‘Kuah Jruek’, Makanan Khas Pesisir Barat Aceh


Nagan Raya – Kuah Jreukmerupakan masakan khas pesisir Aceh bagian barat. Disebut kuah jruek karena bumbu utamanya berupa durian yang sudah difragmentasi kemudian dikeringkan lalu dijadikan tepung. Biasanya kuah jreuk hanya dimasak pada hari-hari tertentu saja, seperti pada pesta perkawinan, hari meugang ataupun pada perayaan hari besar lainnya.
Kuah jruek lebih kurang seperti kuah pliek ue di Aceh bagian timur, hanya saja beda bumbu utamanya menggunakan kelapa yang sebelumnya juga sudah melalui proses fragmentasi yang disebut pliek ue.
Sama seperti kuah pliek uekuah jreuk juga menjadi kebanggaan masyarakat di pesisir Aceh bagian barat. Betapa tidak, menurut masyarakat disana, kuah jreuk sudah ada sejak zaman dahulu, dan selalu menjadi pilihan menu untuk setiap acara penting di daerah tersebut.
Masakan yang menjadi kebanggaan turun-temurun tersebut selain berbahan dasar isi durian yang sudah difragmentasi sebagai bumbu utama, lazimnya masyarakat juga menambahkan terong, kacang panjang. Ada juga sebagaian masyarakat yang menambahkan pisang untuk kelengkapan bahan-bahan sayurnya.
 Selain untuk acara besar, kuah jruek sering juga dijadikan masakan khas untuk menjamu tamu dari luar kota yang berkunjung ke rumah, hanya saja pada waktu tertentu kuah jruek ini susah didapati karena sudah semakin jarang orang yang membuat bumbunya, maklum terkadang butuh proses sedikit lebih lama.
Selain waktu yang lama, pembuatan bumbu kuah jruek hampir saja hilang karena minat masyarakat semakin berkurang dan hanya pada musim tertentu saja orang-orang membuatnya.
“Biasanya pada musim durian saja masyarakat membuat bumbu kuah jruek, dan itu tidak di semua orang membuatnya, juga tidak di semua tempat,” tutur Aminah (51) sang koki kuah jruek di Gampong Lueng Keubeu Jagad, Kecamatan Tripa Makmur, Nagan Raya beberapa waktu lalu.
Mengenai rasa, kuah jruek memang khas di lidah, terutama bagi yang tidak suka pedas, sebabnya kuah jruek terasa seperti durian yang sudah diasamkan, itu menjadi alasan kenapa dinamakan kuah jruek.
Jruek dalam bahasa Indonesia bermakna diasamkan, namun tingkat asamnya tidak sampai menghasilkan kadar alkohol dalam bahan dasar bumbu jruek sehingga masih bisa dikonsumsi dan masih tergolong halal.
Soal warna, kuah jruek tak berbeda dengan kuah pada umumnya, hampir seperti kuah leumak, juga menyerupai kuah plik ue, alangkah baiknya soal yang satu ini harus benar-benar dirasa sama yang empunya lidah.
Pesan Aminah, jika saja berkunjung ke daerah Aceh bagian barat jangan lupa menyempatkan diri mencicipi kuah di jruek, biasanya juga ada di warung tertentu. Paling tidak kuah khas Aceh Bagian barat sudah pernah kita cicipi. (Atjehlink.com)

Artikel Terkait