Peran Banda Aceh Sebagai Pusat Perlawanan Terhadap Kolonialisme


Akibat adanya penetrasi kekuasaan asing dalam bentuk penjajahan atau penindasan, telah menyebabkan timbulnya perjuangan berupa perlawanan, yang bertujuan untuk mempertahankan eksistensi bangsa yang bersangkutan. 

Jika kita menelusuri sejarah dari pada penetrasi kekuasaan kolonial di kerajaan Aceh, akan terlihat adanya dua kekuasaan yang menonjol; yaitu yang dilakukan oleh bangsa Portugis dan yang dilakukan oleh bangsa Belanda. Dengan demikian juga telah timbul dua perlawanan menonjol yang dilakukan rakyat Aceh dalam mempertahankan eksistensinya; yaitu perlawanan menentang Conwuistador Portugis dan perlawanan terhadap kolonialis Belanda. 

Kedua perlawanan ini berpusat atau dikoordinir di kota Banda Aceh selaku ibukota kerajaan pada waktu itu. Perlawanan-perlawanan tersebut terjadi dalam ruang lingkup temporal yang berbeda; yaitu sejak awal abad ke XVI, perempatan pertama abad ke XVII dan akhir abad ke XIX, atau pada saat kedatangan bangsa Portugis di kawasan Selat Malaka, masa kejayaan kerajaan Aceh dan masa Belanda menyerang kerajaan Aceh.

Berdasarkan hasil kajiannya atas beberapa sumber lokal (Aceh) yang diperbandingkan dengan sumber-sumber Barat, Prof. DR. Hoesein Djajadiningrat, berkesimpulan bahwa kerajaan Aceh Darussalam didirikan oleh Ali Mughayat Syah yang merupakan sultan pertama dari kerajaan tersebut pada sekitar tahun 1514.2)Adapun ibukota kerajaannya bernama Bandar Aceh atau secara lengkap Bandar Aceh Darussalam. Berdirinya kerajaan Aceh Darussalam ini berkait erat dengan penaklukkan kota Malaka oleh Bangsa Portugis pada tahun 1511, yang salah satu tujuannya ialah untuk menghancurkan perdagangan saudagar-saudagar Islam di kota itu. Penaklukkan ini berakibat timbulnya keguncangan dalam jaringan perdagangan di kawasan Selat Malaka. Para pedagang Islam yang sudah secara tradisional berdagang di Malaka terpaksa menyingkir dari kota itu ke tempattempat lain. Salah satu sasaran mereka adalah kota Bandar Aceh Darussalam. Oleh para saudagar Islam, kota ini hendak dijadikan sebagai pengganti Malaka, baik untuk tempat berdagang maupun tempa^menyebarkan agama Islam. Hal ini dimanfaatkan oleh Ali Mughayat Syah untuk mendirikan kerajaan Aceh Darussalam.

Setelah menduduki Malaka, pihak Portugis berusaha menguasai jaringan lalu lintas perdagangan di kawasan Selat Malaka dan meneruskan memerangi orang-orang Islam, lanjutan dan Perang Salib. Oleh karenanya Selat Malaka menjadi tidak aman lagi bagi pedagang-pedagang Islam. Selain kota Bandar Aceh para pedagang Islam ini juga ada yang mendatangi kota pelabuhan Pedir (Pidie) dan Pasai. Kedua tempat yang tersebut terakhir, rupa-rupanya menjadi incaran pula dari pihak Portugis. Mereka tidak menginginkan ada tempat-tempat lain di sekitar Selat Malaka yang berkembang menjadi saingan Malaka yang telah didudukinya. Oleh karena itu terlebih dahulu Portugis mengirimkan armadanya ke Pedir dan Pasai. Rupa-rupanya di kedua tempat tersebut, karena tidak menunjukkan keagresifannya armada Portugis ini mendapat sambutan baik dari penguasa setempat, bahkan kepada mereka diberi hadiah-hadiah sebagai tanda persahabatan dengan kedua kerajaan itu. Khusus di Pedir Pihak Portugis berhasil pula memperoleh izin untuk mendirikan sebuah factorij (kantor dagang) milik mereka-disana. Dan untuk memperkuat segi keamanan terhadap kantor ini oleh Portugis didirikan pula sebuah benteng disekelilingnya.

Bersamaan dengan kehadiran Portugis di Pedir, tentera Kerajaan Aceh menyerang Pedir dalam rangka membebaskan diri dari pengaruhnya dan untuk menyatukan Pedir dengan Kerajaan Aceh. Penguasa Pedir terpaksa minta bantuan Portugis yang berada disana untuk melawan serangan Aceh. Permintaan ini diterima sehingga terjadilah kontak bersenjata pertama kali antara Aceh dengan Portugis. Dalam kontak ini, Aceh keluar sebagai pemenang dan sejak itu Pedir tunduk dibawah kuasa Aceh. Tentera Portugis yang tersisa terpaksa melarikan diri ke Melaka. Pada tahun 1519 pihak Portugis yang dipimpin oleh Gaspar de Costa melakukan penyerangan langsung ke Ibukota Kerajaan Aceh. Namun penyerangan ini berhasil dipatahkan oleh pihak Aceh. Dua tahun kemudian (1521) kembali Portugis menyerang kota Bandar Aceh dan kali ini mengalami kegagalan, bahkan pimpinan mereka yang bernama Joge de Brito tewas dalam penyerangan itu. Setelah kejadian itu Aceh menganggap Portugis agresor yang telah merusak keharmonisan jaringan perdagangan di kawasan Selat Malaka. Karenanya Portugis harus diusir dari wilayah itu Sebagai langkah awal, pada tahun 1524 Aceh melakukan pengejaran terhadap Portugis yang sedang berada di Pasai. Seperti halnya Pedir, Pasai yang memperoleh bantuan Portugis pada tahun itu juga disatukan menjadi bagian dari kerajaan Aceh Darussalam.

Pada tahun 1547 Aceh melakukan penyerangan pertama kali terhadap kedudukan Portugis di Malaka. Dalam penyerangan ini berhasil menenggelamkan dua buah kapal Portugis yang berada di pelabuhan Malaka dan juga berhasil mendaratkan tentaranya di sana serta mengepung Portugis yang hanya bertahan di dalam bentengnya. Aceh mengultimatum penguasa Portugis yang berada di benteng yaitu Simao de Mello supaya menyerah kepada pihak Aceh. Namun sebelum hal ini terwujud, pihak Portugis telah mendapatkan bantuan yang datang dari Goa dan juga dari kerajaan Johor. Dengan demikian pasukan Aceh terpaksa menarik diri dari Malaka. Karena kerajaan Johor telah membantu pihak Portugis, maka pada tahun 1564, Aceh menyerang kerajaan itu dan berhasil mendudukinya. Sultan Johor terbunuh dalam penyerangan itu dan sejumlah tawanan dari Johor di angkut ke ibukota kerajaan Aceh. Untuk beberapa tahun Johor menjadi vazal kerajaan Aceh. Tindakan ini juga dimaksudkan oleh Aceh sebagai persiapan untuk menyerang Portugis di Malaka, agar Johor tidak berkesempatan membantu Portugis seperti pada penyerangan tahun 1547.

Sementara itu Portugis memperbesar kekuatannya di Malaka dan mengatur persiapan untuk menyerang balas kota Bandar Aceh. Don Antonio de Noronda penguasa Portugis yang baru untuk Malaka, dalam tahun 1564 telah memperoleh informasi tentang Aceh yang telah membentuk suatu persekutuan dengan beberapa kerajaan Islam untuk menentang Portugis. Langkah berikut yang ditempuh Aceh dalam rangka mengusir Portugis dari kawasan Selat Malaka adalah memperkuat angkatan perang terutama armada lautnya. Hal ini dilakukan di bawah kuasa Sultan Alaudin Riayat Syah al Kahhar (1537-1571). Untuk tujuan ini, salah satu cara yang ditempuh adalah menjalin hubungan dengan kerajaan Islam terkemuka pada waktu itu, yaitu Turki. Dengan harapan kerajaan ini akan memberi bantuan militer kepada Aceh. Pada tahun 1563 Sultan Aceh mengirim sebuah utusan ke kerajaan Turki. Utusan tersebut membawa serta hadiah-hadiah berharga seperti emas dan lada untuk dipersembahkan kepada penguasa kerajaan Turki. Setiba di Turki para utusan Aceh telah meyakinkan pihak Turki mengenai keuntungan yang akan diperoleh kerajaan itu bila orang-orang Portugis dapat diusir dan Malaka oleh Aceh dengan bantuan Turki. Misi Aceh mi berhasil, karena pihak Turki telah bersedia mengirimkan bantuan militer kepada Aceh. Bantuan ini berupa dua buah kapal percmg dan 500 personal Turki untuk mengelola kapal-kapal itu Ke 500 orang Turki itu terdiri dari ahli-ahli militer yang juga dapat membuat kapal/ kapal perang dalam berbagai ukuran dan meriam-meriam besar. Selain itu pihak Turki juga memberikan sejumlah meriam milik mereka dan perlengkapan-perlengkapan militer lainnya. Semuanya itu tiba di kota Bandar Aceh Darussalam pada tahun 1566/1567. Selain bantuan militer dari Turki, Aceh juga menggunakan sejumlah tentara sewaan yang terdiri dan selain orang Turki juga orang-orang Gujerat, Malabar dan Abessinia.

Pada Tahun 1568 Kerajaan  Aceh kembali menyerang kedudukan Portugis di Malaka. Serangan ini adalah yang paling hebat yang pernah dilakukan oleh Sultan Alaudin Riayat Syahai Kahhar. Dalam penyerangan ini, Aceh berkekuatan 15.000 orang Aceh, 400 orang Turki termasuk tentara sewaan dan menggunakan 200 pucuk meriam besar dan kecil yang terbuat dari tembaga. Penyerangan ini dipimpin sendiri oleh Sultan Ala"din Riayat Syah al Kahhar. Namun pada penyerangan kali inipun Aceh belum berhasil mengenyahkan Portugis dari kota Malaka Setelah penyerangan yang dilakukan Aceh tahun 1568 itu Portugis menginsafi benar bahwa membiarkan Aceh merebut Malaka, berarti membunuh diri bagi Portugis di Timur. Oleh karena itu diputuskan oleh pemerintahnya di Lisabon, untuk mengirim suatu armada sekuat mungkin ke Malaka.

Pada tanggal 1 Januari 1577 Aceh kembali menyerang Malaka di saat Portugis sedang menghimpun kekuatannya Menurut I A. Macgregor, kekuatan Aceh yang menggempur Malaka kali ini ada sekitar 10.000 tentara dengan menggunakan meriam yang cukup banyak Namun penyerangan kali inipun belum memberi hasil bagi Aceh, yaitu mengusir Portugis dari Malaka.

Suatu hal yang unik terjadi di Aceh ketika memerintah Sultan Alaudin Riayat Syah al Mukammil (1587-1604). Sikap Sultan ini terhadap Portugis berbeda dengan Sultan-sultan Aceh lain sebelumnya. Sultan al Mukammil telah mengadakan suatu hubungan untuk berdamai dengan pihak Portugis di Malaka. Usaha Sultan ini mendapat sambutan baik pula dari Portugis, sehingga pada waktu itu terjadi suatu situasi damai antara pihak Aceh dengan Portugis. Pada tahun 1600 suatu delegasi Portugis atas nama Rajanya telah datang di Kota Bandar Aceh untuk mengadakan perundingan lebih lanjut.

Mengenai sebab-sebab mengapa Aceh dan Portugis mau menjalin suatu hubungan baik, C.R.Boxer menyebutkan bahwa perubahan sikap kedua belah pihak yang sebelumnya saling bertentangan itu, adalah disebabkan karena kejenuhan yang terus menerus telah melibatkan diri dalam peperangan-peperangan. Portugis ingin memanfaatkan masa damai tersebut untuk "beristirahat" dan untuk menyiapkan suatu serangan secara besar-besaran terhadap Aceh. Tetapi dari perkembangan situasi selanjutnya pihak Portugis benar-benar telah merubah maksudnya itu. Mereka rupa-rupanya tetap menginginkan suatu suasana damai dengan kerajaan Aceh.
Mulai hubungan baik antara kerajaan Aceh dengan Portugis di Malaka dirintis ketika Sultan al Mukammil mengirim seorang utusan ke Malaka. Utusan ini membawa serta hadiah-hadiah dari sultan Aceh untuk diberikan kepada penguasa Malaka pada waktu itu yang berada di bawah D. Paulo de Lima. Melalui tulisan ini Aceh mengucapkan selamat kepada Portugis yang telah berhasil menghancurkan kerajaan Johor, yang pada waktu itu telah bermusuhan/dengan Portugis di Malaka. Utusan Aceh ini juga meminta kepada Portugis agar seorang wanita Aceh yang sedang ditahan oleh Portugis supaya dibebaskan. D. Paulo de Lima mengabulkan permintaan ini dan juga bersedia untuk menjalin suatu hubungan damai dengan kerajaan Aceh.

Sejak adanya perdamaian tersebut (1587), maka pihak Aceh tidak lagi melakukan penyerangan atas kapal-kapal Portugis yang lewat di perairan Aceh dan Selat Malaka. Kepada orang-orang Portugis juga diperkenankan untuk datang dan berdagang di kota Bandar Aceh Darussalam. Situasi damai antara Aceh dengan Portugis tidak berlangsung lama. Pada tahun 1602 sultan Aceh mulai menaruh curiga kepada Portugis, yaitu ketika mereka meminta kepada sultan agar diberikan suatu pulau yang terletak di depan pantai Aceh Tujuannya nadalah untuk mendirikan sebuah benteng di tempat itu dengan alasan untuk menjamin keselamatan perdagangan Portugis di Aceh. Sultan Aceh  tidak hanya menolak permintaan itu tetapi juga merasa tersinggung karena diajukan dengan sangat angkuh. Sejak saat itulah Sultan Aceh mulai merubah kembali sikapnya terhadap Portugis. Dan mulai saat itu pula terjadi lagi Portugis yang tidak baik antara kerajaan Aceh dengan pihak portugis.

Pada Bulan Juni 1660 tentara Portugis di bawah pimpinan Martin Alfonso menyerang kota Bandar Aceh Darussalam Pada itu yang memerintah d i Aceh adalah Sultan Ali Riayat Syah (1604-1607), putera Sultan al Mukammil. Sultan ini mempunyai seorang kemenakan laki-laki yang bernama Darma Wangsa Tun Pangkat. Ketika Portugis menyerang kota Bandar Aceh si kemenakan inii berada dalam tahanan yang dihukum oleh pamannya karena sesuatu kesalahan. Ketika mendengar adanya penyerangan yang dilakukan Portugis. Ia memohon kepada pamannya agar dia dibebaskan dan diperkenankan ikut berperang melawan orang-orang Portugis Permohonan ini dikabulkan dan selanjutnya Darma Wangsa Tun Pangkat bersama dengan tentara Aceh lainnya melakukan perlawanan terhadap Portugis. Tentara Aceh ini berhasil mengusir kembali orang-orang Portugis dari wilayah kota Bandar Aceh Darussalam Darma Wangsa Tun Pangkat yang telah berjasa karena keikutsertaannya dalam pertempuran-pertempuran melawan pihak Portugis itu, menjadi terkenal dan menarik perhatian orang-orang di kalangan kraton Aceh.

Meninggalnya Sultan Ali Riayat Syah menurut Nuruddin Ar Ranin, pada hari Rabu 4 April 1607. Sebagai penggantinya adalah kemenakannya sendiri yakni Darma Wangsa Tun Pangkat dengan gelar Sultan Iskandar Muda.  Di bawah sultan ini, Aceh tetap melakukan perlawanan dengan menyerang kedudukan Portugis di Malaka. Dan juga melakukan penaklukan-penaklukan terhadap kerajaan-kerajaan Melayu di sekitarnya. Menurut N J Ryan, penaklukan-penaklukan ini dilakukan dengan maksud untuk memudahkan penyerangan yang akan dilakukan Aceh secara besar-besaran terhadap Malaka Portugis.«) Dengan harapan agar kerajaan-kerajaan Melayu itu tidak akan membantu pihak Portugis.

Pada tahun 1615 Aceh akan melakukan suatu serangan terhadap Portugis di Malaka. Namun karena sebelumnya Aceh terlebih dahulu telah menyerang Johor dengan armada yang disiapkan untuk menyerang Malaka, maka berita penyerangan ini telah diketahui oleh Portugis, sehingga Aceh membatalkan maksudnya itu. Meskipun demikian, ketika armada Aceh ini dalam perjalanan pulang sempat juga terlibat dalam pertempuran dengan kapal-kapal Portugis di dekat kota Malaka. Penyerangan terhadap Portugis di Malaka baru dilakukan kembali oleh Aceh pada tahun 1629. Penyerangan ini merupakan yang terbesar. Karena untuk ini Aceh telah menggunakan sebuah armada yang telah lama dipersiapkan di kota Bandar Aceh Darussalam, sehingga merupakan sebuah armada yang cukup besar menurut ukuran waktu itu. Tidak kurang dari 250 buah perahu layar dan 47 kapal berukuran besar dengan sekitar 20.000 personal tenaga telah digunakan oleh Aceh dalam penyerangan tersebut. Namun dalam penyerangan kali inipun Aceh mengalami kegagalan, sehingga menjadikan penyerangan ini yang terakhir yang dilakukan Aceh terhadap Portugis.Tahun 1873 Belanda menyerang kerajaan Aceh. Sasaran pertama mereka yaitu kota Bandar Aceh, karena di sinilah pusat kedudukan kerajaan Aceh dan pusat pertahanan rakyatnya.

Dalam menghadapi penyerangan Belanda ini, rakyat Aceh telah siap. Karena sebelumnya berbagai kegiatan dalam hubungan ini telah dilakukan. Di antaranya meningkatkan hubungan diplomatik dengan beberapa negeri luar dalam rangka memperoleh bantuan moral dan senjata, dan meningkatkan pertahanan dengan mendirikan sejumlah kuta di kota Bandar Aceh dan sekitarnya. Di antara kuta-kuta dapat disebutkan kuta Meugat, kuta Pohama, kuta Mussapi, kuta Gunongan dan kuta Raja (dalam atau istana). Selain itu sebuah mesjid lama yaitu mesjid Raya Baitur Rahman juga dijadikan untuk salah satu tempat pertahanan. Untuk menghadapi serangan Belanda ini, rakyat Aceh yang berasal dari luar Banda Aceh, baik dari sekitar Bandar Aceh maupun dari kenegerian-kenegerian di luar Bandar Aceh seperti dari Samalanga, Meureudu, Pidie dan sebagainya, berdatangan ke kota ini untuk ikut berperang melawan Belanda.

Maka tidak mengherankan jika penyerangan yang dilakukan Belanda pada tahun 1873 atas kerajaan Aceh khususnya kota Bandar Aceh mengalami kegagalan. Namun dalam penyerangan Belanda pada kesempatan lainnya (1874), mereka berhasil mematahkan pertahanan- pertahanan penting rakyat Aceh yang terdapat di Bandar Aceh dan sekitarnya. Dapat disebutkan misalnya Mesjid Raya Baitur Rachman, kuta Gonungan dan kuta Raja (dalam) dapat dikuasai oleh Belanda. Dengan demikian Belanda telah berhasil merebut pusat pertahanan rakyat Aceh dalam melawan mereka, yaitu kota Bandar Aceh Darussalam. Pusat pertahanan dalam melawan Belanda selanjutnya berpindah ke tempat-tempat lain dalam wilayah Propinsi Daerah Istimewa Aceh sekarang. Kota Bandar Aceh untuk seterusnya dijadikan oleh Belanda sebagai tempat kedudukan dalam mengamankan atau menundukkan Aceh secara keseluruhan.

Dan hasil ini berlangsung hingga tahun 1942, saat Belanda harus angkat kaki meninggalkan daerah ini untuk selama-lamanya. Dari uraian dan penggambaran di atas, jelas menunjukkan kepada kita bahwa kota Banda Aceh dalam perjalanan sejarahnya pernah sebagai pusat pertahanan dalam melawan kolonialisme dan imperialisme.

Sumber : http://meukeutop.blogspot.com/2011/06/peran-banda-aceh-sebagai-pusat.html

Artikel Terkait