Peunayong, Gampong Cina di Tanoh Rencong




Ruko Perpaduan Arsitektur Cina-Belanda
Saat menapaki jejak kaki di seputaran jalan Peunayong, Banda Aceh, saya merasakan nuansa yang berbeda di sana. Deretan bangunan toko dan rumah membuat alam bawah sadar seakan-akan berada di negara Cina.
Bangunan tua perpaduan antara arsitektur Cina dan Belanda  dari abad ke 19 menjadi penanda bahwa Peunayong telah lama ada. Gampong Cina, masyarakat kota Banda Aceh melabelkannya. Kota tua yang terletak empat kilometer dari utara Mesjid Raya Baiturrahman menyimpan mutiara pemikat hati, mutiara yang akan menjadi magnet bagi wisatawan lokal, nasional, dan manca negara.
Kehidupan etnis Cina (keturunan.red) yang menetap di sana tidak ekskulsif,interaksi mereka dengan masyarakat asli Aceh begitu bersahaja. ”Warga keturunan Cina di Banda Aceh sangat ramah dan baik-baik, bahkan mau membantu kehidupan saya,” ujar Fadli Rahmad (34) pekerja di salah satubengkel milik warga keturunan Cina. Dirinya juga mengatakan, orang Cina keturunan di Banda Aceh memiliki kultur budaya yang sangat kuat serta membangun ikatan erat dengan sesamanya.
Berbicara mata pencaharian warga keturunan Cina di Banda Aceh, umumnya mereka adalah pedagang. Kalau pun ada yang menjadi staf atau pegawai swasta hanya sebagian kecil saja. Mereka diidentikan dengan aktivitas jual beli. Itu tampak sekali, bilamana kita berada di Peunanyong hingga belantaran Krueng Aceh. Ratnalia Indriasari, pakar psikologi mengungkapkan bahwa keidentikan itu diakibatkan kultur dan jiwa yang direproduksi turun menurun.

“Gen yang turunkan pada keturunan berikutnya menjadikan kultur merekasebagai pedagang mengakar kuat. Ini yang menyebabkan umumnya warga keturunan Cina di Banda Aceh membangun pusat-pusat bisnis baru. Apa yang mereka lakukan pun bermanfaat terhadap pendapatan Kota Banda Aceh,” jelasnya.

Selanjutnya Ratna menjelaskan, tidak hanya mewariskan gen berdagang saja, kulturisasi kebudayaan pun acap kali dilakukan. Ini terlihat pada pawai Visit Banda Aceh 2011 (29/01) lalu, atraksi barongsai dari sekolah metodist ikut memeriahkan ajang pengenalan wisata Banda Aceh ke khalayak ramai.

Mengenal Lebih Dekat Peunayong

Jika menilik sejarah, hubungan Aceh dan Cina telah terjalin sejak abad ke 17 M. Saat itu para pedagang termasuk pedagang dari Cina selain datang dan berdagang secara musiman pada bulan-bulan tertentu ke ibu kota Aceh, ada juga yang tinggal dan berdagang secara permanen. Mereka yang menetap, tinggal di perkampungan Cina yang terletak di ujung pelabuhan. Dan Peunayong merupakan salah satu lokasi tempat yang digunakan pedagang Cina untuk menurunkan barang dan tempat tinggal.

Asal muasal kata Peunayong tidak ada yang tahu begitu pula dengan artinya. Apa mungkin Peunayong itu diambil dari kata payong yang artinya pelindung?
“Peunayong ini sudah ada sejak jaman kerajaan Iskandar Muda. Saya tidak tahu dari mana kata Peunayong itu diambil. Dalam bahasa saya tidak ada kata Peunayong, ” jelas Tek Lie (50), lelaki etnis Cina suku Khe yang saya jumpai di depan tokonya yang terletak di Lorong Jambi tak jauh dari Pasar Peunayong. Saat itu, lelaki paro baya itu sedang mengupas bawang putih yang nantinya akan dihaluskan dan dijual ke pasar.

Perkampungan Cina di Lr. Jambi
Tak hanya hanya pertokoan yang ada di lorong itu, tetapi deretan perumahan petak yang jarak antara setiap rumah hanya dibatasi tembok yang langsung dijadikan sebagai dinding menjadi tempat hunian penduduk bermata sipit dan berkulit putih itu.  Rumah yang sangat sederhana dengan ruang tamu kecil yang terdapat dupa di dalamnya, sebuah kamar yang disekat dengan triplek, dan dapur.

Selain Tek Lie, beberapa warga Cina suku Khe itu juga sibuk melakukan aktivitasnya. Ada yang mengupas bawang putih, memasukkan rempah-rempah yang telah digiling ke dalam plastik kecil untuk dijual di Pasar Peunayong, ada juga yang duduk-duduk bercengkrama sesama mereka.

Senyum ramah terlempar dari sudut bibir mereka. Namun tidak sedikit di antara  warga Cina yang terdiri dari Suku Khe, Tio Chiu, Kong Hu,Hokkian, dan subetnis lainnya menarik diri dari orang asing seperti saya. Pak Salam contohnya, lelaki tua yang juga tinggal di deretan perumahan itu langsung masuk ke rumahnya ketika saya hampiri. Namun, ketika melihat perlakuan ramah warga lain lelaki itupun akhirnya luluh juga.

“Saya olang miskin. Tidak punya usaha sepelti orang Cina lain,” ucapnya dengan suara pelo. Bibirnya yang merot ke samping dan cara berjalannya yang pincang membuat saya berkesimpulan bahwa dia pernah mengalamipenyakit stroke.

Dulu saya mengira bahwa warga Cina yang tinggal di Peunayong adalah warga yang kondisi perekonomiannya menengah ke atas. Lihat saja deretan pertokoan yang menjual sembako, kelontong, obat-obatan, kain, pakaian, dan juga alat tulis serta pelbagai komoditas lainnya.  Hampir semuanya adalah milik mereka. Tetapi kenyataannya kondisi kehidupan warga Cina sama saja dengan penduduk pribumi. Ada yang kaya ada juga yang miskin.

Peunayong Dalam Keseharian

Pasar Peunayong di Sore Hari
Sore itu, di Peunayong, matahari masih begitu terik bersinar. Hingar-bingar suara kendaraan yang memenuhi badan jalan dan membuat kemacetan. Aktivitas masyarakat seakan tak kenal waktu. Di pasar yang terletak tepat di pinggir Krueng Aceh dan hanya sekitar dua meter dari badan jalan, transaksi jual beli masih berlangsung. Wanita-wanita berbaju dinas terlihat memenuhi pasar rakyat tersebut. Barangkali mereka tak sempat berbelanja di pagi hari, sehingga- sore hari-sepulang dari kantor menjadi waktu untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari.

Pasar itu adalah Pasar Peunayong, salah satu pasar utama yang menjual kebutuhan primer warga Banda Aceh seperti sayur mayur, buah-buahan, ikan, dan daging.Letaknya sangat strategis yaitu di tepi Krueng Aceh  dan  empat kilometer dari  Selat Malaka. Jaraknya dari pusat kota Banda Aceh pun tidak jauh. Hanya dua kilo meter dari Mesjid Raya Baiturrahman. Mungkin inilah penyebab Pasar Peunayong ini selalu padat dengan pedagang dan pembeli.

Di pasar itu, keharmonisan antara etnis Cina dan masyarakat Aceh dalam mencari sesuap nasi terjalin dengan baik. Tak jarang, orang Aceh yang menjadi karyawan di toko sembako milik keturunan Tionghoa (sebutan lain untuk etnis Cina). Begitu pula sebaliknya, tidak sedikit warga Tionghoa yang mengangkut dagangan masyarakat Aceh, lalu dengan becak barangnya dagangan itu di antar ke tempat tujuan.

Kurang Perhatian Pemkot Banda Aceh

Bangunan tua yang berada di Peunayong adalah buah kerja keras arsistek Belanda yang mendesainnya sebagai Chinezen Kamp alias Pecinan. Ketikagempa dan tsunami mengguncang serta meluluhlantakan daratan Banda Aceh tahun 2006, Gampong Pecinan masih berdiri kokoh. Namun, niat Pemkot Banda Aceh melakukan renovasi hanya menjadi angan-angan belaka.”Tidak ada sama sekali kami mendapatkan bantuan renovasi toko kami pasca tsunami dan gempa. Kemana tanggung jawab Pemkot Banda Aceh, kamiini juga warga Banda Aceh,” keluh Chen Lee (45), nama Indonesia-nya Irwan Suturo.

Selaras dengan Tek Lie, “Bangunan ini direnovasi waktu zaman G30SPKI dulu. Waktu Pak Harto baru jadi presiden. Semua orang Cina diusir dari sini karena dianggap PKI. Kalau mau lihat bangunan asli Cina ya di dekat pasar. Di situ bangunannya dibangun waktu zaman VOC.” Lelaki itu begitu ramah meladeni saya. Sesekali ia berbicara dalam Bahasa Mandarin dengan perempuan yang duduk di sampingnya. Sepertinya ia meminta penegasan dari wanita itu tentang apa yang dijelaskannya.

Tak heran bila mata kita melihat di Peunayong banyak bangun tua yang catnya memudar, bahkan terkelupas. Belum lagi dinding yang sudah mulai tergurus di makan zaman. Memang sungguh miris penghargaan dan pelestarian yang dilakukan Pemkot Banda Aceh terhadap bagunan tua peninggalan sejarah, dimana kurangnya perhatian serius menjaga amanah peninggalan sejarah tersebut.

Bangunan Tua dan Sejarahnya

Deretan Ruko di Jl. Jend. Ahmad Yani
Di Jalan Jendral Ahmad Yani, saya mencari bangunan yang menurut Tek Lie dibangung pada zaman VOC. Memang benar. Di jalan yang berdekatan dengan pasar itu tampak bangunan-bangunan yang merupakan perpaduan antaraarsitektur Cina dan Eropa. Bangunan itu terdiri dari dua lantai, lantai satu digunakan sebagai tempat berdagang sedangkan lantai dua untuk tempat tinggal.

Deretan bangunan tua ini berbeda dengan ruko modern yang dibangun di sampingnya. Di depan ruko Cina ini terdapat arcade, yaitu deretan tiang beton yang menopang lantai atas lantai atas menjorok ke emperan. Lebar terasnya lumayan sempit karena sebagian digunakan untuk menaruh barang-barang dagangan. Sedangkan tinggi tiang teras sekitar 3 meter. Bagian atas tiang dihias dengan susunan pelipit rata. Tiang yang berada di ujung (utara) bagian atasnya melengkung bergaya Romawi. Deretan tiang emperan menerus ke bangunan lantai dua sebagai pilaster. Di bagian sudut atas pilaster konstruksi diperkuat lagi dengan penyiku dari beton. Pilaster berfungsi sebagai penguat dinding tembok bangunan, di samping itu juga menandai batas ruas ruangan bangunan lantai dua.

Pintu ruko terbuat dari papan yang disusun vertikal dengan sistem buka tutup secara digeser. Di bagian atas pintu ruko terdapat lubang ventilasi berbentuk persegi panjang dengan hiasan kerawang dikeempat sudutnya.

Untuk keperluan pencahayaan dan sirkulasi udara dinding bangunan lantai dua dilengkapi jendela. Jendela berdaun dua terbuat dari bilah-bilah papan yang disusun vertikal. Gerak buka tutup jendela dihubungkan dengan dua engsel (folding shutter). Jumlah jendela setiap ruko bervariasi 2 atau 3 buah jendela. Di bagian dinding ruko yang terletak paling ujung (utara) dijumpai lagi 3 buah jendela dan sebuah pintu. Di bagian atas jendela dan pintu terdapat kanopi dari seng. Di bagian atas kanopi dijumpai hiasan berbentuk susunan pelipit rata. Hiasan lainnya berbentuk huruf S dari besi dijumpai dibagian kiri dan kanan jendela.

Atap rukonya juga sangat unik yaitu berbentuk pelana dari seng dengan kemiringan tajam. Kemiringan atap dibuat tajam agar air hujan cepat turun ke permukaan jalan. Kemiringan atap diakhiri dengan tritisan berhiaskan deretan awan beriring. Di bagian puncak atap terdapat tonjolan atap dari semen. Konstruksi tonjolan atap itu menyatu dengan dinding bangunan lantai dua.

Ruko di Jl. RA Kartini
Selain di Jalan Jend. Ahmad Yani, ruko perpaduan arsitektur Cina-Belanda itu juga bisa ditemukan di Jl.  WR. Supratman (utara), Jl. Teluk Betung (selatan) dan di Jl. RA Kartini (timur).
Keunikan Kampung Cina Peunayong ternyata tidak berakhir pada bangun tua saja. Ketika saya berjalan menuju Jl. T. Panglima Polem, sebuah Wihara- Tek Lie dan etnis Cina yang lain menyebutnya dengan Tepekong- berdiri di antara ruko modern yang terletak di sepanjang jalan itu. Menurut Tek Lie, Tepekong yang diberi nama Vihara Dharma Bhakti ini adalah bangunan baru yang dibangun di atas bangunan lama yang sudah rubuh.

Wihara ini merupakan bukti merupakan bukti dari gambaran aktivitas lain dari masyarakat etnis Cina di Peunayong selain berdagang. Di antara mereka ada yang beragama Budha, Kristen dan juga Islam. Tepekong ini adalah tempat beribadah dan kegiatan keagamaan etnis Cina penganut agama Budha.

Vihara Dharma Bakti
“Dulu waktu zaman VOC ada juga dibangun Tepekong,cuma sudah rubuh,” jelas lelaki itu.
Di bagian kiri dan kanan nama wihara terdapat masing-masing sebuah patung naga laut. “Naga itu simbol penjaga, penolak bala, dan kekuasaan,” Tek Lie menambahkan.
Di antara kedua patung naga terdapat lampu (lampion) berhiaskan kuncup bunga teratai. Hingga kini wihara ramai didatangi umat Buddha terutama dalam hari-hari besar agama Buddha. Para penganut yang datang bukan hanya yang berdomisili di Banda Aceh, bahkan dari luar Banda Aceh.
***
Hari mulai gelap. Adzan magrib melalui pengeras suara di Mesjid Raya Baiturrahman telah terdengar. Penelusuran tentang Peunayong, Gampong Cina yang mengandung banyak sejarah di dalamnya harus diakhiri. Sudah saatnya saya kembali ke rumah dan menunaikan ibadah shalat.

Sumber :inongtraveler.blogspot.com/2011/04/peunayong-gampong-cina-di-tanoh-rencong.html