Tampilkan postingan dengan label Kopi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kopi. Tampilkan semua postingan

Foto - Begini Cara Buat Kopi Aceh yang Nikmat

Tanpa Segelas Kopi Aceh dari Kedai Kopi di Ulee Kareeng akan membuat ada yang kurang dalam kunjungan ke Aceh

Berkunjung ke Aceh, tak lengkap jika belum mampir ke kedai kopi. Kenikmatan kopi Aceh sudah terkenal hingga ke mancanegara. Penyajiannya pun berbeda dengan cara penyajian warung kopi di wilayah lain Indonesia. Seperti apa ya?

Menyaksikan aktraksi 'barista' di kedai-kedai Kopi di Aceh merupakan kenikmatan tersendiri. Di samping tata cara penyajian, ternyata proses pembuatan dari biji kopi menjadi kopi siap pakai juga merupakan daya tarik tersendiri.

Kali ini saya menyusuri pembuatan kopi Aceh di Desa Geumpang, Kabupaten Pidie, mulai dari pemilihan biji kopi hingga menjadi kopi yang siap disajikan. Kopi-kopi di sini nantinya akan dipakai di kedai-kedai kopi di Ulee Kareeng, Banda Aceh.

Atraksi barista di Kedai Kopi merupakan daya tarik tersendiri. Kopi disedu dan disaring berulang-ulang, lalu dituangkan berpindah0-pindah dari satu ceret ke ceret lain sebelum disajikan dalam gelas-gelas yang menarik.


Inilah biji kopi Aceh Ulee Kareeng pilihan sebelum diproses lebih lanjut menjadi minuman yang nikmat


Biji-biji kopi Aceh pilihan disortir kembali dan dibersihkan dari kulit ari yang masih menempel sebelum dipanggang

Biji Kopi Aceh yang sudah dibersihkan dipanggang dalam oven selama 4 jam untuk menghasilkan mutu terbaik

Kopi yang telah di oven ditambah dengan gula dan mentega dimasak di atas tungku dengan api dari kayu sehingga menambah aroma alami

Pengalaman tak terlupakan ikut mengaduk adonan kopi Aceh di atas tunggu yang sangat panas

Inilah kopi Aceh Ulee Kareeng (jenis Arabica) yang telah dimasak dengan campuran gula dan mentega

Biji kopi yang telah dimasak digiling sampai halus dan menghasilkan Kopi Aceh dengan aroma yang kuat, cita rasa yang bersih, dan tidak asam...

Bubuk Kopi Aceh dari Geumpang dibungkus dan diedarkan ke Pasar Beureunuen Sigli dan Kedai-kedai Kopi di Ulee Kareeng, Banda Aceh. Kopi pun bisa kita bawa pulang ke Jakarta, tapi rasanya jauh berbeda dengan minum langsung di Kedai Kopi Aceh

 Merza Gamal - detik Travel

Foto - Potensi Kopi Gayo


TAKENGON - Menyebut nama kopi Gayo, terbayang dalam benak kita nikmatnya kopi Arabika pegunungan yang telah hampir seabad ini mendunia. Namun, bagi warga di dataran tinggi Gayo, tempat kopi ini ditanam secara profesional sejak 1918. Sebelumnya kopi sudah dikenal oleh Urang Gayo dengan sebutan Kahwa.
Kopi Arabika itu bukan sekadar rasa melainkan warisan jiwa di tanah bergunung itu, mereka menanam kopi bercita rasa tinggi yang menghidupi. Ada tiga kabupaten di dalamnya Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues.
Total luasan tanam pada tahun 2010 mencapai sekitar 94.500 hektar (ha), terdiri dari 48.500 hektar di Aceh Tengah, 39.000 hektar di Bener Meriah, dan 7.000 hektar di Gayo Lues.
Kopi Gayo ibarat nyawa bagi Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Tercatat, jumlah petani kopi di Aceh Tengah 34.476 keluarga.
Jika satu keluarga diasumsikan beranggotakan 4 orang, sebanyak 137.904 orang di sana yang menggantungkan hidup pada kebun kopi. Jumlah itu setara dengan hampir 90 persen total penduduk Aceh Tengah yang mencapai 149.145 jiwa (2010).
Berikut foto-foto potensi kopi Gayo di Aceh Tengah yang direkam ATJEHPOSTcom pada Selasa 15 Januari 2013 : 

Minum Kopi Massal 50 Ribu Orang di Bener Meriah Masuk Rekor MURI



REDELONG  - Minum kopi massal sebanyak 50 ribu plus 1 orang dan pagelaran kesenian Didong sebanyak 2.013 peserta memecahkan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Penyerahan plakat MURI tersebut berlangsung pada penutupan Pacuan Kuda Tradisional Gayo di Lapangan Sengeda, Rembele Kecamatan Bukit, Bener Meriah, Minggu 13 Januari 2013.
Acara tersebut dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Bener Meriah untuk memperigati Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Bener Meriah yang ke 9. Penutupan acara tersebut juga dihadiri oleh Menteri Pembagunan Daerah Tertinggal, Helmy Faishal Zaini, Anggota DPR RI Nova Iriansyah, Asisten Ekonomi dan Pembagunan Setda Aceh, Said Mustafa dan Mantan Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf.
Pihak Muri langsung menyerahkan piagam penghargaan kepada Bupati Bener Meriah Ruslan Abdul Gani, karena telah memecahkan rekor Muri minum kopi massal sebanyak 50 ribu plus 1 orang dan pagelaran kesenian Didong oleh 2.013 peserta yang langsung disaksikan oleh Menteri Pembagunan Daerah Tertinggal.
Penutupan pacuan kuda tradisional gayo tersebut dimeriahkan oleh berbagai kesenian seperti Didong, Saman, Seudati, Kuda Kepang yang disaksikan oleh puluhan ribu pengunjung. | atjehpost.com

Kopi Campur “Dunia Maya” Ala Aceh


Meski sudah minum kopi di rumah, bagi sebagian besar masyarakat kota Banda Aceh rasanya masih hambar jika belum ke warung solong di sudut jalan T Iskandar kawasan Ulee Kareng, Kota Banda Aceh.

Cerita orang sebelum tsunami itu kini pas pula untuk diterapkan, soalnya dalam beberapa tahun terakhir banyak muncul warkop mirip solong, yang juga menyediakan menu bubuk kopinya khas Ulee Kareng.

Aceh sejak tempo dulu dijuluki memiliki warung kopi terpanjang di dunia, dan predikat itu tampaknya masih disandang provinsi ujung paling barat Indonesia tersebut.

Tapi, dalam setahun terakhir terjadi perubahan drastis. Banyak penikmati kopi mencampurkan aroma kopi Ulee Kareng dengan kenikmatan berselancar di dunia maya.

Warung kopi (warkop) yang sekaligus menyediakan fasilitas warung internet (warnet) menjadi idola. Warkop plus warnet seperti itu diserbu masyarakat, terutama kawula muda di Banda Aceh.

Usaha warkop cukup hanya mengeluarkan modal di bawah Rp 5 juta untuk menyediakan meja, kursi, televisi dan gelas, sendok, piring kecil dan gula pasir serta bubuk kopi atau teh.

"Tapi, kini untuk usaha warkop memerlukan modal puluhan juta rupiah, bahkan bisa mencapai ratusan juta rupiah," kata Ermi, pemilik warkop terkenal di kawasan "Simpang Limong" pusat Kota Banda Aceh.

Menurut Ermi, pada era persaingan guna menarik lebih banyak pengunjung, pemilik warkop berlomba menyediakan peralatan teknologi informasi, yakni jaringan internet nirkabel berteknologi Wireless Fidelity (Wi-Fi), selain dukungan tempat yang bersih dan indah.

"Itu semua tentunya membutuhkan modal yang tidak sedikit," katanya.

Seorang tamu yang baru tiba di Banda Aceh, misalnya, sempat tertegun ketika menyaksikan hampir semua warkop di kota itu menyediakan jaringan internet.

"Awalnya saya heran menyaksikan di atas meja tidak hanya gelas kopi, tapi juga beberapa unit laptop. Saya kira, orang-orang itu hanya menulis sesuatu dengan perangkat itu, tapi ternyata juga mengakses internet," kata Ahmadi, yang mengaku baru pertama kali ke Aceh.

"Hebat ya, warkop di Aceh benar-benar berbeda dengan daerah lain yang pernah saya kunjungi. Warga Aceh tampaknya tidak mau ketinggalan teknologi, jaringan internet bisa diakses sambil meneguk secangkir kopi," katanya menambahkan.

Perkembangan teknologi informasi tidak bisa dibendung, bahkan orang akan terus tertinggal jika tidak menguasai dan mengikuti irama global tersebut. Apalagi, jaringan internet telah bisa diakses hampir seluruh pelosok terutama di ibukota kecamatan di Aceh, kata staf Kantor Dinas Pendidikan Aceh Bustamam Ali.

Para pecandu kopi sekaligus dunia maya itu sebagian besar mahasiswa, termasuk ada di antaranya dari para pelajar.

"Mereka yang membuka jaringan internet secara terbuka di warkop jelas bukan pornografi, karena logikanya tidak mungkin terjadi di tengah-tengah keramaian," kata Bustamam Ali.

Para pengunjung yang asyik internetan itu membawa labtopnya sendiri, sedangkan pemilik warkop hanya menyediakan fasilitas internet serta kopi "Ulee Kareng" sebagai menu utama.

Harga minuman kopi hangat di warung yang menyediakan fasilitas internet itu rata-rata berkisar antara Rp 4.000,00 sampai Rp 5.000 per cangkir. Sementara di warung tanpa fasilitas teknologi informasi berkisar Rp 2.000.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Banda Aceh Illiza Saa`duddin Djamal menyebutkan, hampir 80 persen warkop di daerahnya kini telah menyediakan fasilitas internet.

"Kondisi itu merupakan dukungan untuk mewujudkan Banda Aceh sebagai kota cyber. Fasilitas internet itu gratis bagi pelanggan kopi namun harganya tentu sedikit disesuaikan," katanya.

Tidak dijumpai di kota-kota besar tentang adanya warung kopi dengan ketenaran internet di kalangan masyarakat.

"Untuk mengakses internet di kota-kota besar lainnya di Indonesia kita harus ke hotel atau tempat-tempat khusus yang tentunya harus memakai biaya yang lebih banyak. Di Aceh hanya bermodalkan Rp 5.000 untuk secangkir kopi, kita bisa mengakses internet secara gratis," katanya.

Kalau di Aceh, tidak hanya warung kopi yang bisa berinternet, tapi juga ada Kampung Digital, Internet Sehat, Taman Digital dan juga Masjid Digital.

Akan tetapi, perkembangan teknologi informasi itu tidak hanya berdampak positif tapi juga negatif.

"Artinya, melalui pelayanan jaringan internet gratis di taman-taman maka konstribusinya adalah memberikan pendidikan tentang pengetahuan dan berbagai informasi kepada masyarakat, tapi diharapkan jaringan internet tidak disalahgunakan untuk mengakses hal-hal negatif," katanya.

Untuk itu, Illiza minta PT Telkom agar menutup berbagai situs yang tidak bermanfaat bagi generasi muda yang bisa diakses melalui jaringan internet tersebut.

PT Telekomunikasi Indonesia akan segera mewujudkan Kota Banda Aceh sebagai kota cyber di Provinsi Aceh, setelah seluruh Gampong (desa) di daerah itu terakses jaringan hotspots pada 2010.

"Kami berupaya mewujudkan Banda Aceh sebagai cyber city. Salah satu dukungan yang akan kami berikan adalah memastikan seluruh gampong di kota ini tersedia jaringan hotspots," kata GM Divisi Consumer Service Regional I Sumatra Overlis.

Jaringan hotspots yang ditawarkan terlayani di seluruh gampong di kota berpenduduk sekitar 230 ribu jiwa itu yakni "Internet Sehat". Total gampong di Banda Aceh tercatat sebanyak 90 desa.

"Itu artinya bahwa kami siap menutup akses internet yang tak mendidik tidak hanya di tempat umum tapi juga keluarga. Hal tersebut penting juga sebagai upaya Telkom menyahuti program pemerintah untuk mewujudkan kota ini sebagai bandar wisata Islami," katanya menambahkan.

Khusus jumlah pelanggan jaringan internet berkecepatan tinggi, Overlis menyebutkan seluruh Aceh tercatat 12.000, untuk Kota Banda Aceh sebanyak 4.000 pelanggan.
Ia menyebutkan pihaknya juga berupaya agar seluruh taman yang telah dibangun Pemko Banda Aceh akan dipasangi jaringan hotspots.

"Kami juga memastikan seluruh taman rekreasi yang dibangun di kota ini akan terlayani akses internet jaringan hostspots," katanya menambahkan.

Jika di warkop, taman, masjid dan gampong di Banda Aceh sudah memiliki jaringan internet, maka dapat dipastikan masyarakat Aceh ke masa depan akan terus maju dan serba digital, tanpa harus meninggalkan budaya asli yang Islami. (Atjehcyber.net)

Hebat! Pupuk Tanaman Kopi Dari Limbah Cangkangnya

Limbah cangkang kopi yang menggunung di huller (kilang penggilingan kopi). Sebelumnya limbah ini adalah sampah yang merepotkan petani, kini telah diolah menjadi pupuk.

Energi itu tidak pernah habis hanya berubah bentuk, itu kata Hukum Thermodinamika II. Alam menyediakan sumber energi yang demikian banyak, baik energi berbentuk bahan bakar, bahan makanan, termasuk pupuk sebagai sumber hara tanaman. Hebatnya, salah satu sumber pupuk untuk tanaman kopi berasal dari limbah cangkang kopi itu sendiri.

Para petani kopi di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah yang jumlahnya mencapai 62.100 kepala keluarga sudah banyak yang meninggalkan pupuk an-organik (pupuk kimia) yang mahal. Kini, mereka beralih menggunakan pupuk organik yang berasal dari sampah atau limbah cangkang biji kopi (endocarp) itu sendiri. Sampah itu, kini telah mereka ubah menjadi rahmat.

Walaupun mereka menggunakan pupuk organik untuk meningkatkan produksi dan kesuburan tanah, namun mereka tidak terdaftar dalam kelompok petani organik. Sebab, mereka yang tergolong dalam kelompok tani organik adalah mereka yang dibina oleh lembaga penerbit sertifikat organik. Untuk masuk dalam kelompok ini harus membayar biaya inspeksi dan biaya lain-lain.

Bagi Ponirin (50) yang biasa dipanggil Pon, meskipun dia tidak termasuk dalam kelompok tani organik, dia tetap mengelola tanamannya secara organik. Petani yang memiliki sehektar kebun kopi di kawasan Desa Jamur Uluh Simpang Teritit, Kabupaten Bener Meriah telah lama menggunakan limbah cangkang biji kopi sebagai sumber pupuk organiknya.

Hebatnya lagi, walaupun Ponirin tidak bisa baca tulis, tetapi dia mampu mengelola uang hasil penjualan kopi kelompok taninya, milyaran rupiah. Sampai akhirnya, mereka mampu membangun lantai jemur dan huller milik kelompok yang terletak disamping rumah Ponirin.

Lantai jemur dan huller (mesin pemecah cangkang kopi) itu, setiap harinya menghasilkan puluhan kilogram cangkang kopi. Limbah cangkang kopi itu dibiarkan menggunung sampai mencapai atap rumah. Biasanya, limbah cangkang kopi itu dibakar oleh pemilik huller. Namun, setelah mereka mengetahui bahwa kulit cangkang itu sebagai pupuk organik, maka para petani yang merupakan anggota kelompoknya mengambil secara cuma-cuma limbah cangkang kopi itu.
13416814742073848431
Kebun kopi para petani disekitar huller milik Ponirin telah dibubuhi pupuk yang berasal dari limbah cangkang kopi, dari sampah menjadi rahmat.
Buktinya, permukaan kebun kopi petani disekitar rumah Ponirin semuanya diserak dengan limbah cangkang kopi. Tanaman kopi yang makanannya disuplai dari cangkang kopi itu memang terlihat subur-subur dan memiliki buah yang sempurna dan berdaun hijau. Bagi Ponirin, makin banyak yang mengambil limbah cangkang kopi dari hullernya untuk memupuk tanaman kopi, maka produksi kopi kelompok taninya makin meningkat, otomatis kas kelompok terus bertambah.

Kini, pemanfaatan limbah cangkang kopi sebagai pupuk sudah diikuti oleh para petani dari daerah lain. Mereka mengolahnya dengan memberi beberapa zat tambahan, sehingga limbah cangkang kopi menjadi pupuk bokasi. Sejak saat itu, para pemilik huller yang sebelumnya direpotkan oleh limbah cangkang kopi, kini sudah dibersihkan oleh para petani. Terkadang, mereka harus antri untuk mengumpulkan limbah cangkang kopi tersebut. Ternyata, sumber zat hara untuk tanaman kopi berasal dari limbahnya sendiri. (Syukri Muhammad Syukri/Kompasiana.com)

Sejumlah Acara Seru Siap Meriahkan Festival Kopi Aceh


Banda Aceh — Mungkin ini bisa jadi festival budaya yang paling ditunggu, ya Festival Kopi Aceh. Setelah berhasil menggelar Aceh Coffee Festival tahun 2011 lalu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banda Aceh kembali akan menggelar acara serupa.
Acara yang bertajuk “Aceh Coffee and Food Festival 2012″  akan berlangsung di Taman Sari Banda Aceh dari 31 Oktober hingga 4 November ini tidak hanya menawarkan kekayaan cita rasa kopi namun juga beragam kuliner khas tradisional Aceh.
Dengan mengambil tema “Sajian Kutaraja, Citarasa Dunia”, festival kali ini juga diikuti oleh lebih dari 30 pengusaha warung kopi baik tradisional dan coffee roaster, para petani dan produsen kopi dalam dan luar kota, serta para pengusaha kuliner khas Aceh, serta diisi dengan sejumlah acara seru dan kegiatan menarik lainnya.
Selain bisa menikmati aneka rasa kopi khas Aceh dari pesisir hingga daratan tinggi Gayo, para penikmat kopi juga berkesempatan untuk dimanjakan dengan mencicipi cita rasa kopi Kintamani Bali, Java Mocha, kopi Toraja bahkan kopi Brazil.

Seru-seruan di Festival Kopi

Salah satu agenda festival kopi, juga hadir “Barista Workshop” bersama Adi W Taroepratjeka, host program TV Coffee Story dan Coffee Photography bersama founder blog kopi terbesar Indonesia, Tony Wahid menjadi salah satu agenda Aceh Coffee and Food Festival tahun ini.
Menilik keistimewaan cita rasa khas kopi Gayo dan kopi nusantara lainnya bersama Gayo Cupper Team, tim cupping asal Aceh dengan lisensi Internasional serta menikmati fenomenalnya rasa Kuah Sie Kameng khas Aceh bersama host program kuliner populer, Benue Buloe, secara gratis.
Fun Games garapan penggagas Festival Kopi Aceh, lomba minum kopi panas, yang tahun lalu cukup mencuri perhatian, tahun ini akan tampil lebih unik dengan nama baru “Balap Kupi” dan berhadiah jutaan rupiah.
Dimeriahkan oleh penampilan musisi lokal seperti Moritza Taher and Frens, King of Fire, Xantafee, Justify Percussion, Aceh Coffee and Food festival 2012 akan ditutup oleh penampilan band papan atas Indonesia,RAN.
Selain menjadikan acara ini sebagai apresiasi dan dukungan terhadap para pelaku usaha kopi dan kuliner khas Aceh, panitia pelaksana Aceh Coffee and Food Festivalberharap, ajang ini dapat menjadi salah satu daya tarik wisata, dalam rangka turut mensukseskan program tahun kunjungan Visit Aceh 2013. (seputaraceh.com)

Oktober Ini, Aceh Food and Coffee Festival Hadir Lagi


Banda Aceh — Setelah Sukses menyelenggarakan Festival Kopi Aceh tahun lalu, tidak lama lagi 31 Oktober hingga 4 November 2012 ini, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banda Aceh akan menggelar event yang serupa.
Berbeda dengan tahun lalu, kali ini juga akan mengambil bagian berbagai kuliner khas Aceh, termasuk demo-demo cara membuat dan memasak makanan Khas Aceh, dengan mengangkat agenda Food And Coffee Festival 2012 yang bertemakan “Sajian Kutaraja, Citarasa Dunia”.
Panitia acara Wan Windy Lestari mengungkapkan acara yang mengusung kuliner ini merupakan sebuah apresiasi kepada penikmat dan pengusaha kopi yang ada di Aceh. Selain itu ajang ini juga untuk menjadikan Kota Banda Aceh menjadi salah satu kota tujuan wisata kuliner dalam rangka tahun kunjungan Visit Aceh 2013 nanti.
“Tahun ini akan diikuti oleh 30 unit stand yang diperuntukkan bagi pengelola warung kopi dan pengrajin serta petani kopi di Banda Aceh dan luar Banda Aceh baik yang modern (menggunakan mesin) dan konvensional (menggunakan saringan), serta pengusaha makanan khas Aceh pendamping minum kopi,” jelas Windy beberapa waktu lalu.
Event yang kedua kali akan akan dilangsungkan di Taman Sari Banda Aceh. Ajang festival kopi dan makanan khas Aceh kali ini tentu menjadi salah satu kesempatan besar bagi penikmat kopi Aceh untuk menikmati makanan dan minuman yang tersedia secara gratis. Panitia nanti akan menyediakan kupon khusus untuk ditukarkan dengan minuman atau makanan yang tersedia.
Selain itu, berdasarkan data Forum Kopi Aceh tahun 2011 lalu, sampai sekarang kopi Arabika Gayo merupakan salah satu komoditas unggulan nasional, dengan luas lahan sekitar 90.000 hektar, terletak di kawasan pegunungan di provinsi Aceh, dengan elevasi 1.200 meter di atas permukaan laut, perkebunan kopi arabika kawasan dataran tinggi Gayo menjadi perkebunan terbaik dan cukup produktif yang dimiliki Indonesia.
Sementara itu, Pihak Asosiasi Kopi Spesial Amerika (SCAA) juga telah menilai kualitas Kopi Arabika Gayo sebagai kopi yang memiliki cita rasa yang khas dan unik. Sampai sekarang Kopi Arabika Gayo mendominasi berbagai varietas yang tengah dikembangkan. Produksi kopi Arabika yang dihasilkan di Aceh merupakan salah satu yang terbesar di dunia.
Menarik bukan untuk tahu lebih lanjut festival kuliner dan kopi ini, jadi jangan lupa siapkan liburan Anda untuk berkunjung ke Aceh bulan ini.[seputaraceh.com]