Meugang, Bukti Rasa Berbagi

Seperti daerah lainnya di Indonesia, masyarakat Aceh pun mempunyai satu tradisi unik untuk menyambut hari raya Idul Adha, yakni tradisi Meugang

Tradisi ini sudah sangat melekat bagi masyarakat Aceh.

Tradisi meugang atau juga disebut meugang chek, telah turun-temurun dilaksanakan oleh masyarakat setempat. Kegiatan tradisi ini terdiri dari membeli, memasak dan makan daging bersama keluarga.

Meugang dilakukan selama dua hari menjelang datangnya hari perayaan. Selama dua hari itu, warga berbondong-bondong mendatangi pasar di seantero Aceh, untuk membeli daging sapi atau kerbau.

Dikutip dari wikipedia, Kamis (24/10) Meugang berasal dari kata makmeugang. Gang berarti pasar, dimana terdapat para penjual daging yang menggantung dagangannya di sepotong kayu. 

Berdasarkan catatan sejarah, tradisi meugang sudah dilakukan sejak masa Kerajaan Aceh Darussalam. Waktu itu, Sultan memotong hewan dalam jumlah banyak dan dagingnya dibagi-bagikan gratis kepada rakyat sebagai bentuk rasa syukur kemakmuran dan terima kasih kepada rakyatnya.

Filosofi lain, tradisi meugang sendiri merupakan salah satu bentuk rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberikan rezeki selama ini, serta bukti ketaatan manusia terhadap penciptanya.

Selain itu, tradisi Meugang juga sebagai bukti rasa berbagi terhadap sesama, dimana pada hari tersebut banyak dermawan membagi-bagikan daging untuk fakir miskin. Dengan begitu, semua warga meski berasal dari keluarga tak mampu bisa menikmati masakan daging pada hari istimewa tersebut.

Sudah jadi tradisi, setiap kepala rumah tangga membeli minimal dua atau tiga kilogram daging untuk disantap bersama seisi rumah. Pantang bagi satu keluarga kalau tidak memasak daging pada hari meugang, sementara dari rumah tetangga tercium aroma masakan kari daging, sehingga anak-anak dilarang keluar rumah untuk bermain pada hari meugang.[ghiboo.com]