Tampilkan postingan dengan label Tradisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tradisi. Tampilkan semua postingan

Perang, Makan, dan Makanan

(kompas)
JIKA pengaruh India dalam kuliner Aceh memang tak terbantahkan lagi akibat hubungan dagang yang panjang di masa lalu, bagaimana dengan perang panjang yang menempa Aceh? Adakah jejaknya dalam kuliner mereka?

”Pengaruhnya jelas sekali,” kata Reza Idria, antropolog dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry, Aceh. ”Perang tidak hanya berpengaruh terhadap jenis makanan, tetapi juga sikap dan cara makan.”

Sikap itu terekam dalam ungkapan pajoh laju, prang-prang kalehbu (makan dulu, kalaupun perang kita sudah kenyang) yang sangat populer di Aceh. ”Ungkapan itu pasti lahir dari pengalaman panjang semasa perang,” kata Reza.

Azhar Abdurrahman, mantan Sekretaris (Arakata) Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Wilayah Meureuhom Daya yang kini menjabat Bupati Aceh Jaya, merasakan betul tuah ungkapan itu. Suatu ketika, ia menyusup ke dapur rumahnya tepat saat azan maghrib berkumandang. Sang istri segera menyiapkan makanan dan berkata, ”Pajoh laju prang-prang kalehbu.”

Azhar segera mengikuti saran istrinya. Di suapan terakhir, tiba-tiba ia melihat pasukan lawan berkelebat di balik pintu. Ia melirik jendela yang terbuka dan secepat kijang melompatinya. Azhar berlari sekencang mungkin ke dalam hutan dan bersembunyi untuk menghindari kejaran. Hingga malam esok harinya, ia baru bisa makan lagi. ”Bayangkan kalau saya tidak sempat makan, bisa kelaparan,” ujar Azhar yang bergerilya sejak 2003-2005.

Pengalaman nyaris serupa dialami Fauzan Azima, mantan Panglima GAM Wilayah Linge, Gayo Lues, Alas, dan Tanah Karo. Suatu hari, Fauzan dan lima rekan sesama tentara GAM bertemu di dalam hutan. Pengalaman mengajarkan, setiap ada kesempatan mereka harus makan. ”Di Gayo, kami menyebutnya dengan istilah, ike terjadi sesanah kite nge mangan, yang artinya sama dengan pajoh lajo prang-prang kalehbu,” kata Fauzan.

Begitu selesai makan, tiba-tiba mereka diserbu pasukan lawan. Tiga teman Fauzan tewas tertembak dan seorang tertangkap. Fauzan dan seorang teman lagi berhasil melarikan diri. Mereka masuk ke hutan dengan arah berbeda. Selama satu bulan bersembunyi di hutan, Fauzan hanya bisa makan dua kilogram gula merah yang tersisa di tasnya. ”Selain gula, saya cuma makan kura-kura yang saya temukan di hutan,” ujarnya.

Fauzan yang bergerilya dari 1999 hingga 2005 kini menikmati masa damai. Ia bisa menyeruput kopi di kedai sambil berpikir bagaimana menata masa depan keluarga lewat perkebunan kopi. Masa-masa perang tinggal kisah yang tertanam dalam kenangan, termasuk gaya makan yang serba cepat. ”Perang menuntut kita untuk selalu siaga. Dan, itu memengaruhi cara kita makan,” tutur Fauzan.

Untuk menandai tentara GAM yang baru turun gunung, lanjut Fauzan, sebenarnya bisa diperhatikan dari cara makannya yang sangat cepat. Dalam dua menit, makanan disantap sampai tak bersisa. Mereka juga selalu mencengkeram sisi piring agar tidak mudah lepas jika ada guncangan. Kebiasaan itu terbawa di masa damai dan menjadi gaya makan orang Aceh secara umum.

Sejarah perang panjang membuat kebiasaan makan cepat menjadi semacam tuntutan sosial. ”Orang Aceh yang makan lambat sering diolok-olok sebagai orang yang tidak sanggup perang,” kata Azhar.

(sumber: kompas.com)

Hikayat Dagang dan Perang dalam Kari Aceh

Aneka rempah dan bumbu kari, Kompas
BAGI masyarakat Aceh, kari adalah makanan istimewa. Kenduri tanpa kari ibarat pesta tanpa kegembiraan. ”Seperti orang keling kehilangan ketumbar. Orang akan bertanya-tanya jika tak ada kari dalam kenduri,” kata Nurdin.

Kari, ujar Nurdin, harus ada dalam setiap kenduri yang menyertai tiga siklus dalam kehidupan manusia, yakni kelahiran, perkawinan, dan kematian. Kari juga disuguhkan dalam acara-acara kenduri lain, seperti sunatan dan maulid. Biasanya daging yang digunakan untuk kari adalah ayam, sapi, kerbau, bebek, dan kambing. Selain itu, biasanya ditambahkan pula pisang kepok mengkal, hati batang pisang, kluwih, kentang, atau labu, bergantung wilayahnya.

Populernya kari di Aceh menggambarkan bahwa pengaruh kuliner India mengakar kuat di sana meski istilah kari tidak ditemukan dalam catatan-catatan lama. Dua jilid buku The Achehnes (1906) yang ditulis antropolog yang bekerja untuk pemerintah kolonial Belanda, Snouck Hurgronje, hanya mencatat tiga jenis gulè yang populer di Aceh, yakni gulèmasam keu’euéng, yakni aneka sayur yang direbus dalam air dan dicampur bawang merah, lada, cabai, garam, dan boh slimèng atau asam sunti.

Menu kedua adalah gulè leuma, yakni campuran aneka rempah, seperti jahe, temurui, dan serai. Sebagai lauknya digunakan ikan kering (eungköt tho) atau karéng (ikan kecil dari jenis biléh), atau ikan keumamah, yaitu ikan tongkol kering yang diimpor dari Kepulauan Maladewa di Samudra Hindia. Selain menggunakan asam sunti, kuah ini juga menggunakan santan.

Menu ketiga adalah kuah pi u (pliek u). Kuah ini dibuat dari ampas kelapa yang telah diambil minyaknya lalu dicampur bóh panaïh (nangka muda) dan ikan kering atau ikan kecil. Pada acara kenduri, menurut Snouck, menu yang wajib ada adalah nasi kuning (bu kunyit) dengan lauk gule ikan keumamàh teunaguën. ”Kerbau, sapi, atau kambing jarang dimasak kecuali pada acara-acara sangat besar,” tulis Snouck.

Absennya istilah kari dalam literatur lama tidak mengherankan. Pasalnya, penggunaan istilah kari secara global memang relatif baru. Colleen Taylor Sen dalam bukunya, Curry: A Global History (2009), menyebutkan, istilah kari awalnya tidak digunakan orang India. Mereka menyebut aneka hidangan berempah itu dengan nama lebih spesifik, seperti korma, rogan josh, molee, vindaloo, dan doh piaza.

Kata kari berasal dari bahasa India bagian selatan (Tamil), yakni keril yang dikaitkan dengan tumis sayuran dan daging berempah. ”Tetapi, sekarang orang India sering menggunakan kata kari untuk banyak masakan rumah dengan saus, khususnya ketika mereka bicara dengan orang asing,” tulis Taylor.

Globalisasi istilah kari dimulai saat terjadinya penghapusan perdagangan budak di Kerajaan Inggris pada 1807, yang diikuti penghapusan perbudakan pada 1833. Sebagai penggantinya, Inggris membawa lebih satu juta buruh dari India untuk bekerja di perkebunan-perkebunan di wilayah jajahannya, dari Afrika hingga Malaysia. Para pendatang baru itu mengintegrasikan bumbu-bumbu lokal ke dalam kebiasaan makan mereka untuk menciptakan berbagai kari jenis baru. Fenomena serupa terjadi di koloni Belanda di Indonesia.

Walaupun penyebutan kari secara global relatif baru, menurut Taylor, tradisi kuliner India telah lama merembes dalam kuliner Asia Tenggara, termasuk Indonesia. ”Sejak awal abad ketiga sebelum Masehi, pedagang India dan misionaris Buddha membawa asam jawa, bawang putih, bawang merah, jahe, kunyit, dan lada ke wilayah itu,” sebut Taylor.

Bahkan, menurut Taylor, jenis makanan berempah dan bersantan yang di Indonesia populer disebut sebagai gule sebenarnya bisa digolongkan sebagai kari. Tentu saja, kari yang telah diindonesiakan.

Pengaruh India, terutama dalam penggunaan rempah dan santan, itu jelas terlihat dari tiga jenis masakan Aceh di masa lalu, seperti dicatat Snouck. Sampai sekarang, ketiga jenis masakan itu masih sangat populer di Aceh. Bahkan, menurut Azhari, budayawan Aceh, gulè leuma (gule leumak) memiliki banyak sekali variasi, dari leumak sayuran sampai ikan teupelumak atau udang teupeulemak.

Ikan keumamah—saat ini diproduksi sendiri oleh orang Aceh—juga menunjukkan, lamanya interaksi perdagangan dan kebudayaan antara Aceh dan ”Negeri Atas Angin”, yakni sebutan untuk negeri India, Persia, Arab, dan sekitarnya. Sebaliknya Kepulauan Nusantara di masa lalu dikenal sebagai ”Negeri Bawah Angin”. Penggunaan istilah ”Negeri Bawah Angin” dapat ditemukan pada naskah Hikayat Raja-raja Pasai untuk merujuk wilayah Asia Tenggara, dari Sumatera Utara sampai Maluku.

(sumber: Kompas)

Aceh Kenduri Sepanjang Hari

Warga makan bersama di Meunasah Pupu, Kecamatan Ulim, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. (kompas)

KENDURI tak mengenal musim di Aceh. Bahkan, di kala perang, kenduri tetap berjalan. Begitulah, lewat kenduri orang Aceh saling mengikatkan diri.

Aroma kenduri Maulid tercium di awal pagi di Desa Pupu, Kecamatan Ulim, Kabupaten Pidie Jaya, pertengahan Februari lalu. Lepas subuh, Aisyah (51) dan Mardianah (38) sibuk menyiapkan aneka masakan yang akan dibawa ke meunasah (musala) tempat kenduri berlangsung. Tangan mereka cekatan membungkus nasi berbentuk kerucut dengan daun pisang batu.

Nasi itu lantas disusun meninggi di atas sebuah nampan bersama aneka lauk terbaik, mulai telur balado, rendang, kuah sup, hingga kari itik. Semakin tinggi isi nampan itu menunjukkan makin mapan si pembuat secara ekonomi. Nurdin, Kepala Museum Aceh, mengatakan, orang-orang kaya dulu menyusun hingga tujuh lapis lauk di atas nampan hidangan untuk dibawa ke meunasah.

Sekitar pukul 11.00, nampan berisi aneka masakan buatan Aisyah dan Mardianah dibawa ke meunasah. Di sana sudah ada belasan nampan lain yang disumbangkan warga. Dengan iringan doa, tetamu menyantap hidangan yang tersedia. Jika tidak habis, tetamu wajib membawa pulang hidangan. ”Kalau sampai ada sisa, kami bisa marah. Sebab, makanan yang kami hidangkan adalah sedekah,” kata Aisyah.

Maulid adalah salah satu kenduri wajib yang dirayakan besar-besaran di Aceh. Snouck Hurgrounje dalam buku Aceh di Mata Kolonialis menyebutkan, Maulid di Aceh tidak hanya terkait peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga terkait ketaatan kepada Kerajaan Turki yang melindungi Kesultanan Aceh. Sultan Turki berpendapat, Aceh yang letaknya cukup jauh dari Turki tidak perlu mengirimkan upeti setiap tahun. Sebagai gantinya, Sultan memerintahkan Aceh menunjukkan ketaatannya dengan memperingati Maulid setiap tahun secara bersama-sama.

Itulah yang terjadi hingga kini. Desa-desa bergantian menggelar kenduri Maulid. Mereka saling mengundang dan mengunjungi. Jika sebuah desa menggelar kenduri Maulid, semua warga ikut terlibat. ”Ada yang menyumbang makanan, ada yang menyumbang tenaga demi menjamu tamu,” ujar Geucik(kepala desa) Pupu, Idris Yusuf.

Peringatan Maulid di Aceh merentang hingga empat bulan. Tahun ini, peringatan Maulid dimulai akhir Januari dan berakhir April nanti. Sepanjang waktu itu, ada saja kampung yang menggelar kenduri. Ketika berkunjung ke rumah Cut Rahmi di Montasik, Aceh Besar, ia mengundang kami untuk menghadiri kenduri esok harinya. Undangan serupa datang ketika kami bertandang ke rumah Cut Nyak Mizar di Meulaboh, Aceh Barat.

Maulid tidak hanya berlangsung di masa damai. Pada masa konflik antara GAM dan Pemerintah RI memanas, tentara-tentara GAM yang bergerilya di hutan tidak ketinggalan menggelar Maulid. Azhar Abdurrahman, mantan tentara GAM yang kini menjabat Bupati Kabupaten Pidie Jaya mengenang, setiap musim Maulid tiba, ia dan beberapa temannya berburu rusa.

Jika rusa tak didapat, mereka turun ke kampung untuk meminta sumbangan kambing kepada kerabat dan memesan bumbu kari. Daging rusa atau kambing itu lantas dimasak dengan bumbu kari lengkap di markas besar GAM di wilayah Lamno. Sejenak mereka melupakan perang dan beralih pesta kari.

”Itulah saat paling menyenangkan di dalam hutan. Buat kami Maulid itu wajib digelar pada masa damai ataupun perang,” ujar Azhar menegaskan. Tidak hanya Maulid, Azhar juga menggelar kenduri lainnya pada masa perang. Ketika anaknya berusia 40 hari, Azhar menyelinap ke rumahnya hanya untuk menggelar kenduri menjejakkan kaki anak ke tanah.

Kenduri galau

Begitulah, ada sederet kenduri yang biasa digelar masyarakat Aceh. Ada kenduri yang terkait dengan perayaan agama Islam, seperti Isra Miraj, Nuzulul Quran, dan Asyura. Ada kenduri yang terkait dengan daur hidup seseorang seperti kelahiran, sunatan, pernikahan, hingga kematian. Ada pula kenduri petani dan kenduri nelayan. Orang membangun rumah pun menggelar kenduri. Pindah rumah, mereka bikin kenduri lagi.
Pokoknya, orang Aceh punya banyak alasan untuk membuat kenduri. Ketika hati senang karena dapat uang, orang Aceh bikin kenduri. Ketika hati galau pun kami bikin kenduri.
-- Reza Idria
“Pokoknya, orang Aceh punya banyak alasan untuk membuat kenduri. Ketika hati senang karena dapat uang, orang Aceh bikin kenduri. Ketika hati galau pun kami bikin kenduri,” kata Reza Idria, antropolog dari IAIN Ar Raniri, Banda Aceh.

Ia mencontohkan, seorang kerabatnya yang bermimpi bertemu almarhum orangtuanya. Wajah almarhum terlihat masam. ”Besoknya dia bikin kenduri selamatan untuk almarhum. Buat orang Aceh kenduri itu bermakna sedekah. Semakin sering kenduri, semakin sering sedekah,” kata Reza.

Tidak mengherankan jika orang Aceh sepanjang tahun sibuk menggelar atau menghadiri undangan kenduri. ”Dalam dua minggu ini saya sudah menghadiri delapan kenduri, mulai dari akikah, pernikahan, maulid, hingga kenduri arisan,” ujar Reza yang mengaku sering kewalahan dengan aneka undangan kenduri.

Kalau Reza kewalahan, Rahman justru tidak. Dia dan teman-teman bahkan membentuk ”pasukan pemburu kenduri” yang kerjanya mengejar ke mana kenduri pergi. ”Lumayan bisa makan gratis,” katanya.

Sebanyak apa pun undangan kenduri yang datang, orang Aceh berusaha untuk memenuhinya. Pasalnya, kata Reza, kenduri adalah mekanisme sosial orang Aceh untuk saling mengikatkan diri dan saling mengunjungi. Agar ikatan sosial makin kuat, adat membuat setiap kampung saling bergantung. Di Gampong Lam U, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, misalnya, setiap meunasah hanya boleh memiliki dua kuali meski mereka sebenarnya memerlukan empat kuali.

”Tujuannya agar ketika masak kari untuk kenduri, pengurus meunasah meminjam kuali kepada meunasah lain,” ujar Reza.

Dewa anggur

Tradisi kenduri di Aceh telah berumur panjang. Anthony Reid dalam buku Menuju Sejarah Sumateramenuliskan, raja-raja kesultanan Aceh biasa menggelar aneka kenduri dan perayaan megah yang disertai aneka hiburan termasuk untuk menjamu utusan asing. Meskipun, menurut Snouck Hurgrounje, (ketika itu) masyarakat Aceh kebanyakan masih kurang makan.

Reid menambahkan, ketika menjamu utusan Inggris, Thomas Best, Sultan Iskandar Muda menyuguhkan paling tidak 400 jenis makanan dan minuman yang cukup untuk santapan beratus-ratus prajurit. Begitulah, kenduri dan perayaan besar sekaligus digunakan untuk memperlihatkan kemegahan dan kejayaan kerajaan.

Orang asing yang melihatnya akan terpukau seperti yang diperlihatkan John Davis, petualang Inggris yang datang ke Aceh pada abad ke-16. Ia geleng-geleng kepala melihat kemewahan pesta yang digelar Sultan Aceh dari pagi hingga petang. ”Raja seperti ’dewa anggur’ dan sukacita,” katanya.

(sumber: kompas.com)

Para Penjaga Rahasia Kari Aceh

Asber Os Meri (kiri) meracik bumbu permintaan pembeli di Pasar Setui, Banda Aceh, KOMPAS/AGUS SUSANTO

Oleh Budi Suwarna dan Ahmad Arif

Aceh adalah kari. Aroma rempahnya diturunkan dari generasi ke generasi. Tak perlu khawatir kelezatannya akan memudar sebab selalu ada penjaga rasa kari yang lahir di setiap generasi. Lantai 2 Pasar Setui, Banda Aceh, akhir Februari. Keramaian hanya ada di sudut bangunan bagian belakang, tempat Asber Os Meri (48), atau akrab disapa Kak Meri, berjualan bumbu.

”Masak apa hari ini sayang?” Kak Meri, si peracik bumbu terkenal di Banda Aceh itu, menyapa akrab pelanggannya.

”Kari untuk dua ekor ayam, Kak,” jawab Ros (50) sambil menyodorkan selembar uang Rp 5.000. Ros adalah ibu rumah tangga dari Lamlagang, Banda Aceh. Hampir setiap pagi ia membeli racikan bumbu di kios Kak Meri.
Masakan Aceh itu rumit. Bumbunya banyak sekali. Kalau meracik sendiri, habis waktu kita. Belum lagi kalau kurang pas takarannya, bisa tidak enak rasanya.
-- Ros
”Masakan Aceh itu rumit. Bumbunya banyak sekali,” keluh Ros. ”Kalau meracik sendiri, habis waktu kita. Belum lagi kalau kurang pas takarannya, bisa tidak enak rasanya.”

Ros tidak berlebihan. Untuk memasak kari ayam atau kambing khas Pidie, misalnya, setidaknya dibutuhkan 22 macam bumbu. Bahkan, ada yang memakai 24 bumbu.

Setiap hari Kak Meri melayani 200-an pelanggan seperti Ros. ”Saat hari meugang—dua hari sebelum Ramadhan—ada ribuan orang yang beli bumbu antre dari pagi sampai malam,” ujar Kak Meri yang mewarisi kios dari ibunya tahun 1980-an.

Bagi masyarakat Aceh, makan menjadi momen istimewa, khususnya jika ada kari daging dalam menunya. Sedari dulu mereka adalah penikmat kuliner, seperti disebutkan di banyak catatan lama. Dalam The Voyage of Thomas Best to The East Indies, 1612-1614 disebutkan, Best yang datang ke Aceh sebagai utusan Belanda dijamu Sultan Iskandar Muda dengan 400 macam makanan dari daging.

Kebiasaan makan enak kemudian menurun dari para tetua Aceh ke generasi sekarang. Tengoklah, di piring nasi orang Aceh, kita bisa temukan 3-4 macam lauk. ”Sehari-hari orang Aceh makan seperti itu. Setiap rumah tangga setidaknya menyediakan empat menu dalam sekali makan,” kata Reza Idria, antropolog dari Institut Agama Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh.

Pada masa lalu, gaya hidup ini ditopang ketersediaan tanaman rempah di pekarangan rumah. Sekarang, tanaman bumbu mulai hilang dari pekarangan rumah. Jadi, orang merasa lebih efisien membeli bumbu racikan dari pedagang seperti Kak Meri. Dialah koki keluarga yang sesungguhnya. Katakan saja mau masak apa, Kak Meri akan meracikkan bumbunya dan memastikan kelezatannya.

Koki kenduri

Penjaga rasa kari untuk kepentingan kenduri besar berbeda lagi. Setiap desa di Aceh pada umumnya memiliki seorang juru masak kari dan pencicipnya. Hampir dipastikan, mereka semuanya laki-laki. Di Aceh, memasak untuk kenduri memang dilakukan laki-laki. ”Kami memasak seekor-dua ekor kambing atau lembu. Kalau perempuan memasak sekilo-dua kilo daging,” ujar Razali Hanafiah, salah seorang pencicip kari di Meunasah Pupu, Kecamatan Ulim, Kabupaten Pidie Jaya.

Siang itu, Razali mencicipi kari kambing yang diolah keponakannya, Muhammad (45). Ia menyendok kuah dari kuali raksasa berisi kari. Ia diam sejenak, membiarkan lidahnya mencecap setiap jejak rasa. Kemudian, ia menganggukkan kepala tanda kari itu pantas dihidangkan untuk maulid hari itu. Semua orang yang berada di meunasah (mushala) Desa Pupu, Kecamatan Ulim, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, pun bernapas lega dan tersenyum gembira. Mereka lantas berbaris dengan piring berisi nasi menunggu pembagian kari. Begitulah, satu anggukan kepala Razali sudah cukup untuk memulai sebuah pesta kari.

Razali adalah tokoh penting di setiap kenduri di Desa Pupu. Di lidah Razali-lah, rahasia kelezatan kari desa itu berada. Hari itu ia tidak terlalu bergembira sebab rasa kari yang dimasak Muhammad, buatnya masih kurang sempurna. ”Sepertinya ada empat bumbu langka yang tidak dia gunakan. Payah (susah) memang mencarinya sekarang,” ujar Razali seusai pesta.

Razali memang memiliki otoritas sebagai penjaga kelezatan rasa kari di desanya. Ia memiliki pengalaman memasak kari sejak remaja. Awalnya, ia membantu berdagang mi aceh. Dari situ, kepiawaiannya meracik bumbu terasah. Pada tahun 1960-an, ia mulai memasak kari untuk keperluan kenduri. Posisinya sebagai pemasak kari kian mantap pada tahun 1990-an. ”Hampir setiap hari saya diminta masak kari untuk kenduri,” ujar Razali, yang selalu menggiling sendiri bumbu karinya dengan gilingan batu.

Seperti juru masak kari lainnya, Razali menciptakan resep kari dengan komposisi bumbu kari yang hanya ia ketahui sendiri. Dia menggunakan 24 macam bumbu, mulai dari cabai, lada, bawang, daun temurui, pandang, lawang keling, hingga kacakraci atau kaskas. Bumbu tersebut tidak ada yang ditimbang. ”Saya kira-kira saja, bergantung besar kecilnya kuali untuk memasak,” tutur Razali.

Sejak sepuluh tahun yang lalu, Razali menurunkan kepiawaiannya memasak kepada Muhammad. Kini, keponakan Razali itu menjadi ”pendekar” kari di desanya. ”Setiap ada kenduri di desa ini, saya diundang masak kari,” ujar Muhammad.

Kepiawaian memasak kari memang diturunkan dari generasi ke generasi. Dari paman kepada keponakannya, dari ayah kepada anaknya. Azhari Abdullah (59), misalnya, mewarisi keterampilan memasak kari dari ayahnya sejak masa SMA. ”Orangtua saya memberi tahu ini-itu. Jadi belajar masak karinya lama dan sedikit demi sedikit,” ujar Azhari, yang bekerja sebagai guru olahraga.

Setelah mahir membuat kari, orangtuanya melepas Azhari masak kari sendiri. Azhari pun mulai ”berkelana” dari satu kenduri ke kenduri lain, mulai tingkat desa sampai provinsi.

Akhir Februari lalu, Azhari memasak kari kambing untuk kenduri akikah. Ia mengaduk semua bumbu dan daging dengan tangan telanjang langsung di atas kuali yang apinya baru saja dinyalakan. ”Begini cara mengaduk supaya bumbu meresap ke dalam daging,” katanya kepada anak-anak muda yang membantunya.

Sumber :
Kompas Cetak

Mengenal pantangan turun ke sawah di Aceh Barat Daya

pantangan turun ke sawah @ilustrasi
KHANDURI Ulee Lhueng atau kenduri turun ke sawah sudah menjadi tradisi turun temurun dari nenek moyang bagi masyarakat Aceh Barat Daya. Kenduri ini digelar setiap kali akan memasuki musim tanam.

Di Aceh Barat Daya kenduri tersebut kembali berlangsung kemarin siang, Kamis, 21 Maret 2013. Acara ini dibuat di Gampong Persiapan Alue Seulaseh Kecamatan Jeumpa.

Dalam acara yang dihadiri oleh sejumlah pejabat penting di Aceh Barat Daya itu juga dijelaskan mengenai tata cara turun ke sawah. Misalnya larangan atau pantangan saat padi sedang mekar dan bunting. Pantangan tersebut harus dijaga dalam bercocok tanam yang dipercaya bisa membawa keberkatan dan hasil panen yang memuaskan.

Ketua pantia acara Khairuddin, dalam laporannya mengatakan ada 12 pantangan yang tidak boleh dilakukan saat sedang bunting padi yaitu:
  • Dilarang membawa lukah atau bubee/bubu
  • Dilarang melakukan perbuatan asusila
  • Dilarang mabuk atau berjudi di sawah
  • Dilarang berkelahi apalagi sampai keluar darah
  • Dilarah membuang sampah di saluran air di sawah
  • Dilarang membakar jerami sebelum padi menguning
  • Dilarang transaksi jual beli padi atau membawa timbangan ke areal persawahan
  • Dilarang menanam nilai di areah persawahan
  • Dilarang membuat bob atau tulop sembarangan oleh aneuk blang masing-masing
  • Membuat bob atau tolop yang telah dibentuk harus terlebih dahulu dikonsultasikan dengan Kejruen blang setempat
  • Dilarang mencari rotan saat padi sedang bunting
  • Apabila semua ketentuan ini dilanggar maka sebelum ada qanun yang mengaturnya akan dikenakan sanksi adat sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

(sumber: Atjehpost)

6 mitos pernikahan dalam tradisi Aceh

ilustrasi
MITOS adalah suatu cerita yang diyakini kepercayaannya dalam kehidupan masyarakat secara turun temurun. Di Aceh, yang identik dengan Syariat Islam, juga berkembang mitos atau kepercayaan tentang beberapa hal. Salah satunya yang paling dipercaya hingga saat ini adalah tradisi tentang pernikahan.

Seperti yang di rangkum Atjehpost, berikut beberapa kepercayaan masyarakat tentang pernikahan yang dilestarikan hingga kini:

Pernikahan tidak boleh dilakukan siang hari
Beberapa kelompok masyarakat di berbagai daerah di Aceh percaya bahwa pernikahan di siang hari akan berakibat buruk terhadap keharmonisan rumah tangga nantinya. Siang hari diidentikan dengan panas.

Pengantin pria dilarang keluyuran menjelang pernikahan
Para pengantin pria di beberapa kabupaten kota di Aceh dilarang keluyuran di malam hari menjelang pernikahan. Ini karena prilaku tersebut dianggap tidak baik bagi keharmonisan rumah tangga serta ditimpa kemalangan.

Remaja Aceh dilarang makan nasi di piring retak
Remaja di Aceh, baik pria dan wanita, dilarang makan dan minum dari gelas atau piring yang retak. Jika kebiasaan ini dilanggar, maka sang pemuda atau pemudi tersebut, dikhawatirkan akan mendapatkan jodoh yang cacat, atau minimal cacat moral.

Wanita muda dilarang duduk di pintu masuk
Para wanita muda di Aceh dilarang duduk atau tidur di pintu masuk rumah. Bagi yang melanggar, menurut kepercayaan masyarakat, akan susah mendapatkan jodoh serta dilangkahi oleh saudaranya dalam urusan jodoh.

Remaja Aceh dilarang mengambil nasi di atas kompor
Bagi para remaja yang melanggar tradisi ini, menurut kepercayaan masyarakat, akan mendapatkan jodoh yang lebih tua atau jelek.

Pengantin yang wajahnya berkerut di hari pesta harus diperlihatkan pantat belanga
Tradisi ini masih berkembang di beberapa daerah Aceh. Dimana, ketika ada pasangan yang berwajah cemberut atau hitam di hari pesta pernikahan, maka keluarga diharuskan memperlihatkan pantat periuk atau belanga. Percaya atau tidak, tradisi ini masih berjalan di beberapa daerah Aceh.

(atjehpost)

Tradisi Jelang Nikahan di Aceh


TRADISI pernikahan yang unik di setiap daerah mendeskripsikan bahwa tidak mudah untuk meminang seorang wanita. Banyak tahapan yang dilalui pada hasri sakral tersebut, salah satunya pada upacara seulanke atau theulangke yang hingga kini masih dilestarikan di Nangroe Aceh.
Bukan mempelai pria yang ambil tindak, melainkan utusan dari mempelai pria. Utusan adalah pria dewasa yang bijak dalam berbicara dalam bahasa Aceh. Pembicaraan ini dimaksudkan untuk bertanya tentang status si gadis, jika ia belum ada yang memiliki, maka utusan akan menyampaikan maksud lamaran kepada orang tua si wanita.
Jika wanita sudah bersedia dilamar, barulah pihak lelaki akan datang bersama dengan orang yang dituakan ke rumah gadis dengan membawa berbagai macam syarat seperti pineung reuk, gambe, gapu, cengkih, pisang raha, dan pakaian adat Aceh.
Setelah itu, lamaran tidak serta merta langsung diterima. Pihak wanita akan mendiskusikannya terlebih dahulu, diterima atau tidaknya tergantung dari musyawarah keluarga pihak wanita.
Jika lamaran diterima, maka kedua mempelai akan menginjak ke tanap pertunangan (Jakba Tanda). Dalam proses ini pihak pria akan datang kembali untuk melakukan Peukeong, yaitu membicarakan berapa besar uang yang diminta pihak wanita (jeunamee/jeulamee) dan berapa banyak tamu yang akan di undang.
Budaya gotong royong sangat kuat pada diri masyarakat Aceh. Menjelang pernikahan, masyarakat akan bergotong-royong membantu mempersiapkan alat-alat apa saja yang akan digunakan di acara perkawinan. Dari pihak mempelai wanita sendiri, ada beberapa ritual yang dijalankan sebelum memasuki prosesi pernikahan, diantaranya:
Tradisi Potong Gigi (kohgigu). Ditujukan agar gigi sang calon pengantin terlihat kuat. Untuk itu akan digunakan tempurung batok kelapa yang dibakar sampai mengeluarkan cariran hitam, lalu cairan hitam yang keluar dari batok tersebut ditempelkan pada bagian gigi.
Upacara kruet andam. Dalam adat pernikahan Aceh, kruet andam adalah ritual perawatan tubuh yang biasa ditujukan untuk kebersihan kulit. Biasanya ritual dilakukan dengan cara mengerit anak rambut atau bulu-bulu halus yang tumbuh agar tampak lebih bersih. Setelah kruet andam dilakukan, dilanjutkan dengan pemakaian daun pacar (bohgaca). Daun pacar digunakan untuk menghiasi kedua tangan calon mempelai.
Seumanoe Pucok. Salah satu prosesi adat perkawinan yang harus dilaksanakan calon pasangan pengatin sebelum akad nikah. Seumanoe pucok selain bertanda akan melepas masa lajang, siraman yang dilakukan pemuka adat, kedua orang tua atau wali dan family dekat juga bertujuan untuk membersihkan diri. (*/tourismnews.co.id)

Besinte Lestarikan Budaya Melalui Pernikahan

Banda Aceh - Indonesia adalah negeri yang kaya akan suku bangsa dan adat istiadat. Masing-masing suku memiliki tradisi yang berbeda, ritual pernikahan di Aceh misalnya. 

Saat masuk ke dalam keluarga mempelai wanita Aceh Gayo sudah berkumpul. Para nenek duduk berbaris di sebelah kiri mempelai, mulai dari yang hubungan kerabat paling dekat hingga para tetua adat yang siap memulai ritual. 

Setelah diterima permohonan dari Suku Besinte yang merupakan perwakilan dari mempelai wanita kepada Raja Sarak Opat atau perwakilan kepala desa, ritual dilanjutkan dengan pemotongan jeruk purut. Potongan jeruk purut ini nantinya harus dipakai mandi oleh sang calon memperlai wanita. Ini dilakukan pada pagi hari sebelum menikah yang bertujuan untuk menyucikan diri sebelum memulai hidup baru. 

Kemudian ke ritual terpenting, yaitu sesi tepung tawar. Pada ritual ini sang memperlai wanita mengenakan kain hitam yang di tengahnya ada lingkaran putih seperti bulan. Kain ini menandakan biduk rumah tangga selamanya cerah, namun berwarna saat riak kecil terjadi, manusia haruslah mengingat kembali Sang Pencipta.

Pada tepung tawar, sang mempelai diteteskan air yang dicampur dengan beras dan dedaunan. Ada dedingin yang bermakna semoga pernikahannya kelak tenteram dan sejuk. Daun bebesi yang bermakna konsisten atas pilihan yang dibuat daun ongkal menandakan menikah hanya sekali seumur hidup.

Daun ulung kayu kul yang diharapkan nanti sebagai suami istri dapat saling membantu dan bahu-membahu, serta anak di awal agar kehidupan pernikahannya tetap langgeng dan mesra. Nah beras sendiri bermakna kemakmuran diletakkan di tangan agar sang istri nantinya bertanggung jawab atas penghasilan suaminya.


(liputan6)

Upacara Adat Untuk Menyelesaikan Masalah Di Aceh


Untuk membuat keputusan dan menyelesaikan masalah, tidak melulu dengan cara kekerasan. Masyararat Aceh percaya, sebuah upacara adat akan memberikan kontribusi besar untuk merengangkan situasi yang tegang.

Peusijuek Meulannga adalah salah satu upacara tradisional Aceh yang berfungsi untuk membuat keputusan dan menyelesaikan masalah. Cerminan budaya ini disebut juga tepung tawari. Pada masyarakat Aceh upacara ini dianggap upacara tradisional simbolik dari permohonan keselamatan, ketentraman, kebahagiaan, perestuan dan saling memaafkan.

Upacara dihadiri oleh Tengku (ulama) atau atau orang yang dituakan (Majelis adat) sebagai pemimpin upacara. Hal ini dilakukan karena Peusijuek salah satu unsur tersebut memperoleh keberkatan dan setelah selesai upacara peusijuek adakalanya diiringi dengan doa bersama yang dipimpin oleh Tengku untuk mendapat berkah dan rahmat dari Allah SWT.

Peusijuek Meulangga dilakukan untuk mendamaikan perselisihan/pertengkaran antar warga yang mengakibatkan keluarnya darah. Peusijuk ini biasanya dilakukan di Meunasah dipimpin oleh Geuchik (kepala desa) yang bertindak sebagai wakil dari kedua belah pihak yang bertikai. Ia juga menjadi hakim yang mendamaikan perselisihan tersebut secara adat.

Bagi pihak yang melakukan pelanggaran seperti perkelahian hingga mengeluarkan darah, maka dia diharuskan memberi sejumlah uang kepada pihak yang darahnya keluar. Pemberian uang tersebut disebut sayam. Jumlah uang yang diberikan tergantung pada kesepakatan kedua belah pihak. | tourismnews.co.id

Sajian Khas 'Molod Nabi' di Aceh Besar



Jantho - Banyak cara meluapkan kegembiraan saat perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW atau lebih populer dengan istilah Maulid Nabi.
Di Aceh, misalnya, yang khas dari perayaan Maulid adalah masakan bernama beulangong. Rasanya nikmat, gurih, dan kuasnya sedap banget!
Masakan ini diracik masal dalam wajan-wajan besar untuk menyuplai para jamaah yang sudah antri menunggu.
Tampak panitia membagikan kuah beulangong kepada warga pada kenduri Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Gla Meunasah Baroe, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, Kamis (24/1).
Tradisi perayaan maulid yang jatuh setiap 12 Rabiul Awal dilakukan oleh masyarakat Aceh dengan berbagai cara seperti zikir barzanji, ceramah agama, memberi santunan kepada anak yatim hingga makan kenduri bersama. | theglobejournal.com

Warga Lhokseumawe dan Aceh Utara Kenduri Maulid

LHOKSEUMAWE – Masyarakat sejumlah gampong di Lhokseumawe dan Aceh Utara menggelar kenduri Maulid, Kamis, 24 Januari 2013. Selain dihidangkan untuk tamu yang diundang ke rumahnya, kenduri juga diantar secara khusus ke meunasah maupun masjid.

Di Gampong Panggoi, Muara Dua, Lhokseumawe, sejak pukul 10.00 hingga 12.00 WIB, ratusan warga membawa kenduri Maulid ke meunasah untuk disantap bersama. Kenduri itu berupa bu kulah (nasi dibungkus daun pisang yang telah dilayu hawa panas api) dan daging ayam, itik, ikan hingga telor asin. Ada pula pisang dan bu lukat (nasi ketan dibungkus kecil dilengkapi kelapa manisan).   

Kenduri tersebut dimasukkan dalam kantong plastik. Setelah tiba di meunasah, para tetua dan pemuda gampong menyusun kembali kenduri itu sebelum dibagikan untuk makan bersama. “Anak-anak terutama anak yatim mendapat giliran pertama untuk menikmati kenduri ini, setelah itu untuk para undangan dan masyarakat,” kata seorang warga Gampong Panggoi.

Untuk menyemarakan acara kenduri Maulid, pengurus meunasah mengundang sejumlah group Dike dan Dalae (Zikir dan Dalail Khairat) untuk tampil sejak pagi hingga siang.

Sementara di Gampong Uteun Bayi, Banda Sakti, Lhokseumawe, tradisi kenduri Maulid dalam bentuk bu kulah sudah bercampur dengan nasi kotak. “Ada yang masih bu kulah, ada nasi kotak dan ada yang pakai rantangan,” kata Herman, warga Uteun Bayi.

Panitia kenduri Maulid di Uteun Bayi, Ikhwan MA menyebutkan, selian sejumlah group Dike juga diundang aparatur pemerintah gampong seKecamatan Banda Sakti.

Kenduri Maulid pada hari ini juga diadakan di Masjid Babus Salam, Gampong Blang, dan sejumlah gampong lainnya di Kecamatan Syamtalira Aron, Aceh Utara.

Begitu juga di Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara. Terlihat banyak warga berdatangan ke Masjid Al-Khalifah Ibrahim,  mengantar kenduri Maulid sebagai wujud syukur memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Salah seorang tamu undangan di acara kenduri itu, Tgk Dailami menyebutkan momen Maulid di Aceh Utara sangatlah sakral. "Disini hampir setiap gampong merayakan Maulid,” katanya.| atjehpost.com

Let Rusa dan Meu Awe


Let rusa bahasa Aceh, populernya berburu rusa. Sedangkan meu awe perkerjaan mencari rotan. Kedua-duanya lokasi tetap masuk hutan keluar hutan. Bagi sebagian masyarakat, budaya let rusa sudah menjadi tradisi, dagingnya untuk dikonsumsi dan tanduknya menjadi hiasan dinding. Sedangkan meu awe bagian dari mata pencaharian para penduduk daerah tertentu.
Zaman dulu, budaya koleksi ‘onderdil’ bagian-bagian tubuh binatang liar sangat marak. Sebut saja hampir setiap rumah-rumah raja atau pejabat mengoleksi berbagai jenis asesoris dari hasil binatang buruan. Misalnya, kulit harimau, kulit musang, tanduk rusa, gading gajah dan beberapa jenis binatang liar lain dikemas kembali seperti aslinya.
Lalu, sang kolektor memajang koleksinya dekat pintu masuk rumah, sehingga sebagian tamu terkejut melihat duplikat binatang buas tersebut. Bahkan ada yang jatuh pingsan kaget melihat tiba-tiba ada harimau atau buaya sepanjang dua meter berdiri dengan megah dalam rumah.
“Tolong…. tolong…. tolong,” teriak sebagian tamu yang kaget ketika datang ke rumah kolektor hewan liar.
Lain halnya dengan rusa, selain dagingnya halal dimakan juga diambil tanduknya untuk hiasan dinding. Harganya mahal dan indah untuk dipandang lama-lama menjadi barang langka.
Timbul pertanyaan, bagaimana cara mendapatkan rusa yang konon ceritanya sangat liar. Larinya pun sangat kencang, sehingga menginspirasi Jepang untuk menamai mobil buatan dengan nama ‘Toyota Kijang’ lengkap dengan lambang kepala dan tanduk rusa.
Let rusa yang sudah menjadi tradisi, sebagian masyarakat membentuk kelompok-kelompok pemburu rusa, setelah adanya grup, diangkat pula seorang pawang. Bersama anggotanya yang sudah lengkap peralatan tempur seperti lembing, parang, gelewang juga dibawa beberapa ekor anjing yang sudah terlatih.
Pada saat kejar mengejar rusa dalam hutan, peran anjing sangat menentukan, selain ciuman yang tajam, gong-gongan anjing membuat rusa yang lagi istirahat dalam semak terpaksa keluar mencari perlindungan dari kejaran dan penciuman anjing. Pada saat rusa keluar disitulah terjadi adu kuat antara rusa dengan pemburu dan anjing tadi. Rusa yang diburu dari belakang, seringkali terjebak dari sergapan anjing dan para pemburu yang sudah siaga di beberapa titik.
Bagi masyarakat modern, selain peranan pawang rusa dan anggota pemburu lainnya menggunakan sejata api laras panjang paling efektif berburu rusa yang larinya kencang dibalik semak belukar. Hasil buruanya bisa dapat banyak rusa ketimbang alat tradisional.
Menariknya, let rusa sudah menjadi konsesus tak tertulis, misalnya daging hasil buruan dibagi sama rata kepada sesama pemburu itu sendiri. Namun ada pengecualian pembagian hasil buruan, yaitu kepala dan tanduk rusa biasanya menjadi hak milik pawang rusa. Pada kesempatan lain, bila pawang rusa tidak ikut berburu, kepala dan tanduk rusa hasil buruan tetap diantar untuk sang pawang.
Hal lain yang menarik dari let rusa adalah para pemburu pergi pagi pulang sore. Jika hari itu tidak memperoleh hasil buruanya, esoknya mereka pergi lagi ke satu hutan ke hutan lain. Begitulah budaya let rusa, masuk hutan keluar hutan. Ada kebersamaan, kompak dan saling percaya juga teamwork yang hebat.
Kemudian, apa beda let rusa dengan meu awe? Bila dilihat dari lokasinya, sama sama masuk hutan keluar hutan. Tentu saja ada bedanya! Meu awe tidak perlu melibatkan orang banyak, bisa sendirian atau lebih. Waktunya juga kadang tidak cukup sehari, bisa berhari-hari atau bermingu-minggu, tergantung bekal persiapan, misalnya stok beras, ikan asin, mie instan tak lupa stok rokok untuk beberapa hari hingga sepekan. Pokoknya mencari rotan bisa berlama-lama, bisa juga satu hari sudah bisa pulang dengan hasil yang lumayan.
Memang perjuangan let rusa dan meu awe kadang berdarah-darah karena tergores duri kayu dalam hutan. Hutan adalah rimba Tuhan penuh dengan liku-likunya, bila tidak memiliki bakat petualang bisa saja tersesat di tengah hutan. Bagi mereka yang sudah biasa keluar masuk hutan, bukan persoalan akan tersesat juga pengendalian diri keluar dari jeratan hutan yang penuh misteri itu.
Nah, sekarang timbul pertanyaan, bila kita yang menjadi lakon let rusa, apakah daging rusa masih mau berbagi sama rata dengan teman-teman lain. Masih setiakah pada komitmen kepala rusa tetap milik para pawangnya.
Sebaliknya juga, lagi asik-asyiknya meu awe dalam hutan belantara sementara keluarga dan kerabat kita tinggalkan berlama-lama walau hasilnya dibawa pulang. Atau juga hasilnya meu awe tidak berhasil didapat meski sudah berusaha di dalam hutan hingga bekal habis.
Memang, let rusa dan meu awe pekerjaan yang asyik juga menantang serta membutuhkan keahlian masuk hutan yang penuh dengan semak dan misteri bahkan ranjau duri. Selamat let rusa dan meu awe.(Mustafa A Glanggang / seputaraceh.com)

“Smong,” Warisan Kearifan Anak Pulau


“…Anga  linon ne mali,  uwek suruik sahuli // Maheya mihawali, fano me  singa tenggi // Ede smong kahanne………”
Itulah penggalan syair nandong dalam bahasa devayan  yang dituturkan secara oral, diwariskan turun menurun untuk kemudiannya  menjadi local wisdom di lingkungan anak Simeulue. Dan ketika gempa dahsyat dan tsunami besar 26 Desember 2004, delapan tahun lalu, menyapu 1.700 unit rumah mereka, memori kolektif anak pulau  tentang syair nandong yang berpetuah tentang smongmenyadarkan mitigasi bahaya mereka hingga mengecilkan jumlah korban yang meninggal. Cuma 6 jiwa.
Syair nandong devayan yang  kami kutip salah satu baitnya itu  kalau diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, berbunyi, “jika gempanya kuat, disusul air laut surut, segera cari tempat kalian yang lebih tinggi, itulah smong namanya.”  Sebuah syair yang tidak hanya milik  anak-anak “devayan” tapi juga dilantunkan oleh komunitas “sigulai.” Bahkan  didendangkan pula oleh aneuk jamee dan pendatang Barus serta Minang dengan gaya kaba.
Simeulue memang pulau smong. Pulau yang berada di persimpangan palung laut terbesar di dunia. Pulau yang menyembul di pinggir pertemuan lempeng Asia, Australia dan Samudera Hindia yang saling bertubrukan, saling melepaskan kekuatan dan menimbulkan patahan yang mengundang terjadinya gempa besar dengan potensi tsunami.
Simeulue, ketika gempa dan tsunami besar melandanya di hari Jumat, 4 Januari 1907, membunuh cukup banyak anak negerinya dan menyisakan keturunan Ate Fulawan,  insan berhati emas sebagaimana moto kabupatennya, dan mematrikan pengalaman itu dalam hikayat  dengan tutur devayan, sigulai, jamee, minang serta barus.
Simeulue tentu tidak hanya smong. Pulau seluas 199.502 hektar dengan gugusan 40 pulau yang mengitarinya adalah sebuah janji takdir ketika dia harus berlabuh di palung laut yang tidak pernah memberitahu kapan datangnya bencana. Palung laut yang memanjang dari ujung Andaman menyusur ke Nias, Mentawai dan Enggano  dengan nama patahan Semangka serta  di forcast oleh ilmuan bumi dengan label pusat  bencana yang tak pernah terjadwal kedatangannya.
Sebagai takdir bencana, Simeulue tak pernah meratapinya. Smong adalah satu dari banyak jawaban yang menempatkan mereka sebagai anak negeri dengan local wisdom yang tinggi. Kawan saya Ampuh Devayan, yang menandai jati dirinya dengan nama suku asalnya, memaknai smong sebagai sebuah kekuatan sekaligus penguat hati  anak pulau yang tak mau dikalahkan oleh takdir negerinya.
Kearifan lokal Smong kemudiannya beranak pinak dalam bentuk gejala alam yang ditangkap secara cerdas oleh binatang seperti kerbau dan disalin ke dalam memori penduduknya.
Ketika kami menelusuri jejak dari akar kata smong tak ditemukan asal konsonan yang memaknainya secara rinci. Smong menurut sohib saya asal Simeulue mungkin terucapkan secara spontan dalam dialek “devayan” yang merupakan suku dan bahasa mayoritas di lingkungan anak pulau.
Yang pasti, kata “smong” ditemui dengan sahih dalam buku yang di tulis Martinusnijhof,  S-Gravenhage, berkode tahun 1916, yang berati delapan tahun usai gempa dan tsunami besar itu melanda Simeulue. Catatan dalam buku yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia itu menceritakan bagaimana “gergasi” laut mengoyak dan membunuh anak pulau, kala itu.
Sebagai bentuk penghargaan atas budaya yang telah menyelamat ribuan nyawa manusia ini salah satu Badan PBB, International Strategy for  Disaster Reduction (ISDR)  memberikan penghargaan atas kolektif komunitas yang telah menyatukan penduduk Simeulue menyelamatkan diri.
Dalam pidato penghargaannya di Bangkok pada saat penyerahan penghargaan dengan nama Sasakawa Award yang diterima Bupati Darmili, lembaga dunia itu menggarisbawahi tentang kekuatan komunal ditengah ketiadaan teknologi peringatan dini yang menyatukan anak Simeulue. Kekuatan komunal yang hanya diwariskan oleh kearifan lokal yang hidup secara turun menurun lewat sebuah sandi yang luar biasa sangat sederhananya dan dicamkan dengan takzim oleh masyarakatnya sebagai awal dari penyelamatan.
Smong memang sebuah pembelajaran yang sangat bernilai ketika di daratan Aceh kala itu humbalang laut  mengucar-kacirkan penduduk dalam teriakan panik dan menyapu jutaan penghuninya serta  menenggelamkan ratusan ribu di antaranya  kepelukan samudera  dan kuburan-kuburan massal tanpa  ada seonggok pertanda batu nisan. Smong juga, yang ketika tahun lalu gempa besar  melanda, dan mengalpakan tsunami membuat anak-anak Simuelue  sama sekali tak tergantung dengan sirine peringatan dini yang macet
Simeulue  tentu tidak hanya mewariskan smong sebagai jejak kearifan lokalnya. Simeulue juga meninggalkan jejak kenangan yang sulit dihapus ketika era Hindia Belanda adalah sebuah zelfbesturyang makmur.
Diperintah  raja-raja kecil, yang terpecah-pecah, dan berada dalam pengawasan seorang controllierBelanda yang hanya  tunduk langsung kepada gubernur di Koetaradja, negeri ini tercatat sebagai pulau dengan kekayaan alam yang melebihi negeri daratan.
Di zaman itu Simeulue adalah negeri  sejahtera dengan hasil hutan kayu rasak, rotan, cengkeh, kopra dan mengekspor kerbau hinga ke Sibolga, Padang dan Belawan. Transportasi laut, satu-satunya pilihan ketika itu, terjadwal dengan baik oleh kedatangan kapal milik Konneklijkee Paketvaarth Matschapaij atau KPM yang lewat pelayaran reguler menyinggahi Padang, Sibolga, Singkil, Tapaktuan, Sinabang dan Meulaboh hingga ke Belawan.
Kini negeri smong itu sedang menjalani ritual adaptasi untuk menuju kesejahteraan dan tertatih-taih melawan iasolasi yang tak pernah terpenggal walau pun telah memasuki usia ke tiga belas sebagai daerah otonom. Status yang hari-hari ini pula mereka sandang sebagai lambang prestise. Bukan prestasi.  [nuga.co]

Kenduri Apam Bersama Keturunan Sultan Atjeh

SETIAP Rajab dalam kalender Hijriah, Aceh dikenal dengan kenduri apam. Apam merupakan salah satu penganan khas di Aceh. Dalam bahasa Indonesia disebut surabi.

Sudah jadi tradisi, keturunan Sultan Aceh pun turut melaksanakan kenduri apam. Mereka kenduri untuk mengingat dan berdoa pada almarhum raja-raja Aceh.


Adalah Sultan Alauddin Muhammad Daud Syah. Beliau memerintah Kerajaan Aceh tahun 1874-1903. Ia merupakan ayah dari dari Tuanku Raja Ibrahim. Sultan Aluddin mangkat di Jakarta pada 6 Februari 1939. Makamnya berada di komplek TPU Rawamangun.


Sultan Alauddin Muhammad Daud Syah pernah ditangkap oleh belanda pada 1903. Setelah mangkatnya beliau, menjadi tanda tanya , siapa dan bagaimana garis kesulatanan Aceh itu? Namanya Putroe Sukmawati. Ia merupakan cucu dari Sultan Alauddin Muhammad Daud Syah. Sukmawati adalah anak dari Sultan Tuanku Raja Ibrahim. Ia biasa disapa “bunda”. Saat dijumpai kemarin di kediamannya, tampak rambut Bunda Putroe mulai memutih.


Tidak ada kesan bahwa ia merupakan cucu dari Sultan Aceh. Penampilannya biasa saja. Ia juga melakukan sesuatu layaknya masyarakat biasa.


Bunda Putroe bertutur, sebenarnya anak Tuanku Raja Ibrahim ada 16 orang. Namun, yang masih hidup 10 orang. Beberapa nama yang sempat disebut Bunda Putro antara lain Putroe Sariawan, cicit dari Tuanku Raja Ibrahim anak dari Putroe Darma Kasmi.


Ada juga Cut Farina anak dari Teungku Putroe Sariwan. Selanjutnya, Warul Waliddin anak Tuanku Raja Yusuf.  Hadir juga di acara kenduri apam itu Teungku Putroe Sariawan. Teungku Putroe memiliki anak bernama Cut Fariani.


Para keturunan Sultan Aceh hidup sangat sederhana. Minuman yang disuguhkan pun hanya kopi. Sungguh tidak tergambar bahwa mereka adalah keturunan raja. Melihat kejayaa Aceh masa kerajaan, mestinya ada kepedulian dari Pemerintah Aceh terhadap keturunan sultan tersebut.


Mereka memang tidak meminta pengakuan dari pemerintah bahwa mereka adalah generasi keturunan Sultan Aceh. Namun, mereka punya tambo kerajaan yang membuktikan bahwa mereka adalah keluarga raja.


“Setiap tahun kami menggelar kanduri apam di museum rumah Aceh, sekalian ziarah ke makam Tuanku Raja Ibrahim,” kata Farnia, 53, cucu Sultan Aluddin Muhammad Daud Syah.


Masa silam, museum Aceh itu adalah lokasi tempat tinggal Farnia dan keluarganya. Mestinya, mereka menetap di sana, bukan di pinggiran kota.


Cut Sulina, anak dari Teungku Putroe Safiatuddin Cahaya Nuralam, yang juga masih ada ikatan dengan Ratu Safiatuddin turut hadir dalam acara kanduri apam tersebut.


“Inilah yang disebut sejarah menghapus sejarah. Sejarah yang di mulut saja, cocok dengan kondisi sekarang,” kata Cut Suliana yang mempunyai ayunan berbahan emas.


Bunda Putroe Sukmawati tidak minta pengakuan kepada pemerintah Aceh, hanya berpesan bagaimana caranya keluarga keturunan raja Aceh ini selalu bersatu.
 | iklilnews.blogspot.com

Seni Aceh, Seni Tradisi


Jauh sebelum diproklamasikannya Republik Indonesia, Aceh adalah sebuah negeri berdaulat dan dikenal sebagai kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara. Mencapai puncak kejayaan pada masa Sultan Iskandar Muda. Pada abad XVI, Aceh pernah tercatat sebagai salah satu kerajaan Islam besar di dunia.

Posisi Aceh yang dekat dengan laut, mejadikannya sebuah wilayah persinggungan berbagai budaya dari seluruh dunia. Tercatat sejak abad VIII, Aceh menjadi tempat strategis untuk persinggahan pelayaran bagi para pedagang yang berasal dari Arab, Persia, Turki, maupun Spanyol yang hendak menuju Cina maupun India. Beberapa pedagang menetap di Aceh dan melangsungkan perkawinan dengan perempuan – perempuan Aceh. Maka terjadilah akulturasi budaya.

Salah satu tradisi yang menjadi warisan turun temurun adalah penggal budaya berupa karya kesenian. Dalam konteks Aceh, kesenian sebagai bagian dari kebudayaan tidak terlepas dari nilai - nilai tradisi masyarakatnya. Seni yang dimaksud adalah kemampuan seseorang atau sekelompok untuk menampilkan hasil karya di hadapan orang lain. Dalam konteks masyarakat Aceh dahulu, seseorang yang mempunyai nilai seni, maka ia akan menjadi sosok yang akan menjadi perhatian. Sejumlah sumber tertulis menyebutkan, ada beberapa jenis kesenian Aceh, diantaranya dhikee, Seudati, Rukoen, Rapai Geleng, Rapai Daboeh, Biola (mop-mop), Saman, Laweut dan sebagainya. Sepintas lalu, kegiatan seni yang dilakukan bertujuan untuk menghibur diri atau kelompok tertentu. Tapi sebenarnya, mengandung banyak makna, utamanya internalisasi nilai budaya lokal yang kuat dan mengakar yang pada gilirannya menjadi corak yang khas.
Mantan Gubernur Aceh, Ali Hasjim pernah mengatakan kesenian Aceh menjadi istimewa bukan karena kesedihan dan kegeraman fakta sejarah yang menjerat kejayaan Aceh ratusan tahun lamanya. Tapi justru menjadi istimewa karena kehalusan kreasi senimannya dalam memelihara kebesaran Sang Pencipta yang tertuang dalam latar inspirasi alam dan fenomena hidup di negeri Aceh. Seni di Aceh menurutnya sangat istimewa, karena keseimbangan kreatifitas para seniman dalam aktualisasi nalar berkesenian yang runut, berwawasan, unik dan universal.

Menilik perjalanan beberapa kesenian Aceh yang telah disebutkan sebelumnya, ternyata tidak terlahir dari kalangan istana atau tradisi besar. Melainkan dari tradisi kecil atau istilah Jawanya wong cilik. Yang sangat mencolok dalam kesenian Aceh adalah ruh nilai – nilai Islam begitu terasa dalam denyut nadi kesenian Aceh.

Pada Buku Bunga Rampai Budaya Nusantara, Kesenian Aceh secara umum terbagi dalam seni tari, sastra dan cerita rakyat. Adapun ciri - ciri tari tradisional Aceh antara lain ; bernafaskan Islam, ditarikan banyak orang, pengulangan gerak serupa yang relatif banyak dan rancak, memakan waktu penyajian relatif panjang, kombinasi dari tari musik dan sastra, serta pola lantai yang terbatas.
 
Pada masa awal pertumbuhannya, disajikan dalam kegiatan khusus berupa upacara-upacara dan gerak tubuh terbatas. Seni seperti dimengerti, adalah ungkapan kecantikan jiwa. Kesenian Aceh atau ungkapan jiwa orang Aceh, dibalut dengan nilai-nilai agama, sosial dan politik. Kenyataan ini dapat dilihat dalam seni tari, sastra, teater dan suara. Selain itu, tari atau seni tradisional Aceh dipengaruhi sosial budaya Aceh itu sendiri. Seni Aceh dipengaruhi latar belakang adat agama dan latar belakang cerita rakyat (mitos legenda). Seni tari yang berlatar belakang adat dan agama seperti tari saman, meuseukat, rapai uroh maupun rapai geleng, juga Rampou Aceh dan Seudati. Sementara seni yang berlatar belakang cerita rakyat (mitos legenda) seperti tari Phom Bines dan Ale Tunjang.
Makna lain seni Aceh adalah dimanfaatkan sebagai salah satu bagian dari dimensi-dimensi agama. Ini dimungkinkan karena pesan-pesan dakwah juga dapat disampaikan lewat seni. 
Banyak hal menarik kita jumpai dalam kesenian Aceh. Pertama, kesenian Aceh dilakonkan oleh banyak orang. Kecuali menyanyi yang dilakukan sendiri (solo). Rata – rata kesenian Aceh dilakukan banyak orang (group). Jika kita tilik lebih dalam maknanya, masyarakat Aceh adalah masyarakat yang menjunjung tinggi bentuk kerjasama tim. Tarian seudati, saman, laweut, rapai geleng, likok pulo dan lain-lain adalah bentuk-bentuk kesenian Aceh yang dilakukan secara berkelompok.Sedangkan dalam konteks filsafat, makna yang tersirat yakni masyarakat Aceh sejak dulu adalah masyarakat bersatu. Leluhur Bangsa Aceh sejak dahulu adalah kalangan yang menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan. Dalam pergaulan dan tata kemasyarakatan akan terlihat sikap dan nilai-nilai persatuan. Kesatuan gerakan dan suara yang terlihat dalam penampilan seni Aceh, memberikan makna bahwa masyarakat Aceh sangat menjunjung tinggi niali-nilai ukhuwah dan persaudaraan.

Dalam seni kelompok seni Aceh selalu dipimpin oleh seorang syekh. Syekh adalah orang yang memimpin atau yang mengarahkan gerakan-gerakan atau syair-syair . Dalam Seudati, Laweut, Rapai, Rukoen, Likok pilo, maka syekh dikenal sebagai orang yang mengarahkan gerakan tarian dan lirik. Dalam hal ini, maka kepiawaian seorang syekh akan sangat menentukan kesuksesan tim seni secara keseluruhan. Semua anggota tim seni selalu tunduk dan mengikuti gerakan dan syair yang dipimpin syekh.

Dilihat dari sudut pandang social budaya, hal di atas menunjukkan bahwa masyarakat Aceh adalah tipikal masyarakat yang taat kepada pemimpin atau wali. Semua yang dilakukan atau yang diucapkan oleh seorang pemimpin kepada masyarakatnya, maka akan diikuti oleh rakyat atau komunitas yang dipimpinnya. Menilik beberapa literatur sejarah Aceh, pemimpin adalah ulama atau umara. Jadi bukan sekedar pemimpin formal, tapi juga pemimpin informal.

Melihat gerak dalam kesenian Aceh, kita akan mengambil simpulan, bahwa itu gerakan yang penuh semangat dan heroik. Di beberapa kesenian Aceh, dapat dijumpai gerakan yang dilakukan dimulai dengan gerakan yang lembut dan lambat. Gerakan ini sedikit demi sedikit akan terus dipercepat disesuaikan dengan waktu yang ada hingga akhirnya cepat dan akan berhenti. Sikap kepahlawanan ini muncul seiring dengan timbulnya semangat perjuangan rakyat Aceh dulu di saat berperang pada masa penjajahan. (baca : kaphe).

Paparan di atas, membawa kita pada pemahaman bahwa cara berkesenian orang Aceh, bukanlah sekedar memuja keindahan demi menjadi hiburan yang popular nan mencengangkan. Tapi, sarat dengan nilai social budaya yang bertumpu pada religiusitas yang ranum. Keranuman yang menyebarkan pendar kecirikhasan Aceh yang identik dengan Islam. Kesenian Aceh terus bertumbuh dengan muatan local genius yang tak tergoyahkan. Apakah ia akan terus tumpuh tanpa pemeliharaan yang dilakukan generasi masa kini? Tentu tidak. Karena social budaya yang tangguh, selalu butuh perjuangan, kerja keras dan doa, bukan jatuh tiba – tiba dari langit. Pun menjadi tanggung jawab bukan saja kaum Adam, juga kaum Hawa. Tabik.

Yulia Damayanti Purnomo | seniaceh.com