Tampilkan postingan dengan label Tsunami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tsunami. Tampilkan semua postingan

Kisah Mukhtar, korban tsunami dengan 1 kaki tak mau ratapi nasib

(c) Merdeka
Cacat fisik bukan alasan bagi pria ini tidak bekerja untuk menafkahi keluarganya. Pantang baginya meminta-minta seperti pada umumnya menjual kecacatan. Baginya, selama masih mampu menggerakkan kaki, tangan dan seluruh anggota tubuhnya, ia tetap akan bekerja untuk menyekolahkan kedua anaknya.

Memang, pekerjaan yang dilakoni oleh pria ini tidak lazim dikerjakan oleh seorang yang cacat kaki. Pekerjaan itu semestinya dikerjakan oleh orang yang normal. Tapi, tidak dengan seorang pria ini, dengan segala keterbatasannya, ia tetap bisa mengerjakan pekerjaan yang tergolong berat.

Namanya Mukhtar berusia 40 tahun. Pagi itu saat merdeka.com temuinya di Lhoknga, ia mengenakan baju kemeja warna abu-abu lengan panjang, dengan memakai celana jeans pendek di bawah lutut. Dialah sosok inspiratif korban tsunami yang sampai kaki harus diamputasi, tapi ia tak patah arang.

Senyum sumringahnya, terpancarkan dari raut wajahnya tidak mengeluh atas musibah yang menimpanya. Ia beranggapan, dihantam tsunami 9 tahun silam adalah cobaan yang harus ia terima dengan lapang dada, justru ia bersyukur bisa selamat dari terjangan tsunami yang maha dahsyat itu.

Alkisah, pagi itu Minggu 26 Desember 2004, terjadilah gempa tektonik berkekuatan 9,8 SR. Lalu disusul adanya gelombang tsunami yang meluluhlantakkan semua perkampungan di desa Lamkreut, Kecamatan Lhohnga, Aceh Besar tempat ia bermukim.

"Masih terbayang kejadian meski sudah 9 tahun berlalu, seakan-akan baru saja terjadi," kata Mukhtar.

Ingatannya masih segar ketika ada informasi air laut mau naik ke darat. Meskipun setengah percaya, ia bergegas mengajak istrinya dan kedua anaknya untuk bersiap-siap pergi menyelamatkan diri.

Namun, apa hendak dikata, kecepatan air menerjang melebihi lari ia bersama anak dan istrinya. Belum sempat menyelamatkan diri, terjangan ombak sudah terlebih dahulu tiba. Saat itu, istri dan kedua anaknya sudah berada dalam mobil bak terbuka milik tetangga hendak pergi menjauh dari bibir pantai. Pasalnya, rumah dia hanya selemparan batu dari laut.

"Saya gak terlalu ingat lagi, pokoknya istri dan anak saya waktu itu sudah naik mobil, terus datang air, kedua anak saya dan istri saya dibawa air, gak dapat jenazahnya," kenang Mukhtar. Kendati demikian, saat ini ia sudah bisa bercerita sembari tertawa. Menurutnya, sekarang saatnya bangkit, tidak lagi harus terus terpuruk dan bersedih dengan kisah masa lalu. Cukup hanya dikenang untuk menumbuhkan spirit membangun kehidupan baru dengan istrinya dan kedua anaknya hasil perkawinannya paska tsunami.

Mukhtar kembali bercerita, waktu itu tak sadarkan diri saat gelombang tsunami menggulung-gulungnya. Akan tetapi yang segar masih ingatannya, sebelum air menerjangnya, ada hembusan angin sangat kencang membuat dia terdampar hingga terbentur tembok rumah.

"Kaki saya patah itu karena terjangan angin, lalu saya terbentur dinding, saat itulah saya tak sadarkan diri," kisahnya.

Kesadarannya kembali pulih setelah ia tergulung tsunami dan terdampar sekitar 3 km dari rumahnya. Saat ia sadar, kaki kanannya sudah patah di tulang di bawah lutut, hanya tinggal tertahan dengan kulit. Demikian juga tangan kanannya juga ikut patah, tapi tidak terlalu parah.

"Saya sadar, saya tersangkut di sebuah kayu, lalu saya coba turun, ternyata sangat dalam masih," tegasnya.

Nah, tidak jauh dari dirinya, tutur Muhktar, terlihat ada papan tiga lembar, lalu dengan sisa tenaganya ia kayuh untuk menggapai papan tersebut. Dengan 3 lembar papan itulah ia bisa lebih leluasa untuk bertahan hidup di dalam gempuran air laut yang naik ke darat.

Kisah sedih itu sudah berlalu 9 tahun silam. Kini ia sudah memiliki kembali dua buah hati hasil perkawinan dengan istrinya setelah tsunami. Anak pertama laki-laki diberi nama M Haris Mahfuzi usia 6 tahun, anak kedua seorang putri yang lincah bernama Intan Munawarah baru berusia 3 tahun. Sedangkan istrinya sekarang bernama Siti Rahmah (27).

Kisah kakinya sampai harus diamputasi, setelah ia diselamatkan oleh warga desanya, sekitar pada pukul 15.00 WIB pada hari pertama tsunami. Lalu diambil dan dibawa ke lokasi yang lebih aman dengan digotong. Setiba ia di daratan, terasa seluruh badannya remuk, tidak ada lagi sisa tenaga untuk menggerakkan tubuhnya, ia terkulai lemas tak berdaya, bahkan ia sempat tak sadarkan diri saat ia berada di daratan. Ia sendiri tidak ingat secara pasti berapa jam ia tak sadarkan diri.

Setelah berhasil diselamatkan. Baru esok harinya, pada hari kedua tsunami, ia diantar ke rumah sakit Kesdam Banda Aceh, rumah sakit Kesdam. Rumah sakit itu merupakan satu-satunya rumah sakit di Banda Aceh yang beroperasi dan setelah diperiksa langsung diputuskan untuk diamputasi karena luka sudah parah.

"Setelah diamputasi pertama, karena infeksi terus terjadi, maka saya dirujuk ke Medan di rumah sakit Elizabet, di sana saya kembali diamputasi sebanyak 2 kali, sampai habis kaki saya," tuturnya.

Setelah ia sembuh total, sekitar satu tahun kemudian. Lalu ia berpikir, tidak mungkin ia harus berdiam diri, meratapi apa yang telah ia alami. Namun ia berpikir harus bangkit, bangkit mencari pekerjaan tanpa harus meminta-minta.

Pekerjaan yang pernah ia kerjakan memang tergolong tidak lazim dikerjakan oleh seorang yang cacat kaki. Kenapa tidak, ia memilih pekerjaan sebagai tukang servis AC. Pekerjaan itu termasuk tergolong berat bagi Mukhtar yang tidak memiliki kaki kanan. Tapi, justru Mukhtar bisa mengerjakannya. Dibantu tongkat pemberian salah satu NGO, ia bisa naik ke plafon menggunakan tangga untuk servis AC. Saat itu memang banyak order yang bisa ia dapat, karena banyak perkantoran NGO yang membutuhkan keahliannya.

"Satu tahun ada saya kerja seperti itu, keahlian servis AC juga berkat dilatih oleh NGO waktu itu," tegasnya.

Kemudian, pada suatu hari, kisah Mukhtar, ia kembali dipanggil oleh pemilik toko bangunan tempat ia bekerja sebelum tsunami. Waktu sebelum musibah, Mukhtar selaku sopir pengangkut barang material bangunan seperti semen dan jenis material lainnya.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba, kesempatan itu langsung disambut baik oleh Mukhtar karena pekerjaan servis AC memang sedikit berat baginya. Meskipun demikian, ia melakoni pekerjaan servis AC selama satu tahun.

"Sekarang saya kembali bekerja di toko bangunan itu, alhamdulillah, toke (sebutan pemilik usaha tersebut) masih mau mempekerjakan saya," tuturnya.

Mukhtar memang ada satu becak pemberian salah satu NGO. Dulunya, becak itu ia gunakan untuk kendaraan pergi ke lokasi tempat ia servis AC. Sekarang, dengan berbekal becak barang itu, ia mengantarkan barang material bangunan untuk pelanggan. Meskipun hanya ada satu kaki, akan tetapi, tidak ada halangan baginya untuk tetap bekerja.

"Semen kalau dari bawah angkat ke atas gak sanggup, tapi kalau dari atas becak angkat turunkan ke bawah itu sanggup," jelasnya.

Selain becak, tokenya itu juga memberikan kepercayaan pada Mukhtar untuk menyetir mobil.

Menyetir dengan satu kaki

Uniknya, meskipun ia hanya memiliki satu kaki. Ia bisa menyetir mobil jenis L300 pick up dengan baik tanpa harus ada alat bantu lainnya. Dengan kendaraan itu pula, ia sering mondar-mandir di kota Banda Aceh untuk mengantar material pelanggannya. Tidak ada kendala baginya untuk menyetir, meski hanya menggunakan satu kaki. Bahkan, bukan hanya di Banda Aceh, sampai ke Meulaboh, Aceh Barat pernah ia menyetir. Jarak Banda Aceh-Meulaboh sekitar 200 Km.

"Teori mesin mobil itu, yang terpenting ban sudah berguling sedikit, itu mobil sudah gak mati lagi," tegasnya.

Ternyata, Mukhtar juga pernah bekerja sebagai montir mobil sebelum tsunami selama satu tahun. Jadi, ia sudah mengenal betul seluk-beluk mesin kenderaan. Berbekal ilmu itu pula ia dengan mudah menaklukkan si kuda besi. Kalau urusan mempretelin mesin mobil, ternyata Mukktar juga jagonya. Ya, ternyata Mukhtar segala bisa.

Usahanya tidak hanya di situ. Untuk mengisi hari liburnya pada hari minggu. Ia bersama istrinya membuka sebuah warung di pinggir pantai Lhoknga tempat objek wisata di Aceh Besar.

Setiap akhir pekan, pantai tersebut banyak dikunjungi wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Ada yang sekedar menghabiskan waktu santai dengan keluarga di pinggir pantai. Ada juga yang menggunakan kesempatan untuk mandi di laut Lhoknga yang memiliki ombak besar. Tidak sedikit juga yang berselancar di lokasi itu, karena memiliki ombak besar.

Pantai itu juga merupakan lokasi yang paling parah terkena tsunami 9 tahun silam. Ribuan bangunan di kawasan itu lenyap disapu tsunami. Demikian juga ada pabrik semen ikut bersih dihantam tsunami.

"Usaha warung ini lebih banyak istri saya yang kelola, itupun buka paling Sabtu dan Minggu, kalau hari lain paling sore di buka," tegasnya.

Inilah sebuah kisah, korban tsunami yang harus diamputasi kakinya. Tetapi ia tidak suka berbelas kasihan pada orang lain. Kendati memiliki cacat fisik, ia tetap memiliki spirit untuk mencari nafkah dengan hasil keringatnya sendiri. Sukses selalu Mukhtar, kau menjadi inspirasi untuk semua orang! [Merdeka]

Kisah korban tsunami Aceh, pulang setelah dikira telah meninggal

Kisah korban tsunami Aceh, pulang setelah dikira telah meninggal
(c) Reuters
Kisah korban tsunami Aceh, pulang setelah dikira telah meninggal - Ada banyak kisah di balik tragedi tsunami melanda Aceh 9 tahun silam. Baik kisah sedih maupun kisah haru lainnya. Kini ada sebuah kisah seorang anggota keluarga yang dikira semula sudah tewas diterjang tsunami, akan tetapi ternyata sia bisa masih selamat dan kembali ke rumah setelah 5 hari pascatsunami.

Kisah ini sebenarnya telah disimpan sejak 9 tahun silam dan tidak pernah diceritakan kepada siapapun. Wirzaini Usman, PNS yang bekerja di Pemerintah Kota Banda Aceh menuturkan kisah yang mengharukan itu seperti dikutip dari Merdeka.com. Saat tsunami melanda pada 26 Desember 2004 lalu, adiknya Hamdani hilang. Dia sempat pesimis bahwa adiknya itu selamat.

"Yang belum jumpa hanya adik saya Hamdani, saat itu orang tua saya yang sudah tua semakin pesimis, seakan-akan Hamdani tidak selamat, sedangkan saya dan adik perempuan hari kedua sudah jumpa," kata Wirzaini.

Saat kejadian, kata Wirzaini, adiknya sedang berada di Pulau Aceh sedang Kuliah Kerja Nyata (KKN). Tentu sulit untuk melacak keberadaannya yang jauh dari Banda Aceh. Untuk menuju pulau tersebut, harus menempuh perjalanan laut sekitar 2,5 jam dengan menggunakan angkutan laut.

Hari ke-3 tsunami, tepatnya pada hari Rabu, dia bersama ayahnya kembali berangkat ke Banda Aceh untuk mencari Hamdani yang belum mendapat kabar apakah selamat atau tidak. Mereka hari itu masih optimis bahwa Hamdani selamat, lalu ia mencari dari posko pengungsi dari Lambaro dan juga di sejumlah lokasi pengungsian lainnya. Akan tetapi tetap tidak ada tanda-tanda keberadaan Hamdani.

"Saat itu kami sudah semakin pasrah, apa lagi setelah mendengar cerita salah seorang petugas PMI, Desa Lampunyang, Pulau Aceh terbelah dua, kecil orang bisa selamat di situ," imbuhnya.

Saat itulah, lanjut Wirzaini, ayahnya semakin syok dan nyaris jatuh saat mendengar informasi tersebut. Pasalnya, Desa Lampunyang itu lokasi KKN Hamdani di Pulau Aceh. Karena melihat kondisi ayahnya tidak memungkinkan, Wirzaini memutuskan untuk kembali ke Sigli.

"Kami takut ayah semakin syok, karena ayah ada sakit jantung, makanya kami pulang dulu," imbuhnya.

Pada hari Kamis, tepatnya hari kelima setelah tsunami, Wirzaini bersama kakak kandungnya kembali ke Banda Aceh untuk mencari Hamdani. Namun tiba-tiba saat hendak berangkat dengan menggunakan sepeda motor, dia dipanggil oleh ayahnya sambil tertatih-tatih mendekati mereka.

"Nak, ini kantong mayat, tolong kamu cari yang mirip dengan Hamdani, kamu bawa pulang ke sini," kata Wirzaini meniru pesan Ayahnya saat hendak berangkat ke Banda Aceh mencari Hamdani.

Tak terasa isak tangis kedua orang tuanya tidak terbendung, demikian juga sejumlah sanak keluarganya yang berkumpul di rumah sudah pasrah. Mereka hanya berharap bisa melihat mayat Hamdani, keluarga besar tidak lagi menaruh harapan Hamdani bisa selamat.

Sesampai ke Banda Aceh, lalu ia mencari ke seluruh tumpukan mayat dan juga lokasi pusat pengungsian korban tsunami. Tujuannya hanya satu, mau membawa pulang Hamdani meskipun mayat yang dia dapatkan. Hal ini sesuai dengan permintaan kedua orang tuanya.

"Jadi waktu itu saya dan abang, mau pinjam perahu nelayan mau ke Pulau Aceh untuk cari Hamdani," ungkapnya.

Niat menyeberang ke Pulau Aceh urung dilakukan. Dari kejauhan ia melihat beberapa orang mahasiswa yang memakai jas almamater PGSD. Bergegas ia menghampiri mahasiswa tersebut dan menanyakan keberadaan adiknya dengan memberitahukan ciri-ciri Hamdani.

"Jadi langsung mereka bilang, ada di Desa Go Gajah, karena sedang menghantar sekitar 6.000 korban tsunami dari Pulai Aceh," kata Wirzaini.

Saat itulah, Wirzaini merasa lega dan senang. Kendati demikian, dia belum puas hatinya kalau tidak jumpa secara langsung. Karena teringat akan pesan orang tuanya, dia diamanahkan untuk membawa pulang Hamdani hidup ataupun sudah meninggal.

"Waktu jumpa langsung saya minta di pulang, karena keluarga dan ayah dan ibu menunggu," ungkap Wirzaini. Kini Hamdani sudah menjadi PNS di Pemerintah Kabupaten Pidie.

Kisah ibu selamatkan bayi dan muncul perahu penyelamat

Kisah ibu selamatkan bayi dan muncul perahu penyelamat
©Reuters
Kisah ibu selamatkan bayi dan muncul perahu penyelamat - Fauziah (45), seorang ibu berhasil menyelamatkan kelima anaknya dari terjangan tsunami. Di antaranya, satu bayi yang masih berusia 5 bulan. Ia berhasil selamat setelah sebuah perahu nelayan tersangkut di samping tempat ia menyelamatkan diri.

Pagi Minggu 26 Desember 2004 lalu, seperti biasanya Fauziah sedang mempersiapkan sarapan pagi untuk anak dan suaminya. Pertama kali terjadi, Fauziah sedang memberikan air susu ibu (ASI) untuk bayinya berusia 5 bulan.

"Saya saat setelah gempa, langsung keluar dari rumah, sedangkan suami saya sudah ke pasar untuk belanja," kata Fauziah, seperti dilansir dari Merdeka.com.

Kisah yang tidak bisa ia lupakan adalah saat harus berjuang menyelamatkan kelima anaknya. Anaknya kala itu masih kecil. Anak pertamanya saat itu masih SMU, sedangkan anak keduanya masih SMP. Fauziah tinggal di desa Lampulo, Kecamatan Kuta Raja, Banda Aceh. Lokasi tempat ia tinggal, hanya 200 meter dari bibir pantai.

Ketika air laut mulai naik ke darat, Fauziah awalnya tidak percaya apa yang disampaikan oleh tetangganya. Karena memang itu belum pernah terjadi sebelumnya. Akan tetapi, ketika anaknya baru duduk di bangku SMP pulang ke rumah, saat itulah ia percaya dan bergegas mencari tempat lebih tinggi.

"Saat itu saya langsung naik ke lantai dua rumah tetangga, karena air sudah naik, sedangkan si bayi saya gendong, tegasnya.

Sampai ke lantai dua, kisahnya kembali, ternyata air laut semakin melambung tinggi. Air laut sudah seleher orang dewasa. Padahal ia ketika itu sudah berada di lantai dua yang tingginya sekitar 5 meter.

Sedangkan anak-anaknya masih kecil harus diselamatkan ke atas loteng rumah agar tidak tenggelam. Sedangkan ia sendiri masih berada di dalam air yang sudah menenggelamkannya sampai ke leher, bahkan harus menengah ke atas agar ia bisa bernapas. Sedangkan bayinya masih berusia 5 bulan harus diangkat tinggi-tinggi dengan tangannya agar tidak tenggelam.

"Saya pikir saat itu memang sudah kiamat, tapi saya juga berusaha untuk mencoba menyelamatkan anak-anak saya, terutama bayi yang masih berusia 5 bulan itu, tegas Fauziah.

Tidak berselang lama, dari kejauhan ia melihat ada sebuah perahu hanyut ke arahnya. Perahu tersebut sebelumnya berada di sungai tempat berlabuh perahu nelayan. Beberapa kali menabrak rumah yang ada di sekitar itu, dan ia berpikir ajalnya segera akan berakhir. Saya pikir waktu itu sudah gak ada lagi harapan hidup, karena perahu itu menghantam beberapa rumah di situ, lalu ternyata tersangkut persis di samping tempat saya, ungkap Fauziah.

Saat itulah Fauziah meminta kepada anak laki-lakinya untuk membongkar atap rumah agar bisa keluar untuk naik ke dalam perahu tersebut. Alhasil, anaknya berhasil membongkar hanya muat tubuh orang dewasa. Satu persatu, Fauziah menyelamatkan anaknya ke dalam perahu tersebut yang berhenti persis di samping mereka berada.

Saya tidak ingat betul bagaimana anak saya bongkar atap itu, pokoknya ia berhasil membongkar atap seng hanya muat badan orang dewasa, lalu saya sorong satu persatu kelima anak saya, terutama yang masih bayi ke dalam perahu itu, tegasnya.

Perahu tersebut berhasil menyelamatkan sebanyak 56 orang dari terjangan tsunami. Baik yang sudah berada sebelumnya di dalam perahu, maupun korban lainnya yang dibawa arus tsunami lalu diangkat ke dalam perahu itu. Mereka berada di dalam perahu sampai pukul 16.00 WIB, lalu ketika air laut sudah surut, mereka turun dari perahu untuk mencari pertolongan.

Waktu kami turun dari perahu, air laut juga masih sepinggang orang dewasa, kami turun untuk mencari pertolongan dan kami langsung berjalan kaki ke Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, kisahnya.

Saat ini, anak yang saat itu masih berusia 5 bulan sudah duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Merduati. Sedangkan anak yang lain sudah masuk perguruan tinggi di salah satu Universitas ternama di Aceh.

Mencari Jejak Tanah Yang Hilang


* Dari  Kuala Ligan Hingga Kuala Bubon
HARI itu, di Januari yang indah, adalah hari ketika kami  memulai petualangan mencari  jejak tanah yang hilang. Hari  mengharukan  ketika kami menyaksikan  teluk dan tanjung sejak dari Koetaradja hingga Kuala Bubon  telah berubah  lekuk dan garis. Teluk dan Tanjung yang telah melewati proses kehidupan baru dengan keindahan “subhanallah” permainya.
Keindahan dalam decak kagum seorang kawan saya dari Makassar, yang menyertai perjalanan kami di hari itu,  dengan nada tanya, “apakah ini keping surga yang dilontarkan bersama gempa dan tsunami itu?” Sebuah keindahan, yang katanya, tak akan pernah singgah di pantai manapun di pelosok bumi ini.
Keindahan baru ketika keping ingatan  kami berlari merambat ke jaring memori  untuk membongkar sisa kenangan tentang kampung-kampung yang dijemput sakratulmaut untuk  disedekahkan ke  rahim samudera.
Kampung-kampung ketika kami remaja dulu pernah mengisi penggalan kisah tentang pahitnya perjalanan anak selatan menuju Koetaradja. Pahitnya derita telikung  umpatan yang menyengat harga diri anak negeri “ketelatan” itu untuk  menggapai asa dan mengenyahkan stempel kasta “paria” bernama “jamee”  yang diwariskan oleh garis turunannya .
Cobalah bertanya kepada  sisa anak negeri disana tentang  garis  laut  tempat mereka menambatkan “jaloe,” sampan, yang raib tanpa meninggalkan tanda.  Tanyakan juga  dimana balai tempat mereka menjual “eungkot” jinara, ikan kembung, sekaligus tempat mereka menunaikan shalat subuh sebelum turun ke laut.
Mintalah kepada mereka jawaban dimana  letak jalan “gampong,” kampung,  menuju tanah “blang”nya, kebunnya,  untuk memetik “boh u,” buah kelapa, atau  petak rawa tempat mereka mencari “punai,” sejenis burung balam, dengan getah nangka di ujung tanjung.
Jangan pernah  lupa menyapa sisa anak remaja  di Desa  Suak Timah,  dan godalah  ingatannya tentang  gundukan tanah bekas  “kuruk-kuruk,” gua persembunyian di zaman  Jepang,  persis  di tengah kebun kelapa, di timur “gampong,”  yang hilang entah ke langit mana, dan dulunya menjadi lokasi permainan  perang-perangan ketika mereka kanak-kanak.
“Semuanya telah lenyap,” kata Dulah Ligan, lelaki paruh baya yang kami jumpai di Desa Ligan, Kecematan Sampoinet, Aceh Jaya Ketika  gergasi laut bertandang  lelaki tua itu  “hanyot” dan “meulangu,”  sejauh dua kilometer ke hutan “bangka,”  di sudut rawa  bakdah di utara “gampong.”
Ia dengan mata berkaca-kaca dan suara tercekat mengatakan,” kini tak ada lagi “nanggroe  aso lhok,” negeri asal anak negeri. Telah punah. “Jinoe,”  di sini, telah lahir  negeri baru  dengan  pulau-pulau kecil,  pantai baru maupun  teluk baru setelah petak  kampung-kampung kami diterjangnya ke rahim laut.  Semuanya, kini, telah berubah.”
Bahkan  sepanjang sisa tanah daratan, bibir pantai,  hingga  nun jauh ke sana,  ke laut lepas,  kata Dulah Ligan, sembari menudingkan ujung jari telunjunya yang   bengkok dan gemetar, semuanya serba asing.
“Kami seperti peziarah  yang tersesat  di kampung  ini. Kampung lama  kami telah jadi sejarah dan tak pernah akan kembali. Ia telah tutup buku dan hanya tersisa  di ingatan. Tak ada tanda  dimana ia dikuburkan. Kami tak pernah  diberitatahu dimana ia ber “jirat,” kuburan, tutur Dulah Ligan.
Bahkan, ketika kami singgah dan bertanya kepada  Nyak Sabi, seorang tua yang tersisa di  Kuala Bubon  tentang  letak desanya, dengan acuh  lelaki itu  mengatakan, “Entahlah. Semuanya telah pergi. Tak ada lagi yang tersisa. Hana le.”
Dengan pandangan kosong ia  mencoba merangkai kembali  ingatannya ke gampong lamanya,  kedai Kuala Bubon, sebuah desa nelayan di Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, yang usai diayak gempa dan dilindas humbalang laut  terisolir karena ditinggalkan jalan raya dan  tercampak menjadi negeri di “ujong donya.”
Untuk sampai ke Kuala Bubon,  kala itu, harus menyeberang sungai rawa  dengan rakit kayu bermesin “Yanmar.” Kini, dengan duit dolar sisa sumbangan negara  donor, telah terbentang sebuah  jembatan panjang di rawa Bubon.  Jembatan yang memotong rantai perjalanan ke negeri permai di barat-selatan itu yang setiap sore di penuhi penjual kacang dan menjadikannya tempat wisata.
“Kami tak pernah tahu lagi  letak  meunasah tempat buka puasa bersama dan  bertadarus di bulan ramadhan. Meunasah tempat kenduri maulid dengan kuah beulangong, gulai kambing dicampur nangka, dihidangkan untuk seluruh penduduk kampung,” cerita Nyak Sabi lirih.
Kini nanggroe, negeri,  Kuala Bubon dengan  barisan toko kayu, jembatan beton di atas Krueng Bubon,  dan sebuah balai nelayan pendaratan ikan, tempat boat dan perahu disandarkan, telah hanyut ditelan  jejak air berjelaga yang  mengelupaskan tanah  “blang” maupun “eumong”   serta menghapus “hak ware’eh,”  tanah warisan  anak negeri di pesisir kampung yang dulunya di hibah “indatu,”  nenek moyangnya,  mereka sebagai tanah milik bersama..
Semua itu, kini,  menjadi destinasi  baru. Destinasi ketika citra photo satelit memberitahu telah terjadi pergeseran letak garis pantainya dan Dulah Ligan, Nyak Sabi atau siapapun penduduk pesisir itu dengan takzim menerimanya  dengan satu kata,  sebagai garis takdir. Tawakal.
Pergeseran letak  kampung, jalan desa, maupun tubir laut itu, bagi mereka,  dan kelak akan  menjadi “heritage”  bagi anak cucunya, adalah sebagai sebuah kehendak Illahi.  Peninggalan  itu, kelak,  akan dikisahkan anak generasi  baru dalam nyanyian “oral.”  Nyanyian  “hikayat”  tentang bagaimana negeri nenek moyang tercintanya ini pernah  dicabik hantu laut.
Tidak hanya gergasi laut yang mencabik eksotisme alam  negeri Lembah Geureutu itu. Sensasi Gunung Meudang juga telah dikoyak gergasi besi.  Sensasinya  dirampas atas nama efesiensi pembangunan jalan. Tak ada lagi tanjakan membelok  di  pendakian dan penurunan sempit, berkelok dengan tikungan  patah-patah yang jurangnya mejuntaikan kakinya  ke laut dalam,  membuat tengkuk penumpang bergidik.  Puluhan truk, bis dan kendaraan pribadi  sepanjang dekade kehadirannya pernah  tersungkur diselangkang  jurangnya.
Kini, sensasi Gunung Meudang itu,  sudah ditelikung kontraktor  Korea Selatan, Sangyong Ltd,  yang mengerjakan jalan bantuan US-Aid,  dengan  memangkas bukit, membelah gunung kecil  dan menimbun jurang  untuk mendapatkan jalan interseksi dengan  lintasan lurus tanpa menyisakan, sedikitpun, rasa nyeri dan gamang  yang pernah hinggap di kepala penumpang.
Dalam perjalanan hari itu pula, kami memanfaatkan waktu menghitung  puing jembatan yang tersungkur sepanjang bibir pantai dan laut lepas. Puing jembatan yang di tendang gergasi tsunami berkilometer dari tempat duduknya dan  diterik matahari siang  bulan Januari itu itu, sedang berkejaran dengan waktu  menuju  lapuk setelah dibelai  riak gelombang angin barat  dan  dihirup karatnya oleh  buih air asin.
Untuk para pelancong baru yang memakai kendaraan pribadi  dan  melewati lintasan ini,  sejak dari Lhok Nga, km 16 hingga ke Calang, km 150, jangan pernah alpa untuk mengintai pangkal  jalan  yang tak punya ujung.
Catatlah berapa puluh belokan jalan tanpa rambu yang bisa menyesatkan. Jalan lama  yang pangkalnya masih utuh, beraspal hotmix peninggalan projabam, proyek jalan Banda Aceh-Meulaboh sebelum tsunami,  sedangkan ujungnya menuju bibir pantai.  Sudah tak terhitung, dulunya sebelum jalan USAID rampung,  jumlah pelancong yang disesatkannya sehingga harus memutar kembali ke pangkal jalan.
Juga ada daratan bergelombang, dulunya muara sungai,   yang kini bereinkarnasi membentuk  delta pasir yang luas, seperti di Babahnipah,  dan dari rahimnya telah  lahir  teluk baru berdanau kecil  berair payau, yang di hari kami melintas bersuhu 34 derajat celcius, dan menghunjamkan  gelegak panasnya ke ubun-ubun.  Danau kecil yang dihulunya ditumbuhi “hutan” bakdah itu  pernah menjadi lokasi rakit penyeberangan selama enam tahun dan menyiksa penumpang dalam hitungan jam dan hari karena sulit disebarangi.
Catat dan tanyakanlah  kepada setiap lelaki tua yang masih  tersisa  di Patek, Panga, Lhok Kruet maupun  Teunom, berapa jumlah   kampung yang lenyap di negeri ujung dunia itu.
“Entahlah,” jawab Usman Husein, lelaki tujuh puluhan yang sudah renta  di Desa Patek, yang dulunya nelayan,  kini pensiun di sebuah rumah petak bantuan sebuah NGO asing jauh dari bibir pantai. Tigaperempat dari jumlah garis turunan Pak Tua ini telah berpulang.  Husein banyak ternanar  ketika di hari perjalanan  itu kami istirahat di teras rumahnya.
Sang tetua, ketika kami tanyakan  letak kampungnya sebelum gempa dan tsunami menelikung, mengangkat telunjuknya yang  tidak lagi lurus itu kearah laut, dan mengatakan dengan air mata berbulir,” kampung itu  telah  bersalin rupa menjadi tubir laut di bentangan karang, yang  dibawah hamparan jejak buih hempasan gelombangnya ada tanah jirat, kuburan, keluarga kami.”
Husein  bercerita tentang sepenggal riwayat tempat dia lahir dan menjalani masa  remaja  sebagai anak udik dengan keahlian memanjat kelapa sambil  mengeja  hafalan “dhalail khairat” di mushala. Setelah “baligh,” dewasa menurut ukuran kampung di Aceh,  ia menjadi nelayan, kawin, beranak pinak dan akhirnya, datanglah gergasi laut itu  menjemput maut dan membawa  hampir seluruh turunannya  untuk diterbangkan ke “arash.”.
Kini, Husein,  jadi petarung tua yang tergagap  mendekap luka kepedihan dan berupaya mencampakkan aroma kenangan  pilunya ketika sahabat barunya, keringkihan, datang di hari senjanya.
Ketika kami menanyakan tentang  tidak adanya  “plakat”  atau “plang”  yang   memberitahu satu persatu kampung yang hilang di sepanjang pesisir itu, lelaki tua  itu mengatakan,  tak perlu ada. “Untuk apa?”  katanya ringkas. Ia dengan sangat sentimentil mengatakan dalam kalimat berbisik, “rasakan saja denyut perasaan samudera. Tangkaplah  pesan dari bunyi debur ombak dan desir angin laut yang mengabarkan  tentang  adanya kubur  sebuah negeri di bawah selangkangnya.” Selangkang yang menyimpan  banyak kampung pesisir  yang punah tanpa pernah  meninggalkan pertanda.
Itulah bagian ringkas  laporan perjalanan sensasional kami.  Perjalanan yang mengharmonikan perpaduan eksotisme nyanyian laut  dengan bentangan keindahan samudera . Perpaduan  rasa nyeri yang berdegup  atas peristiwa alam, gempa dan tsunami,  lebih tujuh tahun lalu.  Degup kegusaran yang  sering datang membasuh  rasa  sakit hulu hati  kami atas  kenangan tentang  berjibunnya kematian di tanah yang sedang kami lewati ini.
Rasa nyeri yang  seakan datang  memberitahukan ada seribu kisah kesengsaraan  bersama  uap laut dan  bulir kapas rawa bakdah serta suara gemerisik pasir halus di bentangan pantai.
Sebuah pemberitahuan yang senyap  bahwa di tanah ini pernah  bertakziah gergasi laut menjungkirbalikan negeri ulayat  ini. Takziah bencana bermaklumatkan pesan kedatangan maut untuk menerbangkan  ratusan ribu roh penghuninya  ke “arash”  atas nama kematian.
(sumber: nuga.co)

Foto - Taman Raja Rayo Simeulue, pulau ini timbul setelah tsunami 2004


PULAU Taman Raja Rayo di Kecamatan Teupah Tengah, Kabupaten Simeulue ini hanya memiliki luas sekitar 250x100 meter. Pulau ini berada di teluk Pantai Busung.
Pulau Taman Raja Rayo merupakan pulau yang timbul setelah peristiwa tsunami 26 Desember 2004 silam. Setelah terlantar sekian lama pulau ini sekarang dikelola menjadi salah satu destinasi wisata di Simeulue. Tak lain adalah untuk mendukung program Visit Aceh 2013.
Di sini terdapat tujuh bungalaw dengan fasilitas seperti musalla, kolam renang dan kolam pancing. Jika dilihat dari udara pulau yang berada di garis Pantai Busung ini sungguh mempesona. Pasirnya putih berkilau, air lautnya biru bersih. Sebuah tempat untuk menenangkan diri yang nyaman.




































AHMADI | Foto : AHMADI | ATJEHPOSTcom
Berita terkait:

Berkunjung ke situs Kapal di Atas Rumah kini dapat sertifikat


SITUS tsunami Kapal di Atas Rumah yang berada di Desa Lampulo Kecamatan Kuta Alam Banda Aceh telah memiliki berbagai fasilitas memadai untuk menarik minat pengunjung. Di lokasi tersebut misalnya ada posko pemandu wisata dan fasilitas pendukung seperti buku saku kesaksian korban selamat tsunami 26 Desember 2004 silam dana bahasa Inggris dan Indonesia. Selain itu pengunjung yang datang ke situs tersebut juga bisa mendapatkan sertifikat khusus.
Sebelumnya tempat wisata yang memberikan fasilitas ini hanya di tugu Nol Kilometer di Sabang saja.
Pemandu wisata di lokasi tersebut, Wahyu, kepada ATJEHPOSTcom mengatakan tujuan sertifikasi ini karena PNPM Gampong yang bekerjasama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menginginkan agar lokasi tersebut menjadi tempat wisata yang nyaman bagi wisatawan.
"Tahun 2011 lalu untuk pemandu wisata memang sudah ada, namun 2012 akhir sudah off. Karena dulunya pemandu wisata hanya sekali-kali digunakan, misalnya jika ada wisatawan asing atau pemerintah aja. Namun sejak januari 2013 kemarin, ESDM menyuruh agar ada pemandu wisata lagi di situs Kapal di Atas Rumah,” katanya, Rabu, 13 Februari 2013.
Dengan adanya pemandu wisata katanya sangat membantu para wisatawan yang datang ke sana. Dengan begitu wisatawan tak hanya melihat situs saja, namun mereka bisa menikmati objek tersebut dengan mengetahui sejarah cikal bakalnya kapal tersebut.
“Dengan adanya pemandu wisata para wisatawan jadi tau dan bisa bertanya mengenai berbagai hal terkait situs tersebut. Mengenai sertifikasi, juga sama halnya agar para wisatawan memiliki kenang-kenangan setelah datang kesini,” katanya. | atjehpost.com

Kubah Al Tsunami, Monumen Sunyi Saksi Sejarah



BERADA di tengah areal persawahan, kubah mesjid itu berbeda dengan kubah mesjid lainnya. Jika kubah mesjid yang lain bertengger di pucak bangunan, maka kubah masjid ini bertengger di atas permukaan tanah. Hanya kubahnya saja.
Kubah tersebut diberi nama Kuah Al Tsunami. Dari namanya saja pengunjung bisa mengetahui jika kubah itu merupakan peninggalan dan saksi kedahsyatan gelombang tsunami yang melanda Aceh pada Minggu, 26 Desember 2004 silam.
Kubah Al Tsunami ini awalnya merupakan sebuah kubah mesjid di Gampong Lamtengoh, di Kawasan Ujong Pancu Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar. Namun dalam peristiwa tersebut kubah ini terhempas ke Gampong Gurah di kecamatan yang sama. Kubah ini menjadi fenomenal dan menjadi salah satu objek wisata tsunami bagi masyarakat yang datang ke Ujong Pancu.
Pada saat tsunami terjadi, 29 orang selamat karena berada di kubah tersebut. Pengurus Kubah Al Tsunami, Darmawan, kepada ATJEHPOSTcom mengatakan jika kubah itu sangat bersejarah bagi dirinya. Ia meyakini jika jasad ibunya terkubur di bawah kubah tersebut.
Saat peristiwa itu terjadi, ia sedang di Aceh Selatan. Setelah itu ia sering bermimpi tentang ibunya dengan latar belakang kubah mesjid. Setelah ia kembali ke Gurah ia melihat kampungnya telah rata dengan tana tanpa bangunan. Yang ia lihat hanya kubah mesjid yang berada di areal persawahan yang kala itu masih banyak hutan. Di sekitarnya tumpukan kayu dan mayat masih bergelimpangan.
“Saya dengan ikhlas dan keridhaan hati menjaga dan merawat kubah ini. Berharap kubah ini dapat menjadi monumen kenangan bagi masyarakat Aceh untuk mengingat kedahsyatan tsunami.” Ujarnya.
Namun usahanya untuk merawat kubah tersebut sepertinya belum memberikan dampak bagi masyarakat. Menurutnya hingga kini hanya segelintir saja wisatawan yang mengetahui keberadaan kubah tersebut. Darmawan mengaku ia belum maksimal dalam mempublikasikan kubah itu.
Untuk pengembangan kubah tersebut katanya, telah mendapatkan bantuan dari beberapa pihak, seperti pemerintah dan donatur lainnya. Bahkan tanah tempat kubah tersebut berada kini sudah diwakafkan. Namun, sebagai objek wisata tsunami menurutnya masih membutuhkan beberpa fasilitas lain seperti balai untuk salat, toilet dan tempat berwudhu.
“Mungkin adalakalanya untuk lebih diperhatikan lagi mengenai fasilitasnya. Dan semoga monumen ini menjadi monumen sejarah yang dijadikan tempat wisata. Sering wisatawan yang berasal dari Malaysia yang mengunjungi kubah ini,” katanya.
Jalan menuju ke kubah tersebut dulunya harus melintasi persawahan di Desa Gurah, namun sekarang sudah ada jalan pintas yang lain. Jalan tersebut hanya muat untuk satu mobil saja dan belum diaspal. Namun sudah jauh lebih memudahkan pengunjung. Namun untuk menuju ke sana belum ada penunjuk arah sehingga membuat masyarakat kebingungan untuk mencari lokasi kubah.
“Publikasi yang sangat kurang. Meski pun jauh, tapi kalau orang penasaran pasti juga mau berkunjung ke sini. Itu dia, publikasi yang sangat utama dilakukan agar orang mau berkunjung ke monumen ini,” katanya.
Berikut foto-fotonya:
























Sumber : atjehpost.com

Alia: Mama, Papa Tunggu Alia di Surga Ya!

Siti Alia Humaira bersama neneknya saat berada di acara peringatan sewindu tsunami Aceh Rabu (26/12/2012)

"Mama, Papa, Abang, Kakak, semoga masuk surga ya." Kalimat itulah yang selalu Alia ucapkan saat ia rindu akan mama dan papanya. Demikian juga saat ia berkunjung ke makam massal, Alia selau berujar, “Mama, Papa, Alia datang ya.”
Siti Alia Humaira nama lengkapnya, hari itu Rabu (26/12/2012) memakai kaos bergaris putih dan hitam, dibalut selantang putih bermotif hitam. Ia terlihat girang sembari mengitari pajangan foto yang ada di Kreung Raya. Ia pun sempat tertegun saat melihat sata satu foto mayat yang sedang dishalatkan.
“Alia ingat Mama, Nek,” ujarnya sembari menunjukkan foto tersebut pada neneknya yang setia tertatih-tatih mengikuti ayunan langkah kecil cucunya itu. Maklum nenek Alia sudah tua saat ini berusia 67 tahun. Meskipun demikian nenek masih terlihat segar dan sehat serta kuat.
Alia lahir di Cadek Permai pada tanggal 30 Desember 2003. Berselang lebih kurang umurnya 1 tahun, ia harus kehilangan kedua orang tuanya dan juga saudara kandungnya. Tentu Alia tidak sedikitpun mengenal wajah mama dan papanya. Alia hanya kenal melalui foto yang masih tersisa sama neneknya di Medan.
Delapan tahun sudah berlalu tragedi tsunami menerjang Aceh. Alia pun kini sudah beranjak besar. Ia sekarang sudah berusia 9 tahun duduk di kelas 4 SD Panca Budi Medan. Namun, masih saja berbekas akan kisah kelam itu.
Meskipun ia kerap menangis tatkala rindu sedang menggebu menyesakkan dadanya. Kucuran air mata kerab kali keluar membasahi pipinya. Pelipur lara, tentunya neneknya yang selalu berada disisinya untuk terus menghibur, memberikan semangat agar anak itu tumbuh dewasa.
Alia telah menyimpan duka yang mendalam. Alia ingin selalu mengenang tragedi tsunami yang telah memisahkan dirinya dengan kedua orang tuanya.
Karena rindu tak dapat dibendung. Tiadalah pula aral yang bisa melintang. Tak ada yang bisa menghadang. Hasyrat hati ingin berkunjung ke makam massal setiap tahunnya. Sebagai pelipur lara obat kerinduan yang memuncak pada kedua orang tuanya. Karena Alia yakin, mama, papa dan saudara kandungnya ada disitu.
“Mama, Papa tunggu Alia di Surga ya,” kalimat itu pula yang sering diucapkan tatkala ia berada ke kuburan masal. Tak ayal, neneknya pun yang sudah renta ikut meneteskan air mata melihat cucunya rindu akan kasih sayang kedua orang tuanya.
“Semoga Tuhan beri saya umur panjang, diberi saya kesehatan, agar saya bisa membesarkan cucu saya. Biarkan hidup ini saya abdikan untuk anak yatim ini, sampai ia mengerti akan arti kehidupan,” imbuh Cut Rosmala Dewi neneknya Alia.
Alia adalah sepenggal kisah yang menjadi yatim piatu akibat gelombang dahsyat tsunami di Aceh 26 Desember 2004.
Ia bisa selamat, karena saat itu Alia diantar oleh Ika Fitriani Siregar yang tak lain mamanya Alia ke Medan, karena Ika sedang mengurus adminitrasi untuk melanjutkan studi S2 di Unsyiah.
Saat The Globe Journal bertanya, "Alia cita-cita jadi apa?" Alia menjawab “Alia mau jadi dosen.”
Kenapa Alia mau jadi Dosen? Ternyata ia ingin seperti mamanya yang juga dosen. Alia ingin menggantikan peran mamanya waktu ia kelak beranjak dewasa. [theglobejournal.com]

Semangat Fatimah Usai Diamuk Tsunami


Keganasan gelombang besar yang meluluhlantakan Aceh tidak membuat semangat perempuan ini redup. Meski kampungnya telah musnah diterjang ombak, ia tetap bertahan di tempat asal.
______________________________________
Rumah panggung itu hanya berjarak belasan meter dari bibir pantai. Kayu di dinding rumah sudah mulai lapuk. Di kolong rumah sebuah sampan tertelungkup disangga dua balok kecil.
Rumah itu terletak di tengah sebuah gundukan tanah layaknya pulau kecil. Laut dan sungai mengelilingi pulau itu. Tak ada jembatan atau jalan darat untuk tiba di sana. Jalan satu-satunya, menyeberangi sungai.
Pemilik rumah itu Fatimah. Usianya 53 tahun. Ia warga Gampong Baro, Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar.
Rumah Fatimah berada di bibir pantai Desa Neuheun, Kecamatan Masjid Raya. Dulu, pulau kecil yang dihuni Fatimah adalah lokasi Gampong Baro, yang disapu bersih tsunami sewindu lalu.
Dari ribuan warga yang tinggal di desa ini, hanya puluhan orang selamat usai gempa dan tsunami. Pemuka gampông akhirnya sepakat memindahkan lokasi desa ke dataran lebih tinggi. Kini, Desa Gampong Baro berada di atas Bukit Ujong Batee, dalam kecamatan yang sama.
Sementara Fatimah tetap bertahan di bibir pantai itu. Di lokasi itu, cuma ada ilalang, pohon kelapa, cemara, dan rumah harta warisan Adam, ayah Fatimah.
“Rumah ini tidak dibawa tsunami karena ada bukit kecil di belakang. Kami menjaganya dengan baik. Air tsunami cuma merembes hingga ke halaman, tetapi tidak sederas tsunami di sudut lain dalam desa ini,” ujar Fatimah.
Delapan tahun lalu, kata Fatimah, dia melihat langsung ganasnya gelombang raya itu datang dari arah kiri dan kanan rumahnya. Dia juga menyaksikan bagaimana ratusan orang digulung ombak besar.
Lakon itu dilihatnya dengan rasa ngeri luar biasa. Bibir Fatimah tidak henti-hentinya menyebut asma Allah. “Selesai tsunami, saya ditolong adik untuk menyeberangi sungai serta lari ke gunung. Kami berkumpul di sana bersama puluhan warga Gampong Baro yang selamat untuk membentuk posko,” ujarnya kepada The Atjeh Times, Jumat pekan lalu.
Setelah delapan tahun berlalu, nasib Fatimah belum juga berubah. Ia tetap sebagai wanita paruh baya yang bekerja serabutan. Sehari-hari, ia lebih banyak menghabiskan waktu di pabrik batu bata milik seorang toke di Desa Neuheun.
Suami Fatimah, M. Nasir, 65 tahun, sehari-harinya juga bekerja serabutan, mulai dari mencari tiram hingga memelihara ternak warga yang dititip kepada mereka. Sementara anak Fatimah, masih kecil dan duduk di bangku sekolah dasar.
 “Kalau tidak bekerja banting tulang. Anak nanti mau makan apa?“ ujar Fatimah dalam bahasa Aceh. Ia berharap anak semata wayangnya juga bisa bersekolah tinggi dan tidak mengalami nasib sama seperti dirinya.
“Saya kembali lagi ke sini karena hanya bisa bercocok tanam dan beternak. Saya tidak takut tsunami karena kalau kita bersahabat dengan alam serta pasrah pada Tuhan, Insya Allah akan diberikan perlindungan,” ujar Fatimah.[Atjehpost.com]

Liburan Sambil Belajar Sejarah, Museum Tsunami Aceh Tempatnya



BANDA ACEH – Berkumpul bersama keluarga di akhir pekan memang mengasyikkan. Apalagi jika menghabiskannya sambil berwisata di tempat-tempat bersejarah. Masyarakat Kota Banda Aceh dan sekitarnya juga tak melewatkan akhir pekan di penghujung tahun 2012 ini.
Tak ingin melewatkannya begitu saja, masyarakat lantas memilih untuk berkunjung ke destinasi wisata favorit. Salah satunya adalah Museum Tsunami Aceh di Jalan Iskandar Muda Banda Aceh. Minggu terakhir Desember 2012 Museum Tsunami Aceh ramai dikunjungi masyarakat. Bukan hanya dari masyarakat pribumi saja, namun juga ada pengunjung dari etnik Tionghoa.
Di dalam museum, para pengunjung khususnya anak-anak tampak sangat antusias, mereka melihat lukisan, foto-foto, dan menyaksikan pemutaran video tsunami serta hiasan-hiasan lainnya di dalam museum.
Namun, ada pula anak-anak yang takut saat memasuki gedung. Maklum di pintu awal masuk museum yang berupa lorong gelap tersebut memang memberikan kesan ngeri, ditambah gemericik air yang mengalir di dinding lorong. Seorang anak sempat menangis karena ketakutan.
"Adek gak mau masuk, gelap di dalam, adek Takut," ujar anak tersebut.
Seorang pengunjung  mengatakan ia sengaja menghabiskan hari libur ini dengan keluarganya di Museum Tsunami Aceh.
"Yah sambil liburan, juga bisa menambah wawasan pengetahuan buat anak-anak mengenai tsunami yang terjadi di aceh beberapa tahun lalu," ujarnya.
Jika sudah puas-puas berkeliling di Museum Tsunami, pengunjung juga bisa melihat kuburan Belanda atau Kherkof yang berada tak jauh dari lokasi museum. Selamat berakhir pekan.[Atjehpost.com]

Kisah Delisa Asli dan Segenap Mimpi-mimpinya



Ini dia Delisa asli, Si anak Periang korban keganasan tsunami 
yang kisahnya difilmkan di "Hafalan Shalat Delisa".



DENGAN bantuan tongkat gadis itu berdiri di tengah panggung. Kedua bola matanya terlihat berair. Dari mulutnya cerita demi cerita tentang peristiwa tsunami delapan tahun silam mengalir. Sesekali ia terlihat berhenti bercerita. Kadang suaranya terdengar terputus-putus, terutama saat menyebut ibunya.

Gadis itu adalah Delisa Fitri Rahmadani, ia biasa dipanggil Delisa. Salah satu korban tsunami yang kakinya telah diamputasi. Gadis yang memakai baju putih dan rok berwarna coklat tersebut lahir di Ulee Lheue Banda Aceh, 15 Desember 1997 silam.

Di acara refleksi delapan tahun tsunami Aceh yang digelar di Museum Tsunami Aceh siang tadi, Delisa menjadi pusat perhatian. Banyak yang meminta tanda tangan padanya, ada juga yang minta foto bersama. Sebelumnya Delisa tampil di hadapan seluruh pengunjung untuk berbagi kisahnya hingga selamat saat tsunami.







Kini Delisa menjalani hari-harinya dengan bantuan tongkat dan kaki palsu. Ia tinggal bersama ayahnya Bakhtiar, dan seorang abangnya yang selamat. Ia kini sekolah di SMK 5 Telkom Banda Aceh dan masih kelas satu.

Delisa adalah remaja yang penuh semangat dan energik, saat masih SMP ia juga pernah mendapat juara umum. Gadis itu juga pandai memainkan alat musik keyboard.

“Saya berterima kasih kepada Allah yang telah mengambil kaki saya, di luar sana banyak Delisa-Delisa lain yang mungkin lebih dari saya," ujarnya.

Kelak Delisa ingin menjadi pemain musik dan pengarang buku. Ia juga ingin membuat komunitas untuk anak-anak cacat.[]

Sumber : Atjehpost.com

Foto Tsunami Di Aceh 2004


Foto Tsunami Di Aceh - TSUNAMI yang terjadi di Aceh pada tahun 2004 silam merupakan peristiwa bersejarah paling kelam sepanjang abad 20. Bencana dahsyat itu telah menewaskan lebih dari 160.000 jiwa. Semua warga Aceh belum bisa melupakan peristiwa besar ini.

Tidak hanya Aceh yang terkena musibah tsunami saat itu, tapi Sumatera Utara, Pantai Barat Semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Sri Lanka, bahkan sampai Pantai Timur Afrika juga ikut merasakannya. Bencana ini merupakan kematian terbesar sepanjang sejarah. Indonesia, Sri Lanka, India, dan Thailand merupakan negara dengan jumlah kematian terbesar.

Berikut foto-foto tsunami di Aceh yang terjadi 8 tahun silam.


Foto Tsunami Di Aceh 2004


Khatizah Ali (50), menangis taktala harus mengingat beberapa keluarganya yang hilang (© EPA/HOTLI SIMANJUNTAK)
Khatizah Ali (50), menangis taktala harus mengingat beberapa keluarganya yang hilang (© EPA/HOTLI SIMANJUNTAK)
Khatizah Ali (50), menangis taktala harus mengingat beberapa keluarganya yang hilang (© EPA/HOTLI SIMANJUNTAK)
Khatizah Ali (50), menangis taktala harus mengingat beberapa keluarganya yang hilang (© EPA/HOTLI SIMANJUNTAK)
Khatizah Ali (50), menangis taktala harus mengingat beberapa keluarganya yang hilang (© EPA/HOTLI SIMANJUNTAK)
Khatizah Ali (50), menangis taktala harus mengingat beberapa keluarganya yang hilang (© EPA/HOTLI SIMANJUNTAK)
Khatizah Ali (50), menangis taktala harus mengingat beberapa keluarganya yang hilang (© EPA/HOTLI SIMANJUNTAK)
Khatizah Ali (50), menangis taktala harus mengingat beberapa keluarganya yang hilang (© EPA/HOTLI SIMANJUNTAK)
Khatizah Ali (50), menangis taktala harus mengingat beberapa keluarganya yang hilang (© EPA/HOTLI SIMANJUNTAK)
Khatizah Ali (50), menangis taktala harus mengingat beberapa keluarganya yang hilang (© EPA/HOTLI SIMANJUNTAK)Khatizah Ali (50), menangis taktala harus mengingat beberapa keluarganya yang hilang (© EPA/HOTLI SIMANJUNTAK)
Khatizah Ali (50), menangis taktala harus mengingat beberapa keluarganya yang hilang (© EPA/HOTLI SIMANJUNTAK)
Khatizah Ali (50), menangis taktala harus mengingat beberapa keluarganya yang hilang (© EPA/HOTLI SIMANJUNTAK)

Sumber Foto : atjehcyber.net