Ketika Tren Berwisata Dipengaruhi Dunia Online

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA
Perkembangan pariwisata di dunia tak bisa lepas dari pengaruh online. Semakin banyak orang menggunakan online travel agent (OTA) atau biro perjalanan wisata berbasis online dibanding biro perjalanan wisata tradisional.

Menurut Peter Lee, Senior Director Market Management Asia Pacific Expedia, sebagai contoh adalah pelancong China dalam tren wisata akibat pengaruh internet.

"Penetrasi China untuk koneksi internet mencapai 130 juta orang. Dengan peningkatan ekonomi, terjadi perubahan dalam tren orang China melakukan perjalanan,seperti di kutip dari Kompas, Kamis (28/3/2013).

Ia mengungkapkan kini pelancong China mayoritas pengguna internet. Mereka lebih senang berbelanja melalui online dibanding biro perjalanan wisata secara offline.

"Mereka juga lebih memilih, perjalanan yang bisa mereka booking sendiri," lanjutnya.

Oleh karena itu, seperti diungkapkan Vice President Marketing Agoda Timothy Hughes, jika ingin menangkap pelanggan masa kini, maka mau tak mau harus mengubah diri menuju dunia online.

"Harus bisa menggunakan piranti mobile dan social network media (situs jaringan sosial) untuk menangkap customer pengguna internet di dunia," kata Hughes.

Bagaimana dengan Indonesia? Hughes melihat potensi besar di Indonesia. Hal yang bisa dilihat dari data Google Indonesia.

Head of Travel Google Indonesia Henky Prihatna menuturkan pengguna internet di Indonesia tahun lalu mencapai sekitar 63 juga pengguna. Tahun ini, asumsi pengguna internet Indonesia mencapai 83 juta pengguna.

"Pencarian di situs Google untuk pengguna Indonesia mencapai 2,5 miliar per bulan. Pencarian khusus mengenai travel (perjalanan) mencapai 2 juta per hari," kata Henky.

Menurut data dari Google Indonesia, pencarian terkait perjalanan oleh pengguna internet di Indonesia tertinggi berkaitan dengan maskapai. Kedua adalah hotel dan ketiga barulah mengenai destinasi.

"Orang Indonesia mencari destinasi domestik. Baru kemudian mencari tentang Singapura, Malaysia, dan Thailand," tambah Henky.


(kompas)