Beda Rasa, Satu Nanggroe


Senja di Sungai Alas di Kecamatan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh, foto: kompas
Oleh Ahmad Arif & Budi Suwarna

HARUM
 kari memudar begitu perjalanan menjauh dari pesisir pantai Aceh menuju Dataran Tinggi Gayo. Kami pun memasuki sisi lain Aceh yang penuh aroma kopi arabika, alam pegunungan, dan orang-orang yang hangat.

Langit yang semula cerah saat menyusuri pesisir timur Aceh tiba-tiba berganti mendung. Jalan berkelok tajam yang diapit jurang dan tebing itu terus menanjak. Melalui delapan jam perjalanan dari Banda Aceh, barulah kami tiba di batas kota Takengon. Ketika itu Maghrib belum tiba, tetapi hujan mempercepat kelam.

Kami memilih menyimpan gairah untuk menikmati pesona Danau Laut Tawar hingga esok paginya. Namun, kami tidak menunda mencicipi makanan khas Gayo sekaligus berkenalan dengan kebudayaannya. Kami memesan ikan ”bawal” masam jing di sebuah rumah makan. Namun, yang muncul justru sejenis ikan mas (Cyprinus carpio) digenangi kuah berwarna kuning kemerahan dan disajikan dalam kuali tanah. Orang Gayo ternyata menyebut ikan mas yang berwarna abu-abu dengan bawal (Bramidae). Mereka hanya menyebut ikan mas jika warnanya kuning.

Setelah berhari-hari makan kari Aceh berempah yang menerbitkan kantuk seusai menyantapnya, masam jing jadi semacam antitesanya. Kombinasi perasan air jeruk jering dan andaliman—sejenis lada khas dataran tinggi Sumatera—menciptakan rasa asam dan pedas menggigit.
Inti masakan Gayo itu cuma asin, pedas andaliman, dan asam jeruk jering. Ini tiga bumbu dasar masakan kami.
-- Emayati Kajet
”Inti masakan Gayo itu cuma asin, pedas andaliman, dan asam jeruk jering. Ini tiga bumbu dasar masakan kami,” kata Emayati Kajet (57), ibu rumah tangga di Takengon. Masakan Gayo relatif sederhana dan minim bumbu. Berbanding terbalik dengan masakan Aceh pesisir—untuk menyebut kawasan Banda Aceh, Aceh Barat hingga Aceh Timur—yang kaya bumbu. Untuk memasak kari Pidie, misalnya, perlu setidaknya 24 macam bumbu dan rempah.

Kami mengakhiri hari dengan secangkir kopi luwak arabika gayo. Walaupun telah lama menjadi penghasil kopi, tradisi minum kopi di kedai relatif baru di Gayo. Hingga lima tahun lalu, untuk mencicipi kopi Gayo mesti datang ke rumah warga. Begitulah, ada satu masa di mana kopi dianggap tanaman liar di Gayo.

Antropolog Belanda, Snouck Hurgronje, menceritakan, ketika itu orang Gayo minum sari daun kopi yang dikeringkan di atas api, bukan bijinya. Tanaman kopi dicangkok untuk pagar kebun. Buahnya diberikan kepada unggas. ”Hanya akhir-akhir ini beberapa orang telah mengetahui bahwa tanaman ini laku dijual,” tulis Hurgronje.

Petani kopi arabika gayo di Desa Jamur Uluh, Kecamatan Wih Peusang, Kabupaten Bener Meriah, sedang memilah biji kopi yang rusak di bak penjemuran kopi, foto: kompas

Sebaliknya, orang Aceh pesisir telah lama mengenal teknik pengolahan kopi. Kemampuan ini kemungkinan dipelajari dari pedagang Turki dan Arab sebelum abad ke-15 Masehi. Orang Aceh pesisir yang kosmopolit biasanya menggunakan jenis kopi robusta yang dipanen di sekitar Lamno dan Calang (Aceh Jaya).

Untuk mendapatkan rasa kopi yang legit, orang Aceh menambahkan gula, mentega, bahkan telur, saat menggongseng kopi. Teknik penyajiannya juga khas. Bubuk kopi direbus hingga mendidih lalu disaring kemudian dituang sambil ditarik ke atas (kopi tarik). Sebaliknya, kelezatan kopi gayo karena prosesnya yang alami mulai dari penanaman hingga teknik penggosengan.

Teknik penyajian pesisiran lebih canggih, khas pedagang, yang bisa mengolah sumber daya yang terbatas menjadi berkualitas. Sebaliknya, budaya masyarakat Gayo yang bertani lebih bersahaja.

Jantung Sumatera

Takengon, ibu kota Kabupaten Aceh Tengah, berjarak 315 kilometer dari Banda Aceh. Namun, bukan jarak yang memisahkan dua kota ini. Sejarah dan asal-usul yang membedakannya. Perbedaan itu telah ditangkap para penjelajah sedari dulu. Saat menjelajah ke Gayo pada 1901, Hurgronje menyebutkan tentang hutan lebat seperti ikat pinggang lebar yang memisahkan Gayo dengan Aceh. Hutan lebat dan sulitnya akses menuju dataran tinggi itulah yang menyebabkan kebudayaan Gayo terisolasi.

Pesisir Pulau Sumatera, termasuk Aceh, telah lama diketahui dunia. Bahkan, nama Barus di pantai barat Sumatera Utara telah diterakan dalam buku Ptolomeus. Buku yang dikarang abad ke-2 Masehi itu menyebut Barusoai sebagai penghasil kapur barus yang bernilai seharga emas. Namun, dataran tinggi Sumatera, yang membentang mulai dari Gayo hingga Lampung, belum banyak diketahui hingga akhir abad ke-19. Padahal, menurut sejarawan Anthony Reid dalam buku Menuju Sejarah Sumatra (2011), kawasan itu merupakan jantung peradaban Sumatera.

Dari daerah pedalaman ini, yang kerap digambarkan sebagai rumah kaum kanibal dan hutannya dipenuhi binatang aneh semacam unicorn—istilah penjelajah Italia, Marco Polo, untuk menggambarkan badak Sumatera—kekayaan pulau ini berasal. Dari sungai-sungai yang berhulu di gunung, emas yang memasyhurkan Swarna Dwipa (Pulau Emas) ditambang. Dari hutan-hutannya kapur barus, kemenyan, dan lada dipanen.

Lebih dari itu, menurut Reid, sawah-sawah telah lama dibuka di dataran tinggi yang menandakan peradaban telah lama disemai di sana. Sebaliknya, kota-kota di pesisir Sumatera yang terlihat gemerlap sebenarnya ”kosong.”

”... pertanian paling awal di Sumatera tidak lahir di delta sungai atau dataran rendah pesisir seperti kita perkirakan, tetapi di lembah-lembah tinggi di Pegunungan Bukit Barisan dan umumnya lebih dari 500 meter di atas permukaan laut,” kata Reid.

Silang budaya

Sawah-sawah yang tumbuh subur di dataran tinggi itu kami jumpai saat menelusuri tepi Danau Laut Tawar. Azan Subuh baru saja usai. Awan putih yang semula menutupi tebing yang memagari danau perlahan pergi. Pukul 09.00, kami meninggalkan Takengon melaju ke Blangkejeren, ibu kota Kabupaten Gayo Lues. Begitu meninggalkan kota, jalanan kian mendaki. Titik tertinggi yang tercatat di altimeter sekitar 1.700 meter dari permukaan laut.

Hutan mendominasi pemandangan berseling dengan hamparan ilalang dan pepohonan pinus. Namun, jejak penggundulan hutan terlihat di mana-mana. Pemandangan ini jauh berbeda dibandingkan akhir tahun 2004. Saat itu jalan aspal nyaris tak terlihat karena ditutupi lumut dan rerumputan tebal, sementara hutan lebat mengapitnya. Konflik menyebabkan rute Takengon-Gayo Lues seperti jalan mati. Beberapa kali penghadangan di jalan itu membuat orang enggan melewatinya. Hutan lebat pun tak tersentuh.

Sudah pukul 21.00 saat kami memasuki Kutacane, Kabupaten Alas. Ini masih wilayah Aceh, tetapi suasana kota yang dihuni Suku Alas dan berbatasan dengan Kabupaten Karo, Sumatera Utara, ini benar-benar berbeda. Di pinggir jalan, beberapa warung makan masih buka. Beberapa lelaki terlihat bermain catur dan kartu serta berdendang lagu-lagu Batak dan Karo diiringi gitar, khas suasana lapo tuak Sumatera Utara.

Keberagaman, kekhasan, dan sejarah yang berbeda, tetapi kemudian menyatu dalam Aceh itulah yang menjadi kekayaan tak ternilai negeri paling ujung Nusantara ini....

Sumber :
Kompas Cetak

Artikel Terkait