Tampilkan postingan dengan label Aceh Timur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aceh Timur. Tampilkan semua postingan

Aceh Timur Kembangkan Wisata Syariat Islam

Syariat Islam di Aceh Timur (tourismnews)

Pariwisata di bidang seni, budaya,dan adat istiadat yang digalangkan Aceh Timur akan dilandaskan pada syariat Islam. Hal tersebut dikatakan Wakil Bupati Aceh Timur, Syahrul Bin Syamaun, pada acara pemilihan Duta Wisata Aceh Timur 2013.

Wilayah Aceh Timur merupakan kawasan wisata yang sangat lengkap. Selain wisata pantai, terdapat juga wisata religi karena Aceh Timur, khususnya kecamatan Peurlak, meupakan daerah yang pertama sekali Islam masuk di Asia Tenggara, terbukti dengan peninggalan beberapa artefak atau batu bertulis di nisan Sultan Maulana Abdul Azizisyah dan Nisan Raja Peurla.

Terpilihnya Duta Aceh Timur diharapkan dapat menjadi ikon Duta Wisata Aceh Timur  dalam mempromosikan pemahaman kepariwisataan, seni dan budaya serta menjunjung norma-norma syariat islam. Kegiatan pemilihan duta wisata merupakan agenda tahunan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan tingkat provinsi dan nasional.

Tema pemilihan duta wisata pada Tahun 2013 ini adalah “Pemilihan Duta Wisata Aceh Timur, menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi generasi muda, dalam melestarikan seni budaya, dan kepariwisataan di Aceh Timur".

(tourismnews)

Dermaga Idi, Kota Ikan di Aceh Timur

Suasana pelabuhan Idi

PELABUHAN perikanan Pantai Idi dulunya merupakan pelabuhan umum yang digunakan sebagai pelabuhan ekspor-impor hasil perkebunan dan menjadi salah satu pelabuhan besar pada saat itu. Pada masanya, pelabuhan Idi bahkan memiliki jaringan kabel telepon bawah laut ke Pulau Penang, Malaysia.

Pada 1974, awalnya Tempat Pendaratan Ikan (TPI) berada di Gampong Jawa, Idi. Seiring perkembangannya, TPI itu kemudian dipindahkan ke Gampong Blang Geulumpang, Kuala Idi.

Pelabuhan Idi, pada tahun 1983 statusnya ditingkatkan menjadi Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI). Akibat semakin pesat dan ramainya aktivitas di pelabuhan tersebut, bedasarkan Surat Keputusan Gubernur Provinsi Aceh Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 34 tahun 2003, PPI Idi Akhirnya ditingkatkan status menjadi Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Idi.

Pelabuhan Idi memiliki potensi lokasi yang sangat menguntungkan. Secara geografis letak Pelabuhan Pantai Idi cukup strategis karena berada di pertengahan antara dua kota besar, yakni Banda Aceh dan Medan, Sumatera Utara. Kondisi ini memberikan kemudahan pemasaran hasil tangkapan para nelayan khususnya Kuala Idi dan umumnya Kabupaten Aceh Timur.

Pelabuhan Idi juga memiliki potensi perikanan yang cukup baik. Hal itu dapat dilihat dari banyaknya jumlah boat yang beroperasi di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Idi yang hampir mencapai 400 unit boat berbagai jenis dan ukuran.

Dengan kapasitas boat nelayan mencapai ratusan tersebut, ikan hasil tangkapan nelayan saat ini mencapai 40 ton per hari atau 72.000 ton per tahun.
Berbagai aktivitas di Pelabuhan Perikanan Pantai Idi dilakukan di dermaga bongkar muat dengan panjang 464 meter yang meliputi 300 meter dermaga sisi timur dan 164 meter dermaga sisi barat. Selain aktivitas bongkar muat, PPP Idi juga memiliki usaha pengolahan ikan asin tradisional.

UPTD Pelabuhan Perikanan Pantai Idi memiliki program pembangunan dan pengembangan. Adapun tujuan pengembangan yakni ingin menata kawasan perikanan dan menyediakan fasilitas yang diperlukan, mengkaji berbagai potensi kawasan untuk meningkatkan usaha perikanan Kuala Idi, meningkatkan produksi perikanan untuk memenuhi kebutuhan konsumen dan pendapatan para nelayan, serta agar tersusunnya suatu rencana teknis pembangunan kawasan di Kuala Idi dan meningkatkan profesionalisme pengusaha perikanan dan memotivasi nelayan untuk meningkatkan kesejahteraannya.

Jika mengacu pada Keputusan Menteri Kelautan Dan Perikanan nomor 10 tahun 2004 tentang Pengklasifikasian Pelabuhan Perikanan sudah selayaknya Pelabuhan Perikanan Pantai Idi ditingkatkan statusnya menjadi Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) agar pengelolaan perikanan di wilayah timur Aceh dapat dilakukan secara maksimal.

Tentunya memiliki alasan, alasannya kritiria untuk menjadi PPN bagi Pelabuhan Perikanan Pantai Idi sudah dapat terpenuhi yaitu meliputi, jumlah kapal/boat yang ada di Pelabuhan Perikanan Pantai Idi sebanyak lebi kurang 400 unit armada kapal tangkap dengan ukuran antara 5 sampai dengan 50 GT dan pada tahun 2009 FAO bekerjasama dengan dinas terkait telah meregistrasi kapal sebanyak 102 unit armada tangkap yang klasifikasinya 10 sampai dengan 50 GT.

Bukan hanya itu, bahkan jangkauan operasional kapal-kapal tersebut mencapai ZEEI (Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia). Ditambah lagi panjang dermaga disisi timur mencapai 300 meter dan sisi barat mencapai 160 meter, serta hasil tangkapa nelayan dapat mencapai 40 ton atau lebih perhari.

Kendati masih ada saja kekurangan, saat ini upaya pengembagan dan pembangunan kawasan Pelabuhan Perikanan Pantai Idi menjadi sebuah pelabuhan perikanan terpadu juga sedang dilakukan melalui berbagai koordinasi dan kerjasama dengan berbagai dinas dan intansi terkait lainnya di lingkungan Pemerintah Aceh.

Tak hanya itu, guna untuk mendukung terwujudnya pelabuhan perikanan yang berkelas nusantara, Pelabuhan Perikanan Pantai Idi juga telah dtetapkan sebagai salah satu kawasan Mina Politan oleh Kementrian Kelautan Dan Perikanan RI. Selain itu, PPP Idi juga merupakan salah satu pelabuhan yang telah mendapatkan Sertifikat ekspor ikan ke luar negeri (Uni Eropa) bedasarkan MoU antara Indonesia dengan Uni Eropa.

Pelabuhan ini ditetapkan menjadi lokasi Minapolitan (Kota Ikan_red), lokasinya di dusun Calok Geulima, Gampong Jawa, Kecamatan Idi rayeuk, dengan luas areal 10 hektar. Dilokasi tersebut akan dipersiapkan berbagai alat kebutuhan, seperti unit pengelola ikan (UPI), tempat pelatihan nelayan, pasar grosir, alat kebutuhan nelayan, warung kuliner serba ikan dan kawasan pemukiman nelayan. | Atjehpost.com

Siapa Pendiri Kesultanan Peureulak?


Kerajaan Peuereulak adalah kerajaan yang telah mempunyai Tamaddun atau kebudayaan yang tinggi seperti adanya angakatan perang. Kerajaan ini didirikan oleh Sultan Alaidin Sayed Maulana Abdul Aziz Syah.

Pada tahun 30 Hijriah atau 651 Masehi, Khalifah Usman Bin Affan mengirim delegasi ke Negeri Cina. Delegasi tersebut lalu singah di Aceh sambil memperkenalkan agama Islam. Sejak itu para pelaut dan para pedagang muslim terus berdatangan, kemudian mereka membeli hasil bumi sambil berdakwah. Lalu lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk agama Islam.

Kesultanan Peureulak merupakan kerajaan Islam pertama di nusantara bahkan di Asia Tenggara. Kerajaan ini berkuasa pada tahun 840 hingga 1292 Masehi, kini daerah tersebut masuk dalam wilayah Aceh Timur Provinsi Aceh.

Peureulak merupakan suatu Daerah penghasil kayu Peureulak, yaitu kayu yang terkenal sebagai bahan dasar pembuatan kapal. Akibat Peureulak dalam posisi strategis dengan hasil alamnya yang melimpah membuat Peureulak berkembang sebagai pelabuhan niaga yang maju pada abad VIII hingga Abad XII. Dengan demikian, Peureulak berkembang dan sering disinggahi oleh kapal-kapal dari Arab, Persia, Gujarat, Malaka, Cina serta seluruh kepulauan Nusantara.

Pendiri kesultanan Peureulak adalah, Sultan Aliadin Sayed Maulana Abdul Aziz Syah, yang merupakan keturunan pendakwah dari Arab. Kerajaan Peureulak didirikan pada tanggal 1 Muharam 225 Hijriyah/840 Masehi, saat itu kerajaan Mataram Hindu di pulau Jawa masih berjaya.

Sultan Aliadin Sayed Maulana Abdul Aziz Syah adalah Putra dari Sayed Ali Al-Muktabar turunan arab dan Puteri Makhdum Tansyuri dari kerajaan Peureulak. Selanjutnya terus menerus Genarasi Disnati Sayed Maulana Abdul Aziz syah memerintah kereajaan Peureulak (225-248) Hijriyah atau (840-864) Masehi.

Sultan Aliadin Sayed Maulana Abdul Aziz Syah dan isterinya Putri Meurah Mahdum Khudawi keduanya merupakan pendiri kerajaan islam pertama diasia Tenggara. Beliu berkuasa 1 Muharram 225 Hijriyah sampai denganm 249 Hijriyah sama dengan 840-864 Masehi. Kemudian beliu wafat di Gampong Bandar Khalifah, Bandrong, Kecamatan Peureulak, Aceh Timur Provinsi Aceh. Pada saat kejayaan Hindu, langkah pertama yang dilakukan oleh Sultan Alaidin adalah mengubah nama Bandar Peureulak Menjadi Bandar Khalifah.

Kemudian pada tahun 956 Masehi/362 Hijriyah, terjadi ketegangan politik antara golongan Sunni dan golongan Syiah, tetapi diakhiri dengan perdaiman sehingga kerajaan Peureulak pcah menjadi dua kerajaan. Yang pertama adalah Kerajaan Peureulak Pesisir (Syiah-red) yang dipimpin oleh Sultan alaidin Sayed Maulana Abdul Aziz Syah (986-988) Masehi. Kemudian yang kedua adalah Kerajaan Peureulak Pedalaman (Sunni-red) yang dipimpin oleh Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Syah Johan Berdaulat (986-1023) Masehi.

Kemudian pada tahun 988 Masehi, kerajaan Buhda Sriwijaya menyerang kerajaan Peureulak. Dalam pertempuran tersebut Sultan Alaidin Sayed maulana Abdul Aziz Syah meninggal dunia.

Hikmah dibalik serangan kerajaan Budha Sriwijaya tersebut, Peureulak bersatu kembali dibawah pimpinan Sultan Makhdum Alaiddin Malki Ibrahim Syah Johan Berdaulat. Dan peperangan melawan kerajaan Budha Sriwijaya berlanjut hingga tahun 1006 Masehi.

Kerajaan Peuereulak adalah kerajaan yang telah mempunyai Tamaddun atau kebudayaan yang tinggi seperti adanya angakatan perang kerajaan, hubungan diplomatic luar negeri, kemakmuran ekonomi dan dengan adanya pusat ilmu pengetahuan yaitu Dayah atau Zawiyah Cot Kala.

Kemudian dunia internasional mendukung peureulak sebagai daerah pertama masuknya Islam ke Asia Tenggara, yang diwacanakan dalam bentuk pembangunan Monumen Islam Asia Tenggara (Monisa). Setelah Kerajaan Peureulak mengalami kemunduran maka pada wal abad ke-13 diujung Sumatera berdiri kerajaan Islam baru bernama Samudera Pasai dibawah Pimpinan Sulthan Malikus Saleh.

Dengan berdirinya kerajaan Islam baru bernama Samudera Pasai di bawah Pimpinan Sulthan Malikus Saleh tersebut makanya Samudera Pasai sering disebut dengan Madinah. Sementara orang-orang menyebut Kerajaan Peureulak adalah Mekkah, tempat berdirinya Islam.

Berawal dari Pho He la

Asal mula nama Peurelak diriwayatkan berasal dari nama pohon “Kayee Peureulak”. Jenis kayu dari pohon ini digunakan untuk pembuatan kapal/perahu. Karena banyaknya orang yang membutuhkan kayu tersebut untuk pembuatan kapal, maka nama Peureulak tersiar sampai keluar daerah itu. Orang menyebut daerah itu dengan sebutan Negeri Peureulak.

Para pelawat/pengembara dari manca negara pun singgah ke pelabuhan di daerah Kayee Peureulak. Dinamaialah pelabuhan itu sebagai Bandar Peureulak. Sejak itu Negeri Peureulak jadi terkenal, meski sistim pemerintahannya masih sangat sederhana, pada waktu itu Peureulak diperintah secara turun temurun oleh raja bergelah Meurah.

Sebelum Zaman Islam, semasih jaya-jayanya Kemaharajaan Parsia di bawah pimpinan para “Kisra” dari Dinasti Sassanid, seorang putera dari Istana Sassanid yang bernama “Pangeran Salman” meninggalkan tanah airnya menuju benua timur, mengikuti sebuah kapal-layar bersama para pedagang yang pergi berniaga ke Asia Tenggara dan Timur Jauh.

Kapal-layar yang membawa para pedagang Parsia dan Pangeran Salman, waktu melayari Selat malaka singgah di Bandar Jeumpa (Bireuen), dan setelah kapal tersebut berlayar kembali menuju Timur Jauh, ternyata Pangeran Salman tidak ikut lagi, dia tinggal di Negeri Jeumpa, mungkin sekali hati pangeran yang putih kuning dan tinggi semampai itu telah terpaut pada seorang dara dari Istana Jeumpa.

Hal itu menjadi kenyataan, setelah beberapa bulan kemudian Pangeran Salman telah diambil menjadi menantu oleh Meurah Negeri Jeumpa. Salman di kawinkan dengan puteri Istana Jeumpa yang berkulit “sawo matang” bernama Mayang Seludang.

Negeri Peureulak yang kaya dengan “kayei Peureulaknya” telah menarik Pangeran Salman bersama istrinya untuk merantau ke negeri yang terletak di sebelah timur Jeumpa itu. Dengan seizing mertuanya “Meurah Jeumpa”, Pangeran Salman dan isterinya Puteri Mayang Seludang berangkatlah ke Negeri Pereulak lak dengan sebuah perahu kepunyaan Negeri Jeumpa dengan diantar beberapa perahu lainnya, mungkin sekali Pengeran dari Parsia itu membawa juga sebuah surat pengenalan dari Meurah Jeumpa (mertuanya) kapada Meurah Negeri Peureulak.

Kedatangan Pangeran Salman dan istrerinya di Negeri Peureulak diterima dengan sambutan yang sangat baik sekali, bukan saja oleh rakyat Peureulak, bahkan juga oleh Meurah Peureulak dan para pembesar negeri lainnya. Hail ini, karena telah diketahui lebih dahulu bahwa Pangeran Salman adalah turunan dari Dinasti Sassanit yang memerintah kemaharajaan Parsia, sedangkan isterinya Puteri Mayang Seludang adalah puteri dari Meurah yang memerintah Negeri Jeumpa yang terletak desebelah barat Peureulak.

Bandar Peureulak yang ramai di singgahi kapal-kapal dagang yang datang dari timur dari barat, memikat hati Pengeran Salman dan isterinya, sehingga mereka mengambil keputusan untuk menetap di Bandar Peureulak, keputusan itu disambut gembira oleh Meurah dan rakyat Peureulak.

Ketika raja Peureulak mangkat, ia tidak punya putra sebagai penggantinya, maka rakyat Peureulak mengangkat Pengeran Salman sebagai Raja Peureulak yang baru. Setelah berada di bawah pimpinan Pangeran Salman, Negeri Peureulak bertambah maju dan para pedagang dari Parsia bertambah banyak datang serta mengadu untung di Bandar Peureulak yang tambah ramai.

Pangeran Salman yang telah menjadi Meurah Peureulak, mendapat empat orang putera dari isterinya Puteri Mayang Seludang yaitu, Syahir Nuwi, yang kemudian menggantikan ayahnya menjadi Meurah Peureulak. Syahir Tanwi (Puri), yang kemudian merantau ke negeri ibunya, Negeri Jeumpa, dan diangkat menjadi Meurah Negeri Jeumpa menggantikan kakeknya yang telah meninggal.

Syahir Puli, yang merantau jauh ke barat, dan di tempat tersebut dia diangkat oleh rakyat menjadi di daerah Pidie. Satu lagi Syahir Duli, yang setelah dewasa merantau ke barat paling ujung, dan karena kecakapannya maka di sana diangkat oleh rakyat menjadi Meurah Negeri Indra Purba (Aceh Besar sekarang).

Tapi riwayat lainnya, berdasarkan catatan lama Abu Ishaq Makarani Pase, dalam Risalah Idharul-Haq fi Mamlaka Peureulak, menggambarkan Peureulak sebagai bandar, pusat perdagangan yang sangat ramai pada tahun 173 Hijriah, atau tahun 800 Masehi. Karena itu pula Peureulak disebut sebagai salah satu kota peradaban tertua di Aceh.

Pada tahun tersebut, datang ke Peureulak sebuah rombongan pedagang, yang dipimpin oleh nakhoda Khalifah. Mereka merupakan saudagar-saudagar Arab, Persia dan India muslim. Mereka datang ke bandar Peureulak untuk membeli lada, salasari, dan berbagai rempah-rempah lainnya.

Setelah tiga bulan mengumpul rempah-rempah, mereka kemudian kembali ke negerinya. Tapi tak lama kemudian, saudagar-saudagar dari negeri Arab lainnya datang, setelah mengetahui asal barang yang dijual oleh nakhoda Khalifah dan rombongannya. Maka sejak itu pula Bandar Khalifah menjadi terkenal.

Seiring dengan itu pula, para pendatang dari Arab tersebut menyebarkan agama Islam di Peureulak. Islam semakin cepat berkembang, apalagi setelah Islam diterima oleh raja Peureulak. “Dua ratus dua puluh lima tahun, pada hari selasa, maka naiklah raja Sultan Marhum Alaiddin Maulana Abdul Aziz Syah Zillullah Fil Alam. Dan adalah lama dalam tahta kerajaan dua puluh empat tahun, maka ia pun meninggal pada hari Ahad, dua hari bulan Muharram pada waktu zuhur intaha kalam,” tulis Abu Ishaq Makarani Pase dalam risalah tersebut.

Untuk mengenang nakhoda Khalifah yang telah membuat bandar Peureulak terkenal sampai ke negeri Arab, maka ibu kota negeri pemerintahan Islam di Peureulak dinamai Bandar Khalifah.

Kisah lain menyebutkan pembuka pertama negeri Peureulak pada masa lalu, yang bernama maharaja Pho He La Syahril Nuwi. Mungkin nama Po He La pula yang menjadi asal-usul nama Peureulak. Sultan pertama yang dipilih oleh golongan ahlus sunnah wal jamaah di negeri Peureulak adalah Meurah Abdul Qadir Syah yang bergelar Sultan Machdum Ala’ldin Malik Abdul Qadir Syah Johan Berdaulat Zillull-lah Fil Alam.[]

Para Sulthan Kerajaan Peureulak

Sulthan Aliaddin Sayed Maulana Abdul Aziz Syah (225-249 H)
Sulthan Alaiddin Maulana Abdurrahi Syah (249-258H)
Sulthan Sayed Maulana Abbas Syah (258-300 H)
Sulthan Alaiddin Sayed Maulana Ali Mughayat Syah (302-305 H)
Sulthan Maakhdum Alaiddin Malik Abdul Kadir Syah Johan Berdaulat (306-310 H)
Sulthan Alaiddin Malik Muhammad Amin Syah Johan Berdaulat (310-334 H)
Sulthan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Syah Johan Berdaulat (334-361 H)
Sultahan Sayed maulana Mahmud Syah (365-377 H)
Sulthan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Syah Johan Berdaulat (377-402 M)
Sulthan Makhdum Alaiddin Malik Mahmud Syah Johan Berdaulat (402-450 H)
Sulthan Makhdum Alaiddin Malik Mansyur Syah Johan Berdaulat (450-470 H)
Sulthan Makhdum Alaiddin Malik Abdullah Syah Johan Berdaulat (470-501 H)
Sulthan Makhdum Malik Ahmad Syah Johan Berdaulat (501-527 H)
Sulthan Makhdum Malik Mahmud Syah Johan Berdaulat (527-552 H),
Sulthan Makhdum Alaiddin Malik Usman Syah Johan Berdaulat (552-565 H)
Syah Johan Berdaulat Malik Mahammad Syah Johan Berdaulat (565-592 H)
Sulthan Makhdum Alaiddin Abdul Jalil Syah Johan Berdaulat (592-622 H)
Sulthan Makhdum Malik Malik Muhammad Amin Syah Johan Berdaulat (622-662 H)
Sulthan Makhdum Aliaddin Malik Abdul Aziz Syah Johan Berdaulat (662-692 H)


Sumber : http://vhourkhanrasheed.blogspot.com/2011/07/sultan-alaidin-pendiri-kesultanan.html

Pantai Kuala Beukah Aceh Timur

Objek Wisata Pantai Kuala Beukah berada di Desa Paya Lipah, Kecamatan Peureulak Kabupaten Aceh Timur, jarak tempuh Pantai Kuala Beukah sekitar 44 km dari Kabupaten Aceh Timur Pantai Kuala Beukah ini cukup panjang dan luas dengan air yang bersih. Pada hari-hari libur pantai Kuala Beukah ini sering dikunjungi oleh masyarakat Aceh Timur maupun dari luar daerah untuk piknik guna melepas kepenatan . Para pengunjung dapat berenang, memancing dan berbagai kegiatan pantai lainnya. Angin yang menghembus pelan dengan ombak Selat Malaka yang beralun lembut membuat pantai ini begitu mempesona.


Sumber : wisatanesia.com