Tampilkan postingan dengan label Bener Meriah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bener Meriah. Tampilkan semua postingan

Indahnya Bunga Langka Edelweis di Puncak Gunung Burni Telong

Indahnya Bunga Langka Edelweis di Puncak Gunung Burni Telong
(Foto: Atjehpost)
Indahnya Bunga Langka Edelweis di Puncak Gunung Burni Telong - Bunga Edelweis atau sering juga disebut sebagai bunga abadi sering dijadikan sebagai simbol keabadian cinta. Ada juga yang menyebutnya bunga ketulusan dan perjuangan.

Edelweis merupakan tanaman endemik khusus yang hidup di pegunungan beriklim dingin pada ketinggian di atas 2.000 mdpl. Bunga ini istimewa karena mampu hidup di atas tanah yang minim unsur hara karena bersimbiosis dengan mikoriza.

Hampaan bunga Edelweis berada di lereng terjal sebelum tiba di puncak gunung berapi Burni Telong. BURNI Telong adalah gunung berapi aktif yang terletak di Kabupaten Bener Meriah, sekitar 17 kilometer dari Takengon, Aceh Tengah. Ketinggiannya 2.624 meter di atas permukaan laut. Burni Telong termasuk dalam tipe gunung berapi strato.


Puncak Burni Telong dapat dicapai dari dua arah. Pertama dari lereng tenggara melalui Kampung Sentral. Bisa juga dari lereng barat daya melalui Bandar Lampahan. Umumnya para pendaki naik lewat lereng barat daya. Dibutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat jam untuk mencapai puncak. Sebelum sampai ke pintu rimba, harus melalui kebun kopi dan tebu milik petani setempat.

Selain bungan edelweis beberapa tumbuhan khas ada di Burni seperti anggrek hutan. Anggrek-anggrek ini bisa ditemui sebelum tiba di ladang edelweis.
Hamparan edelwis terletak di lereng terjal sebelum tiba di puncak. Di ujung ladang edelwis ada sebuah gua kecil. Di sini juga bisa didapat tumbuhan kantong semar.
Kantong Semar (Foto: ahasembilansatu.blogspot.com)
Keberadaan Bunga Edelweis hampir punah, seperti dilansir dari Atjehpost.com, pendiri Mapala Umpal Universitas Malikussaleh Muntazar, mengatakan jumlah bunga tersebut hanya tinggal beberapa batang saja. Kondisi ini terjadi karena kebakaran dan ulah pendaki yang mencabut bunga tersebut hingga populasinya di ambang kepunahan.
@Atjehpost
Pria yang juga anggota Mapala Edelweis Politeknik Negeri Lhokseumawe ini mengimbau kepada para pendaki dari semua lapisan masyarakat agar menjaga kelestarian bunga tersebut. Menurutnya di Aceh Edelweis hanya tumbuh di puncak Gunung Burni Telong saja.

Ikutilah Pemilihan Duta Wisata Bujang Beru Gayo Bener Meriah

PEMILIHAN Duta Wisata Kabupaten Bener Meriah tahun 2013 pendaftarannya sudah mulai dibuka sejak kemarin Senin 25 Maret 2013 hingga 20 April 2013. Sosialisasi pendaftarannya sudah mulai disampaikan ke kantor, sekolah dan tempat-tempat umum dengan selebaran.

"Pendaftaran Bujang Beru Gayo tidak dipungut biaya apapun," Kata Kepala Bidang Parawisata Dinas Perhubungan, Telekomunikasi, Kebudayaan dan Pariwisata Bener Meriah, Eni Resona, seperti di kutip Atjehpost, 27 Maret 2013.

Menurut Eni, audisi Duta Wisata atau Bujang Beru Gayo Bener Meriah akan dilaksanakan tanggal 23-24 April 2013 dan grand finalnya 30 April 2013.

Berikut syarat dan kriteria yang ingin menjadi Duta Wisata Bener Meriah :

Yang utama beragama Islam, usia 18 hingga 25 tahun, tinggi badan untuk pria minimal 165 cm dan wanita minimal 160 cm, status bujang yaitu lajang/gadis (belum pernah menikah), berdomisili di Kabupaten Bener Meriah (asli putra daerah).

Berwawasan luas, menguasai bahasa asing (minimal bahasa Inggris), memiliki talenta (seni tari dan seni tarik suara), mampu mempromosikan Budaya Gayo dan objek wisata yang ada di Kabupaten Bener Meriah ke luar Bener Meriah.

Siapa yang terpilih sebagai Duta Wisata Bener Meriah atau Bujang Beru Gayo 2013 akan mewakili Kabupaten Bener Meriah untuk mengikuti ajang pemilihan duta wisata Aceh atau Agam Inong Aceh 2013 di tingkat provinsi Aceh.

(atjehpost)

Ini Sebagian Masakan Khas Gayo

Kuliner Gayo. (Doc. Lintas Gayo)

SEBAHAGIAN besar orang Gayo baik yang berdomisili di tanoh Gayo maupun diperantauan sudah mengetahui makanan dan masakan Gayo ini, hanya sebagai pengingat dan memberitahukan kepada yang belum mengetahui, bahwasanya Gayo juga memiliki makanan dan masakan khas tersendiri yang sebagian masakan ini memakai tumbuhan yang hanya banyak terdapat di Gayo.
Berikut beberapa makanan dan masakan Gayo yang seperti yang di rangkum Lintas Gayo:
1. Gutel, makanan yang terbuat dari gabungan tepung beras, kelapa parut dan garam ini sering menjadi kiasan dalam  tutur dan bahasa gayo yang dikarenakan  makanan ini bertekstur kaku atau padat (del_gayo) seperti “gutel del lepat tuli”. dulunya jika membuat gutel tepung beras yang akan dipakai di tumbuk (tutu-Gayo) didalam lusung kemudian diayak dengan cara di tenting (pemisahan tepung yang halus dengan kasar menggunakan niyu/tampah).
Pembuatan gutel ini tidak begitu sulit, tepung beras yang telah di campur dengan kelapa parut dan garam kemudian dikepal-kepal ( kemul-Gayo) yang kemudian dua buah gutel yang sudah di kepal di satukan dengan di ikat menggunakan daun pandan dalam istilah Gayo gutel seperti ini disebut gutel ” sara upuh kerung roa” atau sebagian masyarakat ada yang membungkus dengan menggunakan daun pisang, ni semua tergantung selera seperti apa.
Gutel sangat enak jika dinikmati di pagi hari atau sore hari dengan dikawani secangkir kopi khas Gayo.
2. Lepat, makanan yang satu ini ada yang terbuat dari tepung ketan (pulut), labu tanah (petukel_Gayo) dan ada yang berbahan dari singkong (gadung-Gayo). yang sering dibuat oleh masyarakat Gayo jika menjelang bulan Ramadhan, lebaran Idhul Fitri dan Idhul Adha ialah lepat yang berbahan tepung ketan, karena kebiasaan masyarakat Gayo jika menjelang bulan Ramadhan atau pun lebaran setiap rumah saling bergantian dan tukar menukar lepat yang telah dibuatnya, dan ini merupakan kebiasaan yang telah lama ada.
Lepat yang terbuat dari tepung ketan, tepung ketan yang akan di pakai terlebih dahulu diaduk menjadi satu dengan menggunakan air gula aren yang telah dimasak  dan kebiasaan orang dulunya tepung ketan itu di aduk menggunakan manesen (Air aren yang diambil dan langsung dimasak), sehingga nantinya hasil adukan tepung ketannya akan berwarna coklat. lepat hampir sama dengan timpan Aceh sama-sama dibungkus dengan mengunakan daun pisang yang membedakannya ukuran lepat lebih besar dari timpan Aceh, daun pisang yang digunakan tidak harus daun mudanya serta inti atau dalaman lepat berisi kelapa yang diparut yang terlebih dahulu dimasak dengan menggunakan gula aren atau gula pasir biasa.
3. Gegerip, makanan yang satu ini sudah jarang ada dan dibuat atau dijual oleh masyarakat gayo yang dikarenakan jarangnya peminat makanan ini mungkin dikarenakan tekstur makanan ini yang sangat keras dan alot (liet-Gayo).
Gegerip terbuat dari nasi yang dijemur dan dikeringkan yang kemudian dicampur dengan gula merah baru dionseng-onseng sebentar.
4. Brahrum, di Aceh makanan ini dikenal dengan sebutan bohruhrum atau di pulau jawa makanan ini disebut onde-onde, tapi di Gayo makanan ini dikenal dengan sebutan brahrum. makanan yang terbuat dari tepung ketan ini di bentuk menjadi bulat yang kemudia tengahnya diisi potongan gula aren (gula tampang- Gayo) dan kemudian direbus di air mendidih jika sudah terapung berarti makanan ini telah masak yang kemudian di lumuri dengan parutan kelapa.
4. Apam, makanan yang mungkin di seluruh pelosok indonesia mengenalnya dengan sebutan serabi, di Gayo serabi dikenal dengan sebuatan apam dan biasanya dimakan dengan menggunakan santan yang telah dimasak dan dicampurka gula biar terasa manis.
5. Masam jeing, masakan yang tidak asing di telinga dan lidah orang Gayo maupun pendatang yang telah merasakan betapa dahsyatnya cita rasa masakan ini. masakan khas Gayo ini adalah masakan yang merupakan gabungan beberapa sayuran seperti kentang, labu siam (buah jepang-Gayo), kacang koro, jamur, dan lain-lain tergantung selera penikmat masakan ini. ada sebagian penikmat masakan ini menjadikan ikan yang dimasam jeing seperti ikan jaher (mujahir/ Nila), ikan bawal, dan bandang. bumbu yang digunakan inilah yang membuat masakan ini semakin terasa selain cabe merah, bawang merah, kunyit, garam dan terasi ada empan (tanaman hutan yang saat ini tengah dibudidayakan yang jika dimakan akan terasa kebas di lidah), gegarang (tanaman yang menjadi tanaman wajib setiap rumah orang Gayo, tumbuhan yang hidup seperti rumput dan jika dicium punya bau tersendiri) dan terong padul (tomat cherry) tanpa lupa diberi percikan air jeruk sayur (bukan jeruk lemon atau nipis karena akan menghilangkan cita rasanya).
6. Pengat, bumbu masakan ini tidak jauh berbeda dengan Masam jeing yang membedakannya adalah pengat dimasak dan disajikan tanpa kuah seperti masam jeing, masakan ini dikeringkan dan lebih enak jika ikan atau sayur yang dimasak pengat dimasak diatas bejana terbuat dari tanah (belanga tanoh-Gayo) dan dimasak diatas kayu api. ikan yang sering dipengat masyarakat gayo adalah ikan-ikan yang berasal dari danau Laut tawar seperti depik, mujahir dan lain-lain.
7. Dedah, masakan yang satu ini mengunakan ikan dan kebiasaan orang Gayo ikan yang didedah itu adalah ikan depik rajikan bumbunya sangat sederhana yang terdiri kunyit, bawang merah yang keduanya dihaluskan, empan, gegarang dan percikan jeruk sayur tanpa lupa membubuhkan belahan cabe hijau.
8. Tenaruh dedah. Tenaruh (telur) yang digunakan adalah telur bebek, yang dimasak di atas daun pisang dengan hanya menambahkan bawang merah, garam dan jeruk sayur tanpa menggunakan minyak goreng atau air namun hanya di onseng-onseng di atas daun pisang tersebut
9. Cecah, makanan/masakan ini dijadikan pelengkap saat makan dengan sayur yang di rebus seperti pujuk jepang, daun ubi, dan lain-lain. cecah bisa meningkatkan selera makan, di Gayo ada cecah yang di makan dengan sayur rebus biasanya cecah trong agur (terong belanda), cecah trong padul (tomat cherry) dibuat tanpa proses dimasak.
10. Cecah Ries, cecah yang ini berbeda dengan cecah yang sebelumnya, cecah ini adalah masakan yang terdiri dari Ayam atau burung yang dipanggang yang kemudia dagingnya disuir-suir, ditambahkan batang pisang bagian paling dalamnya, merica, ketumbar, bawang merah, bawang putih, garam, jeruk sayur dan kelapa gonseng yang dihaluskan.
11. Cecah reraya atau cecah kekulit. Kenapa di sebut dengan cecah reraya karena masakan yang satu ini sering di buat masyarakat gayo saat menjelang bulan ramadhan, Lebaran Idhul Fitri dan Adha. bumbu yang dipakai hampir sama dengan cecah ries namun cecah reraya tidak memakai batang pisang dan ayam atau burung yang dipanggang namun terdiri dari kulit kerbau atau lembu yang sudah di bakar dan dibersihkan, hati dan jantung kerbau, danging kerbau, sere, lengkuas dan diberikan perasan pati dari uweng (batang pohon hutan yang hidup di Gayo yang rasanya kelat).
Jika ingin merasakan masakan dan makanan khas Gayo ini bisa dan sangat mudah di jumpai di daerah Takengon banyak rumah makan yang menyediakan masakan ini seperti di Cafe Batas kota daerah Paya tumpi dan makanan Gayo bisa didapat di pasar tradisional Takengon yang buka setiap pagi muali jam 04.00 Wib pagi sampai 10.00 Wib menjelang siang.
Menurut inen Nur yang merupakan penjual makanan khas Gayo ini, dia telah memiliki pembeli tetap setiap paginya dan pembelinya tidak hanya orang-orang Gayo namun banyak juga dari bukan orang Gayo bahkan dari orang-orang China yang tinggal di Takengon juga ada.
(lintasGayo)

Foto - Budaya Tradisional Kuda Kepang di Pacuan Kuda


REDELONG – Memperigati Hari Ulang Tahun Kabupaten Bener Meriah yang ke-9 berbagai kesenian dan kebudayaan diadakan di Lapangan Pacuan Kuda Sengeda, Rembele Kecamatan Bukit, Bener Meriah pada Minggu 13 Januari 2013. Salah satunya yaitu pergelaran budaya tradisional kuda kepang.
Masyarakat terlihat antusias menyaksikan berbagai pergelaran kesenian dan kebudayaan tersebut.[bna]
Berikut foto-foto kebudayaan tradisionil kuda kepang dalam acara tersebut :



























































Sumber : atjehpost.com

Minum Kopi Massal 50 Ribu Orang di Bener Meriah Masuk Rekor MURI



REDELONG  - Minum kopi massal sebanyak 50 ribu plus 1 orang dan pagelaran kesenian Didong sebanyak 2.013 peserta memecahkan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Penyerahan plakat MURI tersebut berlangsung pada penutupan Pacuan Kuda Tradisional Gayo di Lapangan Sengeda, Rembele Kecamatan Bukit, Bener Meriah, Minggu 13 Januari 2013.
Acara tersebut dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Bener Meriah untuk memperigati Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Bener Meriah yang ke 9. Penutupan acara tersebut juga dihadiri oleh Menteri Pembagunan Daerah Tertinggal, Helmy Faishal Zaini, Anggota DPR RI Nova Iriansyah, Asisten Ekonomi dan Pembagunan Setda Aceh, Said Mustafa dan Mantan Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf.
Pihak Muri langsung menyerahkan piagam penghargaan kepada Bupati Bener Meriah Ruslan Abdul Gani, karena telah memecahkan rekor Muri minum kopi massal sebanyak 50 ribu plus 1 orang dan pagelaran kesenian Didong oleh 2.013 peserta yang langsung disaksikan oleh Menteri Pembagunan Daerah Tertinggal.
Penutupan pacuan kuda tradisional gayo tersebut dimeriahkan oleh berbagai kesenian seperti Didong, Saman, Seudati, Kuda Kepang yang disaksikan oleh puluhan ribu pengunjung. | atjehpost.com

Hebat! Pupuk Tanaman Kopi Dari Limbah Cangkangnya

Limbah cangkang kopi yang menggunung di huller (kilang penggilingan kopi). Sebelumnya limbah ini adalah sampah yang merepotkan petani, kini telah diolah menjadi pupuk.

Energi itu tidak pernah habis hanya berubah bentuk, itu kata Hukum Thermodinamika II. Alam menyediakan sumber energi yang demikian banyak, baik energi berbentuk bahan bakar, bahan makanan, termasuk pupuk sebagai sumber hara tanaman. Hebatnya, salah satu sumber pupuk untuk tanaman kopi berasal dari limbah cangkang kopi itu sendiri.

Para petani kopi di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah yang jumlahnya mencapai 62.100 kepala keluarga sudah banyak yang meninggalkan pupuk an-organik (pupuk kimia) yang mahal. Kini, mereka beralih menggunakan pupuk organik yang berasal dari sampah atau limbah cangkang biji kopi (endocarp) itu sendiri. Sampah itu, kini telah mereka ubah menjadi rahmat.

Walaupun mereka menggunakan pupuk organik untuk meningkatkan produksi dan kesuburan tanah, namun mereka tidak terdaftar dalam kelompok petani organik. Sebab, mereka yang tergolong dalam kelompok tani organik adalah mereka yang dibina oleh lembaga penerbit sertifikat organik. Untuk masuk dalam kelompok ini harus membayar biaya inspeksi dan biaya lain-lain.

Bagi Ponirin (50) yang biasa dipanggil Pon, meskipun dia tidak termasuk dalam kelompok tani organik, dia tetap mengelola tanamannya secara organik. Petani yang memiliki sehektar kebun kopi di kawasan Desa Jamur Uluh Simpang Teritit, Kabupaten Bener Meriah telah lama menggunakan limbah cangkang biji kopi sebagai sumber pupuk organiknya.

Hebatnya lagi, walaupun Ponirin tidak bisa baca tulis, tetapi dia mampu mengelola uang hasil penjualan kopi kelompok taninya, milyaran rupiah. Sampai akhirnya, mereka mampu membangun lantai jemur dan huller milik kelompok yang terletak disamping rumah Ponirin.

Lantai jemur dan huller (mesin pemecah cangkang kopi) itu, setiap harinya menghasilkan puluhan kilogram cangkang kopi. Limbah cangkang kopi itu dibiarkan menggunung sampai mencapai atap rumah. Biasanya, limbah cangkang kopi itu dibakar oleh pemilik huller. Namun, setelah mereka mengetahui bahwa kulit cangkang itu sebagai pupuk organik, maka para petani yang merupakan anggota kelompoknya mengambil secara cuma-cuma limbah cangkang kopi itu.
13416814742073848431
Kebun kopi para petani disekitar huller milik Ponirin telah dibubuhi pupuk yang berasal dari limbah cangkang kopi, dari sampah menjadi rahmat.
Buktinya, permukaan kebun kopi petani disekitar rumah Ponirin semuanya diserak dengan limbah cangkang kopi. Tanaman kopi yang makanannya disuplai dari cangkang kopi itu memang terlihat subur-subur dan memiliki buah yang sempurna dan berdaun hijau. Bagi Ponirin, makin banyak yang mengambil limbah cangkang kopi dari hullernya untuk memupuk tanaman kopi, maka produksi kopi kelompok taninya makin meningkat, otomatis kas kelompok terus bertambah.

Kini, pemanfaatan limbah cangkang kopi sebagai pupuk sudah diikuti oleh para petani dari daerah lain. Mereka mengolahnya dengan memberi beberapa zat tambahan, sehingga limbah cangkang kopi menjadi pupuk bokasi. Sejak saat itu, para pemilik huller yang sebelumnya direpotkan oleh limbah cangkang kopi, kini sudah dibersihkan oleh para petani. Terkadang, mereka harus antri untuk mengumpulkan limbah cangkang kopi tersebut. Ternyata, sumber zat hara untuk tanaman kopi berasal dari limbahnya sendiri. (Syukri Muhammad Syukri/Kompasiana.com)

Pacuan Kuda Tradisional Gayo


Berkunjung ke tanoh Gayo, sebuah wilayah dataran tinggi di Aceh ada yang terasa kurang jika tidak menyaksikan “pacu kude”, sebuah event yang selalu ditunggu dan membawa berkah di tiga kabupaten di Gayo, yaitu Bener Meriah, Aceh Tengah dan Gayo Lues. Dengan segala keunikannya, “Pacu Kude” adalah sebuah event perlombaan pacuan kuda Tradisional. Tradisi yang telah melekat sekian lama.
Asal Mula Pacu Kude
“Pacu Kude’ bermula, seperti yang ditulis oleh almarhum A.R. Hakim Aman Pinan dalam buku Pesona Tanoh Gayo. “Pacu Kude” sebagai sebuah hiburan rakyat sudah terselenggara sebelum Belanda menginjakkan kakinya di Bumi Gayo. Pacu kuda di masa itu diselenggarakan pada saat Luwes Belang-masa selepas panen padi disawah-sawah di Gayo. Masa Lues Blang ini selalu seringkali kebetulan bertepatan dengan bulan Agustus. Pacu Kude kemudian selalu diadakan pada bulan Agustus, selain Karen alasan tadi, Pertimbangannya lainnya dalam bulan Agustus, cuaca cukup mendukung karena berada dalam musim kemarau. Sehingga Pacu Kude dikira cocok untuk digelar.
Awalnya, pacu kude diselenggarakan di kampung bintang, tepatnya dari pantai menye yang jaraknya sekitar 1,5 km. Arena pacu tepat di tepi pantai, sisi barat berbatas dengan danau laut tawar sementara sisi timur dipagar dengan geluni. Waktu penyelenggaraannya dimulai pukul 08.00 wib sampai pukul 10.00 wib, kemudian dilanjutkan setelah shalat ashar sampai pukul 18.00 wib.
Uniknya, saat itu, Yang terkesan istimewa dengan pacuan kuda di kampung bintang adalah persyaratan joki, mereka tidak dibenarkan menggunakan baju alias telanjang dada.
Tidak ada hadiah bagi pemenang, hanya ”gah” atau marwah gengsi atau status social yang dipertaruhkan dan dipertahankan. Kemenangan yang diperoleh tersebut dilanjutkan dengan perayaan dan syukuran oleh penduduk setempat dengan sistem berpegenapen yaitu saling sumbang menyumbang untuk biaya perayaan kemenangan tersebut. Dengan memotong hewan ternak dan makan bersama.
Kemudian, sekitar tahun 1912, pemerintah kolonial belanda melihat pacuan kuda dapat menjadi media untuk menyatukan rakyat, lantas mereka memindahkan pacuan kuda ke takengon, tepatnya di blang kolak yang sekarang bernama lapangan musara alun. Acara pacuan kuda yang diselenggarakan oleh kolonial belanda dikaitkan dengan hari ulang tahun ratu wilhelmina. Supaya event tersebut meriah, oleh pemerintah kolonial disediakan biaya makan kuda, hadiah dan piagam kepada para juara.
Lambat laun, Tradisi memberikan hadiah berlanjut sampai hari ini. Pelaksanaan event tersebut juga seterusnya digelar di lapangan blang kolak. Sistem dan aturan pacuan kuda di blang kolak kemudian juga berubah. Arena pacu dibuat oval yang diberi pagar dari radang (rotan). Para joki yang sebelumnya mengendarai kuda dengan bertelenjang dada, maka di arena pacu blang kolak kepada para joki diberi baju warna warni. Kemudian, kuda-kuda yang dibolehkan bertanding bukan hanya dari kampung bintang, tetapi juga kuda-kuda dari seluruh wilayah onder-afdeling takengon dan daerah lainnya.
Masyarakat Gayo tumpah ruah menonton pegelaran ini. tidak ada pembatasan, ada anak-anak, pria maupun wanita sehingga pacuan kuda menjadi hiburan rakyat. Yang pasti, pada akhirnya pacu kuda menjadi tradisi dan bagian hidup dari rakyat aceh tengah, yang saat itu wilayahnya masih mencangkup Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Tenggara.
sampai kemudian, pada tahun 1956-an (bersamaan dengan lahirnya UU.No.7 Drt/1956 dan UU. No. 24/1956 terbentuknya Kabupaten Aceh Tengah), pelaksanaan pacuan kuda ini diambil alih oleh Pemda Aceh Tengah. Pada priode tahun 1950-an, kuda pacu asal kampung Kenawat, Gelelungi, Pegasing, Kebayakan dan Bintang, boleh dikatakan paling aktif dalam perlombaan ini.
Menurut versi lainnya, Pacu Kude sebenarnya Pada awalnya hanyalah aktivitas iseng pemuda-pemuda kampong di gayo, terutama di Bintang dan disekitar pemukiman-pemukiman di sekeliling danau laut Tawar, seusai musim panen padi di sekitar Danau Laut Tawar. Sudah menjadi kebiasaan anak muda, menangkap kuda yang kerkeliaran dengan kain sarung tanpa setahu empunya dan memacunya. Saat memacu, kadangkala terserempak dengan kelompok pemuda dari kampung lain, yang melakukan hal yang sama. Lalu terjadi interaksi sosial, dimana para joki dari masing-masing kampung sepakat untuk mengadakan pertandingan pacu kuda antara kampung tanpa hadiah bagi pemenang. Tidak disadari, akhirnya sejak awal tahun 1930-an, aktivitas ini berubah menjadi tradisi tahunan yang melibatkan beberapa kampong
Seperti yang ditulis oleh Yusra Habib Abdulgani, Tidak ada aturan pasti dalam perlombaan pacu kude, baik tentang tentang atribut: baju, celana, sepatu, topi, pemecut (cambuk) dan usia seorang joki. Begitu juga dari segi keamanan dan keselamatan para joki, seperti alat pengaman tubuh, pagar dan tali yang benar-benar memenuhi standard keamanan.
jika joki jatuh, luka-luka, bahkan mati sekalipun, cukup dengan menghubungi pihak Rumah sakit. Para joki berkaki telanjang dan berpakaian bebas. Ada joki yang memakai jacket hujan saat berpacu tanpa memperhitungkan factor keselamatan dan arus angin yang mempengaruhi kecepatan. Mereka tidak dibekali pengetahuan tentang ”rule of the game”. Pihak Pemda belum berpikir menyediakan perangkat computer perekam pada garis start, mensyaratkan pakaian yang memenuhi standard keselamatan dan tidak berupaya mengasuransikan para joki, sekiranya mereka mendapat musibah kecelakaan.
Tiga orang juri duduk di atas sebuah menara bertingkat yang jaraknya kira-kira 100-200 m dari garis start; sementara seorang juri pembantu berdiri di atas garis start. Kuda-kuda yang akan dipacu dikendalikan oleh joki dan pemiliknya. Juri pembantu mula-mula memberi aba-aba dengan mengangkat ”bendera start” warna putih sebagai isyarat pertarungan segera berlangsung. Curi start bisa disaksikan disini, saat para joki merapatkan kuda mereka ke garis ”start”. Jika kuda tersebut sulit diajak kompromi (berdiri persis di garis start), maka sang joki yang kekangnya dipandu oleh pemilik, dibenarkan mengambil ancang-ancang jauh dari belakang. Apa yang terjadi? Setiap start perlombaan yang disertai oleh 4 atau 5 peserta, posisi kuda hampir tidak pernah persis berdiri di atas garis start. Juri pembantu hanya memberi peluang beberapa saat agar masing-masing menyiapkan diri; jika tidak, bendera start tetap dikibarkan. Tidak dikenal rumus ”ralat”, ”silap”, ”ma’af”, ”ampun” dan ”menggugat” jika terjadi ketidaksamaan gerak start. Pemegang bendera start adalah raja yang tak tidak pernah melakukan kesalahan dan tidak boleh digangu gugat. Inilah yang membedakan antara paduan kuda tradisional di ”Negeri Antara” dengan pacuan kuda di Inggeris dan Spanyol. Tulis Yusra Habib Abdulgani
Antara Judi dan Tradisi
Tradisi, yang menarik di dalam pacu kude, adalah tradisi taruhan. Biasanya Sebelum kuda dipacu, “harie” (”juru penerangan”) akan menceritakan sejarah ringkas dari masing-masing kuda, pemilik dan prestasi lewat pengeras suara dari atas balkon yang luasnya kira-kira 30x40 m2. Kuda kuda tersebut kemudian dipromosikan dari atas balkon. yang dipenuhi oleh petaruh untuk memilih jagoan masing-masing. Dari atas balkon atau tribun tersebut, para petaruh memilih jagoan mereka dan mencari lawan untuk bertaruh.
Seperti yang ditulis oleh Yusra Habib Abdulgani, Pertaruhan ini juga diikuti oleh penonton biasa, dari segenap lapisan masyarakatpun juga ikut bertaruh. Transaksi berlangsung singkat dan tunai. Ini ”pèng kilat”! Tradisi pacu kuda ini, menghalalkan atau melegitimasi taruh (judi) secara resmi dan terbuka. Dengan kata lain: arena pacuan kuda adalah zona bebas judi.
Gara-gara pertaruhan tersebut, adalah hal lumrah, pacu kude juga sarat mistik tradisi pacu kuda ini identik dengan permainan ilmu magic, yang menghadirkan dukun-dukun kesohor. Lazimnya, mereka berdiri berdekatan dengan garis start. Sang dukun mampu membelokkan arah kuda lawan (musuh) saat melewati tikungan tertentu atau tersungkur.
Masih seperti yang ditulis oleh Yusra Habib Abdulgani Di era tahun 50-an, dikenal dua dukun terkenal, yaitu: Aman Lumah (yang biasa dialog dan merokok bersama dengan jin) dan Guru Gayo, asal kampung Kenawat. Keduanya hampir setiap tahun mampu memenangkan ”Kude Kenawat” berkulit warna pink campur garis hitam, milik Aman Saleh Bur. Piala-piala yang diraih turut musnah bersama piala juara Didong group Seriwijaya, ketika kampung Kenawat dibakar hangus akhir tahun 1959 oleh pasukan Diponegoro, saat pergolakan Darul Islam (D.I Aceh) bergolak. Caranya: memandikan dan menepung tawari kuda ini terlebih dahulu sebelum dilagakan. Di era tahun 1960-an, ”Kude Bènyang”, ”Kude Gerbak” dan ”Kude Bupati Isa Amin” adalah diantara kuda yang populer. Arena pacuan kuda merupakan gelanggang pertarungan antara dukun-dukun untuk menguji kejituan ilmu magic. Bahkan sering didapati sesajèn di lokasi tertentu yang bisa menyungkurkan kuda musuh. Tidak ada pacuan kuda tanpa kekuatan magic.
Terakhir Selain itu, Pacu Kude, bagi Urang Gayo, kenyataannya, bukanlah hanya sebagai pergelaran budaya, tapi kenyataannya merupakan gambaran realita kondisi perkembangan ekonomi masyarakat Gayo. Ramainya para pengunjung yang melihat Pacuan Kuda memberikan isyarat baiknya perekonomian rakyat Gayo. Sebaliknya, jika pacuan Kuda Sepi maka ia akan menggambarkan merosotnya perekonomian Rakyat Gayo.
Sumber : Kabargayo.blogspot.com