Tampilkan postingan dengan label Masjid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masjid. Tampilkan semua postingan

Di Masjid ini bisa Menentramkan Jiwa yang Gelisah

Masjid Raya Baiturrahman, kebangaan masyarakat Aceh (Wahid Masrukan/ACI)

Pergi ke rumah ibadah, dianggap ampuh untuk menghilangkan stres. Traveler akan merasa dekat dengan Tuhan dan dapat sepuasnya mengadu dan berkeluh kesah kepada Sang Pencipta.

Berkunjung ke rumah ibadah merupakan wisata rohani. Dengan cara ini, gundah gulana dan pikiran stres akan reda dengan cipratan rohani. Tidak perlu membawa biaya yang banyak, rumah ibadah gratis dan terbuka untuk siapa saja.


Pergilah ke Banda Aceh, lepaskan segala kejenuhan dan pikiran was-was Anda di Masjid Raya Baiturrahman. Masjid ini terletak di pusat Kota Banda Aceh dan mudah untuk dikunjungi. Bangunannya yang besar dan megah akan menyambut Anda. Di dalamnya, suasana harmonis dan menyejukan jiwa sungguh terasa.

Masjid Raya Baiturrahman menjadi kebanggan masyarakat Aceh. Ukuran masjid ini mencapai 4 hektar luasnya. Cat putih, punya empat menara, dan satu menara induk, menjadikan masjid ini sebagai salah satu masjid terbesar di Asia Tenggara. Masjid Raya Baiturrahman mampu menampung hingga 9.000 jemaah. Lantai marmer di dalam masjidnya adalah buatan Italia. Benar-benar arsitektur masjid yang menawan.

Terlepas dari itu, masjid ini menjadi pusat ibadah masyarakat muslim di Banda Aceh. Alunan syahdu ayat-ayat Al Quran dan gerakan salat yang berirama akan Anda temukan di sini. Berpakaianlah yang sopan dan ambillah air wudhu, lalu mengadu dan mintalah petunjuk dari Tuhan yang Maha Kuasa.

Foto - Suasana Sejuk di Masjid Keude Sawang Aceh Utara


SAWANG - Inilah salah satu masjid di Kecamatan Sawang, Aceh Utara. Masjid ini berada di tikungan jalan Keude Sawang. Dikelilingi sawah dan kebun, suasana dalam masjid ini sangat sejuk dengan hembusan angin.
Tidak ada papan nama di halaman masjid ini. Menurut Camat Sawang, Ilyas, masjid tersebut ialah Masjid Darul Ulya, Keude Sawang. Di pekarangan masjid ini tersedia tempat wuduk dalam bentuk bak penampung air, juga sarana kran air. Ada pula toilet yang lumayan bersih. Berikut foto-foto Masjid Keude Sawang:







































IRMAN I.P | ATJEHPOSTcom

Kisah Ajaib di Masjid Baiturrahim Ulee Lheue


TSUNAMI yang terjadi di Aceh pada tahun 2004 silam merupakan peristiwa bersejarah paling kelam sepanjang abad 20. Bencana dahsyat itu telah menewaskan lebih dari 160.000 jiwa. Semua warga Aceh belum bisa melupakan peristiwa besar ini.

Banyak cerita nyata yang terselip bahkan tak bisa diterima logika. Satu dari sekian banyak cerita nyata itu adalah Masjid Baiturrahim. Keganasan tsunami tak mampu meluluhlantakkan Masjid yang terletak persis di bibir pantai Ulee Lheue itu.


Berdiri kokoh di bekas amukan tsunami, Masjid Baiturrahim, Ulee Lheu, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh, menyimpan sejarah panjang yang unik dan heroik.


Azan baru saja berkumandang, pertanda salat segera dimulai di Masjid Baiturrahim. Warga berbondong-bondong memasuki Rumah Allah untuk salat berjamaah. Usai salat, sebagian warga melanjutkan dengan beri’tikaf. Begitulah aktivitas Masjid ini setiap hari.


“Salat lima waktu secara berjamaah selalu kami gelar di sini. Bahkan pada hari terjadinya tsunami (26 Desember 2004), kami juga menggelar salat Zuhur berjamaah di sini,” tutur Subhan (31), pengurus Masjid Baiturrahim.


Masjid Baiturrahim menjadi saksi bisu keajaiban tsunami Aceh tujuh tahun silam. Saat ombak raksasa menghumbalang, masjid yang hanya terpaut puluhan meter dari laut itu, tetap tegak berdiri di Ulee Lheu. Sementara bangunan di sekelilingnya rata dengan tanah.


Ulee Lheu merupakan salah satu kawasan padat di Banda Aceh, dengan jumlah penduduk mencapai 6.000 jiwa. Saat tsunami menerjang, lebih dari separuh penduduknya menjadi korban. Empat dusun pun raib usai gelombang surut.


“Hari itu saya melihat Ulee Lheu antara percaya dan tidak. Seperti dalam mimpi. Semua rata dengan tanah, satu-satunya bangunan selamat hanya masjid ini,” kenang Subhan.
Masjid Baiturrahim, Banda Aceh (Foto: Okezone/Salman Mardira)Banyak warga menyelamatkan diri dengan menyesaki lantai satu dan dua masjid ketika tsunami melanda. Maut mengintai, mereka satu-satu diseret arus ke luar dan hilang ditelan pekatnya air bah. Hanya sembilan orang yang berhasil naik ke atap selamat.Menurut korban selamat, ada tiga gelombang tsunami menerjang Masjid baiturrahim pascagempa berkekuatan 9 skala richter itu. Setiap gelombang selalu pecah saat menimpa masjid, kemudian bergulung-gulung melumat bangunan-bangunan yang ada di sekelilingnya. Tinggi gelombang mencapai atap masjid atau lebih dari 10 meter.

“Kondisi air dalam masjid saat itu begitu tenang, orang bisa berenang antara tiang ini ke tiang itu, sementara di luar bergulung-gulung sangat ganas,” ujar Subhan.Ketika gelombang surut, cerita dia, masjid bersih dari jenazah manusia. Kecuali hanya jasad seorang perempuan tua yang ditemukan di pojok bangunan. Alquran berserakan di lantai dalam kondisi terbuka dan utuh di dalam masjid, tak ada yang dibawa arus.


Sementara beberapa bangunan masjid, samping dan belakang, rusak sekira 20 persen. Meski bagunannya tanpa rangka besi atau tulang penyangga, masjid ini tetap berdiri utuh di tengah “ladang pembantaian”. Orang-orang menilai, Allah telah memperlihatkan kuasanya di Masjid Baiturrahim. Subhanallah..


Sumber : http://misteri.lintas.me/go/atjehcyber.net/kisah-ajaib-di-masjid-baiturrahim-ulee-lheue/

Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh (Bagian II)

Lanjutan dari Bagian I
Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh (wiki)

Di Masa Kemerdekaan

Pada tahun 1957 di masa pemerintahan presiden pertama Republik Indonesia,Ir. Soekarno, masjid ini kembali berubah. Dua kubah baru dibuat di bagian belakang. Dibangun pula dua menara dengan jumlah tiang mencapai 280 buah. Karena perluasan ini, sejumlah toko di pasar Aceh yang berada di sekeliling mesjid tergusur. Peletakan batu pertama dilakukan oleh menteri agama KH Muhammad Ilyas, bersama gubernur Aceh Ali Hasymi. Membutuhkan waktu empat tahun untuk menyelesaikan proses pembangunan tersebut.

Renovasi masjid yang dilakukan pemerintah Soekarno terjadi pada masa Gerakan Darul Islam pimpinan Daud Beureueh. Sehingga banyak kalangan yang mengaitkan pembangunan itu sebagai usaha pemerintah meredam pemberontakan itu. Lima kubah juga dianggap mewakili Pancasila yang digagas Ir. Soekarno. Pemberontakan tersebut berahir dengan perdamaian antara pemerintah dengan Daud Beureueh.

Masjid Raya Baiturrahman (foto Ben Beiske  di Flickr)
Renovasi tahun 1980-1982 dilakukan dalam rangka persiapan Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional. Masjid diperbaiki dan direnovasi dengan penambahan ornamen ornamen di bagian dalam masjid, dan penambahan plaza di bagian depan masjid. Pada kurun 1992-1995, masjid kembali dipugar dan diperluas hingga memiliki tujuh buah kubah dan lima menara. Setelah dipugar, masjid itu mampu menampung 10.000 hingga 13.000 jemaah. Halaman masjid juga diperluas hingga menjadi 3,3 hektar.

Gempa dan Tsunami di bulan Desember 2004, masjid secara struktural tidak mengalami kerusakan berarti, akibat gempa terjadi keretakan-keretakan pada dak, sehingga kalau hujan besar terjadi kebocoran. Kerusakan juga terjadi di ruang perpustakaan. Ribuan buku koleksi perpustakaan hampir sebagian besar hanyut atau terendam lumpur. beberapa buku yang hanyut ke halaman belakang masjid, sempat diselamatkan. Gempa juga mengakibatkan pondasi mesjid turun pada beberapa tempat. Namun tidak begitu terlihat.

Gerbang & Menara Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh (Panoramio)
Kerusakan parah hanya terjadi pada menara di halaman masjid, yang dikenal dengan sebutan tugu modal. Tugu modal merupakan sebuah monumen yang menunjukkan Aceh pernah dinyatakan sebagai daerah modal dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Paska tsunami, setelah dibersihakn tanggal 7 Januari 2005 masjid ini kembali difungsikan dengan menggelar sholat jum’at untuk pertama kalinya. Kerusakan-kerusakan Masjid Baiturrahman diperbaiki. Sebagian dilakukan lewat sumbangan masyarakat tak lama setelah bencana. Perbaikan besar-besaran dilakukan lewat sumbangan lembaga donor, di antaranya Saudi Charity Campaign yang  juga membuat fasilitas umum seperti tempat wudhu di sisi utara, penataan lansekap di sekitar bangunan, kolam, dan kolam itu juga sebagai monumen. Semua perbaikan dan renovasi itu menghabiskan dana Rp. 20 milyar dan selasai pada 15 Januari 2008.

Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh dari Menara Modal di depan Masjid (aci.detik) 
Arsitektur dan Konservasi keaslian Masjid

Semua pemugaran paska tsunami seperti disebutkan di atasi, dilakukan dengan mempertahankan arsitektur dan bentuk ornamen lama pada masa Belanda. Salah satu tiang peninggalan Belanda, ketika masjid masih berkubah satu, masih dipertahankan. Arsitektur masjid ini bercorak eklektik, yaitu gabungan berbagai unsur dan model terbaik dari berbagai negeri.

Misalnya tampak pada tiga pintu bukaan serta jendela yang bisa berfungsi sebagai pintu masuk. Jendela ini dibentuk oleh empat tiang langsing silindris model arsitektur Mooris (Maroko), yang banyak terdapat di masjid-masjid Afrika Utara dan Spanyol. Sementara bagian tengah ruang shalat berbentuk bujur sangkar, diatapi kubah utama yang bercorak bawang. Pucuknya dihiasi kubah, mirip masjid-masjid kuno di India.

Jendela Besar Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh (aci.detik)
Pada jendela yang sekaligus menjadi pintu terdapat ukiran yang tampak kokoh dan indah. Untuk menambah kemegahan dan keindahan, masjid ini ditempatkan di tengah lapangan terbuka, sehingga semua bagian masjid jelas terlihat juga dari kejauhan.

Fasilitas Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh


Masjid Raya Baiturrahman memiliki lembaga pendidikan formal, yaitu madrasah Tsanawiyah Darusysyari’ah dan Madrasah Aliyah Darusysyari’ah dengan diasuh oleh 28 guru negeri dan swasta. Madrasah ini telah banyak menghasilkan sarjana, baik perguruan tinggi, seperti IAIN Ar-Raniry, Universitas Syah Kuala, Perguruan Tinggi Swasta yang berada di Banda Aceh maupun diluar Propinsi Aceh

Mihrab dan Mimbar Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh
Lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam bidang finansilal, yaitu Baitul Qiradh Baiturrahman Banda Aceh, dalam upaya membantu masyarakat ekonomi lemah yang dikelola oleh seorang Direktur dengan 5 (lima) orang anggota. Dengan perkembanganya Baitul Qiradh kini memiliki 3 cabang asset 4 Milyar rupiah.

Radio Baiturrahman, setiap waktu menyiarkan kegiatan Masjid, berupa pelaksanaan shalat lima waktu, menyiarkan Halaqah Maghrib dan Kuliah Shubuh. Radio Baiturrahman dapat menjangkau sebagian wilayah aceh terutama kota banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Barat dan Kabupaten Pidie. Radio Baiturrahman juga menyiarkan bergagai informasi melalui ceramah, dialog, dan diskusi juga menghibur masyarakat dengan nuansa lagu-lagu islami disamping menyiarkan siaran Nasional.

Keindahan Masjid Raya Baiturrahman
Banda Aceh, di abadikan dalam sebuah
perangko Republik Indonesia tahun 2002
“Tabloid Gema Baiturrahman” yang dikeluarkan pada setiap hari jum’at dengan menyajikan khutbah Ju’at dan tulisan yang bernuansa Islami. Media tersebut disebarkan kepada jama’ah sebelum shalat jum’at di Masjid Raya Baiturrahman bahkan sebagian disampaikan ke sejumlah masjid yang berada di kota Banda Aceh, dan Masjid-masjid Aceh.

Membuka perguruan tinggi “Dayah Manyang” pada pagi hari yang pesertanya terdiri dari orang tua khususnya kaum laki-laki yang diasuh oleh para ulama pasantren modrn dan alumni madinah. Kegiatan ini dilaksanakan pada setiap hari rabu dan jum’at dari pukul 08.00-11.30 Wib di ruang aula belakang Masjid Raya Baiturrahman

Masjid Raya baiturrahman 360 derajat



Foto Foto Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh

Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh dari Menara Modal di depan Masjid (aci.detik)
 foto dari rakyataceh.com
foto dari livinginindonesiaforum
foto dari livinginindonesiaforum

Video Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh

Masjid Raya Banda Aceh sesaat sebelum azan magrib


Sedangkan video yang berikut ini suasana Masjid Raya Baiturrahman dalam sebuah video klip penyanyi legeda Melayu, P. Ramli.



Catatan : sebuah replika Masjid Baiturrahman Banda Aceh dibangun oleh pemerintah Aceh di Bantul, provinsi Yogyakarta, sebagai bentuk solidaritas dari pemerintah dan rakyat Aceh bagi penderitaan rakyat Yogya yang terkena gempa tahun 2006. Baca di sini Kembaran Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh di Yogyakarta

Sumber : bujangmasjid.blogspot.com

Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh (Bagian I)

Masjid Raya Baiturrahman yang kini berdiri adalah masjid buatan Belanda tahun 1879 
dan diresmikan 27 Desember 1883. Sebagai pengganti masjid asli kesultanan Aceh
 yang dibakar Belanda tahun 1873 (foto dari panoramio)


Masjid Raya Baiturrahman di Kutaraja, pusat kota Banda Aceh, sejak lama menjadi ikon provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Menelusuri sejarah masjid yang berada di jantung kota Banda Aceh ini, ibarat melihat perjalanan panjang bumi Serambi Mekah. Mulai masa Kesultanan Aceh, penjajahan Belanda hingga pahit manis nya bergabung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Masjid yang tetap berdiri kokoh dari hantaman dua bencana kemanusiaan yang maha dahsyat pernah terjadi di muka bumi ini, Bencana letusan Gunung Krakatau tua yang meggetarkan Nusantara dan abunya menutupi angkasa nusantara dengan dampak nya menyebar ke seantero bumi, hingga bencana Tsunami yang meninggalkan nestapa yang luar biasa bagi negeri ini terutama bagi keluarga korban yang selamat dari bencana dahsyat tersebut.

Lokasi Masjid Raya Banda Aceh


Lihat Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh di peta yang lebih besar

Saksi Perjalanan Sejarah

Masjid Raya Baiturrahman sejak berdirinya hingga kini pernah mengalami sekaligus menjadi saksi bisu sejarah yang teramat panjang bagi kegigihan rakyat Aceh. Sejak didirikan oleh Sultan Iskandar Muda lalu dihancurkan oleh Pasukan “kafe” Belanda namun kemudian Belanda harus membayar teramat mahal atas tindakan brutal itu dengan tewasnya Jendral Kohler di halaman Masjid ini oleh seorang penembak jitu Aceh.  Rakyat Aceh pun kemudian mengharamkan jazad Jenderal Kohlel dimakamkan di tanah Aceh. Ribuan tentara Belanda berkalang tanah dan sampai Republik ini merdeka di tanggal 17 Agustus 1945, Belanda tak pernah benar benar berkuasa di tanah Aceh.

Prasati Kohler, diletakkan sebagai peringatan di lokasi tewasnya
kohler di halaman Masjid Raya Banda Aceh.
Masjid ini juga menjadi saksi kerelaan dan ketulusan rakyat, ulama dan umara Aceh mendukung perjuangan Kemerdekaan Indonesia ketika rakyat Aceh bahu membahu menyumbangkan harta mereka berupa emas, perhiasan, uang dan benda berharga mereka demi menyokong pemerintahan RI yang baru berdiri. Amal yang tulus itu yang kemudian menjadi cikal bakal pendirian Maskapai penerbangan Garuda Indonesia dengan pesawat Seulawah (RI-1) sebagai pesawat pertama yang dibeli dari sumbangan rakyat Aceh bagi negeri ini.

Pemberontakan Daud Berueh terhadap pemerintah RI berahir damai juga di masjid ini. Proklamator dan Presiden pertama RI, Bung Karno, tak sekali dua datang berkunjung ke Masjid ini dimasa beliau berkuasa. Presiden presiden penerus beliau pun tak absen datang dan bersilaturrahmi dengan rakyat Aceh di masjid ini. 


Masjid Raya Baiturrahman diabadikan dalam Prangko RI
tahun 1990
Masjid ini juga menjadi saksi betapa getirnya penderitaan rakyat Aceh sebagai dampak “Daerah Operasi Militer (DOM)” yang dilancarkan rezim Order Baru selama betahun tahun untuk meredam pemberontakan “Gerakan Aceh Merdeka (GAM)”. Kala itu Masjid ini menjadi tempat warga Aceh mengadukan penderitaan mereka yang teramat perih akibat konflik berkepanjangan itu kepada Tuhan semesta alam.

Ketika bencana dahsyat tsunami meluluhlantakkan Aceh Desember 2004, kita semua seakan di tampar dengan keras untuk sebuah kesadaran bahwa seluruh rakyat Aceh adalah saudara kita sendiri. Bencana dahsyat ini juga yang membungkam para pakar yang sama sekali tak mampu memberikan penjelasan logis bagaimana dan mengapa air bah tsunami tersibak ketika berhadapan dengan masjid ini dan menyelamatkan begitu banyak nyawa yang berlindung dan menyelamatkan diri di masjid ini. Rekaman detik detik tsunami melewati Masjid Raya Baiturrahman dapat dilihat di video di bagian bawah artikel ini.


Kerusakan Parah disekitar Masjid akibat tsunami tak berpengaruh
banyak pada masjid Raya Baiturrahman.
Paska penandatanganan penjanjian damai antara pemerintah RI dengan GAM di Helsinki (Finlandia) Masjid ini pula yang menjadi saksi ketika Aceh menggelar pemilihan kepala daerah secara langsung untuk perama kalinya. Uji membaca Al Quran bagi para calon Gubernur digelar di masjid ini.

Peristiwa penting terahir yang terjadi di masjid tua ini ketika Tengku Hasan Tiro, Wali Nangroe Aceh yang selama puluhan tahun hidup di Swedia kembali ke pangkuan bumi pertiwi dan langsung menuju ke masjid bersejarah ini. 3 Juni 2010 yang lalu ketika beliau wafat, Masjid Raya Baiturrahman yang menjadi tempat jenazah beliau disholatkan oleh ribuan rakyat Aceh sebelum dimakamkan bersebelahan dengan pusara kakek beliau yang tak lain adalah Pahlawan Nasional Tengku Cik Di Tiro.

Rakyat Aceh tumpah ruah ke Masjid Raya Baiturrahman
menyambut kembalinya Hasan Tiro Ke Tanah Air
Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh ini juga menjadi tempat rakyat Aceh berkumpul memaknai malam pergantian tahun syamsiah dengan berzikir bersama para ulama dan umara. Seperti yang terjadi pada malam pergantian tahun dari 2010 ke tahun 2011 yang baru lalu. Masjid ini dipadati jemaah yang bersama sama berzikir memanjatkan syukur dan doa kepada Allah Subhanuwata’ala.

Zikir tahun baru 2011 di Masjid Raya Banda Aceh (serambi news.com)

Sejarah Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh  

Ada dua versi sejarah Masjid Raya Baiturrahman. Ada yang menyebut Sultan Alauddin Johan Mahmud Syah membangun masjid ini pada abad ke 13. Namun versi lain menyatakan Masjid Baiturahman didirikan pada abad 17, pada masa kejayaan pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Namun yang pasti bahwa nama Baiturahman, diberikan oleh Sultan Iskandar Muda. Pada masa itu masjid ini menjadi salah satu pusat pengembangan ajaran Islam di wilayah kesultanan Aceh Darussalam.

Masa Penjajahan Belanda

Maket masjid  asli Masjid Baiturrahaman di musium Aceh, berupa masjid 
tradisional Indonesia dengan atap limat bersusun (archnet)
Bangunan sekarang bukan lagi bangunan zaman kesultanan. Pada masa kesultanan, gaya arsitektur Baiturahman mirip masjid-masjid tua di Pulau Jawa. Bangunan kayu dengan atap segi empat dan bertingkat. Masjid pertama itu dibakar Belanda tahun 1873 ketika masjid tersebut dijadikan pusat kekuatan tentara Aceh melawan Belanda. Dan pada tahun 1873 itu terjadi pertempuran besar antara tentara Aceh dengan tentara Belanda yang menewaskan perwira tinggi Belanda, Mayor Jenderal Kohler. Pertempuran di masjid ini dikenang lewat pembangunan prasasti Kohler di bawah pohon Geulempang di halaman masjid, di dekat salah satu gerbang masjid. Pembakaran itu menambah kemarahan rakyat dan tentara Aceh kepada Belanda. Kemudian menuntut dibikin baru. Empat tahun kemudian, mesjid yang baru dibangun dengan satu kubah, berkonstruksi beton.

Masjid Raya Baiturrahman sekitar tahun 1910-30 (wiki)
Peletakan batu pertama pembangunan kembali masjid dilakukan tahun 1879 oleh Tengku Malikul Adil, disaksikan oleh Gubernur Militer Hindia Belanda diAceh saat itu, G. J. van der Heijden. Pembangunan mesjid ini dirancang arsitek Belanda keturunan Italia, De Brun. Bahan bangunan masjid sebagian didatangkan dari Penang - Malaysia, batu marmer dari Negeri Belanda, batu pualam untuk tangga dan lantai dari Cina, besi untuk jendela dari Belgia, kayu dari Myanmar dan tiang-tiang mesjid dari Surabaya. Pembangunan kembali masjid dengan satu kubah, selesai dan diresmikan pada 27 Desember 1883.Pada masa residen Y. Jongejans berkuasa di Aceh masjid ini kembali diperluas.

Seiring dengan semakin bertambahnya penduduk Banda Aceh dan untuk meredakan kemarahan rakyat Aceh maka masjid diperluas lagi kiri kanannya pada tiga tahun kemudian. Ditambahlah dua kubah lagi di atasnya sehingga menjadi tiga kubah. Belanda kemudian meninggalkan Aceh. Bumi Nangroe Aceh Darussalam bergabung dengan Republik Indonesia.

Kemegahan masjid Raya Baiturrahman masih kekar hingga kini (panoramio)

Video Detik Detik Tsunami di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh

Ketika Tsunami melanda Aceh Masjid Raya Baiturrahaman menjadi salah satu dari masjid yang selamat dari bencana luar biasa itu. dalam video ini kita melihat begitu banyak nyawa yang selamat karena berlindung di masjid tua ini dari dasyat nya air bah tsunami.




Foto Foto Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh



Masjid Raya Baiturrahaman dari menara masjid (Panoramio)


Aerial view Masjid Raya Baiturrahaman (Panoramio)
Masjid Raya Baiturrahman dan daerah sekitarnya, dari satelit QUICKBIRD Juni 2004. 
Tampak jelas keindahannya sebelum gempa dan tsunami
Kerusakan yang  parah di sekitar kompleks Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh
 yang memerlukan rehabilitasi cukup lama akibat gempa dan tsunami.
Foto satelit QUICKBIRD ini diambil pada tanggal 28 Desember 2004.

Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh (Panoramio)

Lanjutkan Membaca ke Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh (Bagian II)

Sumber : bujangmasjid.blogspot.com