Dari Ikan Panggang Segar Hingga Adat ‘Seumeuleung’


Bila Anda melintasi jalur pantai barat dari Banda Aceh-Calang, hingga Meulaboh, Aceh Barat, mungkin perjalanan akan terasa jauh lebih nyaman daripada melintasi jalan dari jurusan pantai timur (Banda Aceh-Medan) sekarang ini. Karena melintasi jalan pantai barat sekarang, terutama Banda Aceh-Calang, sudah cukup bagus dan luas, bahkan termasuk jalan kualitas terbaik di Sumatera saat ini.
Jalan yang baru saja rampung dibangun atas biaya bantuan masyarakat Amerika Serikat (USAID) ini, dikerjakan oleh kontraktor Samyong asal Korea Selatan. Pembangunannya menelan dana sekitar 282 juta dolar AS atau Rp2,2 triliun. Jalan sepanjang 150 kilometer dengan 27 jembatan ini adalah jalan berkualitas internasional.
Jalan ini baru saja diresmikan Dubes AS untuk Indonesia, Scott Marciel. Bila sebelumnya—terutama setelah tsunami 2004—jarak tempuh Banda Aceh-Calang, Kabupaten Aceh Jaya, bisa memakan waktu 5-6 jam dan harus menggunakan dua buah rakit penyeberang, yang terkadang harus antre berjam-jam, sekarang sudah dapat ditempuh hanya dua jam dengan jalan yang sangat lebar, dan bebas rakit.

Ikan segar

Menariknya, bila kita melintasi pantai barat dari Banda Aceh hingga Meulaboh sepanjang 245 km, sepanjang perjalanan akan bisa menikmati keindahan panorama alam nan mempesona. Sejak dari Lhoknga, Aceh Besar, sudah kelihatan akan indahnya perpaduan alam antara Samudera Hindia yang penuh pulau-pulau kecil sangat menawan.
Setelah melewati Lhoknga akan dijumpai pantai Lhokseudu, di lintas Banda Aceh-Calang. Pantai ini ramai dikunjungi orang, terutama saat sore dan hari-hari libur. Pengunjung, di samping dapat menikmati keindahan pantai, juga dapat membeli ikan segar langsung dari nelayan. Ikan-ikan segar itu juga bisa dinikmati langsung melalui jasa warung-warung di pinggir pantai.
Melintasi jalan Banda Aceh-Meulaboh, sepanjang perjalanan memang harus menelusuri pantai. Pada waktu terjadi tsunami, hampir semua jalan dan jembatan di lintas ini hancur. Sehingga, transportasi darat Banda Aceh-Meulaboh beberapa tahun setelah tsunami harus melalui kota Beureunuen, Tangse dan Geumpang, Kabupaten Pidie.
Ruas jalan baru ini juga jauh dari bibir pantai. Tapi hampir rata-rata badan jalan sekarang sudah ditinggikan dengan ditimbun. Bahkan, banyak tikungan telah diluruskan dengan membelah bukit-bukit. Karenanya, pemakai jalan lintas pantai barat Aceh sekarang dengan leluasa menikmati keindahan pemandangan alam dan lautan.

Nikmati durian

Untuk menempuh perjalanan Banda Aceh–Meulaboh, kita akan melalui tiga gunung tinggi dengan jalan berbelok-belok. Di kiri-kanan jalan rindang dengan pepohonan yang menyejukkan. Tiga gunung yang harus dilalui yaitu Gunung Geurutee, Paroe, dan Kulu. Di Gunung Kulu ini banyak terdapat pohon durian.
Bila musimnya tiba durian itu banyak yang menjual di pinggir jalan dengan jambo (dangau) kecil yang sengaja dibuat oleh penjual durian. Sehingga bila kita telah penat dalam perjalanan dapat istirahat di jambo-jambo itu sambil menikmati durian. Memang tidak hanya di Gunung Kulu, di sepanjang jalan dari Leupung, Aceh Basar, sampai ke Lamno, Aceh Jaya, bila musim durian tiba banyak penjual durian di pinggir jalan.
Naik turun Gunung Paroe, Kulu dan Geurutee, kita bisa menikmati pemandangan alam sangat indah. Apalagi saat tiba di puncak Gunung Geurutee. Melihat ke bawah, kita akan menyaksikan pulau-pulau kecil terdapat di Ujung Seudeun, sebuah perkampungan di pinggir laut.
Konon, di Ujung Seudeun ini dulu pernah terdampar kapal Portugis. Sejarah terdamparnya kapal Portugis ini mungkin ada hubungannya dengan sejarah komunitas keturunan “mata biru” (keturuan Portugis) yang masih terdapat di Lamno Daya, yang terkenal dengan gadis-gadis bermata biru sekarang ini.
Bila kita kebetulan melintasi jalan ini di ambang sore, terlebih saat matahari akan terbenam, akan terlihat keindahan luar biasa. Warna kemerahan langit di ambang senja menyinari air laut biru hingga menimbulkan pemandangan mengagumkan.

Budaya Seumeuleung

Dulu, di puncak Gunung Geurutee ada sebuah bangunan tempat istirahat yang dibangun Belanda. Bangunan ini terletak agak sedikit mendaki dan harus menaiki beberapa anak tangga dari batu. Bangunan itu tampaknya telah rusak ditelan masa. Di tempat yang sama, kini sudah dibangun bangunan lain.
Selain itu, di pinggir jalan di atas puncak Geurutee sekarang juga telah dibangun warung-warung kecil yang banyak disinggahi pengguna jalan, yang selalu mampir untuk istirahat dan menikmati keindahan panorama Samudra Hindia dari puncak gunung.
Ketika turun dari Gunung Geurutee inilah kita dapati kampung Ujung Seudeun tempat terdamparnya kapal Portugis di masa silam.
Kuala Daya Lamno, sekitar 80 kilometer dari Banda Aceh, dulu merupakan kerajaan yang maju di wilayah pantai barat Aceh, Kerajaan Daya ketika itu diperintah raja bernama Meureuhom Daya, lebih dikenal dengan Poteumeurehom.
Sampai sekarang di Kuala Daya, setahun sekali selalu diadakan upacara ritual yang disebut Seumeuleung. Upacara adat ini diadakan setiap tahun pada bulan Zulhijjah, tepatnya 10-13 Zulhijjah.
Upacara Seumeuleung ini sebuah perayaan adat turun-temurun yang dilaksanakan keturunan Poteumeurehom (almarhum Yang Mulia) Sultan Alaidin Riayatsyah, penguasa negeri Daya (1482-1508). Upacara ritual adat Seumeulueng ini dihadiri ribuan masyarakat setempat serta pengunjung dari kabupaten lain. Tradisi perayaan adat ini diadakan di kaki bukit Kandang, yaitu di bawah kompleks pemakaman raja yang pernah memerintah di negeri Daya Lamno pada abad-abad silam.
Setiap tahun pada bulan Zulhijjah, upacara ritual ini selalu disuguhkan dengan tatacara yang telah menjadi adat budaya setempat, yang mendapat perhatian dan sambutan meriah masyarakat. Dalam upacara ini, salah seorang keturunan raja Meureuhom Daya berperan sebagai sultan, yang lainnya sebagai panglima, khadam, wazir muluk, dan khatibulmuluk, dengan pendamping seorang petua kawai dalam dan seorang imeum chik (pimpinan agama).
Mereka semua memakai pakaian kebesaran dengan atribut lengkap menurut fungsi masing-masing seperti yang pernah berlaku pada masa pemerintahan Poteumeureuhom.
Setelah mengikuti pesta adat Seumeuleung di Lamno Daya, bila kita meneruskan perjalanan ke Calang atau ke Meulaboh, sebelum memasuki Calang, ada satu wilayah bernama Patek. Di tempat ini terdapat beberapa warung makanan yang terkenal dengan ikan panggangnya. Berbagai jenis ikan segar yang baru didapat dari laut dapat dipesan di warung-warung yang ada di sini. Di samping ikan panggang juga dapat dipesan lauk khas daerah lainnya, seperti kerang tumis dan gulai ikan lainnya.
Menikmati makanan yang ada di warung-warung di Patek ini sistem hidangannya melayani sendiri (prasmanan). Harganya pun terjangkau oleh semua pengunjung. Sambil menikmati hidangan di warung-warung, kita juga dapat menikmati keindahan panorama laut dan gunung-gunung kecil, karena Patek terletak di tepi pantai nan indah. (Harian Analisa)

Artikel Terkait