Tampilkan postingan dengan label Wisata Belanja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Belanja. Tampilkan semua postingan

Ayo berbelanja ke Pasar Atjeh Baru di Banda Aceh

pasar atjeh baru
Pasar Aceh Baru (abangboyc.blogspot.com)
SUASANA Pasar Atjeh Shoping Center yang berada di jalan Diponegoro terlihat disesaki pengunjung sekitar pukul 12.00 Wib, Sabtu 4 Mei 2013. Bangunan yang terdiri dari dua blok ini didirikan di atas lahan empat hektar.

Bangunan untuk blok dua Pasar Atjeh Shoping Center tersebut masih dipagari seng di bagian depannya. Selembar panflet tertulis larangan melintas di bangunan tersebut.

Beberapa Anjungan Tunai Mandiri atau ATM dipasang di bangunan berlantai tiga dengan ciri khas Aceh tersebut. Ratusan kendaraan bermotor baik roda empat dan dua terparkir dengan rapi di tepi jalan Diponegoro.

Saat memasuki bangunan tersebut, suhu di dalam terasa dingin karena pengaruh Air Condisioner atau AC. Nyaris semua ruangan dilengkapi penyejuk ruangan. Selain itu, bangunan ini juga dilengkapi lift dan eskalator atau tangga jalan.

Seperti diberitakan Atjehpost.com, setiap lantai bangunan terdapat outlet dengan ukuran 4 x 3 meter yang jumlahnya mencapai ratusan unit.

Para pedagang memanfaatkan outlet-outlet ini untuk menjajakan pakaian, cake atau bolu, pernak pernik atau aksesoris dan juga ice cream. Pengunjung yang datang terlihat sibuk masuk dari satu outlet ke outlet lainnya yang disambut dengan senyuman ramah sang pedagang.

Kopi Solong Ulee Kareng dan 4 Oleh-oleh yang Aceh Banget!

Berwisata ke tanah rencong belum pas jika tak membawa oleh-oleh khas Aceh. Dari senjata tradisional yang khas yaitu rencong sampai kue manis yaitu timphan, inilah beragam oleh-oleh yang khas Aceh banget!

Beda tempat, beda lagi oleh-olehnya. Beruntung Provinsi Aceh diberi kekayaan budaya, tradisi, dan kuliner sehingga banyak yang bisa dijadikan buah tangan untuk keluarga dan kerabat. Dikutip dari detikTravel, ini dia 4 oleh-oleh dari Provinsi Aceh yang pantas Anda beli:

1. Rencong dan Songket Aceh

Rencong, senjata tradisional Aceh (goaceh.com)

Tau gak sih kenapa Provinsi Aceh disebut 'Tanah Rencong' adalah karena senjata ini. Rencong merupakan senjata tajam, tergolong sebagai belati, yang digunakan dalam Kerajaan atau Kesultanan Aceh. Rencong berukir kutipan ayat suci Al Quran, biasanya terbuat dari tanduk kerbau dengan kayu sebagai sarungnya.

Layaknya keris bagi masyarakat Jawa, rencong punya kekuatan mistis bagi warga Aceh. Sampai saat ini rencong masih dipakai sebagai atribut busana dalam upacara tradisional Aceh.

Tak sulit mendapatkan rencong kalau Anda berwisata ke Aceh, terutama ke ibu kotanya yakni Banda Aceh. Beberapa tempat membeli rencong antara lain Gaya Souvenir dan Kutaraja Suvenir di di Jl. Twk Pulo Dibaroh Kampung Baru, Pusaka Souvenir di Jl. Sri Ratu Safiatuddin Peunayong, dan Rencong Aceh di Jl. Mohd Jam.

"Harganya tergantung ukuran. Rencong besar sekitar Rp 150.000, yang kecil Rp 70.000-80.000," kata Roma, Public Relations Komunitas 'I Love Aceh' Kamis (18/4/2013).

Selain rencong, Aceh juga punya kain khas yakni songket. Kerajinan songket Aceh berasal dari Desa Siem di Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar. Dari Banda Aceh, Anda bisa naik labi-labi (kendaraan umum) atau mobil pribadi dengan jarak tempuh sekitar 14 Km.

Tak sekadar kain untuk pakaian, songket Aceh digunakan untuk beragam keperluan seperti hiasan meja, hiasan dinding, dan sebagainya. Selain menyambangi langsung tempat pembuatannya, Anda juga bisa belanja songket Aceh di toko-toko suvenir.

Pembuatan songket Aceh (atjehpost.com)

"Kalau songket agak mahal, Rp 200.000 per helai sarung," tambah Roma.

2. Kopi Solong Ulee Kareng

Kopi khas Aceh (atjehpost.com)

Aceh terkenal dengan kopinya. Terlepas dari kebiasaan masyarakat setempat menyeruput kopi, wisatawan bisa membawa kopi Aceh sebagai buah tangan. Salah satu gerai kopi yang paling terkenal adalah Ulee Kareng yang berlokasi di Jl Lamreung No 2, Banda Aceh.

Kopi yang terkenal adalah solong, yang disajikan lewat saringan kain yang bentuknya mirip kaus kaki. Kalau menikmati kopi solong di tempat, Anda bisa melihat barista memindahkan kopi dari satu ceret ke ceret yang lain. Citarasanya tak usah diragukan, kopi yang dirintis sejak tahun 1960 ini adalah yang paling terkenal kelezatannya di Aceh.

"Kita punya beragam jenis kopi mulai dari arabica super sampai bubuk kasar kopi robusta," tutur Budi, pegawai gerai kopi Ulee Kareng.

Lanjut Budi, harganya beragam tergantung kualitas. Yang termurah adalah bubuk kopi 100 gram yang dijual mulai Rp 7.000.

"Yang paling mahal kopi arabica super. Ukuran 300 gram harganya Rp 30.000," tambahnya.

 3. Kue tradisional Aceh

Timphan, salah satu kue tradisional Aceh (atjehpost.com)

Salah satu primadona wisata kuliner di Aceh adalah kue tradisionalnya. Ada banyak kue tradisional yang bisa dijumpai di seantero Aceh, namun ada 3 jenis yang paling terkenal di kalangan wisatawan.

Pertama adalah timphan. Kue basah ini dibungkus seperti lontong pipih dengan ukuran yang tak terlalu besar. Rasanya manis legit, sangat nikmat kalau dijadikan teman minum kopi Aceh. Karena tergolong kue basah, timphan hanya tahan sampai 2 hari karena dibuat tanpa bahan pengawet.

Kue kedua adalah bhoi. Kue yang dikenal di seluruh Aceh ini punya bentuk beragam mulai dari ikan, bunga, bintang, dan lain-lain. Tradisinya, kue bhoi disajikan saat hajatan atau pesta. Namun sekarang kue ini digemari wisatawan sebagai buah tangan, karena harganya relatif murah mulai dari Rp 5.000 per potongnya tanpa ada isi.

Ketiga, kue adee. Ini adalah kue basah sejenis bingkang dengan aroma bawang namun bercitarasa manis yang khas. Kue ini berasal dari kawasan Kabupaten Pidie Jaya. Biasanya kue ini jadi makanan pembuka saat buka puasa di bulan Ramadan. Namun sekarang, wisatawan bisa membawa adee sebagai oleh-oleh manis untuk keluarga.

Tak sulit mencari kue-kue tradisional Aceh, termasuk ketiga jenis tersebut. Salah satu toko yang menjualnya yakni Istana Kueh Tradisional di Jl Cut Nyak Dhien, Lampisang Lhoknga Km 8, Kabupaten Aceh Besar. Selain itu Anda juga bisa menyambangi Pasar Aceh di Peunayong, persis di belakang Masjid Raya Baiturrahman.


4. Dendeng Aceh
Dendeng Aceh (jalanjalanyuk.com)
Bisa jadi, Dendeng Aceh adalah makanan yang paling tahan lama untuk dijadikan oleh-oleh. Dendeng Aceh terbuat dari daging sapi atau rusa yang diiris tipis, dikeringkan, dan dicampur olahan rempah dan bumbu tradisional. Ada berbagai rasa mulai dari asin, manis, sampai rasa kari.

Salah satu toko yang menjual Dendeng Aceh adalah Toko Dendeng Seulawah di Jl Cik Ditiro Banda Aceh, di depan Terminal Batoh. Toko-toko suvenir dan Pasar Aceh yang berada di Peunayong juga menyuguhkan Dendeng Aceh dengan beragam harga.

Di toko, 1 Kg dendeng sapi dijual Rp 200.000 sedangkan dendeng rusa sekitar Rp 300.000. Meski tanpa pengawet, Dendeng Aceh bisa bertahan hingga 3 bulan!


(detikTravel)

Foto - Wajah Pasar Tradisional di Kota Sabang


Kawasan Jalan Perdagangan di Kota Bawah Sabang merupakan salah satu ruas pasar tradisional di Kota tersebut. Deretan bangunan berlantai dua itu saban waktu diwarnai dengan berbagai transaksi pembelian dan penjualan.
Pasar tradisional ini diperkirakan sudah dibangun sekitar tahun 1881 untuk mendukung Pelabuhan Bebas Sabang yang ditetapkan oleh Pemerintahan Hindia Belanda.
Pasar tersebut sudah melalui beberapa kali rehabilitasi dan rekontruksi hingga saat ini. Sayangnya, upaya pengembangan pasar ini minim sekali. Tidak ada produk-produk menarik yang dipasarkan untuk menunjang optimalisasi pengembangan Sabang sebagai wilayah pelabuhan bebas.
Jika Anda berniat mencari barang-barang bebas pajak, sangat sulit ditemukan disini. Apalagi berbelanja ria di Duty Free Shop.
Berikut Foto-foto aktivitas perdagangan di Kota Sabang yang direkam Theglobejournal.com :











Sentra Industri Bordir Samahani - Aceh Besar



JANTHO - Sentra industri kecil yang ada di Samahani, Aceh Besar berhasil mengembangkan produk kerajinan tas bordir dan beberapa aksesoris khas Aceh lainnya. Dalam sehari, kerajinan khas Aceh berhasil diproduksi oleh 25 perajin lokal hingga 52 sampai 100 unit tas bordir.
Pasar produksi industri khas Aceh ini mencakup wilayah Aceh, Medan dan Jakarta. Rata-rata per unit produk khas Aceh ini dijual seharga Rp 5 ribu sampai Rp 200 ribu. Harga tersebut bervariasi untuk masing-masing barang yang dijual.
"Pada tahun 2009, produk dari Samahani ini pernah di ekspor ke Alabama, Amerika utara. Namun pada awal 2011 ekspor tersebut terhenti tanpa alasan yang jelas," tutur Kordinator Produksi, Ermawati, Senin 14 Januari 2013.
Menurut Ermawati, produk kerajinan bordir tersebut saat ini masih terkendala dengan bahan baku produksi yang masih di pasok dari Pulau Jawa. Mereka kerap mengalami hambatan pasokan sehingga mengakibatkan terkendala pada proses produksi.[bna] Atjehpost.com
Berikut beberapa foto di Sentra Industri Khas Aceh Samahani :

Suasana Pasar Peunayong setelah Subuh


BANDA ACEH - Pasar tradisional yang berada di kawasan Peunayong Banda Aceh ini sering juga disebut sebagai pasar subuh. Namun di waktu subuh suasana pasar ini masih belum normal dan sepi aktivitas. Keramaian baru dimulai sejak pukul 08.00 wib pagi. 

Di pasar ini banyak terdapat  ibu-ibu yang berjualan, rata-rata mereka menjual sayur-sayuran yang masih segar.

Walaupun masih pagi-pagi sekali, pasar sudah di penuhi oleh para pembeli, umumnya pembeli yang datang ke pasar ini adalah para pemilik rumah makan yang terdapat di Banda Aceh, dan ada juga para ibu-ibu rumah tangga.

Berikut foto-fotonya yang kami ambil dari Atjehpost.com:

Aktivitas Pagi di Pasar Lambaro Aceh Besar


BANDA ACEH - Pasar Lambaro menjadi sasaran alternatif warga yang berdomisili di luar kota Banda Aceh untuk berbelanja di pagi hari. Beragam kebutuhan sehari-hari tersedia di sana. Mulai sayur-sayuran, daging, dan juga kebutuhan lain. Aktivitas warga berbelanja di pasar tersebut terlihat ramai sejak pukul 06.00 WIB pagi. (bna)
Berikut beberapa foto yang kami ambil dari  Atjehpost.com di Pasar Lambaro: