Tampilkan postingan dengan label Makam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makam. Tampilkan semua postingan

Makam-makam Tua yang Terbengkalai di Kampung Pande, Aceh

Banyak makam tua yang tersebar di Banda Aceh, salah satunya di Kampung Pande, Kecamatan Kutaraja. Sayangnya makam-makam bersejarah ini terbengkalai, padahal jadi bukti kemashyuran kerajaan Islam pada zamannya.

Banyak makam tua yang berada di bantaran sungai dan pantai di Banda Aceh, Provinsi Aceh. Salah satunya, makam-makam tua yang berada di Gampong atau Kampung Pande. Makam-makam ini jadi salah satu bukti kemashyuran Banda Aceh sebagai ibukota kerajaan Islam pada zamannya. Sayangnya, makam-makam tua ini dibiarkan terbengkalai begitu saja.

Gampong atau Kampung Pande merupakan kampung tua di Banda Aceh. Lokasinya di sisi barat Krueng Aceh, berdekatan dengan Kecamatan Meuraxa dan Pelabuhan Ulee Lheue. Kampung Pande diapit beberapa kampung tua lainnya. Ada Kampung Jawa di sebelah timur, Kampung Peulanggahan dan Keudah di sebelah selatan. Sementara sebelah utaranya berhadapan dengan pantai dan kuala Krueng Aceh.

Dari lokasi geografisnya, Kampung Pande merupakan kota pelabuhan pada zamannya. Bahkan catatan sejarah Aceh menyebutkan, di kawasan inilah Istana Kerajaan Aceh berdiri.

Mengutip tulisan Deddy Satria dalam Jurnal Seri Informasi Kepurbakalaan Arabesk No I Edisi XI, Januari-Juni 2011, kata 'pande' atau 'pandai' berasal dari bahasa Melayu, yang berarti orang dengan keahlian atau keterampilan khusus. Pande yang dimaksud di sini yaitu orang-orang yang mempunyai keahlian dan keterampilan dalam menempa, mencetak atau membuat benda-benda dari logam baik logam mulia maupun logam biasa.

Nama Kampung Pande ditemukan di Hikayat Pocut Muhammad yang disusun pada awal abad ke-18 Masehi. Seperti ditulis Karel F.H van Langen yang berjudul Susunan Pemerintahan Aceh Semasa Kesultanan, terbitan tahun 1986, Kampung Pande sudah dikenal sebagai tempat pengrajin benda logam dan batu-batu mulia. Mungkin karena itu pula dinamakan Kampung Pande. 

Menyusuri kampung ini setiap jengkalnya, seolah membawa kita pada masa silam Banda Aceh yang saat itu menjadi salah satu bandar besar. Datanglah ke kawasan ini jika berkunjung ke Banda Aceh, dan nikmati semilir angin lautnya.

Seharusnya Kampung Pande yang merupakan salah satu kampung tua ini, dapat dijadikan semacam laboratorium bagi sejarah perkembangan kota Banda Aceh. Tak hanya itu saja, kampung tua yang kaya sejarah ini juga dapat dijadikan salah satu tujuan wisata sejarah di Banda Aceh. Kampung ini memegang peranan penting dalam perkembangan kota Banda Aceh baik di masa kini maupun di masa mendatang.

Sayangnya, pemerintah daerah belum terlihat sungguh-sungguh melakukan upaya untuk mewujudkan kawasan ini menjadi tujuan wisata sejarah. Kenyataan ini saya dapatkan dalam perjalanan saya menyusuri Kampung Pande.

Ada dua makam komplek yang sudah diberi pagar di kawasan ini. Makam Tuanku Di Kandang dan komplek makam Putroe Ijo. Tapi tak ada informasi apapun dari kedua makam ini selain papan tanda yang menyebutkan nama komplek makam tersebut. Di papan nama komplek disebutkan bahwa makam-makam ini berada di bawah naungan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

Komplek makam Tuanku Di Kandang sepertinya sedang diperbaiki. Beberapa nisan yang sudah dibongkar terlihat diberi nomor. Sayangnya, tak ada penjaga atau warga yang bisa ditanyai. Sementara di komplek makam Putro Ijo yang berada di tengah perkampungan, nasibnya lebih miris. Sekeliling pagarnya dijadikan tempat menjemur pakaian warga dan juga menjemur bahan-bahan makanan yang sengaja dikeringkan. Beberapa nisan yang rusak dibiarkan tergeletak begitu saja.

Mengutip keterangan dari Cloude Guillot & Ludvik Kalus, ’Les Monuments Foneraires et l’Histoire du Sultanate de Pase a Sumatra’, Cahierd’ Archipel 37, Paris, 2008, p.326-336, jenis batu nisan di makam Tuanku Di Kandang, disebut dengan batu nisan 'plak pling'.

Nisan-nisan ini diperkirakan berasal dari pertengahan akhir abad 15 M atau sekitar tahun 1460-an. Guillot & Kalus yang telah membaca teks epitap berhasil membaca beberapa batu nisan jenis ini pada lima batu nisan yang berada di pemakaman Tuan Di Kandang dengan kode TK ().Periode batu nisan 'plak pling' diperkirakan berasal dari tahun 1446-1484 M. Tapi sayangnya, informasi ini tak saya temukan di lokasi makam.

Dari beberapa referensi yang saya dapat, para arkeolog dan ahli sejarah juga pernah melakukan penelitian terhadap batu-batu nisan di komplek pemakaman ini. Salah satu bantu nisan disebutkan milik Sultan Firman Syah, cucu dari Sultan Alauddin Johan Mahmud Syah yang memerintah dari tahun 1267-1309 M.

Dari nisan ini akhirnya kemudian terungkap bawa kampung yang menjadi asal muasal Kota Banda Aceh itu dibangun pada hari Jum’at tanggal 1 Ramadhan tahun 610 Hijriah atau 22 April 1205 Masehi. Tapi entah nisan yang mana, karena tak ada keterangan di sana. Jadi, tulisan pada batu-batu nisan itu bukan hanya hiasan kaligrafi semata. Banyak terkandung informasi sejarah bersamanya.

Mengutip Hikayat Pocut Muhammad dan Adat Meukuta Alam, dulu kampung-kampung di kuala sungai dan di sekitar sungai Aceh ini sangat krusial posisinya bagi pendapatan Sultan Aceh karena sebagai tempat perdagangan dan dekat dengan pelabuhan. 

Pernyataan dalam Hikayat Pocut Muhammad tersebut agaknya masih cukup relevan hingga kini. Jika saja pemerintah dan masyarakat di Banda Aceh jeli, kawasan ini dapat dijadikan sumber pendapatan pemerintah daerah dan juga warga sekitar.

Kampung Pande sebagai muasal Kota Banda Aceh, dapat dijadikan destinasi wisata sejarah Kota Banda Aceh. Jika dirawat dan dipelihara dengan baik, nisan-nisan tua ini juga dapat menjadi saksi bisu bagi anak cucu kelak tentang kejayaan Aceh di masa silam.


Sumber : http://travel.detik.com/read/2013/01/02/163253/2131442/1025/2/makam-makam-tua-yang-terbengkalai-di-kampung-pande-aceh

2 Makam Syekh Abdurrauf As Singkili



SINGKIL - Syekh Abdurauf As Singkili merupakan salah satu ulama besar yang berasal dari Singkil. Namanya kini dilakapkan menjadi salah satu universitas di Propinsi Aceh yaitu Universitas Syiah Kuala atau sering disebut Unsyiah.
Universitas tersebut berada di pusat kota Propinsi Aceh yaitu Banda Aceh. Syekh Abdurrauf As Singkili memiliki dua makam. Satu berada di Syiah Kuala, Banda Aceh sementara yang lainnya ada di Singkil.
Di Singkil, lokasi makamnya tepat berada di bibir sungai Singkil di Desa Kilangan. Banyak para peziarah yang mendatangi makam ini. Baik dari Aceh maupun peziarah dari luar daerah seperti dari Sumatera Barat.
Sementara di Banda Aceh, lokasi makam Syiah Kuala juga berada di bibir pantai Selat Malaka di Gampong Syiah Kuala. Seperti halnya di Singkil, lokasi makam ini juga banyak dikunjungi peziarah. Bahkan, lokasi makam salah satu ulama besar Aceh ini dijadikan wisata religi di tanah rencong oleh pemerintah daerah.
Syekh Abdurrauf As Singkili merupakan ulama besar yang ikut mewarnai sejarah mistik Islam di nusantara. Mistik Islam itu ia ajarkan melalui Tarekat Syattariyah.
Tarekat Syatariyah sendiri mulai muncul di India pada abad 15. Nama Syattariyah dinisbahkan kepada tokoh yang mempopulerkan dan berjasa mengembangkannya, yaitu Abdullah Al-Syattar.
Tarekat Syattariyah pernah menduduki posisi penting lantaran tarekat ini merupakan salah satu tarekat yang besar pengaruhnya di dunia Islam. Di Indonesia, tarekat ini lalu dikembangkan oleh Syekh Abdurrauf.
Dia dilahirkan di Singkil pada tahun 1615 Masehi atau 1024 Hijriyah. Syekh Abdurrauf merupakan keturunan Persia yang datang ke Kesultanan Samudera Pasai pada akhir abad ke 13. Nama Singkil kemudian dinisbatkan pada daerah kelahirannya.
Beberapa literatur menyebutkan ayah Singkel adalah kakak laki-laki dari Hamzah Al-Fansuri, kendati tidak cukup bukti yang meyakinkan bahwa ia adalah keponakan Al-Fansuri. Nama yang terakhir ini merupakan seorang ulama yang juga filsuf yang terkenal dengan pantheismenya.
Namun, ada pula yang menyatakan bahwa ayah Singkel yaitu Syeikh 'Ali adalah seorang Arab yang telah mengawini wanita setempat dari Fansur (Barus), sebuah kota pelabuhan tua di Sumatera Barat. Keluarga itu lantas menetap di sana.
Pendidikan pertama Singkel didapatkan di tempat kelahirannya, Singkil, terutama dari ayahnya yang merupakan seorang alim. Ayahnya juga mempunyai pesantren. Singkil pun menimba ilmu di Fansur, karena ketika itu negeri ini menjadi salah satu pusat Islam penting di nusantara serta merupakan titik hubung antara orang Melayu dan kaum Muslim dari Asia Barat dan Asia Selatan.
Beberapa tahun kemudian, Singkil berangkat ke Banda Aceh, ibukota kesultanan Aceh dan belajar kepada Syams al-Din al-Samatrani, seorang ulama pengusung Wujudiyyah.
Sejarah perjalanan karier Singkil diawali saat dia menginjakkan kaki di jazirah Arab pada 1052 H/1642 M.
Tercatat sekitar 19 guru yang pernah mengajarinya dengan berbagai disiplin ilmu Islam di samping sebanyak 27 ulama terkemuka lainnya. Tempat belajarnya tersebar di sejumlah kota yang berada di sepanjang rute haji, mulai dari Dhuha (Doha) di wilayah Teluk Persia, Yaman, Jeddah, Makkah serta Madinah. Studi keislamannya dimulai di Doha, Qatar, dengan berguru pada seorang ulama besar, Abd Al-Qadir al Mawrir.
Sepanjang hidupnya, tercatat Singkel sudah menggarap sekitar 21 karya tulis yang terdiri dari 1 kitab tafsir, 2 kitab hadits, 3 kitab fiqih dan selebihnya kitab ilmu tasawuf. Bahkan tercatat kitab tafsirnya berjudul Turjuman al-Mustafid (Terjemah Pemberi Faedah) adalah kitab tafsir pertama yang dihasilkan di Indonesia dan berbahasa Melayu.
Dia juga menulis sebuah kitab fiqih berjudul Mi'rat at-Tullab fi Tahsil Ahkam asy-Syari'yyah li al Malik al-Wahhab (Cermin bagi Penuntut Ilmu Fiqih pada Memudahkan Mengenal Hukum Syara' Allah) yang ditulis atas perintah Sultanah.
Sementara di bidang tasawuf, karyanya yakni Umdat al-Muhtajin (Tiang Orang-Orang yang Memerlukan), Kifayat al-Muhtajin (Pencukup Para Pengemban Hajat), Daqaiq al-Huruf (Detail-Detail Huruf) serta Bayan Tajalli (Keterangan Tentang Tajali).
Namun, di antara sekian banyak karyanya, terdapat salah satu yang dianggap penting bagi kemajuan Islam di nusantara yaitu kitab tafsir berjudul Tarjuman al-Mustafid. Ditulis ketika Singkel masih berada di Aceh, kitab ini telah beredar luas di kawasan Melayu-Indonesia bahkan hingga ke luar negeri.
Diyakini oleh banyak kalangan, tafsir ini telah banyak memberikan petunjuk sejarah keilmuan Islam di Melayu. Di samping pula kitab tersebut berhasil memberikan sumbangan berharga bagi telaah tafsir al-quran dan memajukan pemahaman lebih baik terhadap ajaran-ajaran Islam.
Pada bagian lain, pendapat Singkel terhadap paham wahdadul wujud dipaparkannya dalam karya Bayyan Tajali. Karya ini juga merupakan usahanya untuk merumuskan keyakinan pada ajaran Islam. Dia berujar bahwa betapapun yakin seorang hamba kepada Allah, khalik dan mahluk tetap memiliki arti tersendiri.
Sumber : http://atjehpost.com/read/2013/01/13/35229/0/39/2-Makam-Syekh-Abdurrauf-As-Singkili

Foto, Makam Ratu Nahrisyah di Kerajaan Samudera Pasai


SAMUDERA – Makam Sultanah Nahrasyiyah lebih dikenal Ratu Nahrisyah, di Desa Kuta Krueng (ada juga yang menyebut Kuta Kareung), Kecamatan Samudera, Aceh Utara, salah satu situs sejarah Kerajaan Samudera Pasai.

Anggota Tim Peneliti dari Central Information for Samudera Pasai Heritage (CISAH) Ramlam Yunus menyebutkan, makam Ratu Nahrisyah adalah makam terindah di Asia Tenggara. Ratu Nahrisyah yang wafat pada 831 Hijriah (1428 Masehi), makamnya berdampingan dengan makam ayahnya, Sultan Zainal Abidin, wafat sekitar 808 Hijriah atau 1406 Masehi. Berikut foto-fotonya:































































Sumber : atjehpost.com

Malikussaleh, Sang Pemanggul Dakwah Islam



AL MALIK ASH-SHÂLIH atau lebih dikenal Sultan Malikussaleh wafat pada tahun 696 hijriah (1297 Masehi). Nama raja besar Kerajaan Islam Sameudera Pasai ini telah banyak diabadikan untuk nama-nama lembaga pendidikan atau lainnya. Bagaimanakah sosok Al-Malik Ash-Shâlih?
Makam Al-Malik Ash-Shâlih atau Al-Malikush-shâlih berada di Gampong Beuringen, Samudera, Aceh Utara. Menurut peneliti sejarah kebudayaan Islam, Taqiyuddin Muhammad, dari sisi struktur materilnya: bahan baku, ornamen, relief, kaligrafi dan pilihan ayat-ayat Al-Qur'an yang diukir, nisan tersebut memiliki kecenderungan cita rasa seni Islam di era kesultanan Aceh Darussalam. Yaitu, seni yang memunculkan suatu asimilasi budaya masyarakat pra-Islam di utara Sumatera dengan nilai-nilai Islam yang universal.
Itu sebabnya, kata Taqiyuddin Muhammad, dapat dipastikan bahwa pada masa pemahatan nisan ini dan jauh sebelumnya, Al-Malik Ash-Shâlih adalah sosok sangat dikenal. Sejarah hidupnya dikenang dan diteladani. Semangat yang dikembangkannya menjadi inspirasi bagi generasi-generasi berikutnya.

Seperti terlihat jelas pada kepribadian Sultan 'Ali ibn Syams ibn Munawwar Al-Makhshûsh bi Mughâyati-Llâh atau lebih dikenal Sultan 'Ali Mughayat Syah (wafat 936 H/1530 M), pelopor kebangkitan Aceh Darussalam. Catatan pada nisannya di komplek Kandang XII, Keraton Kuta Raja, menunjukkan bahwa ia juga sosok yang punya kemiripan besar dengan Al-Malik Ash-Shâlih.

Menurut Taqiyuddin Muhammad, pada makam Al-Malik Ash-Shâlih, terdapat inskripsi di sisi muka nisan sebelah kaki atau selatan, yang teksnya:
"Hâdza al-qabrul al-marhûm al-maghfûr at-taqiy an-nâshih al-hasîb an-nasîb al-karîm al-'âbid al-fâtih al-mulaqqab sulthân Malik ash-Shâlih alladzî intaqala min syahr Ramadhân sanata sitt wa tis'îna wa sittumi'ah min intiqal an-nabawiyyah saqa Allâhu tsarâhu wa ja'ala al-jannata matswâhu—lâ ilâha illa-Llâhu Muhammad rasulullâh."
(Inilah kubur orang yang dirahmati lagi diampuni, orang yang bertaqwa (takut kepada murka dan azab Allah) lagi pemberi nasehat, orang yang berasal dari keluarga terhormat dan dari silsilah keturunan terkenal lagi pemurah (penyantun), orang yang kuat beribadah ('abid) lagi pembebas, orang yang digelar [dengan] Sultan [Al-]Mâlik Ash-Shalih, yang berpindah [ke rahmatullah] dari bulan Ramadhan tahun 696 dari hijrah Nabi [saw.]. Semoga Allah menyiramkan [rahmat-Nya] ke atas pusaranya serta menjadikan syurga tempat kediamannya. Tiada tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah).

Taqiyuddin menyebutkan, kedua kata: al-marhûm dan al-maghfûr adalah pengakuan awal bahwa Allah-lah Yang Maha Mengetahui segalanya. Bagaimanapun tingginya seseorang dalam pandangan manusia, ia tetap hamba Allah yang tidak terlepas dari silap dan salah. Maka siapa pun hamba Allah pantas untuk didoakan semoga Allah Mengampuni dan Merahmatinya.

at-taqiy an-nâshih (orang yang takut kepada murka dan azab Allah, lagi pemberi nasehat) adalah dua kata yang berpasangan secara serasi. Kata kedua, an-nâshih, lahir dalam ingatan segera setelah kata pertama, at-taqiy. Bila ungkapan ini disederhanakan, menurut Taqiyuddin, maka lebih kurang bermakna: “ia bukan hanya orang yang baik tapi juga orang yang menginginkan kebaikan bagi orang lain”.
An-Nâshih, pemberi nasehat. Menurut Taqiyuddin, ini adalah pola pandang sekaligus metoda. Kekerasan bukanlah pilihan awal dan akhir. Arahan Nabi saw., sampaikanlah olehmu berita menggembirakan [tentang rahmat dan petunjuk Allah], dan jangan kamu menjauhkan mereka [dari rahmat dan petunjuk-Nya], senantiasa dicamkan oleh Al-Malik Ash-Shâlih. Ia memberi nasehat, mengajak, menyeru kepada menyembah Tuhan yang patut disembah dan berbuat kebaikan demi keselamatan di dunia dan akhirat.
Menurut Taqiyuddin, inskripsi pada nisan Al-Malik Ash-Shâlih juga menyebutkan bahwa ia seorang yang berasal dari keluarga terhormat dan dari silsilah keturunan terkenal, lagi penyantun (al-hasîb an-nasîb al-karîm).

“Sifat al-karîm atau penyatun lahir dengan sendirinya dalam ingatan setelah al-hasîb an-nasîb, semisal kita mengatakan, ia orang hebat tapi tidak sombong,” kata Taqiyuddin.

***

Taqiyuddin mengatakan, dalam penyelidikan tentang perkembangan Islam di nusantara atau khususnya kawasan utara Sumatera, begitu pula tentang asal usul Al-Malik Ash-Shâlih, sebenarnya perkembangan Islam di anak benua India tidak bisa diabaikan. Sebab letak geografisnya yang lebih berdekatan dibanding kawasan-kawasan Islam lainnya yang berada di Timur Tengah.
Gelombang peristiwa besar dalam sejarah Islam yang terjadi di anak benua India pada masa-masa itu dipastikan sampai juga riaknya ke utara Sumatera, yang sebelumnya telah lama disebut sebagai salah satu pulau-pulau India (al-juzûr al-hindiyah) oleh para musafir dan ahli geografi Arab-Persia. Sehingga, tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa dari sisi peristiwa sejarahnya, Sumatera merupakan patahan hanyut dari anak benua India.

Abad VI sampai permulaan abad VIII hijriah, sebelum dinasti Mogul memerintah Delhi dan sebagian besar kawasan di India, perkembangan Islam sudah sedemikian dahsyat di daratan Asia Selatan. Para sejarawan sepakat bahwa Syihâbuddîn Muhammad Al-Ghûri (wafat 602 H/1206 M) dalam masa pertengahan kedua abad VI hijriah telah melakukan perluasan wilayah Islam sedemikian besar mengikuti jejak pendahulunya Mahmûd Al-Ghaznawi (wafat 421 H/1030 M). Syihâbuddîn Al-Ghûri bermazhab Syâfi'iy dan bersahabat dekat dengan Fakhruddîn Ar-Râzî (wafat 606 H/1210 M), seorang ulama Syafi'iyyah terkemuka di dunia Islam.

Bahasan ini teramat panjang. Namun yang perlu diperhatikan, kata Taqiyuddin, adalah pada paruh terakhir abad VII hijriah (XIII masehi), Sultan Ghiyâtsuddîn Balbân atau Bâlibân, seorang Mameluk asal Turkistan, mengabdi di istana Sultan Ultumush (wafat 633 H/1235 M) yang kemudian mengawinkannya dengan puterinya, menjabat sebagai wazîr (perdana menteri) pada masa pemerintahan Nâshiruddîn Mahmûd (wafat 664 H/1266 M), putera Ultumush, dan setelah terakhir wafat, ia memegang tali kendali kesultanan Delhi.
Menurut Taqiyuddin, Sultan Ultumush, mertua Balbân, ini digelar oleh Khalîfah Al-Mustanshir bi-Llâh (wafat 640 H/1243 M)—kakek ke-4 dari Shadr Al-Akâbir Abdullah (wafat 816 H/1414 M) yang makamnya berada di Kuta Karang, Samudra, AcehUtara—dengan Nâshir al-Khalîfah (pembela Khalifah), karena mengingat bangsa Mongol (Tartar) yang mulai menjadi ancaman krusial bagi Baghdad, kota kekhalifahan pada waktu itu.

Pada 684 hijriah (1286 masehi), putera mahkota dari Sultan Ghiyâtsuddîn Balbân bernama Muhammad Khân, syahid dalam satu pertempuran melawan Mongol di Multan. Kesendihan atas meninggal putera mahkotanya mendorong Balbân untuk mewasiatkan kesultanan Delhi kepada cucunya, putera Muhammad Khân, yang bernama Kay Khusrau. Namun ketika Balbân wafat pada 685 hijriah (1287 masehi), tahta kesultanan Delhi yang diwasiatkan untuk Kay Khusrau direbut oleh saudara sepupunya, Kaiqubâd bin Baghrâ Khân (wafat 684 H/1290 M). Kay Khusrau yang masih berumur muda terpaksa keluar dari Delhi. Sampai di situ, sejarah pun menurunkan layar penutup dari kisah Kay Khusrau ini.

Taqiyuddin menjumpai banyak petunjuk di Samudra Pasai mengarah pada kesimpulan bahwa amir atau pangeran yang berhijrah dari Delhi untuk menghindari perpecahan dan pertumpahan darah dengan saudaranya ini, ternyata telah memilih wilayah amat jauh dari Delhi sebagai tempat tujuannya, wilayah mana telah berada dalam kekuasaan kesultanan Delhi paling tidak sejak permulaan abad VII hijriah (XIII M). Wilayah ini dapat dipastikan adalah Pasai.

Itu sebabnya, menurut Taqiyuddin, dapat diyakini bahwa Al-Malik Ash-Shâlih berasal dari keturunan terhormat, karena turunan dari sultan-sultan besar Delhi sampai dengan Quthbuddîn Aibak (wafat 606 H/1210 M), pendiri dinasti Mameluk (Mamalik) Delhi yang telah membangun Mesjid Quwwatul Islam dan Qutb Minar dan sangat terkenal dalam sejarah dunia Islam.
Sekalipun berasal dari turunan terpandang dan mulia, namun Al-Malik Ash-Shâlih adalah seorang yang penyantun (al-karîm), tidak tinggi hati. Menyayangi orang-orang yang lemah dan tak berdaya. Statusnya yang tinggi tidak menyulitkan dirinya untuk merendah. Iman dan pengalaman hidupnya telah mengangkatnya untuk menjadi sosok yang dicintai oleh rakyatnya, terutama oleh golongan lemah.

Maka, kata Taqiyuddin, tidak mengherankan apabila masa pemerintahan Al-Malik Ash-Shâlih adalah masa awal Samudra Pasai muncul sebagai sebuah kesatuan politik yang kuat dan berpengaruh di nusantara, terutama dalam memperluas wilayah Islam di bumi nusantara yang amat jauh dari tempat turun wahyu. Hingga, Islam sampai hari ini masih tetap menjadi agama mayoritas di Indonesia dan semenanjung Melayu, walaupun pernah dihantam badai imperialisme yang cukup lama dan berat.

“Tak dapat tidak untuk diakui bahwa proses Islamisasi Asia Tenggara yang begitu cepat adalah peristiwa sejarah terhebat di kawasan ini. Hal tersebut sudah barang tentu dilakukan oleh orang-orang yang benar-benar teguh, salah satunya ialah Al-Malik Ash-Shâlih,” kata Taqiyuddin.

Al-'âbid al-fâtih (ahli ibadah lagi pembebas). Sifat ini yang membuat Al-Malik Ash-Shâlih bukan orang terkecualikan dalam barisan tokoh-tokoh besar dan agung dalam sejarah Islam.

“Al-Malik Ash-Shâlih memang seorang ahli ibadah (Al-'âbid), tapi ia bukan petapa yang menyembunyikan dirinya di gunung-gunung. Ia seorang pembebas (al-fâtih); seorang ahli ibadah yang juga kesatria,” kata Taqiyuddin. 
Al-Malik Ash-Shâlih adalah seorang pengembang da'wah Islam dan penyebar nilai-nilai kebebasan (al-hurriyah). Apabila ketertarikan ramai orang kepada Islam diawali oleh faktor sosok penyebarnya, kata Taqiyuddin, maka kepribadian Al-Malik Ash-Shâlih adalah daya tarik pertama yang mendorong orang untuk memeluk Islam.

“Jelas sekali, ia seorang yang tidak bernafsu menguasai tanah dan harta milik orang lain; ia hanya menginginkan hati mereka di dalam Islam,” kata Taqiyuddin.
Itulah pribadi orang yang digelar dengan Sultan Al-Malik Ash-Shâlih (raja yang shalih). Sebuah gelar (laqb) yang amat sepadan dengan penyandangnya, Al-Malik Ash-Shâlih.[]
Sumber : http://atjehpost.com/read/2012/12/25/32854/39/39/Malikussaleh-Sang-Pemanggul-Dakwah-Islam
 

Syahid Lapan, Sebuah Kebisuan Sejarah

Benteng Kuta Gle Batee Iliek menyisakan sejarah heroisme dan pengkhianatan. Kini terbengkalai di ujung timur jembatan Krueng Batee Iliek. Jauh lebih timur lagi delapan syuhada (syahid lapan) dimakamkan.

Monumen benteng Kuta Gle dibangun untuk mengenang para syuhada yang tewas mempertahankan kerajaan Aceh terhadap agresi Belanda. Monumen itu menyimpan secuil kisah tentang keheroikan pejuang Aceh.

Pada masa pergolakan perang melawan Belanda di Batee Iliek terkenal seorang pemimpin pejuang Aceh, Panglima Said yang memimpin perjuangan melawan Belanda di Kuta Gle, Batee Iliek.

Selama 23 tahun benteng Kuta Gle sangat sulit ditaklukkan Belanda, walau mereka dilengkapi persenjataan lengkap. Strategi yang digunakan Panglima Said cukup unik. Pasukan Belanda yang mencoba naik ke bukit Kuta Gle dibiarkan saja. Tapi ketika sebagian besar pasukan Belanda sedang mendaki, pasukan Panglima Said menggulingkan potongan batang kelapa yang telah duluan dipersiapkan dari atas bukit. Akibatnya batang kelapa itu menimpa pasukan Belanda dan mereka terjungkal ke sungai hingga tewas.

Benteng Kuta Gle baru bisa ditaklukkan pada tahun 1901. Seorang “Cuak” bernama panggilan Abu Pang. Ia berkhianat dengan membawa pasukan Belanda melalui jalan lain untuk menyerang benteng Kuta Gle. Oleh Belanda Abu Pang dimasukkan ke dalam sebuah guci agar tidak terlihat warga. Karena pengkhianatan itulah benteng Kuta Glee takluk dan dikuasai Belanda. Panglima Said sendiri waktu itu tewas di tempat bersama sebagian besar pejuang akibat pengkhianatan Abua Pang.

Mengenang peristiwa tersebut, sebuah monumen dibangun di kaki bukit Kuta Gle, tepatnya di ujung timur Jembatan Batee Iliek. Monumen itu kini menjadi tonggak sunyi ditengah keramaian wisatawan lokal yang mengunjungi areal wisata Krueng Batee Iliek setiap harinya. Jarang yang tahu bahwa di tempat rekreasi itu pernah terjadi sebuah pergoalkan besar melawan Belanda yang puluhan tahun berusaha menaklukkannya.


Syahid Lapan


Tak jauh dari Kuta Gle, sekitar beberapa belas kilometer ke arah timur. sebuah situs sejarah perjuangan melawan Belanda juga terdapat di Desa Tambue Kecamatan Simpang Mamplam Kabupaten Bireuen. Situs tersebut berupa makam delapan pejuang yang dinamai Syahid Lapan.

Dinamakan makam Syahid Lapan, karena di situ dimakamkan delapan pejuang yang gugur melawan Belanda. Mereka adalah Tgk Panglima Prang Rayeuk Jurong Binje, Tgk Muda Lem Mamplam, Tgk Nyak Balee Ishak Blang Mane, Tgk Meureudu Tambue, Tgk Balee Tambue, Apa Syehk Lancok Mamplam, Muhammad Sabi Blang Mane, dan Nyak Ben Matang Salem Blang Teumulek.

Kisah keheroikan para Syuhada Lapan sangat jelas tertulis pada dinding makam. Peristiwa heroik itu terjadi pada awal tahun 1902, para Syuhada Lapan menghadang pasukan marsose. Pasukan pribumi binaan Belanda itu berjumlah 24 orang. Mereka semuanya bersenjata api. Sedangkan pasukan delapan pejuang Aceh tersebut hanya bersenjatakan pedang. Tapi berkat semangat juang yang tinggi, mereka berhasil menewaskan semua marsose tersebut.

Setelah pasukan Lapan berhasil melumpuhkan semua serdadu marsose, lalu mereka mengumpulkan senjata milik penjajah tersebut. Mereka larut dalam euphoria kemenangan. Tanpa mereka sadari tiba-tiba sejumlah serdadu marsose lain datang dari arah Jeunieb memberi bantuan. Kedelapan pejuang itu diserang secara membabi buta dan gugur bersimbah darah.

Jasad para syuhada tersebut kemudian dikebumikan dalam satu liang. Sebab serdadu marsose mencincang-cincang bagian tubuh para pejuang tersebut dengan pedang milik mereka sendiri.

Kini, saban hari makam Syuhada Lapan banyak didatangi orang yang ingin bernazar. Bukan hanya dari Kabupaten Bireuen, tapi juga dari daerah lainnya di luar Kabupaten Bireuen. Setiap hari libur ada saja yang datang untuk melepas nazar, seperi menyembelih sapi atau kambing di Makam itu.

Para pengguna jalan juga selalu berhenti sebentar begitu tiba di depan kuburan Syuhada Lapan untuk memberi sumbangan. Di depan makam memang telah disediakan celengan beton berbentuk miniatur rumah. Konon kabarnya, apabila para pengguna jalan tidak berhenti dan memberi sedekah jika melewati makam tersebut, maka akan mengalami hambatan di perjalanan.

Yang agak unik makam Syuhada Lapan dinaungi sebatang pohon yang rindang, yakni pohon Sala Teungeut. Dinamakan pohom sala teungeut, karena sekitar pukul 18.00 WIB daun-daun pohon itu menguncup dengan sendirinya, seiring senja datang dan kembali mekar keesokan harinya. Pohon itu tiga tahun lebih muda dari usia makam Syuhada Lapan, sampai sekarang masih tetap kokoh dan kuat.


Heroisme Melawan Belanda


Heroisme perang melawan Belanda terjadi di seluruh Aceh. Namun beragam peritiwa sejarah tersebut seolah terlupakan. Perlawanan rakyat Aceh dimulai setelah Belanda menguasai pusat Kerjaaan Aceh (Dalam) pada 31 Januari 1874. Setelah agresi Belanda pada maret 1973 gagal total dengan tewasnya Jendral JHR Kohler di depan Mesjid Raya Baiturrahman.

Setelah menguasai Dalam, pihak Belanda melalui Letnan Jenderal van Swieten mengeluarkan proklamasi bahwa Pemerintah Hindia Belanda telah menggantikan kedudukan Sultan dan menempatkan Daerah Aceh Besar menjadi milik Pemerintah Hindia Belanda. Pihak Belanda berusaha agar daerah-daerah di luar Aceh Besar mengakui kedaulatan Pemerintah Hindia Belanda, dan jika tidak dapat dengan jalan damai, akan dilakukan dengan kekerasan.

Pihak Belanda menyangka dengan menduduki Dalam dan sebagian kecil daerah Aceh Besar serta dengan sebuah proklamasi, dapat membuat daerah Aceh lainnya takluk kepada Belanda. Kenyataannya, perlawanan pihak Aceh semakin berkobar.

Meskipun van Swieten telah memproklamasikan bahwa Pemerintah Hindia Belanda menggantikan kedudukan Sultan, pihak Aceh tetap mengangkat pengganti Sultan Alaiddin Mahmud Syah yang telah mangkat dengan Tuanku Muhammad Daud bergelar Sultan Alaiddin Muhammad Daudsyah (putra Tuanku Zainal Abidin bin Sultan Alaiddin Ibrahim Mansyur Syah).

Perlawanan pihak Aceh terus berlanjut hingga menjelang awal kedatangan Jepang (1942). Perlawanan tersebut dipimpin oleh ulama dan uleebalang serta disemangati oleh pengaruh syair-syair yang heroik dari penyair yang membangkitkan semangat dan antipati terhadap Belanda yang disebut sebagai kafir yang harus dilawan.

Syair-syair tersebut, di antaranya Hikayat Prang Sabi (Teungku Chik Pante Kulu), Hikayat Prang Kompeni (Do Karim/Abdul Karim), dan sebagainya. Antipati juga disebabkan oleh pihak Belanda yang tidak memperbolehkan rakyat Aceh untuk mengibarkan Bendera Alam Peudeueng dan harus mengibarkan Bendera Belanda.

Perlawanan rakyat Aceh dalam Perang Aceh sepanjang sejarah yang disebutkan di atas, melahirkan banyak catatan-catatan. Jenderal GP. Booms dalam bukunya De Erste Atjeh Expediti en Hare Enquete (Zentgraaf, 1938) menulis: “Blijkbaar rekende men dus op een gemakkelijke overwinning. De feiten, een jarenlange ervaring, hebben echtar getoond, dat men te maken had men telrijken, energieken vijand,… met een volk van een ongekende doodsveracting,dat zich onverwinbaar achtte… die ervaring leert in een woord, dat wij niet gestaan hebben tegenover een machteloozen sultan wiens rijk met den valvan zijn Kraton zou ineenstorten maar tegenover een volksoorlong, die behalve over al de materieele middelen vaqn het land, over geweldige moreele krachten van fanatisme of patriotisme beschikte..”

(“telah diperkirakan suatu kemenangan yang akan diperoleh dengan mudah. Akan tetapi, pengalaman bertahun-tahun lamanya memberikan petunjuk, bahwa yang dihadapi itu adalah musuh dalam jumlah besar yang sangat gesit, … suatu bangsa yang tidak gentar menghadapi maut, yang menganggap ia tidak dapat dikalahkan… Pengalaman itu memberi pelajaran, bahwa kita tidak dapat menghadapi seorang Sultan, yang kesultanannya akan berubah dengan jatuhnya Kraton, akan tetapi kita menghadapi rakyat yang menentukan harta-benda negara, memilki tenaga-tenaga moril, seperti cinta tanah air”).

Dalam sidang Parlemen Belanda pada 15 Mei 1877, Menteri Urusan Koloni Belanda memberikan jawaban atas interpelasi yang menyoalkan kegagalan Belanda itu, “Wij hebben te trotseeren gehad een ongekande doodsveracthing, een volk dat zich onverwinbaar achtte” (“Kita telah menghadapi maut, bangsa yang menganggap ia tidak sedikit pun gentar menghadapi maut, bangsa yang menganggap ia tidak mugkin dapat dikalahkan”).

Kegagalan Belanda itu terus saja dibicarakan, sampai Belanda pun menaruh hormat atas keberanian pejuang Aceh (baik pria maupun wanita). Rasa hormat itu sebagaimana diungkapkan Zentgraaff dalam bukunya Atjeh, yang menulis: “De Atjehschevrouw, fier en depper, was de verpersoonlijking van den bittersten haat jegens ons, en van de uiterste onverzoenlijkheid an als zij medestreed, dan deed zij dit met een energie en doodsverachting welke veelal die der mennen overtroffen. Zij was de draagster van een haat die brandde tot den rand van het graf en nog in het aangezicht van den dood spuwde zij hem, den kaphe in het gezicht”

(“Wanita Aceh gagah dan berani mereka pendukung yang tidak mungkin didamaikan, terhadap kita dan bila ia turut serta bertempur, dilakukannya dengan gigih dan mengagumkan, bersikap tidak takut mati yang melebihi kaum pria. Ia mempunyai rasa benci yang menyala-nyala sampai liang kubur dan sampai saat menghadapi maut, ia masih mampu mendahului muka si kaphe”).

Perang antara pihak Belanda dan pihak Aceh yang dikenal dengan Perang Aceh melahirkan pengakuan pihak Belanda. G.B. Hooyer (1897) menulis: “Geen benden van Diepo Negoro of Sentot, geen dweepzieke Padri’s, geen scharen Balineezen of ruitmassa’s der Bonieren ontwikkelden ooit zooveel dapperheid en doodsverachting in het gevecht, zooveel stoutheid bij den aanval, zooveel vertrouwen op eigen kracht, zooveel taaiheid in tegenspoed, als die door den vrijheidlievenden, fanatieken, voor den guerilla-krijg als geschapen Atjeher werden betoond. Daarom zal de Atjeh-oorlog steeds een leerschool blijven voor ons leger, …”

(“Tidak ada pasukan Diponogoro atau Sentot (Ali Basyah Prawiro Dirjo), tidak ada pasukan Padri yang sedemikian fanatiknya, tidak ada pasukan Bali atau pasukan berkuda orang Bone yang telah memperlihatkan keberanian dan tidak gentar menghadapi maut di dalam pertempuran-pertempuran, disertai dengan kenakalan-kenakalan pada penyerangan, demikian penuh kepercayaan pada kekuatan sendiri, begitu gigih di dalam menghadang lawan, seperti yang diperlihatkan oleh orang Aceh yang cinta kemerdekaan, fanatik dan laksana dilahirkan untuk bergerilya. Karenanya, perang Aceh akan selalu merupakan sekolah tempat belajar untuk tentara kita, …”).

Zentgraaf, menutup dengan kalimat: “Cemme ils tombent bien…. en is er een volk op deze aarde dat de ondergang dezer heroike figuren niet met diepe vereering zou schrijven in het ziyner historie?” (… dan adakah suatu bangsa di bumi ini yang tidak akan menulis tentang gugurnya para tokoh heroik ini dengan rasa penghargaan yang sedemikian tingginya di dalam buku sejarahnya?”).


Sumber : http://vhourkhanrasheed.blogspot.com/2011/08/syahid-lapan-sebuah-kebisuan-sejarah.html