Tampilkan postingan dengan label Aceh Singkil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aceh Singkil. Tampilkan semua postingan

Foto - Pesona Pulau Bangkaru di Aceh Singkil


PULAU Bangkaru yang terletak Kecamatan Pulau Banyak Barat merupakan salah satu tempat yang paling indah di kepulauan tersebut. Pulau ini menjadi habitat penyu hijau, dan sering dikunjungi turis-turis baik turis lokal maupun macan negara.
Ciri khas laut di Bangkaru adalah ombaknya yang tinggi, dan airnya yang berwarna hijau bening, namun menjadi daya pikat tersendiri bagi para pencinta laut. Berikut foto-fotonya:






















ABDUL GHAFUR | Foto : ABDUL GHAFUR | ATJEHPOSTcom

Foto - Eloknya Sungai Singkil


SINGKIL – Kabupaten Aceh Singkil memiliki pesona alam yang indah, salah satunya adalah keberadaan Sungai Singkil.
Udara yang cerah membuat perjalanan terasa menyenangkan. Saat melewati rute sungai, Anda akan melihat indahnya pohon-pohon berdaun rimbun. Selain itu terdengar juga suara kicau burung yang merdu, saat beradu dengan suara getaran perahu yang berasal dari baling-baling mesin, memberikan nuansa perjalanan yang berbeda.
Berikut foto-fotonya:
































ABDUL GHAFUR | Foto : ABDUL GHAFUR | ATJEHPOSTcom

Penginapan Apung di Kepulauan Singkil


SINGKIL - Keindahan ekowisata Aceh Singkil mampu menghasilkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) untuk menggenjot perekonomian. Banyak lokasi-lokasi yang menyajikan panorama indah di daerah ini.
Salah satunya seperti rumah apung di atas laut yang ada di Kepulauan Banyak Aceh Singkil.
Rumah ini diperuntukkan untuk wisatawan yang ingin menginap sembari melihat karang dan ikan dari lantai kamar tembus pandang.[](bna)









ABDUL GHAFUR | Foto : ABDUL GHAFUR | ATJEHPOSTcom

2 Makam Syekh Abdurrauf As Singkili



SINGKIL - Syekh Abdurauf As Singkili merupakan salah satu ulama besar yang berasal dari Singkil. Namanya kini dilakapkan menjadi salah satu universitas di Propinsi Aceh yaitu Universitas Syiah Kuala atau sering disebut Unsyiah.
Universitas tersebut berada di pusat kota Propinsi Aceh yaitu Banda Aceh. Syekh Abdurrauf As Singkili memiliki dua makam. Satu berada di Syiah Kuala, Banda Aceh sementara yang lainnya ada di Singkil.
Di Singkil, lokasi makamnya tepat berada di bibir sungai Singkil di Desa Kilangan. Banyak para peziarah yang mendatangi makam ini. Baik dari Aceh maupun peziarah dari luar daerah seperti dari Sumatera Barat.
Sementara di Banda Aceh, lokasi makam Syiah Kuala juga berada di bibir pantai Selat Malaka di Gampong Syiah Kuala. Seperti halnya di Singkil, lokasi makam ini juga banyak dikunjungi peziarah. Bahkan, lokasi makam salah satu ulama besar Aceh ini dijadikan wisata religi di tanah rencong oleh pemerintah daerah.
Syekh Abdurrauf As Singkili merupakan ulama besar yang ikut mewarnai sejarah mistik Islam di nusantara. Mistik Islam itu ia ajarkan melalui Tarekat Syattariyah.
Tarekat Syatariyah sendiri mulai muncul di India pada abad 15. Nama Syattariyah dinisbahkan kepada tokoh yang mempopulerkan dan berjasa mengembangkannya, yaitu Abdullah Al-Syattar.
Tarekat Syattariyah pernah menduduki posisi penting lantaran tarekat ini merupakan salah satu tarekat yang besar pengaruhnya di dunia Islam. Di Indonesia, tarekat ini lalu dikembangkan oleh Syekh Abdurrauf.
Dia dilahirkan di Singkil pada tahun 1615 Masehi atau 1024 Hijriyah. Syekh Abdurrauf merupakan keturunan Persia yang datang ke Kesultanan Samudera Pasai pada akhir abad ke 13. Nama Singkil kemudian dinisbatkan pada daerah kelahirannya.
Beberapa literatur menyebutkan ayah Singkel adalah kakak laki-laki dari Hamzah Al-Fansuri, kendati tidak cukup bukti yang meyakinkan bahwa ia adalah keponakan Al-Fansuri. Nama yang terakhir ini merupakan seorang ulama yang juga filsuf yang terkenal dengan pantheismenya.
Namun, ada pula yang menyatakan bahwa ayah Singkel yaitu Syeikh 'Ali adalah seorang Arab yang telah mengawini wanita setempat dari Fansur (Barus), sebuah kota pelabuhan tua di Sumatera Barat. Keluarga itu lantas menetap di sana.
Pendidikan pertama Singkel didapatkan di tempat kelahirannya, Singkil, terutama dari ayahnya yang merupakan seorang alim. Ayahnya juga mempunyai pesantren. Singkil pun menimba ilmu di Fansur, karena ketika itu negeri ini menjadi salah satu pusat Islam penting di nusantara serta merupakan titik hubung antara orang Melayu dan kaum Muslim dari Asia Barat dan Asia Selatan.
Beberapa tahun kemudian, Singkil berangkat ke Banda Aceh, ibukota kesultanan Aceh dan belajar kepada Syams al-Din al-Samatrani, seorang ulama pengusung Wujudiyyah.
Sejarah perjalanan karier Singkil diawali saat dia menginjakkan kaki di jazirah Arab pada 1052 H/1642 M.
Tercatat sekitar 19 guru yang pernah mengajarinya dengan berbagai disiplin ilmu Islam di samping sebanyak 27 ulama terkemuka lainnya. Tempat belajarnya tersebar di sejumlah kota yang berada di sepanjang rute haji, mulai dari Dhuha (Doha) di wilayah Teluk Persia, Yaman, Jeddah, Makkah serta Madinah. Studi keislamannya dimulai di Doha, Qatar, dengan berguru pada seorang ulama besar, Abd Al-Qadir al Mawrir.
Sepanjang hidupnya, tercatat Singkel sudah menggarap sekitar 21 karya tulis yang terdiri dari 1 kitab tafsir, 2 kitab hadits, 3 kitab fiqih dan selebihnya kitab ilmu tasawuf. Bahkan tercatat kitab tafsirnya berjudul Turjuman al-Mustafid (Terjemah Pemberi Faedah) adalah kitab tafsir pertama yang dihasilkan di Indonesia dan berbahasa Melayu.
Dia juga menulis sebuah kitab fiqih berjudul Mi'rat at-Tullab fi Tahsil Ahkam asy-Syari'yyah li al Malik al-Wahhab (Cermin bagi Penuntut Ilmu Fiqih pada Memudahkan Mengenal Hukum Syara' Allah) yang ditulis atas perintah Sultanah.
Sementara di bidang tasawuf, karyanya yakni Umdat al-Muhtajin (Tiang Orang-Orang yang Memerlukan), Kifayat al-Muhtajin (Pencukup Para Pengemban Hajat), Daqaiq al-Huruf (Detail-Detail Huruf) serta Bayan Tajalli (Keterangan Tentang Tajali).
Namun, di antara sekian banyak karyanya, terdapat salah satu yang dianggap penting bagi kemajuan Islam di nusantara yaitu kitab tafsir berjudul Tarjuman al-Mustafid. Ditulis ketika Singkel masih berada di Aceh, kitab ini telah beredar luas di kawasan Melayu-Indonesia bahkan hingga ke luar negeri.
Diyakini oleh banyak kalangan, tafsir ini telah banyak memberikan petunjuk sejarah keilmuan Islam di Melayu. Di samping pula kitab tersebut berhasil memberikan sumbangan berharga bagi telaah tafsir al-quran dan memajukan pemahaman lebih baik terhadap ajaran-ajaran Islam.
Pada bagian lain, pendapat Singkel terhadap paham wahdadul wujud dipaparkannya dalam karya Bayyan Tajali. Karya ini juga merupakan usahanya untuk merumuskan keyakinan pada ajaran Islam. Dia berujar bahwa betapapun yakin seorang hamba kepada Allah, khalik dan mahluk tetap memiliki arti tersendiri.
Sumber : http://atjehpost.com/read/2013/01/13/35229/0/39/2-Makam-Syekh-Abdurrauf-As-Singkili

Ekowisata Hutan Rawa Kuala Baru Singkil Tawarkan Pesona Alam yang Sejuk



BAGI Anda yang suka dengan objek wisata pantai, Kabupaten Singkil adalah tempat yang patut Anda kunjungi. Di Kecamatan Kuala Baru terdapat pantai dengan hamparan pasir putih yang indah dan air lautnya yang berwarna biru. Ditambah lagi dengan jajaran pohon cemara yang terdapat di pinggir pantai.
Kecamatan ini dikelilingi oleh laut dan muara sungai. Objek wisata alam di kecamatan ini sangat indah dan mempesona.
Selain wisata pantai, Kuala Baru juga memiliki ekowisata hutan rawa yang sangat menarik untuk dinikmati. Untuk menikmati kawasan ini bisa dilakukan dengan mengarungi muara yang terhubung ke Sungai Singkil.
Untuk mengarungi rawa tersebut bisa dengan naik speedboat atau perahu mesin tempel. Jika perjalanan dimulai dari Singkil, kita bisa naik perahu yang sering ditambat di sana dan pemiliknya siap mengantarkan siapa saja yang hendak menyeberangi Sungai Singkil menuju ke Kuala Baru.
Dengan hanya Rp 25 ribu saja, kita sudah bisa menempuh perjalanan melewati muara yang dikelilingi hutan rawa selama 30 menit. Wartawan ATJEHPOSTcom yang pernah melintasi kawasan tersebut bersama tim Badan Konservasi Sumber Daya Alam Aceh Singkil beberapa tahun silam, merasa sangat nyaman dengan lokasi sungai.
Suasananya sepi, hanya suara mesin perahu yang menderu. Di kawasan itu memang tidak banyak perahu yang hilir mudik. Kondisi alamnya juga masih sejuk dan terlindung dari cahaya matahari. Menjadikan petualangan menjadi semakin nyaman.
Amatan ATJEHPOSTcom kala itu, di sekitar rawa terdapat banyak kera yang sedang asyik mencari makanan. Mereka hinggap dari satu pohon ke pohon lainnya. Suara kicau burung menambah syahdu perjalanan tersebut. Burung-burung itu memiliki warna yang beragam. Menambah keindahan alam di sekitar rawa Kuala Baru.
Salah seorang staff BKSDA Aceh Singkil mengatakan, selain kera dan burung, rawa tersebut menjadi habitat beberapa hewan lain seperti hewan predator jenis buaya. Namun buaya-buaya itu katanya tidak keluar dari tempatnya sehingga tidak mengganggu.
Arus air di muara tersebut juga sangat tenang. Melintasi kawasan rawa di Singkil memang mengasyikkan.| atjehpost.com

Pulau Bengkaru, pulau seribu penyu


Kepulauan Banyak adalah satu kecamatan di Kabupaten Aceh Singkil. Untuk mencapai Pulau Bengkaru, setiap orang harus menuju Singkil terlebih dahulu. Perjalanan dari Medan bisa ditempuh dengan angkutan umum sekitar 8 jam. Ada juga Nusa Buana Air yang menyediakan penerbangan ke Singkil, tapi hanya 2 kali seminggu, Sabtu dan Senin pagi. Dan setiap pengunjung diwajibkan mengkonfirmasi terlebih dahulu ke Yayasan Pulau Banyak (YPB).
Tahun 2006, Maggie Muurmans, seorang ahli penyu dari Belanda dan Mahmud Bengkaru menghidupkan kembali Yayasan Pulau Banyak yang sempat mati suri akibat tsunami dan konflik berkepanjangan di bumi Aceh Darusalam. Dengan menggaet beberapa rekan kerja baru dan didukung LSM Yayasan Eko Lestari (YEL) yang berbasis di Medan dan Paneco –salah satu LSM berbasis di Swiss, mereka menggiatkan kembali kegiatan konservasi penyu dan ekowisata di pulau Bengkaru.

Tujuannya tidak lain untuk menjaga dan melestarikan kehidupan penyu hijau yang diambang kepunahan akibat terjaring nelayan, perdagangan telur penyu, para pengkonsumsi daging penyu, dan orang-orang yang menjadikan penyu sebagai hiasan/cinderamata. Belum lagi ulah manusia yang membuang sampah ke laut seperti gabus atau plastik yang mengakibatkan kematian bila termakan oleh tukik (anak penyu).

Untuk mencegah kepunahan tersebutlah, organisasi ini memberikan penyuluhan kepada masyarakat, mengadakan workshop, pertemuan dengan tokoh masyarakat hingga membuat program pendidikan di sekolah untuk melestarikan sumber daya alam sekitar. Selain itu mereka juga menyediakan tempat bagi mahasiswa lokal maupun internasional untuk melakukan penelitian di pulau tersebut sebagai sukarelawan.

Masuk ke pulau konservasi penyu ini dikenakan biaya karena termasuk wilayah konservasi. Biayanya biasanya per paket. Termasuk dalam paket ini menginap 3 hari 2 malam, makan 3 kali sehari, dan transportasi antar jemput. Kesempatan 3 hari 2 malam tersebut diberikan agar mendapat kesempatan melakukan patroli penyu di malam hari.

Penyu yang singgah di pulau ini biasanya penyu hijau, tapi bila sedang musim, penyu sisik dan penyu belimbing, yang disebut 'nenek moyangnya penyu' juga kerap mampir. Satu keberuntungan yang luar biasa bila Anda bisa bertemu dengan penyu belimbing ini.

Biasanya, patroli dilakukan setelah makan malam, sekitar pukul 8 malam. Sepatu, senter, dan jaket merupakan peralatan yang  wajib dibawa. Dan yang tidak boleh lupa, snack dan air minum tentunya. Kalau sampai lupa membawanya, dijamin waktu menunggu terasa semakin lama karena yang bisa dilakukan disana hanyalah menunggu dan menunggu.

Saat tiba di Pantai Penyu/pantai Amandangan pun senter harus dimatikan, karena penyu sangat sensitif terhadap cahaya. Mereka bisa mengurungkan niatnya untuk mampir jika melihat cahaya dari arah pantai. Kalau cukup beruntung, kita bisa melihat hingga 5 ekor penyu hijau dari 7 penyu yang singgah. Jika sedang musim (November- Maret) patroli bisa dilakukan 2 shift hingga pagi.

Di sini pula petugas berkesempatan memberi tagging. Tag ini bertuliskan nomor sehingga memudahkan pendataan apabila penyu ini kembali ke pantai Amandangan. Tagging ini juga memberi informasi batas terendah dari populasinya. Informasi ini akan menolong melindungi penyu. Selain diberi tagging, penyu ini juga didata, diukur panjang lebarnya, penyu yang ke berapa singgah ke pantai, apa yang ia lakukan, dan jumlah telurnya. Bagi penyu belimbing, micro chip diimplant agar memudahkan pengidentifikasian di negara-negara lain yang disinggahinya seperti Madagaskar dan India.

Seekor penyu hijau bisa mencapai panjang 80-90 cm dengan lebar 70-80 cm. Lain halnya dengan penyu belimbing yang bisa mencapai panjang hampir 2 meter. Penyu dalam 1 periode ( 2 minggu) bisa singgah di pantai 4 sampai 6 kali. Tidak di setiap persinggahan penyu-penyu ini bertelur, biasa hanya 2 kali persinggahan. Penyu bertelur setelah usia 25 tahun dan sekali bertelur bisa menelurkan 100-150 butir telur. Dari sekian banyak telur yang menetas, tidak semua bertahan hidup. Biasa hanya 2-3 ekor yang bertahan.

Banyak faktor yang mengakibatkan tukik- tukik ini tidak bisa bertahan. Faktor tangan manusia, faktor alam, seperti biawak yang memakan tukik ketika berjalan menuju pantai, kepiting yang membunuh di pinggiran pantai, ikan kerapu dan ikan hiu yang menjadi predator di laut, dan juga faktor alam menjadi penyebabnya. Nah, fungsi petugas YPB inilah menjaga tukik-tukik yang menuju ke pantai dari serangan biawak, elang ataupun kepiting.

Biasanya tukik menetas di pagi hari. Di Bengkaru ini Anda bisa melihat tukik-tukik keluar dari sarangnya, berjalan berlomba menuju laut lepas. Menariknya, anak- anak penyu ini adalah penyu- penyu liar, bukan dari penangkaran. Sungguh pemandangan luar biasa.
Sumber : http://waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=83675:pulau-bengkaru-pulau-seribu-penyu&catid=66:pariwisata&Itemid=50

Meninjau Aceh Paling Sudut Sumatera; Aceh Singkil


Permulaan Abad XVI adalah masa puncak kejayaan Kera­jaan Aceh. Aceh yang masa itu dipimpin Sultan Iskandar Muda (1607-1608) memiliki luas wilayah meliputi Pantai Barat Pulau Sumatera di Bengkulu hingga Pantai Timur Su­matera, termasuk wilayah Riau. Pada masa itu tersebutlah kerajaan kecil di Aceh, yaitu Aceh Singkil.

Adanya kerajaan kecil Aceh Singkil dapat dibuktikan dari pen­inggalan sejarah dan cerita rakyat. Peninggalan sejarah dimaksud sep­erti sejumlah situs sejarah, kuburan pahlawan, peralatan makan, per­lengkapan pertanian, adat istiadat. Hal ini menunjukkan adanya struktur masyarakat berlapis yang membuk­tikan adanya raja dan masyarakat biasa.

Dari cerita rakyat, tersebut pula adanya Syech Abdul Rauf As-Singkili dari daerah ini. Kepadanya tempat masyarakat kala itu merujuk hukum agama atau hukum syara’. Akhirnya, tersebutlah wilayah ini den­gan sebutan Aceh Singkil.

Mulanya Aceh Singkil meru­pakan bagian dari Kabupaten Aceh Selatan. Dia terdapat di bagian ujung barat daya Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Bergabungnya Singkil ke dalam tubuh Aceh Selatan yang menjadi bagian dari Indonesia sejak diproklamirkan kemerdekaan Indone­sia oleh Soekarno-Hatta, 17 Agustus 1945. Sedangkan sebelumnya, daerah ini masih daerah tak bertuan (de jure). Namun, sebagian masyarakat Singkil yang pada masa itu di bawah jaja­han Jepang ada yang melaksanakan proklamasi sehingga dengan dibantu oleh Organisasi Massa dan Komite Nasional Indonesia, jadilah Singkil bagian dari Indonesia yang berse­langkangan dengan Aceh Selatan dengan Ibukota Tapak Tuan.

Setelah Jepang meninggal­kan Singkil, daerah ini membentuk Panitia Aksi Penuntut Kabupaten Otonomi Singkil (PAPKOS). Adapun tujuannya meminta bebas dari Aceh Selatan sehingga mereka menjadi daerah tingkat dua secara otonom. Hal itu dikarenakan Singkil jarang tersentuh oleh Pemda Aceh Selatan.

PAPKOS mengirimkan delegasi anggotanya ke Tapak Tuan untuk membicarakan aspirasi rakyat Singkil yang selanjutnya diteruskan ke Gubernur Aceh. Namun, tuntutan itu “adem ayem”.
Kendati demikian, kegigihan masyarakat, aktivis, dan tokoh adat di sana tidak mengenal kata meny­erah. Seperti kata orang bijak, hana batee, kayee pih jeut, hana papeun, bleuet pih keumah, yang peunténg na teumpat keu ta timbôn tamah. Tidak berhasil menjadi daerah tingkat dua secara otonom, mereka membangun kantor penghubung Bupati Aceh Selatan dengan Aceh Singkil guna mangakomodir keperluan rakyat Singkil.

Setelah perjalan perjuangan yang panjang, kebebasan Aceh Sing­kil dari Aceh Selatan terwujud juga dengan adanya Undang-Undang No. 22 tahun 1999. Ditambah Peraturan Pemerintah No. 129 tahun 2000 se­bagi peraturan pelaksana perundang-undangan tersebut, DPR melahirkan undang-undang nomor 14 tahun 1999, yang pada tanggal 20 April 1999 memutuskan dan menetapkan Aceh Singkil menjadi Daerah Tingkat II (kabupaten) dalam wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Peresmian Kabupaten Aceh Singkil secara simbolis dilakukan pada 14 Mei 1999 oleh Gubernur NAD di Lapangan Sultan Daulat Sing­kil. Kepala pemerintahan pertama di Aceh Singkil pada saat itu dijabat oleh Makmursyah Putra, S.H.
Kantor Bupati Aceh Singkil (FLICKR.COM | MASAMRI-1)
Kantor Bupati Aceh Singkil (FLICKR.COM | MASAMRI-1)

Sistem Pemerintahan

Pada masa Kolonial Be­landa, sistem pemerintahan Aceh Singkil merupakan onderrafdeel­ing(kewedanan) yang dikepalai oleh controleurOnderrafdeeling ini membawahi empatlandschap (keca­matan), yaitu Singkil, Pulau Banyak, Simpang Kiri, dan Simpang Kanan. Masing-masing kecamatan tersebut dikepalai oleh seorang “Zelfbestuur­der” (camat) yang juga membawahi empat kemukiman. Setiap kemuki­man dikepalai seorang imum mukim. Mukim juga membawahi beberapa kepala gampông di kemukimannya. Onderrafdeeling pada masa Indone­sia merdeka berganti nama menjadi Pembantu Bupati Wilayah Singkil.

Pada masa pemerintahan Jepang, sistem onderrafdeeling di­ganti nama menjadi gun danlandsc­hap diganti nama menjadi son. Pada dasarnya sistem pemerintahan ini sama saja, hanya beda bahasanya. Gun dan son dalam bahasa Jepang berarti kewedanan dan kecamatan.

Seperti daerah lainnya di Indonesia, sistem pemerintahan di Aceh Singkil pascakemerdekaan Indonesia adalah sentralisasi. Setiap kebijakan berada di tangan pusat. Dalam hal ini, gampông dan mukim dalam wilayah Aceh Singkil selalu patuh dan tunduk kepada Kabupaten Aceh Selatan. Peran tetua gampông dan instansi adat di tingkat mukim/ gampông tidak berfungsi.

Secercah harapan dimiliki Aceh Singkil ketika wilayah itu men­jadi daerah yang berdiri sendiri. Akan tetapi, sebagai wilayah tingkat II Ka­bupaten Aceh Singkil, peran lembaga adat di tingkat bawah tetap tunduk kepada Bupati Singkil. Selayaknya daerah Aceh lainnya, peran lembaga adat tingkat bawah kembali berfungsi di Aceh Singkil saat disahkannya UUPA Nomor 11 Tahun 2006.

Beragam dan berlikunya kehidupan di Aceh Singkil tentu men­jadi menarik bila dilihat kependudu­kannya. Yang sangat menarik lagi, pada masa konflik Aceh, masyarakat Singkil terkesan bukan bagian dari masyarakat Aceh. Menurut sebuah sumber, ini sudah berlangsung sejak lama.

Hal itu dibuktikan sebagian orang Aceh yang mengunjungi Aceh Singkil, mulai wilayah Jambo Dalem hingga Subulussalam dan Rimo. Orang yang berkunjung ke sana ser­ing dihadapkan dengan pertanyaan, “Bagaimana keadaan di Aceh seka­rang?”
Pertanyaan serupa itu aca­pkali terdengar dari masyarakat di sana saat bertemu dengan rakyat Aceh lainnya. Tentu saja ini memberi kesan seolah Singkil bukan wilayah Aceh.

Masa itu telah berlalu. Bisa jadi ungkapan itu timbul dikarena­kan beberapa faktor, seperti letak Aceh Singkil yang paling ujung—berdekatan dengan Medan, sehingga mengira dirinya bagian dari Medan. Lalu, oleh karena wilayah Aceh Singkil yang kala itu masih bagian dari Aceh Selatan, tapi kurang disentuh oleh Pemda Aceh Selatan. Berdasarkan itu, barangkali mereka mengira bahwa Aceh Singkil bukan penduduk Nang­groe Aceh Darussalam.

Di samping itu, masyarakat Aceh Singkil, sebagian besar kurang dapat berkomunikasi dalam bahasa Aceh. Hal ini mengesankan mereka seakan menjadi etnis tersendiri. Namun demikian, agar tidak terjadi timpang tindih pengertian dan demi kedamaian, tuhoemencoba mengkaji etnis yang berkembang di Aceh Sing­kil, berdasarkan sejumlah data, baik dari situs Pemda NAD, Wikipedia, dan beberapa artikel yang pernah ditulis orang tentang Aceh Singkil.
Secara garis besar ada beberapa etnis awal yang mendiami wilayah Aceh Singkil, yaitu etnis Aceh, etnis Batak, etnis Minangkabau, dan etnis Nias.

Etnis Aceh

Etnis Aceh terkelompok dalam komunitas wilayah tertentu di Aceh Singkil, di antaranya di Kuala Baru. Kelompok ini pada za­man dahulu dipimpin oleh seorang berwibawa dan terpandang (sauda­gar/ ulama). Pemimpin di sini bukan yang absolute, tapi dia hanya men­gurus masalah adat yang sangat erat hubungannya dengan pemerintahan, ekonomi, politik, dan sejumlah uru­san kemasyarakatan lainnya. Keadaan tersebut memungkinkan adanya kerajaan kecil di Singkil.

Sistem kemasyarakatan dalam etnis ini adalah menurut garis keturunan ayah dan ibu. Perpaduan patrilinial dan matrilinial ini me­nyebabkan terjadinya pembaruan etnis Aceh dengan etnis lainnya sehingga terjadi asimilasi.

Etnis Batak

Adanya etnis Batak di Aceh Singkil diawali dengan terjadinya perpindahan (migrasi) dari Sumatera Utara ke Aceh. Sebagai wilayah Aceh yang sangat dekat dengan Sumatera Utara (Medan), Singkil merupakan wilayah sentuhan pertama awak Me­dan.
Migrasi yang dilakukan etnis Batak ke Singkil secara berkelom­pok. Kemudian mereka mendiami suatu wilayah sehingga menjadi huta (gampông). Tradisi di Batak, marga yang duluan menempati wilayah itu (membuka huta), dialah yang menjadi penguasa wilayah tersebut. Maka menetaplah mereka di Singkil sehing­ga menjadi etnis tersendiri di sana.

Etnis Minangkabau

Etnis ini berasal dari Sumat­era Barat. Karenanya, lazim disebut dengan etnis Orang Padang. Migrasi etnis Minangkabau sering pula dis­ingkkat dengan etnis Minang. Migrasi etnis ini didorong oleh faktor dagang. Tak bisa dipungkiri, etnis minang hampir terdapat di seluruh wilayah Indonesia. Sepanjang jalan, kita selalu diperkenalkan dengan masakan Minang. Demikian halnya dengan di Singkil. Etnis ini juga bermula dari dagang.

Halnya etnis Batak, etnis Padang dalam bergaul juga tidak menonjolkan marga atau suku asal­nya, meskipun mereka juga memiliki marga layaknya suku Batak. Garis keturunan yang menganut matrinilial pada etnis ini membuat asimiliasi adat dan budaya di Singkil sehingga di sana juga terdapat bahasa Padang yang sudah mengalami perbauran dengan bahasa daerah lain di Sing­kil. Bahasa itu mereka sebut dengan bahasa Jamee atau bahasa Aneuek Jamee.

Etnis Nias

Etnis ini mempunyai bahasa sendiri yang mereka sebut dengan bahasa Nias. Etnis Nias bermigrasi ke wilayah Singkil melalui laut dengan menggunakan perahu layar. Karena itu, etnis ini terkenal kuat melaut. Letak etnis ini di sebelah barat daya wilayah Singkil. Dari segi fisik, etnis ini umumnya berkulit kuning langsat.

Etnis Lainnya

Di samping etnis yang domi­nan di atas, juga terdapat etnis lain­nya yang memiliki kuota lebih kecil dari etnis di atas. Etnis itu antara lain Bugis, Jawa, Cina, Arab, dan Keling. Rata-rata migrasi mereka ke Singkil berlatar belakang dagang.
Adanya etnis Bugis di Singkil dapat dibuktikan dengan adanya nama-nama yang sama dengan ba­hasa Bugis, seperti “Dendang Bugis” yang mereka sebut dengan “Den­dang Singkil”.

Etnis Jawa banyak terdapat di perkebunan karet, wilayah Simpang Kanan. Perkebunan itu disebut den­gan Perkebunan Lae Butar. Perpin­dahan etnis Jawa sudah berlangsung sejak zaman penjajahan Belanda.

Etnis Cina dibuktikan den­gan adanya nama Kampong “Cina” di Singkil, kendati saat ini tidak lagi dihuni khusus oleh orang Cina. Se­dangkan etnis Arab ditandai adanya nama-nama yang menyerupai nama orang Arab, seperti Said, Syarifah.

Etnis Keling disebut juga dengan etnis India. Etnis ini ditandai dengan Kampung Keling yang dahulu di wilayah itu terdapat penjual susu murni.

Beragam etnis di Singkil menunjukkan kayanya khazanah adat dan budaya di sana. Hal ini sekaligus menunjukkan rasa persatuan dan perdamaian yang tinggi di daerah tersebut, sebab kendati ramai ber­suku-suku, belum pernah terdengar pertengkaran antarsuku di tanah Syech Abdul Rauf As-Singkili itu.(jkma-aceh.org)