Komoditi Pala Aceh

Buah Pala | FOTO : Bisnisaceh.com
DALAM sejarah perdagangan Aceh dengan dunia luar, salah satu komoditi penting yang diperdagangkan adalah pala. Pala (Myristica fragrans, Hout) sebagai salah satu tanaman perkebunan dan merupakan tanaman rempah khas Indonesia telah dikenal sejak abad ke-16, yaitu ketika Portugis menaklukkan Maluku dan kemudian komoditi pala menjadi monopoli Belanda setelah mengalahkan Portugis. Selain memiliki nilai ekonomis tinggi, komoditi ini telah menjadi tanaman budaya di beberapa wilayah nusantara. Tanaman pala tersebar di kepulauan Banda (Maluku), Papua, Aceh, Sumatera Barat. 

Produksi pala Indonesia bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri saja, tapi juga untuk ekspor dengan memasok hampir 70% kebutuhan pala dunia, terutama minyak pala. Kebutuhan pala baik sebagai bahan rempah makanan maupun bahan industri dapat berupa minyak, biji dan fuli (selaput biji). Bahkan minyak pala Indonesia dikenal memiliki kualitas terbaik di dunia, karena kadar terpentinnya lebih rendah dari produk negara lain, sementara biji dan fuli dengan kualitas terbaik berasal dari Granada (Amerika Tengah). 

Keberadaan pala di Indonesia telah dapat mengangkat ekonomi dan pendapatan masyarakat pala (petani, pedagang pengumpul, pedagang besar, eksportir). Disamping itu juga komoditi unik ini telah memberikan peluang bagi pengurangan pengangguran walau peranannya masih kecil. Dimata dunia komoditi ini mengangkat posisi tawar Indonesia dalam perdagangan khususnya pala dan produk turunannya dengan luar negeri, sehingga pemerintah pada 1983 membentuk ASPIN/INA (Asosiasi Pala Indonesia), keberadaannya telah memberikan dorongan dan dukungan untuk berkembangnya budidaya dan tata niaga pala menjadi lebih baik. 

Sentra produksi pala 
Provinsi Aceh salah satu sentra produksi pala di Indonesia berkonstribusi dalam memenuhi bahan rempah dan makanan dalam dan luar negeri. Dalam aspek teknologi terutama dalam penyulingan minyak, Aceh sebagai pelopor dengan didirikan PT ADI (Acheh Destilling Industries) di Tapaktuan pada 1970-an, memperkenalkan alat paling modern dalam prosesing minyak pala di Indonesia, yang teknologinya kini banyak diadopsi oleh para pengusaha pala.

Pala memiliki peran strategis dan dapat mendukung kehidupan masyarakat untuk lebih baik, setidaknya Pala memiliki dua peranan utama bagi kehidupan manusia, secara ekonomis dan lingkungan. Secara ekonomis, tanaman pala merupakan salah satu penunjang untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Saat sekarang harga pala kering terus naik, harganya mencapai, Rp 28.000 s/d Rp 32.000/kg, sangat menjanjikan bagi peningkatan pendapatan masyarakat. Demikian juga dengan harga minyak pala. Di Aceh Baratdaya dalam sebulan terakhir mengalami lonjakan dari Rp 650.000/kg menjadi Rp 700.000/kg, harga tertinggi yang diterima oleh pedagang pengumpul (Serambi, 28/02/2012)

Secara lingkungan, pala dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian 700 mdpl (di atas permukaan laut). Ini menunjukkan bahwa pala dapat ditanam pada daerah lereng, bukit dan pegunungan dataran rendah, dan masih dapat berproduksi dengan baik. Sehingga keberadaan tanaman ini sekaligus dapat berfungsi sebagai tanaman konservasi untuk mengendalikan erosi dan aliran permukaan (run off). Maka Pala masuk dalam kelompok tanaman multiguna (multi purpose tree species), buah, bagian batang dan lainnya dapat dimanfaatkan dan bernilai ekonomis, sementara perakarannya berfungsi untuk perlindungan lingkungan. 

Penelitian sosial ekonomi masyarakat tentang petani pala oleh Kumba (1984), keuntungan ekonomi pala bukan hanya dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari, tapi beberapa petani di Aceh Selatan bahkan mampu membiayai pendidikan anaknya sampai pascasarjana. 

Pala dapat berproduksi (berbuah) sampai dengan umur 100 tahun, hal ini tentu jauh berbeda dengan sejumlah komoditi perkebunan unggulan lokal lainnya di Aceh seperti sawit, kakao, kopi dan karet. Luas areal perkebunan pala di Aceh mencapai 17.577 ha dengan total produksi sebesar 5.709 ton (Dinas Kehutanan dan Perkebunan Aceh, 2008). 

Serangan penyakit
Sejak 1990-an kebun pala mengalami masalah serangan hama dan penyakit, cabang dan pucuknya kering dan beberapa hari kemudian langsung mati. Hama penggerek batang dan bubuk cabang serta jamur menyerang tanaman pala. Kelihatan seperti tanpa obat manjur menahan laju kehancuran pala. Produksi minyak, biji dan fuli menurun.

Sejalan dengan itu pendapatan masyarakat pala juga ikut anjlok. Masyarakat kehilangan sumber pendapatan, banyak yang banting stir meninggalkan kampung halaman untuk mencari pekerjaan baru. Mencari pekerjaan tanpa keahlian khusus tentu menjadi masalah. Karena itu, untuk menyambung hidup, banyak di antara mereka yang menjadi tukang jahit sepatu, tukang parkir, penjual martabak dan pekerjaan-pekerjaan nonformal lainnya.

Pemerintah dan berbagai lembaga terus berupaya melakukan identifikasi masalah kematian pala dan mencari solusi pemecahannya. Pengendalian hama dan penyakit dlakukan walau upaya tersebut belum dapat dikatakan sangat efektif. Upaya dan langkah konkrit lainnya terhadap pengendalian hama dan penyakit mesti terus dilakukan dengan berbagai riset sehingga ditemukan formulasi efektif untuk pengendalian hama dan penyakit pala secara tuntas. 

Konflik bersenjata di Aceh, menjadi salah satu penyebab semakin parahnya serangan hama dan penyakit terhadap tegakan pala di kebun-kebun masyarakat. Kebun ditinggalkan tanpa dikelola dan dipelihara dengan baik, sehingga kebun pala meng-hutan. 

Dibutuhkan peranan semua pihak untuk mendorong dan mendukung kembalinya zaman keemasan pala. Petani pala membutuhkan pembinaan secara intensif baik dalam aspek usahatani maupun agribisnis sehingga diharapkan pala pulih kembali dan dapat meningkatkan kegunaan pala. Memaksimalkan kegunaan pala bukan hanya mengandalkan produk utamannya berupa minyak, biji dan fuli. 

Tetapi diversifikasi produk dengan bermacam-macam jenis olahannya seperti sirup, manisan, permen, balsam dan berbagai hasil ikutan lainnya. Seiiring dengan itu diharapkan akan tumbuh usaha skala rumah tangga (home industry) yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Semoga!

* Teuku Musrizal, S.Hut, Peminat Masalah Sosial Ekonomi dan Lingkungan/Kabid Penelitian dan Pengembangan Forum Pala Aceh.

Artikel Terkait