atau tahun kapan ia memerintah. Selebihnya, di satu pamplet lagi hanya bertulis larangan-larangan sesuai dengan pasal 15 UU RI No. 5 tahun 1992.
Merujuk kepada catatan sejarah, Sultan Alaiddin Ali Riayat Syah Saidil Mukammil merupakan sultan yang ke-10 sejak berdirinya Kerajaan Aceh Darussalam.
Seorang ibu yang menggendong anaknya keluar dari sebuah ruko tempat tinggalnya. Seraya mengambil jemuran di pagar komplek makam ia menerangkan sekilas mengenai makam tersebut.
“Dengar-dengar ini makamnya Kakek Sultan Iskandar Muda. Tapi saya tidak terlalu mengerti. Saya baru empat tahun tinggal di sini,” katanya.
“Dulu kata suami saya, komplek makam ini bagus. Ada bangunan beratap yang menaungi makam itu. Tapi setelah tsunami ya seperti itu. Seminggu sekali ada orang datang memotong rumput di situ,” lanjut ibu dua anak ini tanpa mau menyebutkan namanya.
Memasuki area makam, jenis rumputan berduri seperti tumbuhan putri malu menjalar di sana-sini. Sampai ke tengah, tempat sepasang nisan terlihat dari luar pagar, gundukan tanah yang telah dibeton dan lapisan granit di atasnya telah tertutupi rumput semua. Tak jauh dari nisan yang masih tegak itu, teronggok dua nisan lainnya juga. Kondisinya berlumut dan juga ditutupi rumput.
“Dulu pertama tinggal di sini, saya pikir itu kuburan Belanda. Tapi kalau kuburan raja, kok nggak terawat begini ya,” tutur Yulika, 31 tahun, seorang pekerja di Pasar Aceh yang mengaku sudah dua tahun tinggal di sebuah kost dekat makam. | REZA MUSTAFA/ATJEHPOSTcom

Begini wujud surat Sultan Turki untuk Sultan Aceh

Ilustrasi Masjid Biru, Turki. @muslim-tour.com

SEPUCUK surat dari Sultan Ottaman Turki untuk Sultan Aceh muncul di jejaring sosial Twitter kemarin 28 Februari 2013. Surat itu berasal dari abad ke-15. 
Adalah akun Lost Islamic History @LostIslamicHist yang memuat surat itu disertai pengantar, "A letter from the Ottoman sultan in #Istanbul to the sultan of #Aceh, in #Indonesia (1500s)."
Postingan itu memang tidak menjelaskan secara detail isi surat itu. Namun, jika mengacu kepada sejarah. Kerajaan Aceh Darussalam memiliki hubungan diplomatik dengan Kesultanan Turki Utsmani sejak abad 15. Saat itu Turki merupakan kerajaan kekhalifahan Islam terbesar di dunia setelah berhasil menaklukkan Konstatinopel yang dikuasai pasukan Eropa.
Hubungan antara Kesultanan Aceh dengan Ottoman Turki Istambul dimulai sejak masuknya pedagang-pedagang Eropa ke nusantara. Para pedagang asal Eropa itu kerap mengganggu kedaulatan kerajaan-kerajaan di semenanjung Malaka, termasuk Aceh.
Guna menghadapi imperialisme bangsa Eropa tersebut, Kerajaan Aceh mencari dukungan dari kerajaan-kerajaan tetangga termasuk dari Khalifah Abdul Aziz dari ke khalifahan Turki Utsmani pada tahun 1563 M.
LOSTISLAMICHISTUtusan dari Aceh membawa serta hadiah-hadiah berharga dari Sultan untuk dipersembahkan kepada penguasa Turki. Hadiah-hadiah itu antara lain berupa emas, rempah-rempah dan lada.
Bersama utusan itu, Sultan Aceh Alauddin Mahmud Syah mengirimkan sepucuk surat resmi kepada khalifah. Berikut petikan surat tersebut :
“Sesuai dengan ketentuan adat istiadat kesultanan Aceh yang kami miliki dengan batas-batasnya yang dikenal dan sudah dipunyai oleh moyang kami sejak zaman dahulu serta sudah mewarisi singgasana dari ayah kepada anak dalam keadaan merdeka.
Sesudah itu kami diharuskan memperoleh perlindungan Sultan Salim si penakluk dan tunduk kepada pemerintahan Ottoman dan sejak itu kami tetap berada di bawah pemerintahan Yang Mulia dan selalu bernaung di bawah bantuan kemuliaan Yang Mulia almarhum sultan Abdul Majid penguasa kita yang agung, sudah menganugerahkan kepada almarhum moyang kami sultan Alaudddin Mansursyah titah yang agung berisi perintah kekuasaan.
Kami juga mengakui bahwa penguasa Turki yang Agung merupakan penguasa dari semua penguasa Islam dan Turki merupakan penguasa tunggal dan tertinggi bagi bangsa-bangsa yang beragama Islam. Selain kepada Allah SWT, penguasa Turki adalah tempat kami menaruh kepercayaan dan hanya Yang Mulialah penolong kami.
Hanya kepada Yang Mulia dan kerajaan Yang Mulialah kami meminta pertolongan rahmat Ilahi, Turkilah tongkat lambang kekuasaan kemenangan Islam untuk hidup kembali dan akhirnya hanya dengan perantaraan Yang Mulialah terdapat keyakinan hidup kembali di seluruh negeri-negeri tempat berkembangnya agama Islam.
Tambahan pula kepatuhan kami kepada pemerintahan Ottoman dibuktikan dengan kenyataan, bahwa kami selalu bekerja melaksanakan perintah Yang Mulia. Bendera negeri kami, Bulan Sabit terus bersinar dan tidak serupa dengan bendera manapun dalam kekuasaan pemerintahan Ottoman; ia berkibar melindungi kami di laut dan di darat.
Walaupun jarak kita berjauhan dan terdapat kesukaran perhubungan antara negeri kita namun hati kami tetap dekat sehingga kami telah menyetujui untuk mengutus seorang utusan khusus kepada Yang Mulia, yaitu Habib Abdurrahman el Zahir dan kami telah memberitahukan kepada beliau semua rencana dan keinginan kami untuk selamanya menjadi warga Yang Mulia, menjadi milik Yang Mulia dan akan menyampaikan ke seluruh negeri semua peraturan Yang Mulai.
Semoga Yang Mulai dapat mengatur segala sesuatunya sesuai dengan keinginan Yang Mulia. Selain itu kami berjanji akan menyesuaikan diri dengan keinginan siapa saja Yang Mulia utus untuk memerintah kami.
Kami memberi kuasa penuh kepada Habib Abdurrahman untuk bertindak untuk dan atas nama kami.
Yang Mulia dapat bermusyawarah dengan beliau karena kami telah mempercayakan usaha perlindungan demi kepentingan kita.
Semoga harapan kami itu tercapai. Kami yakin, bahwa Pemerintah Yang Mulia Sesungguhnya dapat melaksanakannya dan kami sendiri yakin pula,bahwa Yang Mulia akan selalu bermurah hati”.
Petikan isi surat tersebut dikutip dari Seri Informasi Aceh th.VI No.5 berjudul Surat-surat Lepas Yang Berhubungan Dengan Politik Luar Negeri Kesultanan Aceh Menjelang Perang Belanda di Aceh diterbitkan oleh Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh tahun 1982 berdasarkan buku referensi dari Anthony Reid, ”Indonesian Diplomacy a Documentary Study of Atjehnese Foreign Policy in The Reign of Sultan Mahmud 1870-1874”, JMBRAS, vol.42, Pt.1, No.215, hal 80-81 (Terjemahan : R. Azwad).
Kerjasama yang ditawarkan Kerajaan Aceh itu mendapat tanggapan dari Khalifah Turki Utsmani. Khalifah Abdul Aziz segera mengirimkan surat balasan disertai alat-alat perlengkapan perang (termasuk meriam yang kemudian dinamakan dengan meriam lada sicupak).
Selain itu, Sultan Turki juga mengirimkan bantuan berupa dua kapal perang dan 500 orang tenaga berkebangsaan Turki untuk mengelola kapal-kapal tersebut. Di antara 500 orang tersebut terdapat ahli-ahli militer yang dapat membuat kapal-kapal perang, baik ukuran besar maupun ukuran kecil. Mereka juga mampu membuat meriam-meriam berukuran besar.
Turki juga memberikan sejumlah meriam berat beserta perlengkapan-perlengkapan militer lainnya kepada Aceh. Semuanya itu tiba di pelabuhan Aceh dengan selamat pada tahun 1566 atau 1567 M.
Mengenai bantuan dua buah kapal dan 500 orang awak kapal serta teknisi tersebut, C.R Boxer dalam A Note On Portugese Reactions of The Revival of The Red Sea Spice Trade and The Rise of Acheh, 1540-1600, menerangkan dalam paper nya pada acara konferensi Internasional Sejarah Asia di Kuala Lumpur yang diselenggarakan oleh Departement of History, University of Malaya, 5-10 Agustus 1968, bahwa para utusan Aceh yang berhasil sampai ke Turki itu telah mampu meyakinkan pihak kerajaan Islam terbesar itu mengenai keuntungan perdagangan rempah-rempah dan lada di Nusantara.
Keuntungan ini, kata dia, akan tercapai apabila orang-orang Portugis yang berada di Malaka berhasil diusir oleh pasukan Kerajaan Aceh dengan bantuan Turki.
Dalam suratnya, Sultan Turki juga mengatakan sejak saat itu Aceh selaku negara bawah angin yang berada di selat Malaka merupakan negara lindungan Imperium Turki di bawah pemerintahan kekhalifahan. Artinya, siapapun yang mengganggu kedaulatan Aceh, berarti akan berhadapan dengan pemerintahan kekhalifahan Turki.
Selain tahun 1563 Masehi, hubungan antara Turki dengan Aceh kembali dilakukan dan diperkuat tiga abad setelahnya yaitu tahun 1850. Kerajaan Aceh yang diperintah oleh Sultan Ibrahim Mansyur Syah mengirim Sidi Muhammad sebagai utusannya ke Turki.
Melalui sepucuk surat, Sultan meminta agar Turki bersedia melindungi Aceh dari rongrongan Inggris dan Belanda. Sebagai hasilnya, Sultan Abdul Madjid dari Turki mengeluarkan dua pengumuman resmi kerajaan yang berisikan kesediaan Turki untuk memenuhi permintaan Sultan Ibrahim dan pengukuhannya sebagai Sultan Aceh (pada saat itu, Sultan Ibrahim Mansyur Syah adalah pemangku Sultan, 1837-1857 dan baru saja dinobatkan sebagai Sultan Aceh menggantikan sultan Ali Iskandar Syah yang memerintah Kerajaan Aceh sebelumnya).
Sultan Abdul Madjid juga menginstruksikan Gubernur Yaman agar selalu memperhatikan dan mengawasi kepentingan Aceh. (Anthony Reid, op. cit, hal. 84).
Dukungan positif yang ditunjukkan Turki ini, tentu saja disambut gembira oleh Sultan Ibrahim terutama yang berkaitan dengan isi pengumuman kedua, dimana Turki memberikan dukungan politis kepada Sultan Ibrahim untuk menjadi sultan Aceh.
Sultan Ibrahim Mansyur Syah juga mendapatkan Bintang Penghargaan (Mejidie) dari Sultan Turki sebagai ungkapan balas jasa atas kepercayaan Aceh terhadap negara tersebut.
Namun, mengenai bantuan senjata yang diharapkan oleh Aceh, sampai pecahnya perang Belanda di Aceh (1873) tidak pernah tiba dari Turki.
Perlu diketahui, berdasarkan pemberitaan dari Reuters, Turki sempat memberangkatkan puluhan kapal perang menuju Aceh guna membantu menghadapi Belanda. Namun, akibat informasi yang dikeluarkan olehReuters tersebut, Kerajaan Turki urung ikut campur tangan disebabkan adanya tekanan negara internasional. Saat itu imperium Turki sudah tidak kuat lagi seperti pada masa kekhalifahan. | boy nashruddin agus/atjehpost.com

Istana Darud Dunia dalam Cerita Penjelajah Eropa


ZAMAN keemasan Aceh di bawah Kesultanan Iskandar Muda bukanlah sebuah dongeng seperti yang disebutkan Snouck Hougronje.
============================
The golden age of Acheh in which the mohammedan law prevailed or in wich the Adat Meukuta Alam may be regarded as the fundamental law of the kingdom, belongs to the realm of legend.” ("Masa keemasan Aceh di mana hukum Islam berlaku atau di yang dengan Adat Meukuta Alam bisa dianggap sebagai hukum dasar kerajaan, adalah milik ranah legenda.")
Setidaknya keagungan masa  pemerintahan Iskandar Muda dapat digambarkan oleh Denys Lombard dalam bukunya Kerajaan Aceh. Menurut Lombard, Aceh pada masa itu merupakan sebuah negara dengan sistem perkotaan bukan negara pertanian. Aceh sama halnya dengan negara-negara Asia pada umumnya.
Aceh memiliki kekuatan materiil dan berwibawa di mata orang asing. Ekspedisi laut diatur dengan sesuai dengan suatu kebijaksanaan terpadu. Perdagangan berkembang di kota pelabuhan yang juga menjadi pusat kebudayaan di ujung pulau Sumatera.
Sultan Aceh memiliki istana yang indah, mewah disertai pengiring raja yang jumlahnya banyak. Selain itu daerah ini juga memiliki kesusastraan yang terus berkembang dengan pesat, dan ditambah menjadi pusat perdebatan para ulama dari India dan beberapa tempat lainnya.
Dengan kata lain, Aceh merupakan sebuah pusat pendidikan agama yang kemudian dikenal dengan kata Zawiyah.
Dalam bukunya tersebut, Denys Lombard sekaligus mematahkan istilah sebagai kaum barbar atau perompak, seperti yang pernah dilontarkan oleh Sir R.O Winstedt dalam History of Malaya, Singapura, Kuala Lumpur, tahun 1962.
Dia mengatakan, ”In 1962…., tired of the fierce fights of cocks, rams and elephants and the “stomackful” encounter of baffles, pastimes of his barbaric court, Makota ‘Alam retook Aru which since the beginning of the century had been a fief of Johor.” (Pada tahun 1962…, merasa bosan dengan adu ayam, domba jantan dan gajah serta "stomackful" merupakan sebuah hal yang membingungkan, ini merupakan kegiatan pengisi waktu dari pengadilan barbar nya, Makota 'Alam kemudian merebut kembali Aru yang sejak awal abad ini telah menjadi wilayah kekuasaan Johor).
Untuk membedah kata-kata Sir R.O  Winstedt tersebut, Denys Lombard menyampaikan sedikit banyaknya kebenaran tentang keberadaan Aceh dan sultan-sultan agungnya. Salah satu bukti kejayaan dan kemegahan Aceh yaitu adanya istana.
Istana atau kerap disebut dengan “Dalam” merupakan pusat sekaligus kerangka semua perayaan dan kebudayaan. Pada abad ke 17, istana sultan sangat megah namun kemegahan ini mulai meredup sejak abad ke 19. Istana itu dinamakan Dar-ud Dunia.
Kemegahan Darud Dunia hancur akibat perang antara Aceh dan Belanda. Bahkan, Snouck Hougronje sama sekali tak menyebutkan tentang keberadaan Darud Dunia sebagai bentuk propaganda politik Belanda terhadap Aceh.
Bangunan yang masih tersisa dari Darud Dunia sejak Belanda berhasil menguasai Kuta Radja, dialihfungsikan menjadi tangsi militer. Sejak berhasil merebut pusat kekuasaan Aceh di abad 19, Belanda turut mengubah nama Dalam menjadi Kraton dan mengganti nama tersebut dari dalam peta serta dokumen-dokumen resmi. Belanda ingin menyeragamkan istilah Aceh dengan kerajaan-kerajaan di Jawa.
Sisa kejayaan Kerajaan Aceh hanya lah Pinto Khob dan Gunongan. Kebudayaan peninggalan kerajaan Aceh juga masih terukir jelas di beberapa nisan para raja, yang sebagiannya masih asli dan dapat dibaca.
Banyak pihak menanyakan dimana sebenarnya letak Dalam (Istana) Kerajaan Aceh. Di masa Snouck Hougronje bertandang ke Aceh, Dalam berada di tengah-tengah kota.
Kawasan ini menjadi pusat daerah yang kemudian dikenal dengan sebutan Banda Aceh. Sementara pada awal abad ke 17, Dalam itu terletak jauh sekali dari pemukiman yang sedikit demi sedikit meluas ke selatan dan akhirnya mengelilingi pemukiman tersebut.
Davis pada tahun 1599 menulis : “His court is from the Citie halfe a mile upon the River.” (Pengadilan terletak setengah mil dari sungai menuju kota). Satu setengah abad kemudian ditemukan petunjuk bahwa Dalam raja di pusat Kota Banda Aceh.
Menggambarkan bagaimana kondisi Dalam tersebut, bisa dirunut dari kesaksian Beaulieu yang memiliki izin memasuki Dalam Dar-ud Dunia.
“Kelilingnya lebih setengah mil (sekitar 2 km), bentuknya hampir bulat bujur, dan sekelilingnya ada parit yang dalamnya 25 sampai 30 kaki (10 m) dan sama lebarnya, agak sukar dilalui karena terjal dan penuh semak. Tanah galiannya dibuang kea rah istana sehingga merupakan tembok; di atasnya ditanami bamboo, buluh besar yang tumbuh setinggi pohon frene, dan tegak dan tebalnya sedemikian rupa hingga tak tembus pandang…; bambu itu selalu hijau dan tak bisa dimakan api.”
Beaulieu juga mengemukakan tidak adanya dinding pertahanan di sekeliling kota seperti layaknya di kerajaan-kerajaan Eropa. Bahkan dia tidak menemukan satu pun benteng disekitar istana. “Dari luar tak ada tembok ataupun kubu meskipun di sebelah mesjid terdapat permulaan jalan-jalan besar; tetapi tidak ada yang rampung. Tak ada jembatan angkat pada pintu gerbangnya…”
Kondisi ini kemudian diperbaharui setelah kejayaan dan wibawa sultan Aceh mulai merosot, terutama setelah meninggalnya Sultan Iskandar Muda dan Sultan Iskandar Tsani. Guna mempertahankan diri dari serangan mendadak, Dalam mulai dikelilingi dinding pertahanan.
Menurut kisah Marsden : “Istana raja…sebuah gedung dengan arsitektur yang kasar dan aneh, yang dimaksudkan untuk bertahan terhadap serangan-serangan musuh dank arena itu dikelilingi tembok-tembok yang kuat tetapi tidak teratur.”
Kembali menurut kesaksian Beaulieu, bagi siapa saja yang berani mengintip dari benteng atau menerobos maka akan dihukum mati. Hal ini pernah dialami oleh salah satu utusan Aceh yang ditugaskan ke Belanda pada tahun 1602. Utusan yang tak disebutkan namanya itu lupa akan kebiasaan negerinya dan mematahkan sebuah batang dari bambu itu.
“Raja seketika itu menyuruh menggoroknya,” ujar Beaulieu.
Masih menurut keterangan Beaulieu, tanah berbenteng itu bisa dimasuki dari sejumlah pintu. Namun ada perbedaan pendapat jumlah pintu yang ada di Darud Dunia tersebut. Menurut keterangan Beaulieu, Dalam Darud Dunia memiliki empat pintu. Sementara menurut Dong Xi Yang Kao, Dalam Darud Dunia memiliki enam buah pintu.
Pintu utara menurut peta yang ada pada masa Denys Lombard, seharusnya menghadap ke kota. Di atasnya ada tembok kecil dari batu setinggi 10 sampai 12 kaki atau sekitar 3,50 m, untuk menyangga serambi dengan dua pucuk meriam perunggu pada kedua belah pintu yang diarahkan pada orang yang hendak masuk.
“Pintu-pintu itu tidak terbuat dari papan melainkan dari balok kayu yang disusun setinggi temboknya, terbuat dari kayu yang cukup kuat dan ditutup dari dalam selain dengan gerendel juga dengan dua palang melintang yang besar yang masuk ke dalam tembok dan ditutup dari dalam dengan kunci.”
Setiap pagi dan setiap malam, waktu pintu-pintu istana dibuka, raja memerintahkan untuk membunyikan meriam. Itu merupakan hak istimewa. Saat Peter Mundy singgah di Aceh pada tahun 1637, dilihatnya salah satu meriam yang ditempatkan di pintu masuk itu adalah hadiah dari Raja James dahulu.
“A great brasse gunne lying by the court gate, sent by King James to the old King, the bore of itt was near 22 or 25 inches diameter,” tulis Peter Mundy yang artinya kira-kira Sebuah gunne Brasse besar tergeletak di pintu gerbang pengadilan, dikirim oleh Raja James ke Raja tua (raja sebelumnya), lubang meriam itu kira-kira berdiameter antara 22 atau 25 inci.
Melalui pintu besar inilah orang asing masuk ke dalam istana apabila mereka diundang ke Dalam. Hal ini jarang sekali terjadi. Seperti yang pernah dialami Dampier yang mengatakan : “Sang ratu disini mempunyai istana besar dari batu yang baik bangunannya; saya tidak bisa memasukinya.”
Saat orang asing pertama sekali datang ke Aceh akan diantar dengan gajah istana untuk dijamu ke Dalam. Namun, pada saat kedatangan berikutnya mereka akan dilayani dengan cara sederhana, bisa dengan berjalan kaki menuju kota atau dengan perahu yang menyusuri sungai ke arah hulu.
Jika sudah dianggap kerabat Sultan Aceh, para pendatang bisa masuk sesuka hati ke Dalam dan tidak akan diinterogasi oleh para penjaga. Di bagian dalam, pelataran-pelataran dan bangunan-bangunan diatur pada kedua tepi sebuah sungai kecil, yang airnya turun dari pegunungan dan dingin serta jernih sekali.
Nama sungai itu yaitu Krueng Daroy yang datang dari selatan, membelah Dalam menurut panjangnya dan bermuara ke Krueng Aceh.
Krueng Daroy pada awalnya tidak membelah Dalam. Namun mengalir kea rah barat. Pada masa Sultan Iskandar Muda, aliran sungai ini dibendung dan dialirkan ke hulu sungai yang melintasi Dalam. Pengalihan aliran sungai ini terjadi pada tahun 1613 sesuai keterangan Best. Best mengatakan pekerjaan tersebut berjalan selama 20 hari sewaktu ia tinggal di Aceh.
“His court at Achen is pleasant, having a goodly branch of the main river (anak sungai besar dari sungai utama) about and throught his pallace, which he cut and brought six or eight miles off in twenty days, which we continued at Achen,” ujar Blest. 
Kira-kira artinya yaitu, istana Aceh menyenangkan, memiliki anak sungai besar dari sungai utama dan melalui istananya, pekerjaan memotong dan membawa (anak sungai ke istana) hingga berjarak enam atau delapan mil dibutuhkan wakut dua puluh hari, dimana kita melanjutkan (tinggal) di Aceh.
Tanggul sungai dipasang dengan baik dan juga dibuat berundak-undak untuk memudahkan orang agar dapat turun sampai ke bawah untuk mandi.
Setelah pintu masuk dilewati, maka akan dijumpai pelataran utama yang bisa meampung 4.000 prajurit dan 300 ekor gajah. Di sisi nya terdapat gudang senjata, sebuah bangunan dari batu bata yang diatasnya terdapat teras. Teras ini berukuran 50 langkah atau sekitar 40 meter dan diletakkan beberapa meriam kecil.
Di  sisi lainnya terdapat empat balai besar dan “semacam baluarti dari batu” dengan apilan dan banyak amunisi. Dari pelataran ini orang masuk pelataran kedua, lalu ke pelataran ketiga, setelah tiap kali melewati pos penjaga. Tetapi rincian Dalam ini sulit sekali digambarkan para penjelajah, terutama inti dari Dalam itu sendiri.
Para penjelajah hanya bisa memasuki ruang-ruang umum, diantaranya di ujung ruang pelataran ketiga. Dimana terdapat pintu yang berlapis bilah-bilah perak, ruang besar pertama tempat mereka harus menanggalkan sepatu. Setelah ruangan ini kemudian baru ditemukan sebuah balai luas yang jauh lebih tinggi dan setiap dindingnya dilapisi kain emas, beludru dan kain damas.
Disinilah mereka kerap bertemu dengan sultan dan dijamu dengan hidangan makanan mewah, serta hiburan tarian.
Beaulieu mengatakan, setelah balai penghadapan tersebut juga terdapat balai larangan kediaman putri-putri. Di sana diduga juga tempat menyimpan harta karun seperti yang diceritakan Beaulieu. Namun dia tidak dapat memberikan rincian lokasi yang tepat. Menurut Beaulieu, jika meneliti istana tersebut secara rinci akan memakan waktu hingga enam hari lamanya.
Dia mengatakan, didalam ruangan tersebut terdapat baju sulam emas, senjata yang halus pengerjaannya, peniti dari emas, batu-batu permata yang nilainya tinggi, tiga intan yang bisa ditaksir mencapai 15 sampai 20 karat. Dua batu delima besar sekali dan sebuah zamrud yang diperoleh sultan saat menaklukkan Perak.[bna | Denys Lombard | BOY NASHRUDDIN AGUS | ATJEHPOSTcom]