Tampilkan postingan dengan label Pulau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pulau. Tampilkan semua postingan

Sisi Lain Keindahan Pulau Bunta Aceh Besar

keindahan pulau bunta aceh besar
Keindahan Pantai di Pulau Bunta (M Iqbal/SeputarAceh.com)
Sisi Lain Keindahan Pulau Bunta di Aceh Besar - BANYAK sekali pilihan berwisata bila Anda pergi ke Aceh, lebih tepatnya di Kabupaten Aceh Besar. Pilihan wisata alam di Aceh Besar sangat beragam, Anda bisa melihat monyet yang bergantungan di pohon di Pemandian Air Mata Ie, menikmati keindahan Pantai Lampuuk atau Anda bisa memancing ikan di Lhok Mata Ie.

Bila Anda bosan berwisata di darat melulu, Anda bisa datang ke Pulau Bunta yang berada di Kecamatan Pekan Bada, Aceh Besar. Bunta begitulah orang menyebutnya, kalau dilihat Google Maps pulau ini mirip seperti unta yang merayap.

Untuk mencapai ke pulau ini memakan waktu sekitar 40 menit dari Desa Lamteungoh Peukan Bada. Transportasinya pun menggunakan boat nelayan penangkap ikan berukuran panjangnya 7 x 1,5 meter. Berangkat naik boat pada sore harinya, kita bisa menikmati sunset berpendaran di Samudera Hindia.

Panorama laut disertai ombak bergelora memecah butiran pasir di sepanjang pantai. Pasir putih bercampur butiran coral berwarna merah, air lautnya sangat jernih, matahari menyinari laut menambah keindahan gradasi warna laut. Sebelah timur akan terlihat Pulau Batee dan ketika malam harinya kita bisa melihat lampu berkelip-kelip dari perumahan Tiongkok, hibah dari Jacky Chan ketika tsunami 2004 silam. Masyarakat yang menetap di desa Pulo Bunta ini tidak lebih dari 10 jiwa untuk sekarang ini, bermata pencaharian sebagai nelayan dan berkebun.

Ekosistem hutan pulau Bunta keadaannya masih sangat alami belum terjamah manusia dan juga unik. Terlihat ada banyak pohon kelapa yang tumbuh di lereng-lereng bukit dari pada pepohonan yang biasa di hutan, banyak hewan ternak seperti lembu. Tapi jarang terlihat adanya tupai, monyet, anjing dan nyamuk. Namun, pasca tsunami ada babi hutan yang muncul, padahal sebelumnya di pulau itu penduduk belum pernah melihat babi.

Sebelah barat ujung pulau ada jalan setapak, menuju lampu mercusuar jaraknya sekitar 2 kilometer. Dari puncak menara lampu suar setinggi 35 meter ini, kita akan menikmati suguhan dari maha karya pencipta semesta alam, gradasi warna laut, samudera Hindia, hamparan rumput, batu karang, Pulau Nasi, Pulau Breueh dan tampak dari jauh dermaga pantai Lhoknga seberang pulau.

Pulau ini sangat sesuai untuk ecotourism (ekowisata), dimana kita berwisata tetap menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat. Seperti yang dilakukan oleh tim Aceh Adventure beberapa waktu lalu. Tertarik menikmati keindahan Pulau Bunta? jangan lewatkan sebagai destinasi untuk mengisi waktu libur Anda di Aceh Besar. (SeputarAceh)


Berikut Foto-foto keindahan Pulau Bunta dari M Iqbal/SeputarAceh.com.

Pulau Bunta Aceh Besar
Transportasi menuju Pulau Bunta
Pulau Bunta Aceh Besar
Mercusuar ujung barat Pulau Bunta

Pulau Bunta Aceh Besar
Menikmati sunset di Pulau Bunta

Ke Sabang? Nikmati Iboh Dengan Mercedez Benz-CC Class

Sabang dari atas (detiktravel)

Weh atau lebih dikenal dengan Sabang, bukan hanya Iboh, Rubiah dan Gapang.  Atau pun Kilometer Nol serta Pantai Kasih.  Sabang adalah pulau isitmewa dengan tiga undang-undang yang dilekatkan republik terhadap eksistensinya sebagai daerah terluar.
Pertama undang-undang tentang kotapraja yang menetapkan statusnya sebagai daerah otonom. Kedua dan ketiga adalah undang-undang perdagangan bebas dan undang-undang pelabuhan bebas, yang menyebabkan Sabang tidak mengutip bea masuk terhadap barang-barang impor.
Selebihnya Sabang tak ada bedanya dengan negeri lain, yang kalah bersaing meningkatkan pertumbuhan dan terhambat oleh kemiskinan infrastruktur dasar untuk bisa mensejajarkan diri dengan Batam, misalnya.
Ketiga undang-undang itu, ternyata tak mampu menebas hambatan Sabang untuk melambungkannya menjadi “zona buffer stock” perdagangan, walau pun letaknya berada di lintasan laut terpadat di dunia.
Sudahlah masalah perdagangan, dengan dua undang-undang pelabuhan bebas dan undang-undang perdagangan bebas, Sabang tak mampu berkembang, yang anehnyanya lagi, Weh  tak mampu memacu jumlah wisatawan. Padahal, siapa pun tahu Sabang punya Iboh yang mengundang decak kagum untuk snorkeling dan diving karena alam bawah laut. Rubiah punya terumbu karang yang menyimpang ikan hias terbaik di dunia.
Bahkan Gapang, dengan pantai berlekuk dan pasir putih nan elok hanya dikunjungi rombongan turis lokal diwaktu liburan panjang. Selebihnya Sabang hanya sebuah decak kagum pendatang yang kesulitan mencari hotel kelas premium atau tidak tahu harus kemana mengisi perut untuk sarapan.
Sabang memang sebuah dilemma ketika, penegembangan pariwisatanya terhambat aturan syariat yang tak mampu mencarikan solusi untuk eksploitasi keindahan alamnya. Sabang, seperti seorang teman kami dari Singapura, hanya pulau keindahan yang dipalang dengan tulisan “verboeden toegang.” Pulau dengan banyak larangan masuk.
Sabang memang Pulau “Larangan Masuk” ketika turis tak bisa menikmai kebebasan destinasinya dengan hokum global. Sabang masih berkutat dengan turis kunjungan jam-jaman kapal pesiar yang disambut dengan tarian “ranup lampuan” dan kalungan bunga untuk diberitakan sekejap, lantas menguap.
Sabang masih belum menuntaskan “master plan” untuk apa keindahan Iboh, Rubiah dan Gapang didedikasikan. Sabang masih terjebak pada pelabuhan bebas dan perdagangan bebas yang kepalanya di lepas dan ekornya digenggam Jakarta. Sehingga pembangunannya, hanya berpusar pada dermaga dan gudang-gudang yang kapal besar tak ada yang singgah dan bangunan lapuk karena tak ada barang yang disimpan.
Datanglah ke Sabang yang warganya merasa “mbong” karena memiliki ribuan mobil “second” eks Singapura dengan  BMW dan Ferrari, motor-motor Harley, seliweran di pulau ini yang garasinya tanah kosong dicelah-celah pohon kelapa.
Mobil-mobil mewah itu boleh berseliweran di Pulau Weh. Saat kapal ferry menepi ke Pelabuhan Sabang, ada  mobil Mercedez-Benz S Class yang parkir di pelabuhan. Mentereng sekali bersanding dengan kapal-kapal penumpang dan muatan.
Setelah itu, mobil-mobil mewah lain tampak bertebaran di seluruh penjuru Pulau Weh. Di pemukiman penduduk, di pusat kota kecil Sabang, di pantai-pantai, di depan masjid dan warung kopi. Ada BMW, Mercedez-Benz, Ford, Jaguar, bahkan Ferrari!
Simaklah para “bloger” yang datang sebagai turis “backpacker” dan menuliskan mobil-mobil mewah yang berseliweran di berbagai penjuru Pulau Weh. Bacalah salah satu komentar salah satu di antaranya,”Pertama pas nyampe pelabuhan, di pinggir jalan ada Ferrari putih berdebu. Saya nanya ke supir kok bisa ada mobil mewah begitu”
Si supir hanya bisa bercerita, . Sabang  adalah zona ekonomi bebas Indonesia. Tak ada pajak di sini. Mobil-mobil mewah itu datang dari Singapura dan Malaysia. Malah sii supir juga punya Land Cruiser tahun 2008. Harganya Rp 35 juta.
Ya, sebagai zona ekonomi bebas, tak ada pajak yang berlaku di Pulau Weh. Tulisan besar di pelabuhannya pun bertuliskan ‘Pelabuhan Bebas Sabang’. Terlebih lagi di pulau ini, harga mobil-mobil itu sangatlah murah dan pasti membuat mulut kita menganga.
Harga Rp 35 juta dari Land Cruiser punya si supir itu, harga aslinya Rp 5 juta saja. Rp 30 jutanya buat ongkos bawa mobil dari Singapura ke Sabang Harga mobil di Pulau Weh bisa sampai seperempat harga di pasaran. Rp 40-100 juta saja. Tak berbeda jauh dengan harga mobil Mercedez-Benz S Class.
Menggiurkan? Nggaklah. Tak ada kuota  untuk membawa kendaraan itu  ke luar Pulau Weh. Anda harus membayar bea cukai mobil mewah sebesar 40% dari harga asli plus pajak, itu pun kalau ada persetujuan Menteri Perdagangan. Dan izin atau persetujuan ini hanya pernah diperoleh sebanyak dua kali selama Sabang diberikan undang-undang perdagangan bebas.
Pertama ketika masa konflik, dengan kouta sekitar enam ribuan dan pemiliknya di daratan Aceh diberi tanda NA. Kedua pasca tsunami, yang jumlahnya sekitar dua ribu lima ratus dan di ujung plat nomornya ditandai deng X.
Lupakan saja impor mobil mewah itu. Kalau Anda ke Sabang di waktu  liburan di pulau ini, nikmatilah fasilitas mobil-mobil mewah ini. Tak jarang penduduk setempat menyewakan mobilnya, atau mejadi supir mobil carteran bagi wisatawan. Anda bisa mengelilingi Pulau Weh naik BMW, Ferrari, atau Jaguar!
“Harga sewanya sehari Rp 200.000-an. Bisa pakai supir juga, tinggal tambah harga sesuai kesepakatan,” tambah Roma.

Lihat juga:
Yuk Ramaikan Sail Sabang 2017 “Sabang Sebagai Pelabuhan Hub Wisata Bahari Internasional”

Penulis: Darmansyah (nuga.co)


Kunjungan Singkat ke Sabang, Lakukan 10 Hal Ini!

Kota Sabang dari atas

Sebagai kota paling barat di Indonesia, Sabang menawarkan banyak kegiatan seru untuk wisatawan. Mulai dari wisata alam sampai kuliner, 10 hal ini wajib Anda lakukan saat berkunjung ke Sabang dan Pulau Weh!
Banyak hal menarik yang bisa dilakukan di Pulau Weh, dan Sabang sebagai kota terbesarnya. Wilayah paling barat Indonesia ini punya banyak wisata seru yang sayang untuk dilewatkan. Kalaupun Anda memiliki waktu singkat, minimal lakukanlah 10 hal ini di Sabang:
1. Mengunjungi Titik 0 Km Indonesia

Tugu Km 0

Bagi Anda yang sangat cinta dengan Republik Indonesia, tugu yang satu ini bisa menjadi kebanggaan tersendiri. Mengunjungi titik 0 Indonesia menjadi cerita seru yang tak akan terlupakan, apalagi kita bisa mendapatkan Sertifikat Km 0 yang ditandatangani langsung oleh Walikota Sabang.
Tugu ini berjarak kurang lebih 29 km dari pusat Kota Sabang, dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam 30 menit bila menggunakan kendaraan. Tugu setinggi 20 meter tersebut berwarna krem dan merah muda dengan lambang Garuda yang sedang menggengam angka 0 di puncaknya. Di lantai 2 tugu ada 2 buah prasasti, yang ditandatangani Menteri Riset dan Teknologi/Ketua BPP Teknologi BJ. Habibie, pada 24 September 1997. 
Isinya menjelaskan bahwa penetapan posisi geografis Km 0 Indonesia itu diukur para pakar BPP Teknologi dengan menggunakan teknologi Global Positioning System (GPS). Sementara prasasti kedua menjelaskan dalam angka  posisi geografis Km 0. Yang pasti jangan lupa untuk mengabadikan momen ini menggunakan kamera. Carilah posisi di bagian barat tugu untuk mendapatkan wujud tugu keseluruhan.
2. Snorkeling dan diving di Iboih

Snorkeling di Iboih

Tak lengkap ke Pulau Weh tanpa mencoba snorkeling atau diving di Iboih. Gampong Iboih memang terkenal dengan wisata baharinya. Ada 3 tempat yang menjadi primadona kunjungan wisatawan di Iboih, yaitu Pantai Teupin Sirkui, Pantai Pulau Rubiah dan Pantai Gapang. Untuk sekali snorkeling sepuasnya, wisatawan hanya dikenakan Rp.45.000 saja. Alat yang disewakan berupa snorkel, pelampung dan fin.
Sedangkan untuk sekali menyelam, wisatawan dikenakan tarif sebesar Rp 400.000 lengkap dengan instruktur. Bagi penyelam pemula harus mendapatkan teori dasar tentang fungsi perlengkapan menyelam selama kurang lebih 20 menit oleh sang instruktur, atau yang lebih dikenal sebagai 'buddy'.
Setelah paham, mulailah untuk bersiap-siap melakukan latihan dasar menyelam dengan kedalaman sekitar 2 meter. Setelah terbiasa bernapas menggunakan mulut di bawah air itu artinya sudah bisa untuk melanjutkan ke tingkat selanjutnya. Tapi jangan sekali-kali diving sendirian, usahakan buddy selalu menemani waktu diving. Hal ini untuk mengurangi risiko yang mungkin terjadi selama diving.
3. Mencicipi rujak buah Pulau Klah
Selain terkenal kelezatannya, yang menjadi daya tarik rujak Pulau Klah adalah pemandangan langsung menuju Pulau Klah dengan hamparan laut yang berwarna hijau dan biru, karena itulah rujak itu disebut sebagai rujak buah Pulau Klah walaupun tidak berada di Pulau Klah.
4. Makan sate gurita dan mie jalak

Sate Gurita

Apalah arti liburan tanpa wisata kuliner. Di Sabang, ada beberapa makanan yang wajib dicicipi pun digemari masyarakat dan wisatawan. Dua di antaranya adalah Sate Gurita dan Mie Jalak.
Sate gurita ini terhitung masakan khas Sabang yang belum lama ditemukan, namun keberadaannya sering dicari oleh warga dan wisatawan. Sate gurita ini pada dasarnya sama dengan sate biasa, dengan bumbu kacang atau bumbu padang. Yang jadi daya tariknya adalah daging gurita yang dimasak lembut dan bumbunya meresap sampai ke dalam. Untuk seporsi sate gurita hanya dikenai Rp 10.000 saja.

Mie Jalak

Mie jalak merupakan masakan khas Sabang yang udah ada sejak lama, merupakan resep turun temurun sejak zaman Belanda. Mie jalak ini bisa ditemukan di Toko Pulau Indah, di Jalan Perdagangan. Harga satu porsi mie jalak hanya Rp 10.000 saja.






5. Mengunjungi Tugu Sabang – Merauke
Selain tugu Km 0, Sabang memiliki tugu yang bersejarah lainnya yaitu Tugu Kembar Sabang Merauke. Dinamakan Tugu Kembar Sabang Merauke karena tugu ini yang memiliki kesamaan dengan tugu yang ada di Sota, Papua. Dikatakan kembar, karena ada 2 tugu yang sama dengan lokasi yang berbeda, satunya berada di Km 7, tugu Km 0 yang pertama, sedangkan satu lagi berada di pusat kota, di depan kantor Walikota Sabang.
6. Menikmati sunrise di Pantai Anoi Itam
Bagi pecinta Matahari Terbit, pemandangan indah di Pantai Anoi Itam jangan sampai terlewatkan. Berada kurang lebih 11 km dari pusat kota, inilah pantai di wilayah timur Sabang. Selain itu wisatawan juga bisa keindahan bawah lautnya. Terumbu karang yang ada di pantai berpasir hitam ini tidak kalah menarik dengan terumbu karang yang ada di Iboih, hanya saja alat snorkel harus dibawa sendiri.
7. 'Surga tersembunyi' di Jaboi
Menurut sejarah, Sabang berasal dari kata Shabag yang artinya gunung meletus. Hal ini dibuktikan dengan masih adanya gunung berapi yang ada di bawah laut dan daratan, salah satunya gunung berapi Jaboi yang berada di Gampong Jaboi, kurang lebih 15 km dari pusat Kota Sabang. Di Gunung Berapi jaboi kita bisa melihat langsung kawah yang masih aktif dan aliran air hangat yang mengalir di sekitar kawah. Selain itu kita bisa menikmati keindahan alam yang luar biasa cantik dengan latar yang serba putih.
8. Sunset di Sabang Hill
Bagi pecinta panorama matahari terbenam, Sabang Hill menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi. Selain menikmati sunset kita juga bisa menikmati pemandangan Teluk Sabang yang teduh, sambil menikmati segelas teh hangat di cafe hotel Sabang Hill. Kalau beruntung, wisatawan bisa melihat gerombolan lumba-lumba keluar dari teluk!
9. Belanja t-shirt di Kaos Piyoh
Saatnya berburu buah tangan. Bagi wisatawan yang mencari kaos atau t-shirt dengan desain yang unik dan menarik bisa mampir di Piyoh Design, di Jalan Cut Mutia No.11, Kota Atas. Toko ini menyediakan beragam cinderamata khas Sabang seperti pin, gantungan kunci, boneka, tas, stiker dan lain-lain yang bercirikan Kota Sabang. Kualitasnya juga bagus.
10. Oleh-oleh bakpia dan salak Sabang
Siapa bilang bakpia hanya ada di Yogya? Anda bisa membawa cinderamata berupa bakpia dan salak Sabang. Bakpia Sabang terkenal karena memiliki rasa yang enak, lembut di dalam renyah dan gurih di luar. Ada berbagai varian rasa seperti original, pandan, kopi dan durian. Harga perkotaknya hanya Rp 15.000 saja. Wisatawan bisa mendapatkannya di Dapat Jalan Perdagangan atau Pelabuhan Balohan.
Satu lagi yang wajib dibawa pulang dari Sabang yaitu salak. Salak hasil perkebunan Balohan ini memiliki rasa yang renyah dan manis, selain itu memiliki bentuk yang lebih kecil dibanding salak yang lain. Harga perkilonya hanya Rp 20.000 saja, bisa didapatkan di Pelabuhan Balohan.

Lihat juga:

Yuk Ramaikan Sail Sabang 2017 “Sabang Sebagai Pelabuhan Hub Wisata Bahari Internasional”
(Hijrah Saputra, detikTravel)

7 Pantai Tercantik di Aceh, Tinggal Pilih!

Pantai memang merupakan wisata andalan jika anda menginjakkan kaki di Aceh yang merupakan daerah paling barat di Indonesia ini. Para pecinta pantai tak perlu bingung jika ingin melancong ke tempat favorit. Jangan melewatkan pantai terbaik di sana, yuk tengok pantai apa saja yang ada di Serambi Makkah. Berikut pantai-pantai menawan di Aceh yang dikumpulkan dari detikTravel:

1. Pantai Lhok Nga

Pantai Lhok Nga di Banda Aceh yang cantik (Arias Tanti Hapsari/d'Traveler)

Sekitar 20 km dari Banda Aceh, ada pantai yang tetap cantik meski sempat ditempa tsunami. Inilah Pantai Lhok Nga, dengan sajian perbukitan di lepas pantainya. Juga, jangan lewatkan berjalan santai di sepanjang tepian pantainya yang berpasir putih serta lembut.

Tak heran jika pantai ini selalu dipadati pengunjung terutama saat hari libur atau akhir pekan. Wisatawan bisa berenang, berjemur, snorkeling, juga surfing. 

Ombak di sana bisa mencapai 3 meter tingginya. Namun bagi para wanita, harap dipastikan untuk memakai baju sopan saat ingin menghabiskan waktu di sini.

2. Pantai Kasih

Sunset Pantai Kasih, Sabang, Aceh (Pradikta Dwi Anthony/d'Traveler)

Tidak jauh dari Sabang, ada lagi pantai yang tak kalah indah yaitu Pantai Kasih. Jika sebelumnya paling tepat untuk melihat sunrise, pantai ini paling pas untuk menunggu mentari kembali ke peraduan.

Nikmati sunset paling lama tenggelam di sini. Berada di paling barat Indonesia, pantai di sini masih menyajikan pemandangan sunset hingga lewat pukul 18.00 waktu setempat. Di luar atraksi alam nan memukau, Pantai Kasih memiliki bibir pantai yang lebar dan luas. Serta tak ketinggalan, air yang jernih dan segar. Mantap!

3. Pantai Iboih

Pemandangan Pantai Iboih dari perbukitan di atasnya (Wahid Masrukan/dTraveler)

Pulau Weh memang surganya wisata air, tepatnya di Sabang. Di pulau yang ada di ujung utara Pulau Sumatera ini menarik perhatian wisatawan dalam dan luar negeri. Salah satu pantai tercantik di sini adalah Pantai Iboih.

Pantai dengan pasir putih dan laut yang jernih ditambah dengan suasana yang tenang menyempurnakan liburan di sini. Wisatawan bisa snorkeling atau diving di sini. Saat snorkeling, siap-siap terpesona dengan airnya. Air laut di sini sangat bening, dengan warna hijau toska atau biru cerah.

Masih belum puas, wisatawan bisa menghabiskan waktu di tepian pantainya. Gelar kain piknik di bawah nyiur yang menyejukkan, atau jika ingin, Anda pun bisa berjemur disiram cahaya mentari.

4. Pantai Anoi Hitam

Pantai Anoi Itam di Sabang, Aceh (Pradikta Dwi Anthony/d'Traveler)

 Bosan dengan pantai berpasir putih, Aceh juga punya pantai berpasir hitam yang eksotis. Cobalah melancong ke Pantai Anoi Hitam di Sabang, Aceh. Pantai yang berjarak sekitar 13 km dari pusat kota ini tak terlalu ramai, cocok bagi traveler yang ingin menenangkan diri.

Meski memiliki warna yang hitam, bukan berarti pantai ini tidak memiliki tekstur yang lembut. Pasirnya tak kalah lembut dibanding pasir di tempat lain. Satu hal yang membuatnya unik yaitu perpaduan air laut nan jernih dan pasir yang hitam. Sungguh cantik dan eksotis.

 5. Pantai Sumur Tiga

Pantai Sumur Tiga dari kejauhan (Sastri/detikTravel)

Tak ada yang lebih sempurna dari mengawali hari dengan sesuatu yang indah. Saat berlibur ke Aceh, tepatnya di Sabang, jangan lewatkan mentari terbit dari Pantai Sumur Tiga. Pantai ini digadang-gadang memiliki pemandangan sunrise paling indah di Sabang.

Selain mentari, pantai ini memiliki pasir yang putih serta air nan biru menggoda. Pantai yang disebut sebagai "Hawaiinya Sabang" ini memiliki panorama yang mirip Hawaii jika dilihat dari beberapa sisi. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan di sini, antara lain berenang atau surfing.

6. Pantai Ujung Batee
duaribuan.wordpress.com
Jika kebetulan menginap di Banda Aceh dan tidak ingin melewatkan momen mentari terbit, datanglah ke Pantai Ujung Batee. Pantai ini biasanya ramai saat pagi hari, banyak wisatawan yang ingin menikmati momen sunrise.

Di sepanjang Pantai Ujung Batee, bisa terlihat banyak peninggalan sejarah. Ada Benteng Indra Parta yang sebagian besar bangunannya sudah tergenang laut. Menghabiskan waktu di sini dengan berenang atau berjalan di sepanjang bibir pantainya bisa jadi ide yang menarik.

 7. Pantai Tapak Gajah

visitacehdarussalam.blogspot.com
Wisatawan yang liburan bersama keluarga wajib melancong ke Pantai Tapak Gajah. Letaknya tak terlalu jauh dari pusat Kota Sabang. Yang paling penting, pantai ini sangat bersahabat bagi anak-anak.

Di sekeliling lepas pantai, ada deretan batu karang yang memanjang dan memecah ombak. Ini yang membuat pantai ini memiliki ombak yang lebih tenang dan cocok dijadikan tempat berenang bagi anak-anak. Bermain pasir di sini pun tak kalah asyik. Pasir putih dan lembut akan membuat liburan Anda sempurna.


(detikTravel)

Menikmati Snorkeling Iboih ala Backpacker Banda Aceh


Bila akhir pekan, aku bersama teman-teman biasanya menghabiskan waktu ke tempat-tempat wisata yang tidak jauh dari kota Banda Aceh. Pantai Lampuuk, Brayeun, Ujong Batee, Ie Su uem Krueng Raya dan berapa obejek wisata lainnya menjadi andalan yang sering ku datangi setiap akhir minggu.
 Cuaca terlihat cerah pagi itu, Sabtu.
Begitu kubuka gadget-ku, ternyata ada tiga panggilan tak terjawab dari sepupuku yang kuliyah di Universitas Muhammadiyah Aceh, Munawar Qadri. Dengan empat orang lainnya mereka menungguku untuk mengajak ke sebuah tempat wisata yang eksotik.
Tujuan kami kali ini mencari objek wisata yang sedikit jauh dari kota Banda Aceh, yaitu sebuah pulau yang disebut Sabang. Pulau ini lumayan terkenal ke seluruh Indonesia, bahkan ke manca negara sekalipun banyak diketahui.
Tak ayal meskipun aku sudah mendatanginya beberapa kali, namun aku belum begitu hafal setiap jalan menuju tempat-tempat yang wisatan yang mempesona di kota kecil itu.
Bahkan ada di antara kami yang belum pernah sekalipun ke sana.
Jarum jam menunjukkan pukul 9.00 wib. Kami berenam berkumpul manuju ke pelabuhan Ulee Lheue. Kami menyertakan tiga sepeda motor.
Aku bersama Nasrul menggunakan motor Mio Soul hitam, Nawar bersama abangnya Nasrul dengan motor Satria F warna hitam, dan satu motor lagi Honda Bit putih yang dikendarai Jibran dengan abangnya Nasrul yang paling tua.
Di jalan terlihat ramai dengan sepeda motor berlalu lalang. Kami terburu-buru menuju pelabuhan karena berasumsi jangan sampai ketinggalan kapal yang berangkat pagi.
Ketika kami sampai di pelabuhan, justru tidak ada kapal yang berangkat pagi. Biasanya jadwal keberangkatan kapal dua kali dalam sehari, tetapi sekarang hanya sekali saja yaitu pukul 14.00 WIB.
Seorang petugas pelabuhan memberitahu kami bahwa perjalanan menuju Sabang menghabiskan waktu tiga jam. Tidak lagi satu jam setengah, karena kapal lambat tidak singgah lagi ke Balohan, sebab sedang ada perbaikan. Jadi, kapal harus berputar langsung ke dermaga dekat kota Sabang yang menghabiskan waktu satu jam lebih.
Meskipun masih lama jadwal keberangkatan kapal, kami tetap sabar menunggu. Biasanya kalau akhir pekan banyak pengunjung dari Banda Aceh yang berlabuh ke Sabang. Kami khawatir t kehabisan tiket atau tidak muat sepeda motor ke kapal karena banyak mobil dan truk yang juga ingin ke sana.
Kami memesan tiket lebih awal. Harga tiket Rp 18.000/penumpang, kami memesan enam tiket dan tiga tiket untuk sepeda motor Rp 23.000/sepeda motor.
Cuaca semakin panas, sambil berbicang-bincang tak terasa hari sudah siang. Kami berenam makan siang dan bergegas menuju mushalla untuk shalat Zuhur terlebih dahulu.
Pukul 13.00 wib, awak kapal membunyikan klakson bertanda kapal hendak berangkat. Setelah semua barang penumpang termasuk mobil dan truk dimuat, maka tepat pukul 14.00 wib kapal langsung bergerak menuju Sabang.
Dari lantai tiga kapal yang tak beratap itu terlihat hamparan laut yang luas. Pelan-pelan meninggalkan Kuta Raja (sebutan untuk Banda Aceh tempo dulu-red). Pelabuhan Ulee Lheue semakin tak terlihat.
***
Setelah tiga jam menghabiskan waktu dalam kapal, dari kejauhan, rumah-rumah warga di pulau yang terpisah dari dari daratan Sumatera itu mulai terlihat. Di pelabuhan bebas Sabang juga terlihat kapal-kapal pesiar dari Thailand dan negara lain berparkiran di bibir dermaga Sabang.
Semenjak Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 2 Tahun 2000 ditetapkan Sabang sebagai Kawasan Perdagangan Bebas Sabang, banyak kapal-kapal dari luar negeri yang berdatangan ke Sabang.
Begitu kami turun dari kapal, kami beristirahat sejenak di sebuah warung yang tak jauh dari tempat kapal mendarat sambil menikmati secangkir teh hangat untuk menghilangkan penat.
Penduduk kota Sabang terlihat sangat ramah. Ketika mereka melihat kami kabingungan di jalan, langsung disapa, “Mau ke Iboih ya,” tanya seorang penduduk di sana pada kami.
Pertanyaan itu lumrah, karena setiap pengunjung ke Sabang, tujuan utama itu ke tempat wisata bahari nusantara yang menjadi surga bagi para penyelam yaitu pulau Rubiah, yang terletak di Iboih.
Hari semakin sore, mentari mulai mengarah ke barat, diselimuti angin sepoi-sepoi tak terasa sambil jalan-jalan, terdengar suara kumandang azan, rupanya sudah magrib, sementara kami belum mencari penginapan.
Sementara itu kami shalat Magrib di Desa Cot Bak U. Usai shalat kami dihampiri oleh seorang jamaah laki-laki. Kami diberitahukan penginapan-penginapan yang terdekat dan murah-murah sekitar sana.
Akhirnya kami sepakat menginap di sebuah Mess Elang milik Lanud TNI AU yang disewakan. Harganya lumayan terjangkau Rp 100.000 / malam. Padahal kamarnya penuh AC, dan ruangannyan pun luas, pokoknya muat buat kami berenam. Kami ambil dua malam karena Senin pagi kami baru chek out.
*** 
Kebetulan bertepatan dengan malam Minggu, setelah mandi dan istirahat di penginapan, kami berencana dengan teman-teman untuk jalan-jalan dan menikmati suasana malam kota Sabang.
Menurut penjaga mess, Muslem, biasanya kalau malam Minggu orang paling ramai berkumpul di Sabang Fair. Setelah kami tiba di sana, sayangnya kami diguyuri hujan lebat, sehingga gagal menikmati indahnya malam di Sabang Fair yang terletak di pusat kota Sabang berpinggiran laut. Akhirnya kami kembali ke penginapan.
Kami sudah bertekat, esok hari Minggu akan berangkat ke Iboih. Hari itu pun tiba, setelah sarapan pagi di pinggir jalan, kami mengisi bahan bakar yang penuh, langsung bergegas menuju Iboih yang didambakan setiap pengunjung lokal dan asing. Dari tempat kami menginap jarak ke Iboih sekitar 23 KM.
Meskipun kami belum terlalu hafal jalan kanuju ke Iboih, tetapi kami tidak khawatir sedikitpun karena mulai dari kota Sabang, setiap persimpangan jalan ada penunjuk arah menuju ke sana.
Dalam perjalanan terlihat pemandangan yang indah yang mempesona . Eksotik laut yang dikelilingi hutan yang masih alami. Jalan sudah teraspal sepanjang perjalanan, monyet-monyet berloncat-loncat riya di pinggir jalan.
Sedikit kesulitan yaitu bukitnya sangat tinggi-tingi. Apalagi dengan motor matic yang dikendarai dua orang terasa sangat terbeban saat menanjak.
Motorku selalu ketinggalan di belakang, Nawar selalu menertawai kami karena selalu ketinggalan di belakang. Namun demikian alhamdulillah tidak terjadi apa-apa hinggap sampai ke tujuan.
***
Kami tiba di Iboih. Sebelum sampai ke KM 0, kami singgah di Gapang sejenak menikmati suasana pantai yang berpasir sehingga cocok untuk bersantai. Dari pantai Gapang semakin jelas terlihat pulau Rubiah di depannya. Rasanya tak sabar lagi ingin ke sana untuk snorkeling.
Namun teman-teman ingin ke KM 0 terlebih dahulu, pulang dari sana baru kami singgah di pulau Rubiah, begitu kesepakatannya.
Kami melanjutkan perjalanan ke KM 0 yang menghabiskan waktu sekitar 9 KM lagi dari Gapang. Tiba di KM 0, kami berfoto bersama dengan android milik Nasrul. Di sana terlihat sebuah tugu yang menjulang tinggi.
Di atasnya ada sebuah batu keramik yang terpahat warna hitam dibubuhkan tanda tangan mantan Pj Presiden Bj. Habibie yang diresmikan tugu tersebut pada tahun 1997.
Selain ada tugu, di sana juga ada seorang bapak-bapak dengan sebuah meja kecil di depannya. Bapak itu ternyata menjual sertifikat dengar harga Rp 15.000 yang telah distempel Pemerintah kota Sabang, bahwa menandakan kita sudah menginjakkan kaki di KM 0 yang berbatasan langsung dengan  tiga negara, yakni Malaysia, Thailand dan India.
*** 







Tidak lama di sana kami langsung kembali ke tujuan semula ke Gapang dan Iboih adalah lokasi spot snorkel dan dive yang terkenal di Aceh, bahkan dunia. Lokasi ini berada di teluk barat sangat dekat dengan Samudera Hindia.
Di depan Gapang dan Iboih disebut pulau Rubiah, tempat itulah destinasi kami saat itu. Untuk bisa tiba di sana harus menyewa bot dengan harga Rp 150.000 antar jemput.
Namun kami juga mendapatkan keringanan ketika ada tiga mahasiswa dari Medan ikut nyebrang satu bot bersama kami, alhasil mereka bayar sepertiga Rp 50.000 dari harga sewa bot. Jadi kami berenam cuma menggerogoh Rp 100.000 saja.
Sampai di sana, rugi rasanya kalau tidak snorkel. Kita bisa menemukan bermacam trumbu karang dan ikan bermacam warna.
Di sana dapat ditemukan jenis gigantic clams, angel fish, school of parrot fish, lion fish (ikan singa), sea fans, dan banyak lagi jenisnya.










Nah, untuk bisa snorkel, tentu harus menyewa perangkat alat selam, yang terdiri dari kacamata selam, jaket pelampung, dan sirip kaki seharga Rp. 40.000.
Awalnya saya tidak bisa menggunakan alat tersebut, namun penyewa perangkat tersebut mengajarkan cara penggunaannya.
Setelah puas snorkeling melihat bawah laut berjam-jam, kami istirahat sejenak untuk menyantap makanan. Kemudian, setelah siang kami sambung snorkel beberapa jam lagi. Tepat pukul 16.00 wib kami menghubungi pemilik bot untuk menjemput kami.
Setelah tiba di Iboih lagi, kami tidak langsung pulang, tapi Jibran mengajak keliling bungalow yang dipenuhi turis-turis asing. Melewati jalan setapak kami menemukan banyak pria dan wanita yang berambut pirang yang sedang bersantai-santai di atas ayunan yang diikat di depan tempat mereka menginap.
Seharian penuh kami menghabiskan waktu di Iboih dan pulau Rubiah, akhirnya kami pulang ke penginapan.
Kami semua kelelahan, bahkan ada di antara kami yang tidak sempat mandi langsung terkapar di atas tempat tidur. Keesokanya kami cepat-cepat siap-siap untuk chek out, karena kapal dari Sabang munuju Banda Aceh berangkat pagi, tentu kami harus antri sepeda motor terlebih awal bakda salat Subuh.
Setelah membeli tiket, kami semua menaiki kapal lambat, batinku merasa sangat puas dua hari berada di Sabang, lalu aku menoleh ke belakang.
Ku ucapkan dalam benakku “Selamat tinggal Sabang”.
Hayatullah Zuboidi | The Globe Journal

Pantai Berpasir Merah di Simeulue

SINABANG - Satu lagi objek wisata alam pantai di pulau Simeulue, selain memiliki pasir pantai warna putih, juga memiliki objek wisata pasir pantai berwarna kemerah-merahan.
Pasir berwarna merah, tepatnya berada di garis pantai Desa Putera Jaya, Kecamatan Simeulue Tengah, dan dapat dijangkau dengan kenderaan bermesin, 64 kilometer dari Sinabang, Ibukota Kabupaten Simeulue.

Pulau Simeulue dan pulau-pulau sekitarnya, memiliki tiga warna pasir pantai, warna putih, hitam dan warna merah. Untuk pasir warna putih terdapat hampir diseluruh pesisir pantai yang ada. Pasir warna hitam hanya ditemukan di daerah rawa-rawa. Sedangkan pasir warna merah hanya ditemukan satu lokasi.
Pantai pasir berwarna merah tersebut masih alami.
























Material pasir memiliki dua spesifikasi halus dan kasar, maka sering digunakan sebagai material untuk kebutuhan bangunan, dan menurut warga Desa Putera Jaya, bahwa pada musim tertentu, menjadi tempat penyu bertelur.

(atjehpost/foto:atjehpost)